Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 150,198 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

WARNA BAJU LITURGI DALAM PERAYAAN EKARISTI

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


PERTANYAAN UMAT :

coba lihat Kompas tgl. 12 Juli 2010 halaman 30, ada foto pastor Belanda memimpin misa di Obdam Belanda dengan KASULA WARNA ORANYE guna mendukung kesebelasan Belanda (oranye)
dalam piala dunia. Seingat saya tidak ada KASULA WARNA ORANYE dalam
Gereja Katolik. Kalau semua pastor bisa seenaknya membuat warna kasula
sesuai selera atau maksud misa, apa jadinya (warna) liturgi di Gereja
Katolik kita. Ada tanggapan ?”””

http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=410813001393&id=346697288792#!/photo.php?pid=6115786&id=346697288792

PENCERAHAN DARI Teresa Subaryani Dhs

@Koko Kenny: Bukan berarti bahwa Pastor saat memimpin misa bisa pakai apa saja. Tentunya ada ketentuan dari Kalender Liturgi. Warna yang dikenakan saat misa merujuk pada Kalender Liturgi. Hanya saja ada kekhusus-an di masing-masing wilayah konferensi waligereja. Mengenai warna-warna liturgi memang ada yang baku, yang sudah ditetapkan, tetapi masing -masing konferensi waligereja punya “kuasa” untuk menggunakan warna lain. Tentunya tidak mengubah semua warna-warna itu. Misalnya saja, di Indonesia ada yang menggunakan motif batik.

KOMENTAR UMAT

Joseph Juliantono:
Tanggapan saya, biarkan aja yang ngerti yang ngejawab. Itu bagian buat yang ngerti liturgi kan?
Kata2 seperti “menurut saya”, “yang penting”, “mungkin”, “tergantung”, “ini kan”, “toh”, itu bukan jawaban sama sekali.
Cuma menunjukkan ketidak-pastian dan ketidak-tauan.

Robin Hood MENCURI dari tuan tanah bengis untuk dibagikan kepada orang miskin dosa, ga? Mencuri dari koruptor buat dibagikan kepada korban Lapindo dosa, ga? …
Biarkan yang tau hukum Gereja ajalah yang ngejawab-nya… ^_^”.

PENCERAHAN DARI Mas Roms:

Memang Uskup Diosesan atau Konf. WaliGrj punya “otonomi” mengatur seputar liturgi “di wilayahnya” sejauh tidak bertentangan dengan prinsip Gereja Universal. Dalam hal warna liturgi, warna yang ada (ungu, putih, hijau, merah) SENGAJA dipilih oleh Gereja untuk mengungkapkan ” makna tahap2 perkembangan dalam hidup kristiani.” (PUMR 345) Maka warna liturgi dalam suatu perayaan bukan didasarkan karena “selera pribadi.” Yang terjadi di sekitar kita, dengan alasan inkulturasi yang sering diotak-atik (baik kasula ato stola) adalah motif hiasannya, namun tidak meninggalkan ketentuan warna liturgi perayaan yang sedang dirayakan.
Maka, secara pribadi yang terjadi di Belanda itu menutur saya kurang tepat. Tapi kalau uskupnya membenarkan, yah…mau apa kita, lha uskup kan “penjaga iman dan liturgi yang benar.”

Joseph Juliantoro: Idealnya seperti itu mas, kita mendengarkan tanggapan Gereja, biar plong dan yakin. Namun admin pernah mengungkapkan kesulitannya. Maka baik kalau kita semua coba-coba ajak pastor paroki atau yang kita kenal untuk mampir ke sini. Masak kalau mereka baca aneka tanggapan kita “tak mau bergeming.” Yang penting dengan coment/sharing pengalaman di sini, kita makin diperkaya dan jangan “ngeyel” bahwa apa yang kita tulis itu pasti dan yang paling benar. Thanks.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Pembicaraan soal warna liturgis ini mempunyai implikasi yang lebih dalam dari sekedar soal warna. Pertama, secara liturgis sudah ditentukan warna2 yang punya arti dan diangkat dalam khazanah liturgi menurut ketentuan yang sudah dituliskan. Prinsipnya: Kita manusia yang harus menyesuaikan diri dengan “budaya Allah”, bukan sebaliknya. Kita yang mengimani yang harus menyesuaikan hidup kita dengan kesucian dan kebenaran yang terkandung dalam Gereja, bukan sebaliknya Gereja yang harus menyesuaikan diri dengan keinginan manusia-apalagi hanya segolongan manusia. Benar bahwa Gereja kita bersifat Universal: satu, kudus, Katholik dan Apostolik. Maka, idealnya gereja adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk Belanda, apalagi hanya untuk sekelompok maniak pencinta sepak bola Belanda!
Persoalan menjadi rumit kalau misalnya yang hadir/umat di gereja kita toh tidak semuanya fanatik kesebelasan Belanda. Bagaimana dengan yang fanatik dengan Spanyol?, Argentina?, German??..Kalau Gereja sudah ditunggangi oleh kepentingan segolongan orang, lalu di mana sifat universalitas Gereja?? Bukankah akan menimbulkan perpecahan?

Maka foto perayaan misa dengan atribut pakaian dan dekorasi warna orange-yang nota bene menjadi ikon kesebelasan tertentu itu membingungkan dan menjadi rancu dalam tata universalitas liturgi Gereja. Harusnya Gereja mengatasi/berada jauh di atas kesenangan tiap kesebelasan, kelompok, golongan atau apalah namanya. Bayangkanlah gimana jadinya kalo ada ‘gereja PSSI’, gereja kesebelasan Kalimantan’, gereja kesebelasan Sriwijaya,…wah bisa bertarung dalam warna liturgi wkwkwk…

Satu indikasi yang bisa saya tangkap dari foto tersebut adalah: corak gereja fun! gereja yang direduksikan makna kesakralannya dan diperbudak oleh kesenangan kelompok orang tertentu. Apakah itu karena gereja sudah kehilangan jemaatnya, lalu demi popularitaskemudian mengikuti fun, demi menyenangkan umat tertentu…alangkah menyedihkannya… Tidak ada yang salah dengan berdoa bagi kesebelasan tertentu, tapi harus diingat bahwa Ekaristi adalah SAKRAMEN=Tanda dan sarana keselamatan dari Allah yang nampak di dunia. Hal2 yang nampak oleh mata manusia ini penting, supaya tanda dan sarana itu tidak mengaburkan hakikat Keselamatan (termasuk ciri universalitas dan kesatuan) yang mau disampaikan pada manusia. So, bukan sekedar warna… Kalo cara seperti itu selalu diandaikan tidak apa2 pada awalnya…lalu begitulah yang terjadi, seperti lagunya Meriam Bellina: “Mulanya biasa saja…., akhirnya datang juga…” Saatnya melihat perpecahan dan kehancuran dalam Gereja yang universal. Semoga Gereja yang Kudus, Katolik, Apostolik senantiasa dijauhkan dari itu. Thanks.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers

%d bloggers like this: