Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 136,804 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘d. BENDA-BENDA LITURGI’ Category

PANTI IMAM DAN PERANGKATNYA

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


PANTI IMAM (lihat gambar)

a. Bagian Pembuka sampai Doa Pembuka – dibawakan oleh selebran

utama dari “sedelia” (sede = tempat duduk) imam.

b. Bagian Sabda: (Bacaan, Mazmur, Bait Pengantar Injil, Injil, Homili) sampai

Doa Umat dibawakan di “ambo” (meja Sabda).

c. Bagian Ekaristi: mulai persiapan persembahan sampai komuni, dibawakan di

“altar” (meja persembahan)

d. Bagian Penutup: Doa penutup, Berkat, dan pengutusan dibawakan di

“sedelia” lagi.

PENCERAHAN PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Di panti imam sebenarnya ada dua “meja” berwibawa, yakni Meja Sabda (= ambo) dan Meja Persembahan (= altar).

Maka kalau mau melihat mana sebaiknya yang menjadi ambo dan mana mimbar (= standar) maka lihat dari mana yang paling berwibawa. :-)

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR :

Empat pont yg dikemukakan moderator page di atas adalah prinsip yg perlu kita perhatikan dalam pelaksanaan liturgi Misa. Tentunya hal itu sgt penting ketika kita memproses denah dalam sebuah bangunan gereja dan lebih2 ketika merencenakan pembangunan gereja).

Tentunya dalam prakteknya kita sll akan menemukan situasi2 yg khusus spt bangunan gereja dg… See More konstruksi pra-Konsili Vatikan II. Nah intuk hal semacam ini perlulah pertimbangan pastoral yg matang dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyesuaian yg ada…

Pertanyaan umat :

Terkadang aku juga bingung,seharusnya seperti apa yang benar/sesuai dengan TPE? Karena,terkadang Pastor tidak langsung ke altar,tapi ke mimbar mengucap sepatah dua patah kata sambutan awal. Ada lagi yang langsung ke mimbar dan memberi berkat awal sebagai tanda dimulainya Misa Ekaristi. Ada juga yang ke altar,tapi kemudian pada saat pembacaan Injil,berpindah ke mimbar hingga beliau menyampaikan homili masih di mimbar. Hendaknya tata perilaku ini diseragamkan dan disesuaikan dengan TPE yang benar,meskipun terlihatnya hal sepele namun bisa menimbulkan pro kontra pendapat diantara umat.

Trims.

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR.

RUANG LITURGI: uraian singkat

Gambaran Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah memberi makna bagi Ruang liturgis.

Setelah Konsili Vatikan II, pemahaman ttg Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah begitu kuat dihembuskan. Persekutuan ini membentuk Tubuh Kristus, di mana Kristus sendirilah Kepalanya dan kita (kaum beriman) adalah anggotanya. Nah Gambaran Gereja demikianlah yang hendaknya menjadi penghayatan yg melatarbelakangi penataan dan penggunaan ruang liturgi (tata letak/denah dan pemanfaatannya selama perayaan liturgi khususnya Misa Kudus). Singkatnya, struktur dan denah dari sebuah gedung gereja selayaknya mendukung gambaran gereja dimaksud.

Dengan demikian kehadiran dan letak Altar, mimbar Sabda, mimbar imam (selebran utama), dan bagian-bagian lain seperti mimbar pengumuman dan tempat paduan suara menjadi hal yang penting. Dalam konteks pembahasan kita, pemahaman tentang makna altar, mimbar sabda dan mimbar selebran utama menjadi hal yang penting untuk diingatkan kembali (lih SC 7).

Makna dan penempatan Altar, Mimbar Sabda dan Kursi Selebran Utama.

Altar sebagai tempat korban dan meja perjamuan adalah simbol kehadiran Kristus sendiri baik sebagai korban pendamai maupun sebagai santapan surgawi yang diberikan kepada kita. Sebagai pusat liturgi ekaristi, Altar memang baru digunakan saat persembahan yang mengawali bagian liturgi ekaristi. Sebagai pusat dari spasi perayaan, posisi altar dianjurkan agar sedapat mungkin diletakan pada posisi tengah dan sentral bila dihubungkan dengan posisi tempat duduk umat. Ada dua posisi yg umumnya digunakan, yakni: 1 – posisi altar di depan (panti imam) sementara tempat duduk umat membentuk 2/4 baris, berjejer dari dekat pintu masuk menuju altar. 2 – posisi altar di tengah sementara tempat duduk umat ditata mengelilingi (dg senah berbentuk setengah lingkaran atau berbentuk salib) altar.

Mimbar Sabda berfungsi sebagai tempat Sabda Allah diwartakan. Sebagai tempat Sabda diwartakan, mimbar dibuat secara permanen dan diletakkan pada posisi yang nampak jelas bagi semua subyek yang merayakan. Posisi sedemikian akan mendukung peran sentral dari Sabda bagi umat Allah yang hadir.

Untuk hal-hal seperti pengumuman, latihan, penjelasan, memimpin lagu, dan juga jika mungkin doa umat dan khotbah, perlu disediakan sebuah tempat (mimbar) lain yang berbeda dari mimbar Sabda. Tapi apabila sulit untuk merealisir semuanya secara sempurna, maka doa umat, khotbah dan hal lain yang pantas (altre parole umane) dapat dibawakan dari mimbar Sabda.

Kursi Selebran Utama (imam) adalah tempat liturgis yang menunjuk kepada peran kepemimpinan selebran yang menuntun umat dan memimpin perayaan liturgi. Hendaklah tetap dipinga bahwa sang selebran (imam) yg memimpin perayaan liturgi, bertindak in Persona Cristi (Kepala dan Gembala) dan in Persona Ecclesiae (Tubuh Kristus). Sesuai dengan maknanya penempatan tempat duduk imam haruslah dapat dilihat dari segala sisi ruang gedung gereja, menunjang komunikasi langsung dengan umat. Umumnya kursi selebran ditempatkan pada bagian belakang Altar, dengan posisi agak lebih tinggi, atau pada salah satu sisi dari panti imam, agak sejajar dengan Altar.

Gambaran aplikasi

Sehubungan dengan penggunaan ketiga tempat liturgis diatas dalam perayaan Misa Kudus, maka pada prinsipnya dapatlah dikemukakan secara sgt ringkas sebagai berikut: Fungsi selebran dalam seluruh Ritus Pembukaan dilakukan dari Kursi Selebran. Seluruh tindakan ritual yg berkaitan dengan Liturgi Sabda, dilakukan pada Mimbar Sabda. Seluruh aktifitas ritual yg berkaitan dengan Liturgi Ekaristi, pelaksanaannya ‘terpusat’ pada Altar. Akhirnya Semua tugas selebran yg termasuk dalam Ritus Penutup dilakukan dari Kursi Selebran.

Salam n doa

Pastor Bernard Rahawarin

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Memang pastor setelah berlutut langsung menuju altar – untuk mencium altar ….. lalu (seharusnya) menuju “sedelia” dan (pada saatnya) membuka perayaan Ekaristi dari sana.

Yukkk sekalian latihan mengenal istilah atau nama-nama yang umumnya dipakai dalam kaitan dengan liturgi kita:

Dalam Perayaan Ekaristi biasa :

a. Bagian Pembuka sampai Doa Pembuka – dibawakan oleh selebran utama dari “sedelia” (sede = tempat duduk) imam.

b. Bagian Sabda: (Bacaan, Mazmur, Bait Pengantar Injil, Injil, Homili) sampai Doa Umat dibawakan di “ambo” (meja Sabda).

c. Bagian Ekaristi: mulai persiapan persembahan sampai komuni, dibawakan di “altar” (meja persembahan) … See More

d. Bagian Penutup: Doa penutup, Berkat, dan pengutusan dibawakan di “sedelia” lagi.

Konsekwensinya adalah:

a. Gereja, bagian altar harus disetting atau ditata sedermikian rupa agar hal-hal tadi bisa berjalan dan berfungsi dengan baik, enak, dan membantu semua umat.

b. Sedelia harus strategis sehingga bisa mudah dilihat umat. Di sedelia disediakan standar untuk meletakkan buku TPE dan doa, atau misdinar setiap kali akan melayani imam dengan memegang buku itu sedemikian agar imam bisa mengucapkan bagian Pembuka dan Penutup dengan baik dan benar.

c. Ambo dibuat yang layak dan memadai sebagai ‘meja Sabda’ dan bukan hanya sederhana seperti standar, tetapi sebagai mimbar.

d. Hiasan altar (bunga, pot, dekorasi, dll) tidak mengganggu dan menghalangi pandangan umat ke altar.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR.

Seharusnya, sesudah mencium altar imam membuka PE sambil berdiri di depan TEMPAT DUDUKNYA (bdk. PUMR 49-50, 123-124). Di tpt itulah imam berada selama bagian Ritus Pembuka dan Liturgi Sabda.

Namun, di banyak gereja, praktek normatif-ideal itu kurang dikenal. Why? Tak dibiasakan. Alasan praktis, misalnya: sedelia imam tak langsung menghadap umat, tak cukup jumlah pengeras suara yg memadai, lantai tpt sedelia kurang tinggi sehingga imam cenderung ‘tenggelam’ oleh tingginya altar, dst, dst.

Karena itu, di byk gereja, sedelia imam (ketika memimpin Rts Pembuka dan Lit Sabda) dipindahkan ke depan altar.

Ada juga grj yg menyediakan mimbar khusus (utk itu) yg bukan mimbar sabda.

Selain itu ada juga, imam yg memimpin PE sejak ‘Tanda Salib Pembuka’ DARI TENGAH-ALTAR, termasuk mbacakan Injil dan mbawakan homili….

Kalau krn tuntutan alasan praktis (misal, kurangnya pengeras suara), mk praktek ini merupakan minus malum yg pantas dimaklumi. Kalau jg ini terjadi karena imam yg memimpin tsb sudah puluhan tahun imamat dia terbiasa dgn cara tsb (termasuk jg UMAT SETEMPAT sdh puluhan tahun familiar dgn cara itu), mungkin pula ini dapat dimaklumi…. Namun, setiap pihak, imam, dewan paroki dan smua elemen umat DIPANGGIL bukan berdiam, tetapi utk BERJALAN, BERZIARAH, BERALIH, MEMBARUI DIRI sebagaimana Gereja dipanggil untuk senantiasa membarui diri (Ecclesia semper reformanda), tak terkecuali: bidang Liturgi.

Posted in 1. Panti Imam - Altar, d. BENDA-BENDA LITURGI | 1 Comment »

BUKU MISSALE ROMANUM – BUKU TERPENTING DALAM LITURGI

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


THEMA : BUKU LITURGI TERPENTING

Di Page ini ada umat yang tanya ” saya masih kurang mengerti, buku apa yang dipakai oleh romo pada saat misa????karena yang ada pada lembaran misa dari awal yaitu doa pembukaan sampai dengan doa penutup
sama dengan kata-kata di buku yang romo ucapkan pada waktu misa.” Yuuk…kita baca informasi berharga dibawah ini.

PENCERAHAN : (Sumber MAJALAH LITURGI vol 1, 2007)

Buku yang terpenting dalam perayaan Ekaristi adalah buku misa besar (Missale Romanum).

Dalamnya tertulis doa-doa bahasa Latin yang diucapkan oleh imam (doa-doa pemimpin) dan Tata Perayaan Ekaristi (Ordo Missae). Berat buku itu sekitar lima kg dan diberi kulit tebal yang sudut-sudutnya biasanya dilapisi dengan logam bahkan kulit depan dan belakang… See More dapat dihubungkan dengan logam juga.

Dengan cara itu buku misa dapat ditutup atau dikunci rapat agar sedapat mungkin hampa udara di antara lembaran buku untuk tidak mempercepat proses lapuknya kertas. Tepi buku misa ini dilapisi emas. Nampaknya berkilau-kilau. Tulisannya besar dan tebal, malahan huruf pertama dari doa-doa diberi hiasan yang indah.

Memang buku itu besar (ukuran folio) dan tebal (sekitar 1100 halaman). Ada semacam sandaran yang kuat untuk menatang buku itu agar dapat dengan mudah dibaca oleh imam. Kadang-kadang sandaran itu menyerupai takhta. Keseluruhannya kelihatan anggun. Maka putera altar yang bertugas memindahkan buku misa itu dari bagian kanan altar ke bagian kiri haruslah berhati-hati penuh hormat menatang buku yang berat itu sambil menuruni dan menaiki anak-anak tangga altar.

Bayangkan kalau putera altarnya tergelincir atau terantuk pada anak tangga dan jatuh. Sudah jatuh di anak tangga masih ditimpa buku berat dan bisa dapat tamparan lagi dari sang koster yang merasa bahwa hormat terhadap buku misa hilang lenyap dan suasana perayaan jadi kacau balau. Itulah sebabnya saya sebagai putera altar waktu itu merasa buku misa adalah buku terpenting dalam perayaan Ekaristi. Tetapi apakah memang demikian?

PENCERAHAN DARI UMAT Daniel Pane

Missale Romanum adalah buku yang memuat teks tata perayaan ekaristi dan teks-teks yang berubah setiap perayaan Misa sepanjang tahun (minus bacaan yang dicetak dalam Lectionarium). Sacramentarium adalah buku yang berisi doa-doa untuk perayaan sakramen-sakramen.

Untuk panduan perayaan ada buku Pedoman Umum Missale Romawi (dalam edisi Latin di bagian depan Missale Romanum sudah tercantum, dalam edisi terjemahan Indonesia dicetak terpisah).

Lex Orandi, lex Credendi, saya rasa doa-doa dalam Misale Romanum bukan sekedar usulan melainkan dicantumkan agar digunakan tanpa dikutak-katik. Jika umat awam diperkenankan memberikan masukan, maka menurut saya doa-doa alternatif yang diciptakan para Imam misalnya dalam buku Misa Hari Minggu dan Hari Raya berupa versi 2 dan 3 untuk tahun A, serta versi 1,2,3 dari tahun B dan C yang semuanya merupakan gubahan pengarang sungguh-sungguh tidak dapat menandingi kualitas dan nuansa komunikasi doa-doa baku dari Missale Romanum (versi A-1 dalam buku tsb).

Intinya berdasarkan pengalaman dari sisi kaum awam lebih baik manut buku saja “Say the Black, do the Red” (baca teksnya, lakukan rubriknya).

PENCERAHAN DARI PASTOR Martin Boloawa

Missale Romanum atau Buku Misa Romawi adalah buku liturgis yang berisi naskah-naskah beserta rubrik-rubrik yang dipergunakan dalam perayaan Ekaristi dalam Ritus Romawi dari Gereja Katolik. Ritus2 dalam Gereja Katolik itu sendiri ada berbagai macam, mungkin bs menjadi bahan diskusi berikut. Kita di Indonesia tergabung dalam ritus romawi atau sering disebut juga ritus barat.
Lectionarium: Buku Bacaan Misa. Mazmur Tanggapan biasanya diambil dari buku bacaan misa. Para petugas /pemazmur biasanya menggunakan buku resmi “Mazmur Tanggapan dan Alleluya Tahun ABC”.

Riwayat singkat MR:
Sebelum Abad Pertengahan, ada beberapa buku yang digunakan dalam Misa: sebuah buku Sacramentarium yang berisi doa-doa, satu atau lebih buku yang berisi bacaan-bacaan Kitab Suci, serta satu atau lebih buku yang berisi antifon-antifon dan kidung-kidung lainnya. Lama-kelamaan muncul manuskrip-manuskrip yang memadukan bagian-bagian dari beberapa buku-buku tersebut, sehingga akhirnya muncullah versi-versi perpaduan yang lengkap. Buku semacam itu disebut Missale Plenum (Buku Misa lengkap). Pada 1223, St. Fransiskus Assisi menginstruksikan para biarawannya untuk mengadopsi format yang dipergunakan di lingkungan kepausan (Peraturan, Bab 3). Selanjutnya mereka mengadaptasi buku tata perayaan misa tersebut sesuai keperluan karya kerasulan mereka. Paus Gregorius IX mempertimbangkan, namun tidak mewujudkan, gagasan untuk memperluas penggunaan buku tata perayaan misa yang telah direvisi para Fransiskan itu, untuk seluruh Gereja; dan pada 1277 Paus Nikolaus III memerintahkan agar buku tata perayaan misa itu dipergunakan oleh semua gereja di kota Roma. Penggunaannya menyebar ke seluruh Eropa, terutama setelah diciptakannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg; akan tetapi para editor memperkenalkan variasi-variasi menurut pilihan mereka sendiri, beberapa di antaranya bersifat substansial. Penemuan mesin cetak juga mendorong tersebarnya berbagai naskah liturgis lain yang kurang bersifat ortodoks. Konsili Trento mengakui bahwa kesimpang-siuran yang disebabkan munculnya berbagai terbitan buku misa itu perlu diakhiri. Guna mengimplementasikan keputusan Konsili tersebut, Paus Pius V pada 14 Juli 1570 mengeluarkan sebuah edisi Missale Romanum yang wajib dipergunakan oleh seluruh Gereja Ritus Latin kecuali di tempat-tempat yang memiliki ritus tradisional yang terbukti berumur sekurang-kurangnya dua abad.
Beberapa koreksi atas naskah Pius V tersebut dirasa perlu, maka Paus Klemens VIII menggantikannya dengan edisi “tipikal” Missale Romanum yang baru pada 7 Juli 1604. (kata “tipikal” di sini berarti bahwa naskah tersebut adalah naskah yang harus diikuti oleh semua percetakan). Edisi tipikal revisi berikutnya dikeluarkan oleh Paus Urbanus VIII pada 2 September 1634. Sejak akhir abad ke-17, di Perancis dan sekitarnya beredar berbagai buku misa independen yang diterbitkan uskup-uskup yang dipengaruhi Jansenisme dan Gallikanisme. Situasi ini berakhir tatkala Uskup Pierre-Louis Parisis dari Langres dan Abbas Guéranger pada abad ke-19 mempelopori suatu gerakan untuk kembali pada Missale Romanum. Paus Leo XIII memanfaatkan momentum tersebut untuk mengeluarkan pada 1884 sebuah edisi tipikal baru yang mengkaji seluruh perubahan yang dilakukan sejak masa Urbanus VIII. Paus Pius X juga melakukan suatu upaya revisi atas Missale Romanum, yang diterbitkan dan dinyatakan tipikal oleh penggantinya Paus Benediktus XV pada 25 Juli 1920. Revisi Pius X melakukan sedikit koreksi, penghapusan dan penambahan pada naskah doa-doa dalam Missale Romanum. Namun ada perubahan-perubahan besar pada rubrik-rubrik, perubahan-perubahan tersebut tidak dimasukkan pada bagian yang berjudul Rubricae generales, akan tetapi dicetak sebagai sebuah lampiran terpisah dengan judul Additiones et variationes in rubricis Missalis.
Kontras dengan upaya tersebut, revisi oleh Paus Pius XII, meskipun terbatas hanya pada liturgi di empat hari dalam tahun Gereja, lebih berani sifatnya, karena perubahan tersebut memerlukan adanya perubahan dalam hukum kanon pula, yang sampai saat itu mengatur bahwa, kecuali untuk perayaan Natal pada tengah malam, Misa haruslah dimulai lebih dari satu jam menjelang fajar atau kurang dari satu jam sesudah tengah hari. Pada bagian yang direvisinya, dia mengantisipasi beberapa perubahan yang baru diberlakukan sepanjang tahun sesudah Konsili Vatikan II. Pembaharuan-pembaharuan ini mencakup introduksi penggunaan bahasa lokal secara resmi untuk pertama kalinya dalam liturgi. Paus Pius XII menunda penerbitan edisi tipikal yang baru sampai rampungnya pekerjaan komisi yang dibentuknya untuk mempersiapkan suatu revisi umum atas rubrik-rubrik Missale Romanum[1]. Meskipun demikian, dia mengotorisasi percetakan untuk menggantikan naskah-naskah terdahulu dengan naskah-naskah yang dijadikannya wajib pada 1955 untuk keempat hari yang disebutkan di atas.
Penggantinya, Paus Yohanes XXIII, mengeluarkan sebuah edisi tipikal baru pada 1962. Inovasi yang paling menonjol di dalamnya adalah dihapuskannya adjektiva “perfidi” dalam doa Jumat Agung bagi orang-orang Yahudi dan penyisipan nama Santo Yosef dalam kanon (atau Doa Syukur Agung) misa. Rubrik revisi dipersiapkan oleh komisi Paus Pius XII, yang dijadikankan wajib sejak 1 Januari 1961, menggantikan dua dokumen dalam edisi 1920; dan surat apostoliknya Rubricarum instructum menggantikan Bulla sebelumnya, Divino afflatu dari Paus Pius X.
Perubahan-perubahan atas liturgi pada 1965 dan 1967 yang timbul dari keputusan-keputusan Konsili Vatikan II tidak dimasukkan ke dalam Missale Romanum, namun direfleksikan dalam terjemahan lokal provisional yang diproduksi tatkala bahasa-bahasa umat mulai dipergunakan selain Bahasa Latin. Bahkan negara-negara yang menggunakan bahasa yang sama memiliki terjemahan yang berbeda dan bervariasi dalam jumlah kata padanan yang digunakan.
Sebagai implementasi keputusan Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI pada 1969 mengeluarkan sebuah edisi tipikal revisi lengkap dari Missale Romanum, yang mulai beredar pada 1970. (Suatu naskah pendahuluan non-definitif dari dua bagian dalam edisi ini telah beredar pada 1964.) Edisi tipikal berikutnya dengan perubahan-perubahan kecil terbit pada 1975. Pada 2000, Paus Yohanes Paulus II mengesahkan edisi tipikal lainnya, yang terbit pada 2002.
Sebagaimana dinyatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam motu proprio Summorum Pontificum, edisi Missale Romanum 1962 tidak pernah secara yuridis dihapuskan dan bebas dipergunakan oleh para imam Ritus Latin bilamana merayakan misa tanpa dihadiri umat. Imam yang mengurus sebuah gereja dapat diberi izin untuk mempergunakannya di paroki-paroki bagi kelompok-kelompok umat tertentu yang berpegang pada format Ritus Romawi terdahulu, asalkan imam yang mempergunakannya memiliki “kualifikasi untuk melakukannya dan tidak terhalang secara yuridis” (misalnya karena suspensi). Edisi 1962 adalah edisi yang lazim dipergunakan oleh para imam dari persaudaraan-persaudaraan tradisionalis semisal Persaudaraan Imam St. Petrus dan Administrasi Apostolik Personal Santo Yohanes Maria Vianney.

Evangeliarium:
An Evangeliary, the English term for the Latin Evangeliarium ( plural Evangiliaria), is a liturgical book containing those portions of the Four Gospels which are read during Mass or in the public offices of the Church. It is therefore distinguished from a gospel book, which contains the full texts of the Gospels, without references … See Morein them to the passages or date of liturgical use. The Greeks called such collections Euangelion ‘good message’, i.e. “Gospel”, or eklogadion tou euangeliou, “Selections from the Gospel”.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Hemm….buku Misale Romanum itu memang buku penting dalam tata perayaan Liturgi Ekaristi, tapi bukan seperti Kitab Suci yang perlu ditafsirkan agar semua orang memahaminya. Ini buku panduan, jadi segala sesuatunya dijelaskan secara detail mengenai gerak, ucapan dan seruan, dan tata laksana liturgi Ekaristi dan orang2 yang bertugas- utamanya Imam dan Diakon. Jadi tepatnya bukan menafsirkan karena tidak ada yang perlu ditafsirkan secara khusus, tapi diikuti dengan seksama bagian2 yang vital/pokok tanpa dengan sembarangan mengubah; dan membangun sikap kreatif pada bagian2 yang bersifat alternatif/usulan.

Seperti doa2 dalam perayaan Ekaristi, misalnya, sifatnya disarankan/usulan/alternatif; maka kalau Imam bisa membuat doa spontan yang lebih kemunikatif dan menjawab kebutuhan umat setempat dan lebih urgent, kiranya baik. Hanya masalahnya dengan teks2 misa yang sering dipakai untuk mempermudah/demi keseragaman, lalu mematikan kreativitas Imamnya karena harus ngikutin yang sudah diketik di teks misa supaya umat tidak bingung he he…

Buku Misale Romanum pada dasarnya bukan buku umat, itu semacam handbook nya para Imam dan celebrant dalam perayaan Ekaristi dan hari2 raya yang menggunakan liturgi Ekaristi sebagai puncaknya. Sedangkan untuk umat rasanya ada tersendiri semacam buku tata perayaan Ekaristi. Tetapi untuk orang yang aktif dan sering mendapat tugas liturgi atau membantu di sekitar altar, kiranya penting mengetahui dan akrab dengan buku ini sehingga bisa membantu dalam persiapan dan memperlancar juga jalannya liturgi Ekaristi serta membuat semakin hikmat.

Tambahan mengenai isi buku Misale Romanum, selain berisi petunjuk praktis tata cara Liturgi bagi seorang pemimpin Liturgi/Imam; buku ini juga berisi lengkap bahan bacaan, doa2 dan mazmur tanggapan setiap hari(sepanjang) minggu dan hari raya sepanjang tahun, meliputi tahun A, B, dan C. Teks2 yang dipakai di gereja justru mengikuti petunjuk dan rubrik dari buku Misale Romanum ini, jadi ya jangan heran kalo yang didoakan Imam sama persis dengan teks misa yang dipegang umat, sumbernya sama kog he he…

Mengenai bentuknya bisa bermacam2; pada edisi2 keluaran awal ketika konsili Vatikan II mulai gencar mengadakan pembaharuan liturgi, ada buku Misale Romanum dengan hard cover berwarna hitam, tapi kebanyakan sekarang bentuk bukunya tebal, dengan pita2 pembatas halaman berwarna-warni (ungu, kuning, hijau, merah, putih) dan hard cover berwarna merah marun. Kalo pengen lihat dan mempelajarinya, dateng aja ke pastoran pas hari2 di luar perayaan ekaristi dan bisa tanya pastor parokinya untuk belajar mengenal buku ini; pasti dengan senang hati dijelaskan he he…

PENCERAHAN DARI UMAT : Sonny Arends

Mohon menambahkan sedikit mengenai: ……Sebagaimana dinyatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam motu proprio Summorum Pontificum, edisi Missale Romanum 1962 tidak pernah secara yuridis dihapuskan dan bebas dipergunakan oleh para imam Ritus Latin bilamana merayakan misa tanpa dihadiri umat. Imam yang mengurus sebuah gereja dapat diberi izin untuk mempergunakannya di paroki-paroki bagi kelompok-kelompok umat tertentu yang berpegang pada format Ritus Romawi terdahulu, asalkan imam yang mempergunakannya memiliki “kualifikasi untuk melakukannya dan tidak terhalang secara yuridis” (misalnya karena suspensi). Edisi 1962 adalah edisi yang lazim dipergunakan oleh para imam dari persaudaraan-persaudaraan tradisionalis semisal Persaudaraan Imam St. Petrus dan Administrasi Apostolik Personal Santo Yohanes Maria Vianney. …… BERIKUT ADALAH ISI DARI SUMMORUM ONTIFICUM: Art 1.
Misale Romawi yang secara resmi diumumkan oleh Paulus VI adalah ekspresi biasa dari “Lex orandi” [Cara berdoa] dari Gereja Katolik ritus Latin. Bagaimanapun, Misale Romawi yang secara resmi diumumkan oleh St. Pius V dan diterbitkan kembali oleh Yohanes XXIII Yang Terberkati adalah dianggap sebagai ekspresi luar biasa dari “Lex orandi” yang sama tersebut, dan harus diberi penghormatan yang selayaknya bagi penggunaannya yang mulia dan kuno.
Dua ekspresi dari “Lex orandi” Gereja ini dalam cara apapun tidak akan mengarah perpecahan dalam “Lex credendi” (Cara beriman) Gereja. Mereka, pada kenyataanya adalah dua penggunaan dari satu ritus Romawi.
Karenanya, adalah diizinkan untuk merayakan Kurban Misa dengan mengikuti edisi tipikal dari Misale Romawi yang secara resmi diumumkan pada 1962 oleh Yohanes XXIII Yang Terberkati dan tidak pernah ditiadakan , sebagai suatu bentuk luar biasa dari liturgi Gereja.

Art. 2.
Dalam Misa-misa yang dirayakan tanpa umat, setiap imam Katolik dari ritus Latin, baik sekuler maupun relijius, boleh menggunakan Misale Romawi yang dipublikasikan pada 1962 oleh Paus Yohanes XXIII Yang Terberkati, atau Misale Romawi yang secara resmi diumumkan oleh Paus Paulus VI pada 1970, dan bisa melakukannya pada hari apapun dengan pengecualian pada Triduum Paskah. Untuk perayaan-perayaan seperti itu, baik dengan Misale yang satu atau yang lain , imam tidak memerlukan izin dari Tahta Apostolik atau dari Ordinari-nya.

Art. 3.
Komunitas-komunitas dari institusi hidup terkonsekrasi dan serikut hidup apostolik, baik dari hak kepausan maupun dari keuskupan, yang ingin merayakan Misa seturut dengan edisi Misale yang secara resmi diumumkan pada 1962, untuk perayaan biara atau “komunitas” di kapel mereka, dapat melakukannya.
Jika sebuah komunitas individu atau seluruh institusi atau serikat berkeinginan untuk melakukan perayaan seperti itu dengan lebih sering, menjadikan suatu kebiasaan atau permanen, keputusan itu harus dibuat oleh superior-superior utama, seturut hukum dan mengikuti ketetapan-ketetapan spesifik serta statuta-statuta mereka.

Art. 4.
Perayaan-perayaan Misa seperti yang disebut pada Art. 2 diatas, boleh – dengan mengikuti norma-norma hukum – juga dihadiri oleh umat beriman yang, karena kehendak mereka sendiri, meminta untuk diizinkan ikut.

Art. 5.
§ 1 Di paroki-paroki, dimana ada sekelompok umat beriman yang tetap yang melekat pada tradisi liturgi sebelumnya, para gembala harus berkenan untuk menerima permintaan mereka untuk merayakan Misa seturut dengan ritus Misale Romawi yang dipublikasikan pada 1962, dan menjamin bahwa kesejahteraan para umat beriman ini diharmoniskan dengan pelayanan pastoral biasa dari paroki, dibawah pengarahan uskup seturut dengan Kanon 392, menghindari perselisihan dan mengutamakan kesatuan dari Gereja secara keseluruhan.
§ 2 Perayaan seturut dengan Misale Yohanes XXIII Yang Terberkati dapat diadakan pada hari-hari biasa; sementara pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya suatu perayaan seperti itu juga dapat diadakan.
§ 3 Bagi umat beriman dan imam-imam yang memintanya, gembala juga harus mengizinkan perayaan-perayaan dalam bentuk luar biasa ini bagi acara khusus misalnya perkawinan, pemakaman atau perayaan-perayaan tertentu, misalnya peziarahan.
§ 4 Imam yang menggunakan Misale Yohanes XXIII Yang Terberkati harus memiliki kualifikasi untuk melakukannya dan tidak terkena hambatan yuridis.
§ 5 Di gereja-gereja yang bukan gereja paroki atau kapel biara, menjadi tugas Rektor gereja untuk menjamin izin diatas.

Art. 6.
Dalam Misa-misa yang dirayakan dengan dihadiri umat dan menggunakan Misale Yohanes XXIII Yang Terberkati, pembacaan boleh diberikan dalam bahasa setempat, menggunakan edisi yang diakui Tahta Suci.

Art. 7.
Jika sekelompok umat beriman awam, seperti yang disebut dalam Art. 5 § 1, tidak mendapatkan kepuasan atas permintaan mereka dari gembala, mereka harus memberitahukan uskup keuskupan. Uskup diminta dengan sangat untuk memuaskan keinginan mereka. Jika ia tidak dapat mengatur agar perayaan seperti itu diadakan, masalah ini harus diajukan kepada Komisi Kepausan Ecclesia Dei [sekarang bagian dari Kongregasi Doktrin dan Iman].

Art. 8.
Seorang uskup yang berkeinginan memuaskan permintaan tersebut, tapi karena pelbagai alasan tidak dapat melakukannya, bisa menyampaikan masalah ini ke Komisi “Ecclesia Dei” untuk mendapatkan nasehat dan bantuan.

Art. 9.
§ 1 Gembala, setelah dengan cermat memeriksa semua aspek, juga dapat memberikan izin untuk menggunakan ritual lama sebelumnya untuk pelayanan Sakramen-sakramen Baptis, Perkawinan, Tobat dan Perminyakan, jika tampak diperlukan bagi kebaikan jiwa-jiwa.
§ 2 Ordinaris/Uskup diberikan hak untuk merayakan Sakramen Penguatan menggunakan ritus Pontifikal Romawi sebelumnya, jika tampak diperlukan bagi kebaikan jiwa-jiwa.
§ 3 Imam yang ditahbiskan “in sacris constitutis” boleh menggunakan Brevir Romawi 1962 yang dikeluarkan oleh Yohanes XXIII Yang Terberkati.

Art. 10.
Ordinari dari wilayah tertentu, jika ia merasa layak, boleh mendirikan paroki pribadi [personnal parish] yang sesuai Kanon 518 untuk perayaan-perayaan yang mengikuti bentuk lama dari ritus Romawi, atau menunjuk seorang kapelan dengan memperhatikan semua norma-norma hukum [Kanon].

Art. 11.
Komisi Kepausan “Ecclesia Dei”, didirikan oleh Yohanes Paulus II tahun 1988 (5), melanjutkan pelaksanaan fungsinya. Komisi tersebut akan memiliki bentuk, tugas dan norma-norma yang sesuai kehendak Bapa Suci dalam penugasannya.

Art. 12.
Komisi ini, terpisah dari kuasa yang dimilikinya, akan melaksanakan otoritas Tahta Suci, mengawasi ketaatan dan penerapan aturan-aturan ini.

PENCERAHAN DARI AWAM : Thomas Rudy

@Pastor Martin Boloawa

Perhatikan Summorum Pontificum berikut ini:

Art. 2….
Dalam Misa-misa yang dirayakan tanpa umat, setiap imam Katolik dari ritus Latin, baik sekuler maupun relijius, boleh menggunakan Misale Romawi yang dipublikasikan pada 1962 oleh Paus Yohanes XXIII Yang Terberkati, atau Misale Romawi yang secara resmi diumumkan oleh Paus Paulus VI pada 1970, dan bisa melakukannya pada hari apapun dengan pengecualian pada Triduum Paskah. Untuk perayaan-perayaan seperti itu, baik dengan Misale yang satu atau yang lain , imam tidak memerlukan izin dari Tahta Apostolik atau dari Ordinari-nya.

Art. 4.
Perayaan-perayaan Misa seperti yang disebut pada Art. 2 diatas, boleh – dengan mengikuti norma-norma hukum – juga dihadiri oleh umat beriman yang, karena kehendak mereka sendiri, meminta untuk diizinkan ikut.

ini tidak dibatasi lagi hanya bagi mereka yang terikat pada Misale yg lama, tetapi dibebaskan untuk siapa saja yg mau. Imamnya kalau mau silahkan… imamnya mau, umatnya mau silahkan….

Posted in 4. Buku Liturgi, d. BENDA-BENDA LITURGI | Leave a Comment »

LAMPU TABERNAKEL

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Topik diskusi :

” Di gereja2 yang ada Tabernakelnya sering ada lampu yang terus bernyala di dekat tabernakel. Apa fungsinya dan apa maknanya? Gimana kalo lampunya mati? Mohon pencerahan .”

BEBERAPA PENDAPAT AWAM

Daniel Pane
Lampu tabernakel menandakan bahwa tabernakel tersebut terisi dengan Sakramen Mahakudus.
Jika lampu tidak menyala hal itu menandakan bahwa tabernakel sedang kosong.
Jika saat tabernakel terisi lampunya mati, maka segeralah dinyalakan, jangan sampai dikira kosong karena lampunya tidak menyala.

Vincent Pamungkas
Ini tradisi dari jaman Yahudi, untuk selalu menyalakan lampu di samping tabernakel (Kel 27:20-21). Ini juga diatur dalam aturan Ritual Romawi, bahwa lampu itu mesti dinyalakan. Lampu ini menandakan bahwa ada tubuh Kristus di dalam tabernakel, dan kalau melihat pintu tabernakel tertutup dan lampu menyala, berarti Yesus ada di sana, maka umat harus … See Moreberlutut pada saat memasuki gereja (di titik terdekat ke tabernakel tsb, yaitu pada saat mau duduk).
Pada waktu tabernakel kosong, seperti Jumat Agung, pintu tabernakel dibuka, dan lampunya dimatikan. Kalau umat melihat pintu tabernakel terbuka, umat tidak boleh berlutut, tapi cukup membungkuk ke arah sana.

@Yboni Mahardana: Tuhan memang ada di mana2, tapi Tuhan hadir secara fisik hanya di dalam hosti (tabernakel/komuni), tidak di mana2. Sebagai katolik kita mesti percaya dan menyembah Tuhan yang hadir dalam bentuk fisiknya ini, dengan postur tubuh dan sikap hati yang tepat. Salam Kristus.

Fx Wahyu Widiastono
yang jadi masalah sebenarnya bukan pada mati ato hidupnya lampu,tapi sebenarnya pada umat bisa ato tidak menghormati hosti suci sebagai tubuh dan darah x’tus sendiri …
sering saya lihat pada saat di gereja, banyak umat yang mau duduk tidak menghormati sakramen terlebih dahulu, padahal lampu tabernakel nyala…..
dan pada saat mau komuni malah … See Morebersenda gurau ato ngobrol dengan teman …..
eh kok jd nglantur sih, sebaiknya seandainya lampu mati (pln) ya dinyalakan lilin di dekat tabernakel ……

Agung Semar
dan katekese untuk ini sepatutnya di beritahukan pada umat.

Posted in 1. Panti Imam - Altar, 3. Benda Liturgi lainnya, d. BENDA-BENDA LITURGI | Leave a Comment »

STOLA – BOLEHKAH DIPAKAI OLEH AWAM?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Salam… Ijinkan saya untuk bertanya. Apakah pemimpin ibadah sabda di wilayah rohani dan di kelompok kategorial menggunakan stola? Bila ya, adakah aturan tentang bagaimana cara menggunakan stola tersebut (dipakaikan atw pakai sendiri).
Karena ditempat kami ada pemimpin ibadah yg memakai stola dan ada yg tidak. Diwilayah rohani yg memakai, ada perdbtan apakah dipakaikan atw pakai sendiri dgn brbgai mcm argumen. Dan dimanakah kita bisa mencari acuan yg mengatur ttg hal tsb. Terima kasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR:

Bapak Misart, saya kemukakan kutipan dari Tata Bacaan Misa no 54: “Kalau seorang imam lain, diakon atau lektor yg dilantik untuk tugas itu, naik mimbar dalam perayaan Ekaristi bersama umat untuk membacakan Sabda Allah, mereka harus memakai pakaian liturgi sesuai dengan tugasnya. Tetapi mereka yg menunaikan tugasnya hanya atas dasar penunjukan aktual….boleh naik dengan pakaian biasa, asal tidak melanggar adat kebiasaan daerah yg bersangkutan.

PENCERAHAN DARI BP. NIKASIUS HADDIE :

Pemimpin Ibadat di wilayah teritorial maupun dalam kelompok kategorial yang dilakukan oleh seorang awam, (bukan Klerus) TIDAK mengunakan stola. Bila dipimpin oleh seorang pro-diakon, baiklah ia menggunakan alba sebagai pakaiannya.

Dokumen atau acuan ttng hal itu bisa dilihat pada Caeremoniale Episcoporum no 56-64 dan juga pada PUMR 2002 mulai no.335-347, khususnya no.340.

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL YUDHISTIRA

Stola adalah lambang tahbisan, karena itu hanya Uskup, imam dan diakon yang boleh menggunakan stola.
Diakon menggunakan stolanya menyelempang dari bahu kiri ke pinggang kanan.
Imam dan uskup menggunakan stolanya seperti biasa kita lihat.

Ada satu hal yang sering kali kurang diperhatikan namun bisa mengakibatkan kesalahpahaman. Yaitu petugas awam yang memakai slempang seperti layaknya diakon…. See More
Adalah lebih baik jika busana liturgi awam yang bertugas disesuaikan sehingga tidak meniru busana klerus. Alba dengan singel selalu cukup.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Sekiranya tidak keliru Sdr. Misart bertanya dgn latar belakang dan konteks Gereja Keusk Manado. Sy akan beri beberapa klarifikasi terutama kpd segenap pembaca yg kurang paham konteks Manado.

Pertama, istilah “WILAYAH ROHANI” yg dimaksud Misart adalah kelompok umat basis dlm paroki. Di keuskupan2 lain namanya lingkungan, kring, KBG, dll.

Kedua, “STOLA”. Kalau di bbrp keuskupan di Jawa para prodiakon mengenakan Samir sbg ‘pakaian’ liturgis. Di Manado, ada juga ‘busana liturgis’ khusus yg sejak thn 2000 (Sinode Keuskupan Manado) dipakai. Bentuknya, bukan seperti samir, bukan juga seperti stola imam/diakon, tetapi HAMPIR MIRIP PALLIUM yg dikenakan oleh Benediktus XVI ketika hari inagurasinya. Adapun, ‘pakaian liturgis’ ini dikenakan di atas alba (bila perayaan meriah), atau di atas busana biasa (bila perayaan biasa, mis: ibadah sabda di rumah). Yg mengenakan inipun selain prodiakon pembagi komuni, tapi juga lektor, dan pemimpin ibdah sabda hari minggu dan hari biasa. Namun, sama seperti beberapa prodiakon masih ada yg menyebut samir sebagai stola, demikian juga di Manado ada beberapa orang mengenal ‘samir’ tsb sbg stola..

Ketiga, tentang “DIPAKAIKAN”. Iklim keagamaan di Manado dan sekitarnya adalah iklim Protestan. Interaksi org2 Katolik dan Protestan sgt tinggi, ibdah2 ekumene dibuat di mana2 mulai dari rumah2 dan instansi2 pemerintah/swasta, bahkan lapangan terbuka dan stadion. Ketika itu, petugas liturgis protestan sebelum menjalankan tugasnya (mis: membacakan Firman dan membawakan kotbah), kepadanya dipakaikan stola oleh salah seorang penatua jemaat. Ini dilihat oleh org Katolik lalu diikuti. Ya…, ini namanya ikut-ikutan?

Posted in 2. Baju liturgi | Leave a Comment »

APA SAJA PERLENGKAPAN BAJU LITURGI PASTOR?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Amik adalah kain putih segi empat dengan dua tali di dua ujungnya atau ada juga model modern lain yang tidak segi empat dan tanpa tali.

Amik yang melingkari leher dan menutupi bahu dan pundak itu melambangkan pelindung pembawa selamat (keutamaan harapan), yang membantu pemakainya untuk mengatasi serangan setan.

Kain itu secara praktis juga berfungsi untuk menutupi kerah baju supaya tampak rapi, untuk menahan dingin, atau sekaligus untuk menyerap keringat agar busana liturgis pada zaman dulu yang biasanya amat indah dan mahal tidak mengalami kerusakan.

Amik dikenakan oleh imam, diakon, atau petugas lain yang hendak mengenakan alba.
Pemakaian amik sering tergantung juga pada alba yang akan dipakai. Kalau alba kiranya tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka barulah amik itu dikenakan sebelum alba (PUMR 336).

PENJELASAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Amik: Fungsinya seperti “pakaian dalam” untuk Imam yang akan merayakan Ekaristi/perayaan sakramen2 Gereja. Fungsi utamanya adalah untuk melindungi Stola dan Kasula supaya tidak cepat kotor oleh keringat yang sering banyak keluar di sekitar leher karena panas. Selain juga menutupi pakaian ‘sekular’ yang kadang ada Imam yang enggan berganti baju; atau juga untuk menutupi bagian tengkuk dan sekitar leher supaya tidak nampak telanjang.

Caranya dengan menebarkan kain persegi empat ini di tengkuk dengan kedua tali ditarik menyilang di dada, lalu dilingkarkan di pinggang dan ditali di belakang/punggung.
Karena fungsinya yang simple ini sering Imam kurang memperhatikan gunanya dan jarang memakai-selain juga tidak selalu tersedia di sakristi2 di tiap Gereja sekarang ini. Fungsi Amik ini lalu dipindah/ digantikan dengan memasang selembar kecil kain putih di stola, sehingga kalo cepat kotor yang mudah kotor adalah kain putih kecil tersebut yang bisa dilepas dan dicuci lalu stola sendiri tetap bersih…itu menyebabkan pemakaian Amik makin jarang.

Saya pribadi kalo ada Amik dan atribut lainnya yang lengkap lebih senang memakainya, bukan soal apa…tapi ada rasa agung dan khusyuk mempertahankan tradisi Gereja yang indah…walaupun kadang harus berkorban menahan panas dan keringat yang mengucur wkwkwk.. Masalahnya umat sering lebih sayang lilin2 di altar daripada Imamnya. Sudah panas dengan pakaian lengkap, jubah/alba, amik,stola, single, kasula…juga tidak diberi fan/kipas angin di sekitar altar,jadi mandi keringat deh…Ketika diminta, umatnya bilang:”nanti kipasnya mengganggu nyala lilin bisa padam, romo…” (wah, ga kepikir kalo rm nya karena kepanasan bisa ‘padam’ juga wkwkwk…)

Posted in 2. Baju liturgi | 2 Comments »

WARNA BAJU LITURGI DALAM PERAYAAN EKARISTI

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


PERTANYAAN UMAT :

coba lihat Kompas tgl. 12 Juli 2010 halaman 30, ada foto pastor Belanda memimpin misa di Obdam Belanda dengan KASULA WARNA ORANYE guna mendukung kesebelasan Belanda (oranye)
dalam piala dunia. Seingat saya tidak ada KASULA WARNA ORANYE dalam
Gereja Katolik. Kalau semua pastor bisa seenaknya membuat warna kasula
sesuai selera atau maksud misa, apa jadinya (warna) liturgi di Gereja
Katolik kita. Ada tanggapan ?”””

http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=410813001393&id=346697288792#!/photo.php?pid=6115786&id=346697288792

PENCERAHAN DARI Teresa Subaryani Dhs

@Koko Kenny: Bukan berarti bahwa Pastor saat memimpin misa bisa pakai apa saja. Tentunya ada ketentuan dari Kalender Liturgi. Warna yang dikenakan saat misa merujuk pada Kalender Liturgi. Hanya saja ada kekhusus-an di masing-masing wilayah konferensi waligereja. Mengenai warna-warna liturgi memang ada yang baku, yang sudah ditetapkan, tetapi masing -masing konferensi waligereja punya “kuasa” untuk menggunakan warna lain. Tentunya tidak mengubah semua warna-warna itu. Misalnya saja, di Indonesia ada yang menggunakan motif batik.

KOMENTAR UMAT

Joseph Juliantono:
Tanggapan saya, biarkan aja yang ngerti yang ngejawab. Itu bagian buat yang ngerti liturgi kan?
Kata2 seperti “menurut saya”, “yang penting”, “mungkin”, “tergantung”, “ini kan”, “toh”, itu bukan jawaban sama sekali.
Cuma menunjukkan ketidak-pastian dan ketidak-tauan.

Robin Hood MENCURI dari tuan tanah bengis untuk dibagikan kepada orang miskin dosa, ga? Mencuri dari koruptor buat dibagikan kepada korban Lapindo dosa, ga? …
Biarkan yang tau hukum Gereja ajalah yang ngejawab-nya… ^_^”.

PENCERAHAN DARI Mas Roms:

Memang Uskup Diosesan atau Konf. WaliGrj punya “otonomi” mengatur seputar liturgi “di wilayahnya” sejauh tidak bertentangan dengan prinsip Gereja Universal. Dalam hal warna liturgi, warna yang ada (ungu, putih, hijau, merah) SENGAJA dipilih oleh Gereja untuk mengungkapkan ” makna tahap2 perkembangan dalam hidup kristiani.” (PUMR 345) Maka warna liturgi dalam suatu perayaan bukan didasarkan karena “selera pribadi.” Yang terjadi di sekitar kita, dengan alasan inkulturasi yang sering diotak-atik (baik kasula ato stola) adalah motif hiasannya, namun tidak meninggalkan ketentuan warna liturgi perayaan yang sedang dirayakan.
Maka, secara pribadi yang terjadi di Belanda itu menutur saya kurang tepat. Tapi kalau uskupnya membenarkan, yah…mau apa kita, lha uskup kan “penjaga iman dan liturgi yang benar.”

Joseph Juliantoro: Idealnya seperti itu mas, kita mendengarkan tanggapan Gereja, biar plong dan yakin. Namun admin pernah mengungkapkan kesulitannya. Maka baik kalau kita semua coba-coba ajak pastor paroki atau yang kita kenal untuk mampir ke sini. Masak kalau mereka baca aneka tanggapan kita “tak mau bergeming.” Yang penting dengan coment/sharing pengalaman di sini, kita makin diperkaya dan jangan “ngeyel” bahwa apa yang kita tulis itu pasti dan yang paling benar. Thanks.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Pembicaraan soal warna liturgis ini mempunyai implikasi yang lebih dalam dari sekedar soal warna. Pertama, secara liturgis sudah ditentukan warna2 yang punya arti dan diangkat dalam khazanah liturgi menurut ketentuan yang sudah dituliskan. Prinsipnya: Kita manusia yang harus menyesuaikan diri dengan “budaya Allah”, bukan sebaliknya. Kita yang mengimani yang harus menyesuaikan hidup kita dengan kesucian dan kebenaran yang terkandung dalam Gereja, bukan sebaliknya Gereja yang harus menyesuaikan diri dengan keinginan manusia-apalagi hanya segolongan manusia. Benar bahwa Gereja kita bersifat Universal: satu, kudus, Katholik dan Apostolik. Maka, idealnya gereja adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk Belanda, apalagi hanya untuk sekelompok maniak pencinta sepak bola Belanda!
Persoalan menjadi rumit kalau misalnya yang hadir/umat di gereja kita toh tidak semuanya fanatik kesebelasan Belanda. Bagaimana dengan yang fanatik dengan Spanyol?, Argentina?, German??..Kalau Gereja sudah ditunggangi oleh kepentingan segolongan orang, lalu di mana sifat universalitas Gereja?? Bukankah akan menimbulkan perpecahan?

Maka foto perayaan misa dengan atribut pakaian dan dekorasi warna orange-yang nota bene menjadi ikon kesebelasan tertentu itu membingungkan dan menjadi rancu dalam tata universalitas liturgi Gereja. Harusnya Gereja mengatasi/berada jauh di atas kesenangan tiap kesebelasan, kelompok, golongan atau apalah namanya. Bayangkanlah gimana jadinya kalo ada ‘gereja PSSI’, gereja kesebelasan Kalimantan’, gereja kesebelasan Sriwijaya,…wah bisa bertarung dalam warna liturgi wkwkwk…

Satu indikasi yang bisa saya tangkap dari foto tersebut adalah: corak gereja fun! gereja yang direduksikan makna kesakralannya dan diperbudak oleh kesenangan kelompok orang tertentu. Apakah itu karena gereja sudah kehilangan jemaatnya, lalu demi popularitaskemudian mengikuti fun, demi menyenangkan umat tertentu…alangkah menyedihkannya… Tidak ada yang salah dengan berdoa bagi kesebelasan tertentu, tapi harus diingat bahwa Ekaristi adalah SAKRAMEN=Tanda dan sarana keselamatan dari Allah yang nampak di dunia. Hal2 yang nampak oleh mata manusia ini penting, supaya tanda dan sarana itu tidak mengaburkan hakikat Keselamatan (termasuk ciri universalitas dan kesatuan) yang mau disampaikan pada manusia. So, bukan sekedar warna… Kalo cara seperti itu selalu diandaikan tidak apa2 pada awalnya…lalu begitulah yang terjadi, seperti lagunya Meriam Bellina: “Mulanya biasa saja…., akhirnya datang juga…” Saatnya melihat perpecahan dan kehancuran dalam Gereja yang universal. Semoga Gereja yang Kudus, Katolik, Apostolik senantiasa dijauhkan dari itu. Thanks.

Posted in 2. Baju liturgi | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Penataan salib di meja pada Misa di rumah umat

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Topik :

Di page ini, ada pertanyaan dari seorang PUTRA ALTAR ” untuk penataan altar…Jika tidak ada salib di altar, misalnya seperti misa di rumah umat, salib kecil yang diletakkan di meja sebaiknya menghadap kemana…?makasiih yaaa untuk jawabannya.. :)gbu.

SEBAGIAN PENDAPAT UMAT :

Gregz Yoy
Seperti yg biasa saya lihat,, salib tersebut menghadap umat…
Tetapi jika pertanyaannya adalah sebaiknya, saya juga tidak tahu…

Misdinar Santa Maria Kartasura
Kalau kami dibiasakan Salib tersebut menghadap ke Imam. Sama seperti Salib yang ada di Piala, Puryficatorium, Patena, dan Juga Pala …. semuanya menghadap ke Imam. Klo kita pas menatanya ya menghadap ke kita eh … kita menghadap ke Salib … apalagi ada Korpus -nya … semoga aja bener deh kebiasaan kami …

Teresa Subaryani Dhs
Bila tidak ada salib yang di dinding, dan hanya ada satu salib. Salib diletakkan dengan corpus menghadap umat. Setau saya, kalau ada salib di dinding pun, harusnya di altar ada salib kecil yang menghadap ke imam. Berhubung tanda salib itu biasanya terukir di altar (di tempat menaruh relikui), maka tidak terlihat.

Hailey Goitom Umino Chikara
sifat tradisionalisme versus sifat liberalisme….huhuhu….nampaknya kedua-dua sifat tersebut saling brlawanan antara satu sama lain dlm diskusi ini…hmm…namun apa2 posisi salib itu xpenting, asalkan realitas sejati, yakni tumpuan umat semasa Misa trtuju kepada kehadiran sejatiNya saat Konsekrasio…moga2 kita semua akan lebih sensitif akan perkara ini…krna sngguh, prkara itu makin hilang dari hati umat dewasa ini…~

Agustinus Dwie Susanto
diparoki kami malah ada 3 salib, 1 didinding menghadap umat, 1 dialtar menghadap imam, 1 dibawa misdinar pas perarakan n ditaruh dekat panti imam, apakah salah atau betul… mhn saran juga

PENCERAHAN2 :

Daniel Pane
Sebaiknya hanya ada satu salib dan salib itu menghadap Imam (jangan menghadap umat). Imam lah yang lebih memerlukan Salib agar ia dapat mengarahkan pikirannya pada Kristus. Sebaiknya tidak ada 2 salib karena mengaburkan fokus dalam Liturgi, dan membuat orientasi jadi tidak jelas (pemaknaannya hanya ada satu Kurban, jadi simbolnya satu saja).
Dulu Salib di buat menghadap umat karena dulu Imam dan umat menghadap ke arah yang sama. Maka, jika Imam dan umat saling berhadapan maka Salibnya harus menghadap Imam.
@Hailey:Penataan posisi Salib itu penting karena akan membantu umat menghayati kehadiran real dalam Ekaristi. Kalau alat bantunya tidak beres susah mengajarnya dan akhirnya makin hilanglah kesadaran itu:D
Praktek yang nyata di Basilika Santo Petrus di Vatikan (juga kalau Misa di Lateran), tidak ada salib besar yang menghadap umat. Di Basilika Salibnya hanya ada satu, yang diletakkan di Altar dan corpus nya menghadap selebran. Jadi maksud Pastor Joseph Ratzinger jelas salib memang sebaiknya hanya satu saja dan menghadap ke arah Imam. Rasanya pendapat… See More ini juga didukung oleh Msgr. Guido Marini (ceremoniarius Liturgi kepausan) dan kalau mau menyebut nama Romo lain, Romo Uwe Lang yang menulis buku “Turning Toward the Lord” bisa dijadikan acuan.

Pastor Yohanes Samiran
Dalam pedoman liturgi rasanya cukup jelas.
a. Salib (meja) altar – corpusnya ke arah imam.
b. Salib pancang sama fungsinya dengan salib dinding altar, tentu menghadap umat.

Posted in 2. Putra Altar, 3. Benda Liturgi lainnya | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Mengenai baju putra altar

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

1. terkadang ada hal2 yg ingin kita cari tidak dapat ditemukan di sekitar kita sehingga harus repot2 mencari hingga ke Vatikan. malah kadang yg ada di sekitar kita malah membuat bingung sehingga lebih baik langsung mencari ke sumbernya. misalnya soal baju misdinar yang antar paroki aja bisa berbeda.

2. tanya soal misdinar :
1. apakah misdinar harus dilantik dahulu sebelum mulai bertugas?
2. apakah misdinar bisa dibatasi usianya? dasarnya apa? jika usia bisa tidak terbatas, apakah boleh seseorang yang sudah menikah menjadi misdinar?
3. apakah untuk panduan tugas bagi misdinar bisa disamakan dengan tugas akolit yang tertuang di PUMR, bisa disamakan seluruhnya atau sebagian? kalau sebagian saja, siapa yang berwenang menentukan mana2 saja yang bisa dilakukan misdinar, dan mana yang tetap khas akolit?

PENCERAHAN DARI PASTOR Albertus Widya Rahmadi Putra

Anda ingin tahu bagaimana PE dijalankan di Vatikan? Jawabanya sederhana: sama seperti yg tercantum di Missale Romanum, tidak lebih dan tidak kurang.. :). Dalam perayaan2 besar, tugas pelayanan altar di vatikan umumnya memang diemban oleh para seminaris (baca: akolit).

buku kecil panduan perayaan untuk umat biasanya dibagikan (hanya khusus hari2 besar) dan boleh dibawa pulang. Namun buku ini tidak memuat detil apa yg harus dilakukan misdinar krn memang tidak dicetak untuk maksud itu. Untuk edisi tahun 2010, Anda bisa download di: http://www.vatican.va/news_services/liturgy/calendar/ns_liturgy_calendar_en.html

Silakan klik sesuai bulan dan perayaan yg diinginkan pada bagian tulisan “Booklet for the Celebration”.

Link populer lain terkait pelayan altar atau misdinar atau akolit:

http://en.wikipedia.org/wiki/Altar_server

http://en.wikipedia.org/wiki/Acolyte

Dari dua link di atas setidaknya kita bisa memahami bahwa tugas misdinar atau pelayan altar yang populer sekarang memang bersumber pada tugas akolit. Praktis detail tugasnya tidak berbeda. Soal pelantikan, akolit menerima pelantikan resmi, sementara untuk menjadi misdinar “biasa” tidak ada keharusan dilantik. Prakteknya, banyak pastor paroki mengadakan pelantikan dan pelatihan rutin utk para misdinar di parokinya. Hal ini amat baik utk menumbuhkan komitmen & keseriusan pelayanan para misdinar.

dalam praktek sekarang tidak ada pula pembatasan tegas usia atau status untuk misdinar. (tapi memang jarang khan bapak2 yg mau jadi misdinar, kecuali dalam keadaan “darurat”, misalnya di stasi2 terpencil). Memang baik digalakkan utk anak2 dan remaja terutama juga utk menumbuhkan benih panggilan bagi mereka.

Terkait pakaian, karena awalnya bersumber dari peran akolit, pakaian misdinar awalnya juga mengikuti pakaian akolit. Standart resmi untuk misdinar sejauh saya tahu, tidak ada secara resmi tertulis. (Beda kasus utk pakaian klerus!). Keuskupan setempat bisa menentukan norma yg lebih detil. Ambil contoh, di Italia, pakaian yang dianggap “lazim” utk misdinar digolongkan menjadi tiga:
1. jubah hitam atau merah plus superpli putih sederhana,
2. alba putih sederhana dengan singel atau tanpa singel,
3. model tarsisius (alba putih dengan dua garis merah).

Contoh gambar bisa dilihat di sini: http://www.cattoliciromani.com/forum/showthread.php/abiti_chierichetti-9025.html

Di Indonesia, setidaknya jaman saya dulu sering jadi misdinar, pakaian nomor 1 (jubah merah plus superli putih polos) lazim digunakan.

btw.. apa yg saya tulis di atas adalah sharing dan pengamatan pribadi.. silakan dikoreksi, terutama oleh Anda para pakar liturgi di forum ini, jika ada hal2 yang tidak sesuai atau bahkan mungkin melanggar norma liturgi resmi terkait tema misdinar..

Peace..

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Sebenarnya tugas umum misdinar bisa dibaca pada panduan untuk “akolit” seperti yang sudah dibahas, terutama lihat di PUMR (berkaitan dengan pendupaan, pelayanan, dll).

Yang ditulis di PUMR memang sebenarnya menunjuk kepada akolit dilantik secara liturgis.
Karena kini di banyak tempat akolit seperti itu tidak ada banyak, maka prinsipnya tugasnya tidak banyak berubah, karena memang tidak ada tugas khas dan eksklusif yang melekat pada pelantikan itu. Artinya tugas umum akolites itu ya boleh dan bisa dilakukan oleh misdinar yang ada sekarang, asal syarat-syarat terpenuhi.
Untuk syarat umum kalau menurut tradisi dan peraturan liturgi umum Roma, misdinar adalah: Laki-laki cukup umur. Tidak ada batasan umum ke atas.
Mereka dilatih untuk tugas akolites, dan pengertian pokok sekitar liturgi yang perlu. Ini adalah pengetahuan dasar yang dituntut. Minimal misdinar harus bisa menjawab seluruh bagian yang dijawab umat saat liturgi resmi berlangsung.
Dari sini sebenarnya kalau mengacu ke peraturan asal dibandingkan yang terjadi di Indonesiai:
a. Misdinar harus laki-laki, dan bukan perempuan.
b. Misdinar tidak dibatasi oleh umur.

Tentang pakaian, pada dasarnya kalau dilihat dari perkembangan tata busana, seperti busana liturgi imam dan Uskup pun berkembang sesuai dengan kondisi real jaman, walau pun bagian pokok tetap sama: kasula, stola, singel, alba, warna liturgis….. = tetap, tetapi model, bahan bisa berubah sesuai keadaan dan jaman.
Contoh kasula lama, kalau kita lihat di museum Vatikan atau beberapa museum biara atau paroki tua di Italia, kita bisa melihat kasula itu adalah karya tangan (hand made) entah disulam, songket, dll – dan umumnya dari bahan mahal dan berat. Untuk daerah dingin pakaian ini menguntungkan, tetapi untuk daerah tropis pakaian ini akan banyak merepotkan, apalagi untuk pastor yang harus berkeliling dari satu tempat misa satu di pemukiman penduduk ke tempat lain, yang umumnya panas sekali karena atap seng dll.
Demikian juga jubah, umum di daerah Eropa jubah imam adalah hitam. Di Indonesia yang umum adalah putih.
Ini semua disesuaikan dengan keadaan setempat, yakni iklim dll.

Nah, kembali ke soal pakaian misdinar. Pada dasarnya pakaian misdinar adalah “semacam alba/jubah” bagian dalam, dan ditutup dengan semacam superpli. Ini pakaian dasar. Superpli selalu putih, dan warna dasar jubah dalam mengikuti liturgi.
Di Indonesia pakaian ini ada yang masih mengikuti standar itu ada pula yang telah disederhanakan yakni menjadi tiga potongan, yakni potongan bawah (semacam under rok – menggantikan peran jubah di atas); bagian tengah (menggantikan superpli) dan bagian atas penutup kerah (tambahan baru untuk ekspresi warna liturgi, karena di beberapa tempat bagian bawah malahan kain jarik / batik).

Yang perlu diperhatikan adalah: pakaian itu mirip dengan pakaian pelayan altar (jubah + superpli) pada umumnya; dan mencerminkan warna liturgi yang berlansung.
Kedua, pakaian itu membantu baik umat maupun yang bersangkutan untuk menghayati liturgi secara lebih baik.

INFORMASI DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Untuk pembanding atau pelengkap referensi tentang baju misdinar, silahkan klik link berikut:

http://www.facebook.com/editphoto.php?aid=10852#!/album.php?aid=10852&id=100000678356281&upload=1

Hehehee iya, karena memang mau kumpulin saja model baju misdinar dalam Gereja Katolik. Model ritus Timur adalah yang model baju saja tanpa dipakai dan yang dipakai misdinar dengar warna dasar kuning itu, membawa lilin dll. Cirinya jelas baju misdinar mirip dengan pakaian liturgis imamnya.
Ritus Barat, yang warna pokoknya putih – diungkapkan dalam bagian superpli. :-)

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

 

 

Posted in 2. Baju liturgi, 2. Putra Altar | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Bagaimana membunyikan lonceng/gong sewaktu Konsekrasi?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

PUTRA/I ALTAR “Hmm,,aqhu mw nanya nih,,aqhu kn misdinar d paroki.. Mnrt TPE yg trbaru,,gmna sih sharusnya bunyi lonceng/gong swaktu konsekrasio yg benar??Soalnya,,bda pastornya,,bda jg cra lonceng/gong yg hrz d bunyikn..Kmi jd bingung..TLg d jawab yha.. Thx..”

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

TENTANG LONCENG DAN GONG DALAM LITURGI GEREJA, khususnya Perayaan Ekaristi. Beberapa pencerahan saya.

Pertama, sejauh sy tahu, dlm Liturgi Gereja sesuai Ordo Missae hy dikenal lonceng. Karena pengaruh INKULTURASI dlm liturgi, maka gong mulai dipakai umum/meluas di Gereja Indonesia. Anehnya, lonceng dang gong dipakai bersamaan, lalu ada yang menganggap bhw penggunaan serentak lonceng+gong itulah yg ideal.

Kedua, tentang BUNYI. Karena pada masa2 lalu buku2 tentang liturgi masih relatif sedikit, itupun kurang tersebar, maka di byk gereja org hy mewarisi kebiasaan2 lama. Bunyinya mjd beragam; beda gereja, beda CARA DAN JUMLAH bunyi. Hehehe . . . Semua gaya itu sama2 tentu bermaksud baik; macam2 cara dipakai untuk mencapai sesuatu yg baik. Variis modis bene fit, kata orang Latin…

Ketiga, hal yg lebih mendasar adalah PEMAKNAAN LITURGIS. Bunyi lonceng (demikian juga gong) bermakna ‘memanggil’ dan ‘tanda perhatian’ kepada sesuatu/seseorang/peristiwa yg (maha-)penting. Pengundangan atau tanda perhatian ini sangat mengharapkan tanggapan dan jawaban positif umat. Inilah ‘Dimensi Katabatis-Anabatis’ dari liturgi. Jadi, lonceng/gong bukan sekedar barang, dan bunyinyapun bukan sekedar bunyi. Sebaliknya, lonceng/gong dan bunyinya sungguh benda dan bunyi liturgis. Oleh karena itu, lönceng/gong demikian bunyinya haruslah dihayati dan diperlakukan juga sesuai dgn martabatnya dlm liturgi resmi Gereja.

Keempat, tentang ARTI SIMBOLIS. Gereja kaya akan simbol2. Bunyi2anpun mengandung makna simbolis. Demi memelihara dan mewariskan secara utuh keagungan liturgi Gereja dan arti2 simbolisnya, maka dalam Ordo Missae (juga, TPE 2005) telah diatur kapan dan bgmn lonceng/gong dibunyikan: SEBELUM prefasi (1x), SEBELUM memasuki kata2 institusi/konsekrasi (1x), KETIKA elevasi Tubuh/Darah Kristus (3x), dan KETIKA imam berlutut post-elevasi (1x panjang). Angka dalam tanda kurung adalah ‘jumlah ketukan’ yg biasa dibuat di gereja kami.

Salam,
Zepto-Triffon, Sorong, Papua.

Posted in 2. Putra Altar, 3. Benda Liturgi lainnya | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Bagaimana cara mendupai yang tepat

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan :

Ada pelatih misdinar bertanya: cara mendupai yang tepat itu bagaimana? Untuk Sakramen 3 ayunan, untuk Imam 2 ayunan, untuk umat 1 ayunan – masing-masing dibuat 3 kali?

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL :

PUMR 277:
Sesudah mengisi pedupaan, imam memberkatinya dengan membuat tanda salib di atasnya, tanpa mengatakan apa-apa.

Sebelum dan sesudah pendupaan, petugas membungkuk khidmat ke arah orang atau barang yang didupai, kecuali dalam pendupaan altar dan bahan persembahan untuk Ekaristi.
Pendupaan dilaksanakan dengan mengayunkan pedupaan ke depan dan ke belakang..

Pedupaan diayunkan tiga kali untuk penghormatan: (a) Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; (b) bahan persembahan; (c) salb altar, Kitab injil, lilin paskah, imam dan jemaat.

Pedupaan diayunkan dua kali untuk penghormatan: relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Semua ini didupai hanya pada awal perayaan Ekaristi sesudah pendupaan altar.

Altar didupai dengan serangkaian ayunan tunggal sebagai berikut :
a. Kalau altar berdiri sendiri, imam mendupai altar sambil mengelilinginya.
b. Kalau altar melekat pada dinding, maka imam mendupai sambil berjalan ke sisi kanan lalu ke sisi kirinya.

Kalau ada salib di atas atau di dekat altar, maka salib itu didupai sebelum altar. Atau, imam mendupai salib pada saat ia melintas di depannya.
Sebelum mendupai salib dan altar, imam mendupai bahan persembahan dengan mengayunkan pedupaan tiga kali atau dengan membuat tanda salib dengan pedupaan di atas bahan persembahan.

Apa yang dimaksud satu ayunan? Rubik 1962 bisa mengisi kekosongan ini.
Satu ayunan adalah satu kali:
1. Pendupaan diangkat dari sisi pemegang ke depan dada.
2. Pendupaan di goyangkan seperti pendulum ke arah obyek/orang yang diberkati. Biasanya ini paling jelas karena kedengaran bunyi “crik” karena suara rantai bergesek.
3. Lalu diturunkan.
Gerakan ini membentuk satu ayunan.

Menurut Rubik 1962, gerakan nomor 2 dilakukan 2 kali (disebut ‘Ductus’), kecuali untuk Altar, 1 kali, karena Altar didupai dengan mengelilinginya dan selama berjalan pendupaan terus digoyangkan.

Jadi ketika mendupai Sakramen Mahakudus misalnya:
1. Angkat pendupaan sampai sekitar dada atau agak lebih tinggi lagi.
2. Goyangkan 2x (crik – crik).
3. Turunkan.
Gerakan 1 – 3 diulangi sampai 3x.

Posted in 2. Putra Altar, 3. Benda Liturgi lainnya | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – CARA MENDUPAI SAKRAMEN

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

1. bagaimana cara mendupai sakramen mahakudus pada saat perarakan sakaramen pada Kamis Putih (sebelum tuguran). Misdinar berjalan mundur sambil mendupai, atau berjalan sperti biasa tapi berjalan didepan sakaramen, pada saat tertentu berlutut dan mendupai sakramen?? di paroki kami biasanya misdinar berjalan mund…ur sambil mendupai, tapi saya membaca di salah satu group katolik di FB juga, yang menjelaskan cara ke-2. mohon pencerahannya…thx

2. Setahu saya (dari Fb Tradisi Katolik) dalam perarakan petugas pembawa dupa berada didepan yang mana dilakukan untuk mendupai (mensucikan) jalan yang akan dilalui oleh perarakan tersebut.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Hmmmm kalau memang mau mendupai sakramen secara kontinyu, ya mau tidak mau harus berjalan mundur. Ini yang lazim. Memang resikonya perjalanan sakramen keliling atau perarakan sakramen menjadi lambat.

Cara kedua, (tidak dilarang) untuk mengantisipasi kelambatan itu, dan kelelahan kalau harus berarak ke tampat yang jauh.

NB. Di salah satu paroki di Crespina, dekat Pisa (Italia) saya beberapa kali membantu di sana, dan pada Kamis malam sakramen diarak keliling desa bersama dengan patung Yesus dan relikwi dari “tanah suci”. Otomatis misdinar tidak perlu berjalan mundur tetapi berjalan biasa di depan sakramen dengan membawa pedupaan yang mengepul, dan kadang berhenti untuk mendupai .
Jarak tempat sakramen di arak adalah dari gereja Paroki dan dipindahkan ke gereja kapel, jaraknya sekitar 2 km. Perarakan berjalan memutar agar semua jalan desa terberkati oleh sakramen. Semua rumah memasang lilin di pintu dan pagar mereka, walau mereka tadi tidak berangkat ke gereja untuk perayaan Kamis Putih ….. :-)

PENCERAHAN DARI PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK :

Hemm….mengenai cara mendupai kiranya bisa bermacam2 cara tergantung kebiasaan dan situasi setempat di mana perarakan diadakan-seperti sudah dijelaskan oleh rm Samiran SCJ. Tetapi inti dari pendupaan kiranya tetap harus berpusat pada Sakramen Mahakudus yang didupai, bukan pertama2 jalan, atau rumah atau tempat sekitar yang dilewati.

Memang ketika kita menghormati dan terus melakukan puja pengudusan terhadap sakramen Mahakudus, kemudian dampaknya adalah bahwa jalan, tempat2 yang akan dilalui, bahkan orang2 di sekitar juga harus dikuduskan/menguduskan diri supaya pantas bagi kehadiran Allah yang nyata dalam sakramen Mahakudus.

Tradisi yang serupa dengan penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus bisa ditemukan dalam banyak peristiwa di Perjanjian Lama, ketika Israel mengarak Tabut Perjanjian (mis.I Tawarikh 15). Ketika tradisi mendupai belum populer, lalu berbagai bentuk penghormatan terhadap setiap tanda Kehadiran Yang Ilahi (Tabut Perjanjian) dilakukan dengan pelbagai cara: nyanyian pujian, sangkakala, terompet, gambus pelbagai macam jenis, pemotongan hewan kurban, kurban bakaran…bahkan tarian (Daud menari2 di depan Tabut Perjanjian).

Jadi inti pendupaan adalah kepada Sakramen Mahakudus-entah dengan cara mundur,atau berjalan maju sambil sesekali berhenti untuk mendupai.
Asap dupa yang membubung melambangkan terhubungnya dunia dan surga tinggi melalui kehadiran Allah dalam rupa Sakramen Mahakudus. Wewangian asap dupa melambangkan kesucian itu sendiri dan sikap hati yang sepantasnya ketika kita berada di dekat Sakramen Ilahi. Maka juga perlu diperhatikan supaya saat pendupaan memang ada asap yang mengepul dan membumbung tinggi, bukan cuma formalitas mengayun2kan wiruk/dupa tapi apinya padam dan tidak ada asapnya…lalu kehilangan maknanya he he…

Posted in 2. Putra Altar, 3. Benda Liturgi lainnya, 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – KAIN SELUBUNG YANG DIGUNAKAN PASTOR PADA SAAT SALVE

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat :

kain yg di selubung kan kepunggung pastor saat salve itu nama nya kain apa??dan apa makna nya???

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR :

kain itu bernama VELUM. Pada kedua ujungnya terdapat semacam saku di mana imam memasukkan kedua tangannya ketika hendak memegang Monstran pd moment Berkat Sakramen Mahakudus. VELUM adalah simbol penghormatan dan rasa respek yg besar… yg dalam hal ini ditujukkan kepada Sakramen Mahakudus.
Karena rasa hormat maka Sakramen Mahakudus tidak dipegang langsung dengan tangan melainkan dengan cara mengalas tangan dengan VELUM (yg berarti menutupi/menudungi).

Posted in 2. Baju liturgi, 3. Kamis Putih | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – KENAPA MONSTRANS TIDAK DIARAK?

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat:

Dalam perarakan Kamis Putih bukan sibori, kalo nggak salah dulu yang diarak “Monstrans”.Tapi mengapa yang saya lihat seringnya monstrans dipakai untuk misa penyembuhan..?Upacara Kamis Putih mengapa “Monstrans” tidak diarak…?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Monstrans … dari bahasa Latin artinya menunjukkan; maka sebenarnya itu dipakai untuk upacara Adorasi atau Salve.
Tetapi pada Hari Kamis Putih sebenarnya kita mengadakan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus yang akan dipindah tempatkan … maka yang pas memang sibori.

Tetapi kalau tidak ada pemindahan sakramen, dan Sakramen Mahakudus mau ditahtakan di altar untuk sembah sujud, maka memang yang dipakai adalah mostrans.
Misa penyembuhan menggunakan monstrans karena setelah Misa dilanjutkan dengan Adorasi Sakramen Mahakudus, maka Sakramen ditahtakan dengan mosntrans … dan setelah hampir selesai adorasi memang akan ditutup dengan pemberkatan dengan sakramen Mahakudus.
Untuk informasi lebih lengkap silahkan browsing “adorasi sakramen Mahakudus”

PENCERAHAN DARI BP. Agus Syawal Yudhistira

Aturan Liturgi secara spesifik MELARANG eksposisi Sakramen menggunakan Monstrans (Ostensorium) pada tuguran Kamis Putih (Lihat “PASCHALES SOLEMNITATIS”, Kongregasi Ibadat Suci 1988, no. 55).

Mengenai Adorasi Sakramen Mahakudus dalam wujud Eksposisi, ada dua pilihan (lihat “EUCHARISTIAE SACRAMENTUM”, Kongregasi Ibadat Suci 1973):
Meriah/Agung/Solemn, digunakan Monstrans.
Sederhana, digunakan Sibori/Pixis…. See More

Maka jika Sakramen Mahakudus diarak menggunakan Sibori, penghormatan yang diberikan tetap sama.

Posted in 3. Benda Liturgi lainnya, 3. Kamis Putih, d. BENDA-BENDA LITURGI | Leave a Comment »

KAMIS PUTIH – BUNYI KELOTOKAN PADA SAAT PERARAKAN SAKRAMEN MAHA KUDUS

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2011


Pertanyaan umat:

Dlm perarakan di Hari Kamis Putih, di gereja Barnabas pamulang dan grj Stefanus Cilandak, (sedangkan di grj lain tidak ada) ada bunyi2an dari kayu…. ini melambangkan apa?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Bunyi ‘kelotokan’ pada Tri Hari Suci, mulai Kamis malam setelah komuni, sampai Sabtu suci pagi, sebenanrnya dimaksudkan untuk penanda menggantikan bel, dan giring-giring, yang tidak dibunyikan selama saat itu.
Lonceng dan bel kembali dibunyikan pada malam Paskah saat Gloria dikumandangkan.

(NB. Saya tidak tahu tradisi di negara lain, tetapi di Italia sejauh saya tahu tidak ada penggantian itu, tetapi ya sepi aja – tanpa perlu digantikan).

Posted in 3. Benda Liturgi lainnya, 3. Kamis Putih, d. BENDA-BENDA LITURGI | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers