Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 446,587 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

HOSTI – DIKUNYAH ATAU TIDAK ?

Posted by liturgiekaristi on March 7, 2011


PERTANYAAN UMAT :

” Pada saat menerima komuni sering saya perhatikan ada banyak umat yang seperti mengunyah makanan. tanpa dikunyahpun sebenarnya hosti itu langsung larut. Guru saya dulu waktu belajar komuni bilang, tidak usah dikunyah karena itu Tuhan Yesus. Gimana seharusnya sih…..? tolong bantu aku dong.

PENCERAHAN DARI Teresa Subaryani Dhs

hosti itu terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan air. Produksi yang masal membuat hosti bisa menjadi berbeda-beda tebalnya. bila hosti yang kebetulan didapat itu cukup tipis sehingga tanpa dikunyah pun dapat larut di lidah dan dapat langsung ditelan. Tetapi untuk hosti yang tebal, tidak ada salahnya kita mengunyahnya. Toh gigi pemberian Tuhan ini tidak ada salahnya ikut melayani kita menyantap Tubuh Sang Ilahi. Apakah dosa? Tentu tidak!

PENCERAHAN DARI Mas Roms:

Tak ada aturan harus bagaimana “memakan” atau “menelan” hosti kudus. Yang pasti Tubuh Kristus yang kita terima sungguh kita imani dan kita sambut sebagai “santapan” rohani kita; bukti nyata kasih Tuhan kepada kita. Menjadi salah jika sudah masuk mulut dikeluarkan lagi atau cuma diterima tangan namun tidak ditelan. Memang secara logis dan praktis jika dikunyah hosti akan menempel di gigi dan butuh waktu agak lama hingga tertelan habis. Tanpa perlu dinyapun hosti akan cepat larut kan?

PENCERAHAN DARI Christianus Hendrik

Hemm…memang rasanya Gereja tidak mengatur sampai sedetail itu menyangkut soal mengunyah atau melumat hosti dengan lidah. Kata ‘menyantap’ tubuh dan darah Tuhan bisa diartikan mengunyah, mencecap,dll. Namun kiranya baik kita tahu tradisi turun temurun yang pernah diajarkan oleh Gereja entah disadari, didengar, dipahami atau tidak. Ini memang hal sepele, jadi semoga juga tidak terlalu sibuk dibuatnya oleh pertanyaan ini. Kiranya juga page ini tidak bermaksud mengubah semua tatacara lahiriah kita bukan? LEbih pada memberi makna dan memaknai secara baru dan benar sesuai himbauan Gereja.

Saya teringat ketika kecil ikut persiapan komuni pertama, Katekis/guru agama saya (masih hidup sampai sekarang orangnya) mengajarkan untuk bersikap hormat dan hikmad saat menyambut Tubuh Tuhan. Itu bukan sekedar roti biasa, tapi menjadi Tubuh Ilahi Tuhan yang bermanifes dalam kemanusiawian kita (bentuk roti). Bahkan ketika menjadi santapan, itupun bukan santapan biasa. Maka dulu diajarkan untuk tidak mengunyah, tapi melumatnya dengan air liur kita dan membiarkanANya meresap masuk dalam tubuh kita. Ketika kami dulu sebagai anak protes, lalu sang Katekis mengatakan:”kamu “ngemut” permen bermenit2 aja sanggup, apa susahnya membiarkan Tubuh Tuhan berada tenang di mulutmu dalam sekejab, mensucikan mulutmu agar pantas bagiNya, dan pelan2 memberi waktu yang cukup bagi sang Ilahi mensucikan setiap bagian tubuhmu bagi kehadiranNya”….Dan memang benar, itu cuma sekejab, dengan hanya membiarkanNya begitu saja di mulut, bahkan sebelum kita sampai di tempat duduk kita kembali…sebelum kita selesai berdoa pribadi dan mensyukuri Allah yang menjadi manusia dan tinggal di dalam diri kita….hosti itu sudah lebur dalam diri kita.

Dalam tradisi gereja dulu, waktu masih ada altar kecil tempat penerimaan komuni, di mana hosti tidak diterima dengan tangan, tapi menengadahkan wajah dan membuka mulut; Imam meletakkan dengan hati2 hosti di lidah kita, dan orang dulu dengan hikmad mencecapNya sambil tenang berdoa….”Kecaplah betapa baiknya Tuhan…..” Bukan kunyahlah betapa baiknya Tuhan he he…

Belum pernah mendengar ada orang yang tersedak atau mati karena mencecap hosti beberapa saat dalam mulutnya, so itu bukanlah masalah besar. Yang penting kita tahu bagaimana dulu Gereja mengekspresikan sikap hormatnya atas Karya Kasih Allah dalam rupa roti ini dengan ungkapan “jangan tersentuh gigi”. Tentu ini bukan soal dosa atau tidak; tapi mengajarkan sikap hormat dan penuh cinta atas anugerah Ilahi yang paling besar dalam hidup kita.

PENCERAHAN DARI FRATER (PASTOR?) Damianus Triwidaryadi

Tubuh-Ku adalah benar2 makanan dan Darah-Ku adalah benar2 minuman..

Terimalah dan makanlah…

Terimalah dan minumlah…

Saat paling istimewa di mana kita bersatu secara jasmani-badani karna kta menyantap Tubuh-Nya…

Saya yakin kita smua tahu cara makan dan minum yg sopan dan pantas apalagi yg kita santap adalah Tubuh Tuhan,…

Mengecap(mengunyah) atau melumat dgn lidah adalah cara kita memakan jadi apakah kita mengecap(mengunyah) atau melumat? Keduanya tidak salah dan pasti kita juga melakukanya dgn sopan pantas.

‘rasakan ktika Tubuh Tuhan masuk ke dalam mulut dan ktika itu yg ilahi meresap merasuk dalam diri kita, ktika Tubuh Tuhan berjalan dari mulut menuju perut kita, yg ilahi merasuki diri kita, tubuh kita…

Keindahan yg tak terkatakan…

Keteduhan yg tak terselami…

Kesegaran yg tak tergambrkan.

Dan dengarlah jeritan kekaguman hati kita atas karya agung Allah, jiwa raga kita disucikan dan dibersihkan oleh santapan kudus dan kita memohon agar iman kita diteguhkan…Ia tinggal dalam diri kita dan secara jasmani kita bersatu dgn-Nya…luar biasa…

Rasakanlah bahwa yg ilahi meresap dalam diri kita dan secara jasmani kita bersatu dgn-Nya…

Cukup deh…ma kasih…

PENCERAHAN dari PASTOR Yohanes Samiran‎…..

Untuk menghindari rasa berdosa untuk beberapa hal terkait dengan pertanyaan ini, karena saking ekstrimnya ada yang mengajarkan bahwa TIDAK BOLEH dikunyah, TIDAK BOLEH kena gigi, dan sejenisnya.

Kata TIDAK BOLEH – rasanya terlalu keras dan memutlakkan, dan tanpa sadar bisa membuat umat merasa berdosa saat sambut komuni kemudian kena gigi atau melekat di gigi atau langit-langit, dlsb.

Seperti biasanya saya tidak mau menjawab dari teori yang memusingkan umat, tetapi lihatlah bagaimana imam menerima atau “menyantap” hosti kudus itu? Kalau kemarin tidak memperhatikan, coba perhatikan besok kalau ikut Misa Kudus.

Praktiknya adalah: ada yang mengunyah, umumnya imam akan mengunyah hosti itu. Tetapi juga ada yang mengulumnya sampai larut sendiri dan ditelan.

Jelas keduanya adalah praktik yang normal dan diijinkan. Jadi kata TIDAK BOLEH di atas sebaiknya dikoreksi.

Lalu mana yang sebaiknya?

Yang sebaiknya adalah kembali kepada rasa sopan dan rasa iman yang pas untuk anda. Itulah saat indah pertemuan kita dengan Tuhan. Nikmatilah dan sambutlah DIA dengan hormat dan bakti.

salam dan Berkat Tuhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: