Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 417,448 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

LAGU ROHANI KATOLIK PERLU IMPRIMATUR ?

Posted by liturgiekaristi on March 11, 2011


Kasus :

Sharing seputar lagu OPO WANANATAS ternyata berkembang luas (61 comments) sampai ada yang mengusulkan agar lagu2 daerah yang dianggap “layak” dinyanyikan dalam liturgi gereja Katolik perlu mendapat IMPRIMATUR terlebih dahulu? Menarik juga fenomena ini. 🙂 Halo pastor….umat butuh pencerahan sebagai penutup/kesimpulan agar kami tidak tersesat…:-). Terima kasih.

PENDAPAT BAPAK THOMAS RUDY
seluruh gereja katolik (ritus romawi) menggunakan tata cara yang sama….
lagu dan bahasa tentu bisa berbeda, tetapi tentu semuanya yang digunakan harus mendapat persetujuan dari otoritas gereja (bisa tahta suci, bisa keuskupan, bisa konferensi para uskup) tergantung apa yang perlu disetujui.
Terjemahan Tata PErayaan Ekaristi butuh persetujuan tahta suci, kalau cuma lagu berarti konferensi para uskup atau uskup setempat…

Kita bisa lihat contoh Kidung Adi, dimana lagu berbahasa jawa dan doa-doa berbahasa jawa bisa terakomodir…

dan tentunya buku ini berimprimatur…

Kalau lagu daerah mau dipakai secara resmi dalam perayaan ekaristi ya mintakan imprimatur lagunya….

bukan permasalahan bahwa lagu itu bisa menolong atau tidak menolong untuk mendekatkan pada TUhan, bukan masalah menyentuh atau tidak…

Pernah lihat kidung adi, yang isinya lagu jawa semua? seperti itulah harus dibuat…. dibukukan, dikasih nihil obstat dikasih imprimatur

tetapi, lagu yang digunakan untuk perayaan ekaristi harus mendapat persetujuan dari Gereja, kenapa demikian?

karena wewenang mengatur liturgi itu telah Yesus percayakan kepada GerejaNya…. maka segala sesuatu yang berkaitan degnan hal itu, sesuai norma harus mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang (entah dari tahta suci, atau dari konferensi uskup, atau dari uskup setempat)

bukan tiba2 dapat ilham (wangsit/pencerahan) trus langsung diterapkan begitu saja… PE adalah perayaan bersama yang menunjukkan kebersamaan, bukan perayaan pribadi

Inkulturasi, hmm… ini menarik, inkulturasi itu boleh kok, tetapi ada norma-normanya… ya salah satunya itu (imprimatur…)

inkulturasi itu harus mendapat persetujuan (imprimatur)…. kalau misa berbahasa daerah di kampung2, sejauh teksnya sudah mendapatkan imprimatur ya go ahead, di jawa misalnya teksnya kan sudah mendapat imprimatur dari uskup semarang pada masa itu (Kardinal Yulius)

kalau memang secara resmi digunakan, ya dikumpulkan lagu2nya… lalu ajukan ke komisi liturgi masing2 keuskupan…

setelah ditelaah oleh mereka yg mengerti musik, pasti bisa kok mendapatkan persetujuan, tuh contohnya CD musik Cantate misalnya…

mengutip dari
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id299.htm

Pada tahun 1970, Vatikan telah mengumumkan agar segala bentuk eksperimen yang berhubungan dengan Misa dihentikan. Permintaan ini diulangi lagi pada tahun 1988. Namun yang terjadi adalah improvisiasi dan eksperimen yang masih terus berlangsung di banyak tempat dan oleh banyak imam maupun awam. Tahta Suci merasa prihatin akan hal ini dan karenanya merasa perlu mengeluarkan instruksi tentang Misa Kudus, agar kesucian dan sifat kesatuan universal ritus Roma tidak dilukai dan menjadi kabur.
ada yg tahu dokumen aslinya yg membahas penghentian eksperimen?

PENDAPAT BAPAK SONNY ARENDS
Mestinya ada garis tegas yang membedakan antara lagu liturgi dan lagu rohani …. maksudnya juga sekalian untuk membendung lagu lagu dari kaum Indiferentis menyusup kedalam Gereja Katolik

Solusi terbaik yaitu silakan ajukan ke Keuskupan setempat dan biarkan Seksi Liturgi membahasnya untuk diajukan menjadi lagu Liturgi dan untuk dikonsultasikan segala permasalahan yang mungkin ada … sebab Gereja Katolik juga tidak menutup pintu bagi Lagu Lagu Liturgi Khas daerah atas nama inkulturasi asalkan lagu lagu tersebut telah sesuai dengan aturannya

PENDAPAT BAPAK RICHARDUS WIDISARJOKO
Ya kalo ada aturannya ya jangan sembarangan to! Siapa sih yang segitu pedenya anggep lagu itu pantas apa gak? nah yang pantas ya uskup, bukan semua orang semaunya sendiri karang2 lagu tanpa imprematur trus mo dinyanyiin di Gereja. Kalo kejadiannya begitu ya ciri Gereja Katolik ya hilang. nanti kalo orang datang di suatu Misa di suatu tempat asing malah Gereja Katolik dikiranya gereja portestan. Wah kacau.

PENCERAHAN DARI BAPAK SONNY ARENDS

Ada sedikit uraian mengenai pemahaman lagu liturgi dan lagu rohani oleh Sdr.Yoh Ogenk Jbso: Masalah lagu dalam ekaristi selalu jadi bahan perhelatan…sudah saatnya kita melihat lagi ke pengertian dan perbedaan Musik Liturgi dengan Musik Rohani..

1. Definisi
Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat / liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Musik / nyanyian liturgi mengabdi pada partisipasi umat dalam ibadat, seperti yang diuraikan dalam SC art. 114: “Khazanah musik liturgi hendaknya dilestarikan dan dikembangkan secermat mungkin. … Para uskup dan para gembala jiwa lainnya hendaknya berusaha dengan tekun, supaya pada setiap upacara liturgi yang dinyanyikan segenap jemaat beriman dapat ikut serta secara aktif dengan membawakan bagian yang diperuntukkan bagi mereka.”

Musik Rohani adalah musik yang sengaja diciptakan untuk keperluan diluar ibadat liturgi, misalnya: pertemuan mudika, arisan-arisan, rekreasi, pelatihan, pentas musik rohani, rekaman, sinetron, nongkrong di café bahkan sampai dengan usaha membentuk suasana rohani di rumah (definisi lebih detail dapat dilihat di bawah: Perbandingan antara musik liturgi, musik pop rohani dan musik profan).

2. Bagaimana kedudukannya dalam ibadat?
Musik liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat, misalnya:

a) Nyanyian Pembukaan, tujuannya adalah membuka misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya (Pedoman Umum Misale Romawi baru / PUMR no. 47-48).

b) Nyanyian Tuhan Kasihanilah Kami, sifatnya adalah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihannya. Teks liturgi yang resmi adalah: (1) seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, (2) seruan “Kristus kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, (3) seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat (PUMR no. 52).

c) Madah Kemuliaan, kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman Kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anak domba Allah, serta memohon belas kasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks lain, juga tidak boleh ditambahi atau dikurangi, atau ditafsirkan dengan gagasan yang lain (PUMR no. 53).

d) Nyanyian Mazmur Tanggapan merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah (Bacaan I dari Kitab Suci Perjanjian Lama). Mazmur Tanggapan biasanya diambil dari buku Bacaan Misa (Lectionarium), para petugas / pemazmur biasanya menggunakan buku resmi “Mazmur Tanggapan dan Alleluya Tahun ABC”.

e) Nyanyian Ayat Pengantar Injil / Alleluya, dengan aklamasi Ayat Pengantar Injil ini jemaat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil, dan sekaligus menyatakan iman (PUMR no. 62).

f) Nyanyian Aku Percaya (fakultatif, maksudnya boleh tidak dinyanyikan): maksudnya adalah agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dari Alkitab dan dijelaskan dalam homili. Dengan melafalkan kebenaran-kebenaran iman lewat rumus yang disahkan untuk penggunaan liturgis, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri iman sebelum mereka merayakannya dalam Liturgi Ekaristi. Oleh karenanya tidak diperbolehkan menggantinya dengan teks lain (PUMR no. 67-68)

g) Nyanyian Persiapan Persembahan, tujuannya adalah untuk mengiringi perarakan persembahan, maka digunakan nyanyian dengan tema persembahan. Kalau tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian (PUMR no. 74).

h) Nyanyian Kudus adalah nyanyian partisipasi umat dalam Doa Syukur Agung. Nyanyian Kudus harus diambil dari buku teks resmi (TPE) (PUMR no. 78 b).

i) Nyanyian Bapa Kami, tujuannya adalah untuk mohon rezeki sehari-hari (roti Ekaristi), mohon pengampunan dosa, supaya anugerah kudus itu diberikan kepada umat yang kudus. Teks Bapa Kami harus diambil dari buku teks misa resmi (TPE) bukan dari teks yang asal-asalan atau teks liar (PUMR no. 85)

j) Nyanyian Anak Domba Allah, tujuannya adalah untuk mengiringi pemecahan roti dengan teks misa resmi sbb: “Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami (2 X). Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai.” (PUMR no. 83).

k) Nyanyian Komuni tujuannya adalah: (1) agar umat secara batin bersatu dalam komuni juga menyatakan persatuannya secara lahiriah dalam nyanyian bersama, (2) menunjukkan kegembiraan hati, dan (3) menggarisbawahi corak “jemaat” dari perarakan komuni. Maka lagu komuni harus bertemakan komuni / tubuh dan darah Kristus, tidak boleh menyanyikan lagu untuk orang kudus / Maria, Tanah Air, panggilan – pengutusan, atau yang lain (PUMR no. 86).

l) Nyanyian Madah Pujian sesudah Komuni dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas santapan yang diterima yaitu tubuh (dan darah) Kristus sebagai keselamatan kekal bagi manusia (PUMR no. 88).

m) Nyanyian Penutup bertujuan untuk mengantar imam dan para pembantu-pembantunya meninggalkan altar dan menuju ke sakristi.

Sedangkan musik rohani / pop rohani tidak memiliki tujuan-tujuan seperti di atas, kalaupun ada yang menggunakannya dalam misa itu artinya dipaksakan. Lebih jelas dapat Anda lihat dalam buku “Kidung Syukur” yang beredar di Keuskupan Agung Jakarta, banyak lagu pop rohani yang dipaksakan menjadi lagu liturgi. Misalnya lagu “You rise me up” (Kidung Syukur no. 508, kalau Anda memiliki Kidung Syukur silakan dibuka), mari kita lihat bersama: pertama siapa yang dimaksud dengan “you” dalam syair lagu itu? Yesus Kristus? Tidak, karena memang tidak ada satu katapun mengenai Yesus. Kalau kata “you” yang dimaksudkan adalah untuk Yesus mengapa diungkapkan secara samar-samar? Kedua, lagu ini sangat individual yang justru sangat bertentangan dengan liturgi Gereja yang eklesial. Ketiga, mengapa harus berbahasa Inggris? Apakah umat yang sederhana dan tidak mengerti bahasa Inggris bisa menghayati lagu tersebut? Apakah dengan lagu yang branded, Tuhan akan selalu mengabulkan permohonan kita, karena sudah pasti terjamin mutunya?

Kesimpulannya lagu ini tidak bisa dimasukkan dalam Liturgi, karena tidak berhubungan erat dengan upacara ibadat, tidak mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, dengan syair yang sangat individual lagu ini tidak memupuk kesatuan hati umat beriman yang sedang beribadat. Kesimpulan ini berlaku bagi semua lagu pop rohani yang beredar di kalangan umat, karena musik rohani memang tidak liturgis, tidak memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat. Dengan kata lain semua lagu pop rohani / musik rohani jelas-jelas bertentangan dengan isi Konstitusi Liturgi (SC) art. 112.

Selepas Konsili Vatikan II, umat Katolik seolah terlepas dari belenggu penjajahan bahasa Latin. Meskipun perlu dipertanyakan kebenarannya. Apakah kalau bebas dari bahasa Latin berarti akan menjadi lebih baik….heheheh

Gereja membebaskan umat untuk beribadat dalam bahasa setempat dan budaya setempat. Istilah hebohnya inkulturasi.
Maka terjadilah euforia yang membuat kita lepas control yang menyebabkan :

1. muncul lagu-lagu lepas yang baru, yang langsung dipakai dalam liturgi.
2. lagu lama yang diberi syair baru (bahasa Indonesia).
3. Lagu profan langsung diberi syair suci.
4. mencomot lagu profan mentah-mentah langsung dipakai dalam ekaristi.

ada kesan yang penting aseeek….
Lagu lama yang diberi syair baru, ini bisa berarti alihbahasa tapi bisa juga berarti mengganti total syairnya….

yang disayangkan, kadang karakter lagu (harmoni) berbeda dengan karakter syair jadinya ibarat Teh Manis dicampur sama Kopi…bisa diminum, tapi mengganggu rasa kan…dulu sempet beredar lagu Bapa Kami dengan langgam Bandung Selatan di pake di misa…(untungnya udah gak boleh)

Sedangkan mencomot lagu profan mentah-mentah, utuh dijadikan lagu liturgy sering pula kita jumpai secara utuh hadir dalam Ekaristi pada waktu Penerimaan Sakramen Pernikahan.
Akan lebih baik kalau kita mempertimbangkan beberapa hal :

Pertama, kita harus mengingat fungsi nyanyian dalam ibadat itu apa. Kita harus tahu bahwa nyanyian ibadat hakikatnya adalah doa juga.

Kedua, kita harus memahami, niat awal penggubah lagu menggubah nyanyian, apakah dia menggubah untuk ibadah atau untuk hiburan.

Ketiga, kita harus cermat dalam memilih nyanyian untuk ibadah Ekaristi. Tidak asal comot tanpa memperhatikan cocok atau tidaknya sebuah nyanyian untuk dipergunakan dalam ibadat.

Keempat, perlu ada “pendidikan” liturgi untuk petugas-petugas liturgi. Khususnya soal pemilihan nyanyian Ekaristi. Petugas liturgi itu, perlu mempunyai wawasan luas soal ikhwal liturgi

Siapa yang berhak menjadi anggota Lembaga Sensor itu, tentu saja hal ini perlu diskusi panjang. Misi ini akan memicu pro dan kontra. Lepas dari setuju atau tidak setuju, tentu keberadaan lembaga ini patut didiskusikan.

Akan tetapi yang paling vital adalah sensor pribadi kita. Kita memasang filter untuk menyaring nyanyian Liturgi yang baik, yang kita pakai dalam ibadat Ekaristi. Untuk itu kita harus memperluas wawasan kita terhadap musik liturgi.

PENCERAHAN DARI PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK SCJ:

Ingatlah bahwa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Dalam soal adat budaya yang beragam dan berbeda penafsiran, perlu hati2 memperkenalkan lagu2 daerah dalam khazanah liturgi gereja universal. Bukan bahwa Gereja sangat membatasi kreativitas lokal. Tapi ketika sebuah lagu ingin dimuat dalam konteks universal, diterima oleh berbagai ragam latar belakang budaya seperti di Indonesia, prioritas tetap kesatuan dan kesamaan presepsi tiap budaya.

Maka yang terpenting bukan pertama2 soal imprimatur, tapi bagaimana sebuah lagu lokal butuh waktu yang cukup untuk menjadi familiar dan meyakinkan bahwa tidak ada salah persepsi dari budaya lain yang mendengar dan menyanyikannya. Bisa jadi lagu2 yang berkonotasi cinta dan pemujaan dalam satu budaya, ditafsirkan sebagai lagu perang oleh budaya lain…kan repot nantinya. Berilah waktu agar lagu2 itu sungguh teruji bersifat universal walau bermuatan lokal dan menjadi familiar bagi semua, baru berpikir soal imprimatur. GBU.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Tentang perlunya IMPRIMATUR.
Saya sangat setuju bila Lagu (rohani) Daerah sebelum dinyanyikan secara meluas dalam liturgi resmi Gereja mendapat (nihil obstat dan) imprimatur dari pejabat Gereja berwenang. Tentu ini mengandaikan harus adanya kajian yang mendalam baik secara teologis-liturgis tetapi juga sosiologis dan eklesiologis. Tentulah banyak … See Moreaspek yang perlu dipertimbangankan.

Tentang nyanyian “OPO WANA NATASE”.
Nyanyian ini sangat bagus dan sudah menjadi lagu-rakyat di kalangan orang Kristiani (bahkan masyarakat umum) Sulawesi Utara. Namun bila ini sulit diterima oleh Gereja Indonesia karena berbahasa lokal dan sulit dibawakan oleh sebagian besar orang, maka nyanyian versi Indonesia-nya barangkali baik untuk disosialisasikan. Tentu, sekali lagi kajian-kajian teologis-liturgis, sosiologis dan eklesiologis tak boleh diabaikan.

PENCERAHAN DARI BAPAK Bonar Pintor H Siahaan

Perlunya sesuatu yang berasal dari budaya lokal mendapat persetujuan Gereja (baca : Hierarki), termasuk tulisan tulisan yang menyangkut dan berhubungan dengan ajaran Gereja adalah untuk melihat sejauh mana TIDAK BERTENTANGAN dengan Kitab Suci/ dogma/ajaran Gereja, karena bisa saja sesuatu menjadi menyesatkan iman, suka atau tidak suka, sebagai umat Katolik, maka wewenang itu ada pada Pemegang otoritas Magisterium, dalam hal ini Uskup dan atau yang ditunjuk untuk itu.

PENCERAHAN DARI PASTOR SAM GULO

Dalam Gereja Katolik kita bersyukur bahwa ada hierarki, otoritas Gereja dengan magisteriumnya. Inilah yang membuat Gereja Katolik kuat. Maka kita jangan anti dgn lagu2 Gregorian, karena itu salah satu hal yang mempersatukan kita. Tetapi Dlm Gereja Katolik jg ada ruang utk mengekspresikan diri, maka ada misalnya lagu2 inkulturatif yang bersifat kedaerahan. Nihil Obstat perlu spy tdk menyimpang dari ajaran Gereja Katolik, yang satu, katolik dan apostolik.

PENCERAHAN DARI PASTOR ALBERTUS WIDYA RAHMADI PUTRA

Cuplikan artikel dari:
http://en.wikipedia.org/wiki/Imprimatur
http://en.wikipedia.org/wiki/Nihil_obstat… See More

—————
In the Roman Catholic Church an imprimatur is an official declaration by a Church authority that a BOOK or OTHER PRINTED WORK MAY BE PUBLISHED. Since, according to canon law this permission must be preceded by a declaration (known as a nihil obstat) by a person charged with the duties of a censor that the work contains nothing damaging to faith or morals, the bishop’s authorization of publication is implicitly a public declaration that nothing offensive to Roman Catholic teaching on faith and morals has been found in it. The imprimatur is not an endorsement by the bishop of the contents of a book, not even of the religious opinions expressed in it, being merely a declaration about what is not in the book.
—————–

Nihil obstat (Latin for “nothing hinders” or “nothing stands in the way”) is a declaration of no objection to an initiative or an appointment.

Apart from this general sense, the phrase is used more particularly to mean an “attestation by a church censor that a book contains nothing damaging to faith or morals”. The Censor Librorum delegated by a bishop of the Catholic Church reviews the text in question, but the nihil obstat is not a certification that those granting it agree with the contents, opinions or statements expressed in the work; instead, it merely confirms “that it contains nothing contrary to faith or morals.”
——————

Dari artikel2 di atas tampak jelas bahwa inti pemahaman dari pemberian Imprimatur (dan Nihil Obstat) sebenarnya hanyalah pernyataan bahwa ISI sebuah buku atau karya tertulis (mungkin jg lagu) yg diajukan tidak mengandung hal2 yg bertentangan dengan kebenaran iman dan moral shg boleh dicetak dan dipublikasikan.

Jadi BUKAN soal kualitas isinya bagus atau rata2, indah atau biasa2 saja, bahasanya puitis atau lugas, pakai bahasa Latin atau bahasa Jawa, etc. Tidak pula menyatakan persetujuan pemberi imprimatur atas ISI karya tsb.

Contoh ekstremnya, bisa jadi dalam pandangan atau selera pribadi si pemberi imprimatur isi karya itu secara kualitatif tidak inspiratif atau berbobot teologis mendalam, bahkan mungkin ia tidak setuju dengan pernyataan2 yg ada di dalamnya. Bahasanya jg biasa2 saja. Tetapi krn scr OBJEKTIF mm tidak mengandung hal2 yg bertentangan dgn kebenaran iman dan moral maka layak diberi Imprimatur & Nihil Obstat utk dicetak dan dipublikasikan

Lalu, bagaimana dengan lagu2 liturgi bercorak kedaerahan baik dari sisi musik maupun syairnya? Adalah Komisi Liturgi Keuskupan (setempat) yg selayaknya bertugas memberi penilaian secara artistik & liturgis. itu berarti, Komisi Liturgi keuskupan idealnya mm memiliki pula anggota yg tahu benar seni (lokal), atau bahasa Bung Lamuri local genius person. Sekalipun demikian tidak semua genre seni (lokal) bisa dipergunakan untuk keperluan liturgi, bukan? Cth ekstrem: pola lagu parikan (Suroboyoan – humor ala Kartolo) jelas ndak cocok & ndak bisa dipakai untuk keperluan liturgi meskipun merupakan wujud local genius thinking.. 🙂

Baru setelah itu dikaji secara teologis etc utk mendapatkan Imprimatur (dan Nihil Obstat). Setidaknya ada dua langkah penilaian utuh: secara artistik-liturgis dan teologis.. Bagaimana pun juga, Gereja (atau kegiatan liturgi) bukanlah panggung pertunjukan, di mana semua jenis kesenian lokal bisa ditampilkan. Bukan pula soal upaya gregorianisasi dan europe-oriented art, tetapi justru soal kearifan lokal dalam memilih budaya setempat utk membantu pengungkapan iman kristiani secara benar & lebih mendalam lewat aktifitas liturgi.

Peace.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: