Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 169,022 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘4. Jumat Agung’ Category

MENGHIDUPI PEKAN SUCI : “BELAJAR KELUAR DARI DIRI KITA SENDIRI”

Posted by liturgiekaristi on March 29, 2013


MENGHIDUPI PEKAN SUCI : “BELAJAR KELUAR DARI DIRI KITA SENDIRI”

KATEKESE PERTAMA PAUS FRANSISKUS PADA AUDENSI UMUM
RABU 27 Maret 2013

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Saya senang Anda menghadiri audiensi umum pertama saya ini. Saya menerima “kesaksian” dari tangan pendahulu saya yang terkasih, Paus Benediktus XVI, dengan rasa syukur dan penghormatan yang besar . Setelah Paskah kita akan kembali pada katekese Tahun Iman. Hari ini saya ingin membagikan sedikit permenungan saya tentang Pekan Suci. Dengan Minggu Palma, kita telah mengawali Pekan ini – pusat dari seluruh Tahun Liturgi – di mana kita menemani Yesus dalam sengsaraNya, kematianNya dan kebangkitan-Nya.

Tetapi apa maknanya bagi kita untuk menghidupi Pekan Suci? Apa artinya mengikuti Yesus ke Kalvari, dalam perjalanan-Nya menuju Salib dan KebangkitanNya?

Dalam perutusan-Nya di bumi, Yesus berjalan kaki di jalan-jalan Tanah Suci, Ia memanggil dua belas orang sederhana untuk tinggal bersama Dia, untuk membagikan perjalanan-Nya dan melanjutkan perutusan-Nya; Ia telah memilih mereka dari antara orang-orang yang sungguh beriman dalam janji-janji Allah. Dia berbicara kepada semua orang, tanpa pembedaan, kepada orang-orang besar dan orang-orang yang rendah hati, kepada orang pemuda kaya dan janda miskin, kepada orang-orang berkuasa dan orang-orang lemah; Ia membawa belas kasih dan pengampunan Allah; Ia menyembuhkan, menghibur, memahami; memberi harapan; Ia membawa kepada semua orang kehadiran Allah yang penuh perhatian kepada setiap laki-laki dan perempuan, seperti seorang bapa dan ibu yang baik kepada setiap anak-anak mereka. Allah tidak menunggu setiap orang yang datang kepada-Nya, tapi Dialah yang mendatangi kita, tanpa perhitungan dan tiada batasnya. Allah adalah seperti itu: Dia selalu mengambil langkah pertama, Dia mendatangi kita. Yesus hidup dalam kenyataan sehari-hari kebanyakan orang pada umumnya: Dia tergerak hatiNya terhadap orang-orang yang tampak seperti kawanan tanpa gembala; Dia menangis di depan penderitaan Marta dan Maria atas kematian saudara mereka Lazarus; Dia memanggil pemungut cukai menjadi murid-Nya; Dia menderita pengkhianatan dari seorang sahabat. Di dalam Dia, Allah memberi kita kepastian bahwa Dia bersama kita, di tengah-tengah kita. “Serigala mempunyai liang”, Yesus berkata, “dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Yesus tidak memiliki rumah karena rumah-Nya adalah orang banyak, perutusan-Nya membukakan bagi semua orang pintu kepada Allah, menghadirkan cinta kasih Allah.
Dalam Pekan Suci, kita menghidupi puncak dari perjalanan ini, dari rancangan kasih ini yang berjalan melalui seluruh sejarah hubungan antara Allah dan manusia. Yesus memasuki Yerusalem untuk melakukan langkah terakhir, meringkas seluruh keberadaan-Nya: Dia memberikan diri-Nya secara penuh, Dia tidak membawa apa-apa untuk diri-Nya sendiri, bahkan hidup-Nya sendiri. Dalam Perjamuan Terakhir, bersama sahabat-sahabat-Nya, Dia membagikan roti dan mengedarkan piala “bagi kita”. Putra Allah menawarkan kita, Dia memberikan ke dalam tangan kita Tubuh-Nya dan Darah-Nya supaya selalu bersama kita, supaya tinggal di antara kita. Dan di Taman Zaitun, seperti dalam persidangan di hadapan Pilatus, Dia tidak memberikan perlawanan, Dia memberikan diri-Nya; Dia adalah hamba yang menderita yang dinubuatkan oleh Yesaya yang menyerahkan dirinya sampai mati (bdk. Yes 53:12).

Yesus tidak menghidupi kasih ini, yang mengarah pada pengorbanan dengan cara pasif atau pasrah pada takdir; Dia tentu saja tidak akan menyembunyikan kesedihan manusiawi-Nya yang mendalam saat menghadapi bengisnya kematian, tapi Dia mempercayakan diri-Nya dengan keyakinan penuh kepada Bapa. Yesus menyerahkan diri-Nya secara sukarela pada kematian, untuk menghubungkan kasih Allah Bapa, dalam persatuan yang sempurna dengan kehendak-Nya, untuk menyatakan kasih-Nya bagi kita. Di kayu salib Yesus ” yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2:20)”, kata Santo Paulus. Masing-masing dari kita dapat berkata: Dia telah mengasihi aku dan Dia menyerahkan diri-Nya bagiku. Masing-masing dapat mengatakan ini “bagiku”.

Apa artinya semua ini bagiku? Hal itu berarti bahwa jalan ini juga menjadi milik saya,milik kamu, milik kita. Menghidupi Pekan Suci dengan mengikuti Yesus, tidak hanya dengan (suasana hati) yang haru biru; menghidupi Pekan Suci seraya memandang Yesus berarti : belajar untuk keluar dari diri kita sendiri – seperti yang saya katakan pada hari Minggu – untuk pergi berjumpa orang lain, pergi ke pinggiran keberadaan, untuk menjadi yang pertama berjumpa dengan saudara-saudari kita terutama mereka yang dijaukan, yang terlupakan, mereka yang sangat membutuhkan untuk dipahami, dihibur, dibantu. Kita harus membawa kehadiran yang hidup dari Yesus yang berbelas kasih dan penuh cinta.

Menghidupi Pekan Suci berarti masuk secara lebih mendalam pada logika Allah, logika Salib, yang bukanlah pertama-tama tentang seluruh penderitaan dan kematian, tetapi tentang kasih dan pemberian diri yang membawa kehidupan. Hal ini masuk ke dalam logika Injil. Mengikuti, menyertai Kristus, tinggal bersama-Nya memerlukan “keluar”, “pergi keluar”. Keluar dari diri sendiri, dari cara lama atau yang rutin dalam hidup iman, dari cobaan yang menutup pola diri sendiri yang pada akhirnya menutup cakrawala tindakan kreatif Allah. Allah pergi keluar dari diri-Nya untuk datang ke tengah kita, Dia memasang kemah di tengah kita untuk membawakan kita rahmat Allah yang menyelamatkan dan memberi harapan. Kita juga, jika kita ingin mengikuti-Nya dan tinggal bersama-Nya, tidak harus puas dengan tinggal di kandang bersama 99 domba, kita harus “pergi keluar”, untuk mencari bersama-Nya domba yang hilang, yang telah menjauh. Camkan ini dengan baik: keluar dari diri kita sendiri, seperti Yesus, seperti Allah keluar dari diri-Nya dalam Yesus dan Yesus keluar dari diri-Nya bagi kita semua.
Seseorang bisa saja mengatakan kepada saya: “Tapi Bapa, saya tidak punya waktu”, “Saya memiliki begitu banyak hal yang harus dilakukan”, “Ini sulit”, “Apa yang bisa saya lakukan dengan kekuatan saya yang kecil dan tak berguna, bersama dengan segala dosa saya, dengan begitu banyak hal lagi?”.

Seringkali, kita senang dan puas pada sedikit doa, pada sebuah Misa hari Minggu yang terganggu dan tidak tetap, pada beberapa tindakan amal, tapi kita tidak memiliki keberanian untuk “keluar” membawa Kristus. Kita sedikit seperti Santo Petrus. Segera setelah Yesus berbicara tentang sengsara, wafat dan kebangkitan, tentang pemberian diri, tentang kasih terhadap semua, Rasul Petrus membawa-Nya ke samping dan menegur Dia. Apa yang Yesus katakan mengganggu rencananya, tampak tidak dapat diterima, membahayakan keamanan pasti yang telah ia bangun, gagasannya akan Mesias. Dan Yesus memandang para murid dan memberi wejangan kepada Petrus salah satu kata yang paling sulit dari Injil: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Allah selalu berpikir dengan belas kasih, jangan lupakan ini. Allah selalu berpikir dengan belas kasih : Dia adalah Bapa yang penuh belas kasih! Allah berpikir seperti seorang bapa yang menunggu kembalinya anaknya dan pergi keluar untuk bertemu dengannya, dia melihatnya datang ketika ia masih jauh … Apa artinya ini? Bahwa setiap hari dia pergi untuk melihat apakah anaknya pulang: ini adalah Bapa kita yang berbelas kasih. Hal ini adalah tanda bahwa dia berharap bagi kepulangannya, dengan segenap hatinya, dari teras rumahnya. Allah berpikir seperti orang Samaria, yang tidak lewat dekat korban, merasa kasihan padanya, atau mencari cara lain, tetapi dia datang untuk membantu tanpa meminta imbalan apa pun, tanpa bertanya apakah ia adalah Yahudi, atau orang kafir, atau orang Samaria, apakah ia kaya, apakah ia miskin: ia tidak meminta apa-apa. Ia datang untuk membantunya: ini adalah Allah. Allah berpikir seperti gembala yang memberikan hidupnya untuk membela dan menyelamatkan domba.

Pekan Suci adalah saat rahmat yang Tuhan berikan kepada kita untuk membuka pintu hati kita, pintu kehidupan kita, pintu paroki kita – sayangnya, begitu banyak paroki tertutup! – untuk membuka gerakan-gerakan dan lembaga-lembaga kita, untuk “keluar” berjumpa orang lain, pergi mencari sesama di sekitar kita, untuk membawakan mereka cahaya dan sukacita iman kita. Selalu pergi keluar ! Dan ini dengan kasih dan kelembutan Allah, dengan hormat dan kesabaran, memahami bahwa kita menawarkan tangan kita, kaki kita, hati kita, tapi kemudian Allahlah yang menuntun mereka dan membuat berbuah dari setiap tindakan kita.

Saya berharap Anda semua hidup dengan baik hari-hari ini, mengikuti Tuhan dengan keberanian, membawa secercah sinar kita sinar kasih-Nya kepada orang-orang yang kita jumpai.

phs.

Terjemahan dari : Zenit.fr.org

http://www.zenit.org/fr/articles/la-semaine-sainte-pour-apprendre-a-sortir-de-nous-memes

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

Perayaan Jumat Agung – bolehkah umat memakai baju berwarna merah?

Posted by liturgiekaristi on March 20, 2013


Beberapa waktu lalu, ada pertanyaan dari umat seperti di bawah ini:

1. Apakah pada saat Perayaan Jumat Agung itu Umat diwajibkan menggunakan baju merah ? soalnya diparoki kami Rm Parokinya teriak terus sedangkan Rm yg 2 biasa2 ajah. Ada tdk si aturan gerjanya.

2. Pd ibadah Jumat Agung (warna lit merah), bolehkah umat turut memakai pakaian merah atau brcorak merah juga? Atau hanya Imam yg berhak? Trima kasih

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Saya belum pernah membaca ada peraturan yang mengatur warna pakaian yang harus dikenakan umat. Rasanya penghayatan iman kita tidak didasarkan pada warna pakaian yang harus dipakai untuk ke gereja.
Bahwa baik untuk disarankan memakai pakaian yang pantas dan sesuai, itu mungkin sebagai tindak pastoral dan kearifan berbudaya. Ini sama halnya ketika kita menghadiri sebuah pemakaman keluarga misalnya, tidak ada peraturan tertulis orang harus mengenakan pakaian hitam. Tapi begtulah budaya kita yang beranggapan bahwa warna juga merupakan salah satu ekspresi kita mengungkapkan rasa turut berduka dan berkabung dengan memakai pakaian hitam2. Bayangkan jika kita datang ke pemakaman dengan berpakaian merah menyala, atau kuning…orang mungkin tidak akan menegur, tapi hanya melirik dengan rasa aneh dan merasa ada yang janggal bukan?

Yang bisa dipertimbangkan adalah kalau misalnya panitia paroki mempersiapkan seragam koor untuk Jumat Agung dan memutuskan memakai warna kuning, misalnya, itu perlu diingatkan bahwa selayaknya kita memilih warna merah yang lebih pantas untuk Jumat Agung(Simbol kurban kemartiran Yesus), putih untuk Kamis putih, merah untuk Minggu Palma, dst. Hanya demi layak dan sepantasnya, tapi tidak menentukan keselamatan atau menjadi keharusan umat. Semoga kita lebih bijak memilah2 mana yang keharusan demi keabsahan, mana yang disarankan demi kelayakan.

Sudah sepanjang minggu Suci umat bolak balik ke Gereja untuk penghayatan imannya, jangan lagi direpotkan dengan hal2 kecil seperti soal berpakaian. Jauh lebih penting misalnya kita menaruh perhatian pada cara berpakaian/model pakaian kita. Walaupun mengenakan warna merah pada saat Jumat Agung, tapi kalau modelnya mini seperti orang main tenis lapangan atau seperti pakaian renang, wah…itu malah lebih parah ha ha ha… Itu tinjauan dari segi praktis saja, silahkan Rm. lain mungkin bisa menambahkan dari segi hukum soal warna pakaian untuk umat..he he..
Salam hangat, P.Hend. SCJ, South Dakota

TAMBAHAN PENCERAHAN.

Soal warna merah, memang benar warna liturgi pada hari itu adalah merah dengan arti yang sudah dijelaskan oleh pastor di atas. meski begitu, para gembala jiwa juga hendaknya peka terhadap budaya setempat yang mungkin “menabukan” warna merah untuk suasana duka. jadi, sungguh bijaksana bila imam tidak “memaksa” umatnya mengenakan warna merah untuk ibadat jumat agung. lagipula, seturut tradisi, warna liturgi memang hanya untuk kasula dan stola imam dan juga antependium altar dan ambo. tidak ada aturan ataupun tradisi yang meminta misdinar atau petugas liturgi tidak tertahbis lainnya (apalagi umat) mengenakan warna liturgi.

Saya amati, di beberapa tempat di indonesia mulai timbul trend yang berlebihan dengan membuat jubah misdinar (bahkan juga bantal tempat duduk dan bantal tempat berlutut misdinar!) mengikuti warna liturgi (ungu, putih/kuning, merah, hijau). Ini berlebihan dan juga adalah pemborosan.

Seturut tradisi, warna jubah misdinar sama dengan jubah imam. warnanya hitam, atau, di beberapa daerah di eropa ada kebiasaan yang sudah lama sekali (immemorial or centenary custom), yang diterima oleh Gereja, untuk menggunakan warna merah. tapi merah di sini bukan warna liturgi. gampangnya begini, tidak ada jubah imam warna hijau. jadi misdinar pun jangan dibuatkan jubah warna hijau. trend memaksakan warna liturgi untuk misdinar (dan sekarang umat) ini agak berlebihan dan tidak perlu.

Posted in 2. Baju liturgi, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG 2011 – Upacara pembukaan selubung salib

Posted by liturgiekaristi on April 29, 2011


Ecce lignum crucis quo salus mundi pependit, venite adoremus. Upacara pembukaan selubung salib pada ibadat Jumat Agung di Basilika St. Petrus.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

TRIDUUM (KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU VIGILI

Posted by liturgiekaristi on April 28, 2011


SHARING SEORANG UMAT :
Good Friday (Jumat Agung) : Jalan Salib biasa atau Jalan Salib Hidup (tableau) selalu dilakukan pada pagi hari di hari Jumat Agung – pada siang/sore hari selalu diadakan Ibadat Jumat Agung resmi (Kisah Passio yang dinyanyikan + Pengormatan ……Salib) ….

nah di Indonesia ini aneh : ada banyak Paroki yang mengadakan Jalan Salib Hidup (tableau) di siang/sore hari sebagai pengganti Kisah Passio yang dinyanyikan + Penghormatan Salib ….Lho ???

Sabtu Paskah aslinya dalam Bahasa Latin itu : Vigil (Tirakatan menjelang Paskah), dulu disebut Sabtu Sepi. Inti perayaannya : Upacara Cahaya + Pembaruan Janji Baptis ….Paskah dirayakan pada hari Minggu (tiga hari setelah Yesus wafat : sesuai dengan Credo + Injil) …

tapi di Indonesia ini aneh : Sabtu Paskah sudah dirayakan sebagai Hari Raya Paskah, lengkap dengan salam-salaman Selamat Paskah, lagu Haleluya (Handel) dan berkat Paskah meriah … (Jadi Yesus bangkit pada hari keberapa?) … akibatnya, Hari Raya Paskah yang jatuh hari Minggu itu sepi (karena sudah dirayakan di Sabtu Paskah)…katanya Hari Raya Paskah itu hari raya terbesar …kok Minggu Paskah sepi… apalagi Paskah hari Kedua (Senin) sudah banyak yang lupa, padahal dulu sekolah2 Katolik dan Univ Katolik masih libur di hari Paskah kedua …sekarang ???

Passio tidak bisa digantikan dengan drama ata pun jalan salib. Sabtu sepi / sunyi tidak sama dengan sabtu malam paskah. Sabtu malam paskah memang dimaksudkan sebagai malam tirakatan / vigili (=berjaga-jaga) dan sejak dahulu menjadi perayaan… paskah yang utama (ibu dari segala vigili). Pada malam itu memang kita merayakan (menyongsong) kebangkitan Yesus sebagaimana para wanita yang menemukan makam kosong “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu” (mat 28:1a). Pada perayaan malam paskah itu seolah kita berjaga dan berlomba dengan para wanita Yerusalem untuk menyongsong Yesus yang beralih dari kematian menuju gerbang kebangkitan. Karenanya malam paskah diadakan harus pada hari telah gelap, ritusnya cukup panjang (terpanjang dalam liturgi Katolik) dengan empat liturgi : cahaya, sabda, baptis dan ekaristi. dengan banyaknya bacaan, dsb sangat mendukung maksud tirakatan / berjaga-jaga / melek-an ini. Karenanya di malam paskah ini pun diperingati Yesus yang (baru saja) bangkit. Lagu-lagu kebangkitan dan alleluia telah dinyanyikan dengan semarak. Sedangkan perayaan keesokan harinya, yaitu Hari raya Minggu Paskah – tetap merupakan perayaan wajib bagi umat – tidak digantikan dengan malam paskahnya karena status perayaan telah berbeda (tidak sama dengan misa mingguan yang telah dihadiri pada sabtu malam). Di Perayaan Hari Raya Minggu Paskah kita merayakan Yesus yang (telah) bangkit dan sekaligus menampakkan diri pada para muridNya. sekilas dari saya (bdk dokumen Gereja : Festis Pachalibus Praeparandis et celebrandis / FPPC).
SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Triduum Paskah, diistilahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Tri Hari Suci – lalu dipahami sebagai dari hari Kamis Putih – Jumad Agung – Sabtu Suci (sepih). Lalu apakah hari Minggu Paskah tidak termasuk ? dan kalau termasuk berarti bukan tig…a hari melainkan empat hari ? dan istilahnya bukan Tri Hari Suci lagi ?

Secara liturgis, dan ini dalam ajaran dan tradisi Gereja, bukan masalah perhitungan harinya, melainkan rangkaian perayaan untuk mengenangkan SENGSARA – WAFAT – KEBANGKITAN Kristus Yesus, Tuhan kita. Jadi ada tiga (3) unsur dari rangkaian perayaan itu : sengsara – wafat dan kebangkitan Kristus, yang diawali perayaan Malam Perjamuan Terakhir – Peringatan Sngsara dan Wafat Kristus dan Perayaan Vigili Paskah dan Paskah Kristus (diantara ketiga peristiwa yang dirayakan ini ada : tuguran, ofisi/brevir atau ibadat pagi (di kampung saya ada Lamentasi hari jumad dan sabtu pagi), ada jalan salib bahkan munkin ada tablo sengsara Tuhan, … dsb … bahkan ada tradisi² khusus yang rangkaian acaranya dari hari rabu yang disebut Rabu Trewa)

Kalau kita perhatikan dengan sungguh liturgi perayaan Triduum Paskah ini maka liturgi dari Malam Perjamuan Terakhir sampai Vigili Paskah merupakan satu kesatuan / rangkaian. Biasanya dalam perayaan Ekaristi ada 4 bagian : ritus pembuka, liturgi sabda, liturgi Ekaristi dan ritus penutup.

Dalam perayaan Triduum Paskah ritus pembuka pada perayaan Malam Perjamuan Terakhir dan ritus penutup pada perayaan Malam (vigili) Paskah dengan berkat dan pengutusan secara meriah. Pada perayaan kamis putih tidak ada ritus penutup, setelah doa komuni langsung perarakan pemindahan Sakramen Mahakudus.

Pada peringatan sengsara dan wafat Kristus pada Jumad Agung, tidak ada ritus pembuka dan ritus penutup : imam berarak masuk dalam suasana hening, lalu berlutut atau tiarap, kemudian doa untuk memulai perayaan kemudian menyusul Liturgi Sabda (pasio). Di akhir perayaan, setelah doa komuni, ada doa berkat tetapi berupa penumpangan tangan (tidak ada gerakan/tindakan memberi berkat berupa + tanda salib dan kata-kata pengutusan).

Pada perayaan Malam Paskah, tidak ada ritus pembuka ; setelah ada komentator untuk memberi penjelasan tentang rangkaian perayaan, langsung upacara cahaya atau pemberkatan api baru dan Lilin Paskah. Pada akhir perayaan baru ada ritus penutup berupa : berkat meriah Paskah dan pengutusan secara meriah, yang disertai Alleluia 3x.

Demikian juga bunyi lonceng (dan bunyi-bunyian yang lain): lonceng dibunyikan pada lagu Gloria di Kamis Putih dan dibunyikan lagi pada lagu Gloria di Malam paskah… dan dari situ bersama Alleluia kita sudah memasuki suka cita Paskah.

Alleluia pada Malam Paskah dikumandangkan secara meriah, bahkan dalam buku Mazmur Tanggapan, Alleluia pada Malam Paskah dari lagu Latin dengan tiga ayat/bait yang dinyanyikan dengan nada yang berbeda (dari rendah ke tinggi). Jadi pada perayaan Vigili Paskah sejak pemakluman Kristus Cahaya Dunia yang disimbolkan dengan Lilin Paskah dan Exultet sebagai pemakluman/proklamasi Paskah Raya kita sudah memasuki kegembiraan dan suka cita Paskah.

Jadi secara perayaan atau liturgi tidak ada yang salah dengan perayaan Triduum Paskah Kristus. Masalahnya terletak pada pastoral liturgy dan ini menjadi tugas kita bersama.

Bahwa pada Misa Paskah pada hari Minggu Paskah umatnya kurang dan ada anggapan bahwa Paskah sudah dirayakan malam sebelumnya (Malam Paskah) itu menjadi keprihatinan kita bersama dan katekese tentang liturgi lebih giat lagi. Link SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA ini juga bertujuan sebagai sarana pewartaan dan katekese seputar liturgi dan perayaan Ekaristi. Yang tentu saja berangkat dari keprihatinan tentang situasi Liturgi kita di Gereja Katolik Indonesia. Jadi tugas kita bersama terhadap masalah dan keprihatinan tentang Liturgi kita ini.

PENCERAHAN DARI PASTOR Albertus Widya Rahmadi Putra

Nambah info praktis saja:

1. di dalam Norma Umum Kalender dan Tahun Liturgi, Artikel Nomor 19 dinyatakan: Tri Hari Suci (Triduum) dimulai pada Perayaan Ekaristi Kamis Putih, mencapai puncaknya pada Malam Paska, dan berakhir pada Ibadat Haria…n (atau Perayaan Ekarisiti) Minggu Paska Sore.

Referensi: http://www.catholicculture.org/culture/library/view.cfm?id=5932#Trid

2. Dari pernyataan itu bisa disimpulkan bahwa Triduum memang berlangsung selama kurang lebih 3 X 24 jam (Kamis sore sekitar jam 6 sampai dengan Minggu Sore sekitar jam 6), waktunya setara dengan 3 hari penuh meskipun melewati 4 sebutan hari. Periode itu mencakup sebagian hari Kamis, Jumat sepanjang hari, Sabtu juga sepanjang hari, dan Minggu sebagian hari. Begitulah cara perhitungan liturgisnya, sedikit berbeda dengan kebiasaan kita menghitung hari secara normal.

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – VISUALISASI JALAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Dari pengalaman dan evaluasi selama ini, dramatisasi Sengsara Tuhan oleh kelompok orang muda Katolik lebih cocok diadakan di luar Upacara Jumat Agung, misalnya pada jam pagi sehingga Upacara Jumat Agung pada sore hari lebih khusus dengan pemeran tiga orang seperti biasanya (bdk PPP no. 72).

Catatan : Admin Page Liturgi mohon ijin dari OMK St. Cornelius Madiun , untuk memposting video visualisasi Jalan Salib untuk dipersembahkan kepada seluruh umat Katolik Indonesia lewat link ini.

Selamat menyaksikan dan merenungkan.

Posted in 4. Jumat Agung, j. OMK, q. Video terpilih | Leave a Comment »

BEBERAPA CATATAN PRAKTIS PASTORAL

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Beberapa Catatan Praktis Pastoral

1.         Prosesi palma ada tiga kemungkinan yang hendaknya diterapkan secara bijaksana, yaitu: prosesi meriah dari luar gereja; prosesi meriah tetapi di dalam gereja; perarakan masuk biasa dengan pemberkatan daun palma serta nyanyian pujipujian bersama (bdk. Perayaan Paskah dan Persiapannya [PPP] no. 2930).

2.         Dalam Kisah Sengsara, peran Kristus dibawakan oleh yang tertahbis (PPP no. 33).

3.         Waktu yang paling tepat untuk pengumpulan hasil kegiatan APP ialah pada perarakan Persembahan dalam Misa Perjamuan Tuhan, Kamis Putih (PPP np. 52).

4.         Dari pengalaman dan evaluasi selama ini, dramatisasi Sengsara Tuhan oleh kelompok orang muda Katolik lebih cocok diadakan di luar Upacara Jumat Agung, misalnya pada jam pagi sehingga Upacara Jumat Agung pada sore hari lebih khusus dengan pemeran tiga orang seperti biasanya (bdk PPP no. 72).

5.         Perayaan Malam Paskah tidak boleh diadakan sebelum matahari terbenam…peraturan ini harus ditepati secara ketat. Jadi, Upacara Cahaya secara simbolik menjadi sangat nyata ketika di tengah kegelapan malam (PPP no. 78).

6.         Struktur dan urutan perayaan Malam Paskah tidak boleh diubah atas kehendak sendiri (PPP no. 81).

7.         Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Ritus pertobatan diganti dengan pemercikan air yang diberkati pada Malam Paskah (PPP no. 97).

Majalah LITURGI: Vol. 22, No. 2, Maret  April 2011

Posted in 2. Minggu Palma, 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

TRIHARI PASKAH : KAMIS PUTIH, JUMAT AGUNG, SABTU PASKAH, MINGGU PASKAH

Posted by liturgiekaristi on April 20, 2011


Trihari Paskah

Dasar Liturgi Trihari Paskah adalah kesatuan yang tak terpisahkan antara misteri Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus. Gereja merayakan fakta historis Paskah Kristus ini secara lengkap, diawali dengan perayaan Paskah ritual, Kamis Putih.

Kamis Putih: Ekaristi Perjamuan Tuhan

Konsili Vatikan II memberi arti khusus Misa Kamis Putih sore sebagai pembuka Trihari Paskah. Yang menarik adalah sesudah homili, Gereja mewujudkan semangat pelayanan Kristus secara nyata dengan upacara pembasuhan kaki.

Selanjutnya, setelah Doa sesudah Komuni dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus dan adorasi untuk mendalami keluhuran Misteri Ekaristi yang telah dirayakan.

Jumat Agung, Hari Pertama Trihari Paskah

Merupakan hari pantang dan puasa festival karena berkaitan dengan perayaan sengsara dan wafat Kristus. Sesuai dengan tradisi, tidak ada Misa. Gereja memusatkan seluruh perhatiannya pada permenungan Sengsara dan Wafat Kristus pada kayu salib dengan perayaan Sabda, pemakluman Kisah Sengsara, Penyembahan Salib dan Kesatuan mesrah dengan Kristus dalam Komuni kudus. Memang harihari ini sangat dianjurkan kegiatan devosional yang mendukung peran serta umat dalam dinamika pengalaman Kristus sehingga pagi hari di samping Ibadat Bacaan dapat diadakan Jalan Salib. Pada malam hari permenungan bersama Maria, Bunda Berdukacita (Stabat Mater).

Sabtu Hening, Hari Kedua Trihari Paskah

Pada hari ini Gereja melanjutkan permenungan misteri penderitaan dan wafat Kristus yang kini berada di dalam makam. Seiring perjalanan matahari, permenungan ini mengarah ke seluruh karya keselamatan yang memuncak pada Malam Paskah dengan sekian banyak bacaan sampai pada misteri Kristus, Paskah kita. Jadi, hari Sabtu adalah hari retret agung, hari meditasi seluruh Gereja mengenai keagungan karya Allah dalam Kristus.

Minggu Kebangkitan, Hari Ketiga Trihari Paskah

Minggu Kebangkitan dimulai dengan perayaan vigilia pada Malam Paskah sampai Ibadat Sore Hari Minggu Kebangkitan. Santo Agustinus menyebutkan Vigilia Paskah sebagai “Ibu segala vigilia”. Malam Paskah ditandai dengan Upacara Cahaya yang membuka perayaan Vigilia. Dengan Pujian Paskah Gereja memuliakan Allah atas karya penebusan. Vigilia Paskah diwarnai oleh dimensi pembaptisan tetapi tidak harus ada orang yang dibaptis. Dimensi pembaptisan ini mengajak setiap orang untuk kembali memperbarui janji baptisnya. Sesungguhnya Malam Paskah dirayakan dengan kegembiraan Paskah; dengan perayaan Ekaristi yang secara nyata memperlihatkan corak Paskah.

Hari Minggu sebagai perayaan Paskah Kebangkitan Kristus merupakan puncak kemenangan atas maut; puncak yang dinantikan sepanjang Vigilia, ketika matahari terbit, simbol kemenangan Kristus atas kegelapan dosa dan maut.

Lebih dianjurkan bahwa ritus penitensial pada awal Misa diganti dengan pemercikan air untuk mendukung alasan bergembira dan pembaruan semangat hidup semua orang yang telah dibaptis. Itulah keseluruhan Pekan Suci yang diakhiri pada sore hari Minggu Kebangkitan.

Sumber : MAJALAH LITURGI , EDISI 2, 2011

Posted in 3. Kamis Putih, 4. Jumat Agung, 5. Vigili - HR Paskah | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG : UPACARA PENGHORMATAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

romo mau tanya, menurut romo Harimanto, penghormatan salib pada upacara Jumat Agung tidak lagi dilakukan oleh umat satu persatu, tetapi secara umum dengan cara salib dibawa berkeling oleh petugas dan umat hanya menghormat di tempat duduk saja?

KONFIRMASI DARI ROMO HARIMANTO :

“YANG BENAR : HANYA 1 SALIB DIPAKAI UNTUK PENGHORMATAN. UMAT BOLEH MENCIUM ATAU MENYENTUH. JIKA UMAT BANYAK, MAKA TAK PERLU SEMUA MAJU. PENGHORMATAN PRIBADI BISA DILAKUKAN SETELAH IBADAT. PENGGANDAAN SALIB MELEMAHKAN MAKNA SALIB KRISTUS YANG SATU DAN SAMA. INI AJARAN LAMA, BUKAN BARU.”

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO :

Pendapat tsb BENAR krn sejalan dgn Dokumen Litterae Circulares De Festis Paschalibus et Celebrandis (Surat Edaran ttg Perayaan Paskah dan Persiapannya).

Saya tuliskan isi FPPC 69:
“Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yg amat besar, ritus PENGHORMATAN BERSAMA dapat dilaksanakan.
Hanya SATU SALIB disediakan untk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yg mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat jtga diambil nyanyian lain yg sesuai.”…

PEMBELAJARAN TENTANG KETENTUAN NORMATIF LITURGI JUMAT AGUNG (OLEH PASTOR ZEPTO PR)

Tentang beberapa ketentuan normatif Liturgi Jumat Agung,
TAHUKAH ANDA…. ?

Pertama. Bahwa seturut tradisi yg dijalankan sejak zaman kuno, pada Jumat Agung Gereja TIDAK MERAYAKAN EKARISTI, jadi tidak ada Doa Syukur Agung dlm perayaan ini. Namun, komuni suci yg dikonsekrir …pd Kamis Putih diterimakan kepada umat. (Referensi: FPPC 48 dan 59).

Kedua. Bahwa PERAYAAN2 SAKRAMEN pada hari ini DILARANG KERAS, kecuali sakramen tobat dan sakrmn orang sakit (Lih. FPPC 61).

Ketiga. Bahwa Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan pada SIANG MENJELANG jam 15.00 waktu setempat. (Lih. FPPC 63).

Keempat. Bahwa Tata Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yg berasal dari Tradisi-kuno Gereja [yakni: Ibdah Sabda, Penghormatan Salib, Perayaan Komuni] harus diadakan dengan TEPAT dan SETIA dan TAK BOLEH DIUBAH SESUKANYA. (Lih. FPPC 64).

Kelima. Bahwa BACAAN yg tersedia harus DIBACAKAN LENGKAP. (Lih. FPPC 66).

Keenam. Bahwa untuk pengangkatan SALIB, hendaknya dipakai salib yg CUKUP BESAR DAN INDAH. (FPPC 68).

Ketujuh. Bahwa HANYA SATU SALIB yg disediakan untk dihormati demi mempertahankan kesejatian tanda. (Lih. FPPC 69).

Sumber: Litterae Circul…ares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya), Kongregasi Ibadat Ilahi, Roma, 1988.

Salam, Zepto-Triffon.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG : UPACARA PENCIUMAN SALIB

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

1. Romo.saya tanya ttg penciuman salib pd jumat Agung: apa berlutut dulu baru mencium salib?”
2. Sekedar masukan aja. G mana kalo pas JUMAT AGUNG penghormatan Salib nya, umat d minta membawa salib sendiri2. Dan Salib nya tidak boleh salib yg terlalu kecil. Harus Yg ukuran sedang.
3. mau tanya..apa jumat agung mesti pakai pasio yg membosankan..misalnya diganti film atau drama,atau disingkat aja bacaannya boleh gak?toh intinya kan sama..

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Teman-teman sekalian masukan saya :
a. Salib sebaiknya yang disediakan oleh Gereja. Kalau setiap keluarga atau malah setiap orang bawa salib dan harus cukup besar akan repot dan artinya setiap paroki harus menyediakan sekian banyak salib cukup besar untuk dijual. Wah tidak mudah. Kalau sekeluarga satu, berarti duduknya mengelompok per keluarga ….. :-)

b. Sebelum cium salib memang berlutut khidmat. Bahkan dalam tradisi lama, kita berlututnya 3x untuk mengenangkan Yesus yang jatuh 3x dan sekaligus menunjukkan hormat total. (bandingkan banyak ungkapan diulang 3x untuk menunjukkan kesungguhan yang mendalam) …

c. Passio pada Hari Jumat Agung (juga Minggu Palma), tidak boleh diganti dengan peragaan, dramatisasi, dll. Passio adalah Sabda Tuhan, dan untuk Hari Jumat diambil dari Injil Yohanes, maka kalau didramakan, tidak ada bedanya itu drama Injil Yohanes atau Injil Sinoptik lain ….

Sabda Tuhan tidak boleh digantikan oleh bacaan atau pun bentuk ekspresi lain.

Lihat PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI / Institutio Generalis
Missalis Romawi (PUMR) :

24. Untuk sebagian besar, penyerasian-penyerasian itu terbatas pada pemilihan ritus atau teks, yakni pemilihan nyanyian, bacaan, doa, ajakan, dan tata gerak yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, dan kekhasan jemaat. Pemilihan-pemilihan seperti itu dipercayakan kepada imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Namun, imam harus ingat bahwa dia adalah pelayan liturgi kudus, dan bahwa ia sendiri tidak diizinkan menambah, mengurangi, atau mengubah sesuatu dalam perayaan Misa atas kemauannya sendiri.

29. Bila Alkitab dibacakan dalam gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira, sebab Ia hadir dalam sabda itu.
Oleh karena itu, pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam liturgi. Umat wajib mendengarkannya dengan penuh hormat. ….

55. Bacaan-bacaan dari Alkitab dan nyanyian-nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat, dan doa umat memperdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sebab dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. …..

Redemptionis Sacramentum (RS):
[62.] It is also illicit to omit or to substitute the prescribed biblical readings on one’s own initiative, and especially “to substitute other, non-biblical texts for the readings and responsorial Psalm, which contain the word of God”.

NB. Tentu tidak mudah bagi paroki yang telah menyiapkan Perayaan itu dengan matang, terutama drama Kisang Sengsara.
Drama itu sebaiknya kalau mau ditampilkan, bisa ditampilkan pada pagi hari sekitar jam 10.00-an untuk menggantikan permenungan kita dari “Jalan Salib”.

Hal lain yang perlu diperhatikan, bahaya drama masuk dalam liturgi, karena orang akhirnya tergoda untuk memperhatikan tokoh pemeran itu siapa dll, dan juga fokus umat tidak lagi kepada hal liturgis, tetapi seperti sedang “pause” dan nonton “panggung”. Hal ini sebenarnya termasuk “pelecehan” liturgi yang tidak perlu terjadi.
Drama dilakukan di balai paroki (hall) atau di tempat lain, silahkan, tetapi untuk diperagakan di atas panti imam, rasanya kurang pas dan membantu pemahaman litrugi yang baik dan benar.

Passio yang panjang, bisa dipersingkat. Dalam bacaan resmi yang tersedia biasanya juga disediakan dua alternatif, yakni versi lengkap (= panjang) atau versi singkat.
Tetapi tetap mengambil passio hari bersangkutan.

Kalau dinyanyikan terlalu panjang, boleh juga dibacakan dengan baik. Boleh dibawakan oleh 3 orang, dan peran Yesus dibawakan oleh imam.

Yang pokok dan utama: Sabda Tuhan harus diwartakan, dan tidak digantikan atau ditiadakan …….

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

MINGGU PALMA – JUMAT AGUNG : PEMBACA PASSIO HARUS PRIA ?

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

Mo Samiran …. atau siapa aja deh .. mau tanya dong … apakah yg membacakan passio MInggu Palma harus laki-laki dan nggak boleh perempuan ? apakah emang ada aturannya makasih ya … JBU

PENCERAHAN DARI PASTOR zepto pr :

Sdr. Intan Amrin, norma liturgis bhw tugas mbawakan KISAH SENGSARA TUHAN pd Minggu Palma dan Jumat Agung harus oleh LAKI-LAKI hanyalah aturan IMPLISIT, bukan perintah tegas, (lih. FPPC 33 & 66).
Lain halnya dgn PENCUCIAN KAKI pd Kamis Putih yg dgn tegas dikatakan bhw yg dicuci harus KAKI dari PRIA-PRIA TERPILIH (lih. FPPC 51).

Saya kutipkan teks lengkap dari Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (FPPC) atau Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya.

FPPC 33: Kisah Sengsara Tuhan dibawakan dgn meriah. Dianjurkan untuk membacakan atau menyanyikannya secara tradisional oleh tiga orang, yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan umat. Harus dibawakan oleh para Diakon atau imam, atau, bila tidak ada, oleh lektor; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam. Pada pewartaan kisah sengsara ini tidak dinyalakan lilin; dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pd Injil.

Tentang norma ‘mohon berkat’. Dalam buku “Misa Hari Minggu dan Hari Raya. Buku Umat” Yogya: Kanisius, 1983, Romo Al. Wahjasudibja, Pr, Panitia Liturgi KAS, ‘menggunakan’ terjemahan yg terlalu meluas dgn menyebut “Bila pembacanya BUKAN IMAM, sebelumnya mohon berkat dulu” [hlm. 393 dan 431]. .
Padahal mnrt FPPC 33, hanya DIAKON saja. Itu berarti, petugas passio yg bukan diakon, seturut norma liturgi, tidak perlu ikut2an mohon berkat.
Sama halnya, petugas2 pembaca Bacaan I, II, Pemazmur, Doa Umat, dll tak perlu pergi ke depan sedelia, mohon berkat pd imam setiap kali sblm menuju mimbar.
Demikian input saya (dan perluasannya). Salam dari Sorong, Papua. Zepto-Triffon Polii.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Terimakasih, jawaban sudah diberikan oleh pastor Zepto. !00% setuju.

Posted in 2. Minggu Palma, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

MINGGU PALMA-JUMAT AGUNG – PASSIO DISELINGI LAGU ? BOLEHKAH?

Posted by liturgiekaristi on April 14, 2011


Pertanyaan umat :

Berkah Dalem Romo, mohon informasi: Bolehkah
Pembacaan Kisah Sengsara Yesus / Passio pada Misa Minggu Palma dan
Ibadat Jumat Agung, di dalamnya diselingi lagu/nyanyian yg sesuai?
Adakah ketentuan yg mengaturnya? Terimakasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR :

Dalam buku Kisah Sengsara (Mateus, Markus, Lukas & Yohanes) diindikasikan adanya selingan berupa saat hening dan/atau lagu yg sesuai. Selingan 1 pada saat Yesus ditangkap di taman Gezamani; selingan 2 pada saat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus; selingan 3 pada saat setelah Yesus wafat di salib.

penjelasan saya di atas didasarkan atas buku resmi yang kami gunakan di keuskupan. Kalau masih ragu sebaiknya bapak bisa cek ke komisi liturgi di Keuskupan bapak. Trm kasih

sebetulnya kita tdk perlu bingung dengan perbedaan yang ada sehubungan dengan topik ini. Karena dalam beberapa hal lain kita masih akan menemukan perbedaan antara ritus2 standard dalam buku2 liturgis edisi typica yg diterbitkan Tahta Suci dengan struktur ritus dalam buku2 liturgis yg berlaku pada level Konverensi episkopal atau level diosis. Hal ini akibat dari penyesuaian (inkulturasi) yang dibuat.

Pertanyaan: siapa yg berwewenang melakukan penyesuaian dalam liturgi? Jawab: Tahta Suci, Konferensi Waligereja dan Uskup Diosesan (bdk SC 22). Atas dasar kesadaran inilah maka saya menganjurkan bpk Djoko untuk berkonsultasi ke KomLit Keuskupan.

Contoh perbedaan: Dalam Miessale Romanum (editio typica tertia 2002), pada bacaan kisah sengsara Minggu palma, tidak dicantumkan rubrik tentang selingan (hening/nyanyian yg sesuai). Tapi dalan Tata perayaan Minggu Palma yg diselenggarakan di Basilika Santo Petrus thn 2007, tertera rubrik selingan (saat hening) pada moment setelah Yesus wafat.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Boleh ….
Karena sebenarnya kan passio sendiri dibawakan dalam bentuk lagu, maka lagu tentu tidak diharamkan dalam hal ini, hanya sekali lagi harus sesuai dan menambah penghayatan umat akan sengsara Tuhan yang sedang direnungkan, dan bukan asal selingan.

Pahami saja selingan sebagai kesempatan merenungkan sabda yang telah didengar melalui bantuan lagu. Ini tidak salah.

Posted in 2. Minggu Palma, 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

Lagu Crucem Tuam versi Taizé

Posted by liturgiekaristi on March 30, 2011


Lagu Crucem Tuam versi Taizé

 

Posted in 4. Jumat Agung, q. Video terpilih | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG & PENJELASAN MENGENAI TATA PERAYAAN

Posted by liturgiekaristi on March 30, 2011


Pertanyaan  umat :

“Mau tanya donk, apakah boleh mengganti cium Salib saat acara penghormatan salib waktu Jumat Agung dengan tabur bunga?? Apakah secara liturgi dibenarkan? Thx. Gbu all..”

 

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Sebelum menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita memaknai Perayaan Jumat Agung.

Hari Jumad Agung, hari mengenangkan wafat Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, Gereja tidak merayakan Ekaristi. Mengapa ? Kita tahu bahwa Ekaristi merupakan sakramen Paskah Kristus, sakramen keselamatan, artinya dalam Ekaristi Gereja mengenangkan/merayakan wafat dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa dan maut. Pada hal hari Jumad Agung, hari dimana Gereja mengenangkan Wafat Kristus, sedangkan kebangkitanNya nanti dikenangkan/dirayakan dengan meriah pada hari Paskah raya ; maka pada hari Jumad Agung Gereja larut dalam suasana ‘kesedihan’ karena wafat Kristus ini.

Namun demikian, tata perayaan Jumad Agung dan Ekaristi tidak jauh berbeda, punya makna yang hampir sama. Mari kita lihat pola urutannya dengan membandingkan keterkaitannya dengan pola urutan Ekaristi :

Liturgi Jumad Agung :
1. Perarakan masuk– hening – di depan altar imam tiarap – umat berlutut : doa dalam keheningan
2. Doa kolekta (pembuka)
3. Litrugi Sabda – Kisah Sengsara Tuhan Yesus
4. Doa umat meriah
5. Perarakan Salib sambil membuka selubung salib – Penyembahan Salib
6. Bapa kami – komuni
7. Doa post-komuni
8. Berkat meriah

Perayaan Ekaristi :

1. Perarakan masuk- pernyataan tobat.
2. Doa kolekta (pembuka)
3. Liturgi Sabda – Injil – homili
4. Doa umat
5. Perarakan dan persiapan persembahan – Doa syukur Agung
6. Bapa Kami – komuni
7. Doa post-komuni
8. Berkat dan pengutusan

Penjelasan ini memaknai point nomor 5, karena pada bagian inilah yang merupakan hal berbeda dengan Ekaristi tetapi memberi makna yang hampir sama, sedang bagian yang sama maknanya.
Perarakan Salib yang diselubungi kain menuju panti imam, dan selama perarakan itu imam / pemimpin upacara menyerukan aklamasi tiga kali : “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia”. Umat menjawab dengan aklamasi : “Mari kita bersembah sujud kepadaNya”, kain selubung salib dibuka sedikit demi sedikit. Dalam Ekaristi bahan persembahan roti dan anggur dibawa ke meja Altar dan disiapkan. Pembukaan kain selubung salib memberi makna perubahan sebagaimana konsenkrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara substansial. Salib yang dalam perarakan memang bukan substasi Kristus, namun memberi simbolisasi nyata dan sempurna dari apa yang ditandakan : Salib menandakan sengsara Kristus, sebagaimana pengorbanan dan sengsara Kristus dihadirkan dalam tanda roti dan anggur menjadi Tubuh Dan Darah Kristus, tetapi dalam Ekaristi lebih menunjukkan substasi sengsara dan kebangkitan. Dan akhirnya ketika kain selubung selesai dibuka, salib diangkat dan ditunjukkan, kita memandang salib tempat bergantung Yesus penyelamat dunia, tubuhNya berlumuran darah, “Inilah TubuhKu …. inilah darahKu” (seraya kita memeditasikan kembali kisah sengsara Kristus).

Inilah makna salib dalam upacara Jumad Agung, dengan analogi sederhana dalam Ekaristi. Lalu bagaimana cara dan sikap kita untuk memberi penghormatan (menyembah) salib ini? Analoginya dalam Ekaristi adalah saat anamnese. Imam menyerukan Mysterium fidei : Marilah menyatakan misteri iman kita. Umat menjawab dengan seruan mortem tuam… : wafat Kristus kita maklumkan… Dalam penghormatan salib, lagu yang dinyanyikan dalam tradisi Gereja adalah Crucem tuam… yang mengingatkan kita saat kita memberi penghormatan di setiap perhentian Jalan Salib : “Kami menyembah Dikau, ya Tuhan dan bersyukur kepadaMu! Sebab dengan salibMu yang suci Engkau telah menebus dunia”. Lagu Taizé : Crucem Tuam bisa membawa kita untuk memeditasikan penghormatan (penyembahan) salib ini atau lagu Crux Fidelis seperti Puji Sykur no 509. Bagaimana cara kita menghormati Salib Kristus? Apakah dengan mencium (mengecup) atau dengan cara tabur bunga? Menghormati dan menyembah salib Kristus, kita mengungkapkan iman kita dalam tanda penebusan dan penyelamatan; sebagaimana Gereja berdoa dan mempersembahkan kepada Bapa surgawi Tubuh dan Darah PuteraNya seraya memohon anugerah Roh Kudus dalam iman dan pengharapan (doa epiklesis). Jadi penghormatan Salib mengungkapan iman, cinta dan pengharapan kita kepada Yesus Kristus; bukan sekedar kenangan bahwa Yesus sudah wafat di salib. Tindakan cinta dengan penuh iman dan pengharapan ini diungkapkan dengan cara mencium atau memberi kecupan pada salib Kristus, sebagaimana kecupan kasih sayang orang tua kepada anaknya atau kecupan cinta suami-istri.

Dengan analogi ini (penghormatan salib dan Ekaristi), bagaimana sikap dan cara kita menghormati salib, sama dengan sikap hormat kita saat Doa syukur Agung dalam Ekaristi. Apakah boleh dengan tabur bunga? Tidak ada cara baku yang dianjurkan Gereja. Gereja bahkan memberi keleluasan kepada masing-masing Gereja lokal sesuai dengan cara-cara penghormatannya (penyembahan) yang pantas dan layak, dengan tidak menghilangkan maknanya, yaitu ungkapan iman, kasih dan pengharapan. Memang dalam buku Misa hari Minggu dan Hari Raya (terbitan Kanisius) tentang upacara Jumad Agung, dalam rubrik upacara penghormatan salib disebutkan bahwa penghormatan salib dengan cara mencium/mengecup pada kaki salib atau dengan cara menabur bunga. Jadi dalam hal ini tergantung panitia perayaan Trihari Suci dan Paskah yang memutuskan cara apa yang terbaik dengan memperhatikan makna dari perayaan Jumad Agung dan penghormatan salib Tuhan kita, Yesus Kristus.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

LAGU POPULE MEUS (PS 506) – UNTUK IRINGAN UPACARA PENYEMBAHAN SALIB (JUMAT AGUNG)

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Lagu yang indah ini adalah Popule Meus (PS 506), yang cocok digunakan untuk mengiringi upacara Penyembahan Salib saat Jumat Agung. Walau masih lama, bagi koor yang kebagian tugas Jumat Agung, bisa mulai mempertimbangkan untuk menyanyikan lagu ini.

Posted in 4. Jumat Agung, q. Video terpilih | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – LAGU KISAH SENGSARA (PASIO)

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Pertanyaan umat :

Andreas Adiana

kisah sengsara untuk Jumat Agung; pada bagian terakhir mulai kalimat “Sesudah semuanya itu terjadi, Yusuf dari Arimatea…dst.”; pola nada yg biasa dipakai adalah 6ii…ii6, 6ii…i76ii’6ii..i564.
Ternyata berbeda dg teks dlm bahasa latin: 3i32i766..6567i, 6ii…i76ii, 6ii..i232i76756. 6ii232i76756. 3i32i76567i. dst.
Akhir lagu (“dan …letak kubur itu…dst.) yg biasa dipakai: 6i..i76776i7i2232i.i.
Dari teks latin : 6i..i76ii..i232i7675676.
Mohon pencerahan, mana yg pas sesuai kaidah yg berlaku? Karena beda nada, “rasa”nya juga beda. Terima kasih

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Kesulitan utama menerjemahkan teks lagu bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia adalah pada penekanan katanya. Alunan nada yang cocok dengan penekanan kata dalam bahasa tertentu, misalnya bahasa Latin, belum tentu cocok dengan penekanan kata dalam bahasa Indonesia. 

Maka kadang perlu dilakukan penyesuaian agar alunan nada dapat cocok dengan perbendaharaan dan penekanan kata bahasa Indonesia tanpa perlu merubah garis besar komposisi nada. Maka untuk terjemahan dari teks asli tidak bisa dilakukan sembarangan.

Saya lebih merekomendasikan memakai yang sudah biasa dipakai, kalau tidak salah terbitan PML.

-OL-

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – PERSEMBAHAN DARI ANAK-ANAK SEBAGAI WUJUD AKSI PUASA

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


PERTANYAAN :

Sekedar sharing, belasan tahun yang lalu ketika merayakan paskah di suatu pulau terpencil. Pada upacara Jumad Agung, saat penghormatan salib, ada persembahan dari anak-anak, sebagai wujud aksi puasanya, berupa celengan dari kaleng minuman coca cola. Mereka menyisihkan uang jajan harian mereka dan memasukan ke celengan atau kaleng aksi puasa, selama masa puasa dan mempersembahkannya di kaki salib Yesus pada hari Jumad Agung.

Kebanyakan kita, ketika petugas kring/kelompok/lingkungan mengumpulkan aksi puasa, kita mengambilnya dari dompet memasukan ke amplop aksi puasa (kalau masih ditemukan) dan menyerahkannya.

TANGGAPAN PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Kalau timingnya mau pas, sebenarnya seharusnya penyerahan itu pada hari Paskah pagi, karena Prapaskanya kan sampai Sabtu suci.

Kedua, saya tidak tahu tradisi itu, karena dalam aturan pokok gereja yang wajib puasa adalah yang sudah akilbaliq; dan anak-anak sebenarnya belum ada wajib puasa dan pantang. Sementara “acara” membawa persembahan – mengandaikan bahwa itu menjadi gerakan bersama.
NB. Melatih anak sejak dini tahu dan mencoba tradisi gerejawi, termasuk puasa adalah baik, tetapi mewajibkannya bisa mengundang perdebatan. :-)

Ketiga, kalau setahu saya di beberapa tempat, paroki atau stasi di Indonesia, anak berarak membawa persembahan itu dilakukan pada hari Raya Natal … anak-anak datang membawa persembahan mereka untuk kanak-kanak Yesus di palungan …. Hal semacam ini sih lebih mudah diterima dan dimengerti daripada pada Hari Jumat Agung.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – BOLEHKAN PERAN YESUS DIBAWAKAN OLEH AWAM

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

Pada Ibadat Jumat Agung, ada gereja2 yang mewartakan Passio dengan awam berperan sebagai Yesus. Apakah ini diperbolehkan? Bukankah seharusnya yang boleh mengambil bagian menjadi Yesus adalah imam (bahkan petugas passio sebaiknya diakon)? Mohon pencerahannya, terimakasih.

PENCERAHAN DARI BP. DANIEL PANE :

Karena Passio adalah pembacaan Injil, maka idealnya Diakon lah yang melakukannya. Jika tidak ada Diakon maka, Passio dibacakan pada umumnya oleh 2 awam sementara peran Yesus dibawakan oleh seorang Imam (atau kalau ketiga pembacanya adalah Imam juga boleh). Seorang awam jelas tidak diperbolehkan mengambil peran Yesus, karena paling minimal peran itu sebaiknya diberikan kepada Imam/Diakon yang merupakan pewarta Injil yang sesungguhnya dalam Liturgi.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – PRODIAKON AWAM IKUT TIARAP DI DEPAN ALTAR ??

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat:

Ilustrasi dari photo yang dikirim : Pada saat Ibadat Jumat Agung, pastor bersama prodiakon awam tiarap di depan altar. Mohon pencerahan….

TANGGAPAN PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK SCJ :

He he…memang lalu kelihatan lucu kalau para petugas ikut tiarap begitu…dan entah apa yang didoakan/tahu yang didoakan… Untung ga mesdinarnya sekalian…lalu seluruh umat sekalian ikut tiarap…dan tertidur wkwkwkwk…..

Dalam petunjuk perayaan Jumat Agung hanya dikatakan Imam masuk ke gereja dan sesampai di depan altar bertiarap dan berdoa hening, malah biasanya tanpa lagu pengantar seperti layaknya dalam Ekaristi biasa. Juga tidak dikatakan para pengiring atau pembantu Imam ikut dalam ritual bahasa tubuh yang khusus ini; jadi sebaiknya cukup berlutut dan yang penting ikut berdoa dalam hati. Dan memang hari Jumat Agung bukan hari biasa. Itu hari dimana kita mengenangkan dalam ibadat: Kemanusiaan Yesus yang dihancurkan sedalam2nya oleh dosa dan kelemahan kita.

Dengan berdoa hening sambil bertiarap (kalau tidak memungkinkan Imam bisa juga berlutut) Imam mengungkapkan kehadiran Kristus yang “nothing”, bahkan ‘tak ada rupa padaNya’ – seperti diungkap dalam Yesaya. Dan dalam doa itu sikap Imam yang biasanya sebagai pemimpin agung dalam Ekaristi juga perlu menghadirkan dirinya sebagai ‘nothing’, supaya lebih membantu menghadirkan gambar wajah Allah yang tersalib dan wafat dalam kesengsaraan Yesus di salib. Maka memang akan mengaburkan makna yang mendalam ini kalau umat lain ikut dalam ritual bahasa tubuh liturgis yang khusus ini….

Justru Jumat Agung itu bukan untuk “show of force” bukan? Yesus aja lebih menampilkan diriNya sebagai yang low profil, supaya kita sekalian ikut mati dari kemanuasiaan lama kita pada hari yang hening ini…
Selamat Paskah bpk Soedi, trims atas fotonya yang unik he he..

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – HARUS PASIO ATAU BOLEH DIGANTI TABLO?

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

Kalau Jumat Agung apakah harus Pasio yg dinyanyikan atau bisa diganti dengan Tablo?

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Setahu saya ‘KISAH SENGSARA TUHAN’ merupakan norma standar dan merupakan bagian UTUH/KONSTITUTIF dari Upacara Jumat Agung, sama seperti ‘PEMBACAAN INJIL’ dalam misa.
Jadi, tidak bisa digantikan.

Komentar umat :

iya setahu saya juga gitu. tapi ada tuh kmrn umat yg protes ktnya kurang mengena. kyk gak dpt makna nya ktnya

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL :

Kalau mau mengena maknanya, maka butuh persiapan dari umatnya juga. Liturgi tidak dibuat agar bisa dicocok-cocokkan dengan selera umat supaya mereka tergugah.

Sebaliknya Liturgi adalah sekolah di mana umat mencocokkan diri mereka supaya bisa dibentuk oleh Liturgi.

Kalau kurang mengena, mungkin usaha mempersiapkan diri selama prapaskah dan keakraban dengan Kitab Suci dari umat yang bersangkutan masih kurang….

Dari pihak paroki dan dari pastornya juga mungkin masih perlu jadi pekerjaan rumah untuk memberikan katekese yang berbobot.

Liturgi dan katekese berjalan bergandengan. Yang satu jatuh, yang lain ikut jatuh.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – BUKAN MISA MELAINKAN IBADAT

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

Umat katolik banyak yg belum mengerti bahwa Jumat Agung bukanlah Misa, tapi hanya Ibadat. Mohon di perjelas supaya umat jangan salah memahami nya.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Sederhananya, kalau MISA maka ada DOA SYUKUR AGUNG. Pada Upacara Jumat Agung tidak ada DSA.

PENCERAHAN DARI BP. VINCENT PAMUNGKAS :

Tidak diperbolehkan ada misa pada Jumat Agung, karena Tuhan wafat. Jadi yg dilakukan adalah peringatan sengsara. Komuni dibagikan, tapi tidak dikonsekrasi hari itu, melainkan pada Kamis Putih.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – MEJA ALTAR DIBERI TAPLAK PUTIH..APA ARTINYA?

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

Sesudah Passio meja altar diberi taplak putih dan lilin dari salib yang diarak dari depan gereja. ada artinya?

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

setahu saya, taplak putih itu dipasang saat komuni, jadi sesduah penghormatan salib, dilanjutkan komuni… nah pada saat hendak mulai Bapa Kami dan sakramen mahakudus yang akan dibagikan diletakkan di altar , altar diberi taplak putih dahulu
Taplak putih dan lilin tsb ditempatkan dalam kaitannya dgn kehadiran ‘Tubuh Kristus’ yg akan dibagi2 ke umat.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – BOLEHKAH PAKAI SOUND EFFECT ATAU LAGU?

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

Rm. Zepto yang terkasih dalam Kristus, aku hendak bertanya, bolehkan saat hening merenungkan wafat Kristus pada saat Kisah Sengsara Tuhan diisi dengan sound effect, rekaman lagu-lagu rohani meriah (aku tidak tahu judulnya, namun jelas itu adalah lagu rohani, bukan lagu liturgis, dan nada serta sifatnya meriah)?
Bolehkah selama ibadat Jumat Agung ini digunakan alat-alat musik mengiringi nyanyian hingga usai?
Dominus vobiscum pater…

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Sdr. Julius yg baik. Menurut saya, sejauh pemahaman sy ttg norma liturgi Jumat Agung, PERAYAAN Jumat Agung merupakan perayaan KESEDIHAN dan KEHILANGAN yg mendalam. Gereja BERDUKA (bdk. FPPC 65) dan diajak merenungkan SENGSARA Tuhan (Lih. Missale Romanum).

Itu diwujudkan dgn: masuk/keluar imam TIDAK diiringi dgn nyanyian (Lih. FPPC 65); altar dibersihkan/dilucuti (lih. FPPC 71); patung dan salib [masih] diselubungi kain (Lih. FPPC 26) berwarna ungu atau merah (FPPC 57). Kecuali itu, pantang dan puasa diwajibkan pada hari ini (FPPC 60). Banyak bagian dalam upacara ini wajib diselingi/diakhiri dgn keheningan penuh hormat (FPPC 65, 66, 68).

Berdasarkan norma2 itu saja, nyata bahwa JIWA dari PERAYAAN Jumat Agung adalah perayaan
KESEDIHAN bukan KEMERIAHAN.

Tentang penggunaan alat musik, “Dalam Masa Prapaskah TAK DIPERKENANKAN menghias altar dgn bunga-bunga, bunyi alat-alat musik diperkenankan hanya untk mengiringi nyanyian” (FPPC 17).

Namun, tentulah masing2 penanggungjawab liturgi, pastilah mempunyai pertimbangan pastoral tersendiri sesuai konteks umat setempat/semasa tentang apa yg dibutuhkan untuk ‘mendukung’ penghayatan umat berkenaan dgn misteri yg hendak direnungkan Gereja pd Perayaan Jumat Agung.

Demikian tanggapan saya. Salam.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

JUMAT AGUNG – TAHUKAH ANDA KETENTUAN NORMATIF LITURGI JUMAT AGUNG

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


PEMBELAJARAN TENTANG KETENTUAN NORMATIF LITURGI JUMAT AGUNG (OLEH PASTOR ZEPTO PR)

Tentang beberapa ketentuan normatif Liturgi Jumat Agung,
TAHUKAH ANDA…. ?

Pertama. Bahwa seturut tradisi yg dijalankan sejak zaman kuno, pada Jumat Agung Gereja TIDAK MERAYAKAN EKARISTI, jadi tidak ada Doa Syukur Agung dlm perayaan ini. Namun, komuni suci yg dikonsekrir …pd Kamis Putih diterimakan kepada umat. (Referensi: FPPC 48 dan 59).

Kedua. Bahwa PERAYAAN2 SAKRAMEN pada hari ini DILARANG KERAS, kecuali sakramen tobat dan sakrmn orang sakit (Lih. FPPC 61).

Ketiga. Bahwa Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan pada SIANG MENJELANG jam 15.00 waktu setempat. (Lih. FPPC 63).

Keempat. Bahwa Tata Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yg berasal dari Tradisi-kuno Gereja [yakni: Ibdah Sabda, Penghormatan Salib, Perayaan Komuni] harus diadakan dengan TEPAT dan SETIA dan TAK BOLEH DIUBAH SESUKANYA. (Lih. FPPC 64).

Kelima. Bahwa BACAAN yg tersedia harus DIBACAKAN LENGKAP. (Lih. FPPC 66).

Keenam. Bahwa untuk pengangkatan SALIB, hendaknya dipakai salib yg CUKUP BESAR DAN INDAH. (FPPC 68).

Ketujuh. Bahwa HANYA SATU SALIB yg disediakan untk dihormati demi mempertahankan kesejatian tanda. (Lih. FPPC 69).

Sumber: Litterae Circul…ares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya), Kongregasi Ibadat Ilahi, Roma, 1988.

Salam, Zepto-Triffon.

Posted in 4. Jumat Agung | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers