Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 168,251 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘4. Prodiakon’ Category

PRODIAKON – sharing dan pencerahan

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Soetikno Wendie Razif

Paus Benediktus agak ketat dalam soal wewenang “yang tertahbis” dan “yang tidak tertahbis” ….. dan yang penting, harap dimengerti bahwa “pro-diakon” itu tetap umat biasa, jadi harus terus menerus belajar dan membaca berbagai dokumen gereja … search saja di http://www.vatican.va/

 

Djoko Suhono

Itu-lah yg berat umat biasa,yg luar biasa-sementara harus menggantikan tugas2,gembalanya-pada sisi laiin,pikirannya kadang harus berpikir bagaimana menghidupi,anak2 da Istrinya,semoga para Prodiakon senantiasa setia dalam tugas2nya

 

Eddie Gundul

pro diakon or asisten imam dah bs diterima umat, tp hendaknya ada pembenahan disanasini, terutama sikap n tingkah lakunya menjelang, saat n sesudah bertugas.
Akan lbh baik lg klo beliau jg berusaha jd lbh baik lg dlm hidup n kehidupan keseha…riannya.
Bagaimanapun kesediaan n kesanggupan mrk utk menjd lbh baik hendaknya ditumbuhkembangkan setiap saat. Semg para prodiakon n asisten imam berkenan meningkatkan terus kepeduliaannya thd amanat yg diembannya.
BERKAH DALEM

Agus Syawal Yudhistira

Pro-Diakon adalah istilah yang dicetak oleh beberapa keuskupan di Indonesia saja. Istilah universalnya adalah “Pelayan Komuni Tidak Lazim.”

Sebagaimana namanya, tugas utama jabatan ini adalah membantu membagikan komuni ketika jumlah “Pelayan… Komuni yang Lazim” tidak mencukupi atau mengakibatkan kesulitan logistik. Siapakah para pelayan Komuni yang lazim itu: Uskup, Imam, Diakon. Ketiga tingkatan imamat ini adalah mereka yang menerima tahbisan.

Maka sama sekali tidak berat tugasnya. Mereka hanya bertugas jika diminta, dan bahkan paroki atau keuskupan tidak wajib menggunakan pelayanan mereka.

Yang jadi masalah dalam konteks Indonesia, istilah pro-diakon dan tugas pro-diakon ini diciptakan bukan saja untuk membagikan komuni, tetapi juga diperluas mengambil alih tugas-tugas Diakon. Alih-alih menyuburkan panggilan Diakon (para Diakon adalah pria, baik yang sudah menikah ataupun yang selibat, yang menerima tahbisan Imamat sebagai Diakon).

Diakon tidak melulu tingkatan seminari sebelum jadi imam. Para Diakon yang demikian disebut “Diakon transisi.” Tetapi ada orang yang ditahbiskan menjadi Diakon karena panggilan mereka sebagai Diakon. Mereka ini kerap disebut “Diakon tetap” atau “Diakon permanen.”

Dalam konteks Indonesia, “pro-diakon” mengambil alih sebagian tugas-tugas Diakon dan menciptakan sejenis “awam setengah klerus.”

Bagi saya pribadi, praktek pro-diakon adalah suatu usaha pastoral yang kebablasan dan mengeringkan panggilan Diakon dalam Gereja.

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »

AWAM “BUKAN PRODIAKON” BOLEH MEMBERESKAN PIALA BERISI HOSTI ?

Posted by liturgiekaristi on March 21, 2011


 

Pertanyaan umat :

Dlm suatu misa di sebuah stasi,pd saat agnus dei…krn ‘melihat’ romo tidak (belum) mengambil hosti dari tabernakel,,tiba2 seorang pengurus stasi ‘berinisiatif’ mengambil kunci tabernakel,mengambil hosti dan meletakkan nya di altar. Pun demikian setelah komuni,,sang pengurus lah yg ‘membereskan’. Pertanyaan ku,apakah hal ini diperbolehkan?? Atw memang memungkinkan dilakukan oleh seseorg yg bukan ‘petugas khusus’ (pelayan komuni)??

 

PENCERAHAN DARI BP. Daniel Pane

Sebenarnya tidak diperbolehkan. Mengambil Roti dari tabernakel adalah tugas Imam atau Diakon, begitu juga membersihkan bejana-bejana hanya tugas Imam atau Diakon saja.

 

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang PELAYAN-KOMUNI-TAK-LAZIM dalam Perayaan Ekaristi dalam kaitannya dengan TABERNAKEL.
Berdasarkan: Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] dan Redemptionis Sacramentum [RS].

1) Pada dasarnya ‘pelayan yang lazim’ untuk membagikan komuni dalam Perayaan Ekaristi adalah IMAM; dan secara resmi ia dibantu oleh DIAKON. Dalam hal ini, diakon bertugas MEMBANTU imam, dengan kewenangan2 liturgis tertentu. (Lihat PUMR 171.e; RS 154).

2) Bila TIDAK ADA DIAKON, maka AKOLIT-TERLANTIK boleh membantu imam dalam melayani komuni umat. Dalam hal ini, akolit tersebut bertindak sebagai ‘pelayan-komuni-tak-lazim’ (Lihat PUMR 162 dan 191; RS 155).
3) DALAM KEADAAN DARURAT, imam selebran utama dapat menugaskan ANGGOTA JEMAAT YG BUKAN AKOLIT-TERLANTIK, untuk membantu pembagian komuni. Adapun, anggota jemaat itu haruslah dinilai sebagai PANTAS, dan tugas yang diberikan itu bersifat SANGAT KHUSUS/KASUISTIK, artinya hanya untuk kesempatan yg bersangkutan itu saja. (Lihat PUMR 162, RS 155).
4) Penting diperhatikan bahwa:
”….. Mereka selalu MENERIMA DARI TANGAN IMAM BEJANA KUDUS yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman.” (kutipan tsb adalah bagian akhir dari PUMR 162).

5) SESUDAH PELAYANAN KOMUNI, bila ada hosti kudus yang tersisa, maka IMAM-lah yang bertugas MENYANTAP atau MENYIMPANNYA DALAM TABERNAKEL. (Lihat PUMR 163).
6) Dalam hal pembagian komuni DI LUAR Perayaan Ekaristi, pelayan-komuni-tak-lazim dapat menjalankan tugas menerimakan komuni kpd orang sakit BILA PETUGAS TERTAHBIS TIDAK HADIR. Itu berarti, dalam konteks KETIDAKHADIRAN pelayan tertahbis tsb, maka pelayan-komuni-tak-lazim boleh MENGAMBIL SENDIRI KOMUNI DARI TABERNAKEL untuk diterimakan kepada orang sakit. (Bdk. RS 133).

7) Jadi, pada hakikatnya, para pelayan-komuni-tak-lazim ini, dalam hal ini akolit-terlantik atau anggota jemaat lain yang pantas, hanya bertugas MEMBANTU IMAM DALAM HAL MEMBAGIKAN KOMUNI.
8) Maka, seturut ketentuan2 l…iturgis di dalam PUMR dan RS tersebut di atas, pelayan yang seharusnya MENGAMBIL DAN MENGEMBALIKAN bejana2 kudus berisi Tubuh Tuhan dari/ke tabernakel KETIKA PERAYAAN EKARISTI BERLANGSUNG, adalah IMAM.

9) Kalaupun, jumlah bejana kudus (sibori) itu terlalu banyak dan jarak tabernakel dan altar ‘relatif jauh’ maka dalam hal ini SETIAP pelayan-komuni-tak-lazim boleh MEMBANTU imam dengan cara menerima sibori di depan tabernakel LANGSUNG dari tangan imam lalu membawanya ke altar. Demikian juga pengembaliannya. Imam-lah yang memasukkan bejana kudus ke dalam tabernakel, sedangkan para pelayan-komuni-tak-lazim MEMBANTU memberikannya kepada imam di depan tabernakel.

10) Memang, pokok ini bercorak sangat teknis dan di banyak tempat sering ‘didispensasikan’ atas nama peningkatan peran awam dan kebutuhan pastoral-praktis. Namun, jiwa di dalam norma2 liturgis ini adalah AKTUALISASI/EKSPRESI IMAN TENTANG KETERKAITAN ERAT ANTARA SAKRAMEN EKARISTI DAN SAKRAMEN IMAMAT.

Semoga bermanfaat
Salam, ZTT.

Posted in 4. Prodiakon, 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

PRODIAKON – Adakah ijin menerimakan Sakramen Orang Sakit?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Adakah kemungkinan atau barangkali saat ini sudah pernah ada, bahwa Diakon Awam atau ProDiakon mendapatkan ijin menerimakan Sakramen Minyak Suci/Sakramen Orang Sakit? Merujuk dasar hukum yang mana? Trima kasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Semoga beberapa input berikut bermanfaat bg kita semua :

Pertama, tentang NAMA. Nama resmi dari sakramen ini adalah “Sakramen Pengurapan Orang Sakit” (Sacramentum Unctionis Infirmorum) atau sering disingkat Sakramen POS. Dulu disebut ‘Sakramen Perminyakan Terakhir’ karena diberikan hanya kepada org yg ada dlm sakrat maut (lih. KGK 1512).

Kedua, tentang ORANG SAKIT. Yg dimasukkan dlm kategori org sakit adalah kaum beriman yg mengalami sakit berbahaya atau keadaan kesehatannya sgt terancam (bdk. KHK Kan 998, KGK 1513). Hakikat dari Sakramen ini adlh menabahkan hati penderita dgn penghiburan iman dan doa bersama (Pedoman Pastoral Liturgi Org Sakit, no. 6). Karena itu, org yg sakit tua pun dan mrk yg mengalami kecelakaan dan mrk yg kritis dan di ambang maut pantas didampingi dgn Sakr POS.

Ketiga, ttg PELAYAN SAKRAMEN. Seiring dgn terbitnya tata perayaan Sakramen POS (Ordo Unctionis Infirmorum Eorumque Pastoralis Curae, Roma 1972), para uskup Indonesia dalam MAWI [KWI] mengajukan usulan kpd Konggregasi Sakramen dan Ibadat agar Sakramen POS boleh diterimakan oleh pelayan umat yg adalah pemuka awam. Jawaban Roma: negatif. Maka sbg jalan tengah atas dasar kebutuhan dan situasi khas Gereja Indonesia, sejak 1976 disusunlah upacara khusus ['Upacara Pemberkatan Khusus Orang Sakit Keras/Tua'] yg dipimpin oleh awam bila Sakramen POS tak memungkinkan.

Keempat, “Meski ketika hidup saya diperlakukan seperti hewan dan sampah, tetapi ijinkan saya memasuki kematian sebagai malaekat: Mulia, mulia dan bermartabat.”

PENCERAHAN DARI BAPAK AGUS SYAWAL YUDHISTIRA :

Prodiakon BUKAN Diakon Awam.. istilah Diakon mengasumsikan penerimaan Sakramen Imamat. Karena itu setiap Diakon adalah Klerus, bukan awam.

Yang disebut dengan Pro-Diakon (istilah yang sering kali menyesatkan umat), bahasa tepatnya adalah Pelayan Komuni Luar Biasa atau Pelayan Komuni Tidak Lazim.
Disebut demikian karena pelayan Komuni adalah tugas Klerus (Uskup, Imam, Diakon).
Setelah Klerus, yang bisa diserahterimakan menerimakan Komuni adalah Akolit tetap (menerima pelantikan berupa tahbisan-minor)..

Dalam keadaan dimana Klerus tidak berimbang dengan jumlah umat, umat awam yang diberi delegasi dan dipersiapkan khusus bisa membantu imam membagi Komuni. Inilah yang disebut di Indonesia dengan istilah Prodiakon.

Sakramen Perminyakan hanya dapat diterimakan Imam dan Uskup. Bahkan seorang Diakon juga tidak memiliki kuasa menerimakannya.
Selain Kitab Hukum Kanonik diatas, lihat juga Katekismus Gereja Katolik artikel 1516.

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »

PRODIAKON – Kapan waktu yang tepat untuk naik ke Panti Imam?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Ada umat bertanya. “Dalam setiap misa, biasanya ada Prodiakon yang membantu pastor untuk membagi komuni. Kalau boleh dijelaskan, kapan saat yang tepat untuk prodiakon naik ke panti imam & bergabung dengan pastor yang membawa misa? Apakah saat mulai persembahan adalah waktu yang tepat? Prodiakan berdiri terus di panti imam sampai komuni mulai. ” Mohon info.

PENCERAHAN DARI BP. THOMAS RUDY :

PUMR 162: Imam-imam lain yang kebetulan hadir dalam perayaan Ekaristi dapat membantu melayani komuni umat. Kalau imam-imam seperti itu tidak ada, padahal jumlah umat yang menyambut besar sekali, imam dapat memanggil pelayan komuni tak-lazim untuk membantu, yakni: akolit yang dilantik secara liturgis atau juga anggota jemaat yang sudah dilantik secara liturgis untuk tugas ini [alias PRODIAKON]. Dalam keadaan darurat, imam dapat menugaskan anggota jemaat yang pantas hanya untuk kesempatan yang bersangkutan.

Pelayan-pelayan seperti ini hendaknya tidak menghampiri altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Mereka selalu menerima dari tangan imam bejana kudus yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Dear all friends, beberapa input sy:

Pertama, prodiakon/asim/akolit (atau apapun namanya) pada hakekatnya, dlm kasus ini, hanya bertugas MEMBANTU MEMBAGIKAN komuni (mengingat jumlah besar umat).

Kedua, oleh karena itu, tepatlah bila mereka naik ke panti imam KETIKA Anak Domba Allah. Memang, ini AGAK RELATIF. Utk beberapa gereja, mengingat krn alasan tata ruang yg khas, (para) prodiakon tsb harus berjalan lebìh jauh dan butuh waktu lebih pjg untk cuci tangan (fungsional!) dan . Krn itu mrk sudah harus start sejak Salam Damai, bahkan ada yg sdh start sejak Bapa Kami/ Embolisme.

Ketiga, sebaliknya, bila mereka berada di panti imam sejak prefasi (apalagi sejak awal misa!), maka akan MENGABURKAN PAHAM ttg ‘misa konselebrasi’. Sejauh saya tahu hanya imam yg boleh berkonselebrasi. Itupun ada ketentuan tegas: TIDAK boleh datang terlambat dan pulang duluan.

Keempat, sy sngat setuju bila para prodiakon itu berarak masuk bersama selebran utama (tentu sudah mengenakan pakaian liturgi sepantasnya sesuai ketentuan), namun sesudah berlutut/membungkuk bersama di dpn altar, langsung menuju ke tpt duduk di bangku umat (baris depan tengah/samping), lalu menuju panti imam ketika Anak Domba Allah.

Kelima, masa prapaskah ini sungguh merupakan kesempatan (yg baik) untuk BERTOBAT.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Catatan tambahan saya atas semua masukan teman-teman di atas:

a. Sebaiknya yang bukan imam tertahbis walau akan membantu membagikan komuni, tidak naik sebelum DSA selesai. Kebiasaan salah ini bisa memberikan kesan dan pengajaran kekatolikan yang salah, seolah pro-diakon bertindak seperti kon-selebran dalam ekaristi.

b. Timing yang pas adalah sesudah Salam Damai.

c. Sebaiknya mereka yang akan membantu imam membagikan komuni juga ikut berarak bersama misdinar dan imam sejak awal Misa Kudus dan menempati tempat duduk yang pas yang dekat dengan altar, misalnya di bangku depan dekat altar. Sehingga alasan jauh dari altar tidak ada, dan memang mereka menjalankan tugas khusus dalam perayaan Misa Kudus saat itu.

Atau kalau tidak ikut perarakan, misalnya ada imam yang membantu dan dia tadi sudah merayakan Misa Kudus, maka saat Doa Bapa Kami silahkan bersiap di sakristi, dan pada saat Salam Damai, silahkan maju ke panti imam.

PENCERAHAN DARI ADMIN :

“Sejauh sudah jelas dalam pedoman resmi, ikuti yang itu. Kecuali dalam kasus khusus dan hanya dalam soal tertentu, uskup setempat boleh mengatur kebijakan tertentu untuk keuskupannya. Kalau tidak, ya pastor paroki mengacu aja ke PUMR itu.

Atau pastor paroki punya pertimbangan lain sehingga mengatur/membiarkan misalnya prodiakon

bertindak tidak sejalan dengan PUMR? Apakah alasan dan pertimbangan pastoral pastor paroki itu masuk akal dan sungguh mendesak?

Kapan sebaiknya prodiakon maju ke panti imam, menurut PUMR no. 162 disebutkan begini: “….

Pelayan-pelayan seperti ini (maksudnya yang awam: prodiakon) hendaknya tidak menghampiri altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Mereka selalu menerima dari tangan imam bejana kudus yang berisi Tubuh dan Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman”.

Jadi, sudah jelas:

1. Prodiakon naik ke panti imam bukan sebelum Bapa Kami, apalagi sebelum DSA, tapi setelah imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan.

2. Mereka tidak boleh mengambil sendiri bejana (sibori) yang berisi

sakramen dari meja altar, tetapi imam yang serahkan kepada mereka…”

PERTANYAAN DAN PENCERAHAN DARI ADMIN AWAM DI PAGE SEPUTAR LITURGI

Ibu dan Bapak sekalian, berikut tanggapan kami atas pertanyaan dan/atau komentar yang disampaikan:

Di balik aturan yang sangat jelas dan tegas dalam PUMR 162 ini adalah hakikat dan semangat yang melatarbelakangi fungsi Prodiakon atau Asisten Imam sebagai pelayan tak lazim (minister extraordinarius), sesuai nama resminya yang adalah “Pelayan Komuni Tak Lazim”. Pemahaman yang mendalam tentang hal ini dan juga kesakralan panti imam yang dalam Bahasa Latin aslinya disebut “sanctuarium” (tempat suci) dan pengormatan akan ritual yang sedang berjalan di sana sampai dengan imam menyantap Tubuh dan Darah Kristus akan membantu kita untuk mengerti kenapa aturan ini ada. Sebelum mengerti tentang semua latar belakang itu, ada baiknya kita mengikuti aturan dengan taat.

Pertanyaan : David Suwito di paroki mereka naik pada saat anak domba Allah (Agnus Dei), tapi gak dekat latar sih….berdiri jauh berjejer di pinggir…dan jelas tidak ikut berkonselebrasi..apa ini sudah benar?
David Suwito, maaf Pak, itu belum benar. Prosesi mereka naik ke panti imam saat Anak Domba Allah akan mengalihkan perhatian umat dari ritual penting pemecahan roti yang sedang terjadi di panti imam.

Pertanyaan : Bertha Ning Bagaimana kalo hrs ambil hosti di tabernakel, yg letaknya dibelakang altar dn meletakan di altar? Kpn hrs naik??
Bertha Ning, tetap ikuti saja aturan PUMR 162 Bu.

Pertanyaan : Marthin Pamungkas Di paroki kami, mrk malah dr awal ngikut pastor, bahkan saat konsekrasi, mrk yg bawakan syukur agung(sebagian)… Mau negur, dibilang membangkang… Ckckck
Marthin Pamungkas, maaf Pak, itu termasuk kategori pelanggaran berat yang perlu dilaporkan kepada uskup.

Pertanyaan : Andreas Winanta menurut pemahaman saya dari teks PUMR 162 dimaksudkan agar prodiakon tidak membagi komuni sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Kristus. kata’naik di panti imam’ pengertian saya adalah ‘mengawali tugas membagi komuni’. mungkin kalau hanya naik ke panti imam dan diam menunggu imam selesai menyantap Tubuh dan Darah Kristus bukan pelanggaran. Lalu bagai mana dengan imam yang punya kebiasaan minum Darah Kristus sesudah membagikan komuni kepada umat selesai? jika harus demikian kapan prodiakon baru boleh naik ke panti imam? nah, mudah-mudahan kita dalam memahami hal ini tidak dengan kacamata kuda.
Andreas Winanta, “Setiap kali seorang imam merayakan Misa Kudus, ia harus menyambut komuni seraya berada di altar dan pada saat yang ditentukan oleh Misale, … Tidak pernah imam selebran atau seorang konselebran boleh menunda penerimaan komuni sendiri sampai selesai komuni umat.” (Redemptionis Sacramentum 97) Pemahaman yang salah yang membuat imam menyambut Tubuh dan Darah Kristus setelah membagikannya kepada umat harus dibetulkan. Takhta Suci sudah mengingatkannya melalui dokumen Redemptionis Sacramentum itu. Sebuah aturan atau dokumen hendaknya tidak dipahami atau ditafsirkan sendiri oleh seseorang tanpa memahami semangat dan latar belakang dikeluarkannya aturan itu. Kami setuju dengan pernyataan Bapak untuk tidak menggunakan “kacamata kuda”; pahamilah latar belakangnya, pahamilah landasan teologi di baliknya, pahamilah sejarah dan tradisi di baliknya. Kalau belum mampu memahami semuanya itu, ikuti saja aturan dengan taat. Sebagai orang Katolik, kita tidak perlu susah-susah menafsirkan sendiri. Sudah ada Magisterium Gereja, Bapa Suci, Wakil Kristus di dunia, yang mengajar kita.

Pertanyaan : Gabriel Thomas Martino memang dilarang di panti imam selain pastor dan misdinar..tp di paroki saya,baik lektor,prodiakon dan misdinar smua berada di panti imam tp tdk di altar lho dan itu sdh berjalan lama..yg ditegaskan oleh frater,kita hrs menjaga sikap dan menghormati,krn sdh tradisi paroki..mohon nasehat atas pernyataanku ini,admin
Gabriel Thomas Martino, pembenahan liturgi memang tidak bisa dilakukan seketika; perlu perencanaan yang baik dan juga katekese yang memadai untuk semua pihak. Semuanya itu membutuhkan waktu, namun tetap harus dilaksanakan.

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »

PRODIAKON – Bagaimana cara membawa Sibori dengan benar?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Topik diskusi :

“”Aku sering melihat prodiakon membawa sibori sejajar dada, ada juga di atas kepala sambil telapak tangan kanannya “memayungi” sibori yang berisi hosti. Sesungguhnya bagaimana selayaknya ? Terima kasih.””. Mohon pencerahan.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

he he…sewaktu membawa sibori yang berisi hosti (dalam rangka pembagian komuni??) sebaiknya memang di depan dada. Kalau lebih tinggi dari kepala ada bahaya sulit/kurang memperhatikan keseimbangan posisi sibori dan bisa miring/tumpah; selain juga cenderung menghalangi pandangan mata untuk melihat jalan. Sejajar dengan dada dan dekat di hati, itu lebih punya makna simbolik: membawa Tuhan sedekat mungkin di hati, dan dengan sikap hormat menjaga dan melindungi sakramen Ilahi di dadanya.

Perlu diperhatikan juga, karena kadang lupa atau tidak sadar, sewaktu membawa sakramen/hosti suci, prodiakon tidak perlu menunduk, atau menghormat kepada Imam atau altar. Ini perlu disadari karena yang dia bawa jauh lebih tinggi dari semua yang ada di sekitarnya. Kadang saya melihat prodiakon sedang membawa hosti kudus, malah masih menghormat ke altar. Harusnya malah imam, Uskup dan umat yang harus menunduk/berlutut atau menghormat ketika (siapapun) ada yang membawa Hosti Kudus. Sebaiknya juga mesdinar mendampingi dengan lilin bernyala, akan lebih bagus dan layak. Tetapi juga jangan lalu merasa tinggi hati! he he…yang dihormati tuh Hosti suci yang dibawa, bukan dirinya, jadi sepantasnya tetap membangun sikap rendah hati sebagai orang yang ditugasi membawa sakramen….GBU

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »

PRODIAKON – Pencerahan dan Sharing

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


DARI NARA SUMBER , SEORANG PASTOR PAKAR LITURGI

Bidang tugas pelayanan yang dapat diemban para asisten imam

1. Menerimakan Komuni Kudus:

Dalam perayaan Ekaristi: karena jumlah umat yang besar atau halangan yang menimpa selebran. Di luar perayaan Ekaristi: karena jarak tempat yang jauh, terutama untuk Viaticum (komuni bekal suci), di rumah sakit atau panti jompo. Tujuannya ialah: agar umat beriman yang sedang diliputi rahmat dan dengan hasrat tulus serta penuh bakti ingin mengambil-bagian dalam perjamuan kudus, tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati bantuan serta penghiburan sakramental itu (Immensae caritatis no.776). Ini merupakan warisan tradisi Gereja sejak zaman para rasul.

2. Memimpin Upacara Pemakaman: Pada dasarnya upacara pemakaman bukanlah ritus sacerdotal, tak harus dipimpin oleh imam. Hanya tentu para imam yang diserahkan tugas mewartakan Kabar Gembira sepantasnya membawakan penghiburan bagi yang berduka.

3. Memimpin Ibadat Sabda dan Ibadat Tobat: Ibadat yang dimaksudkan di sini dibedakan dalam tiga bentuk: – Ibadat Sabda menjelang Hari Raya; – Ibadat Tobat dalam Masa Adven dan Prapaskah;- Ibadat Sabda Hari Minggu tanpa imam

Pengalaman positif:

Partisipasi pelayan awam dalam kegiatan Liturgi sungguh luarbiasa.

Semakin jelas terasa bahwa urusan paroki dan liturgi bukan hanya tanggungjawab pastor tetapi seluruh umat. Dari banyak penataran dan lokakarya yang diadakan kami terkesan bahwa umat sangat terlibat sehingga segala dinamika paroki menjadi keprihatinan bersama…. See More

Para imam merasa sangat terbantu oleh kehadiran para asisten imam terutama dalam urusan komuni orang sakit dan pemakaman.

Bagi para asisten imam, menjalankan tugas-tugas suci ini merupakan pahala istimewa bagi hidup mereka sendiri.

Pengalaman negatif:

* Pada umumnya berangkat dari kurangnya pendampingan yang baik dan informasi yang benar sehingga menggerogoti penghayatan dan praktek liturgis.

* Peran yang tertahbis dan yang tak tertahbis menjadi kabur karena a.l. para asisten imam yang mendampingi imam selama perayaan Ekaristi seolah-olah imam konselebran; mereka memakai … See Moremirip stola (bdk. Redemptionis Sacramentum no. 153); mereka mengambil dan mengembalikan sakramen dari tabernakel dalam perayaan Ekaristi, dan telah menghampiri altar sejak Bapa kami (bdk. PUMR no.162).

* Imam memberi kesempatan kepada mereka dalam perayaan Ekaristi harian untuk memimpin Liturgi Sabda sampai membaca Injil dan memberikan homili, sedangkan imam duduk sebagai umat.

* Sampai saat ini masih mayoritas mutlak para asisten imam adalah pria, padahal berbagai dokumen Liturgi selalu membuka kesempatan itu baik bagi pria maupun wanita.

Usaha-usaha untuk mengembangkan peran minister extraordinarius secara sehat dan benar.

Secara umum ada kehausan besar dikalangan umat diberbagai paroki akan pemahaman yang benar dan meyakinkan tentang Liturgi. Hal ini wajar sebab partisipasi aktif seluruh kaum beriman, khususnya para petugas, menimbulkan kehausan besar karena mereka ingin … See Moremelaksanakan tugas-tugasnya sebaik mungkin tanpa keraguan. Di lain pihak tanggungjawab dan perhatian para “gembala jiwa” untuk meningkatkan pendidikan Liturgi bagi umatnya sesuai dengan penegasan Konstitusi Liturgi n.19 rupanya masih harus dipertanyakan terus-menerus.

Memang para asisten imam perlu pembinaan rutin pertama-tama demi pembentukan motivasi iman yang tepat. Disamping pembinaan spiritual, kita tahu bahwa sejak setelah tahun 2000 beberapa dokumen Liturgi tentang Ekaristi berusaha menertibkan dan mengarahkan secara tepat praktek-praktek ritual yang menjadi batasan wewenang baik bagi asisten imam, dan bagi imam selebran menurut kharisma yang diterima dari tahbisannya. Ternyata perlu banyak belajar lagi supaya tidak berdalih secara gampangan dibalik istilah “Ini kebijakan pastoral paroki kami”.

PENDAPAT DARI BP. DANIEL PANE

Mengingat istilah “Prodiakon” sendiri sudah janggal maka sebaiknya para Prodiakon dijadikan Putera Altar saja. Mereka adalah pelayan Altar dengan tugas tambahan membagikan Komuni. Sebenarnya sih tidak ada masalah untuk menggunakan Putera Altar yang berusia dewasa untuk membagikan Komuni. Bagi saya mengerahkan Putera Altar yang sudah dewasa untuk membagikan Komuni lebih make sense daripada mengadakan sebuah jabatan khusus “Prodiakon”. Lagipula dalam praktisnya akan lebih mudah, karena tidak ada pemisahan antara Putera Altar dan Prodiakon jadi Putera Altar yang sudah dewasa (termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang sekarang ini disebut “Prodiakon”) bisa melayani Misa dan saat Komuni ikut membagikan Komuni.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ

@ Daniel Pane: Usulan untuk koreksi ulang penggunakan sebutan “prodiakon” saya sih setuju. Tetapi mengubahnya menjadi “Putra Altar” dengan tugas khusus membantu imam membagi komuni, saya khawatir ini bukan solusi menguntungkan. Yang tahu sejarahnya tidak apa dan mungkin bisa mengerti soalnya. Yang tidak tahu, entah kapan misalnya 50 tahun … See Morelagi, maka tidak tertutup kemungkinan seolah tugas membagi komuni itu melekat menjadi tugas “Putra Altar”. Dan runyamnya kalau yang 50 tahun ke depan itu akhirnya “Putra-Putri Altar” yang anak-anak laki dan perempuan SD itu juga akhirnya dianggap baik, sah, dan halal (valid dan liceit) membagikan komuni.
Saya yakin praktik itu akan lebih banyak menuai kelemahan daripada solusi baik. :-)

PENDAPAT DARI BP. ONGGO LUKITO:

saya pernah baca buku tentang prodiakon karya salah satu imam (tidak perlu disebutkan namanya) yang menuliskan bahwa prodiakon ada untuk menunjang partisipasi umat dalam perayaan Ekaristi, yang malah bertentangan dengan RS 151 yg mengatakan “Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan Liturgi. … See MorePermohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat.”

@Romo Samiran: apakah istilah prodiakon ini pernah dibicarakan di kalangan imam atau uskup untuk ditinjau ulang istilahnya? karena sepertinya yg bisa merubah istilah itu adalah uskup. cmiiw.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

@ Onggo L : sebenarnya problematik ini pernah dibicarakan. Kalau masih ingat sebutan awal untuk hal ini dulu adalah “diakon awam”. Sebutan itu resmi mendapat teguran dari Roma, karena sebutan itu kontradiksi dari dirinya sendiri. Diakon = tertahbis, jadi bukan lagi awam. Awam = tidak tertahbis. Maka diakon awam itu artinya apa?
Maka muncul … See Moresebutan di beberapa tempat menggantinya dengan “pro-diakon” atau “sub-diakon”. Sebutan ini sempat diangkat dalam salah satu dialog resmi para imam dan uskup. Tetapi waktu itu tidak atau belum ada kesepakatan bersama. Ada yang mengusulkan: petugas pembantu pembagi komuni (terlalu panjang); pelayan luar biasa: pelayan komuni, dll.
Tetapi ternyata usaha itu hilang seperti ditelan masa. Dan sebutan pro-diakon tampaknya yang paling populer.
Semoga dalam waktu dekat ada evaluasi atas persoalan ini.
:-)

SHARING DARI BP. SONNY ARENDS (Seorang prodiakon):

Demikianlah, akibat kurangnya “penataan” dalam Tugas dan Kewajiban serta rambu2 yang menuntun para Prodiakon ini membuat mereka menjadi berjalan di atas pelanggaran2 padahal tugas mereka adalah Pekerjaan Mulia tanpa pamrih dan selalu lebih banyak nombok materi dari pada “keuntungan” …. mungkin ada baiknya apabila dibuatkan suatu Aturan Khusus … See Moreatau Juklak bagi mereka agar mereka bisa berkarya tanpa harus berbenturan dengan aturan yang ada.

@C Wuwur, memang itu merupakan hal yang menyakitkan buat para Prodiakon, Pak! Saat membantu membagikan komuni disebelah Romo maka para umat gak mau antri di depan Prodiakon, tetapi coba Bapak bayangkan bila setiap Misa dihadiri oleh 800 – 2000 Umat? Harus berapa lama Romo dan Suster melayaninya ….. jangan melihat Prodiakon atau bahkan Romo-nya, Pak …. tetapi semata mata hanyalah konsentrasi pada Tubuh Kristus yang akan kita sambut!

Apalagi bila saat Misa jam:8:30, saat terik matahari, jemari tangan keringatan dan Hosti sampai terjatuh … maka konsekuensinya si Prodiakon harus menyantap hosti kotor itu di hadapan Umat …. Kalau perayaan Misa lancar maka gak ada komen apa2, tetapi bila ada kesalahan sedikit maka suaranya terdengar hampir satu gereja, hehehehehe ……!

SHARING DARI BP. Agus Wisnu

duh…kalo mengenai penyebutan namanya,mau prodiakon atau asisten imam atau PKTL,manut sama yang berwenang memberikan nama,..bagi saya pribadi melayani sesama mempunyai nilai yang tidak bisa terbilang harganya..karena hidup kita merasa tergunakan untuk melayani sesama kita,saudara kita,…apalagi ada gereja2 kecil/stasi yang belum terlayani secara … See Morerutin oleh romo paroki.maka peran prodiakon,sangatlah besar sebagai pewarta kabar gembira dari Tuhan.dan tugas yang diberikan oleh romo paroki,pasti dijalankan dengan gembira hati dan setulus hati.

SHARING DARI umat BP. Fatta Tanzil
Sy setuju banget kalo sebelum diberikan tugas tugas yg berkaitan dgn Liturgie diberikan pembekalan yg matang.
Termasuk tugas para Prodiakon, tetapi bagaimana dgn para Clerus… ? Mereka yg memahami juga kadang kadang tidak konsekwen utk melakasanakan nya. Antara seorang Imam dengan yg lain dalam pelaksanaan nya juga seenak nya dan sekena nya saja…. ??
Mohon diklarifikasikan…. Trims.

SHARING DARI umat Theresia Tri Ning
Benar… memang pengalamaqn saya menjadi prodiakon itu sejak perekrutan ,pembekalan sampai pelantikan melalui proses panjang. Saat pembekalan hanya diajari tata gerak dan sikap disekitar altar saja. Untuk pelaksanaan tugas sehari-hari di lingk/wilayah/paroki tidak dibekali,seperti cara mengubur orang meninggal,cara mengirim komuni orang sakit/jompo ,berkotbah ,memimpin ibadat dll. makasaatnya mulai sekarang harus ada perubahan dan pembekalan praktis. Kalau yang aktif membaca buku2 liturgi sih agakmending lho. Jangan kecil hati….Tuhan memberkati kita.

SHARING DARI umat Zenny Prijowibowo
Ya saya setuju dengan Fatta Tanzil dan Theresia Tri Ning, memang begitu adanya. Makanya kadang-kadang pada Bulan Liturgi Nasional (Mei) saat umat sharing mengenai Liturgi akhirnya tidak begitu ada manfaatnya. Toh yg punya kuasa ya Klerus (Pastor Paroki). Kita yg awam sudah mempelajari liturgi dengan JLIMET, tapi kalo pastor maunya BEGINI ya harus begini, tdk akan bisa BEGITU. Kalau mau digabung kan bagus : jadi BEGITI……?

Posted in 4. Prodiakon | 3 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers