Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 162,629 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

KOMUNI PERTAMA UNTUK ANAK2 – UMUR BERAPA ?

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Beberapa hari lalu, ada topik yang membahas penerimaan komuni pertama anak2 pada usia 7 tahun . Di kotak koment ini adalah PENCERAHAN dari Pastor Philipus Seran yang saat ini berkarya di Perancis. Selamat menyimak.

 

PENCERAHAN DARI PASTOR Philipus Seran

Pencerahan tentang umur berapa seorang anak menerima Komuni Pertama ?

• Sejarah singkat : sampai abad XII, anak menerima Komuni Pertama ketika ia dibabtis. Jadi kalau babtisnya masih bayi, maka hanya diole…skan anggur Darah Kristus di mulutnya, karena kalau terima Hosti, takutnya ia muntahkan. Tahun 1215, Konsili Lateran memutuskan bahwa anak menerima Komuni Pertama pada usia akal budi, sekitar umur 12-14 tahun ; sampai akhir abad XVI tidak ada upacara khusus untuk Komuni Pertama, artinya anak pada usia akal budi maju saja untuk menerima komuni. Awal abad XVII mulai di Prancis ada pengajaran /katekese sebagai persiapan Komuni Pertama, dan pada akhir katekese dibuat upacara meriah untuk Komuni Pertama, dan dalam perjalanannya sebagai upacara peralihan dari masa anak ke masa remaja, sampai abad ke XIX. Tanggal 8 Agustus 1910, Paus Pius X mengeluarkan Dekerit « Quam Singulari » (Betapa Istimewanya); Dekrit ini bermaksud untuk member kesempatan kepada anak² yang sudah dibabtis untuk mendapatkan anugerah sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama, pada usia akal budi yakni pada umur anak 7 tahun, orang menyebutnya sebagai « persekutuan pribadi » atau « komuni kecil » karena Yesus sayang pada anak-anak, yang berlangsung terus sebagai usia 12-14 tahun dimana diadakan upaca akil balik. Sejak tahun 1970, istilah « komuni kecil » tidak digunakan lagi dan diganti menjadi istilah « Komuni Pertama ».

• Komuni Pertama itu apa sih ? Hal pertama yang harus kita sadari adalah seorang anak menerima Kristus dalam Sakramen Ekaristi Kudus untuk pertama kalinya. Dalam Komuni Pertama, seorang anak mengadakan kontak pribadi dengan Yesus dan menjalin hubungan yang intim denganNya. Komuni Pertama itu memberi sentuhan kepada hati anak-anak agar mereka sadar bahwa Yesus yang mereka terima itu kini telah dekat dalam diri dan hidup mereka, menjadikan mereka semacam kontemplasi bahwa Yesus kini hadir dan meminta anak² itu untuk hidup lebih baik, bertumbuh dewasa dalam iman, harap dan cinta kasih. Bahwa Kristus yang hadir dalam diri mereka juga membuat mereka berkembang dalam akal budi dan berkehendak.

• Selain Komuni Pertama, sakramen Ekaristi Kudus, anak juga untuk pertama kalinya menerima Sakramen Pengampunan dosa. Maka anak harus sudah punya kesadaran akan benar – salah, baik – buruk. Kesadaran ini akan membawa dia kepada rasa bersalah dan berdosa kalau perilakunya sudah menyimpang dari kehendak Tuhan dan meminta pengampunan dari Tuhan.

• Jadi seharusnya pada usia berapa ? Sebagaimana dalam koment² yang sudah anda berika bahwa ada yang mau supaya kita harus mengikuti Dekrit « Quam Singularis » karena masih berlaku dan belum dibatalkan. Ada yang mengatakan bahwa usia anak 7 tahun masih kecil dan belum tahu apa², ada yang bilang yang terbaik sajalah mengikuti aturan Gereja setempat. Semua pendapat itu sih sah-sah saja. Namun harus disadari bahwa Komuni Pertama harus membutuhkan persiapan serius sampai pada anggapan bahwa si anak sungguh telah siap untuk menyambut Sakramen Ekaristi. Jadi bukan persiapan instant, cukup 4-5 kali pengajaran sudah dirasa cukup. Kalau komuni pertama itu diberikan pada anak umur 7 tahun, itu berarti baru kelas 2 SD, persiapan atau pengajaran untuk dia kapan ? Sejak kelas satu SD kah ? Persiapan harus serius, bisa setahun…. Biarkan anak-anak ikut berpartisipasi dalam pengajaran, dan itu juga tergantung dari kehidupan keluarga katolik. Orang yang menjadi katekumen yang sudah dewasa, sudah punya niat yang sungguh saja menjalani masa katekumenat 1 – 2 tahun… Jadi menurut saya pribadi yang berlaku sekarang masih ideal, yakni usia anak di kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar (SD).

• Hal berikut adalah peran serta orang tua. Masih ingat kan janji perkawinan? Yakni kesediaan untuk mendidik anak dalam iman Katolik dan mengantar mereka untuk menerima sakramen-sakramen Gereja. Jadi dalam Komuni Pertama ada keputusan dari orang tua bahwa anaknya menerima Komuni Pertama. Saya punya pengalaman atas hal ini. Hanya beberapa minggu menjelang upacara Komuni Pertama, ada keluarga yang datang pada saya dan mengatakan bahwa anaknya belum bisa menerima komuni pertama, tunda tahun depan, dengan alasan tingkah laku anaknya belum layak untuk menyambut Sakramen Ekaristi Kudus.

• Hal yang terakhir, bagaimanapun kita harus mengikuti reksa pastoral di Paroki dan di Keuskupan dimana kita berdomisili. Pastor paroki atas mandat yang ia terima dari uskup sebagai ordinaris wilayah, juga ikut bertanggung jawab atas kehidupan iman kita. Jadi apa yang masih berlaku di paroki atau keuskupan hendaknya kita turuti.

• Terima kasih, salam dan Tuhan memberkati.

PENCERAHAN PASTOR Albertus Widya Rahmadi Putra

Sekedar beberapa sumbangan pendapat terkait isi dokumen:

1. Jika pertanyaannya: “mungkinkah di Indonesia saat ini diberlakukan?”, maka jawabannya tentu saja “mungkin”, asal syarat2 objektifnya di…penuhi.. :) Tidak pernah ada larangan tentang …hal ini di dari pihak hirarki di Indonesia. Sharing pengalaman Bp. Wid Sumartopo di atas adalah salah satu contoh konkritnya.

2. Rumusan pertanyaan di atas hanya menyatakan usia “7 tahun”, padahal dokumen selengkapnya mengatakan “… about the seventh year, more or less …” … SEKITAR usia 7 tahun, bisa LEBIH bisa KURANG … (N.B. cara mengutip dan memenggal isi sebuah dokumen dalam pertanyaan akan menentukan pula bagaimana isi tanggapan & pendapat publik pembaca terhadap pertanyaan).

Sebenarnya, jika lebih diperhatikan, inti persoalan bukan pada usia entah 6, 7, 8, atau 9, etc, melainkan pada kondisi tahapan usia di mana seorang anak mulai bisa menggunakan akal budinya. Persisnya dokumen memaksudkan: tahap usia di mana seorang anak mulai bisa MEMBEDAKAN Hosti sebagai Tubuh Kristus dengan roti biasa. inilah salah satu syarat objektifnya. Just as simple as that.

3. Tidak dibutuhkan pengetahuan menyeluruh & lengkap tentang ajaran dan misteri iman utk penerimaan komuni pertama. Cukuplah pengetahuan dasar iman kristiani agar anak bisa memperoleh Komuni pertama. Dengan demikian sejak dini anak dimungkinkan menimba kekayaan rohani yang bisa didapat melalui komuni suci & menjalin hubungan pribadi dengan Kristus sendiri. (Memahami dan mengerti secara utuh dan lengkap ajaran iman kristiani adalah tugas setiap orang kristen yang mesti dijalankan secara bertahap SEUMUR HIDUP.)

4. Karena itu di Indonesia lazimnya komuni pertama diberikan pada usia 9-10 tahun (kelas 3 SD). Sesuatu yang sama sekali tidak bertentangan dengan isi dokumen Quam Singulari (bdk. kata “about the seventh year, more and less…” di atas). Dalam konteks kultural umum Indonesia, tahap usia inilah yang tampaknya pas bagi seorang anak untuk bisa menggunakan akal budinya secara bertanggungjawab, mengerti perbedaan Hosti dan roti biasa, etc. (Tentu saja selalu dimungkinkan adanya kasus perkecualian karena hal semacam ini bukanlah rumusan eksak matematika plus berbagai faktor eksternal yg bisa berpengaruh.)

5. Dokumen tidak hanya berhenti pada soal usia tetapi juga menekankan pentingnya persiapan dan pembekalan sehingga anak dibantu mengerti apa artinya menerima Tubuh Kristus. Di sinilah peran penting orangtua, pastor paroki, guru & pendidik, etc untuk membantu pemahaman anak tentang ajaran iman & anugerah keselamatan yg bisa diperoleh dengan menyambut komuni. Tidak hanya berhenti pada persiapan melainkan juga pembinaan terus menerus sesudah komuni pertama sehingga anak makin dibawa pada pengetahuan dan pengalaman iman yang lebih mendalam serta kecintaan akan ekaristi. Pendidikan iman adalah tugas bersama, bukan hanya tugas guru agama atau katekis.

6. Nah.. ketika disodori pertanyaan semacam di atas, tidak tertarikkah Anda semua utk berusaha mengecek sumber dokumen secara lengkap? Saya amat menyarankan, untuk memperluas wawasan, jika berhadapan dengan kutipan2 semacam itu untuk berusaha kembali ke sumber lengkapnya. Setiap dokumen punya konteks dan maksud tertentu. Selain itu, pembacaan secara lengkap akan membantu kita memahami persoalan secara lebih integral tanpa terjebak hanya pada dikotomi pendapat “boleh atau tidak”, “harus atau terserah”, “taat sama Roma atau membangkang”, etc.

Isi lengkap dokumen:
http://www.papalencyclicals.net/Pius10/p10quam.htm

7. Beberapa point penting dokumen Quam Singulari:

a. The age of discretion, both for Confession and for Holy Communion, is the time when a child begins to reason, that is about the seventh year, more or less. From that time on begins the obligation of fulfilling the precept of both Confession and Communion.

b. A full and perfect knowledge of Christian doctrine is not necessary either for First Confession or for First Communion. Afterwards, however, the child will be obliged to learn gradually the entire Catechism according to his ability.

c. The knowledge of religion which is required in a child in order to be properly prepared to receive First Communion is such that he will understand according to his capacity those Mysteries of faith which are necessary as a means of salvation (necessitate medii) and that he can distinguish between the Bread of the Eucharist and ordinary, material bread, and thus he may receive Holy Communion with a devotion becoming his years.

d. The obligation of the precept of Confession and Communion which binds the child particularly affects those who have him in charge, namely, parents, confessor, teachers and the pastor. It belongs to the father, or the person taking his place, and to the confessor, according to the Roman Catechism, to admit a child to his First Communion.

Semoga berguna.. Peace..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers

%d bloggers like this: