Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 157,901 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

BENDA ROHANI – KALAU RUSAK DIAPAKAN?

Posted by liturgiekaristi on March 7, 2011


Topik diskusi :

kita pasti pernah mengalami hal yang sama . Ada seorang umat bertanya “Saya punya beberapa barang/benda2 liturgi yang sudah rusak, seperti Rosario yang putus, patung maria yang pecah, Salib yang patah, dll. Barang2 liturgis tersebut pernah diberkati. Romo , bagaimana saya harus
memperlakukannya? Mau dibuang sembarangan ga tega, apa harus dikembalikan ke gereja atau gimana? Mohon penjelasan…”.

BEBERAPA PENDAPAT UMAT :

Albertus Bawa Sungkawa
Benda2 rohani menjadi ‘suci’ karena memang telah ‘dikhususkan’ (suci=khusus, maka di’sucikan’=dikhususkan, dibedakan dari benda2 yang laen), yaitu bahwa benda2 itu khusus dipakai sebagai sarana berdoa kepada TUhan. Ketika benda itu tidak lagi dapat dipakai sebagai ‘sarana’, maka pada dasarnya benda itu telah kehilangan hakikatnya sebagai ‘sarana’ … See Moreyang dikhususkan. Masalahnya, manusia memiliki ‘rasa’/’perasaan’ (tidak sekadar rasional). Maka, jika harus ‘membuang’ benda rohani (yang telah rusak), meski pun tidak masalah, bisa saja menimbulkan ‘rasa bersalah’/perasaan yg ‘kurang nyaman’. Jd, llangkah bijaksananya adalah drpd menjadi ‘batu sandungan'(menimbulkan perasaan kurang nyaman), benda rohani yg telah rusak tetap layak diperlakukan sebagaimana mestinya, demi menghindarkan rasa-perasaan kurang nyaman ketika benda2 itu dibuang begitu saja. Yaitu dengan ditimbun, dibakar, atau perlakuan lain yang dirasa layak dan pantas.

Sinta Mary
Kalo sy sdh terbiasa melihat yg dilakukan oleh ortu sejak kecil,bhw brg2 rohani yg sdh rusak n tdk terpakai dikuburkan sj di dlm tanah,sdh selayaknya lah benda2 sbg perantara utk kita berdoa diperlakukan dg layak pula. Kalo mst diserahkn kpd grj or pasturnya,wah bs di sakristi jd tempat penyimpanan brg2 bekas donk..heee kasian kosternya yg ngeberesin. Masing2 brtggung jwb dg brg2 rohaninya dg cra yg swajarnya sj lah. Salam. Gut dei!

PENCERAHAN DARI PASTOR Liberius Sihombing

Menarik mendiskusikan topik yg nampak sepele ini tapi sungguh menyenth bnyak unsur di dlmnya. Sy pun tdk menduga itu dimunculkan dan menjadi bhan diskusi. Utk saya segala sesuatu yg sudah rusak akhirnya harus kembali mejadi debu/tanah. Bahkan tubuh manusia yang notabene ‘Bait Roh Kudus’ ini pun akan menjdi tanah jg. Banyak gereja tdk punya semacam ‘sacrarium’ yakni tmpat membuang atau melarutkan barang2 rohani agar terbuang secara hormat. Maka saya sangka (ini pndapat pribadi, bukan pendapat Gereja) barang2 rohani yang sudah usah bisa dibuang ke tempat dimana ia pantas dibuang, dikubur pun toh sah2 saja, karena toh benda rohani bukanlah pengejawantahan yg ilahi, tetapi hanya sarana pembantu kita mendekatkan diri pada sesuatu di balik simbol itu. Sekali lagi, cara apa yg Anda anggap pantas sy kira tetap dihormati. Gbu

PENCERAHAN DARI PASTOR Sam GulĂ´

Bisa beberapa kemungkinan:
1. Bisa di simpang tetap sebabagai benda rohani
2. Bisa juga di tanam ditanah
3. Bisa juga dibakar
N.B. Minyak2 suci yg tidak dipakai lagi bisa dibakar, maksudnya spy tidak jtuh k tangan orang yg tidak bertanggungjawab. Benda2 rohani lain jg kira2 sama.

Dari rangkain tulisan dan diskusi d atas mnjadi jelas, bagaimana kita mempelakukan benda2 rohani yg rusak/tak terpakai, yakni bs di kubur d dalam tanah atau dibakar. Dibungkus dgn kain jga boleh, berdoa sebelumnya boleh. Tdk perlu diserahkan ke Paroki, bs dilakukan sendiri.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik:

Sebenarnya sudah banyak jawaban2 yang bijak dari umat, saya senang bahwa banyak yang memahami hakekat penting dari hal2 yang sepele tapi banyak terjadi dalam hidup iman kita terkait dengan pemahaman Liturgi kita yang tidak bisa dibatasi pada ruang sekitar altas saja.

Pada intinya, benda2 yang dipakai untuk kepentingan liturgi perayaan2 Ekaristi … See Moredan sakramen2 lainnya, terutama yang sudah dikuduskan, diberkati secara khusus adalah bersifat sakramentali. Itu berarti benda/barang2 tersebut sekaligus sama dengan benda2 sejenis lainnya, tapi sekaligus berbeda karena sudah dikhususkan bagi Allah dalam fungsinya. Mungkin agak jauh sedikit, bayangkanlah kalau ada barang2 tertentu biasa dipakai oleh orang yang kita cintai, dan kita tahu dia sangat suka dengan barang tersebut, tapi ketika dia meninggal atau sedang pergi, entah gimana barang/benda tersebut dipakai orang lain secara sembarangan atau malah dirusak….sakit rasa hati kita bukan? Kurang lebih (tidak seekstrem itu) hal yang sama juga perlu kita perhatikan untuk barang2 sakramentali ini, entah itu rosario, patung, salib, medali, lilin baptis, buku doa, dll yang karena fungsinya sudah tidak memadai lagi/rusak; kiranya perlu mendapatkan perhatian yang bijak untuk meyimpan atau memusnahkannya. Tujuannya sebenarnya pertama menunjukkan sikap hormat dan syukur kita atas sarana yang telah Tuhan berikan melalui karya manusia dan kita sudah dibantu untuk menghidupi iman kita lebih baik. Kedua, supaya tidak jatuh ke tangan yang salah, dan disalahgunakan untuk hal2 yang justru akan mengganggu penghayatan iman kita.

Di gereja2 sebaiknya memang memiliki sumur suci, biasanya dekat sakristi, yang biasa digunakan untuk membakar, atau menguburkan/ melebur barang2 sakramentali yang sudah tidak terpakai lagi, teremasuk misalnya air suci yang kotor/rusak. Hosti yang rusak/berjamur, air limbah cucian perlatan misa seperti purificatorium,dll.

Untuk mempermudah, maka baik juga bahwa umat di rumah masing2 mempunyai tempat ‘khusus’ semacam sacrarium ini yang sekiranya pantas, layak, aman, dan tidak mengganggu hidup iman dan pergaulan kita di tengah orang2 yang berkeyakinan lain-sebagai tempat mengubur atau membakar barang2 sakramentali yang rusak. Mengubur/mebakarnya dengan hikmat dan hormat tanpa doa aja udah baik, apalagi sambil berdoa, tentu jauh lebih baik lagi bukan? Mengarahkan hati selalu kepada Allah. GBU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers

%d bloggers like this: