Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 136,381 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘b. PRA PASKAH dan PEKAN SUCI’ Category

MENGHIDUPI PEKAN SUCI : “BELAJAR KELUAR DARI DIRI KITA SENDIRI”

Posted by liturgiekaristi on March 29, 2013


MENGHIDUPI PEKAN SUCI : “BELAJAR KELUAR DARI DIRI KITA SENDIRI”

KATEKESE PERTAMA PAUS FRANSISKUS PADA AUDENSI UMUM
RABU 27 Maret 2013

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Saya senang Anda menghadiri audiensi umum pertama saya ini. Saya menerima “kesaksian” dari tangan pendahulu saya yang terkasih, Paus Benediktus XVI, dengan rasa syukur dan penghormatan yang besar . Setelah Paskah kita akan kembali pada katekese Tahun Iman. Hari ini saya ingin membagikan sedikit permenungan saya tentang Pekan Suci. Dengan Minggu Palma, kita telah mengawali Pekan ini – pusat dari seluruh Tahun Liturgi – di mana kita menemani Yesus dalam sengsaraNya, kematianNya dan kebangkitan-Nya.

Tetapi apa maknanya bagi kita untuk menghidupi Pekan Suci? Apa artinya mengikuti Yesus ke Kalvari, dalam perjalanan-Nya menuju Salib dan KebangkitanNya?

Dalam perutusan-Nya di bumi, Yesus berjalan kaki di jalan-jalan Tanah Suci, Ia memanggil dua belas orang sederhana untuk tinggal bersama Dia, untuk membagikan perjalanan-Nya dan melanjutkan perutusan-Nya; Ia telah memilih mereka dari antara orang-orang yang sungguh beriman dalam janji-janji Allah. Dia berbicara kepada semua orang, tanpa pembedaan, kepada orang-orang besar dan orang-orang yang rendah hati, kepada orang pemuda kaya dan janda miskin, kepada orang-orang berkuasa dan orang-orang lemah; Ia membawa belas kasih dan pengampunan Allah; Ia menyembuhkan, menghibur, memahami; memberi harapan; Ia membawa kepada semua orang kehadiran Allah yang penuh perhatian kepada setiap laki-laki dan perempuan, seperti seorang bapa dan ibu yang baik kepada setiap anak-anak mereka. Allah tidak menunggu setiap orang yang datang kepada-Nya, tapi Dialah yang mendatangi kita, tanpa perhitungan dan tiada batasnya. Allah adalah seperti itu: Dia selalu mengambil langkah pertama, Dia mendatangi kita. Yesus hidup dalam kenyataan sehari-hari kebanyakan orang pada umumnya: Dia tergerak hatiNya terhadap orang-orang yang tampak seperti kawanan tanpa gembala; Dia menangis di depan penderitaan Marta dan Maria atas kematian saudara mereka Lazarus; Dia memanggil pemungut cukai menjadi murid-Nya; Dia menderita pengkhianatan dari seorang sahabat. Di dalam Dia, Allah memberi kita kepastian bahwa Dia bersama kita, di tengah-tengah kita. “Serigala mempunyai liang”, Yesus berkata, “dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Yesus tidak memiliki rumah karena rumah-Nya adalah orang banyak, perutusan-Nya membukakan bagi semua orang pintu kepada Allah, menghadirkan cinta kasih Allah.
Dalam Pekan Suci, kita menghidupi puncak dari perjalanan ini, dari rancangan kasih ini yang berjalan melalui seluruh sejarah hubungan antara Allah dan manusia. Yesus memasuki Yerusalem untuk melakukan langkah terakhir, meringkas seluruh keberadaan-Nya: Dia memberikan diri-Nya secara penuh, Dia tidak membawa apa-apa untuk diri-Nya sendiri, bahkan hidup-Nya sendiri. Dalam Perjamuan Terakhir, bersama sahabat-sahabat-Nya, Dia membagikan roti dan mengedarkan piala “bagi kita”. Putra Allah menawarkan kita, Dia memberikan ke dalam tangan kita Tubuh-Nya dan Darah-Nya supaya selalu bersama kita, supaya tinggal di antara kita. Dan di Taman Zaitun, seperti dalam persidangan di hadapan Pilatus, Dia tidak memberikan perlawanan, Dia memberikan diri-Nya; Dia adalah hamba yang menderita yang dinubuatkan oleh Yesaya yang menyerahkan dirinya sampai mati (bdk. Yes 53:12).

Yesus tidak menghidupi kasih ini, yang mengarah pada pengorbanan dengan cara pasif atau pasrah pada takdir; Dia tentu saja tidak akan menyembunyikan kesedihan manusiawi-Nya yang mendalam saat menghadapi bengisnya kematian, tapi Dia mempercayakan diri-Nya dengan keyakinan penuh kepada Bapa. Yesus menyerahkan diri-Nya secara sukarela pada kematian, untuk menghubungkan kasih Allah Bapa, dalam persatuan yang sempurna dengan kehendak-Nya, untuk menyatakan kasih-Nya bagi kita. Di kayu salib Yesus ” yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2:20)”, kata Santo Paulus. Masing-masing dari kita dapat berkata: Dia telah mengasihi aku dan Dia menyerahkan diri-Nya bagiku. Masing-masing dapat mengatakan ini “bagiku”.

Apa artinya semua ini bagiku? Hal itu berarti bahwa jalan ini juga menjadi milik saya,milik kamu, milik kita. Menghidupi Pekan Suci dengan mengikuti Yesus, tidak hanya dengan (suasana hati) yang haru biru; menghidupi Pekan Suci seraya memandang Yesus berarti : belajar untuk keluar dari diri kita sendiri – seperti yang saya katakan pada hari Minggu – untuk pergi berjumpa orang lain, pergi ke pinggiran keberadaan, untuk menjadi yang pertama berjumpa dengan saudara-saudari kita terutama mereka yang dijaukan, yang terlupakan, mereka yang sangat membutuhkan untuk dipahami, dihibur, dibantu. Kita harus membawa kehadiran yang hidup dari Yesus yang berbelas kasih dan penuh cinta.

Menghidupi Pekan Suci berarti masuk secara lebih mendalam pada logika Allah, logika Salib, yang bukanlah pertama-tama tentang seluruh penderitaan dan kematian, tetapi tentang kasih dan pemberian diri yang membawa kehidupan. Hal ini masuk ke dalam logika Injil. Mengikuti, menyertai Kristus, tinggal bersama-Nya memerlukan “keluar”, “pergi keluar”. Keluar dari diri sendiri, dari cara lama atau yang rutin dalam hidup iman, dari cobaan yang menutup pola diri sendiri yang pada akhirnya menutup cakrawala tindakan kreatif Allah. Allah pergi keluar dari diri-Nya untuk datang ke tengah kita, Dia memasang kemah di tengah kita untuk membawakan kita rahmat Allah yang menyelamatkan dan memberi harapan. Kita juga, jika kita ingin mengikuti-Nya dan tinggal bersama-Nya, tidak harus puas dengan tinggal di kandang bersama 99 domba, kita harus “pergi keluar”, untuk mencari bersama-Nya domba yang hilang, yang telah menjauh. Camkan ini dengan baik: keluar dari diri kita sendiri, seperti Yesus, seperti Allah keluar dari diri-Nya dalam Yesus dan Yesus keluar dari diri-Nya bagi kita semua.
Seseorang bisa saja mengatakan kepada saya: “Tapi Bapa, saya tidak punya waktu”, “Saya memiliki begitu banyak hal yang harus dilakukan”, “Ini sulit”, “Apa yang bisa saya lakukan dengan kekuatan saya yang kecil dan tak berguna, bersama dengan segala dosa saya, dengan begitu banyak hal lagi?”.

Seringkali, kita senang dan puas pada sedikit doa, pada sebuah Misa hari Minggu yang terganggu dan tidak tetap, pada beberapa tindakan amal, tapi kita tidak memiliki keberanian untuk “keluar” membawa Kristus. Kita sedikit seperti Santo Petrus. Segera setelah Yesus berbicara tentang sengsara, wafat dan kebangkitan, tentang pemberian diri, tentang kasih terhadap semua, Rasul Petrus membawa-Nya ke samping dan menegur Dia. Apa yang Yesus katakan mengganggu rencananya, tampak tidak dapat diterima, membahayakan keamanan pasti yang telah ia bangun, gagasannya akan Mesias. Dan Yesus memandang para murid dan memberi wejangan kepada Petrus salah satu kata yang paling sulit dari Injil: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Allah selalu berpikir dengan belas kasih, jangan lupakan ini. Allah selalu berpikir dengan belas kasih : Dia adalah Bapa yang penuh belas kasih! Allah berpikir seperti seorang bapa yang menunggu kembalinya anaknya dan pergi keluar untuk bertemu dengannya, dia melihatnya datang ketika ia masih jauh … Apa artinya ini? Bahwa setiap hari dia pergi untuk melihat apakah anaknya pulang: ini adalah Bapa kita yang berbelas kasih. Hal ini adalah tanda bahwa dia berharap bagi kepulangannya, dengan segenap hatinya, dari teras rumahnya. Allah berpikir seperti orang Samaria, yang tidak lewat dekat korban, merasa kasihan padanya, atau mencari cara lain, tetapi dia datang untuk membantu tanpa meminta imbalan apa pun, tanpa bertanya apakah ia adalah Yahudi, atau orang kafir, atau orang Samaria, apakah ia kaya, apakah ia miskin: ia tidak meminta apa-apa. Ia datang untuk membantunya: ini adalah Allah. Allah berpikir seperti gembala yang memberikan hidupnya untuk membela dan menyelamatkan domba.

Pekan Suci adalah saat rahmat yang Tuhan berikan kepada kita untuk membuka pintu hati kita, pintu kehidupan kita, pintu paroki kita – sayangnya, begitu banyak paroki tertutup! – untuk membuka gerakan-gerakan dan lembaga-lembaga kita, untuk “keluar” berjumpa orang lain, pergi mencari sesama di sekitar kita, untuk membawakan mereka cahaya dan sukacita iman kita. Selalu pergi keluar ! Dan ini dengan kasih dan kelembutan Allah, dengan hormat dan kesabaran, memahami bahwa kita menawarkan tangan kita, kaki kita, hati kita, tapi kemudian Allahlah yang menuntun mereka dan membuat berbuah dari setiap tindakan kita.

Saya berharap Anda semua hidup dengan baik hari-hari ini, mengikuti Tuhan dengan keberanian, membawa secercah sinar kita sinar kasih-Nya kepada orang-orang yang kita jumpai.

phs.

Terjemahan dari : Zenit.fr.org

http://www.zenit.org/fr/articles/la-semaine-sainte-pour-apprendre-a-sortir-de-nous-memes

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

LAGU TANTUM ERGO SACRAMENTUM

Posted by liturgiekaristi on March 28, 2013


Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

Perayaan Jumat Agung – bolehkah umat memakai baju berwarna merah?

Posted by liturgiekaristi on March 20, 2013


Beberapa waktu lalu, ada pertanyaan dari umat seperti di bawah ini:

1. Apakah pada saat Perayaan Jumat Agung itu Umat diwajibkan menggunakan baju merah ? soalnya diparoki kami Rm Parokinya teriak terus sedangkan Rm yg 2 biasa2 ajah. Ada tdk si aturan gerjanya.

2. Pd ibadah Jumat Agung (warna lit merah), bolehkah umat turut memakai pakaian merah atau brcorak merah juga? Atau hanya Imam yg berhak? Trima kasih

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Saya belum pernah membaca ada peraturan yang mengatur warna pakaian yang harus dikenakan umat. Rasanya penghayatan iman kita tidak didasarkan pada warna pakaian yang harus dipakai untuk ke gereja.
Bahwa baik untuk disarankan memakai pakaian yang pantas dan sesuai, itu mungkin sebagai tindak pastoral dan kearifan berbudaya. Ini sama halnya ketika kita menghadiri sebuah pemakaman keluarga misalnya, tidak ada peraturan tertulis orang harus mengenakan pakaian hitam. Tapi begtulah budaya kita yang beranggapan bahwa warna juga merupakan salah satu ekspresi kita mengungkapkan rasa turut berduka dan berkabung dengan memakai pakaian hitam2. Bayangkan jika kita datang ke pemakaman dengan berpakaian merah menyala, atau kuning…orang mungkin tidak akan menegur, tapi hanya melirik dengan rasa aneh dan merasa ada yang janggal bukan?

Yang bisa dipertimbangkan adalah kalau misalnya panitia paroki mempersiapkan seragam koor untuk Jumat Agung dan memutuskan memakai warna kuning, misalnya, itu perlu diingatkan bahwa selayaknya kita memilih warna merah yang lebih pantas untuk Jumat Agung(Simbol kurban kemartiran Yesus), putih untuk Kamis putih, merah untuk Minggu Palma, dst. Hanya demi layak dan sepantasnya, tapi tidak menentukan keselamatan atau menjadi keharusan umat. Semoga kita lebih bijak memilah2 mana yang keharusan demi keabsahan, mana yang disarankan demi kelayakan.

Sudah sepanjang minggu Suci umat bolak balik ke Gereja untuk penghayatan imannya, jangan lagi direpotkan dengan hal2 kecil seperti soal berpakaian. Jauh lebih penting misalnya kita menaruh perhatian pada cara berpakaian/model pakaian kita. Walaupun mengenakan warna merah pada saat Jumat Agung, tapi kalau modelnya mini seperti orang main tenis lapangan atau seperti pakaian renang, wah…itu malah lebih parah ha ha ha… Itu tinjauan dari segi praktis saja, silahkan Rm. lain mungkin bisa menambahkan dari segi hukum soal warna pakaian untuk umat..he he..
Salam hangat, P.Hend. SCJ, South Dakota

TAMBAHAN PENCERAHAN.

Soal warna merah, memang benar warna liturgi pada hari itu adalah merah dengan arti yang sudah dijelaskan oleh pastor di atas. meski begitu, para gembala jiwa juga hendaknya peka terhadap budaya setempat yang mungkin “menabukan” warna merah untuk suasana duka. jadi, sungguh bijaksana bila imam tidak “memaksa” umatnya mengenakan warna merah untuk ibadat jumat agung. lagipula, seturut tradisi, warna liturgi memang hanya untuk kasula dan stola imam dan juga antependium altar dan ambo. tidak ada aturan ataupun tradisi yang meminta misdinar atau petugas liturgi tidak tertahbis lainnya (apalagi umat) mengenakan warna liturgi.

Saya amati, di beberapa tempat di indonesia mulai timbul trend yang berlebihan dengan membuat jubah misdinar (bahkan juga bantal tempat duduk dan bantal tempat berlutut misdinar!) mengikuti warna liturgi (ungu, putih/kuning, merah, hijau). Ini berlebihan dan juga adalah pemborosan.

Seturut tradisi, warna jubah misdinar sama dengan jubah imam. warnanya hitam, atau, di beberapa daerah di eropa ada kebiasaan yang sudah lama sekali (immemorial or centenary custom), yang diterima oleh Gereja, untuk menggunakan warna merah. tapi merah di sini bukan warna liturgi. gampangnya begini, tidak ada jubah imam warna hijau. jadi misdinar pun jangan dibuatkan jubah warna hijau. trend memaksakan warna liturgi untuk misdinar (dan sekarang umat) ini agak berlebihan dan tidak perlu.

Posted in 2. Baju liturgi, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

LAGU YANG COCOK SEBAGAI LAGU PEMBUKAAN PADA MISA KAMIS PUTIH

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2013


“Halo Admin! Mau tanya,lingkungan sy kan dpt tgs koor utk kamis putih,sbg lagu pembuka sy memilih lagu “Selayaknya kita Berbangga” krn di Puji Syukur dan tahun2 sblmnya juga disarankan lagu itu. Tetapi justru seksi liturgi Pekan Suci yg kebetulan juga seorang suster berpendapat bhw lagi itu tidak cocok dgn alasan bhw Kamis Putih itu perayaan cinta kasih kok sdh membicarakan SALIB..Bgmn yg sehrsnya ya? Trims”

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA
Ibu Lia, Majalah Liturgi yang dikeluarkan oleh Komisi Liturgi KWI sudah terbit. Disitu ada SARAN NYANYIAN UNTUK KAMIS PUTIH , yaitu dari PS 496, 497, 498, 499, 500, 501, 503, 660, 661, 662, 856, 965

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA Introit / antifon pembuka utk Misa Kamis Putih dr Graduale Romanum adalah Nos Autem:

Nos autem gloriari oportet in cruce Domini Nostri Jesu Christi: in quo est salus, vita et resurrectio nostra per quem salvati et liberati sumus.

Arti kalimat pertama: “Kita harus bangga akan salib Tuhan kita Yesus Kristus.”
Serupa dgn lagu dr PS 496 bukan?

Arti kalimat kedua: “padanya ada keselamatan, kehidupan dan kebangkitan yg dengannya kita diselamatkan dan dibebaskan.” Kalimat kedua ini yg tidak ada di PS 496.

Jadi Introit Misa Kamis Putih tidak hanya bicara ttg salib, tp jg kebangkitan. Madah Crucem Tuam, yg dinyanyikan pada Jumat Agung jg sdh bicara soal kebangkitan.

Jika kita menemukan apa yg dikatakan Gereja tidak selaras dgn yg kita pikirkan, sikap yg paling tepat bukanlah mengubah kata Gereja agar selaras dgn pemikiran kita, melainkan mengubah pemikiran kita agar selaras dgn apa kata Gereja.

Jadi jika kita menganggap Misa Kamis Putih melulu bicara soal kasih, duka, perjamuan, membasuh kaki; kemudian ternyata kita tahu bahwa introit yg sebenarnya ternyata jg berbicara soal salib dan kebangkitan, maka kita pun harus mau dan rela mengubah anggapan kita yg lama dan menggantinya dgn yg seharusnya, yg Gereja kehendaki untuk kita hayati dan rayakan.

Introit Nos Autem tidak hanya membuka Misa Kamis Putih, tapi jg ‘membuka’ Trihari Paskah yg berbicara ttg wafat dan kebangkitan Kristus. Maka lagu PS 496 Selayaknya Kita Berbangga justru adalah lagu yg lebih tepat dan layak untuk dinyanyikan sebagai nyanyian pembuka dibandingkan PS 661.

Semoga membantu.

Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

Praeconium Paschale – Exsultet (Pujian Paskah)

Posted by liturgiekaristi on May 12, 2011


Praeconium Paschale – Exsultet

Pujian Paskah saat misa Malam Paskah di Basilika St. Petrus.

Posted in 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH 2011 – Prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus di Basilika Lateran.

Posted by liturgiekaristi on April 29, 2011


Prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus di Basilika Lateran.

Pertanyaan umat Noor Noey Indah

mohon pencerahan..
bolehkah prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus dilakukan selain oleh Imam ?
Tks.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Kanon 943
Pelayan penakhtaan Sakramen mahakudus dan berkat Ekaristi adalah imam atau diakon; dalam keadaan-keadaan khusus, pelayan penakhtaan dan pengembalian saja, tetapi tanpa berkat, adalah akolit, pelayan luar-biasa komuni suci atau… orang lain yang ditugaskan oleh Ordinaris wilayah, dengan mengindahkan ketentuan-ketentuan dari Uskup diosesan.

Walau dimungkinkan dilakukan oleh pelayan awam, sebaiknya tetap dilakukan oleh Imam atau Diakon jika mereka ada di tempat.


Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG 2011 – Upacara pembukaan selubung salib

Posted by liturgiekaristi on April 29, 2011


Ecce lignum crucis quo salus mundi pependit, venite adoremus. Upacara pembukaan selubung salib pada ibadat Jumat Agung di Basilika St. Petrus.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

TRIDUUM (KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU VIGILI

Posted by liturgiekaristi on April 28, 2011


SHARING SEORANG UMAT :
Good Friday (Jumat Agung) : Jalan Salib biasa atau Jalan Salib Hidup (tableau) selalu dilakukan pada pagi hari di hari Jumat Agung – pada siang/sore hari selalu diadakan Ibadat Jumat Agung resmi (Kisah Passio yang dinyanyikan + Pengormatan ……Salib) ….

nah di Indonesia ini aneh : ada banyak Paroki yang mengadakan Jalan Salib Hidup (tableau) di siang/sore hari sebagai pengganti Kisah Passio yang dinyanyikan + Penghormatan Salib ….Lho ???

Sabtu Paskah aslinya dalam Bahasa Latin itu : Vigil (Tirakatan menjelang Paskah), dulu disebut Sabtu Sepi. Inti perayaannya : Upacara Cahaya + Pembaruan Janji Baptis ….Paskah dirayakan pada hari Minggu (tiga hari setelah Yesus wafat : sesuai dengan Credo + Injil) …

tapi di Indonesia ini aneh : Sabtu Paskah sudah dirayakan sebagai Hari Raya Paskah, lengkap dengan salam-salaman Selamat Paskah, lagu Haleluya (Handel) dan berkat Paskah meriah … (Jadi Yesus bangkit pada hari keberapa?) … akibatnya, Hari Raya Paskah yang jatuh hari Minggu itu sepi (karena sudah dirayakan di Sabtu Paskah)…katanya Hari Raya Paskah itu hari raya terbesar …kok Minggu Paskah sepi… apalagi Paskah hari Kedua (Senin) sudah banyak yang lupa, padahal dulu sekolah2 Katolik dan Univ Katolik masih libur di hari Paskah kedua …sekarang ???

Passio tidak bisa digantikan dengan drama ata pun jalan salib. Sabtu sepi / sunyi tidak sama dengan sabtu malam paskah. Sabtu malam paskah memang dimaksudkan sebagai malam tirakatan / vigili (=berjaga-jaga) dan sejak dahulu menjadi perayaan… paskah yang utama (ibu dari segala vigili). Pada malam itu memang kita merayakan (menyongsong) kebangkitan Yesus sebagaimana para wanita yang menemukan makam kosong “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu” (mat 28:1a). Pada perayaan malam paskah itu seolah kita berjaga dan berlomba dengan para wanita Yerusalem untuk menyongsong Yesus yang beralih dari kematian menuju gerbang kebangkitan. Karenanya malam paskah diadakan harus pada hari telah gelap, ritusnya cukup panjang (terpanjang dalam liturgi Katolik) dengan empat liturgi : cahaya, sabda, baptis dan ekaristi. dengan banyaknya bacaan, dsb sangat mendukung maksud tirakatan / berjaga-jaga / melek-an ini. Karenanya di malam paskah ini pun diperingati Yesus yang (baru saja) bangkit. Lagu-lagu kebangkitan dan alleluia telah dinyanyikan dengan semarak. Sedangkan perayaan keesokan harinya, yaitu Hari raya Minggu Paskah – tetap merupakan perayaan wajib bagi umat – tidak digantikan dengan malam paskahnya karena status perayaan telah berbeda (tidak sama dengan misa mingguan yang telah dihadiri pada sabtu malam). Di Perayaan Hari Raya Minggu Paskah kita merayakan Yesus yang (telah) bangkit dan sekaligus menampakkan diri pada para muridNya. sekilas dari saya (bdk dokumen Gereja : Festis Pachalibus Praeparandis et celebrandis / FPPC).
SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Triduum Paskah, diistilahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Tri Hari Suci – lalu dipahami sebagai dari hari Kamis Putih – Jumad Agung – Sabtu Suci (sepih). Lalu apakah hari Minggu Paskah tidak termasuk ? dan kalau termasuk berarti bukan tig…a hari melainkan empat hari ? dan istilahnya bukan Tri Hari Suci lagi ?

Secara liturgis, dan ini dalam ajaran dan tradisi Gereja, bukan masalah perhitungan harinya, melainkan rangkaian perayaan untuk mengenangkan SENGSARA – WAFAT – KEBANGKITAN Kristus Yesus, Tuhan kita. Jadi ada tiga (3) unsur dari rangkaian perayaan itu : sengsara – wafat dan kebangkitan Kristus, yang diawali perayaan Malam Perjamuan Terakhir – Peringatan Sngsara dan Wafat Kristus dan Perayaan Vigili Paskah dan Paskah Kristus (diantara ketiga peristiwa yang dirayakan ini ada : tuguran, ofisi/brevir atau ibadat pagi (di kampung saya ada Lamentasi hari jumad dan sabtu pagi), ada jalan salib bahkan munkin ada tablo sengsara Tuhan, … dsb … bahkan ada tradisi² khusus yang rangkaian acaranya dari hari rabu yang disebut Rabu Trewa)

Kalau kita perhatikan dengan sungguh liturgi perayaan Triduum Paskah ini maka liturgi dari Malam Perjamuan Terakhir sampai Vigili Paskah merupakan satu kesatuan / rangkaian. Biasanya dalam perayaan Ekaristi ada 4 bagian : ritus pembuka, liturgi sabda, liturgi Ekaristi dan ritus penutup.

Dalam perayaan Triduum Paskah ritus pembuka pada perayaan Malam Perjamuan Terakhir dan ritus penutup pada perayaan Malam (vigili) Paskah dengan berkat dan pengutusan secara meriah. Pada perayaan kamis putih tidak ada ritus penutup, setelah doa komuni langsung perarakan pemindahan Sakramen Mahakudus.

Pada peringatan sengsara dan wafat Kristus pada Jumad Agung, tidak ada ritus pembuka dan ritus penutup : imam berarak masuk dalam suasana hening, lalu berlutut atau tiarap, kemudian doa untuk memulai perayaan kemudian menyusul Liturgi Sabda (pasio). Di akhir perayaan, setelah doa komuni, ada doa berkat tetapi berupa penumpangan tangan (tidak ada gerakan/tindakan memberi berkat berupa + tanda salib dan kata-kata pengutusan).

Pada perayaan Malam Paskah, tidak ada ritus pembuka ; setelah ada komentator untuk memberi penjelasan tentang rangkaian perayaan, langsung upacara cahaya atau pemberkatan api baru dan Lilin Paskah. Pada akhir perayaan baru ada ritus penutup berupa : berkat meriah Paskah dan pengutusan secara meriah, yang disertai Alleluia 3x.

Demikian juga bunyi lonceng (dan bunyi-bunyian yang lain): lonceng dibunyikan pada lagu Gloria di Kamis Putih dan dibunyikan lagi pada lagu Gloria di Malam paskah… dan dari situ bersama Alleluia kita sudah memasuki suka cita Paskah.

Alleluia pada Malam Paskah dikumandangkan secara meriah, bahkan dalam buku Mazmur Tanggapan, Alleluia pada Malam Paskah dari lagu Latin dengan tiga ayat/bait yang dinyanyikan dengan nada yang berbeda (dari rendah ke tinggi). Jadi pada perayaan Vigili Paskah sejak pemakluman Kristus Cahaya Dunia yang disimbolkan dengan Lilin Paskah dan Exultet sebagai pemakluman/proklamasi Paskah Raya kita sudah memasuki kegembiraan dan suka cita Paskah.

Jadi secara perayaan atau liturgi tidak ada yang salah dengan perayaan Triduum Paskah Kristus. Masalahnya terletak pada pastoral liturgy dan ini menjadi tugas kita bersama.

Bahwa pada Misa Paskah pada hari Minggu Paskah umatnya kurang dan ada anggapan bahwa Paskah sudah dirayakan malam sebelumnya (Malam Paskah) itu menjadi keprihatinan kita bersama dan katekese tentang liturgi lebih giat lagi. Link SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA ini juga bertujuan sebagai sarana pewartaan dan katekese seputar liturgi dan perayaan Ekaristi. Yang tentu saja berangkat dari keprihatinan tentang situasi Liturgi kita di Gereja Katolik Indonesia. Jadi tugas kita bersama terhadap masalah dan keprihatinan tentang Liturgi kita ini.

PENCERAHAN DARI PASTOR Albertus Widya Rahmadi Putra

Nambah info praktis saja:

1. di dalam Norma Umum Kalender dan Tahun Liturgi, Artikel Nomor 19 dinyatakan: Tri Hari Suci (Triduum) dimulai pada Perayaan Ekaristi Kamis Putih, mencapai puncaknya pada Malam Paska, dan berakhir pada Ibadat Haria…n (atau Perayaan Ekarisiti) Minggu Paska Sore.

Referensi: http://www.catholicculture.org/culture/library/view.cfm?id=5932#Trid

2. Dari pernyataan itu bisa disimpulkan bahwa Triduum memang berlangsung selama kurang lebih 3 X 24 jam (Kamis sore sekitar jam 6 sampai dengan Minggu Sore sekitar jam 6), waktunya setara dengan 3 hari penuh meskipun melewati 4 sebutan hari. Periode itu mencakup sebagian hari Kamis, Jumat sepanjang hari, Sabtu juga sepanjang hari, dan Minggu sebagian hari. Begitulah cara perhitungan liturgisnya, sedikit berbeda dengan kebiasaan kita menghitung hari secara normal.

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

PASKAH – OKTAF PASKAH KAITANNYA DENGAN MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Posted by liturgiekaristi on April 28, 2011


Ada pertanyaan tentang Oktaf Paskah, berikut sedikit penjelasannya dan dikaitkan dengan Minggu Kerahiman Ilahi

Oktaf Paskah

Pekan suci sudah berakhir, hari raya Paskah telah berlalu…., namun, apakah pesta telah berakhir ?? Lebih jauh ada istilah « Oktaf Paskah »,  apa sih oktaf Paskah itu ?

Oktaf Paskah adalah masa delapan hari setelah hari Minggu Paskah ; masa hari raya panjang selama delapan hari, sampai hari Minggu berikutnya. Suatu perayaan atau pesta yang berlangsung selama delapan hari. Dalam tradisi Gereja para babtisan baru mengalami rahmat  suka cita dengan tetap mengenakan pakaian putihnya ; maka pada hari Minggu II Paskah disebut Minggu Putih atau « Dominica in Albis » ( karena hari terakhir para babtisan baru mengenakan pakaian putih).

Perayaan keagamaan oktaf ini bisa ditemukan dalam Perjanjian Lama, pada perayaan Pondok Daun di Kitab Imamat 23-24. Pada abad IV, jaman Konstantin dimasukkan ke dalam Liturgi Gereja (Katolik).

Selama Oktaf Paskah liturgi sama seperti hari raya Paskah : gloria dikumandangkan, Alleluia dinyanyikan dengan meriah, doa dan bacaan tetap menunjukkan hal yang sama, yakni peristiwa paskah / kebangkitan, Prefasi Paskah I sama seperti hari Minggu Paskah, … Jadi boleh dikatakan liturgi hari raya Paskah yang diperpanjang selama delapan hari, yang berakhir pada hari Minggu Paskah II, yang disebut juga « Dominica in Albis » (Minggu Putih) atau sekarang ini disebut hari Minggu Kerahiman Ilahi.

Hari Minggu Kerahiman Ilahi

Seperti yang telah disinggung di atas, dalam tradisi Gereja hari Minggu II Paskah disebut « Dominica in Albis » atau Minggu Putih (karena merupakan hari terakhir para babtisan baru mengenakan pakaian putih, pakaian babtis mereka). Namun sejak tahun 2000 Paus Yohanes Paulus II menetapkan hari Minggu Paskah II menjadi Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Hal ini sebagai jawaban atas permintaan Tuhan kepada Santa Faustina Kowalska yang termuat dalam buku catatan hariannya. Ada beberapa kutipan  dimana Tuhan  meminta suatu “Pesta Kerahiman Ilahi” ditetapkan secara resmi dalam Gereja. Berikut ini salah satu kutipan dari permintaan Tuhan ini (coppy dari link tetangga) :

 

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Atas permintaan Tuhan ini maka pada tanggal 30 April 2000, pada hari kanonisasi Santa Faustina Konwalska, Paus Yohanes Paulus II menetapkan pada hari Minggu setelah hari raya Paskah, yakni Minggu II Paskah sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi yang dirayakan dalam Gereja semesta.

Untuk tahun ini gemah pesta Minggu Kerahiman Ilahi berkumandang seantero jagat, yang bertepatan dengan hari Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II, di hari Minggu ini 1 Mei 2011 oleh Paus Benediktus XVI. Para peziarah dan kelompok kaum beriman yang menghadiri beatifikasi ini, bukan hanya datang sebagai peziarah dan sekedar hadir dan berpartisipasi. Mereka tengah sibuk dengan segala rangkaian kegiatan yang semuanya bermuara pada Kerahiman Allah yang penuh belaskasihan: novena Kerahiman Ilahi yang sudah dimulai pada hari Jumad Agung kemarin, ada seminar (dan sejenisnya) tentang Kerahiman Ilahi, doa dan devosi kepada Kerahiman Ilahi, yang semuanya dalam rangka beatifikasi Yohanes Paulus II, selain peningkatan hidup keimanan akan Allah Bapa yang maharahim dan mahabelas-kasihan.

Kerahiman Allah yang penuh belaskasihan senantiasa menguatkan langkah hidup kita. Amin!

Posted in 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

Litani para kudus : apa yang kita serukan kepada para kudus ?

Posted by liturgiekaristi on April 26, 2011


Menjawab pertanyaan sdr. Andreas Adiana : « apakah litani para kudus ini HARUS didaraskan? mohon pencerahannya »  Berikut ini pencerahannya :

Dalam kenyataannya semua doa ditujukan kepada Allah. Jadi kita tidak berdoa kepada para kudus, tetapi kita meminta mereka untuk menjadi perantara kita di hadapan Allah ; para kudus mendoakan kita di hadapan Tuhan dan Yesus Kristus. Kita bisa memohon perlindungan, bantuan, dukungan dan kemampuan untuk hidup baik dan suci…  Santa Theresia dari Lisieux (St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus) mengatakan bahwa dia menjalani kehidupan surgawinya dengan memperhatikan doa-doa kita.

Gereja di sepanjang sejarahnya, mengatakan bahwa para kudus atau orang-orang yang berbahagia di surga, oleh iman mereka, telah mengikuti Yesus Kristus. Mereka membentuk suatu keluarga besar, yang disebut Gereja para kudus di surga, termasuk  yang tidak/belum dikanonisasi, dimana mungkin kelak kita menjadi bagian dari bilangan para kudus ini. Mungkin kita memiliki santo-santa yang menjadi idola kita karena keutamaan dan kebijaksanaan yang mereka miliki. Atau kita mempunyai devosi khusus kepada salah satu dari para santo –santa. Namun, apa yang kita minta dari mereka ? Kita memohonkan kesaksian hidup mereka menjadi teladan iman bagi kita, karya-karya iman yang telah mereka jalankan juga menjadi inspirasi iman dalam perjalanan hidup keimanan kita. Misalnya, St. Paulus yang melaksanakan karya misionernya yang luar biasa, dengan segala keberanian yang dia miliki, kita mohon bantuannya agar keberanian yang sama menjadi teladan bagi kita dalam kesaksian hidup iman di tengah masyarakat  sekarang ini. Santa Theresia dari Avila yang mampu masuk dalam keintiman yang besar, dalam dan bersama Tuhan, kita meminta kepadanya untuk mengajarkan hal yang sama juga kepada kita. Santa Elisabeth dari Trinitas yang mahakudus yang secara bertahap masuk dalam suatu pemahaman total akan misteri Trinitas, kita minta kepadanya agar apa yang telah Tuhan ungkapkan kepadanya juga dianugerahkan kepada kita untuk menyelami misteri Allah Trinitas yang mahakudus ini. Demikian juga para santo-santa yang lain : para martir Allah yang kudus, para perawan yang suci, para Bapa Gereja, para gembala umat, para teladan iman, dst…dst…

Litani para kudus merupakan doa yang paling indah dan paling sederhana. Melalui seruannya yang panjang, Gereja di dunia memohon bantuan doa kepada Allah dari Gereja yang jaya di surge. Pertama-tama seruan permohonan kepada Santa Maria, Bunda Gereja menjadi pengantara doa kita, kemudian menyusul berturut-turut kepada St. Yoseph, St. Yohanes Pembabtis, para rasul, para martir, para missioner, para doctor Gereja, para teladan iman, dst… (para kudus dari Negara dan dioses tertentu, para kudus penlindung : babtisan baru, diakon, imam, uskup yang ditahbiskan, santo/a pelindung paroki, gereja, keuskupan…). Setiap seruan diselingi permohonan, “Doakanlah kami…!”.

Dalam tradisi liturgi Gereja, litani para kudus dinyanyikan pada parayaan Malam Paskah ;  pada perayaan tahbisan : diakon, imam dan uskup ; juga dalam profesi kaul kekal para biarawan/i ; Juga dapat dinyanyikan sebagai lagu pembukaan pada hari raya Semua Orang Kudus, tanggal 1 November. Biasanya kalau litani para kudus diserukan atau diucapkan saja pada kesempatan babtis bayi ; seruan permohon doa kepada para kudus terutama santo – santa pelindung bayi yang dibabtis. Juga mungkin dalam doa atau kesempatan-kesempatan devosi.

Dalam liturgi bahasa Indonesia, sepengetahuan saya, lagu Litani para kudus yang ditranlasikan dari lagu Latin. Mungkin sudah ada jenis lagu yang lain… khas Indonesia. Versi inkulturatif budaya Batak dan Nias di Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga sangat agung, megah dan indah. Apakah ada versi inkulturatif dari budaya lain ??

Komentar Bp. Andreas Adiana

Pertanyaan tsb. sengaja saya lontarkan, karena pada Perayaan Ekaristi Sabtu Malam Paskah kemarin benar² tidak ada Litani Para Kudus. Jangankan dinyanyikan, didaraskan pun tidak. Ini pertama kali saya alami seumur hidup saya mengikuti Perayaan Ekaristi Sabtu Malam Paskah.
Terima kasih atas pencerahan yg diberikan, ternyata Litani Para Kudus tidak hanya dinyanyikan saat Sabtu Malam Paskah, tetapi juga saat upacara tahbisan.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Litani Para Kudus memang tidak hanya dinyanyikan/didaraskan saat Malam Paskah, tapi juga pada saat2 lain seperti tahbisan atau baptis bayi. Surat Edaran Paskah juga menganjurkan Litani Para Kudus dinyanyikan sebagai lagu pembuka saat Minggu  Prapaskah I (SEP 23).Waktu saya menghadiri rapat dengan komisi liturgi keuskupan, ada pertanyaan dari salah seorang seksi liturgi paroki “Jika tidak ada pembaptisan, apakah Litani Para Kudus boleh dinyanyikan?” Jawaban ketua KomLit: “Boleh.” Dari tanya jawab ini tersirat, bahwa Litani Para Kudus tidak wajib dinyanyikan jika tidak ada pembaptisan.

Seingat saya memang ada rubrik di buku misa, bahwa Litani Para Kudus dihilangkan jika tidak ada pembaptisan atau pemberkatan air baptis. Perlu diketahui bahwa dalam upacara Malam Paskah ada 2 jenis pemberkatan air, yakni pemberkatan air baptis dan pemberkatan air suci. Air baptis untuk membaptis para katekumen, dan air suci untuk memerciki yang sudah dibaptis, untuk upacara sakramentali dan untuk diletakkan di pintu2 gereja.

Litani Para Kudus dapat digunakan kalau pada malam paskah itu diadakan pemberkatan air baptis walaupun tidak ada yang dibaptis pada malam itu. Kalau tidak ada pemberkatan air baptis, maka tidak perlu ada Litani Para Kudus.

Dulu pernah terjadi di paroki saya, tidak ada Litani Para Kudus saat Malam Paskah. Umat protes, dan Romo kepala menjelaskan sama seperti penjelasan saya di atas. Sejak saat itu setiap Malam Paskah selalu diadakan pembaptisan baik misa pertama maupun kedua. Hehehe

-OL-

Posted in 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

PASKAH – LAGU HAEC DIES

Posted by liturgiekaristi on April 25, 2011


Posted in 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

HARI MINGGU PASKAH – Sekuensia Paskah

Posted by liturgiekaristi on April 25, 2011


Sekuensia Paskah, dalam Puji Syukur no. 518. Dinyanyikan hari Minggu Paskah pagi: setelah bacaan II lalu disusul ‘Alleluia’

Posted in 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH 2011 – Bapa Suci Benedictus XVI menyanyikan Kanon Romawi (Doa Syukur Agung I)

Posted by liturgiekaristi on April 25, 2011


Bapa Suci Benedictus XVI menyanyikan Kanon Romawi (Doa Syukur Agung I) saat misa Kamis Putih yang lalu di Basilika Lateran.

Posted in 3. Kamis Putih, q. Video terpilih | Leave a Comment »

MALAM PASKAH – LITANI PARA KUDUS

Posted by liturgiekaristi on April 24, 2011


Posted in 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

Hallelujah – Choir of King’s College, Cambridge live performance of Handel’s Messiah

Posted by liturgiekaristi on April 24, 2011


Posted in 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

MALAM PASKAH – Simbolisme Cahaya dan Lilin Paskah

Posted by liturgiekaristi on April 24, 2011


Kristus dahulu dan sekarang,

awal dan akhir, alpha dan omega.

MilikNyalah segala masa dan segala abad,

kepadaNyalah kemuliaan dan kekuasaan

untuk selama-lamanya.

 

Pada Malam Paskah ini ada suatu kebutuhan dari setiap kita yang merayakan Malam Vigili Paskah adalah lilin. Mungkin setiap kita sibuk mencari lilin. Toko-toko penjual lilin laris manis. Kelompok Mudika atau Legio Maria, Putra Altar dan Putri Sakristi pada sibuk menyiapkan lilin bagi umat beriman yang datang merayakan Hari raya Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Memang dalam tradisi Liturgi Gereja Katolik perayaan Malam Paskah diawali dengan upacara cahaya. Tuhan Yesus yang bangkit dari kuburNya merupakan cahaya yang menerangi kegelapan dan kekelaman dunia ; maut dan dosa dikalahkan, dunia dilimpahi kasih dan keselamatan Allah. Dunia bergema dengan sorak sorai : « Kristus Cahaya Dunia », « Syukur Kepada Allah ».

 

Simbol Kebangkitan Kristus

 

Gereja dalam tradisi liturginya telah menggunakan Lilin sejak abad IV, terutama lilin putih besar yang dihiasi dengan goresan salib berwarna merah.

Lilin Paskah merupakan symbol cahaya Kristus yang bangkit. Hal ini terutama dalam kata-kata imam ketika menyalakan lilin Paskah dengan mengucapkan : « Semoga Cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalau kegelapan hati dan budi kita ». Ketika Lilin Paskah diarak masuk ke dalam gereja, Gereja dalam keadaan gelap, dan cahaya lilin Paskah ini mulai memberi terang dalam kegelapan. Memang, sesungguhnya terang kebangkitan Kristus memberi cahaya untuk menerangi kegelapan hidup kita, bahkan mencerahkan dan mengubah hidup yang suram.

Cahaya Lilin Paskah ini kemudian diedarkan ke tengah umat beriman dengan saling menyalakan lilin-lilinnya di tangan, sebagai simbol saling berbagi terang kebangkitan Kristus dan  cinta kasih Allah yang menyelamatkan.

Tulisan atau goresan pada Lilin Paskah

 

Ketika upacara pemberkatan Lilin Paskah, imam mengoreskan tanda-tanda pada Lilin Paskah :

  • Imam mengoreskan (menulis) tanda salib, dari atas ke bawah – kiri ke kanan; kemudian dia mengoreskan abjad yunani Alpha di bagian atas dan abjad Omega di bagian bawah, seraya mengucapkan : “Kristus dahulu dan sekarang; Awal dan Akhir – Alpha dan Omega”. Jadi ada tindakan yang disertai kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus adalah awal dan akhir dari segala sesuatu. Kita ingat dalam prolog Injil Yohanes, di situ dikatakan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1, 1). Dan sungguh, Firman Allah itu adalah Yesus Kristus. Dan masih tetap menurut St. Yohanes dalam Kitab Wahyu, di situ dikatakan : « Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus! » (Why 22, 20), yang merupakan kalimat terakhir dari Alkitab, dan yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus kita nantikan kedatanganNya pada akhir jaman, sebagaimana kita ucapkan dalam credo atau pengakuan iman kita. 
  • Di ke empat sudut dari salib itu digoreskan angka tahun yang menunjukkan bahwa  Yesus Kristus adalah Tuhan atas waktu dan sejarah. « MilikNyalah segala masa dan segala abad. KepadaNyalah kemuliaan dan kekuasaan sepanjang segala masa. »
  • Pada bagian tengah dan keempat ujung dari tanda salib itu, imam menancapkan biji-biji dupa sebagai tanda dari 5 luka-luka Yesus, seraya berkata : « Demi luka-lukaNya yang kudus dan mulia, semoga kitapun dilindungi dan dipelihara oleh Kristus Tuhan. Amin. »

Exultet

 

Setelah uapacara pemberkatan api baru, pemberkatan dan penyalaan Lilin Paskah, menyusul perarakan  masuk ke dalam gereja dengan tiga kali aklamasi « Kristus Cahaya Dunia »« Syukur kepada Allah ». Pada aklamasi kedua, lilin-lilin misdinar dinyalakan dari nyala Lilin Paskah ; dan pada aklamasi ketiga nyala Lilin Paskah diteruskan ke umat oleh misdinar dan umatpun saling berbagi nayala api Lilin Paskah Kristus. Kemudian menyusul Exultet atau Pujian Paskah, yang  merupakan pemakluman Paskah Kristus secara meriah, sekaligus menyimpulkan bagian pertama  perayaan Malam Paskah, perayaan cahaya Kristus yang bangkit jaya.

Cahaya sejati adalah Tuhan

 

Istilah « terang » atau « cahaya » banyak terdapat dalam ayat-ayat Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, seperti  dalam kisah penciptaan, pada saat dimana Allah menuntun umat pilihanNya dari perbudakan Mesir dalam terang tiang awan, juga ada dalam kitab mazmur, dsb.

Perjanjian Baru menjelaskan makna cahaya menunjuk kepada Yesus sebagai Terang Dunia.

  • Pada kelahiran Yesus : « Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang » (Mat 4, 16).
  • Pada saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah : Simeon berseru bahwa Yesus adalah terang bagi bangsa-bangsa : « Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. » (Luk 2, 29 – 32) 
  • Pada peristiwa transfigurasi di Gunung Tabor : « Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. » (Mat 17, 2) 
  • Yesus disebut sebagai terang sejati: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yoh 1, 4-9) 
  • Yesus berkata bahwa Dia adalah terang yang sesungguhnya : “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8, 12) 
  • Dan kita yang telah mengikuti Yesus menjadi terang dunia : “Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang.” (Mat 5, 14. 16) 

Terang dalam Liturgi

 

Konon pada jaman Romawi kuno, para kaisar dikelilingi oleh orang yang membawa obor untuk menunjukkan kehadirannya di tengah rakyat. Kekristenan awal mengadopsi ide ini bukan untuk menunjukkan dan menghormati kaisar tetapi menunjukkan Raja segala raja, Raja alam semesta adalah Tuhan Yesus Kristus.

Dalam kumpulan catatan liturgi kuno ditemukan sebuah ungkapan ini : « Kita tidak perna merayakan Misa tanpa cahaya (lilin) ; hal ini bukan bukan untuk mengusir kegelapan tetapi untuk memuliakan Sang Cahaya sejati, yakni Kristus Yesus, Sakramen keselamatan yang hadir di altar, tanpa Dia, kita berada dalam kegelapan malam » (Bernold Konstanz dalam Micrologue, tahun 1085).

Fungsi cahaya dalam liturgi :

 

Secara historis : untuk menunjukkan benda atau obyek yang bersangkutan :

  • Altar dalam katakombe dan dalam Basilika pada awal kekristenan.
  • Salib perarakan (dalam prosesi salib diapiti lilin bernyala)

Secara simbolik :  menghormati tanda-tanda kehadiran Yesus Kristus, Terang Dunia, yang hadir dan tinggal di tengah-tengah umat beriman. Dengan demikian, cahaya lilin atau lampu menjadi tanda kehadiran Kristus dalam GerejaNya, yakni :

  • Yesus hadir dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrir
  • Altar yang menghadirkan pengorbanan diri Yesus Kristus di altar salib
  • Salib perarakan
  • Perarakan Evangeliarium (menjelang pembacaan Injil) dan saat bacaan Injil, karena Yesus adalah Sabda Allah.

Mengapa menyalakan lilin?

 

Lilin adalah simbol terang / cahaya. Dalam ritual keagamaan, lilin banyak digunakan untuk mengingatkan setiap orang akan cahaya ; dan cahaya itu merupakan  sesuatu yang berguna untuk menerangi kegelapan dan sekaligus cahaya itu bisa menjadi hal yang riskan dan rapuh, maka perlu diberi perhatian terus menerus.

Selama nyala dari suatu lilin dapat diedarkan dan diperbanyak, ia dapat digunakan sebagai simbol memberi semangat, maka dari itu juga dalam iman cahaya itu adalah simbol iman.

Di tabernakel, lampu (lilin) merupakan simbol kehadiran Allah. Selain itu, ketika kita menyalakan lilin di gereja, atau di depan patung, atau di tempat-tempat ziarah ataupun di kuburan dari keluarga yang telah meninggal, cahaya lilin merupakan simbol doa.

Lilin Babtis dan Pembaharuan Janji Babtis   

      

“Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Efesus 5, 14)

Selain air, lilin merupakan simbol terpenting dalam pembabtisan (inisiasi Kristen). Hal ini mengungkapkan bahwa Kristus adalah terang dunia, kini diterima oleh orang yang dibabtis dan hidup dalam cahaya Kristus. Bukan hanya itu, ia juga menjadi terang bagi sesama di sekitarnya, yang mungkin saja terkadang redup tertiup angin dan gelombang kehidupan, namun nyalanya tetap membara dan tak terpadamkan, karena sumbernya dari Kristus, Sang Terang sejati. Maka dengan nyala lilin di tangan yang diambil dari Lilin Paskah Kristus, kita membaharui janji-janji babtis untuk tetap hidup dalam Terang Kristus dan menjadi cahaya yang tak terpadamkan bagi sesama di sekitar kita.

Semoga,

Selamat Paskah, Tuhan memberkati !!

Posted in 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – UPACARA PEMBASUHAN KAKI

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Gereja mewujudkan semangat pelayanan Kristus secara nyata dengan upacara pembasuhan kaki.

Posted in 3. Kamis Putih, q. Video terpilih | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – VISUALISASI JALAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Dari pengalaman dan evaluasi selama ini, dramatisasi Sengsara Tuhan oleh kelompok orang muda Katolik lebih cocok diadakan di luar Upacara Jumat Agung, misalnya pada jam pagi sehingga Upacara Jumat Agung pada sore hari lebih khusus dengan pemeran tiga orang seperti biasanya (bdk PPP no. 72).

Catatan : Admin Page Liturgi mohon ijin dari OMK St. Cornelius Madiun , untuk memposting video visualisasi Jalan Salib untuk dipersembahkan kepada seluruh umat Katolik Indonesia lewat link ini.

Selamat menyaksikan dan merenungkan.

Posted in 4. Jumat Agung, j. OMK, q. Video terpilih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – PEMINDAHAN SAKRAMEN MAHA KUDUS

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Pada dasarnya, aturan Liturgis dan dalam kondisi ideal, Kamis Putih layaknya dilaksanakan 1x saja. Namun dalam kondisi pastoral seperti yang kita miliki sekarang, tampaknya itu tidak memungkinkan.

Acara Tuguran itu sebenarnya adalah bagian dari pemindahan Sakramen dari Altar Utama ke Altar Persinggahan, sampai upacara Jumat Agung karena selama Jumat Agung tidak dilaksanakan Misa. Hanya Ibadat Sabda dengan Komuni.

Maka layaknya, kalau mau benar-benar sesuai dengan esensinya, pemindahan hanya diadakan pada Misa Kamis Putih terakhir.

Namun, supaya umat mengalami upacara pemindahan Sakramen, biasa dilakukan pada semua Misa Kamis Putih.
Jika demikian, mau tak mau Sakramen dikembalikan lagi ke Tabernakel utama untuk Misa Kamis Putih ke-2.

Kalau bicara soal opini pribadi. Mengadakan Misa Kamis Putih lebih dari 1x atau pemindahan Sakramen berkali-kali sebenarnya jauh dari ideal dan agak bertentangan dengan makna pemindahan itu sendiri. Jika memang harus dilakukan, pemindahan dilakukan hanya pada akhir saja.

Dan idealnya, Hosti yang disimpan dalam Altar persinggahan sejumlah cukup saja untuk komuni umat Jumat Agung. Ketika Jumat Agung selesai, boleh disimpan beberapa hosti untuk viatikum dan disimpan di sakristi. Altar persinggahan kosong.
Ini adalah hari dalam setahun dimana seluruh hosti habis dikonsumsi. Hosti baru baru dikonsekrasikan lagi pada Misa Malam Paskah.

Pada dasarnya, Kamis Putih dan Jumat Agung membentuk satu kelanjutan, ‘satu’ Liturgi yang dipisah menjadi 2 hari.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Mendekati hari Kamis Putih, ada umat yang minta pencerahan ” Ketika masuk gereja biasanya kita berlutut dengan satu kaki sebagai tanda hormat. Tetapi kalo pas ada Sakramen ditahtakan, saya lihat ada umat yang berlutut dengan kedua kaki dengan gerakan menyembah, mengapa sedikit berbeda? Apakah memang harus menyembah dengan berlutut penuh (sujud dengan dua kaki?)”

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Dear friends, pertanyaan di atas pasti bukan sekedar soal mana yang pantas, dan soal yang penting niat hati atau motivasi kita menghormati Tuhan. Kiranya pertanyaan ini lebih mengarah soal tradisi dan kebiasaan yang benar secara liturgis.
Dalam keadaan biasa, di dalam gereja di mana ada Tabernakel yang menjadi tempat Allah menetap di kediamanNya di bumi, biasanya kita orang Katholik berlutut dengan sebelah kaki sebagai sikap hormat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.Tetapi kalau yang ditanyakan sikap pada saat ada Sakramen Maha Kudus ditahtakan (Eksposition), tradisi kita biasanya berlutut dengan kedua kaki sebagai ungkapan sikap menyembah. Tradisi ini sebenarnya merupakan perkembangan yang tidak terlalu jauh dari tradisi sejak Perjanjian Lama, di mana dulu bangsa Israel dipimpin langsung oleh ‘Tangan kuat Allah Israel’ yang memimpin bangsa nomaden ini secara langsung dan dengan perantaraan para nabiNya. Setiap kali Allah menampakkan DiriNya, entah dalam rupa tiang awan, Api yang bernyala, gulungan awan di gunung Sinai, dsb, bangsa Israel terbiasa untuk berlutut dengan mukanya sampai ke tanah. Bahkan dulu ada pandangan di kalangan orang2 Israel bahwa memandang ‘wajah Allah’ adalah hal yang terlarang dan tidak pantas, bahkan bisa menyebabkan kematian.Maka sikap badan berlutut dengan kedua kaki ini merupakan penerusan tradisi ‘sujud sampai ke tanah’ itu. Kita melakukannya dengan kedua kaki berlutut/bertelut di hadapan Sakramen Mahakudus yang menjadi tanda kehadiran Allah secara nyata dan berhadapan langsung dengan kita(secara kasat mata). Itulah kiranya sikap badan kita yang sepantasnya; karena berlutut itu juga berarti tanda menyerah, mengakui kekerdilan kita dan kelemahan kita di hadapan Allah, juga sekaligus ungkapan kita yang mengharapkan kemurahan belaskasih Allah yang hadir secara kelihatan bagi umatNya.Sikap ini bisa kita bandingkan secara simple dengan sikap kita sendiri terhadap atasan atau pimpinan atau orang yang lebih tinggi dari kita. Kadang tanpa sadar, dalam pembicaraan lewat telpon pun kita membungkuk2kan diri sebagai sikap hormat. Bukankah terhadap Tuhan junjungan kita kita lebih sepatutnya lagi merendahkan diri lewat sikap dan bahasa tubuh yang sepantasnya??
Semoga bermanfaat untuk membangun sikap liturgis yang mendukung penghayatan iman kita. Selamat memasuki pekan suci yang sudah dekat. Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ – South Dakota USA

Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – UPACARA PEMBASUHAN KAKI

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Akar Tradisi

  • dalam abda ke-4 di Gereja Barat, kecuali di Roma, praktek mencuci kaki dilakukan pada ritus pembaptisan. Kemudian lenyap. Muncul kembali di biara-biara sebagai bentuk saling melayani dan saling mengabdi dan demi persaudaraan dalam komunitas.
  • Tahun 694 Konsili Toledo mewajibkan praktek cuci kaki ini di seluruh Gereja Spanyol. Uskup dan imam harus melakukannya seperti Yesus Kristus melakukannya. (Ingat Uskup dan imam pada waktu itu adalah pribadi-pribadi yang “untouchable”.)  Sejak abad ke-12 Gereja Roma mulai memberlakukannya.  Misale Pius V tahun 1570 menempatkan ritus cuci kaki ini pada akhir misa.
  • Tahun 1955 aturan Pekan Suci menempatkannya setelah Injil dan homili. Ritus ini hanya wajib dilakukn di Katedral-katedral saja.  Missale 1970 meneruskan praktek tersebut, bahkan diberlakukan untuk setiap gereja paroki.

Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – MAKNA DAN AKAR TRADISI

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


KAMIS PUTIH

Makna

  • Bagian dari Triduum sacrum.  “Perayaan kenangan” Perjamuan Malam Terakhir.
  • Saat Kristus menginstitusikan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat.
  • Saat ajaran cinta kasih ditegaskan kembali sebagai wasiat agung —-> suatu mandatum.
  • Allah mencuci kaki manusia; Allah mengilahikan manusia; Allah yang menghampakan diri.

Liturgi  Dirayakan petang hari.

  • Hanya satu kali Misa saja. Dengan alasan yang masuk akal dan ijin uskup bisa dilaksanakan malam hari atau pagi hari.
  • Setelah Gloria, bel dan lonceng (benda-benda yang tebut dari metal) tidak lagi dibunyikan sampai paskah.
  • Homili harus mengenai misteri Ekaristi dan mengenai hakekat Imamat dan ajaran cinta kasih.  Pencucian kaki 12 rasul.
  • Ada prosesi Sakramen Maha Kudus dalam sibori (boleh juga dengan monstran).
  • Tabernakel dikosongkan, dipindahkan pada tempat khusus untuk tuguran sampai tengah malam saja.
  •  Tuguran bukan berarti menunggu kuburan mayat Yesus, Yesus  baru mati besoknya. Tuguran bermakna doa dan berjaga bersama Yesus di Bukit Zaitun.
  • Altar dikosongkan.  Patung-patung, gambar-gambar, ikon-ikon dan relief-relief ditutup dengan kain warna merah atau ungu. Tidak salah bila sudah ditutup pada hari Sabtu sebelum hari Minggu ke-5. Lampu-lampu atau lilin yang ada disekitar patung itu dimatikan.

Akar Tradisi

  • dalam abda ke-4 di Gereja Barat, kecuali di Roma, praktek mencuci kaki dilakukan pada ritus pembaptisan. Kemudian lenyap. Muncul kembali di biara-biara sebagai bentuk saling melayani dan saling mengabdi dan demi persaudaraan dalam komunitas.
  • Tahun 694 Konsili Toledo mewajibkan praktek cuci kaki ini di seluruh Gereja Spanyol. Uskup dan imam harus melakukannya seperti Yesus Kristus melakukannya. (Ingat Uskup dan imam pada waktu itu adalah pribadi-pribadi yang “untouchable”.)  Sejak abad ke-12 Gereja Roma mulai memberlakukannya.  Misale Pius V tahun 1570 menemptakan ritus cuci kaki ini pada akhir misa.
  • Tahun 1955 aturan Pekan Suci menempatkannya setelah Injil dan homili. Ritus ini hanya wajib dilakukn di Katedral-katedral saja.  Missale 1970 meneruskan praktek tersebut, bahkan diberlakukan untuk setiap gereja paroki.

Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

BEBERAPA CATATAN PRAKTIS PASTORAL

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Beberapa Catatan Praktis Pastoral

1.         Prosesi palma ada tiga kemungkinan yang hendaknya diterapkan secara bijaksana, yaitu: prosesi meriah dari luar gereja; prosesi meriah tetapi di dalam gereja; perarakan masuk biasa dengan pemberkatan daun palma serta nyanyian pujipujian bersama (bdk. Perayaan Paskah dan Persiapannya [PPP] no. 2930).

2.         Dalam Kisah Sengsara, peran Kristus dibawakan oleh yang tertahbis (PPP no. 33).

3.         Waktu yang paling tepat untuk pengumpulan hasil kegiatan APP ialah pada perarakan Persembahan dalam Misa Perjamuan Tuhan, Kamis Putih (PPP np. 52).

4.         Dari pengalaman dan evaluasi selama ini, dramatisasi Sengsara Tuhan oleh kelompok orang muda Katolik lebih cocok diadakan di luar Upacara Jumat Agung, misalnya pada jam pagi sehingga Upacara Jumat Agung pada sore hari lebih khusus dengan pemeran tiga orang seperti biasanya (bdk PPP no. 72).

5.         Perayaan Malam Paskah tidak boleh diadakan sebelum matahari terbenam…peraturan ini harus ditepati secara ketat. Jadi, Upacara Cahaya secara simbolik menjadi sangat nyata ketika di tengah kegelapan malam (PPP no. 78).

6.         Struktur dan urutan perayaan Malam Paskah tidak boleh diubah atas kehendak sendiri (PPP no. 81).

7.         Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Ritus pertobatan diganti dengan pemercikan air yang diberkati pada Malam Paskah (PPP no. 97).

Majalah LITURGI: Vol. 22, No. 2, Maret  April 2011

Posted in 2. Minggu Palma, 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

TRIHARI PASKAH : KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU PASKAH, MINGGU PASKAH

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Trihari Paskah

Dasar Liturgi Trihari Paskah adalah kesatuan yang tak terpisahkan antara misteri Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus. Gereja merayakan fakta historis Paskah Kristus ini secara lengkap, diawali dengan perayaan Paskah ritual, Kamis Putih.

Kamis Putih: Ekaristi Perjamuan Tuhan

Konsili Vatikan II memberi arti khusus Misa Kamis Putih sore sebagai pembuka Trihari Paskah. Yang menarik adalah sesudah homili, Gereja mewujudkan semangat pelayanan Kristus secara nyata dengan upacara pembasuhan kaki.

Selanjutnya, setelah Doa sesudah Komuni dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus dan adorasi untuk mendalami keluhuran Misteri Ekaristi yang telah dirayakan.

Jumat Agung, Hari Pertama Trihari Paskah

Merupakan hari pantang dan puasa festival karena berkaitan dengan perayaan sengsara dan wafat Kristus. Sesuai dengan tradisi, tidak ada Misa. Gereja memusatkan seluruh perhatiannya pada permenungan Sengsara dan Wafat Kristus pada kayu salib dengan perayaan Sabda, pemakluman Kisah Sengsara, Penyembahan Salib dan Kesatuan mesrah dengan Kristus dalam Komuni kudus. Memang harihari ini sangat dianjurkan kegiatan devosional yang mendukung peran serta umat dalam dinamika pengalaman Kristus sehingga pagi hari di samping Ibadat Bacaan dapat diadakan Jalan Salib. Pada malam hari permenungan bersama Maria, Bunda Berdukacita (Stabat Mater).

Sabtu Hening, Hari Kedua Trihari Paskah

Pada hari ini Gereja melanjutkan permenungan misteri penderitaan dan wafat Kristus yang kini berada di dalam makam. Seiring perjalanan matahari, permenungan ini mengarah ke seluruh karya keselamatan yang memuncak pada Malam Paskah dengan sekian banyak bacaan sampai pada misteri Kristus, Paskah kita. Jadi, hari Sabtu adalah hari retret agung, hari meditasi seluruh Gereja mengenai keagungan karya Allah dalam Kristus.

Minggu Kebangkitan, Hari Ketiga Trihari Paskah

Minggu Kebangkitan dimulai dengan perayaan vigilia pada Malam Paskah sampai Ibadat Sore Hari Minggu Kebangkitan. Santo Agustinus menyebutkan Vigilia Paskah sebagai “Ibu segala vigilia”. Malam Paskah ditandai dengan Upacara Cahaya yang membuka perayaan Vigilia. Dengan Pujian Paskah Gereja memuliakan Allah atas karya penebusan. Vigilia Paskah diwarnai oleh dimensi pembaptisan tetapi tidak harus ada orang yang dibaptis. Dimensi pembaptisan ini mengajak setiap orang untuk kembali memperbarui janji baptisnya. Sesungguhnya Malam Paskah dirayakan dengan kegembiraan Paskah; dengan perayaan Ekaristi yang secara nyata memperlihatkan corak Paskah.

Hari Minggu sebagai perayaan Paskah Kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan atas maut; puncak yang dinantikan sepanjang Vigilia, ketika matahari terbit, simbol kemenangan Kristus atas kegelapan dosa dan maut.

Lebih dianjurkan bahwa ritus penitensial pada awal Misa diganti dengan pemercikan air untuk mendukung alasan bergembira dan pembaruan semangat hidup semua orang yang telah dibaptis. Itulah keseluruhan Pekan Suci yang diakhiri pada sore hari Minggu Kebangkitan.

Sumber : MAJALAH LITURGI , EDISI 2, 2011

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

MISA KRISMA

Posted by liturgiekaristi on April 19, 2011


Setiap tahun, di setiap keuskupan di dunia, imam, diakon dan umat beriman berkumpul bersama Uskupnya untuk merayakan Misa Krisma  Misa Krisma ini biasanya dirayakan  pada  hari Kamis Putih pagi. Namun bisa juga pada hari-hari sebelumnya pada pekan suci, ataupun di luar pekan suci asal masih dekat dengan Paskah, dengan melihat situasi dan kondisi keuskupan masing-masing, sehingga para imam sekeuskupan bisa hadir  dan umat beriman sekeuskupan pun bisa berpartisipasi dalam misa krisma ini.

Pada Misa Krisma, uskup memberkati (menguduskan) minyak Krisma dan minyak katekumen serta minyak untuk pengurapan orang sakit. Selain itu dalam misa ini ada Pembaharuan Janji Imamat. Para imam, di hadapan uskup dan umat beriman yang hadir, membaharui janji imamatnya.

Mengapa disebut  “Misa  Krisma” ?

Disebut “Misa Krisma” karena dalam perayaan ini minyak krisma dikonsekrir (dikuduskan); minyak ini segera akan digunakan pada perayaan Malam Paskah dalam upacara pembabtisan para katekumen, selainnya nantinya minyak krisma juga digunakan sepanjang tahun untuk penerimaan Sakramen Pembabtisan, penerimaan Sakramen Krisma, pengurapan pada saat pentahbisan imam, pentahbisan (pemberkatan) altar dan/atau gedung gereja baru, serta pemberkatan benda/barang kudus lainnya seperti piala, patena, sibori, dsb.

Bersama dengan upacara pemberkatan minyak krisma yang menjadi fokus dari perayaan ini, disertai juga pemberkatan minyak untuk pelayanan Sakramen  Orang Sakit, dan pemberkatan minyak katekumen, yang digunakan dalam perayaan penerimaan katekumen bagi orang dewasa.

Pembaharuan Janji Imamat

Umat beriman dan para iman yang berkarya di keuskupan diundang hadir dalam Misa Krisma ini. Hal ini untuk mengungkapkan persekutuan Gereja lokal (diosesan) di bawah kepemimpinan Uskup. Maka Misa Krisma  merupakan ungkapan persekutuan Gereja Keuskupan, yang di dalamnya selain uapacara pemberkatan minyak krisma, ada pembaharuan JANJI IMAMAT. Uskup membaharui janjinya sebagai gembala umat di hadapan umat beriman dan para imam (pastor) pembantunya. Demikian juga kalau ada Uskup Pembantu (uskup koajutor atau auxilier), dia juga membuat pembaharuan janjinya di hadapan uskup pimpinannya dan umat beriman yang hadir. Para imam (dan juga diakon) membaharui janji imamatnya di hadapan uskup dan umat sebagaimana mereka telah ungkapkan pada saat tahbisan. Intinya dalam pembaharuan janji imamat ini mereka berjanji : untuk hidup yang lebih bersatu dengan Tuhan Yesus Kristus, berusaha untuk menjadi seperti Dia dalam tugas-tugas pelayanan, meninggalkan diri untuk lebih setia kepada komitmen yang telah  diikrarkan saat tahbisan: komitmen untuk merayakan Ekaristi dan pelayanan Sakramen-sakramen Gereja,  memaklumkan Sabda Tuhan dan melaksanakan pelayanan karya Cinta Kasih Kristus. Komitmen yang mendapat pengukuhannya dalam pengurapan imamat.

Simbolisme Pengurapan

Kata Yunani « khrisma » yang berarti urapan atau pengurapan.  Yesus adalah Kristus yang artinya Dia yang terurapi (Messias). Maka « khrisma » (pengurapan) yang telah melekat pada  diri Kristus Yesus,  telah diberikan kepada kita pengikutNya dalam sakramen babtis dan krisma, sebagai imamat umum, juga  diberikan kepada imam sebagai imamat jabatan.   Simbol dasarnya adalah minyak, yang terbuat dari minyak zaitun, dan untuk menjadi minyak krisma harus dicampur balsam, suatu damar aromatik sebagai pengharum.    Orang yang diurapi sebagai raja dan imam di Israel, yang diserap oleh kuasa ilahi.  Aromanya   menunjukkan simbol adanya seseorang (sesuatu), yang  tidak terlihat atau terdengar. Rasul Paulus mengatakan: “… kami adalah aroma Kristus…” (2 Kor 2, 15), artinya Kristus yang tak terlihat dan terdengar hadir dalam diri mereka yang telah terurapi.

Terdapat berbagai referensi Kitab Suci yang menyatakan pentingnya minyak zaitun dalam kehidupan sehari-hari. Minyak digunakan : untuk memasak, teristimewa dalam membuat roti,  makanan pokok (bdk. Bil 11:7-9); sebagai bahan bakar untuk pelita (bdk. Mat 25:1-9); dan sebagai obat-obatan (bdk. Yes 1:6 dan Luk 10:34). Minyak juga digunakan untuk mempercantik penampilan seseorang (bdk. Rut 3:3) dan untuk memburat jenazah sebelum dimakamkan (bdk. Mrk 16:1). Dalam praktek keagamaan, orang Yahudi  menggunakan minyak untuk mempersembahkan kurban (bdk. Kel 29:40); mendirikan suatu tugu peringatan untuk menghormati dan menguduskan Tuhan (bdk. Kej 28:18); dan untuk menguduskan kemah pertemuan, tabut perjanjian, meja, kandil, mezbah pembakaran ukupan, mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan (bdk. Kel 30:26-29). Penggunaan minyak jelas merupakan bagian dari hidup masyarakat sehari-hari.

Kitab Suci juga menegaskan simbolisme rohani dari minyak. Misalnya, dalam Mazmur 23:5 : “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,”  untuk menggambarkan kemurahan dan kekuatan dari Tuhan; Mazmur 45, 8 : “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu,” ayat ini menggambarkan perutusan istimewa dari Tuhan dan sukacita menjadi hamba-Nya. “Diurapi” oleh Tuhan berarti  menerima  panggilan khusus dari Tuhan dalam kuasa Roh Kudus untuk menunaikan tugas panggilan itu. Yesus, dengan menggemakan kata-kata Yesaya, bersabda, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk 4:18). Rasul Paulus menegaskan : “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:21). Dari referensi Alkitab ini, simbolisme minyak memberi arti pengudusan, penyembuhan, pemberi kekuatan, tanda perkenanan, dedikasi, penyerahan diri dan kurban.

Liturgi kristen (katolik) tetap setia pada ritual kudus dari pengurapan ini, seraya memberi makna baru bahwa pengurapan yang telah ada dalam Perjanjian Lama itu terpenuhi secara paripurna dalam diri  Yesus Kristus, Putera Allah terkasih. « Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku… » (Luk 4, 18 ; selengkapnya Luk 4, 16 – 20, yang merupakan bacaan Injil pada misa krisma ini).

Jadi bagi mereka yang mendapat pengurapan dari minyak ini akan mendapat daya kekuatan Roh Kudus (bdk. doa pemberkatan minyak krisma). Urapan dengan minyak krisma ini juga merupakan materi utama dari Sakramen Krisma suci (setiap sakramen ada forma dan materi). Selain itu minyak krisma merupakan materi sekunder dari sakramen babtis dan imamat. Harus diingat juga bahwa pengurapan  merupakan tindakan pengudusan dan pengabdian kepada Allah ; dan juga tindakan untuk pemberkatan: gereja, altar atau barang-barang kudus lainnya.

Kalau ada kesempatan kita bisa menghadiri dan berpartisipasi dalam Misa Krisma ini di salah satu   hari dalam pekan suci minggu depan sebelum Kamis Putih (sesuat jadwal yang ada di Keuskupan kita masing-masing). Hal ini menunjukkan partisipasi aktif kita dalam persekutuan Gereja lokal Diosesan dan ikut serta dalam konsekrasi minyak krisma serta pembaharuan janji imamat dari para gembala kita.

Posted in 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

MINGGU PALMA – URUTAN PERARAKAN PADA UPACARA PEMBERKATAN DAUN PALMA

Posted by liturgiekaristi on April 19, 2011


Pertanyaan umat :

Bagaimana seharusnya urutan perarakan pada perarakan minggu palem, imam dulu atau asisten imam dulu ? terima-kasih.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Urutan perarakan imam dan para petugas:
1. Misdinar pembawa pedupaan
2. Misdinar pembawa salib
3. Misdinar pembawa lilin bernyala (bisa juga di kiri-kanan pembawa salib)
3. Petugas lain (lektor dan prodiakon)
…4. Diakon yg membawa Evangeliarium (bila tidak ada Diakon boleh dibawa oleh Lektor)
5. Imam

Posted in 2. Minggu Palma | Leave a Comment »

MINGGU PALMA – MAKNA LITURGISNYA

Posted by liturgiekaristi on April 16, 2011


MINGGU PALMA
Makna liturgisnya
• Memperingati Sengsara Tuhan dan masuknya Yesus Kristus ke kota Yerusalam sebagai Mesias.
• Dua aspek liturgi sekaligus berpadu dalam satu perayaan yang merupakan karakter dasar misteri paskah; penderitaan dan kemuliaan.
-Per crucem ad lucem
-Per aspera ad astra
-Dalla stalla alla stella
-Pathei mathos
• Dimulai dengan karakter ritual yang penuh kegembiraan dan triumphalis Yesus sebagai Raja yang diungkapkan dengan prosesi meriah. Kemudian dilanjutkan dengan kisah sengsara-Nya. Jadi Minggu Palma merupakan paduan dari dua perasaan kegembiraan dan kesedihan.
• Prosesi hanya satu kali saja pada hari tersebut.
• Dalam prosesi imam mendahului umat.
• Ada dua macam prosesi: Prosesi meriah di dan dalam gereja; prosesi sederhana dilakukan dalam gereja.
• Kisah sengsara bisa dinyanyikan atau dibacakan, tetapi peran Kristus harus dipegang oleh imam saja.
• Harus ada homili.

Akar Tradisi

  •  Sejak abad ke-5 (menurut Egeria) sudah dipraktekan liturgi palma ini. Liturginya dilakukan siang hari di Bukit Zaitun dalam suatu liturgi sabda dan sore harinya dilakukan prosesi menuju kota Yerusalem.
  • Gereja Barat mentransfer tradisi tersebut hingga masa kini.
  • Pada tahun 600-an di Spanyol sudah ada tradisi penggunaan daun palma ini dalam liturgi tetapi tanpa prosesi.
  • Dalam abad pertengahan prosesi tampak lebih dramtis dan teateral. Dalam prosesi peran Yesus secara simbolik dipresentasikan Kitab Suci atau salib.
  • Tradisi Gereja Jerman, tokoh Yesus dalam prosesi menunggang keledai yang terbuat dari kayu yang b

Daun palma memiliki kekuatan apotropaic untuk “tolak bala”, untuk melindungi dan mencegah rumah, kebun, ternak dari gangguan iblis dan roh-roh jahat.

Kepercayaan pada daun palma ini kemudian hari dikristianisasi/ ditransvaluasi. Daun palma bermakna kemenangan atas maut. Suatu ungkapan penghormatan pada penebus yang mengalahkan maut.

Dalam tradisi kristen kemudian hari toh masih bermakna magis masih terasa. Alkisah bahwa kadang ada orang-orang tertentu yang memakan pucuk daun palma dengan harapan dapat menangkal gangguan dari benbagai penyakit. Kadang pohon-pohon palma ditanam dalam format tanda salib di halaman rumah atau di kebun-kebun. Dengan maksud agar tidak terjadi berbagai bencana alam seperti air bah, badai, termasuk menangkal hama dan serangan binatang buas. Bahkan untuk menangkal serangan musuh suatu desa atau daerah mesti menanam pohon palma.

Kepercayaan terhadap daun palma itu semakin diperkuat justru bagi orang katolik karena adanya ritus pemberkatan daun palma tersebut.
Pada masa kini prosesi daun palma itu dipahami sebagai ekspresi/ungkapan iman, harapan dan kasih pada Kristus. Saat mengungkapkan glorifikasi akan kemenangan Kristus.

Posted in 2. Minggu Palma | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG : UPACARA PENGHORMATAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

romo mau tanya, menurut romo Harimanto, penghormatan salib pada upacara Jumat Agung tidak lagi dilakukan oleh umat satu persatu, tetapi secara umum dengan cara salib dibawa berkeling oleh petugas dan umat hanya menghormat di tempat duduk saja?

KONFIRMASI DARI ROMO HARIMANTO :

“YANG BENAR : HANYA 1 SALIB DIPAKAI UNTUK PENGHORMATAN. UMAT BOLEH MENCIUM ATAU MENYENTUH. JIKA UMAT BANYAK, MAKA TAK PERLU SEMUA MAJU. PENGHORMATAN PRIBADI BISA DILAKUKAN SETELAH IBADAT. PENGGANDAAN SALIB MELEMAHKAN MAKNA SALIB KRISTUS YANG SATU DAN SAMA. INI AJARAN LAMA, BUKAN BARU.”

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO :

Pendapat tsb BENAR krn sejalan dgn Dokumen Litterae Circulares De Festis Paschalibus et Celebrandis (Surat Edaran ttg Perayaan Paskah dan Persiapannya).

Saya tuliskan isi FPPC 69:
“Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yg amat besar, ritus PENGHORMATAN BERSAMA dapat dilaksanakan.
Hanya SATU SALIB disediakan untk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yg mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat jtga diambil nyanyian lain yg sesuai.”…

PEMBELAJARAN TENTANG KETENTUAN NORMATIF LITURGI JUMAT AGUNG (OLEH PASTOR ZEPTO PR)

Tentang beberapa ketentuan normatif Liturgi Jumat Agung,
TAHUKAH ANDA…. ?

Pertama. Bahwa seturut tradisi yg dijalankan sejak zaman kuno, pada Jumat Agung Gereja TIDAK MERAYAKAN EKARISTI, jadi tidak ada Doa Syukur Agung dlm perayaan ini. Namun, komuni suci yg dikonsekrir …pd Kamis Putih diterimakan kepada umat. (Referensi: FPPC 48 dan 59).

Kedua. Bahwa PERAYAAN2 SAKRAMEN pada hari ini DILARANG KERAS, kecuali sakramen tobat dan sakrmn orang sakit (Lih. FPPC 61).

Ketiga. Bahwa Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan pada SIANG MENJELANG jam 15.00 waktu setempat. (Lih. FPPC 63).

Keempat. Bahwa Tata Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yg berasal dari Tradisi-kuno Gereja [yakni: Ibdah Sabda, Penghormatan Salib, Perayaan Komuni] harus diadakan dengan TEPAT dan SETIA dan TAK BOLEH DIUBAH SESUKANYA. (Lih. FPPC 64).

Kelima. Bahwa BACAAN yg tersedia harus DIBACAKAN LENGKAP. (Lih. FPPC 66).

Keenam. Bahwa untuk pengangkatan SALIB, hendaknya dipakai salib yg CUKUP BESAR DAN INDAH. (FPPC 68).

Ketujuh. Bahwa HANYA SATU SALIB yg disediakan untk dihormati demi mempertahankan kesejatian tanda. (Lih. FPPC 69).

Sumber: Litterae Circul…ares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya), Kongregasi Ibadat Ilahi, Roma, 1988.

Salam, Zepto-Triffon.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG : UPACARA PENCIUMAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

1. Romo.saya tanya ttg penciuman salib pd jumat Agung: apa berlutut dulu baru mencium salib?”
2. Sekedar masukan aja. G mana kalo pas JUMAT AGUNG penghormatan Salib nya, umat d minta membawa salib sendiri2. Dan Salib nya tidak boleh salib yg terlalu kecil. Harus Yg ukuran sedang.
3. mau tanya..apa jumat agung mesti pakai pasio yg membosankan..misalnya diganti film atau drama,atau disingkat aja bacaannya boleh gak?toh intinya kan sama..

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Teman-teman sekalian masukan saya :
a. Salib sebaiknya yang disediakan oleh Gereja. Kalau setiap keluarga atau malah setiap orang bawa salib dan harus cukup besar akan repot dan artinya setiap paroki harus menyediakan sekian banyak salib cukup besar untuk dijual. Wah tidak mudah. Kalau sekeluarga satu, berarti duduknya mengelompok per keluarga ….. :-)

b. Sebelum cium salib memang berlutut khidmat. Bahkan dalam tradisi lama, kita berlututnya 3x untuk mengenangkan Yesus yang jatuh 3x dan sekaligus menunjukkan hormat total. (bandingkan banyak ungkapan diulang 3x untuk menunjukkan kesungguhan yang mendalam) …

c. Passio pada Hari Jumat Agung (juga Minggu Palma), tidak boleh diganti dengan peragaan, dramatisasi, dll. Passio adalah Sabda Tuhan, dan untuk Hari Jumat diambil dari Injil Yohanes, maka kalau didramakan, tidak ada bedanya itu drama Injil Yohanes atau Injil Sinoptik lain ….

Sabda Tuhan tidak boleh digantikan oleh bacaan atau pun bentuk ekspresi lain.

Lihat PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI / Institutio Generalis
Missalis Romawi (PUMR) :

24. Untuk sebagian besar, penyerasian-penyerasian itu terbatas pada pemilihan ritus atau teks, yakni pemilihan nyanyian, bacaan, doa, ajakan, dan tata gerak yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, dan kekhasan jemaat. Pemilihan-pemilihan seperti itu dipercayakan kepada imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Namun, imam harus ingat bahwa dia adalah pelayan liturgi kudus, dan bahwa ia sendiri tidak diizinkan menambah, mengurangi, atau mengubah sesuatu dalam perayaan Misa atas kemauannya sendiri.

29. Bila Alkitab dibacakan dalam gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira, sebab Ia hadir dalam sabda itu.
Oleh karena itu, pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam liturgi. Umat wajib mendengarkannya dengan penuh hormat. ….

55. Bacaan-bacaan dari Alkitab dan nyanyian-nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat, dan doa umat memperdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sebab dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. …..

Redemptionis Sacramentum (RS):
[62.] It is also illicit to omit or to substitute the prescribed biblical readings on one’s own initiative, and especially “to substitute other, non-biblical texts for the readings and responsorial Psalm, which contain the word of God”.

NB. Tentu tidak mudah bagi paroki yang telah menyiapkan Perayaan itu dengan matang, terutama drama Kisang Sengsara.
Drama itu sebaiknya kalau mau ditampilkan, bisa ditampilkan pada pagi hari sekitar jam 10.00-an untuk menggantikan permenungan kita dari “Jalan Salib”.

Hal lain yang perlu diperhatikan, bahaya drama masuk dalam liturgi, karena orang akhirnya tergoda untuk memperhatikan tokoh pemeran itu siapa dll, dan juga fokus umat tidak lagi kepada hal liturgis, tetapi seperti sedang “pause” dan nonton “panggung”. Hal ini sebenarnya termasuk “pelecehan” liturgi yang tidak perlu terjadi.
Drama dilakukan di balai paroki (hall) atau di tempat lain, silahkan, tetapi untuk diperagakan di atas panti imam, rasanya kurang pas dan membantu pemahaman litrugi yang baik dan benar.

Passio yang panjang, bisa dipersingkat. Dalam bacaan resmi yang tersedia biasanya juga disediakan dua alternatif, yakni versi lengkap (= panjang) atau versi singkat.
Tetapi tetap mengambil passio hari bersangkutan.

Kalau dinyanyikan terlalu panjang, boleh juga dibacakan dengan baik. Boleh dibawakan oleh 3 orang, dan peran Yesus dibawakan oleh imam.

Yang pokok dan utama: Sabda Tuhan harus diwartakan, dan tidak digantikan atau ditiadakan …….

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

MINGGU PALMA – JUMAT AGUNG : PEMBACA PASSIO HARUS PRIA ?

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

Mo Samiran …. atau siapa aja deh .. mau tanya dong … apakah yg membacakan passio MInggu Palma harus laki-laki dan nggak boleh perempuan ? apakah emang ada aturannya makasih ya … JBU

PENCERAHAN DARI PASTOR zepto pr :

Sdr. Intan Amrin, norma liturgis bhw tugas mbawakan KISAH SENGSARA TUHAN pd Minggu Palma dan Jumat Agung harus oleh LAKI-LAKI hanyalah aturan IMPLISIT, bukan perintah tegas, (lih. FPPC 33 & 66).
Lain halnya dgn PENCUCIAN KAKI pd Kamis Putih yg dgn tegas dikatakan bhw yg dicuci harus KAKI dari PRIA-PRIA TERPILIH (lih. FPPC 51).

Saya kutipkan teks lengkap dari Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (FPPC) atau Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya.

FPPC 33: Kisah Sengsara Tuhan dibawakan dgn meriah. Dianjurkan untuk membacakan atau menyanyikannya secara tradisional oleh tiga orang, yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan umat. Harus dibawakan oleh para Diakon atau imam, atau, bila tidak ada, oleh lektor; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam. Pada pewartaan kisah sengsara ini tidak dinyalakan lilin; dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pd Injil.

Tentang norma ‘mohon berkat’. Dalam buku “Misa Hari Minggu dan Hari Raya. Buku Umat” Yogya: Kanisius, 1983, Romo Al. Wahjasudibja, Pr, Panitia Liturgi KAS, ‘menggunakan’ terjemahan yg terlalu meluas dgn menyebut “Bila pembacanya BUKAN IMAM, sebelumnya mohon berkat dulu” [hlm. 393 dan 431]. .
Padahal mnrt FPPC 33, hanya DIAKON saja. Itu berarti, petugas passio yg bukan diakon, seturut norma liturgi, tidak perlu ikut2an mohon berkat.
Sama halnya, petugas2 pembaca Bacaan I, II, Pemazmur, Doa Umat, dll tak perlu pergi ke depan sedelia, mohon berkat pd imam setiap kali sblm menuju mimbar.
Demikian input saya (dan perluasannya). Salam dari Sorong, Papua. Zepto-Triffon Polii.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Terimakasih, jawaban sudah diberikan oleh pastor Zepto. !00% setuju.

Posted in 2. Minggu Palma, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

MINGGU PALMA-JUMAT AGUNG – PASSIO DISELINGI LAGU ? BOLEHKAH?

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

Berkah Dalem Romo, mohon informasi: Bolehkah
Pembacaan Kisah Sengsara Yesus / Passio pada Misa Minggu Palma dan
Ibadat Jumat Agung, di dalamnya diselingi lagu/nyanyian yg sesuai?
Adakah ketentuan yg mengaturnya? Terimakasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR :

Dalam buku Kisah Sengsara (Mateus, Markus, Lukas & Yohanes) diindikasikan adanya selingan berupa saat hening dan/atau lagu yg sesuai. Selingan 1 pada saat Yesus ditangkap di taman Gezamani; selingan 2 pada saat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus; selingan 3 pada saat setelah Yesus wafat di salib.

penjelasan saya di atas didasarkan atas buku resmi yang kami gunakan di keuskupan. Kalau masih ragu sebaiknya bapak bisa cek ke komisi liturgi di Keuskupan bapak. Trm kasih

sebetulnya kita tdk perlu bingung dengan perbedaan yang ada sehubungan dengan topik ini. Karena dalam beberapa hal lain kita masih akan menemukan perbedaan antara ritus2 standard dalam buku2 liturgis edisi typica yg diterbitkan Tahta Suci dengan struktur ritus dalam buku2 liturgis yg berlaku pada level Konverensi episkopal atau level diosis. Hal ini akibat dari penyesuaian (inkulturasi) yang dibuat.

Pertanyaan: siapa yg berwewenang melakukan penyesuaian dalam liturgi? Jawab: Tahta Suci, Konferensi Waligereja dan Uskup Diosesan (bdk SC 22). Atas dasar kesadaran inilah maka saya menganjurkan bpk Djoko untuk berkonsultasi ke KomLit Keuskupan.

Contoh perbedaan: Dalam Miessale Romanum (editio typica tertia 2002), pada bacaan kisah sengsara Minggu palma, tidak dicantumkan rubrik tentang selingan (hening/nyanyian yg sesuai). Tapi dalan Tata perayaan Minggu Palma yg diselenggarakan di Basilika Santo Petrus thn 2007, tertera rubrik selingan (saat hening) pada moment setelah Yesus wafat.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Boleh ….
Karena sebenarnya kan passio sendiri dibawakan dalam bentuk lagu, maka lagu tentu tidak diharamkan dalam hal ini, hanya sekali lagi harus sesuai dan menambah penghayatan umat akan sengsara Tuhan yang sedang direnungkan, dan bukan asal selingan.

Pahami saja selingan sebagai kesempatan merenungkan sabda yang telah didengar melalui bantuan lagu. Ini tidak salah.

Posted in 2. Minggu Palma, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers