Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 446,930 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

PERKAWINAN – Penanda tanganan buku nikah di meja Altar?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Kasus ini terjadi hampir pada setiap upacara pernikahan.

PERTANYAAN FANS

Penandatangan buku nikah dilakukan di meja altar. apakah memang diperbolehkan melakukan penandatanganan dilakukan di meja altar ? toh pemberkatan itu sendiri dilakukan di area bawah altar ( artinya tanda sakramen perkawinan dilaksanakan tidak di altar ). ada yang bisa bantu ?”

PENCERAHAN dari PASTOR Agustinus Malo Bulu

Pd prinsipnya meja altar adalah meja kurban, bkn meja kantor maka idealnya penandatanganan brkas nikah dilaksanakan di meja lain yg disiapkan

PENCERAHAN dari PASTOR Christianus Hendrik

Dear all…Sejauh ini saya tidak, atau minimal belum pernah membaca ada aturan tentang penandatanganan pernikahan harus di Altar atau sebaliknya. Anehnya juga, seingat saya kebanyakan dalam perayaan kaul2 para biarawan/ti juga penandatanganan surat janji pembaharuan kaul atau janji kaul kekal juga biasa dilakukan di altar.Tentu ada maksud simbolis mengapa dilakukan seperti itu; tapi mari kita lihat maknanya.

Altar (Altus=tempat yang lebih tinggi) dikuduskan, disucikan, dikhususkan bagi Allah sebagai mezbah persembahan. Begitu khususnya peran Altar ini dalam Gereja Katholik sampai bahkan dalam tata liturginya pun sedapat mungkin Altar ini dikhususkan hanya untuk mezbah persembahan. Bahkan untuk Liturgi Sabda dan lain2 diusahakan untuk ‘dipisahkan’/disendirikan di tempat lain dan tidak di Altar. Dari sini harus dipahami, Altar bukanlah ‘meja biasa’ seperti meja kebanyakan yang bisa dipakai untuk apa saja.

Altar melambangkan kekekalan, kekudusan, dan keIlahian; tempat Allah menunjukkan tanda kehadiranNya dan perkenananNya pada kurban persembahan yang dihunjukkan manusia (lihat kisah2 mengenai mezbah persembahan Abraham, Musa dsb dalam PL). Maka, lepas dari boleh atau tidak melakukan penandatanganan surat/kertas janji pernikahan atau kaul2 dilakukan di Altar atau di meja lain; ingatlah bahwa betapa kuat simbol yang dinampakkan oleh tindakan yang kelihatannya ‘sederhana’ ini. Kalau orang sampai berani menandatangani surat nikah, atau surat janji kaul2 di ALTAR, itu berarti konsekuensinya sungguh berat dan sangat serius.Bahwa orang ‘seakan’ (atau seharusnya sadar) bahwa ia sudah mempersembahkan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya/keputusannya di tempat yang dikuduskan dan dihadapan Allah yang maha tinggi.

Satu hal, memang janji nikah atau janji kaul2 itu mengikat manusia di hadapan Allah, ini bukan sekedar janji antar manusia atau dalam kongregasinya, tapi sungguh janji di hadapan Allah. Dalam pernikahan jelas dikatakan: Yang disatukan Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Itu persis maksudnya, seperti Altar yang utuh, kekal, selamanya. Di pihak lain kita juga sadar betapa lemahnya manusia dalam menjaga dan mempertahankan komitmennya, janjinya di hadapan Allah dan manusia. Maka dari segi itu simbol itu tidak begitu mudah dipergunakan/dipakai sembarangan.

maka hemat saya, sebaiknya memang penandatanganan hal2 yang lebih bersifat hukum gereja, manusiawi, tertulis, sipil, atau apapun namanya, yang jauh di bawah hukum Ilahi, sebaiknya tidak dilakukan di Altar(walaupun tidak salah). Jauh lebih baik, layak dan sepantasnya itu dilakukan di sebuah meja khusus yang bisa dipersiapkan sebelumnya. Walaupun dilakukan di meja khusus/tidak di Altar, kiranya penandatanganan itu tetap mempunyai makna simbolis yang sama: dilakukan di hadapan Allah yang Maha Tinggi. Dan itu berarti orang harus sungguh sadar konsekuensinya. Thanks,

P.Christianus Hendrik SCJ – South Dakota mission – USA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: