Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 430,924 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Firman Allah dan Liturgi Suci (Verbum Domini no. 52 – 61) – Part 2

Posted by liturgiekaristi on March 15, 2011


Post 15 Maret 2011

Melanjutkan ringkasan Exortasi Apostolik VERBUM DOMINI dalam artikel sebelumnya, berikut ini beberapa penegasan Bapa Suci Benediktus XVI tentang Sabda Allah dan Liturgi Suci.  Semoga bermanfaat !

Firman Tuhan bergema dalam sejarah umat manusia dan interpretasinya yang benar ada dalam Kitab Suci. Inilah yang dijelaskan Paus Benediktus XVI dalam bagian pertama Exortasi Apostolik Post-sinodal VERBUM DOMINI  tentang apa itu Verbum Dei. Namun ada juga gemah dari Sabda Allah yang sama mengubah hidup manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitas. Kehadiran Sabda Allah ini mentransformasi manusia menjadi ciptaan baru, menjadi umat Allah yang baru. Itulah Gereja. Sri Paus memberi suatu definisi yang dinamis tentang Gereja, yakni komunitas yang mendengarkan dan mewartakan Sabda Allah (bdk no. 50). Di sini mau ditegaskan bahwa Gereja tidak bisa hidup dari dirinya sendiri ; Ia hidup dari Injil, dimana Gereja selalu menarik kembali orientasinya seturut Firman Tuhan dalam ziarahnya di dunia ini.

Bagaimana Gereja menerima Sabda Allah ini dalam hidupnya ? Exortasi VERBUM DOMINI ini menunjukkan banyak cara:  animasi biblis dalam berpastoral (bdk no 73), dalam berkatekese (bdk no 74), dalam usaha untuk memperbanyak panggilan (bdk no 79-85), dalam bermeditasi dan berkontemplasi Kitab Suci (bdk no 87-89), juga dalam hubungannya dengan doa-doa dengan pengantaraan Bunda Maria, seperti Rosario dan angelus (bdk no 88).

Akan tetapi diantara semuanya itu Bapa Suci menjelaskan suatu tempat yang istimewa dari Sabda Allah yang mempersatukan kita sebagai satu Gereja, dimana “Allah berbicara kepada umatNya yang mendengardan yang menjawab SabdaNya”, itulah Liturgi Gereja (bdk no. 52). Sri Paus menegaskan bahwa liturgi adalah tempat yang utama dan teristimewa di mana Firman Allah sepenuhnya dinyatakan, baik dalam perayaan sakramen, terutama dalam Ekaristi, Perayaan Sabda, Ibadat Harian (doa ofisi atau brevir), maupun Tahun Liturgi (kalender liturgi tahunan).  Misteri keselamatan yang dikisahkan dalam Kitab Suci tertemukan dalam liturgi sebagai tempat untuk mewartakan, mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan. Perlu dingat bahwa judul dari Exortasi ini adalah VERBUM DOMINI, yang secara literer diambil dari pemakluman Sabda Tuhan dalam liturgi oleh diakon atau imam ketika Kitab Suci selesai dibacakan dalam Liturgi Sabda : Verbum Domini = “Inilah Sabda Tuhan” atau “Inilah Injil Tuhan”; dan umat menjawab dengan aklamasi : Deo Gratias = “Syukur kepada Allah” atau Laus tibi Christe = “Terpujilah Kristus”.

Mengacu pada liturgi Vatikan II,  Sri Paus memberikan pernyataan yang jelas dan tegas yang berkaitan dengan bimbingan pastoral liturgi. Ada empat pernyataan (yang saya temukan) berkaitan dengan hubungan Sabda Allah dan Liturgi suci :

  1. Tempat Alkitab dalam liturgi. Di sini bukan soal pilihan bacaan-bacaan, tetapi dalam cara bagaimana Gereja mengungkapkan sendiri kehadiran Sabda Allah. Seperti yang telah diingatkan Paus dalam Exortasinya Sacramentum Caritatis (no 46), bahwa Kristus sendiri hadir secara pribadi dalam GerejaNya, oleh kuasa Roh Kudus dalam liturgi  “selama Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (VD no. 52). Jadi perayaan liturgi selalu terbuka pada pemahaman untuk diperbaharui oleh Sabda Allah dengan caranya yang khusus sebagai “Sabda yang aktual dan yang menghidupkan”. Di sini menegaskan kembali kehadiran nyata Kristus sebagaimana dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci atau Sacrosanctum Concilium no. 7 : « … Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib’, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membabtis, Kristus sendirilah yang membabtis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji : bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat 18:28). » Disamping itu ada suatu hal yang tidak mudah tetapi menarik, dari apa yang ditegaskankan Paus : “Kita harus memahami dan menghidupi makna essential dari tindakan liturgis oleh pemahaman Sabda Allah. Dalam arti, hermaneutika iman atas dasar Kitab Suci harus selalu memiliki acuan atau referensinya dalam liturgi, dimanaus  Sabda Allah dirayakan sebagai Firman yang aktual dan hidup” (no. 52). Refleksi bagi kita : bagaimana pengalaman iman pribadi akan kehadiran nyata Kristus dalam liturgi, sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi Liturgi Suci no. 7 diatas ?
  2. Exortasi VERBUM DOMINI ini berfokus pada hubungan erat antara Kitab Suci dan sakramen-sakramen Gereja (bdk VD no. 53). Sampai sekarang ada banyak upaya (dalam reformasi liturgi) untuk memisahkan antara Sabda Allah dan sakramen. Padahal terdapat hubungan yang erat antara keduanya. Dan hubungan ini, sebagaimana ditegaskan Paus, didasarkan atas sifat dari Sabda Allah itu sendiri. Sesungguhnya “dalam sejarah keselamatan, tidak ada pemisahan antara: apa yang Allah firmankan dan apa yang Allah perbuat” . Jadi  « dalam hubungan antara Firman Allah dan tindakan  sakramen, tindakan Allah yang menyelamatkan itu terwujud dalam liturgi melalui karakter performatif dari Sabda Allah ». Demikian juga dalam tindakan liturgis,  sama seperti Sabda Allah : dalam setiap sakramen, « kita menghadirkan Sabda Allah yang merealisasikan apa yang ia katakan ». Jadi Sabda Allah memiliki suatu karakter performatif,  ia menggabungkan dalam diri kita secara tepat apa yang dikatakan melalui tindakan sekramental (dalam liturgi) yang Gereja lakukan. Pertanyaan refleksi bagi kita : membaca injil Lukas 4, 16 – 21, perikope Sabda Allah ini mengatakan apa kepada kita dalam pertemuan liturgis  di jaman selarang ?
  3. Afirmasi yang ketiga adalah hubungan yang erat antara Sabda Allah dan Ekaristi (bdk no. 54). Dasarnya pada  Firman Yesus dalam Injil Yohanes bab 6, tentang “Roti kehidupan”, dimana mengingatkan kita akan manna di Padang Gurun, yang merupakan realisasi dari Kitab Taurat, Sabda Allah yang memberi hidup . Kini realisasi Taurat Musa ini terpenuhi dalam pribadi Yesus Kristus: Sang Sabda menjadi daging. « Karena roti yang dari Allah adalah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia. Akulah roti hidup itu » (Yoh 6, 33. 35). Akan tetapi, orang  makan dan minum tubuh dan darah Kristus tidak hanya dalam Ekaristi, melainkan juga dalam bacaan Kitab Suci. Maka tidak ada pemisahan antara Sabda Allah dan Ekaristi. « Ekaristi memberi kita pemahaman akan Sabda Tuhan, sama seperti Sabda Tuhan menerangi dan menjelaskan misteri Ekaristi. Bahkan, tanpa pemahaman kehadiran nyata Tuhan dalam Ekaristi, pengertian kita tentang Kitab Suci tidaklah lengkap » (no. 55), demikian kata Sri Paus. Itulah sebabnya Sabda Allah dan misteri Ekarisri selalu dan dimana-mana diterima dalam Gereja, bukan hanya dalam peribadatannya tetapi juga dalam penghormatannya. Bapa Suci menegaskan , « mengingat sifat performatif dari Firman Tuhan dalam tindakan sakramental dan kedalaman hubungan antara Firman dan Ekaristi, kita dituntun  pada suatu tema penting yang muncul selama Sinode, yakni Sakramentalitas (sifat sakramental) dari Firman Allah. » (bdk VD no 56).  Beliau menjelaskan bahwa  « sakramentalitas dari Firman Allah dipahami sebagai analogi kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur yang dikonsekrasikan.  Ketika kita mengambil bagian dalam perjamuan Ekaristi, kita sungguh bersatu dalam Tubuh dan Darah Kristus ». Pemakluman Firman Allah dalam perayaan liturgi menunjukkan kepada kita suatu pemahaman bahwa Kristus sendiri hadir dan berbicara kepada kita yang mendengarkan Dia. Pertanyaan refleksi bagi kita : Apakah perhatian dan kecintaan kita terhadap Ekaristi memperdalam perhatian dan kecintaan kita juga pada Kitab Suci, ataupun juga sebaliknya ?? Bagaimana pemahaman dan rasa keimanan kita ketika dalam Ekaristi ada pemakluman Sabda Tuhan : “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” ?
  4. Afirmasi keempat yakni menyangkut sakramentalitas Sabda Allah dan dimensi keselamatan demi kemanusiaan (bdk VD no 61).  Kehadiran Allah dalam Sabdanya yang diwartakan berdaya guna untuk menyembuhkan dan menyelamatkan. Itulah yang ada pada sakramen-sakramen penyembuhan, khususnya sakramen rokonsiliasi dan sakramen perminyakan orang sakit (bdk no. 61). Kedua sakramen ini sering kali dilupakan tentang kekuatan Sabda Allah yang berdaya guna untuk pengampunan dan penyembuhan. Pertanyaan refleksi bagi kita, apakah kita menyadari daya kekuatan Sabda Allah yang membawa pengampunan dan penyembuhan, sehingga berhadapan dengan si peniten dan si sakit kita memperdengarkan Sabda Allah itu baginya ? Apakah kita mempersiapkan dengan sungguh baik si peniten dan si sakit untuk mendengarkan Sabda Allah yang menyentuh dan menyembuhkan?

Masih banyak tema yang  penting dan sangat menarik untuk didalami dan dipelajari, sebagai  pegangan dalam menghidupi Sabda Tuhan. Maka kembali kepada desakan Bapa Suci : « Berusahalah  untuk lebih akrab dengan Kitab Suci », karena dengan menghidupi Sabda Tuhan dan mewartakannya di dalam kehidupan kita, terciptalah persekutuan hidup dan membawa suka cita yang sempurna (bdk. VD no. 123 ; 1 Yoh 1, 1 – 4).  Melanjutkan himbauan Sri Paus kepada kita masing-masing : « Tuhan bersabda,  ‘Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok ; jikalau ada orang  yang mendengarkan suaraku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku’ » (Why 3, 20 ; bdk. VD no. 124). Maka, “Marilah ! Barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata : ‘Marilah !’ Dan barangsiapa yang haus hendaknya ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan…”(Why 22, 17)  Maka kita juga menjawab seperti “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah Tuhan Yesus!” (bdk. VD no. 124; Why 22, 20).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: