Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    hit counters




    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget


    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 140,181 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘l. SEKITAR LITURGI’ Category

Apakah seorang Katolik atau sebaliknya seorang protestan bisa diizinkan untuk menerima roti dan anggur dalam gereja lain?

Posted by liturgiekaristi on February 6, 2013


Pertanyaannya:

1) Apakah seorang Katolik atau sebaliknya seorang protestan bisa diizinkan untuk menerima roti dan anggur dalam gereja lain?

2) Apakah penghayatan “roti dan anggur” menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Gereja Katolik sama dengan gereja/denominasi lain?

PENCERAHAN DARI ROMO CHRISTIANUS HENDRIK SCJ

1) Apakah seorang Katolik atau sebaliknya seorang protestan bisa diizinkan untuk menerima roti dan anggur dalam gereja lain?
Untuk pertanyaan ini jawabnya simple: Pada prinsipnya orang yang non Katolik tidak diperkenankan menerima komuni-entah dalam rupa roti dan/atau anggur. Hal yang sama juga berlaku untuk orang Katolik (sudah baptis) tapi belum menerima komuni pertama-tidak diperkenankan.
Untuk sebaliknya, apakah orang Katolik boleh menerima roti dan anggur dalam gereja2 non katolik, itu bukan kapasitas kita untuk memutuskan boleh atau tidak-tergantung kebijakan dalam gereja2 tersebut. Dasar argumen2 di atas bisa dipahami dalam alur penjelasan pertanyaan kedua.

2) Apakah penghayatan “roti dan anggur” menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Gereja Katolik sama dengan gereja/denominasi lain?
Jawabnya: Tidak sama. Ekaristi yang sesungguhnya, seperti yang dipahami dalam Gereja Katolik, hanya bisa terjadi/sah/sesuai dengan hakekat Ekaristi sepenuhnya, jika menggunakan materi yang sah, di dalam tindakan dan kata2 ( Forma dan Actuosa) yang dilakukan oleh Imam tertahbis, sesuai dengan ajaran gereja Katolik. Maka, seperti apapun namanya, bentuknya, ritualnya, selama itu tidak dilakukan oleh Imam tertahbis, tidak dapat disebut Ekaristi seperti yang dipahami oleh Gereja Katolik. Dalam hal ini menjadi jelas, Ekaristi hanya ada dan bisa dimungkinkan terjadi dalam gereja Katolik yang memiliki Imam2 tertahbis-kecuali memang ada Imam2 tertahbis seperti kita akui di luar gereja Katolik, apa mungkin??. Di luar itu, sekalipun namanya sama: Ekaristi; tidak bisa dipandang sebagai sama saja dengan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Imam tertahbis dalam gereja Katolik.

Hal itu menjadi argumen yang tidak bisa disangkal karena faktanya hanya di dalam Gereja Katolik pemahaman yang sebenarnya dari Ekaristi menyangkut jauh sampai kepada pengetahuan dan pengakuan iman akan perubahan substansial roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan.
Sejauh saya ketahui dan pahami, hanya Gereja Katolik yang mengamini bahwa Ekaristi bukan hanya sekedar ‘upacara’ atau ‘ritual’ pengenangan masa lalu akan perjamuan malam terakhir Tuhan kita Yesus Kristus – seperti banyak dipahami oleh gereja2 non Katolik. Bagi kita orang Katolik, Ekaristi adalah ‘Perayaan’ (bukan upacara pengenangan saja) yang artinya sungguh menghadirkan kembali Misteri Perjanjian Baru dan Kekal akan perjamuan Tubuh dan Darah Tuhan.
Maka dari itu, hanya dalam gereja Katolik dipahami sepenuhnya arti Anamnese: WafatMu kami kenangkan(aspek pengenangan masa lalu), kebangkitanMu kami muliakan (Aspek kehadiran sekarang, peristiwa penebusan/penyelamatan itu setiap kali dihadirkan kembali dalam tindakan institusional yang dilakukan Imam saat konsekrasi); kedatanganMu kami rindukan (Aspek Parusia, penantian sampai akhir jaman, keselamatan yang sepenuhnya). Adakah gereja2 non Katolik sampai pada pemahaman dan doktrin yang sedemikian lengkap menyangkut tiga masa: dulu, sekarang, dan yang akan datang seperti dalam gereja Katolik? Saya meragukannya.

Jadi kesimpulannya: Orang Katolik, dan hanya orang yang beriman secara Katolik yang bisa memahami makna Ekaristi yang sepenuhnya sebagai Perjamuan yang memberi jaminan keselamatan. Di luar itu, meskipun namanya mungkin sama, tapi maknanya tentu saja berbeda. Yang paling sering dipahami umum, gereja2 non Katolik memandang Ekaristi mereka sebagai pengenangan belaka, sebagai perjamuan belaka, sama seperti makan dan minum sehari2; namun tidak sampai menyentuh aspek ‘menghadirkan kembali’ karya penyelamatan itu setiap kali Ekaristi dipersembahkan, dan tidak sampai menyentuh aspek transformatif-substansial perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Maka tidak heran, mereka bisa menggunakan materi apa saja yang menyerupai ‘roti dan anggur’, tidak seperti dalam gereja Katolik yang memiliki aturan ketat akan wujud ‘materi’ roti dan anggur yang dipergunakan dalam Ekaristi.

PENCERAHAN DARI ROMO INNO NGUTRA

Dari sisi Hukum Gereja Katolik

Kanon 844 § 1 Para pelayan katolik menerimakan sakramen- sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan Kanon 861 § 2.

§ 2 Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah.

§ 3 Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

§ 4 Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.

§ 5 Untuk kasus-kasus yang disebut dalam § 2, § 3 dan § 4, Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup jangan mengeluarkan norma- norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak katolik yang bersangkutan.

Penjelasan singkat:

1) Sakramen Ekaristi berkaitan erat dengan tahbisan suci (imamat) yang diterima oleh para imam, yang diberikan oleh uskup. Oleh karena itu, ukurannya adalah umat katolik (Dalam keadaan mendesak) bisa menerima sakramen itu dari imam atau pendeta/pastor dari gereja lain asalkan pastor itu mendapatkan tahbisan uskup. Di sini sangat susah untuk menerima sakramen dari seorang pendeta karena mereka tidak menerima tahbisan imamat dari uskup. Hal ini sangat lain bila kita terapkan pada imam dari Anglikan atau Gereja Ortodox

2) Dalam keadaan bahaya maut atau karena keadaan di mana tidak ada pastor atau pelayan dari gereja lain, maka baik para pastor maupun para pelayan dari gereja lain bisa menerimakan kepada umat ATAS PERMINTAAN SI PENERIMA. Dan, ini berlaku baik bagi umat Katolik maupun umat protestan atau Kristen lainnya.

3) Contoh kasus misalnya: Dalam nikah campur yang diadakan di gereja Katolik, maka pasangan bisa diizinkan untuk menerima sakreman Ekaristi sejauh memenuhi syarat menimal yakni percaya bahwa itu adalah Tubuh dan Darah Kristus. Dan untuk mendapatkan hal ini biasanya diadakan wawancara (tanya jawab) dengan calon selama masa persiapan nikah.

4) Soal apakah dari protestan bisa terima komuni di Gerja Katolik atau tidak sangat tergantung pada keputusan gereja mereka (Kanon 844 & 5 dan penjelasan pastor Hendrik Christianus, namun perlu diperhatikan lagi aturan Gereja Katolik sebagai syarat untuk mengizinkan seseroang menerima komuni di dalam gereja (nomor 4)

PENCERAHAN DARI PASTOR PHILIPUS SERAN

Liturgi kita dalam Gereja Katolik adalah adalah liturgi resmi Gereja yang berlaku universal dalam Gereja Katolik, dengan segala doktrin, ajaran praturannya. Sedangkan ibadat dalam Protestan, sebagaimana penafsiran Kitab Suci sangat menekankan secara pribadi, lebih bersifat pribadi, entah itu secara perorangan atau dalam komunitas gereja tertentu… yah tergantung pendetanya atau pengurus gerejanya. Tentu saja berimplikasi pada penghayatan dan makna dari Perjamuan Tuhan yang dirayakan, yang memang tidak sama dengan kita di Gereja Katolik dalam menghayati makna Ekaristi.

PENCERAHAN DARI BP. ALBERTUS WIBISONO

KGK 1396 – Kesatuan Tubuh Mistik: Ekaristi membangun Gereja. Siapa yang menerima Ekaristi, disatukan lebih erat dengan Kristus. Olehnya Kristus menyatukan dia dengan semua umat beriman yang lain menjadi satu tubuh: Gereja. Komuni membaharui, memperkuat, dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Di dalam Pembaptisan kita dipanggil untuk membentuk satu tubuh Bdk. 1 Kor 12:13.. Ekaristi melaksanakan panggilan ini: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1 Kor 10:16-17):
“Kalau kamu Tubuh Kristus dan anggota-anggota-Nya, maka Sakramen yang adalah kamu sendiri, diletakkan di atas meja Tuhan; kamu menerima Sakramen, yang adalah kamu sendiri. Kamu menjawab atas apa yang kamu terima, dengan ‘Amin’ [Ya, demikianlah] dan kamu menandatanganinya, dengan memberi jawaban atasnya. Kamu mendengar perkataan ‘Tubuh Kristus’, dan kamu menjawab ‘Amin’. Jadilah anggota Kristus, supaya Aminmu itu benar” (Agustinus, serm. 272).

KGK 1398 – Ekaristi dan kesatuan umat beriman. Karena keagungan misteri ini, santo Augustinus berseru: “0 Sakramen kasih sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta” (ev. Jo 26,6,13) Bdk. SC 47.. Dengan demikian orang merasa lebih sedih lagi karena perpecahan Gereja yang memutuskan keikutsertaan bersama pada meja Tuhan; dengan demikian lebih mendesaklah doa-doa kepada Tuhan, supaya saat kesatuan sempurna semua orang yang percaya kepada-Nya, pulih kembali.

KGK 1400 – Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (UR 22).

KGK 1401 – Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dah disposisi yang baik Bdk. KHK, Kan. 844, ? 4.

jadi, hanya dalam situasi darurat (mis. dalam sakratul maut, dll.

Posted in 5. Bagian Komuni, Kumpulan Artikel | Leave a Comment »

LINK YOU TUBE “INDONESIAN YOUTH DAY 2012″

Posted by liturgiekaristi on September 18, 2012


ebook-kumpulan-tulisan-omk-indonesia





Posted in Kumpulan Artikel | Leave a Comment »

EKARISTI dan ARTINYA

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


EKARISTI dan ARTINYA

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA
Halo semua…kita belajar bersama lagi yuuk…setelah berbagi soal musik dalam Liturgi, kali ini kita akan kupas soal Ekaristi, tahap demi tahap…

Ekaristi berasal dari bahasa Yunani “eukharistein” yang artinya mengucap syukur. Konteks ceritanya waktu Yesus meggadakan Perjamuan Malam Terakhir dengan 12 muridnya…Yesus mengambil roti, memberkati (eulogein – eulogesias) memecahkannya dan memberikan… kepada para muridNya…Kemudian Ia mengambil Piala, mengucap syukur (eukharistein – eukharisteisas) dst. Ritus Yesus inilah (traditio mysteriorum) yang kemudian dijadikan model dalam liturgi Ekaristi. Tapi ada juga yang mengatakan dengan istilah “eulogia” (berasal dari kata EULOGEIN. Sebenaernya kedua kata itu menterjemahkan kata BARAK (BERKAT).

Kata eukharistia dianggap lebih tepat penggunaannya karena makna kata ini melukiskan seluruh tindakan bersyukur kepada Allah yang merupakan makna dari DOA SYUKUR AGUNG dalam misa. Makanya Doa Syukur Agung (prex eucharistia) menjadi bagian terpenting dalam Misa di mana puncak dari perayaan Ekaristi ada di dalam ritus ini yaitu DOXOLOGI (dengan pengantaraan Yesus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus….dst)

Tahun 1970 mulai dilakukan pembenahan dari Misa Trente (Missale Tridentium) yang diberlakukan sejak tahun 1570 yang akhirnya melahirkan MISSALE ROMANUM terbaru pada tahun 2002 yang intinya mengatakan bahwa “STRUKTUR MISA ROMAWI MENCAKUP DUA UNSUR YAITU LITURGI SABDA DAN LITURGI EKARISTI.

Ke dua unsur ini diapit oleh dua unsur lain yaitu Ritus Pembuka dan Ritus Penutup. Keempat unsur ini membangun sebuah ORDO MISSAE atau tatacara Misa/Ekaristi yang khas Romawi namun terbuka bagi penyesuaian dan penyelarasan dengan unsur-unsur budaya yang ada di gereja setempat.

Lalu kenapa umat katolik setiap hari minggu kita wajib untuk ikut perayaan Ekaristi…itu semua selain karena 10 perintah Allah “KUDUSKANLAH HARI TUHAN” juga karena perintah Yesus sendiri “LAKUKANLAH INI SEBAGAI KENANGAN AKAN DAKU”.

Gereja tidak mengharuskan umat katolik untuk mengikuti Ekaristi setiap hari. Yang diwajibkan oleh gereja adalah Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Besar lain yang diwajibkan oleh gereja (seperti Natal, Pekan Suci, Tutup Tahun, Maria diangkat ke surga dll)

Paus Benediktus mengeluarkan dokumen yang isinya tentang keprihatinan akan lunturnya nilai dan makna yang ada dalam Ekaristi. Jadi misi gereja sekarang adalah mengembalikan nilai dan makna ekaristi kembali seperti semula yang penuh dengan simbol-simbol dan makna-makna kristiani

Untuk mengikuti perayaan Ekaristi, kita harus punya paling tidak sikap TERBUKA..membuka diri akan tujuan utama kita mengikuti Ekaristi adalah untuk mengucap syukur, bukan untuk ketemu pacar, cari jodoh, nonton koor..dan MENERIMA, menerima kehadiran Tuhan dengan segala sabda dan perintahnya, serta kehadiran Tuhan dalam rupa Roti dan Anggur yang mempersatukan kita. Tanpa itu, ekaristi akan berasa membosankan

untuk sementara sekian dulu ya, besok kita lanjut ke “merasakan serta mengalami SAKRAMEN EKARISTI”

Salam Damai Kristus
JOJBSO
Comments umat :

Imanuel Saputra sy mw tany..
pada zaman setelah Yesus wafat, apa terus diadakan ekaristi yg sama,seperti yg qt lakukan??
apakah ad perbedaan zaman dulu hingga sekarang,,!!
mengingat belum ada listrik,alat musik,dll…!!
mohon penjelasan’a…trmksh

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA Sdr. Imanuel, pada masa Gereja Perdana (masa para rasul) tradisi perjamuan Kudus spt yg dilakukan oleh Yesus pada perjamauan malam terakhir terus dilakukan oleh para muridNya…bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersusun atas Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kepastian bentuk ini dibuktikan pada kesaksian Santo Yustinus Martir pada pertengahan abad kedua.

Pada abad 4-6 ,mulai ditambahkan banyak ritus pada bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersebut, sehingga Perayaan Ekaristi memperoleh bentuknya yang lengkap sebagaimana dikenal dalam Misa Trente dan kemudian diperbaharui dalam Misale Romanum 1970 dan akhirnya diperbaharui lagi dalam PUMR 2002 sehingga perayaan Ekaristi seperti yg kita lakukan sekarang…

untuk masalah listrik sepertinya nggak ada pengaruh ya…hehe…utk alat musik sendiri jauh sebelum masa Gereja perdana sudah ada…perhatikan di kitab Mazmur, Kidung Agung dll, ada yg namanya Nafiri…

Bang Tian Shallom n slmt mlm Grj Ktlk.Grj Ktlk aku mau nanya nih.Nafiri itu apa yah?tlg di jwb yah Grj Ktlk.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA Bang Tian, sblumnya koreksi dulu ya, ini Seputar Liturgi..hehehe ntr admin GK protes deh..haha…Nafiri itu alat musik tradisional jaman Yunani dulu, terbuat dari tanduk domba, dan dijadikan seperti terompet…nadanya memang tidak banyak, tapi pada masa itu alat ini dianggap cukup utk skdar dijadikan alat musik pengiring…

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

Purgatory

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


Pertanyaan menarik dari ibu Intan Soni-joice :
“Slmt pagi..sy senang bs bgabung dsini. Blh tany ttg Purgatori? Dmn sy hrs mcr/ btanya pd siapa?tk Berkah Dalem”…silahkan jika ada yang mau berbagi…

PENCERAHAN : SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

‎@Intan Soni-Joice, tentang Purgatory teman² fans telah share pendapat, semoga terbantu dan memberi peneguhan… Intinya Purgatory adalah doktrin kebenaran iman katolik, dan ini terungkap dalam syahadat iman kita :”Aku percaya akan … kebangkitan badan dan kehidupan kekal.” (syahadat para rasul); atau “Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat” (syahadat Nicea-Konstantinopel). Walau kata ‘purgatory’ atau “api penyucian” itu sendiri tidak secara eksplisit ada dalam syahadat kita ini. Namun Gereja dalam Tradisinya dan praktek peribadatannya percaya akan Purgatory dan melakukan praktek/aksi doa, puasa, amal bakti untuk para saudara yang telah meninggal yang kini dalam proses pemurnian/penyucian jiwa di Api Penyucian agar dapat masuk surga, mengalami kebahagiaan dan perdamain abadi bersama para kudus di surga.

Praktek seperti kita lakukan dalam Misa Arwah, doa dan peringatan arwah. Bahkan setiap kali dalam Ekaristi, Gereja mendoakan dan memohon kedamaian kekal dan kebahagiaan abadi bagi arwah kaum beriman. Hal ini terlihat dalam DSA (Doa syukur Agung) I, seperti rumusan berikut :

« Memento etiam, Domine, fa­mu­lorum, famularumque tua­­rum n… et n…, qui nos præ­ces­serunt cum signo fidei, et dormiunt in somno pacis. Ipsis, Domine, et om­ni­bus in Christo quies­cen­ti­bus, locum refri­ge­rii, lucis et pa­cis, ut indul­geas, depreca­mur »

Dalam bahasa Indonesia :

“Ingatlah juga, ya Tuhan akan hamba-hambaMu …. dan …. yang telah mendahului kami dalam meterai iman dan beristirahat dalam damai. Kami mohon kepadaMu ya Tuhan, perkenankanlah mereka dan semua orang yang beristirahat dalam Kristus mendapat kebahagiaan, terang dan damai; Demi Kristus Tuhan kami.”

Sengaja saya kutip rumusan doa dari DSA I ini, karena rumusan doa ini merupakan rumusan iman dalam liturgi dari abad ke abad, sejak jaman awal sampai sekarang ini. Itu berarti iman akan Purgatory dan paraktek² liturgi tentang ini sudah ada sejak awal Gereja sampai sekarang.

Banyak kesaksian dari para Bapak Gereja dan para santo santa tentang Purgatory. Padre Pio dalam kesaksiannya beliau mengisahkan :

Beliau lagi bedoa di gereja/kapel tepatnya di panti imam. Ketika lagi sedang berdoa ada suara ribut dekat altar. sangkanya mungkin ada orang masuk ke gereja dengan niat jahat, maka ia bertanya, “Siapa di sana?” Tidak ada jawaban, Mungkin bunyi dari kain² tirai/altar yang tertiup angin, pikirnya. Dia melanjutkan doanya, namun suara itu terdengar kembali. Padre Pio mendekati altar, dan melihat ada bayangan hitam seorang novis muda lagi melakukan pembersihan diri. Padre Pio berkata kepadanya : « Apa yang kau lakukan di situ ? » Ia menjawab, « Saya sedang melakukan pembersihan diri ». Padre Pio bertanya lagi : « Lalu bagaimana bisa kau melakukan ini dalam kegelapan ? » Anak muda itu menjawab : « Saya seorang novis Kapusin melakukan proses Purgatory di sini. Saya memerlukan bantuanmu Padre ». Kemudian pemuda itu tiba-tiba menghilang. Keesokan harinya Padre Pio mempersembahkan Misa untuk keselamatan jiwa pemuda itu.

Bahwa anda, Intan Soni-Joice, mengalami semacam “penglihatan” dan mau ingin berbagi dan mengarahkan anda, saya sarankan untuk ke romo/pastor (atau orang lain) yang anda percayai bisa membantu dan mengarahkan anda. Tetaplah kita mendoakan dan mempersembahkan Ekaristi untuk keselamatan dan kebahagian abadi bagi saudara² kita arwah kaum beriman.

Tks, Tuhan memberkati.

phs

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

hal2 yg utama dalam Ekaristi – dalam rangka menyambut Tahun Ekaristi

Posted by liturgiekaristi on July 9, 2012


Selamat malam mendekati dini hari semua….jam berapapun kita tetap belajar kan ya….hehehe

Belajar bersama kali ini sekedar ulasan dalam rangka menyambut TAHUN EKARISTI 2012. kita perlu sama2 melihat dan mendalami lagi tentang hal2 yg utama dalam Ekaristi. Untuk itu mari kita lihat bersama

MAKNA DAN MARTABAT

PUMR menegaskan bahwa Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama segenap umat Allah. Baik bagi Gereja Universal dan Gereja Partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristen. Ekaristi merupakan puncak karya Allah untuk menguduskan dunia, dan sekaligus puncak karya manusia untuk memuliakan Allah Tritunggal. Dlm Ekaristi, misteri penebusan Kristus dihadirkan untuk kepentingan seluruh umat beriman.

PARTISIPASI UMAT

Ekaristi tanpa umat tidak akan memeberi makna apapun, demikian juga sebaliknya. Kehadiran dan partisipasi aktif umat merupakan hal penting karena pada hakekatnya EKARISTI ADALAH PERAYAAN UMAT. Untuk mencapai itu, Perayaan Ekaristi perlu diatur sedemikian rupa, sehingga baik para petugas maupun umat yg hadir dapat merasakan kehadiran-Nya dalam setiap perayaan Ekaristi, dan dapat memetik dan merasakan buah dari mengikuti perayaan Ekaristi, karena dalam Perayaan Ekaristilah Mukjijat Allah masih terjadi hingga sekarang (Transubstansiasi)

MARIA BUNDA EKARISTI

St. Thomas Aquino memberi gambarang indahnya hubungan Maria dan Yesus dalam madah “Ave Verum”. Tubuh Kristus berasal dari Maria. Dalam Perayaan Ekaristi, roti diubah menjadi Tubuh Kristus, yang sekaligus mengandung Darah-Nya. Bunda Maria dan Putra-Nya berhubungan erat secara tak terpisahkan (LG no 55), dan persatuan mereka kekal sifatnya. Maka setiap orang yang menerima Tubuh Kristus dengan pantas, menerima tubuh dan darah yang berasal dari tubuh dan darah Bunda Maria sendiri. Berangkat dari titik inilah makan Maria disebut sebagai Bunda Ekaristi.

demikian sekedar ulasan…Semoga Bermanfaat

***Christo et Ecclesiae***

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

SIAPA YANG SEHARUSNYA MENYANYIKAN MAZMUR, BAIT PENGANTAR INJIL, SEKUENSIA?

Posted by liturgiekaristi on June 18, 2012


Pertanyaan dari seorang umat :

“Mau tanya.. Bait Pengantar Injil dan Sekuensia seharusnya dinyanyikan siapa? Pemazmur atau solis dr paduan suara? Terima kasih.”

PENCERAHAN DARI BP. JOHANNES OGENK JBSO

Soal yg membawakan Mazmur, bait pengantar injil dan sekuensia :

1. dibawakan secara khusus oleh pemazmur dan sebaiknya dibedakan dengan solis yang lebih berfungsi sebagai petugas dalam kelompok paduan suara. Untuk itu, di paroki-paroki, biasanya dibentuk komunitas sendiri.

2. Seandainya petugas tidak ada, maka Solis dari kelompok paduan suara dapat mengambil alih tugas ini; dan seandainya solis dari paduan suara tidak ada, maka Lektor dapat mengambil alihnya.

3. Jika benar2 terpaksa karena semua petugas tidak ada, maka Imam selebran dapat mengambil alih tugas ini. Sekali lagi hal ini dilakukan jika benar-benar terpaksa.

Posted in Kumpulan Artikel | Leave a Comment »

MENGUMUMKAN NAMA2 ORANG YANG MAU MASUK KATOLIK PADA SAAT MISA

Posted by liturgiekaristi on June 18, 2012


PERTANYAAN DARI SEORANG FANS DI KOTA MEDAN (SUMATERA UTARA).

salam damai,
saya masih awam dlm keliturgian gereja,
mau tanya, apakah ada aturannya diperbolehkannya didalam acara perayaan ekaristi, setelah pastor memberi renungan/kotbah diselipkan acara penerimaan/peresmian orang yg masuk katolik??
di gereja kami St.Fransiskus Asisi psr 6 Pd.Bulan Medan, seringkali diumumkan nama2 orang yg mau masuk Katolik dan saat peresmiannya juga di saat Misa, ada beberapa waktu (sekitar10 menit) khusus utk mereka, dan setelah pastor menyatakan Sah/Resmi , umatpun bertepuk tangan…gak tau utk mereka atau utk Tuhan…tapi itu utk mereka saya kira !! Setelah itu pastorpun melanjutkan liturgi., dan mereka kembali ketempat duduknya.

saya kurang menyetujui ini, dan sering ngomel dalam hati…..
saya tadi tanya ama teman (anggota dewan stasi) dan dia memaparkan bahwa itu sah dan ada aturannya , setiap orang yg masuk Katolik harus diumumkan di depan umat banyak dan di saat acara Misa ???

Mohon pencerahan dari admin ,..makasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR PHILIPUS SERAN

Philipus Seran Gereja ikut bergembira ada penambahan anggota baru, baik itu lewat pembabtisan atau penerimaan/peresmian mereka yang masuk dalam persekutuan Gereja Katolik secara penuh (penerimaan kembali mereka yang telah murtad atau penerimaan dari gereja kristen lain). Dan ini harus terjadi pada saat umat beriman berkumpul, yang menunjukkan persekutuaannya dalam satu Gereja; dan itu hanya bisa terjadi dalam pada hari Minggu, yang merupakan ungkapan persekutuan Gereja secara resmi. “Dies Domini = Dies Ecclesiae”.
Mereka yang diterima/diresmikan juga sdh melalui proses pembelajaran/pendampingan seperti katekumen. Soal tepuk tangan itu ungkapan kegembiraan bahwa orang itu resmi dan sah masuk dan diterima dam persekutuan Gereja Katolik

kalau orang dari gereja protestan yang babtisannya diakui dalam Gereja Katolik, mau masuk dalam persekutuan Gereja Katolik, ada upacara penerimaan secara resmi, prosesnya: yang berangkutan harus belajar seperti katekumen, dan pada saat yang ditentukan untuk diterima : dia harus mengucapkan syahadat/pengakuan iman Katolik dan membuat komitmen untuk tetap setia dalam persekutuan Gereja Katolik. Komunio Gereja Katolik itu nyata ketika hari Minggu Umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Maka ketika sesudah homili dia harus mengucapkan credo dan komitmennya ini. (note: masa orang diterima masuk gereja katolik di pastoran …… hehehe)

Kalau hanya sekedar pengumuman nama2…. itu terjadi di bagian pengumuman, pada ritus penutup, dari perayaan Ekaristi.

PENCERAHAN DARI PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK SCJ

Yang terpenting dari upacara “peresmian” atas penerimaan kembali/dipersatukan kembali umat dari lain gereja ke dalam gereja Katolik bukan terletak pada diumumkan atau ditampilkan, apalagi diberi tepuk tangan dalam perayaan Ekaristi. Yang jauh lebih penting adalah diadakan proses penyelidikan dengan seksama latar belakang dari gereja mana dan sejauh mana gereja tersebut memiliki kesamaan iman dan pemahaman teologis yang sejalan dengan gereja Katolik. Setelah dipahami dari gereja mana mereka berasal, kemudian diadakan proses penerimaan kembali dengan pelajaran khusus atas pemahaman2 iman Katolik seperti pemahaman tentang syahadat, tentang Bunda Maria dan para Kudus, dan atau lainnya yang sekiranya di gereja darimana mereka berasal tidak memiliki penghayatan dan keyakinan yang sama. Kadang bisa juga disertai dengan Pengakuan dosa setelah dijelaskan maksudnya.(Dalam kasus2 khusus yang tidak begitu jelas latar belakangnya, kadang memungkinkan dilakukan baptisan bersyarat demi menjamin kepastian akan keselamatan lewat pembaptisan)
Itu semua seharusnya dilakukan DI LUAR perayaan Ekaristi. Seandainya ingin dilakukan semacam “Upacara” penerimaan dalam perayaan Ekaristi, harus dipertimbangkan hal2 berikut:
- Apakah hal tersebut bisa berdampak merugikan/membahayakan kehidupan dan masa depan ybs di tengah keluarga dan lingkungannya (jika diketahui secara publik mungkin ada pihak2 keluarga atau gereja darimana ia berasal tidak senang atau marah)
- Upacara penerimaan hendaknya tidak mengacaukan ketenangan dan kesucian perayaan Ekaristi. Maka jika ingin dilakukan bisa ditempatkan sesudah doa penutup dan sebelum berkat – pada waktu pengumuman) Jelas kurang pada tempatnya jika dilakukan setelah homili karena tidak ada sangkut pautnya dengan bacaan dan uraian dalam homili.
- Kadang memang baik dan ada dampak peneguhan ketika yang bersangkutan dihadirkan di depan publik dan didoakan, tetapi tidak ada keharusan untuk itu. Harusnya juga ada persetujuan dari ybs dan sejauh tidak menimbulkan efek2 lain yang merugikan.
_ Perlu juga mempertimbangkan relasi antara anggota baru tersebut dengan umat setempat, apakah pemakluman/pengumuman secara publik itu membawa dampak positif atau justru sebaliknya.

Di luar hal itu semua, dalam setiap hal yang kita lakukan atau tidak kita lakukan dalam perayaan Ekaristi, kiranya harus dengan bijak melihat situasi masing2 tempat agar kehidupan di luar suasana Ekaristi (kerukunan hidup antar gereja/Oekumene, kerukunan antar umat beragama lainnya) tetap mendapat perhatian agar tidak menimbulkan batu sandungan atas ‘kembalinya anak yang hilang ke dalam pangkuan gereja Katolik”.

Salam hormat,
P.Christianus Hendrik SCJ-Lower Brule, SD. USA

PENCERAHAN DARI BP. JOHANNES OGENK JBSO

Memang ada aturan untuk menyebutkan nama2 ini tetapi bukan dalam Ekaristi nama2 ini disebutkan, karena ini akan memberi jeda (ruang kosong) dalam perayaan Ekaristi yang pada akhirnya bisa mengganggu proses pencapaian tujuan pelaksanaan Ekaristi yaitu umat merasakan secara langsung kehadirianNya dan perjumpaan denganNya. Ritus2 dalam Ekaristi saling terkait satu sama lain dan secara berurutan disusun untuk pencapaian klimaks dari perayaan tersebut. Adanya selingan ini akan sangat mengganggu rangakain ini.

Dalam doa umat biasanya dicantumkan doa permohonan bagi para katekumen dan calon baptis, ini sudah lebih dari cukup di mana umat mempunyai kesempatan mendoakan mereka.Dalam bagian pengumuman sebaiknya disebutkan kapan pelaksanaannya,,,

Jika melihat Pertanyaan di atas, sepertinya ini bukan Pembaptisan, tetapi pengukuhan (untuk mereka yg berasal dari gereja yg baptisannya dianggap sah oleh Gereja Katolik)…memang pembacaan syahadat sebagai tanda sahnya mereka menjadi katolik dilakukan setelah Homili krn mereka dipersiapkan untuk terlibat secara langsung dalam Ritus Ekaristi, tetapi untuk masalah tepuk tangan setelah itu, ada baiknya dan amatlah bijak jika kita meninjau kembali ulasan/curhat Rm Magnis tentang Tepuk tengan dalam Misa…

Mungkin tujuan umat spt uraian Rm Philipus di atas, tetapi alangkah baiknya tepuktangan ini dilakukan saat Ekaristi sudah selesai…karn sekali lagi, tepuk tangan ini akan memberikan jeda dan memberi ruang kosong dalam Ekaristi yg seharusnya semua yg dilakukan di dalamnya secara penuh ditujukan untuk Allah Tritunggal dari mulai tata gerak, nyanyian dll…

Liberius Sihombing

Salam malam dear admin.

Saya ingin menyumbang pendapat soal pembaptisan dan/atau penerimaan resmi dalam Misa, yang barusan saya baca postingan seseorang berasal dari Medan beberapa hari lalu di group ini. Seharusnya hal ini bukan suatu persoalan yang perlu diperdebatkan mengenai kapan tepatnya dibuat. Dan seyogianya tidak perlu dikaitkan penerimaan/pembaptisan itu memakan waktu panjang sehingga merugikan umat yang lain. Jika kita memahami makna dari penerimaan seseorang (katekumen) masuk ke dalam kawanan kita, sepantasnya kita mensyukuri hal ini sebagai rahmat Allah, yang lewat kehadirannya umat beriman mengungkapkan penyambutannya dengan sikap yang hangat. Bayangkanlah seseorang masuk menjadi bagian anggota ‘keluarga’, bukankah kita bergembira? Jika tidak gembira atau tidak setuju tentu ada alasannya tidak setuju. Jadi acara ini adalah acara iman, upacara Gereja yang merupakan sakramen. Bukan pula upacara keluarga atau upacara pribadi. Atau apakah kita merasa hal ini tidak penting dalam hidup menggereja kita?

Sedikit saya menyinggung sejarah penerimaan katekumen dan baptisan baru masuk dalam persekutuan jemaat. Sebenarnya pembaptisan dan penerimaan resmi seseorang ke dalam tubuh Gereja pada awal-awalnya dilakukan pada malam paskah. Ritus perayaan malam paskah sangat jelas dibuat untuk itu. Dan symbol-simbol yang dipakai dan dipakai dalam ritus malam paskah ‘berbicara’ banyak mengenai ini. Itu sebabnya masa prapaskah kerap disebut juga masa retret agung, masa persiapan bagi katekumen dan calon baptisan untuk diterima bergabung dalam jemaat pada malam paskah. Doa-doa permohonan (doa umat/oratio universalium) setiap minggu prapaskah juga menyelipkan wujud untuk calon baptisan dan katekumen yang akan diterima pada malam paskah.

Kita tentu ingat bahwa acara malam paskah merupakan perayaan terpanjang dan paling padat dari seluruh perayaan misa Gereja; diawali dengan upacara cahaya di luar gereja, pujian paskah, ada 9 bacaan (kalau semua dibaca) ditambah lagi dengan penerimaan resmi dan baptis yang diawali dari pemberkatan air suci dan bejana baptis. Saya sangka, kalau semua dilakukan tanpa dipenggal, paling sedikit malam paskah memakan waktu 4 jam. Sangat jelas bagi kita bahwa dalam acara itu penerimaan resmi dan baptis tidak dibuat pada akhir acara, tetapi di dalam acara misa. Mungkin sebagian menggerutu karena dianggap acara terlalu panjang. Tetapi makna yang mau ditekankan sangat jelas yakni kelahiran kembali. Dan ini mau mengatakan bahwa acara baptis dan terima resmi merupakan acara umat, menyambut pentobat masuk ke dalam kawanan. Semua hadirin (umat) yang telah lebih dahulu menjadi katolik harus merasakan dan mengganggap ini adalah acaranya juga, bukan acara pastor dan katekumen saja.

Dalam hal penyambutan seseorang masuk ke dalam kawanan – yang setelah sekian lama merindukan penerimaan itu lewat peziarahannya dan lewat pembinaan katekese – maka ketika kita diajak untuk tepuk tangan sebagai ucapan syukur dalam kegembiraan rohani, itu tidaklah salah. Sekali lagi saya mau soroti tentang ‘tepuk tangan’ dalam penerimaan seseorang masuk dalam suatu kawanan domba Allah, itu tidak melanggar liturgy. Kita jangan lupa bahwa dalam perayaan kaul kekal suster/frater/kaum religius, acara tepuk tangan sebagai ucapan syukur sangat jelas tertulis di sana dipandu langsung oleh komentator. “Ketika pemimpin religius mengatakan bahwa ia menerima Saudara-saudari itu untuk mengucapkan kaulnya, seorang komentator atau pemimpin itu sendiri mengajak umat mengucap syukur dengan cara yang pantas. Ucapan kegembiraan itu juga dilengkapi dengan ajakan: “untuk mengungkapkan kegembiraan kita atas penerimaan ini marilah kita bertepuk tangan”. Tepuk tangan di sini sama sekali tidak menghina liturgy. Tidak. Apakah Yesus marah tersinggung melihat umat mengungkapkan kegembiraannya lewat tepuk tangan yang tentu dengan sopan? Ini adalah suatu ucapan sukacita rohani, karena apa yg dimohonkan pengkaul, kini telah disetujui dan diterima Allah lewat tangan pemimpin religius.

Dalam acara tahbisan diakon/imam/uskup yang sering saya ikut, dalam buku ritus pentahbisan juga selalu tercantum acara syukur ini ketika uskup dalam dialog tanya jawab dengan calon tahbisan. Ketika uskup menanyakan kesiap sediaan calon tahbisan mengeman tugas baru, uskup pun akhirnya menjawab: “Saya menerimamu untuk ditahbiskan jadi diakon/imam/uskup” Ketika itu juga akan ada undangan resmi dari komentator (atau seorang imam) untuk menyambat jawaban uskup itu dengan ‘syukur pada Allah’. “Mari kita menanggapi penerimaan bapak Uskup dengan gembira sambil tepuk tangan”. Sekali lagi, ini tidak menghina liturgy. Tentu para penyusun liturgy itu bukan orang-orang bodoh sehingga mereka menyertakan acara tepuk tangan itu di dalam. Ini harus kita lihat dalam skope rohani. Saya kira bukan di Indonesia saja hal ini terjadi, tetapi di setiap acara kaul kekal dan tahbisan di mana-mana pun (setidaknya dalam acara yang sama di Gereja Thailand juga saya melihat hal yang sama: tepuk tangan untuk menyambut penerimaan pengkaul dan tertahbis).

Jadi apa bedanya tepuk tangan yang diberikan pada penerimaan seseorang ke dalam Gereja dengan tahbisan atau kaul kekal? Apakah umat menghina liturgi ketika bertepuk tangan menanggapi perkataan pastor: “saya menerima engkau masuk ke dalam persekutuan Gereja?” Sama sekali tidak. Tentu tepuk tangan di sini tidak sama dengan tepuk tangan bagi seorang pamazmur yang suaranya mantap, atau anggota kor yang bernyanyi dengan merdu. Ini jelas tepuk tangan yang tidak perlu dan tidak dibenarkan.

Dalam hal ini, marilah kita menyimak dengan baik makna dari suatu perayaan liturgi. Jangan pula kita berasumsi soal kemauan pribadi suka atau tidak suka menjadi kemauan umum. Jangan kita merasa pendapat pribadi kita menjadi kebenaran mutlak: ‘Karena saya tidak suka hal itu dibuat dalam Liturgi, maka hal itu tidak bisa” wow..ini tidak benar! Jadi kembali ke topik, penerimaan resmi dan baptisan ke dalam Gereja, seharusnya diadakan dalam kesatuan Gereja yang ditandai lewat kehadiran umat beriman. Hal itu lebih tepatnya dibuat pada hari minggu, atau dimana umat beriman satu gereja bisa hadir lebih banyak. Jika dibuat diluar misa dengan jumlah umat yang terbatas, tidak salah juga. Namun itu harus dipandang dari sebagai pertimbangan pastoral, misalnya karena jumlah katekumen yang akan diterima terlalu banyak maka mengganggu jadwal misa berikutnya.

Namun jika meggunakan versi kedua (dengan jumlah umat terbatas), makna dari communio (persekutuan satu jemaat dan satu keluarga) secara teologis mejadi hilang. Mari kita ingat kembali ritus baptis dan terima resmi pada malam paskah, diadakan sesudah homili dengan diawali pemberkatan air dan lanjut pada baptis/terima resmi. Sekarang ini, jika hal itu tidak banyak lagi dilakukan, itu karena lebih pada pertimbangan pastoral, acara terlalu panjang sementara akan ada lagi misa berikutnya di gereja yang sama, terlalu larut malam sehingga beresiko pada keamanan umat untuk pulang ke rumah. Ini semua merupakan pergeseran yang diperbolehkan seturut keadaan wilayah dan tuntutan pastoral setempat, tetapi bukan ideal. Idealnya memang pada malam paskah, atau hari minggu yang dihadiri umat beriman. Bisakah diadakan secara pribadi? Bisa! Ini juga merupakan kebijakan pastoral, tetapi symbol persekutuan dan penerimaan sebagai jemaat tidak berbicara apa-apa di sini. Sekian tanggapan dari saya. Terima kasih.

Salam dari tanah misi Thailand

Posted in h. SAKRAMEN, Kumpulan Artikel | Leave a Comment »

Liturgi, bukanlah tindakan manusia melainkan karya Allah

Posted by liturgiekaristi on September 3, 2011


« Liturgi, bukanlah tindakan manusia melainkan karya Allah », demikian pesan  Paus Benediktus XVI, kepada para uskup, imam dan penggiat liturgi di Trieste – Italia, dalam rangka Pekan Liturgi Nasional Italia ke-62. Tema dari Pekan Liturgi ini adalah : Allah Menuntun UmatNya : Liturgi, Sumber Katekese yang Tiada Habisnya. Dalam pesannya, Paus memberi tekanan pada keutamaan Allah dalam liturgi, dan beliau menegaskan bahwa « liturgi adalah sumber yang tiada habisnya dalam kehidupan Gereja : liturgi bukanlah karya manusia, tetapi tindakan Allah dengan sikap perendahan diriNya yang secara cuma-cuma dan mengagumkan ».

 

« Allah adalah guru agung umat-Nya, penuntun yang penuh kasih sayang dan yang tak kenal lelah dalam dan melalui liturgi ; inilah tindakan Allah bagi kita umatNya  di dalam Gereja saat ini. » Bahkan liturgi  disebut « katekese permanen Gereja, sumber yang tiada habisnya dari katekese. »

 

Bapa Suci mengajak, terutama para uskup dan imam untuk memperdalam « dimensi pendidikan liturgi sebagai  sekolah permanen tentang Kristus yang Bangkit. »  Penting untuk  merefleksikan hubungan antara liturgi dan katekese, sebagaimana tradisi yang hidup di jaman Patristik (jaman Bapa-bapa Gereja), yang mengajarkan kepada kita bahwa perayaan liturgi itu sendiri, tanpa kehilangan kekhususannya, selalu memiliki dimensi kateketis yang penting (bdk. Sacrosanctum Concilium, 33).

 

Bahkan, lebih dari itu, liturgi adalah « sumber utama dan tak tergantikan bagi umat beriman untuk mendapatkan semangat kekristenan sejati » (SC. 14). Liturgi dapat disebut katekese permanen Gereja, karena dalam liturgi umat beriman dapat mengembangkan pertumbuhan kehidupan beriman dan kematangan hati nurani.

 

phs

 

Selengkapnya dapat dilihat di sini : http://www.zenit.org/article-33279?l=english

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

BOLEHKAH TERIMA KOMUNI DUA KALI DALAM SEHARI?

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Salam Damai., sy mau bertanya ; bolehkah umat Katolik menyambut Tubuh Kristus 2x dalam sehari dalam 2 perayaan Misa yg berbeda waktu dan tempat ?

Daniel Pane Hukum Kanon menganjurkan normalnya hanya satu kali menyambut Komuni dalam satu kali. Rakus rohani bukanlah hal yang baik. Minimal adalah satu kali dalam satu tahun dan maksimal 2 kali dalam satu hari.

Daniel Pane

Alasan dibalik aturan itu jelas, hidup kita bukan hanya soal Komuni dan Misa. Dua hal ini adalah puncak kehidupan iman kita, tetapi bukan segala-galanya. Itulah sebabnya di biara-biara yang paling kontemplatif sekalipun setiap orang biasany…a hanya mengikuti Misa satu kali dalam satu hari (mereka tidak mengadakan Misa berkali-kali dalam satu hari walaupun bisa). Waktu mereka diisi dengan bekerja, mendoakan ibadat harian (dan tidak menggantikan doa-doa lain dengan Misa hanya karena itu adalah puncak ibadat). Ini bukan soal kebersihan hati semata, tetapi soal keseimbangan dan prioritas hidup. Seorang Kristen diharapkan mampu menjalani hidup secara seimbang sesuai prioritas yang benar menurut prinsip ajaran Kristen. Keinginan menerima Komuni berkali-kali dalam satu hari tanpa ada alasan kuat (seperti Imam yang terbeban kewajiban mempersembahkan Misa bagi umat, atau bahaya kematian) menunjukkan kekurangan dalam hal itu. :D

Satu pertanyaan dari umat

“Dulu waktu saya masih anggota mudika, sangat aktif membantu pastor melayani misa ke stasi2. Senang bisa ikut bersama dan melihat langsung capeknya Imam melayani umat. Yang ingin saya tanyakan, kalo saya ikut menghadiri misa ke stasi2 berarti kadang dalam sehari saya ikut menerima komuni dua kali. Apakah itu diperbolehkan untuk umat??”.

PENCERAHAN DARI BAPAK ONGGO LUKITO

KHK 917 Yang telah menyambut Ekaristi mahakudus, dapat menerimanya lagi hari itu hanya dalam perayaan Ekaristi yang ia ikuti, dengan tetap berlaku ketentuan Kanon 921 § 2.

KHK 921 § 2 Meskipun pada hari yang sama telah menerima komu…ni suci, sangat dianjurkan agar mereka yang berada dalam bahaya maut menerima komuni lagi.

Jadi boleh menyambut komuni lebih dari sekali, kalau tetap mengikuti seluruh perayaan yang kedua kali, dan tidak masuk gereja hanya untuk menerima komuni lagi.

Posted in 5. Bagian Komuni, l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

ISTILAH LITURGI : EPIKLESIS, AKLAMASI, ANAMNESIS, DOKSOLOGI, PREFASI

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


EPIKLESIS :

EPIKLESIS (dari bahasa Yunani) yg secara harafiah berarti doa permohonan (=klesis) atas (=epi) persembahan. Secara liturgis diartikan sbg doa supaya Roh Kudus turun utk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Selain itu, Roh kudus juga dimohonkan agar turun utk mempersatukan seluruh jemaat.

Ada dua macam Epilklesis :
1. Epiklesis konsekrasi (atas roti dan anggur), yg berbunyi : “Maka kami mohon : kuduskanlah persembahan ini dengan pencurahan Roh-Mu, agar bagi kami menjadi Tubuh dan (+) Darah Putera-Mu terkasih, Tuhan kami, Yesus Kristus” (DSA II).

2. Epiklesis komunio (atas jemaat) : “Kami mohon agar kami, yang mnenerima Tubuh dan Darah Kristus, dihimpun menjadi satu umat oleh Roh Kudus”.
___
Lalu, tata gerak imam utk epiklesis ini, bagaimana ya.. ?

marii.. bg yang tau, segera saja di share utk semua sahabat SL tercinta..
atau ada yg mau menambahkan.. dipersilahkan..

*sumber : Lakukanlah Ini, Sekitar Misa Kita, C.H. Suryanugraha.

AKLAMASI,
Berasal dr bhs Latin, acclamatio [baca : aklamatsio], yaitu seruan yg dilontarkan oleh sekelompok orang, entah utk menanggapi seruan orang/pihak lain (mendukung/menyetujui), entah utk menghormati seseorang
Dalam liturgi, AKLAMASI adalah tanggapan umat kpd salam/ajakan/doa pemimpin atau pelayan ibadat.

Contoh Aklamasi dlm Perayaan Ekaristi : Amin, Dan bersama Rohmu, Sekarang dan selama-lamanya, Syukur kepada Allah, Dimuliakanlah Tuhan (aklamasi sebelum Injil), Terpujilah Kristus (aklamasi sesudah Injil), Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan (aklamasi Doa Umat), dll.

*sumber dr, Kamus Liturgi Sederhana, Ernest Mariyanto.

ANAMNESIS.

Penghadiran kembali peristiwa masa silam ke masa kini sedemikian rupa sehingga orang² yg berhimpun di suatu tempat pd masa kini dpt mengalami dan berpartisipasi secara nyata dlm peristiwa itu.

Dalam Perayaan Ekaristi, Anamnesis dimulai pada saat imam selebran menyerukan “Mysterium fidei” (yg secara hurufiah dpt diartikan sbg “misteri iman”). Dimana jemaat diajak utk menghadirkan kembali peristiwa / memproklamasikan kenangan akan kematian, kebangkitan, dan kedatangan kembali Yesus Kristus.
Dan jemaat menjawab ajakan imam tsb (“Agungkanlah misteri iman kita” = “Mysterium fidei”) dengan menyerukan (aklamasi) kenangan (anamnesis) itu.,
Misalnya : “Tuhan, Engkau telah wafat. Tuhan, sekarang Kau hidup. Engaku Sang Juru Selamat : Datanglah, ya Yesus Tuhan” (“Anamnesis 5″, Puji Syukur, 254).

TPE 2005 menawarkan enam pilihan Aklamasi Anamnesis, dan semuanya tidak menggunakan “Amin”.

Johanes Ogenk Jbso nambah dikit soal makna dari anamnesis…Anamnesis menegaskan kenangan akan karya penyelamatan Tuhan yang terjadi pada masa lalu dan berlangsung sampai sekarang. Dalam liturgi, apa yang dikenang itu dihadirkan kembali dalam kehidupan jemaat yang merayakan dan bergerak menuju kepenuhan eskatoligis.

DOKSOLOGI.

Dari bhs Yunani, ungkapan pujian sbg tanda hormat, yg disampaikan kpd Triunggal Yang Mahakudus, yaitu Alah Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Dalam Liturgi ada sejumlah doksologi, yakni :

1. Ayat Kemuliaan kpd Bapa dan Putera dan Roh Kudus yg lazim diucapkan pd akhir mazmur atau doa-doa lain. Ini bisa disebut doksologi kecil.

2. Kidung/Madah Kemuliaan dlm PE, yg jug alazim disebut doksologi besar.

3. Bait terakhir dlm setiap madah Ibadat Harian.

4. Penutup Doa Syukur Agung, “Dengan pengantaraan Kristus…. ” (seperti yd dimaksud @Sri Tauruk Allo diatas).
Dalam misa konselebrasi, doksologi penutup DSA ini dpt diucapkan oleh pemimpin sendirian, atau bersama dg semua konselebran.

5. Aklamasi sesudah (embolisme) Bapa Kami dlm perayaan Ekaristi.

PREFASI.

Isi Prefasi adalah pujian dan ucapan syukur dari jemaat kepada Allah Bapa atas seluruh karya keselamatan yg diselenggarakan-Nya.

Kata asli dr Prefasi adalah Praefatio yg berasal dr bhs Latin, yaitu suatu doa pujian dan syukur meri…ah, yg merupakan bagian pertama dr Doa Syukur Agung dlm Perayaan Ekaristi.

Inti sari dari rumusan Prefasi ini mengungkapkan alasan-alasan kita untuk memuji Allah, khususnya mengenai karya penciptaan dan penebusan yg dilakukan Allah. Maka bagian pertama DSA ini disebut jg sbg Doa Pujian.

Dlm Perayaan Ekaristi, Prefasi selalu didahului dgn dialog antara imam dan umat, dan ditutup dgn aklamasi Kudus oleh umat.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

Hari Raya Trinitas Mahakudus : sejarahnya dalam liturgi Gereja

Posted by liturgiekaristi on June 17, 2011


Hari minggu setelah Hari Raya Pentekosta, Gereja merayakan Hari Raya Trinitas  Mahakudus. Kita tahu bahwa Para Rasul pada hari Pentekosta mendapat pencurahan Roh Kudus dan teringatlah mereka akan perintah Sang Guru : « Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. » (Matius 28, 19-20). Para Rasul juga ingat pada janji Yesus Kristus yang mengutus Roh Kudus : « … tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu » (Yohanes 14, 26).

 

Maka setelah mendapat pencurahan Roh Kudus di hari Pentekosta, Para Rasul segera menyebar dan memberitakan Injil Yesus Kristus kepada segala bangsa dan membabtis semua orang yang percaya dalam nama Allah Trinitas yang suci. Dengan alasan inilah maka suatu Hari Raya yang secara khusus untuk menghormati Allah yang Mahaesa dalam tiga pribadi, Bapa – Putera-Roh Kudus – Trinitas, dirayakan pada hari Minggu  setelah Hari Raya Pentekosta.

 

Pertanyaannya adalah : sejak kapan perayaan Trinitas yang mahakudus masuk dalam lingkaran tahun liturgi Gereja ?

 

Iman kepada Allah Trinitas sudah ada dalam Injil dan Gereja Perdana, bahkan secara implisit sudah ada sejak Perjanjian Lama, sampai ditetapkan sebagai Dogma Gereja pada Konsili Nicea  (325) – Constantinopel (380   dan bdk. juga Rumusan sahadat/iman Nicea-Constantinomel). Rumusan iman kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sudah ada dalam doa dan liturgi orang kristen sejak awal, seperti Tanda Salib, doa Kemuliaan, dalam mengakhiri doa dengan seruan kepada Allah Trinitas, dalam Doksologi, dst. Namun hal ini belum menjadi suatu perayaan khusus untuk menghormati Trinitas yang tersuci. Bahkan ketika perayaan Trinitas sudah tersebar dalam Gereja-gereja lokal Paus Alexander II (menjadi Paus tahun 1061-1073) tidak menerima dan « melarang », dengan alasan bahwa setiap hari dan setiap saat kita menyeruhkan penghormatan kita kepada Allah Trinitas yang mahakudus dengan mengucapkan : « Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto (Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus), dan/atau dengan formula lain yang sangat agung sebagai tanda hormat dan sembah bakti kita kepada misteri Trinitas yang tersuci (bdk. De feriis. Cap. Quoniam. Dekrit yg keliru dari Paus Alexander II dan kemudian dianulir oleh Paus Yohanes XXII).

 

Misteri Trinitas Mahakudus sebagai suatu perayaan khusus baru ada sejak abad VIII.  Adalah seorang biarawan dan pemikir yang bernama Albinus (Alquin/ Ealhwine), orang Inggris dan menjadi sahabat dan penasihat Charles Magnus (Carolus Agung), dengan semangat liturgi suci beliau membuat suatu rumusan liturgi  misa votif untuk menghormati misteri Allah Trinitas mahakudus. Rumusan misa votif ini diterima oleh St. Bonifasius, rasul bangsa Jerman, bahkan semula hanya rumusan Misa votif akhirnya secara perlahan tersebar secara luas dan diterima di Jerman dalam Konsili Seligenstadt, tahun 1022.

 

Tahun 920, Mgr. Stefanus, uskup Liège – Belgia, melembagakan Pesta Trinitas Mahakudus sebagai perayaan tetap di Gereja keuskupannya. Beliau juga menyusun doa offisi (doa brevir/ibadat harian) yang lengkap untuk menghormati misteri Trinitas tersuci ini.

 

Walaupun ada dekrit dari paus Alexander II yang « melarang » adanya perayaan khusus misteri Trinitas mahakudus, perayaan misteri Allah Trinitas mahakudus sudah tersebar di biara-biara dan Gereja-gereja lokal sebagai suatu perayaan iman yang tetap dan wajib. Pada awal abad XII ada seorang biarawan yang bernama Rupert, yang digelari sebagai pangeran studi liturgi, beliau mencanangkan perayaan Misteri Trinitas pada hari Minggu setelah Pentekosta, dengan mengatakan :

 

« Setelah kita merayakan HR Pentekosta, hari turunnya Roh Kudus, kita menyanyikan kemuliaan kepada Allah Trinitas mahakudus pada hari Minggu berikutnya. Hal ini tepat karena segera setelah turunnya Roh Ilahi mulailah pewartaan Injil, orang-orang mulai percaya, dan mulai adanya pembabtisan,  iman dan pertobatan dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus ».

 

 

Di Inggris, pelembagaan perayaan  misteri Trinitas pada hari Minggu setelah HR Pentekosta dimotori oleh martir St. Thomas Becket Uskup agung  Canterbury, pada tahun 1162, sekaligus sebagai perayaan untuk mengenangkan tahbisanya sebagai uskup pada hari Minggu setelah Pentekosta (saat itu Gereja Inggris masih dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma, belum menjadi Gereja Anglikan).

 

Di Prancis, tahun 1260 pada Konsili di Arles, para uskup menetapkan perayaan Trinitas mahakudus pada hari Minggu setelah Pentekosta bahkan  pada canon VI dari konsili ini menetapkannya sebagai oktaf Pentekosta. Artinya pada Minggu, oktaf dari HR Pentekosta itulah  dirayakan HR Trinitas mahakudus.

 

Oleh karena perayaan Trinitas mahakudus ini sudah tersebar luas bahkan diarayakan dengan semangat iman dan olah kesalehan yang tinggi di kalangan Gereja lokal dan di biara-biara,  akhirnya pada tahun 1334, Paus Yohanes XXII, menganulir dekrit pendahulunya Paus Alexander II, dan beliau menerima perayaan Trinitas mahakudus sebagai pesta wajib bagi Gereja Latin. Maka dengan penetapan ini, perayaan Trinitas mahakudus diterima dalam Gereja semesta dan tersebar keseluruh dunia. Tanggal 24 Juli 1911, Paus Pius X melembagakannya sebagai perayaan kelas satu atau SOLEMNITAS, dan dirayakan pada Hari Minggu setelah HR Pentekosta, yaitu sebagai Hari Raya Trinitas Mahakudus.

 

Dari perjalanan sejarah lahirnya HR Trinitas mahakudus ini, patutlah kita bersyukur, karena misteri agung Allah Trinitas yang tersuci, kita rayakan dalam lingkaran kalender liturgi  sepanjang tahun. Kita sadar bahwa Trinitas yang tersuci merupakan misteri sentral dari iman dan kehidupan kita sebagai orang katolik. Dalam doa-doa kita menyimpulkannya dengan ucapan doksologi. Ucapan doa “kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus…”  menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pujian dan syukur serta doa kita kepada Tuhan. Setiap saat kita menandai diri kita dengan Tanda Salib: “dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.  Itu berarti kita mengundang misteri Allah Trinitas mahakudus masuk dan tinggal dalam diri pribadi kita : dalam pikiran dengan menyentuh dahi, dalam hati dengan menyentuh dada, dalam setiap usaha dan karya (tenaga) dengan menyentuh bahu kiri-kanan. Oleh karena itu selayaknya kita bersatu dalam ucapan syukur Gereja ini :

 

Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus,

Allah yang kekal dan kuasa, kami bersyukur kepadaMu.

Sebab bersama PuteraMu dan Roh Kudus,

Engkaulah Allah yang mahaesa,

bukan karena pribadi yang satu,

melainkan karena berhakekat esa dalam Tritunggal mahakudus.

Kami mengimani Engkau mahamulia berkat wahyuMu kepada kami.

Demikian pula PuteraMu dan Roh Kudus

sama-sama mulia juga dengan tiada bedanya.

Kami menyembah Dikau

karena mengimani Engkaulah Allah yang kekal dan benar,

khususnya dalam pribadi-pribadi,

satu dalam hakekat, namun sama dalam keagungan.

Oleh karena itu, Engkau kami puji dan muliakan

bersama para malaikat dan seluruh isi surga

dengan berseru :

 

Kudus, kudus, kuduslah Tuhan

Allah segala kuasa

Surga dan bumi penuh kemuliaanMu

Hosanna ! Terpujilah Engkau di surga.

Terbekatilah yang datang atas nama Tuhan.

Hosanna ! Terpujilah Engkau di surga.

 

(Prefasi HR Tritunggal Mahakudus, dari  Buku Misa).

 

 

Salam

-phs-

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

BREVIR – DOA HARIAN

Posted by liturgiekaristi on May 8, 2011


Surrexit Dominus Vere = Tuhan sungguh bangkit, Alleluia
Aintifon pembukaan ibdat pagi (doa harian/brevir), ayat-ayatnya dari Mazmur 94(95).

Surrexit Dominus Vere, Alleluia : antifon pembukaan ibadat harian selama masa Paskah. Lagu dari ordo Benediktin dari abad pertengahan. Lagu ini adalah CD para suster dari biara Benediktin Notre Dame de l’Annonciation

Komentar Bp. Soetikno Wendie Razif

Dulu brevir hanya didoakan oleh para biarawan/wati – Romo2 Projo (Pr.) tidak mendaraskan brevir (karena mereka bukan biarawan) – Sekarang brevir juga didaraskan oleh awam yang berkaul – Awam berkaul yang ada di Indonesia adalah : (Ordo Ketiga Fransiskan (OFS), Ordo Ketiga Karmelit (T.OCarm), Dominikan Awam (LP = Laicatus Praedicans), Focolarino, Ursulin Sekulir (PSA = Puteri Santa Angela atau IISSAM = Institut Sekulir Santa Angela Merici) dan Misionaris Hati Kudus Awam (CM = Compagnia Missionaria).

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Ibadat Harian atau lebih dikenal Doa Brevir merupakan liturgi resmi Gereja. Maka para klerus wajib menjalankannya, termasuk para romo projo (umat awam sudah diwaklili pra klerus, tetapi kalau menjalankannya itu sangat bagus, karena ini doa  Gereja).
Yang termasuk liturgi resmi Gereja adalah : Perayaan Ekarissti; Ibadat Harian; dan Perayaan² Sakramen : tobat, perminyakan orang sakit, berkat nikah tanpa misa, babtis bayi tanpa misa, dsb yang berkaitan dengan penerimaan sakramen.
Sedangkan yang lainnya bersifat devosional dan perayaan sakramentalia.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

STIPENDIUM DAN IURA STOLAE

Posted by liturgiekaristi on March 29, 2011


SUMBER :
—– Original Message —–
From: “Yohanes Samiran SCJ” <ysamiran@gmail.com>
Sent: Saturday, March 26, 2011 9:46 PM
Subject: Re: [ApiK] Re: – Bagi Imam Praja, Stipendium dan Iura Stolae masuk kocek pribad

Iura Stolae dan Stipendium.

Seperti biasa saya akan memberikan patokan atau alur umum untuk hal yang  kita bicarakan, baru nanti kita coba nilai praktik yang terjadi berdasarkan  pedoman umum itu.

(1) Stipendium.
Apa itu “stipendium” – stipendium adalah persembahan umat yang meminta  INTENSI khusus kepada seorang imam untuk didoakan, khususnya didoakan dalam   perayaan Ekaristi. Uang itu bukan ‘harga’ Misa, melainkan derma untuk   keperluan sehari-hari imam, dengan syarat imam itu mempersembahkan misa   untuk ujud seperti yang diminta si penderma itu.
Sebenarnya satu stipendium itu identik dengan satu misa. Maka kalau orang  bertanya besarnya – mau mengukur lho – kurang lebih rumusannya adalah   sebesar kebutuhan hidup sehari seorang imam.  Mengapa sebesar itu? Karena normalnya seorang imam mempersembahkan sehari
satu misa saja. Nah, kalau di Indonesia di beberapa paroki ada imam yang  mempersembahkan lebih dari satu misa, itu adalah karena keadaan tidak bisa   pastoral kita. Artinya kebutuhan pelayanan sakramen ekaristi banyak,   sementara jumlah imam yang ada tidak sebanyak kebutuhan itu.  Nah, besarnya sebesar kebutuhan hidup maksudnya tentu saja supaya jangan
sampai ada pastor yang tidak bisa melayani karena tidak tercukupi   kebutuhannya. Atau rumus lain, adalah karena pekerjaan pokok dan utama   seorang imam adalah pelayanan pastoral seperti itu, maka dia juga harus   dijamin bisa hidup cukup pada hari itu.  Maka demi keadilan dan sekaligus solidaritas para imam dalam   kolegialitasnya, di beberapa keuskupan membuat aturan seperlunya agar para   imam tidak terjebak menjadi “tukang misa” atau juga “pengejar stipendium”;  aturan itu misalnya kalau di Keuskupan Agung Palembang: setiap imam boleh
memilih satu stipendium yang akan diambil pada hari itu, dan kalau dia   mendoakan lebih dari satu intensi maka stipendium atas intensi lain yang   tidak dipilih itu dicatat untuk disetorkan ke ekonom keuskupan.

Nah, berkaitan dengan ini ada catatan, bahwa seorang imam tidak boleh  menolak mendoakan suatu intensi yang diminta umat hanya karena umat itu   tidak mampu memberikan stipendium. Jadi dalam hal ini jelas bahwa imam tidak   boleh mengikat suatu intensi dengan stipendium. Juga tidak boleh mengukur   ketulusan pelayanan untuk mendoakan intensi umatnya dengan besar atau   kecilnya stipendium yang diterimanya.

(2) Iura Stolae
Iura Stolae adalah sejumlah uang yang diberikan umat kepada imam untuk   pelayanan: permandian, pernikahan, pemakaman. Konferensi para Uskup   menentukan penggunaan uang itu. Di Indonesia, Iura stolae – diserahkan ke   keuskupan (via paroki).  Maka pelayanan di luar yang 3 di atas, walau pun si imam melayani dengan   menggunakan “stola” – tidak digolongkan “iura stolae”. Jadi misalnya   pemberkatan rumah, mobil, toko, dll – pemberian umat tidak disebut atau   termasuk iura stolae. Lihat pembandingnya, Misa Kudus itu – imam juga pakai
stola, atau malahan lebih lengkap lagi ya stola plus kasula. Tetapi  pemberian uang untuk ujub perayaan ekaristi – adalah stipendium.

* Jadi:
a. Stipendium yang boleh diambil oleh seorang imam – sehari cukup satu. Yang  lain diserahkan ke keuskupan untuk solidaritas kehidupan pelayanan para   imam.

b. Iura stolae tidak boleh masuk kantong pribadi, tetapi diserahkan ke  keuskupan. Terus romonya dapat apa? Ya seharusnya paroki tempat dia   memberkati akan menerima (mengambil) iura stolae itu, dan paroki itu akan   memberikan “honor” sebagai terimakasihnya atas pelayanan si imam itu, kalau   imam itu datang dari luar paroki itu. Kalau imam itu adalah pastor di paroki
itu, ya dia mengambil satu intensi hari itu. Honor akan diterima dari   keuskupan setiap akhir bulan sesuai dengan kesepakatan di keuskupan itu.

Maka soal stipendium dan soal iura stolae – tidak ada bedanya perlakuannya  antara imam biarawan (tarekat) dan imam praja (diocesan). Yang membedakan   imam biarawan dan praja adalah kaul religiusnya. Kaul religius tidak ada   hubungan dengan stipendium dan soal iura stolae.

salam dan doa,

Yohanes Samiran SCJ
=========================
Semoga Hati Yesus merajai hati kita
=========================

—– Original Message —–

From: “Hadrianus Wardjito” <hadrianuswardjito@gmail.com>

To: <ApiKatolik@yahoogroups.com>

Sent: Monday, March 28, 2011 1:59 PM

Subject: Re: Re: [ApiK] TANYA : Stipendium dan Iura Stolae

Dalam tradisi hidup membiara

(1) uang dan barang itu diberi lebel “ad usum” dan bukan untuk dimiliki atau sebagai yang dikejar dengan sikap dasar “loba”, yang ujung-ujungnya untuk menumpuk kekayaan. Dengan semboyan “ad usum” — yang bisa dipraktekkan dengan cara menulis pakai potelot pada buku yang baru saja dibeli — biarawan atau biarawati tahu bahwa itu bukan miliknya pribadi, tetapi milik konggregasi, dan adanya “untuk dipakai”.

(2) Di tarekat kami, dikenalkan atau diminta bahkan, bahwa setiap pribadi dan komunitas membuat “budgeting” mengenai apa yang hendak diperlukan selama sebulan dan bahkan selama setahun. Karena itu rumah-rumah lansia yang ada di negeri Belanda, misalnya, di mana mereka menerima pensiun, tetapi masih bisa juga membantu daerah-daerah misi. Karena pensiunnya tidak dihabiskan semuanya untuk mencukupi keperluan sendiri. Selain ada niat untuk hidup sederhana, ada juga etikat “untuk berbagi”. Bahwa, dan bahwa, masih ada juga yang menyeleweng, khususnya ketika merasa ada di daerah tidak bertuan, tidak dikontrol oleh pimpinan, oleh ekonom rumah, oleh ekonom komunitas wilayah, oleh ekonom propinsi, terus membelanjakan sendiri duitnya…..yah ujung-ujungnya ketahuan juga. Dari mana ketahuan? Lho katanya kaul kemiskinan, tetapi mengapa laptopnya gonta-ganti, handphone lebih dari 2, mempunyai rekening bank sendiri, keluarganya koq semakin “moncer”, dlsb. Yang begini ini dijuluki “hidup bersarang” atawa “parasit” > disekolahkan sampai luar negeri dengan biaya tidak terhitung, tetapi tidak tahu diri untuk turut serta melangsungkan kehidupan tarekatnya. Semoga jelas, dan tanpa menyinggung secara ad-hominem.
h.w.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

DOA BAPA KAMI KATOLIK BEDA DENGAN PROTESTAN. KENAPA ?

Posted by liturgiekaristi on March 29, 2011


Pertanyaan umat :

Salam…………
saya ingin mendalami agama saya ini:
1. Mengapa Doa Bapa Kami Katholik berbeda dengan Doa Bapa Kami Protestan, tetapi ketika saya cari di Alkitab, doa Bapa Kami Katholik malah tidak ada?

 

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang TEKS DOA BAPA KAMI dalam Perayaan Ekaristi.
Teks LITURGIS vs teks BIBLIS?

1) Kita mengenal Doa BAPA KAMI. Selain ditemukan dalam teks upacara liturgis Perayaan Ekaristi, ini juga dapat ditemukan di Kitab Suci. Kalau ditelusuri dengan… baik, pasti dengan mudah ditemukan KE-TIDAKPERSIS-AN. ”Teks LITURGIS” tidak mentah-mentah diambil begitu saja dari ”Teks KITAB SUCI”. Teks liturgis tetap bercorak biblis, namun tak berarti copy-paste dari teks Kitab Suci.

2) Coba perhatikan juga Bacaan I, II, Injil. Teks liturgis untuk Bacaan Firman Tuhan (yaitu: Lectionarium dan Evangeliarium), memang DIAMBIL DARI KITAB SUCI, namun TELAH DISESUAIKAN untuk keperluan upacara liturgis. Bandingkan apa yang dibaca oleh lektor/imam dan yang Anda baca sendiri langsung dari Kitab Suci.

3) Perhatikan juga penyesuaian liturgis lainnya: Aklamasi umat ketika imam menunjukkan Tubuh Kristus (dan Piala Kudus) kepada umat. Ketika itu umat ber-aklamasi: ”Ya Tuhan, saya tidak pantas ENGKAU datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh.”
Rumusan itu MERUPAKAN PENYESUAIAN dari teks Mat 8:8 yang berkata ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

4) Demikian juga dengan rumusan liturgis untuk Doa Bapa Kami. Adapun, ‘doa’ ini versi Injil Matius (6:9-13) lebih panjang daripada versi Injil Lukas (11:2-4). Dan, menurut para ahli Kitab Suci, terdapat indikasi bahwa kalimat terakhir pada Mat 6:13, yaitu yang dituliskan dalam tanda kurung ”(Karena Engkaulah …. Amin)” bukan berasal dari penulis asli, melainkan dari editor-kemudian.

5) Untuk KEPERLUAN liturgis dan dalam KERANGKA liturgis sebagai satu-tindakan-utuh yang dilaksanakan bersama-sama, maka teks-teks biblis tentang doa yang diajarkan Yesus, juga dipakai, dengan disertai PENYESUAIAN-PENYESUAIAN liturgis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun, seturut ketentuan, KWI sebagai konferensi uskup setempat adalah diberikan kewenangan dan bertanggungjawab atas penyesuaian teks-teks liturgis dalam wilayah Indonesia.

6) Tentang RUMUSAN RESMI-BAKU KATOLIK dan TERJEMAHAN Indonesia. Rumusan resmi-baku doa Bapa Kami adalah rumusan sebagaimana ada dalam ‘Missale Romanum’.
Sedangkan terjemahan resminya, atau rumusan baku dalam Gereja Katolik Indonesia, itulah sebagaimana yang ada dalam ‘Tata Perayaan Ekaristi’.

7) Rumusan yang BERBEDA dari apa yang ada dalam TPE resmi (misalnya rumusan yg ditemukan dalam macam-macam TEKS NYANYIAN yang rumusan/formulasinya sudah DIMODIFIKASI), BUKANLAH rumusan baku-baku resmi Katolik Indonesia. Sebagai nyanyian itu mungkin bagus, tapi sebagai suatu rumusan, itu BUKAN rumusan baku Katolik Indonesia.

8) RUMUSAN RESMI/BAKU KATOLIK ditulis dalam Bahasa Latin:
”Pater noster, qui es in caelis; sanctificetur nomen tuum; adveniat regnum tuum; fiat voluntas tua, sicut in caelo et in terra.
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie; et dimitte nobis debita nostra, sicut et nos dimittimus debitoribus nostris; et ne nos inducas in tentationem; sed libera nos a malo.”

9) Dalam PERAYAAN EKARISTI, Doa ‘Bapa Kami’ di-AMIN-kan oleh seluruh umat SETELAH DOA DAMAI selesai dibawakan oleh IMAM atas sama seluruh umat.

10) JADI, dalam upacara-upacara liturgis, Gereja memakai rumusan-rumusan doa, sapaan, aklamasi, dll yang DIGALI DARI kekayaan Firman Allah dalam Kitab Suci.

Semoga bermanfaat
Salam, ZTT

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

PUMR 22 – KAITANNYA DENGAN USKUP BERPERAN SEBAGAI PENGATUR KEHIDUPAN LITURGIS

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

“Perayaan Ekaristi dalam Gereja partikular amatlah penting. Di sini, uskup diosesan, sebagai penyalur utama misteri-misteri Allah dalam gereja partikular yang dipercayakan kepada reksa pastoralnya, berperan sebagai pengatur, penggerak, dan pemelihara seluruh kehidupan liturgis.” (Pedoman Umum Misale Romawi art. 22)

Dengan kata lain, sangat penting bagi umat untuk senantiasa taat kepada arahan-arahan Uskup terkait kehidupan liturgis di keuskupan. Silahkan share tentang tanggung jawab Uskup ini dan ketaatan umat kepada uskupnya.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

KONSTITUSI LITURGI ART 41 – KAITANNYA DENGAN LITURGI KEUSKUPAN

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Uskup harus dipandang sebagai imam agung kawanannya… Maka dari itu semua orang harus menaruh penghargaan amat besar terhadap kehidupan Liturgi keuskupan di sekitar Uskup, terutama di gereja katedral… dalam perayaan Liturgi yang sama, terutama dalam satu Ekaristi, dalam satu doa, pada satu altar, dipimpin oleh Uskup yang dikelilingi oleh para imam serta para pelayan lainnya.  Konstitusi Liturgi art. 41

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Penting dan perlu juga bagi setiap orang beriman, agar pada waktu-waktu yang dimungkinkan, dapat mengikuti perayaan Ekaristi bersama Uskup dan para imam yang dilangsungkan di Gereja Katedral. Pada saat seperti itulah tergambar dengan jelas Gereja sebagai suatu himpunan umat Allah dengan gembala utamanya.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

PROMULGASI TPE BARU BAGI NEGARA BERBAHASA INGGRIS (27 NOV 2011)

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Selamat pagi fans Page Liturgi. Apa kabar? Dalam rangka promulgasi Tata Perayaan Ekaristi yang baru bagi negara² berbahasa Inggris. Untuk lengkapnya….silahkan baca di kotak koment.

 

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Dalam rangka promulgasi Tata Perayaan Ekaristi yang baru bagi negara² berbahasa Inggris, khususnya di Amerika yang resmi akan digunakan pada hari Minggu Advent Pertama, 27 November 2011, ini ada lagu² liturgi Latin resmi yang yang ditransla…sikan dan yang sedang gencar disosialisasikan di Amerika Serikat. Ada baiknya disharekan untuk kita semua, sehingga tidak bingung nanti kalau misa dalam bahasa Inggris. Ini baru satu lagu, yang lainnya bisa diambil dari youtube.

http://causafinitaest.blogspot.com/2011/01/new-translation-monday-sanctus.html?spref=fb

(P. Philipus Seran)

 

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

bagi yang berminat bisa lihat lagu atau aklamasi lain di youtube, dari pembukaan sampai penutup : berkat dan pengutusan ; ini bukan hanya untuk umat tetapi terlebih untuk para romo yang biasa misa bahasa inggris, untuk dipelajari dari sekarang, sehingga saat dipromulgasikan tentu saja kebiasaan yang lama tidak berlaku.

 

 

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

JAWABAN UMAT “DAN SERTAMU JUGA” DIGANTI DENGAN “DAN BERSAMA ROHMU”. Kenapa?

Posted by liturgiekaristi on March 15, 2011


Post 15 Maret 2011

PENCERAHAN  dari Pastor Zepto

@Kristinus Munthe
Tentang PENGHAPUSAN jawaban umat ”DAN SERTAMU JUGA” (hanya digunakan ”DAN BERSAMA ROHMU”)

1) Pada tataran KEBIJAKAN.
Para uskup yang tergabuung dalam KWI telah memutuskan perubahan tsb.
…Bunyi KEPUTUSAN SIDANG SINODAL KWI 2009 butir ke-6:
”KWI menyetujui perubahan atas TPE:
Jawaban salam dari umat ‘dan sertamu juga’ dihapuskan, dan hanya digunakan ‘dan bersama rohmu’.”
Setuju 30 uskup; Tidak setuju 1; Abstain 5.
(Sumber: SPEKTRUM. Dokumentasi dan Informasi KWI, No. 1 Tahun XXXVIII, 2010, hlm. 141).

2) Pada tataran PRAKTIS.
Barangkali ada pihak yang lebih berkompeten (Komlit KWI?) untuk memberi keterangan atau petunjuk yang sifatnya lebih teknis. Misalnya: akan adakah terbitan Buku TPE imam/umat edisi revisi? Kapan? Sejak kapan keputusan sidang sinodal tsb berlaku? dst, dst.

Salam, Zepto-Triffon

 

PENCERAHAN DARI Thomas Rudy

kalau melihat teks asli dari missale romanum dikatakan et cum spiritu tuo (dan menyertai rohmu)… menyertai rohmu itu sangat alkitabiah

2tim 4:22 Tuhan menyertai rohmu.
Flp 4:23 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!

…arti rohmu disini adalah Tuhan menyertai keseluruhan dirimu… ndak cuma badannya, tapi juga keseluruhan entitas manusia tsb (jiwanya….)

 

 

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

Exortasi Apostolik Post-sinodal VERBUM DOMINI (Part 1)

Posted by liturgiekaristi on March 15, 2011


Post 15 Maret 2011

Pada tanggal 11 November 2010 yang lalu, Paus Benediktus XVI mengeluarkan Exortasi atau seruan Apostolik Post-Sinodal VERBUM DOMINI (Sada Tuhan). Dokumen Vatikan ini merupakan hasil Sinode XII para uskup di Roma, yang diadakan Oktober 2008, dengan tema : FIRMAN ALLAH DALAM HIDUP DAN MISI GEREJA. Sinode para uskup ini menghasilkan 55 proposisi (rekomendasi) kepada Paus untuk ditindaklanjuti. Paus menyambut baik  proposisi ini, dan tidak lanjutnya beliau mengeluarkan Exortasi Apostolik VERBUM DOMINI. Suatu dokumen Gereja yang sangat bermakna dalam menghidupi dan mencintai Sabda Allah dalam kehidupan menggereja di jaman sekarang ini.

Menarik bahwa judul dari dokumen ini Bapa Suci mengambilnya dari liturgi, yakni aklamasi yang diserukan oleh diakon atau imam ketika selesai membacakan Firman Tuhan : « Verbum Domini », yang dalam liturgi kita bahasa Indonesia : « Demikianlah Sabda Tuhan ».  Apa isi dokumen Gereja ini, berikut ringkasannya.

Dokumen VERBUM DOMINI ini terdiri dari tiga bagian : Verbum Dei = Sabda Allah; Verbum in Ecclesia = Sabda Allah dalam Gereja ; dan Verbum pro Mundo = Sabda Allah bagi dunia. Ketiga bagian ini mau mengatakan  : Sabda Allah itu menunjuk kepada seseorang pribadi, yakni Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang oleh FirmanNya Gereja lahir dan hidup, menjalin keakraban dan keintiman dengan dan bersama Dia, dan oleh FirmanNya juga Ia mengutus Gereja (umat Allah yang percaya) untuk mewartakan dan menghidupi Sabda Allah  dalam dunia, di tengah kehidupan sehari-hari dalam dunia.

Bagian Pertama, VERBUM DEI : Sabda Allah

Bagian pertama dari Exortasi Apostolik VERBUM DOMINI berbicara tentang Allah sebagai dasar dan sumber dari Firman Tuhan. Paus Benediktus XVI menggaris-bawahi peran mendasar atau tempat fundamental dari Allah Bapa, sebagai sumber dari Firman itu sendiri dan dimensi Triniter dari Wahyu Ilahi :

  • Bab pertama berjudul: « Allah yang bersabda (memanggil) » (bdk. VD no. 6 – 21). Paus menyoroti kehendak Allah yang berbicara dan berdialog dengan manusia. Inisiatif datang dari Allah sendiri, yang diwujudkan dalam berbagai cara, termasuk lewat ciptaanNya. Kemudian Paus menggasrisbawahi « karakter kristologis dari Firman Tuhan dan dimensi pneumatologisnya », seraya menjelaskan hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi serta pertanyaan-pertanyaan tentang inspirasi dan kebenaran Alkitab.
  • Bab kedua, « Jawaban manusia terhadap panggilan Allah » (bdk. VD no 22-28). Manusia dipanggil kepada suatu perjanjian dengan Tuhannya, dengan mendengarkan dan menanggapi segala persoalan  hidupnya. Allah bersabda dan manusia menjawabnya dengan sikap beriman. Panggilan Allah dan tanggapan manusia ini terwujudkan dalam Kitab Suci, sebagaimana  Allah telah mengungkapkannya secara langsung dan itu dinyatakan dalam lembaran-lembaran Alkitab.
  • Bab ketiga, Sri Paus berbicara khusus tentang hermeneutika Kitab Suci dalam Gereja (bdk. VD no. 29 – 49), yakni : bagaimana Gereja menafsirkan Kitab Suci. Konsili Vatikan II, dalam Dei Verbum (tentang wahyu ilahi),  mengatakan bahwa Kitab Suci seharusnya menjadi jiwa dari Theologi suci. Dengan demikian hermeneutika biblis dari Vatikan II harus ditemukan kembali guna menghindari dualisme hemeneutika sekular yang dapat memberi suatu interpretasi yang (terlalu) fundamental atau (terlalu) spiritual dari Kitab Suci. Garis hermeneutik ini membutuhkan keselarasan literer dan spiritual, suatu harmoni antara iman dan akal. Dengan kata lain, otoritas interpretasi dan penafsiran Kitab Suci ada pada Gereja. (Tim dari situs http://katolisitas.org/ telah mengbahasnya).

Bagian Kedua, Verbum in Ecclesia : Sabda Allah dalam Gereja

  • Bab pertama dari bagian kedua adalah  “Firman Tuhan dan Gereja” (bdk. VD no 50 – 51). Kehadiran Sang Sabda, yakni Yesus Kristus menandai suatu permulaan ciptaan  baru,  suatu bangsa atau umat Allah yang baru, yakni Gereja. Maka Gereja merupakan suatu komunitas umat pilihan Allah yang mendengarkan dan memaklumkan Sabda Tuhan. Paus menegaskan bahwa Gereja merupakan realitas yang sudah ditentukan  kehadirannya oleh Sabda Allah. Maka Gereja tidak hidup dari dirinya sendiri melainkan dari warta suka cita Injil dan harus selalu mendengarkan Sabda Tuhan ; Gereja tidak berbicra tentang dirinya sendiri tetapi tentang Tuhan. Sri Paus menegaskan bahwa Yesus Kristus tetap dan selalu ada dan hadir dalam hidup Gereja di jaman kontemporer ini.
  • Liturgi adalah tempat istimewa dari Sabda Allah” (bdk. VD no. 52 – 71) merupakan judul bab kedua. Di sini ditegaskan bahwa ada hubungan yang penting antara Kitab Suci dan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi. Paus menegaskan bahwa dalam perayaan liturgi, khususnya Ekaristi kita menerima Sabda Tuhan, tempat khusus dan istimewa dimana Tuhan berbicara kepada umatNya ; Kristus sendiri hadir dalam FirmanNya,  Dia sendiri bersabda di dalam Gereja yang mendengarkan Kitab Suci. Maka  pembacaan dan pemakluman Firman Tuhan dalam liturgi merupakan sesuatu yang penting dan esensial.  Selain itu Bapa Suci menegaskan kembali tentang tugas pelayanan para pembaca atau penyampai Firman Allah, terutama menyiapkan dan menyampaikan homili yang baik. (pendalaman  bagian ini akan dibahas  tersendiri)
  • Judul di bab ketiga: Firman Allah dalam kehidupan menggereja (bdk. VD no 72 – 89). Paus memberi penegasan tentang : animasi biblis dalam karya pastoral, dimensi biblis dalam berkatekese, pelatihan atau formatio tentang Kitab Suci bagi kaum awam, Kitab Suci hendaknya selalu dimaklumkan dalam pertemuan-pertemuan umat.  Selain itu Paus juga memberi perhatian khusus pada “Lectio Divina”, juga metode lainnya untuk pendalaman Kitab Suci di komunitas-komunitas doa atau pendalaman  Kitab Suci, seperti Sharing Tujuh Langkah (Seven steps); selain itu  Doa-doa kepada Bunda Maria (Rosario dan angelus, dll) sebagai upaya untuk mendekatkan kita dengan Kitab Suci.

Bagian Ketiga,  Verbum pro Mundo: Sabda Allah bagi dunia

  • Bab pertama, “Misi Gereja: mewartakan Firman Allah kepada dunia” (bdk VD no. 90 – 98), menggarisbawahi : tugas orang Kristen untuk memaklumkan Injil  dalam dunia. Sri Paus mengajak kita untuk menjadi utusan dan pewarta Sabda Allah kepada dunia. Inilah aspek misioner dari Exortasi DEI VERBUM ini. « Oleh karena seluruh Umat Allah merupakan suatu umat ‘utusan ‘, … maka ‘pewartaan Sabda Allah menjadi tugas semua murid Yesus Kristus, sebagai konsekuensi dari babtisan yang telah diterima. » (no. 94). Sri Paus mengatakan bahwa  Firman Allah tidak hanya diwartakan kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Sabda Tuhan, tetapi juga bagi mereka yang telah dibabtis (dan meninggalkan imannya) dan yang membutuhkan cara baru penginjilan untuk menemukan kembali Firman Tuhan.
  • Bab kedua membahas tentang “Firman Allah dan komitmennya dalam dunia” (bdk VD no. 99 – 108). Paus Benediktus XVI menekankan bahwa orang Kristen dipanggil menjadi pelayan Firman Allah di tengah saudara-saudari di sekelilngnya (kepada orang miskin dan menderita, kaum muda dan para migrant), dan lebih lagi ikut serta bersama  masyarakat untuk  mewujudkan rekonsiliasi, keadilan dan perdamaian diantara bangsa-bangsa. Berkaitan dengan pewartaan Sabda Allah di tengah kaum miskin, Paus menggaris-bawahi  : « kaum miskin sendiri juga merupakan agen dari Evangelisasi » (no. 107). « Gereja tidak mengecewakan kaum miskin : ‘Para pastor dipanggil untuk mendengarkan mereka, belajar dari mereka, membimbing mereka dalam iman dan untuk memotivasi mereka menjadi arsitek dalam sejarah mereka sendiri’ » (no. 107).
  • Bab ketiga dikhususkan pada “Firman Allah dan budaya” (bdk. VD no. 109 – 116). Inkarnasi Sabda Allah sebagaimana pemakluman Yohanes menunjukkan ada hubungan yang tak terputuskan antara Firman Ilahi dan kata-kata manusiawi. “Sabda telah menjadi daging dan tinggal diantara kita”, terungkap dalam bahasa, ekspresi, wajah dalam budaya-budaya tertentu dalam sejarahnya. Sri Paus bahkan mengatakan Kitab Suci merupakan harta terpendam bagi budaya tertentu karena mengandung nilai filsafat dan antropologis. Berkaitan dengan budaya moderen dengan segala kemajuannya, khususnya sarana komunikasi dan internet, Paus menghimbau agar digunakan sebagai sarana pengabaran Injil, walaupun harus dengan kesadaran bahwa bagaimanapun dunia maya tidak sama dengan dunia nyata.  Dalam persepektif Evangelisasi budaya, kita dapat memahami nilai-nilai inkulturasi Injili. Firman Allah bahkan juga melampaui batas-batas budaya tertentu dengan menciptakan komunikasi antar berbagai suku bangsa.

  • “Firman Allah dan dialog antar agama” merupakan judul di bab keempat (bdk VD no. 117 – 120). Setelah menyoroti nilai dan aktualitas dari dialog antar agama, seruan VERBUM DOMINI ini memberi beberapa pedoman yang bermanfaat dalam dialog antara Kristen dan muslim serta agama non – kristen lainnya, dalam konteks kebebasan beragama, dalam arti tidak hanya pengakuan imannya sendiri secara pribadi dan publik, tetapi juga kesadaran pribadi untuk bebas memilih agama sendiri.

Sebagai kesimpulan, Bapa Suci, Paus Benediktus XVI menegaskan kembali desakan bagi orang kristen : “Berusaha untuk lebih akrab dengan Kitab Suci”. Sri Paus mengakhiri risalah panjangnya dari Exortasi Apostolik VERBUM DOMINI ini dengan refleksinya pada  Maria, Bunda Sang Sabda dan Pewarta Sang Sabda Allah.  Bunda Maria adalah Mater Verbi et Mater Laetitiae : Bunda dari Firman Allah dan Bunda suka cita : keagungan sejati dari Maria adalah menerima Sabda Allah dan menyimpannya dalam hati, melaksanakanya dan mewartakan Sabda Allah itu dalam hidupnya (bdk no. 124). Paus mengutip dua ayat Injil Lukas : « IbuKu dan saudara-saudaraKu adalah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya » (Luk 8, 21). « Yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya » (Luk 11, 28).  Dan semoga kita pun terus mengumandangkan, bukan hanya dalam liturgi tetapi juga dalam kehidupan keseharian kita : VERBUM  DOMINI ! DEO GRATIAS !

 

bagi yang dokumen lengkap di sini :
http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/apost_exhortations/documents/hf_ben-xvi_exh_20100930_verbum-domini_en.html

 

 

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

Firman Allah dan Liturgi Suci (Verbum Domini no. 52 – 61) – Part 2

Posted by liturgiekaristi on March 15, 2011


Post 15 Maret 2011

Melanjutkan ringkasan Exortasi Apostolik VERBUM DOMINI dalam artikel sebelumnya, berikut ini beberapa penegasan Bapa Suci Benediktus XVI tentang Sabda Allah dan Liturgi Suci.  Semoga bermanfaat !

Firman Tuhan bergema dalam sejarah umat manusia dan interpretasinya yang benar ada dalam Kitab Suci. Inilah yang dijelaskan Paus Benediktus XVI dalam bagian pertama Exortasi Apostolik Post-sinodal VERBUM DOMINI  tentang apa itu Verbum Dei. Namun ada juga gemah dari Sabda Allah yang sama mengubah hidup manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitas. Kehadiran Sabda Allah ini mentransformasi manusia menjadi ciptaan baru, menjadi umat Allah yang baru. Itulah Gereja. Sri Paus memberi suatu definisi yang dinamis tentang Gereja, yakni komunitas yang mendengarkan dan mewartakan Sabda Allah (bdk no. 50). Di sini mau ditegaskan bahwa Gereja tidak bisa hidup dari dirinya sendiri ; Ia hidup dari Injil, dimana Gereja selalu menarik kembali orientasinya seturut Firman Tuhan dalam ziarahnya di dunia ini.

Bagaimana Gereja menerima Sabda Allah ini dalam hidupnya ? Exortasi VERBUM DOMINI ini menunjukkan banyak cara:  animasi biblis dalam berpastoral (bdk no 73), dalam berkatekese (bdk no 74), dalam usaha untuk memperbanyak panggilan (bdk no 79-85), dalam bermeditasi dan berkontemplasi Kitab Suci (bdk no 87-89), juga dalam hubungannya dengan doa-doa dengan pengantaraan Bunda Maria, seperti Rosario dan angelus (bdk no 88).

Akan tetapi diantara semuanya itu Bapa Suci menjelaskan suatu tempat yang istimewa dari Sabda Allah yang mempersatukan kita sebagai satu Gereja, dimana “Allah berbicara kepada umatNya yang mendengardan yang menjawab SabdaNya”, itulah Liturgi Gereja (bdk no. 52). Sri Paus menegaskan bahwa liturgi adalah tempat yang utama dan teristimewa di mana Firman Allah sepenuhnya dinyatakan, baik dalam perayaan sakramen, terutama dalam Ekaristi, Perayaan Sabda, Ibadat Harian (doa ofisi atau brevir), maupun Tahun Liturgi (kalender liturgi tahunan).  Misteri keselamatan yang dikisahkan dalam Kitab Suci tertemukan dalam liturgi sebagai tempat untuk mewartakan, mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan. Perlu dingat bahwa judul dari Exortasi ini adalah VERBUM DOMINI, yang secara literer diambil dari pemakluman Sabda Tuhan dalam liturgi oleh diakon atau imam ketika Kitab Suci selesai dibacakan dalam Liturgi Sabda : Verbum Domini = “Inilah Sabda Tuhan” atau “Inilah Injil Tuhan”; dan umat menjawab dengan aklamasi : Deo Gratias = “Syukur kepada Allah” atau Laus tibi Christe = “Terpujilah Kristus”.

Mengacu pada liturgi Vatikan II,  Sri Paus memberikan pernyataan yang jelas dan tegas yang berkaitan dengan bimbingan pastoral liturgi. Ada empat pernyataan (yang saya temukan) berkaitan dengan hubungan Sabda Allah dan Liturgi suci :

  1. Tempat Alkitab dalam liturgi. Di sini bukan soal pilihan bacaan-bacaan, tetapi dalam cara bagaimana Gereja mengungkapkan sendiri kehadiran Sabda Allah. Seperti yang telah diingatkan Paus dalam Exortasinya Sacramentum Caritatis (no 46), bahwa Kristus sendiri hadir secara pribadi dalam GerejaNya, oleh kuasa Roh Kudus dalam liturgi  “selama Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (VD no. 52). Jadi perayaan liturgi selalu terbuka pada pemahaman untuk diperbaharui oleh Sabda Allah dengan caranya yang khusus sebagai “Sabda yang aktual dan yang menghidupkan”. Di sini menegaskan kembali kehadiran nyata Kristus sebagaimana dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci atau Sacrosanctum Concilium no. 7 : « … Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib’, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membabtis, Kristus sendirilah yang membabtis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji : bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat 18:28). » Disamping itu ada suatu hal yang tidak mudah tetapi menarik, dari apa yang ditegaskankan Paus : “Kita harus memahami dan menghidupi makna essential dari tindakan liturgis oleh pemahaman Sabda Allah. Dalam arti, hermaneutika iman atas dasar Kitab Suci harus selalu memiliki acuan atau referensinya dalam liturgi, dimanaus  Sabda Allah dirayakan sebagai Firman yang aktual dan hidup” (no. 52). Refleksi bagi kita : bagaimana pengalaman iman pribadi akan kehadiran nyata Kristus dalam liturgi, sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi Liturgi Suci no. 7 diatas ?
  2. Exortasi VERBUM DOMINI ini berfokus pada hubungan erat antara Kitab Suci dan sakramen-sakramen Gereja (bdk VD no. 53). Sampai sekarang ada banyak upaya (dalam reformasi liturgi) untuk memisahkan antara Sabda Allah dan sakramen. Padahal terdapat hubungan yang erat antara keduanya. Dan hubungan ini, sebagaimana ditegaskan Paus, didasarkan atas sifat dari Sabda Allah itu sendiri. Sesungguhnya “dalam sejarah keselamatan, tidak ada pemisahan antara: apa yang Allah firmankan dan apa yang Allah perbuat” . Jadi  « dalam hubungan antara Firman Allah dan tindakan  sakramen, tindakan Allah yang menyelamatkan itu terwujud dalam liturgi melalui karakter performatif dari Sabda Allah ». Demikian juga dalam tindakan liturgis,  sama seperti Sabda Allah : dalam setiap sakramen, « kita menghadirkan Sabda Allah yang merealisasikan apa yang ia katakan ». Jadi Sabda Allah memiliki suatu karakter performatif,  ia menggabungkan dalam diri kita secara tepat apa yang dikatakan melalui tindakan sekramental (dalam liturgi) yang Gereja lakukan. Pertanyaan refleksi bagi kita : membaca injil Lukas 4, 16 – 21, perikope Sabda Allah ini mengatakan apa kepada kita dalam pertemuan liturgis  di jaman selarang ?
  3. Afirmasi yang ketiga adalah hubungan yang erat antara Sabda Allah dan Ekaristi (bdk no. 54). Dasarnya pada  Firman Yesus dalam Injil Yohanes bab 6, tentang “Roti kehidupan”, dimana mengingatkan kita akan manna di Padang Gurun, yang merupakan realisasi dari Kitab Taurat, Sabda Allah yang memberi hidup . Kini realisasi Taurat Musa ini terpenuhi dalam pribadi Yesus Kristus: Sang Sabda menjadi daging. « Karena roti yang dari Allah adalah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia. Akulah roti hidup itu » (Yoh 6, 33. 35). Akan tetapi, orang  makan dan minum tubuh dan darah Kristus tidak hanya dalam Ekaristi, melainkan juga dalam bacaan Kitab Suci. Maka tidak ada pemisahan antara Sabda Allah dan Ekaristi. « Ekaristi memberi kita pemahaman akan Sabda Tuhan, sama seperti Sabda Tuhan menerangi dan menjelaskan misteri Ekaristi. Bahkan, tanpa pemahaman kehadiran nyata Tuhan dalam Ekaristi, pengertian kita tentang Kitab Suci tidaklah lengkap » (no. 55), demikian kata Sri Paus. Itulah sebabnya Sabda Allah dan misteri Ekarisri selalu dan dimana-mana diterima dalam Gereja, bukan hanya dalam peribadatannya tetapi juga dalam penghormatannya. Bapa Suci menegaskan , « mengingat sifat performatif dari Firman Tuhan dalam tindakan sakramental dan kedalaman hubungan antara Firman dan Ekaristi, kita dituntun  pada suatu tema penting yang muncul selama Sinode, yakni Sakramentalitas (sifat sakramental) dari Firman Allah. » (bdk VD no 56).  Beliau menjelaskan bahwa  « sakramentalitas dari Firman Allah dipahami sebagai analogi kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur yang dikonsekrasikan.  Ketika kita mengambil bagian dalam perjamuan Ekaristi, kita sungguh bersatu dalam Tubuh dan Darah Kristus ». Pemakluman Firman Allah dalam perayaan liturgi menunjukkan kepada kita suatu pemahaman bahwa Kristus sendiri hadir dan berbicara kepada kita yang mendengarkan Dia. Pertanyaan refleksi bagi kita : Apakah perhatian dan kecintaan kita terhadap Ekaristi memperdalam perhatian dan kecintaan kita juga pada Kitab Suci, ataupun juga sebaliknya ?? Bagaimana pemahaman dan rasa keimanan kita ketika dalam Ekaristi ada pemakluman Sabda Tuhan : “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” ?
  4. Afirmasi keempat yakni menyangkut sakramentalitas Sabda Allah dan dimensi keselamatan demi kemanusiaan (bdk VD no 61).  Kehadiran Allah dalam Sabdanya yang diwartakan berdaya guna untuk menyembuhkan dan menyelamatkan. Itulah yang ada pada sakramen-sakramen penyembuhan, khususnya sakramen rokonsiliasi dan sakramen perminyakan orang sakit (bdk no. 61). Kedua sakramen ini sering kali dilupakan tentang kekuatan Sabda Allah yang berdaya guna untuk pengampunan dan penyembuhan. Pertanyaan refleksi bagi kita, apakah kita menyadari daya kekuatan Sabda Allah yang membawa pengampunan dan penyembuhan, sehingga berhadapan dengan si peniten dan si sakit kita memperdengarkan Sabda Allah itu baginya ? Apakah kita mempersiapkan dengan sungguh baik si peniten dan si sakit untuk mendengarkan Sabda Allah yang menyentuh dan menyembuhkan?

Masih banyak tema yang  penting dan sangat menarik untuk didalami dan dipelajari, sebagai  pegangan dalam menghidupi Sabda Tuhan. Maka kembali kepada desakan Bapa Suci : « Berusahalah  untuk lebih akrab dengan Kitab Suci », karena dengan menghidupi Sabda Tuhan dan mewartakannya di dalam kehidupan kita, terciptalah persekutuan hidup dan membawa suka cita yang sempurna (bdk. VD no. 123 ; 1 Yoh 1, 1 – 4).  Melanjutkan himbauan Sri Paus kepada kita masing-masing : « Tuhan bersabda,  ‘Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok ; jikalau ada orang  yang mendengarkan suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku’ » (Why 3, 20 ; bdk. VD no. 124). Maka, “Marilah ! Barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata : ‘Marilah !’ Dan barangsiapa yang haus hendaknya ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan…”(Why 22, 17)  Maka kita juga menjawab seperti “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah Tuhan Yesus!” (bdk. VD no. 124; Why 22, 20).

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

LITURGI : Demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia (dan dunia)

Posted by liturgiekaristi on March 15, 2011


Post 15 Maret 2011

 

Philipus Seran March 2 at 11:36pm

Demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia (dan dunia)

Admin « Seputar Liturgi dan Parayaan Ekaristi Gereja Katolik Indonesia » berdasarkan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) telah memaparkan dengan baik bagian-bagian perayaan Ekaristi, dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Banyak fans memberi apresiasi yang baik demi kecintaan terhadap Ekaristi Kudus sebagai puncak dan sumber kekuatan dari kehidupan kita sebagai orang beriman. Konsili Vatikan II, dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium) menegaskan,

« Liturgi itu puncak yang dituju dari segala kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya – kekuatannya » (Sacrosanctum Concilium = SC, no. 10). Bahkan ditegaskan lagi tujuan dan hakekat dari liturgi, yakni untuk memuliakan Tuhan dan menyelamatkan (menguduskan) umat manusia. « … putera-puteri Allah berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam korban, dan menyantap perjamuan Tuhan …. dari liturgi, terutama Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya. » (SC. No. 10) Dengan kata lain, tujuan utama liturgi Gereja adalah demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia.

Tujuan liturgi Gereja ini kita nyatakan secara tegas ketika kita merayakan Ekaristi. Sesaat setelah persiapan persembahan : setelah roti dan anggur dipersiapkan di altar Tuhan, setelah pendupaan dan lagu persembahan (mungkin juga tarian), setelah kolekte dibawa ke altar Tuhan, dan setelah imam mencuci tangan sebagai lambang penyucian diri, imam menghadap umat, membuka tangan dan mengajak umat : “Berdoalah saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa”. Kemudian umat (berdiri) dengan tegas menyerukan aklamasi : “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus. Undangan dan ajakan dari imam dan seruan aklamasi dari umat beriman yang berhimpun ini, mau menegaskan tujuan Ekaristi yang sedang dirayakan. Imam seakan bertanya kepada umat sebelum memasuki Doa Syukur Agung, “segala persiapan sudah selesai, dan untuk apa semuanya ini?” atau “apa maksud dan tujuan perayaan Ekaristi ini?” Umat beriman yang berhimpun dengan tegas dan secara aklamasi berseru : “Demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia dan ‘keselamatan dunia”.

Sayangnya terkadang rumusan indah dan seruan atau aklamasih yang penting ini kita lewati tanpa makna. Kita ucapkan begitu saja tanpa penghayatan. Padahal kita datang menghadiri perayaan Ekaristi dengan segala niat, intensi, harapan, doa, kekuatiran, ada rasa salah dan dosa, ataupun penegasan-penegasan yang mau kita persembahkan ke hadapan Tuhan, yang disatukan dalam kurban Kristus di salib, seraya memohon berkat dan anugerah Roh Kudus untuk menguatkan kita dalam mengarungi hidup. Setiap kali kita merayakan Ekaristi Suci, seluruh Gereja ada di sana bersama kita, merayakan kurban persembahan yang sama dan dengan alasan serta tujuan yang sama, yakni demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia. Segala kebahagiaan pribadi, keselamatan kita sendiri yang kita persembahkan dalam niat dan intensi pribadi itu, bukankah terpenuhi dalam kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia dan dunia?

Kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia, keduanya terkait erat, dan tak dapat dipisahkan. (Nama) Tuhan dimuliakan bila umat manusia dan dunia mempeoleh keselamatan (lahir – batin), demikian sebaliknya manusia dan dunia mengalami keselamatan dan kebahagiaan dengan sendirinya Tuhan dimuliakan. Bukankah dalam perayaan Ekaristi kita datang dengan segala keberadaan dari diri kita sendri, juga membawa serta keluarga, kaum kerabat dan para sahabat, tetangga dan lingkungan hidup dimana kita berada serta segala hal yang menjadi kepedulian kita? Bukankah semuanya itu karena ada janji Tuhan bahwa kita mendapatkan keselamatan? Intinya partisipasi kita dalam Ekaristi karena kita mau mengungkapkan « misteri iman kita » (mysterium fidei).

Selain itu, keikutsetaan kita dalam Ekaristi Suci bukanlah keterlibatan pasif bahwa « saya mau hadir misa ». Keterlibatan kita dalam Ekaristi adalah keterlibatan aktif. Kita berpartisipasi aktif bersama Gereja yang berdoa dan berkurban dengan mengucap syukur atas karya keselamatan Tuhan yang dibawa oleh Tuhan Yesus, Kristus yang wafat di salib dan bangkit demi keselamatan kita ; seraya bersama Gereja kita berdoa, memohon keselamatan dunia dan seluruh umat manusia. Dengan demikian bersama Gereja kita memenuhi apa yang telah diamanatkan oleh Kristus sendiri : « Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku ».

Semoga kita semakin mencintai perayaan Ekaristi dan berpartisipasi aktif di dalamnya dan dengan sikap iman menyeruhkan bahwa segala persembahan ini demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat manusia dan dunia. Apalagi Vatikan II telah mengamanatkan dalam reformasi liturgi Sacrosanctum Concilium bahwa liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan iman kekristenan dan harta rohani Gereja yang tak ternilai.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

MISA BAHASA LATIN

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Pertanyaan dari seorang umat :

“Gimana dengan misa tapi dengan bahasa Latin dan lagunya Gregorian, suasananya lebih khusuk khan ?”

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR.

Memang benar bahwa tidak gampang utk menerapkan pelaksanaan Misa Bahasa Latin di Indonesia apalagi memaksakannya. Justru tujuan pembaharuan KV II adalah sedapat mungkin Misa Kudus dirayakan dalam bahasa setempat (langkah awal dari inkulturasi) demi partisipasi aktif semua kaum beriman yg hadir (bdk SC 21). Dalam menterjemahkan teks2 misa ke dalam bahasa setempat, edisi typica dari Messale Romanum (yg berbahasa Latin) adalah sumber tunggal yg secara langsung darinya diambil teks2 yg hendak diterjemahkan (poin yg kita bicarakan ini lebih berkisar metode bagi para pekerja belakang meja dan bukan soal pastoral yg lebih menyentuh kehidupan praktis banyak orang).

Himbauan untuk mengembangkan lagu2 ordinarium yg berbahasa Latin adalah sebuah bentuk perpanjangan tangan dari maksud pembaharuan KV II. Realisasi dari sebuah CD LAGU GREGORIAN , adalah penjabaran nyata dan praktis dari semangat dimaksud. Kedelapan point yg dikemukakan Ketua KOMSOS menggambarkan kepedulian besar bagi Liturgi kita ditinjau dari sudut bagaimana mengusahakan sebuah katakese efektif dan tepat guna dengan menggunakan media kontemporer. Tak diragukan bahwa usaha ini sangat kontekstual dengan keadaan di Indonesia.

Apakah perlu merayakan Misa dalam bahasa aslinya (Latin)? Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa seenaknya menjawab. Perlu mengetahui situasi konkrit dari kaum beriman setempat. Di sini pertimbangan pastoral ‘bermain’. Ada komunitas yg ingin agar Misa Kudus selalu dirayakan dalam Bahasa Latin; ada yg ingin sekali2; mungkin ada yg tidak tahu tentang itu karena itu tak terpikirkan sama sekali. Sekali lagi pertimbangan pastoral menjadi sangat penting.

Yg terakhir sebagai sharing: seingat saya, kami pernah merayakan Misa KV II dalam Bahasa Latin di Ternate (sebelum rusuh) dan di Katedral Ambon (sesudah rusuh). Sejauh saya ingat, tanggapan umat di kedua tempat ini umumnya sama, yaitu: sesekali perlulah dirayakan Misa Kudus dalam Bahasa Aslinya…. tentunya disertai dengan berbagai alasan lain seperti pengalaman mistik yg diperoleh, merasakan situasi yg extraordinaria, mengenal asal-usul liturgi dll.

salam

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Misa Tridentine diberi ruang untuk dirayakan. Maka kalau mau coba baik, ttp sebaiknya tidak mengorbankan rasa iman umat. Maka percobaan yang fair adalah misalnya di hari tertentu dalam bulan, diumumkan dirayakan misa total bahasa latin. Kita bisa lihat peminatnya. Dan kalau setelah berjalan lebih dari dua-tiga tahun ternyata peminatnya bertambah, maka bisa dikembangkan menjadi salah satu alternatif di salah satu misa di hari Minggu, asal di hari Minggu itu di tempat itu dirayakan beberapa kali Misa. Sehingga umat bisa tetap memilih untuk mengikuti misa yang mana.
Saya ingat sebelum tahun 1970-an di kalau misa masih bahasa latin, banyak umat khusuk di gereja, tetapi berdosa rosario, karena tidak tahu maksud kata-kata doa yang diucapkan dalam misa. Tapi khusuk. hehehehe.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

LITURGI ITU APA?

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Membaca berbagai komentar di bawah, maka saya merasa perlu mengemukakan secara sangat singkat beberapa hal berikut:
1. Liturgi adalah: Perayaan misteri Kristus, yang juga menjadi misteri Gereja. Dalam perayaan dimaksud terjadilah dalam ruang dan waktu (sekarang dan di sini) karya penyelamatan Tuhan bagi manusia (lih. SC no.2 & Catekismus Ger.Katolik no.1068). Dalam perayaan liturgi kita dalam kesatuan dengan seluruh Gereja universal menaikan doa dan pujian kepada Allah dan menerima keselamatan dari Allah.

2. Yang termasuk dalam liturgi adalah: ke-7 Sakramen dan Ibadat Harian atau Ofisi Kudus (lebih dikenal dengan Doa Brevir).

3. Yang tidak termasuk dalam kedelapan perayaan liturgis di atas tergolong dalam kegiatan doa/rohani yg biasanya disebut dengan ibadat pemberkatan atau sakramentali, tindakan kesalehan & latihan rohani. Semuanya ini tidak bisa terlepas dari Perayaan2 liturgis yg adalah puncak dan sumber hidup kristiani. Pemberkatan-pemberkatan memperoleh daya pengudusan mereka dari perayaan sakramen…. sedangkan ibadat-ibadat iman dan tindakan2 rohani dan kesalehan lainnya berfungsi mempertebal iman kita unutk bertemu dengan Tuhan secara sakramental dalam perayaan liturgis.

Oleh Pastor Bernard Rahawarin

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

MENGENAL ISTILAH LITURGI YANG SERING KITA DENGAR

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Oleh PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ

Yukkk sekalian latihan mengenal istilah atau nama-nama yang umumnya dipakai dalam kaitan dengan liturgi kita:

Dalam Perayaan Ekaristi biasa :
a. Bagian Pembuka sampai Doa Pembuka – dibawakan oleh selebran utama dari “sedelia” (sede = tempat duduk) imam.

b. Bagian Sabda: (Bacaan, Mazmur, Bait Pengantar Injil, Injil, Homili) sampai Doa Umat dibawakan di “ambo” (meja Sabda).

c. Bagian Ekaristi: mulai persiapan persembahan sampai komuni, dibawakan di “altar” (meja persembahan) … See More

d. Bagian Penutup: Doa penutup, Berkat, dan pengutusan dibawakan di “sedelia” lagi.

Konsekwensinya adalah:

a. Gereja, bagian altar harus disetting atau ditata sedermikian rupa agar hal-hal tadi bisa berjalan dan berfungsi dengan baik, enak, dan membantu semua umat.

b. Sedelia harus strategis sehingga bisa mudah dilihat umat. Di sedelia disediakan standar untuk meletakkan buku TPE dan doa, atau misdinar setiap kali akan melayani imam dengan memegang buku itu sedemikian agar imam bisa mengucapkan bagian Pembuka dan Penutup dengan baik dan benar.

c. Ambo dibuat yang layak dan memadai sebagai ‘meja Sabda’ dan bukan hanya sederhana seperti standar, tetapi sebagai mimbar.

d. Hiasan altar (bunga, pot, dekorasi, dll) tidak mengganggu dan menghalangi pandangan umat ke altar.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

GRADUALE ROMANUM

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Pertanyaan :

Apakah Graduale Romanum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Dan mengapa buku nyanyian Katolik Indonesia tidak memuat Introitus, Offertorium, dan Communio dan menggantinya dengan berbagai lagu rohani?

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN:

tidak sedikit lagu dari buku Graduale telah kita gunakan dalam lingkungan Gereja Indonesia. Ada yg tlh diterjemahkan dalam bhs Indonesia, dan ada yg tetap dipertahankan dlm bhs Latin (mis: Vidi aquam, Credo, lagu Ordinarium: Misa1-5, Bapa Kami dll). Lagu2 Proprium yg mencakup pembukaan, antar bacaan, persembahan, komuni dan penutup (introitus dkk.) memang masih sangat sedikit diterjemahkan (yg kita miliki adalah hasil ciptaan para komponis kita yg diusahakan agar sesuai dengan jiwa liturgis masing2 bagian).

Proses penerjemahan bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak faktor yg perlu diperhitungkan…Selain faktor gramatika, logika dan nilai rasa kata-kata yg berbeda antara bahasa yg satu dg bahasa yg lain, perlu diingat juga bahwa lagu2 graduale diciptakan dengan perhitungan akurat antara melodi, makna frase dan suku kata, yg semuanya dalam bhs Latin. Tidaklah gampang untuk menterjemahkannya langsung ke bahasa lain, sekalipun bahasa Italia yg dianggap anak pertama dari bahasa Latin.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

BUKU TATA PERAYAAN EKARISTI (TPE) 2005

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Pertanyaan :

Dalam buku Madah Bakti terbitan baru TPE nya di beberapa point berbeda dengan buku TPE umat terbitan thn 2005. Diantaranya: aklamasi sesudah Injil utk berbahagialah…. jawaban umat masih Tanamkanlah sabda-Mu ya Tuhan… (TPE 79). Inilah Injil Tuhan kita tak ada. Kemudian teks KUDUS ada perbedaan pada bagian diberkatil…ah yang datang dalam nama Tuhan. Di MB memakai terberkatilah yang datang atas nama Tuhan (termasuk di syair lagu nomor2 2xx dan 6xx), aklamasi anamnesis 1 masih menggunakan amin. Perbedaan2 itu membuat umat dengam koor bingung. Namun biasanya koor mengacu ke buku TPE seperti waktu menyanyikan lagu KUDUS

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR.

Anda mengemukakan pengalaman menarik yg juga dialami di banyak tempat. Memang sebuah perubahan ( terjemahan baru TPE) selalu meminta penyesuaian yg senantiasa disertai berbagai kekeliruan dalam prakteknya. Namun yg jelas kita sudah memiliki TPE yang baru, yg berlaku resmi di Indonesia. Jawaban2 atas dg pertanyaan Cristian bisa langsung kita temuakan dalam TPE aktual. Dgn kata lain sebaiknya kita ikuti apa yg telah tertulis dalam TPE kita.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

LINGKARAN TAHUN LITURGI ADA TAHUN A,B,C

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Pertanyaan umat :

Kenapa dalam lingkaran tahun
Liturgi kita ada tahun A, B dan C…mengapa ada tiga tahun yang berbeda dengan bacaan yang berbeda, apa tujuannya?

PENCERAHAN DARI Teresa Subaryani Dhs

Liturgi Sabda merupakan saat umat Katolik mendengarkan Sabda Allah. Sabda Allah ini tentunya dai KS. Pembagian tahun A, B, dan C merupakan pembagian untuk bacaan pada misa hari minggu, sedangkan untuk misa harian dibagi menjadi tahun I dan II (ganjil dan genap). Pada tahun A, bacaan Injil diambil dari Injil Matius. Tahun B bacaan Injil mengambil dari Injil Markus. Tahun C bacaan Injil-nya diambil dari Injil Lukas. Injil Yohanes mendapat perlakuan khusus. Bacaan dari Injil Yohanes ini setiap tahunnya dibacakan pada hari-hari minggu Adven dan selama Paskah. Juga menyempil pada minggu-minggu di Tahun B.
Tujuan pembagian ini adalah agar bacaan lebih terarah untuk umat.
Jadi kalau kita mengikuti misa setiap hari selama tiga tahun berturut-turut, kita telah membaca mendengarkan seluruh isi KS.

Satu tahun liturgi (baik A,B, atau C) dibagi menurut pesta dan perayaan liturgi Gereja. Kalau warna liturgi (seperti telah dibahas di topik sebelumnya) mengikuti pada pesta dan perayaan liturgi yang sedang berlangsung, jadi berlaku setiap tahun.
Tahun A, B, dan C yang dibahas di sini adalah pembagian untuk bacaan dalam Ekaristi yang berbeda setiap tahunnya.

PENCERAHAN DARI Daniel Pane

Sebenarnya tidak benar-benar selesai dibaca pun sudah diusahakan demikian. Pembagian tahun A, B, C hanya berlaku untuk hari Minggu sementara untuk hari-hari biasa polanya adalah tahun I dan II (walaupun yang berbeda hanya bacaan pertama dan mazmurnya, sementara Injilnya sama). Di luar itu pada hari-hari raya dan pesta di luar hari Minggu kerap terjadi bacaan-bacaan sama untuk setiap tahunnya.

Berikut ini adalah data statistiknya yang disediakan oleh Romo Felix Just. SJ:

http://catholic-resources.org/Lectionary/Statistics.htm

PENCERAHAN DARI PASTOR Sam Gulô

Di isinilah kelebihan Gereja Katolik: dlm 3 thn hampir seluruh isi PL dan PB dibacakan dan direnungkan. Mknya kotbah pr Romo stiap hari minggu, memiliki tema trtntu dan tdk menabrak sana menabrak sini. Umat yg tdk mngetahui hal hal ini, biasanya mengeluh, kotbah para Romo lurus2 saja, jk dibangingkan kotbah di Gereja Tetangga yg bisa merangkai langit dan bumi. Kita tdk demikian. Jk umat secara rutin mengikuti Misa / Ibadat setiap hari Minggu mk mrk telah mendengar dan merenungkan hampir seluruh isi alkitab.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Sekedar menegaskan dan melengkapi jawaban2 sebelumnya. Memang kalau orang cukup rajin ‘mendengarkan sabda Tuhan dalam perayaan Ekaristi” termasuk misa harian, dalam kurun waktu 3 tahun setelah melewati tahun A, B, dan C liturgi gereja, dia akan ‘selesai’ membaca hampir seluruh isi Kitab Suci.
Jadi memang bacaan liturgi disusun sedemikian rupa, dikemas dalam lingkaran Liturgi yang utuh yang memaparkan sejarah keselamatan dan penyelamatan manusia sejak kisah penciptaan dalam Kejadian sampai Wahyu. Bukan hanya itu, dalam lingkaran Liturgi kita juga secara menyeluruh dipaparkan Kisah penebusan Kristus sejak kedatangan Yohanes yang mempersiapkan kelahiran Juruselamat sampai wafat dan kebangkitanNya. Tidak ada ‘liturgi’ selengkap Liturgi dalam Gereja Katolik yang merangkum tiga masa sekaligus: Masa lampau – Wafat Kristus kita maklumkan; masa kini – KebangkitanNya kita muliakan; masa depan – KEdatanganNya kita rindukan.

Kalender bacaan Liturgi yang dibuat sedemikian rupa membantu juga-secara minimalis- umat beriman untuk setidaknya memperoleh kesempatan “mendengarkan sabda” (bukan membaca Kitab Suci) di Gereja secara teratur dan lengkap sepanjang tiga tahun liturgi. Bukan hanya itu, sebenarnya bersumber dari bacaan2 Liturgi Ekaristi, juga mengalir dalam doa2 harian dan bacaan rohani harian para biarawan dan biarawati yang saling bersinergi dengan liturgi sepanjang tahun, menjadikan hari2 dan jam2 doa mereka semakin indah dan teratur dalam saling keterkaitan satu sama lain….

Makanya….rajin2 ke Gereja ya, untuk mendengarkan sabda Tuhan, biar setidaknya pernah minimal 1 kali tamat membaca Kitab Suci nya…tentu yang sisanya harus dilengkapi sendiri dengan membaca secara rutin di rumah secara pribadi.

Setelah tiga tahun berjalan melewati tahun A, B, dan C; bacaan Liturgi akan kembali mengulang lagi dari awal dengan penyesuaian peringatan, pesta dan Hari raya Orang Kudus dan Hari raya Gereja yang dirayakan menurut tanggal dan hari yang berbeda. Walaupun mengulang, lihatlah kemudian bahwa pembahasan dan refleksi tentang Kitab Suci dalam Liturgi Gereja selalu baru dan tidak pernah mengulang….itulah kekayaan Sabda Allah yang nyata, yang tidak pernah usang dan selalu baru setiap hari sepanjang masa.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

DALAM BUKU LITURGI, KENAPA ADA DOA TAHUN A,B,C

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Pertanyaan umat (BP. DANIEL PANE)

Saya membaca Missale Romanum 2002 dan menemukan doa untuk setiap pekan hanya satu dan tidak ada doa untuk tahun A,B,C. Lalu mengapa dalam bahasa Indonesia ada doa tahun A,B,C nya?

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR.

Dalam Kata Pengantar ‘Buku Umat Misa Hari Minggu dan Hari Raya’ (yg disusun oleh Al. Wahjasudibja, Pr., Panitia Liturgi KAS, terbitan Kanisius 1983) yg dipakai meluas oleh imam/umat hingga kini, ditulis bhw doa-1 dipetik dari Missale Romanum (lih. Hlmn 6). Sdngkan alternatif doa-2 dan -3 rupanya merupakan tambahan/gubahan penyusun namun dibuat sedemikian rupa sehngga dapat dipertanggungjawbkan sec tematis-liturgis-pastoral.

KOMENTAR BP. DANIEL PANE

Berarti terjemahan itu memang bukan terjemahan resmi yah…Saya membaca doa-doa alternatif itu rasanya bagaikan bumi dan langit dengan yang versi Missale Romanum, yang versi dari Missale Romanum sungguh bagus dan mengangkat hati, yang alternatif malah bikin jengkel saja hahahaha. Mudah-mudahan kalau terjemahan resminya keluar doa-doa alternatifnya dihapuskan saja.

TANGGAPAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Setuju. Kalw gak salah Komlit KWI hampir rampung menyusun/terjmhkan edisi resmi Missale Romanum utk Grj Indönesia.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

MENGENAL ARTI “MISA”

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Dari Wikipedia dari web http://id.wikipedia.org/wiki/Misa

Misa adalah perayaan ekaristi dalam ritus liturgi Barat dari Gereja Katolik Roma, tradisi Anglo-Katolik dalam Gereja Anglikan, dan beberapa Gereja Lutheran. Di negara-negara Baltik dan Skandinavia, ibadah ekaristi Gereja Lutheran juga disebut “Misa”.

Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno missa yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi “Ite, missa est” (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata “Marilah pergi. Kita diutus.”[1]
Edisi terakhir (2002) dari Missale Romanum

Perayaan Ekaristi dalam Gereja-Gereja Timur, termasuk Gereja-Gereja Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci Roma menggunakan istilah lain, misalnya Liturgi Suci, Qurbana Kudus, dan Badarak. Denominasi Barat yang tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma, seperti Kekristenan Calvinis, biasanya lebih suka menggunakan istilah lain.

Menurut Lima Perintah Gereja umat Katolik diwajibkan mengikuti misa pada hari Minggu dan hari raya lain yang disetarakan dengan hari Minggu. Di luar hari-hari itu juga diselenggarakan misa – yang oleh umat Katolik biasa dinamakan misa harian – namun umat Katolik tidak diwajibkan untuk ikut serta.

Pelaksanaan Misa diatur berdasar Tata Perayaan Ekaristi (TPE). TPE Baru untuk Gereja Katolik di Indonesia diberlakukan (dipromulgasikan) sejak Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada tahun 2005, pada hari Minggu 29 Mei 2005. TPE sebelumnya — yang digunakan sejak tahun 1977 — merupakan edisi percobaan. Dalam TPE Baru Doa Syukur Agung dan doa presidensial lain didoakan oleh Imam dan umat mengikutinya dalam batin (untuk menekankan kekhusyukan dan kesadaran akan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka), seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik di tempat lain.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

ARTI “RUBRIK” PADA BUKU LITURGI

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Komentar umat :

Beri pencerahan lewat artikel2 spiritualitas dan ajaran2 yg esensial ttg Liturgi dong, jangan berkutat pada Rubrik.. :)

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR:

ibu Monica, rubrik itu juga unsur essensial dalam liturgi, karena memberi gambaran dan penjelasan tentang pelaksanaan sebuah perayaan liturgi. Rubrik juga menjadi sumber yg valid ketika seseorang mempertanggungjawabkan sebuah karya ilmiah sekalipun itu pada level doktorat. Dari segi historis rubrik yang di tulis pada abad2 awal kekristenan (misalnya rubrik dalam SACRAMENTARIUM VERONENSE) sangat essensial dalam usaha memahami praktek liturgi suatu zaman mis.zaman bapak Paus Leo Agung (autor dari SACR.VERONENSE)….
Trm kasih kepada ibu Monica karena telah membantu kita utk mengingat kembali sedikit info ttg rubrik.

PENCERAHAN DARI BAPAK DANIEL PANE:

Menurut Yohanes Paulus II ketaatan kepada norma-norma liturgi (rubrik) adalah penting karena norma-norma ini mengungkapkan secara otentik kodrat gerejani Perayaan Ekaristi dan menyingkapkan maknanya yang terdalam. (Ecclesia de Eucharistia no. 52)

Jadi mustahil membicarakan sesuatu yang essensial dari Liturgi tanpa menyinggung rubrik-rubriknya :D

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Untuk para fans lain yg gak ngerti apa itu RUBRIK yg dibicarakan di atas, berikut ini ada penjelasan sederhana. Mohon dilengkapi oleh yg lain.

‘Rubrik’ berasal dari kata Bah. Latin ‘RUBER’ (=merah).
Dalam buku2 liturgi resmi Gereja, terdapat keterangan khusus atau instruksi atau tata gerak yg harus dibuat (terutama) oleh pemimpin upacara, umat, dan petugas2 liturgi lainnya. Pada teks2 tsb rubrik selalu dicetak dgn warna merah dgn ukuran yg kurang kecil dari teks utama.

Contoh2 rubrik (saya tulis dgn huruf kecil):

Pada Lit. Sabda: Aku Percaya.

Ad verba quae sequuntur, usque ad ‘factus est’, omnes se inclinant (Ayat yg dicetak miring diucapkan sambil membungkuk. Khusus pada Hari Raya Natal: berlutut [=modifikasi rubrik versi TPE 2005])
ET INCARNATUS EST DE SPIRITU SANCTO EX MARIA VIRGINE, ET HOMO FACTUS EST (IA DIKANDUNG DARI ROH KUDUS, DILAHIRKAN OLEH PERAWAN MARIA DAN MENJADI MANUSIA)

Pd Liturgi Ekaristi: Penghunjukkan bahan persembahan.

Postea sacerdos, accipit calicem, eumque aliquantulum elevatum super altare tenet, secreto dicens (imam mengambil piala berisi anggur, lalu mengangkatnya sedikit sambil berdoa dgn suara lembut. Apabila tidak ada nyanyian, imam dapat berdoa dgn suara lantang [=rubrik TPE 2005])
BENEDICTUS ES, DOMINE, DEUS UNIVERSI, QUIA DE TUA LARGITATE ACCEPIMUS VINUM,…. (TERPUJILAH ENGKAU, YA TUHAN, ALLAH SEMESTA ALAM SEBAB DARI KEMURAHANMU KAMI MENERIMA ANGGUR YG KAMI SIAPKAN INI, …)
Deinde calicem super corporale deponit (kemudian imam menaruh piala di atas korporale)

Pada setiap bagian dlm TPE terdapat rubrik, ada instruksi yg dicetak dgn huruf merah (biasanya dgn font-size dua atau tiga digit di bawah teks pokok). Karena dicetak MERAH itu maka disebut Rubrik.
Dewasa ini ada byk modifikasi teknis terkait rubrik. Misalnya:
tetap dicetak dgn warna hitam namun dgn ukuran yg lebih kecil, dicetak miring lagi. Meski tidak merah lagi, tetap saja itu disebut ‘rubrik’.

Posted in l. SEKITAR LITURGI | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers