Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 642,563 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘1. Lektor’ Category

LEKTOR – SHARING MENGENAI SIKAP TUBUH PADA SAAT BERTUGAS

Posted by liturgiekaristi on May 21, 2011


Pertanyaan umat :

Misa di hari minggu yang lalu di paroki saya, ada sebuah kejadian yg membuat saya agak gimanaa gitu.

Minggu yang lalu, di gereja paroki saya, saya sempat melihat Lektor II duduk manis dan sangat santai disebelah misdinar pada saat Lektor I membacakan Bacaan I.Sebenarnya, bagaimana seeh sikap dan bahasa tubuh yg harus diketahui, dimiliki, di kuasai, dan yg kemudian dilaksanakan oleh seorang Lektor yg baik dan benar dlm menjalankan tugasnya sbg petugas pelayan Liturgi itu ?Boleh gak ya pada saat Lektor I sdg membacakan Bacaan, Lektor yg lain yg sdh ada dipanti imam utk menunggu giliran mambacakan Bacaan berikutnya, duduk ? Bagaimana seharusnya ?

PENCERAHAN dari Pastor Hans Wijaya

sikap badan lektor selama mendengarkan pembacaan Sabda Tuhan, sama seperti semua yang hadir: Imam, misdinar dan umat. duduk dan menyimak. orang yang memperhatikan, pasti sikap badannya mendukung dia untuk mendengarkan dengan baik. kita tida…k dapat konsentrasi kalau duduk santai, bersandar setengah berbaring dengan kaki menjulur ke depan; misalnya. jadi masalahnya bukan pada sikap badan lektor II, tapi pada bagaimana Bacaan dibacakan, yang bukan sekedar membaca tapi mewartakan. bagaimana bacaan dipergunakan dalam homili. kalau homili hanya mengupas Injil tanpa menyinggung Bacaan I/II, umat juga tidak terbantu untuk ikut menyimak bacaan-bacaan dari Kitab Suci

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

SHARING  ADMIN : Kalau di paroki saya, lektor duduk di bangku terdepan (bangku umat). Lalu pada waktu Ibadat Sabda, kedua lektor maju ke panti imam dan keduanya berdiri di dekat mimbar sabda. Pada saat keduanya sudah selesai menjalankan tugas, , maka kedua lektor itu bersama-sama kembali lagi ke tempat duduknya semula.

Lucia Christiawati biasanya saat lektor I membacakan lektor II duduk dg sopan bersama prodiakon di t4 yg tlh disediakan.bgitupun sbaliknya.
RoYana ELvina SimaLango Klo di greja saya,
lektor duduk di t4 palng dpn di bangku umat kemudian apabila akan membaca sabda Tuhan Lektor I dan lektor II bergantian naik ke mimbar.
Gabriella Rika Swasti Lah anak kecilpun tahu bgt, lau baru tugas di gereja sikapnya harus sopan ; duduk gak bleh seenakknya, hrs tegak tapi jgn kaku, gak bleh tengok kanan atau kiri bahkan belakang, menyimak yg sedang berlangsung…………. lau seenakknya ganti aja lektornya. Laaaaaaaaah apa sebelum jd lektor gak ada prolog, syarat dan lainnya ?Eiiiit satu lagi, kalau di t4 saya, lektor duduke sederet dengan misdinar………
Robert Darisman Petugas lektor n mazmur seharusnya terlantik. Ini menjamin adanuya pembekalan sebelum menjalankan tugas. Karena kurangnya tenaga pelayan sering main tunjuk saja dan sayangnya tidak menjamin adanya pembekalan. Perlu kita perbaiki bersama.
SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

ikut nimbrung sesama admin….
Tergantung tata ruang gereja dan panti imam. Kalau gerejanya kecil maka lektor tetap di tempatnya dan pas gilirannya baru maju… kalau gereja dan panti imamnya besar dan luas…. sebaiknya semua petugas maju, …baik lektor I, pemazmur dan lektor II. Sementara lektor I bertugas, pemazmur dan lektor II berdiri di belakang lektor I dengan sikap sopan, sampai semua selesai bertugas baru sama² kembali ke tempat duduk; ini kalau tempat duduk lektor di bangku umat. Kalau tempat duduk para petugas di panti imam, diusahak untuk lektor tidak jauh dari mimbar Sabda, sehingga pas giliran baru berdiri melaksanakan tugasnya. (terkadang seringnya hilir mudik para petugas di panti imam mengganggu suasan, apalagi ditambah bunyi langkah sepatu yang … gimana gitu… hehehe). Jadi sekali lagi tergantung tata ruang gerja dan panti imam
Soetikno Wendie Razif

Ada lektor/lektris yang dirangkap oleh pro diakon, saat perarakan masuk ke altar, mereka ikut naik ke altar, lalu tetap nangkring di altar … sampai konsekrasi, mereka tetap berdiri di altar, jadi pas kita menyembah Tubuh dan Darah Kristus…, kita menyembah sang pro diakon juga ….kenapa tidak disosialisasikan bahwa pro diakon tetap umat biasa, bukan tertahbis …altar hanya untuk yang tertahbis … Mau contoh : Datanglah ke Misa di Gereja St.Theresia, Jl. H. Agus Salim, Menteng, Jakarta
Yudha Adrian lektor/lektris II biasanya tetap duduk pada tempat yang disediakan pada saat bacaan 1 dan bergantian dengan lektor/lektris I pada saat mazmur antar bacaan dinyanyikan. Yang berdiri pada saat bacaan I dan II selain lektor yang membacakan adalah pemazmur.

Noor Noey Indah

boleh nambah dikit kan ya…Masih sering dijumpai petugas liturgi bingung dg tugas yg diembannya krn kurang persiapan, kurang pembekalan, bahkan gak ngerti dg apa yg dilakukannya.
Hal ini sangat disayangkan krn bisa menghambat kelancaran dar…i Peryaan Ekaristi yg dirayakan.Petugas Liturgi perlu tau, lebih mengerti dan memahami dg sungguh apa yg menjadi tanggungjawabnya sebagai petugas pelayan liturgi. Hal ini bisa dilakukan dg jalan (salah satunya), gereja membuat wadah utk masing² tugas tsb yg dkoordinir olah seksi liturgi dan didampingi oleh Pastor memberikan pembekalan materi secara berkala dan berkesinambungan, dg maksud supaya masing² petugas benar² memahami setiap tugas yg menjadi tanggungjawabnya.
Sehingga Peryaan Ekaristi dpt berjalan anggun, lancar, hikmad, sakral dan semestinya karena semuanya berjalan benar dan seharusnya.

Didit Irianimasalahnya adalah tidaka ada aturan baku / pedoman yang harus diikuti iapa yang lektor dan petugas lain nya itu sepengetahuan saya mohon bagi yang memiliki mar si kita berbagi

Posted in 1. Lektor, 2. Bagian Liturgi Sabda | Leave a Comment »

MC ATAU KOMENTATOR ?

Posted by liturgiekaristi on March 23, 2011


  • Noor Noey Indah

    Selamat pagi Admin dan semua pecinta Page SL tercinta,

    Mau menambahkan sedikit boleh ya…
    Menjadi seorang MC, tepatnya menjadi seorang Pemandu dlm Misa Kudus dituntut utk hrs pintar2 membaca situasi, contohnya, bila di gereja tdk tersedia al…at peraga utk menyampaikan nomor2 lagu yg akan dinyanyikan, atau tersedia tp tiba2 mati lampu shg alat peraga menjadi tdk berfungsi, sebaiknya seorang Pemandu dpt menyebutkan Judul Lagu dengan diikuti Nomor Lagu dr buku atau teks yg dipakai (dari Puji Syukur, Madah Bakti, atau dari teks yg lainnya) dg jelas, spy Umat dpt bernyanyi bersama2 dg tdk pake bingung hrs nyanyi lagu apa.. yg nomor berapa.. atau sebaliknya krn suara Pemandu krg jelas.

    Yang tak kalah pentingnya, pd wkt menyampaikan Nomor Lagu Kudus (Sanctus). Krn tak jarang terjadi, Pemandu mengumumkan Judul dan Nomor Lagu pd saat Lagu Kudus (Sanctus) itu akan dinyanyikan, yaitu pd saat Imam selesai doa / menyanyikan Prefasi.
    Selain mengurangi kekhusukan, pengumuman Judul dan Nomor Lagu ini jg memotong alur doa. Jadi, sebaiknya Judul dan Nomor Lagu Kudus disampaikan pada saat akan mulai DSA, sebelum Dialog Pembuka DSA.

    Demikian, mungkin ada yg mau menambahkan, atau mengoreksi dr tulisan saya diatas.. dipersilahkan… monggo.. 🙂See More

    Yesterday at 9:51am · · 2 people2 people like this.
  • Daniel Pane

    MC dalam liturgi berbeda dengan MC acara biasa, yang dimaksud MC dalam istilah Liturgi adalah orang yang bertugas khusus memandu Imam dalam merayakan Ekaristi (juga menyiapkan pakaian liturgis dll) pendeknya MC adalah penanggung jawab utama… untuk keseluruhan perayaan Liturgi. MC Kepausan saat ini adalah Msgr. Guido Marini, saat Misa berlangsung biasanya dia duduk di sebelah Paus. Biasanya MC hanya digunakan dalam perayaan yang dipimpin oleh Uskup atau Misa Perdana, dan umumnya (tidak selalu) MC adalah Imam. Berikut ini adalah foto Paus bersama MC nya dalam sebuah perayaan Liturgi: http://2.bp.blogspot.com/_N__SuU-FBg4/R06jbrQrDaI/AAAAAAAAAWo/8BUVSLfnjgU/s400/guido+marini+2.jpg dan http://2.bp.blogspot.com/_2tggLZ2rGkg/S0dSmf_jZcI/AAAAAAAAIqE/pVkAD11hG0M/s400/donguido.jpgSee More
    Yesterday at 12:24pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • Noor Noey Indah

    Betul, saya setuju dg Pak Daniel.. kita sering salah kaprah dg arti dr istilah MC dlm liturgi. Jd, istilah yg tepat utk seorang yg membuka Peryaan dg sapaan pembuka kpd Umat sekaligus mengumumkan bhw Misa siap dimulai, memberitahukan lagu2 …yg akan dinyanyikan (bila diperlukan), maupun yg membacakan pengumuman.. istilahnya apa ya..? Komentator ? dia kan tdk memberikan komentar / argumen..

    Mohon pencerahan..See More

    Yesterday at 1:21pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA adakah di tempat anda bacaan Kitab Suci dari lembaran coppy-an teks misa, bukan dari buku Lectionary (buku bacaan)? ada yang mengalami seperti ini, mari kita saling berbagi….

    Yesterday at 3:45pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

    ‎@Noor Noey Indah : Dalam PUMR no 105 b dan 106, di situ ada istilah komentator, kalau diperlukan, untuk memberi petunjuk singkat kepada umat. dan ada istilah ceremoniarius, di katedral (dan gereja besar) sebagai pemandu perayaan/ibadah.

    105…. Pelayan-pelayan berikut juga melaksanakan tugas liturgis :
    b. Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, ditempat yang kelihatan tetapi tidak di mimbar.

    106. Terutama untuk gereja-gereja katedral atau gereja-gereja yang besar dianjurkan agar ditunjuk seorang pelayan yang mumpuni atau seorang caeremoniarius (pemandu ibadat) untuk mempersiapkan perayaan liturgi dengan baik, membagikan tugas kepada masing-masing pelayan dan mengatur pelaksanaan perayaan, sehingga berlangsung dengan indah,rapih dan khidmat.See More

    15 hours ago · · 1 personLoading…
  • Noor Noey Indah Terimakasih utk pencerahannya, Admin…
    Sekarang gak bingung lagi… 🙂

    13 hours ago ·

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »

PUMR 99 & 101 – KAITANNYA DENGAN LEKTOR

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

‎”Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan. Dalam perayaan Ekaristi, ia harus menjalankan sendiri tugas khusus itu, biarpun pada saat itu hadir juga pelayan-pelayan tertahbis.” (PUMR 99)

 

Sumbangan beberapa info & klarifikasi istilah: 

1. Menurut pemahaman saya, istilah “Lektor Terlantik” (cfr. instituted lector) dalam PUMR 99 merujuk pada sosok pelayan khusus liturgi seperti yang dimaksud dalam Motu Proprio “Ministeria quaedam” (15 Agt 1972).

http://en.wikipedia.org/wiki/Reader_%28liturgy%29

2. “Lektor Terlantik” seperti disebut PUMR 99 dikukuhkan dalam upacara liturgi yang dipimpin oleh uskup dan dengan format upacara tertentu. Sampai sekarang Vatikan hanya memperkenankan Lektor Terlantik diberikan kepada pria (bdk. Kan 230 §1), meskipun tidak lagi direservasi hanya untuk calon imam. (Dalam sejarah, Lektor Terlantik dulu termasuk salah satu tahbisan minor.)

3. Bagaimana dengan para petugas bacaan liturgi yg di banyak paroki lazim disebut juga sebagai “lektor”? Umumnya mereka ini adalah kaum awam (baik pria maupun wanita) yang telah dipersiapkan secara khusus untuk menjalankan tugas secara teratur di paroki masing2. Tugas & peran yang dijalankan mereka pun praktis sama dengan tugas & peran “Lektor Terlantik”.

Sekalipun mereka telah dipersiapkan dan mungkin juga “dilantik” atau dikukuhkan oleh pastor paroki, dari segi istilah atau sebutan sebenarnya mereka tetap bukanlah sosok “Lektor Terlantik” seperti dimaksud PUMR 99 di atas. Hal ini akan menjadi jelas jika kita bandingkan dengan paparan lanjut PUMR 101.

4. Salut kepada mereka yg dengan aktif ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan sebagai pembaca sabda. Kehadiran mereka sesungguhnya merupakan jawaban konkrit PUMR 101:

“Kalau lektor yang telah dilantik tidak hadir, umat awam lainnya dapat diberi tugas memaklumkan bacaan-bacaan dari Alkitab. Mereka harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat untuk melaksanakan tugas ini, sehingga dengan mendengarkan bacaan-bacaan dari naskah kudus, umat beriman dapat memupuk dalam diri mereka rasa cinta yang hangat terhadap alkitab.”

5. Tanpa mengecilkan partisipasi aktif umat di banyak paroki sebagai pembaca bacaan secara tetap & reguler, apa yg saya tulis di atas hanya bermaksud utk menjernihkan pemakaian istilah “Lektor Terlantik” dalam PUMR 99. Pemakaian & pemahaman istilah secara jernih semoga bisa membantu kita untuk memahami dokumen dan penerapan hal2 yg terkait dengannya secara jernih pula di medan pastoral.

6. Pendek kata, dengan pemahaman istilah di atas, sejauh saya tahu secara formal-yuridis sebenarnya tidak ada banyak “Lektor Terlantik” di paroki2 kita seperti dimaksud PUMR 99. (Dalam situasi & kondisi yg kita punya sampai sekarang, nyatanya sosok ini masih tetap terbatas di kalangan para frater saja sebagai bagian tahapan formasi mereka sebelum tahbisan diakon.)

Sekalipun demikian, secara praktis & aktif tugas dan peran “Lektor Terlantik” ini sudah dijalankan pula oleh banyak umat yg terlibat di paroki masing2 sebagai pembaca sabda.

Semoga berguna.. Peace..

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »

MC/KOMENTATOR – perannya dalam Perayaan Ekaristi

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Mengenai KOMENTATOR. Ada umat yg bilang bhw gereja bkn tempat pertunjukan, jadi tdk perlu ada MC/komentator. Sebenarnya, perlukah seorng komentator pd suatu MISAi? Kl perlu, apakah posisi komentator sebaiknya bisa dilihat olh seluruh umat? Pernah sy lihat ada umat celingak celinguk mencari asal suara komentator…krn …posisi mimbar komentator ketutup bunga yg ukurannya lbh tinggi dr mimbar komentator.

Untuk meluruskan soal komentator dan perannya, berdasarkan peran komentator yang ada di paroki yang saya tahu :

1. Mengucapkan selamat datang kepada umat. Lalu menyampaikan kata pengantar seputar thema misa pada hari itu, sekaligus mengajak umat untuk memulai perayaan ekaristi dengan menyanyikan lagu…

2. Menyampaikan kata pengantar pada saat persembahan

3. Membacakan pegumuman gereja..

Cuma itu sih perannya. Dan tugasnya dijalankan dari mimbar pengumuman, bukan dari mimbar sabda..

PENCERAHAN DARI BP. ONGGO LUKITO

PUMR 105b: Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, ditempat yang kelihatan tetapi tidak di mimbar.

=====================================

jadi komentator:

1. tugasnya memberikan penjelasan dan petunjuk singkat

2. supaya lebih siap merayakan Ekaristi (berarti sebelum misa dimulai).

3. petunjuk2 harus disiapkan dengan baik.

4. berdiri di tempat yg kelihatan tapi tidak di mimbar.

dalam setiap misa ada bagian kata pengantar yang menjelaskan secara singkat tema misa hari itu. kata pengantar ini sesudah tanda salib dan salam, dan boleh dibawakan oleh imam, diakon, lektor, atau pelayan lainnya (PUMR 50).

^^PUMR 106. Terutama untuk gereja-gereja katedral atau gereja-gereja yang besar dianjurkan agar ditunjuk seorang pelayan yang mumpuni atau seorang caeremoniarius (pemandu ibadat) untuk mempersiapkan perayaan liturgi dengan baik, membagikan tugas kepada masing-masing pelayan dan mengatur pelaksanaan perayaan, sehingga berlangsung dengan indah,rapih dan khidmat.

===================================

atau beda lagi?

PENCERAHAN DARI BP. DAMIANUS TRIWIDARYADI

sebenarnya kita bersoal pada kebiasaan, gereja2 Katolik di Indonesia pada umumnya tiadak mengenal petugas dalam Ekaristi yang disebut komentator…dan ini tidak diperkenalkan sejak awal…padahal dalam Liturgi Ekaristi Gereja Roma Katolik ada petugas yang disebut komentator, maka sebenarnya ini bukan hal baru…komentator mempunyai tugas diantaranya memberikan pengantar sebelum perayaan dimulai, menyampaikan tema perayaan, menyampaikan selamat datang menyambut umat yang datang, dst…mari kita menyadari…, apakah setiap kita bila merayakan Ekaristi tahu apa tema perayaan saat itu..? apakah kita juga merasakan kedatangan kita ke gereja disambut dalam kebersamaan sehingga perayaan itu benar-benar perayaan iman bersama dalam kebersamaan-kesatuan, atau kita datang ke gereja karena kepentingan masing2..? komentator memungkinkan adanya suatu keterlibatan aktif umat dalam perayaan dengan masing-masing memiliki tugas dan peran, sehingga tidak ada satu pun yang ikut dalam perayaan hanya pasif saja… komentator sangat membantu kita dalam menyadari dan menghayati posisi2 yang sedang kita lakukan…kadang kita hanya melakukan begitu saja tanpa tahu apa maknanya..misal: kita berdiri, kita berlutut, kita duduk, kita hormat apakah betul disadari dan dipahami maknanya..? maaf temen2 saya kurang pandai menguraikan tetapi semoga ini membantu kita…komentator sebenarnya memiliki peran yang penting “kita bayangkan suatu perayaan pesta

tanpa “pembawa acara”, apa yang terjadi?” mungkin acara jadi kacau..? gimana…?

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL :

MC adalah jabatan liturgis yang berbeda dari komentator.

Seorang MC bertanggung jawab penuh atas jalannya perayaan Liturgis. Mulai dari persiapan, selama jalannya liturgi, maupun beres-beres setelahnya.

Persiapan sebelum acara contohnya seperti memilih bejana, pakaian, run down acara, siapa yang berpartisipasi, dsb…

Selama acara berlangsung yang bersangkutan memastikan setiap petugas menjalankan bagiannya pada saat yang tepat,

mendampingi selebran utama, memberitahukan rubik khusus, dsb.

Setelah akhir acara, mengkatalog apa yang digunakan selama perayaan, memimpin upacara penutup (di sakristi misalnya), dsb.

Umumnya MC dibutuhkan dalam perayaan Pontifikal, entah keuskupan maupun kepausan.

MC Paus Benediktus XVI yang bertugas sekarang ini adalah Mgr. Guido Marini.

Umumnya MC seorang imam, sering kali juga ambil bagian sebagai salah seorang konselebran dalam Liturgi.

Selain itu, kadang MC juga ditugaskan untuk mendampingi Misa pertama seorang Imam yang baru ditahbiskan.

Seorang Komentator dalam perayaan Liturgis tidak sama dengan seorang pembicara yang memberi penjelasan live selama Liturgi berlangsung.

Walau penggunaan istilahnya sama, tapi cakupan tugas dan peranannya berbeda.

Komentator (dan istilah komentator) adalah jabatan liturgis resmi dalam Gereja Latin, dan diatur dalam Pedoman Umum Misa Romawi.

Untuk KAJ hampir setiap paroki memiliki komentator pada Misa hari Minggu. Bisa dibilang kalau saya misa hari Minggu di Jakarta di salah satu paroki, tidak ada yang tanpa komentator.

Komentator membacakan pengantar Misa, memimpin doa Angelus, membaca doa umat dan membaca pengumuman setelah Misa.

Dari panjangnya komentar, saya bisa tangkap bahwa tidak banyak yang tahu istilah “Komentator” dan tugasnya dalam liturgi. Sepertinya sebagian besar yang memberi komentar di sini berpikir bahwa tugas dan peranan Komentator yang kita bicarakan sama/mirip seperti komentator sepak bola.

PENCERAHAN DARI BP. ANDREAS KELIK WINANTA

1. Saya setuju istilah komentator dalam liturgi perayaan ekaristi diganti menjadi pemandu. Teks tuntunan ekaristi disebut teks panduan ekaristi maka orang yang menuntun/mengarahkan serta memperlancar jalannya liturgi akan pas disebut sebagai pemandu.

2. Dalam liturgi ekaristi apakah perlu pemandu atau tidak tergantung Perayaan Ekaristinya seperti apa. Kalau perayaan ekaristi minguan saya kira tidak perlu petugas pemandu. Kalau sebelum perayaan ekaristi ada petugas khusus yang menyapa umat dan mengajak mempersiapkan diri sebelum perayaan ekaristi saya kira tidak ada salahnya dan tidak menyalahi aturan selama dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan misalnya sekedar ucapan selamat datang, menyebutkan tema dan siapa imam yang memimpin, mengajak berdiri menyambut perarakan imam dengan nyanyian pembuka.

3. Dalam Perayaan Ekaristi, khususnya Hari Raya Natal dan Pekan Suci saya kira baik juga kalau ada petugas pemandu (yang fungsinya memperlancar jalannya upacara/prosesi). Karena dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya (Natal & Tri Hari Paskah) banyak sekali upacara-upacara liturgi yg tidak biasanya ada dalam Perayaan Ekaristi Minggu biasa. Pemandu hanya bertugas pada saat-saat yang diperlukan saja. Misalnya dalam Ibadat Jumat Agung saat penghormatan Salib, pemandu bisa menjelaskan supaya prosesi tersebut bisa lancar.

Pada prinsipnya adanya petugas pemandu (yang semula disebut-sebut sebagai komentator & MC) dalam perayaan ekaristi khusus, sejauh diperlukan demi kelancaran dan kekhidmatan serta mendukung kekhusukan dalam ibadat dan doa saya rasa tidak ada masalah.

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL

Istilah Komentator diberikan dalam bahasa aslinya demikian.

Yang perlu diperjelas adalah bahwa itu adalah jabatan resmi yang dituliskan dalam teks Liturgi.

Dan bahwa kekeliruan tentang tugas komentator diperhatikan.

Kalau kita buat lagi segudang istilah baru, nanti kebablasan..

Misalnya saja istilah Pro-Diakon yang dibuat oleh Indonesia, walau tidak pernah ada dalam dokumen resmi Gereja. Dalam Dokumen Gereja, umat awam yang dipersiapkan dan diperbantukan membagi komuni disebut Pelayan Komuni Tidak Lazim (Extraordinary Eucharistic Minister).

Walau panjang, negara lain menggunakan istilah itu.

Tapi di Indonesia, istilah Pro-Diakon telah mengacaukan pemahaman akan jabatan Diakon.

Jika kita sudah menerima istilah liturgis yang dipakai secara universal, cukuplah kita puas dengan mendalami maknanya dan tugasnya secara benar.

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »

LEKTOR – sharing dan Pencerahan

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Topik sharing/diskusi (SUMBER DARI MAJALAH LITURGI):

LEKTOR adlh “juru bicara Allah”. Krn itu, persiapan batin dan berdoa sebelum bertugas adlh suatu keharusan bagi lektor agar mereka dapat mewartakan Sabda Tuhan kpd umat beriman dgn baik. Sejalan dgn prinsip “melibatkan sebanyak mungkin org dlm tugas2 liturgi” maka lektor hendaknya tidak dibebani dng tugas tugas lain, …mis sbg pembaca pengumuman atau pembawa Doa Umat, spt yg msh sering terjadi di banyak paroki.

Beberapa kebijakan praktis:

Berikut ini beberapa kebijakan praksis yang sebaiknya dimiliki lector:

1, Seorang lektor sebaiknya pernah mengikuti pelatihan lektor….

2. Lektor yang mempersiapkan dengan baik akan membantu umat mendengarkan Sabda Tuhan dengan baik pula. Sikap umat ketika Sabda Allah diwartakan adalah mendengarkan bukan membuka-buka Kitab Suci atau lembaran misa) (bdk. PUMR 29)

3. Para lektor harus bergaul akrab dengan Kitab Suci. Lektor membaca dari Buku Bacaan Misa dan bukan dari lembaran misa atau dari salinan yang dikutip dalam buku panduan (bddk. PUMR 128)

4. Penanggalan Liturgi menjadi pegangan para Lektor.

PENAMPILAN

1. Pandanglah para pendengar. Sesampai di mimbar kontaklah para pendengar dengan cara memandang mereka. Mereka merasa disapa dan mereka akan memperhatikan pembaca.

2. Perlakukanlah Kitab Suci dengan hormat. Mimbar bukanlah perpustakaan, jangan menumpuk macam-macam buku di mimbar.

3. Pakaian yang pantas untuk pembaca ialah bersih, sopan, sederhana dan tidak terlalu menarik perhatian. Untuk lektor wanita yang memakai jubah, jangan memakai celana panjang karena tampak dibawah jubah dan kurang enak dipandang.

Yang perlu dan tidak perlu dibaca, yang boleh dan tidak boleh diganti.

1. Kalimat “Bacaan Pertama/Mazmur tanggapan, Refren dan Bacaan Kedua” tidak perlu dibaca. Demikian juga kalimat yang dicetak miring tidak perlu dibaca,juga bab dan ayat tidak perlu disebutkan.

2. Langsung saja ke “Bacaan dari …” (bukan “Pembacaan”)

3. Beri jedah sebelum membaca , juga setelah selesai bacaan, baru “Demikianlah Sabda Tuhan”

4. Lektor maju dan menghormati altar dengan cara membungkukkan badan. Bila di belakang altar ada tabernakel, lektor berlutut sambil menundukkan badan. Berlutut adalah lutut kanan menyentuh lantai. Sampai di panti imam langsung menuju meja Sabda , tidak perlu menghadap dan meundukkan kepala pada Imam

KUMPULAN SHARING/KOMENTAR :

Djoni Sunarjo

Jadi kalau ada 2 lektor, 1 orang yang membaca bacaan1 dan bacaan 2, yang 1 lagi untuk doa umat dan pengumuman, apakah harusnya demikian, ini perlu sosialisasi pada sie liturgi supaya dapat berjalan seragam

Lukas Wijaya

Yupz,mgkn hampir smua paroki lektor/lektrisny jg bca doa umat n pengumuman. Apakah peraturan ini memang sdh dtntukan d keuskupan masing2? Jd hrs perlu ad sosialisasi k paroki2 dunk.

Kriswandaru Fransiskus

di paroki ku, lektor membaca kitab suci dan pengumuman, sedangkan doa umat oleh prodiakon

Agnes Henny Charles

Di palembang sebagian besar lektor tugasnya masih merangkap semuanya…..baca bacaan kitab, doa umat dan pengumuman……..memang ada 2 lektor tp tidak ada perbedaan tugas hanya beda bacaan 1 dan 2…..memang perlu sosialisasi karna itu penting sekali supaya seluruh gereja bisa sama dan benar sesuai Liturgi Katolik

Bonar Pintor H Siahaan

Lektor, sejatinya adalah Petugas Pembaca, Bacaan I dan Bacaan II, bisa 1 org bisa 2 org, dan berdasarkan KHK, hendaknya Lektor itu dilantik untuk tugasnya. Darisini jelas, sebenarnya tugas Lektor adalh membacakan (Baca : Mewartakan) Sabda Tuhan. Bila di Paroki/Stasi, Lektor menjadi Pembawa Doa Umat dan mungkin juga kolektan dan membaca Pengumuman, … See Morepertama tama yang harus ditanyakan adalah apakah memang umat tidak ada yang bersedia menjadi Petugas, atau Pastornya dan Seksi Liturginya yang tidak/kurang mencari umat yang bisa dan mampu serta mau menjadi Petugas. Peran awam dalam Perayaan Ekaristi (Petugas Liturgi), Lektor, Pemazmur, Pembawa Doa Umat, Kolektan dan membacakan Pengumuman dan sebagai Pelayan Luar biasa (Prodiakon) untuk membagikan Tubuh (darah) Kristus.

Ina Mirawati

Saya sangat setuju dg himbauan tsb. seringkali Lektor belum betul2 menghayati dan mengimani tugasnya. Mhn maaf, hanya sekedar membaca saja tanpa tahu maknanya, tidak ada jiwanya. yg dibaca kan Sabda Tuhan dan tugasnya adalah “membacakan” unt pendengar bukan hanya membaca unt diri sendiri.

Leonardus Joseph

alangkah indah kalau petugas liturgi mau mengikuti dengan tulus panduan liturgi dan menjalankannya dengan penuh keanggunan.

Daniel Pane

Rasanya bagus kalau dibiasakan agar Lektor yang membacakan bacaan di Misa adalah Lektor yang dilantik secara tetap dan dibiasakan untuk menyanyikan bacaan 😀

Imawan Saptono

betul sesuai dengan hasil raker liturgi di keuskupan Malang beberapa waktu yang lalu juga di tegaskan adanya pemisahan tugas antara lektor, pembaca doa umat dan pengumuman bahkan tempat pembacaannya juga dipisahkan, sehingga ada 2 mimbar di atas altar, 1 untuk mimbar khusus untuk sabda 1nya lagi buat mimbar pengumuman, tapi ada juga paroki yang masih melakukan nya dengan cara lama. alangkah indahnya bila semua bisa seragam dan serempak untuk seluruh gereja katolik

Rini Yuliwiyati

Sy s7 bgt melibatkan byk umat dlm tgs liturgi. D gereja St. Stephanus Clp jg tgs lektor merangkap doa umat& pembaca pengumuman. Nti sy mau usul pd ketua bid liturgi agar bs lbh melibatkan umat dlm tgs. Jg akan sgt baik sll melibatkan anak2 dlm tgs liturgi. Misal sbg pembw persembhn.

Djoni Sunarjo

Sebaiknya pada COLLOQIUM LITURGICUM bln Juni nanti hal mngenai tugas lektor ini dibahas jg karena dari bebrapa masukan hampir semua Paroki Lektor pemwarta sabda jg merangkap pembaca doa umat, pengumuan.

Yan Raymond Emanuel

seharusnya dan semestinya ya demikian…walau tugas lektor itu singkat dari segi waktu tapi pengetahuan dan persiapan dalam Membaca Kitab Suci itu penting….saya pernah dapat perdebatan umat yang mengatakan kalo dia Baca Alkitab (saat bertugas Lektor) lebih enak kalo melihat Alkitab saja??..karena umat pasti pada ngeliat teks??..sementara Pastor berkata:”Tidak semua umat melihat teks…jadi anda harus melihat umat juga?”…dan emang bener koq??..saya selalu melihat lektor kalo mendengar Bacaan 1 atau 2….walau saya melirik juga teks………..

Christian Glenmax

di sebuah paroki, lektornya membawa lembaran khusus lektor (teksnya besar2), namun yang disayangkan yg membacanya seperti ini… BACAAN PERTAMA, kemudian judul perikop dan langsung ke isi bacaan… Padahal seharusnya langsung Pembacaan dari….. (misalnya Pembacaan dari Kisah Para Rasul / Bacaan dari Kisah Para Rasul) kemudian langsung ke isi kitab suci. Kesalahan terjadi pada yang mengetik teks lembaran (termasuk teks misa), sudah beberapa kali terjadi..

Arti Muryanto

krn kdg kehabisan teks misa *sehingga tdk smua anggota klg mndpt kan nya* sy lbh suka melihat sang lektor.. pokok nya melihat kearah altar.. dan intonasi lektor yg bagus sungguh membuat umat lebih nyaman mendengarkan penyampaian firman Allah..

Tommy Supratomo

Satu hal lagi ini masalah teknis ( yang sering terlupa ) karena seorang lektor dituntut membacakan Sabda dengan baik ( jelas intonasi kata2, tempo yang agak lambat, tidak monoton, penggalan kalimat yang tepat tidak merubah arti ) maka harus disesuaikan letak dan jarak mic dengan mulut lektor sebelum memulai membacakan Sabda

Lucia Fransiscus

lektor, tidak hanya sekedar membaca dengan indah, namun yang penting adalah bagaimana isi dari bacaan tersebut dapat dimengerti oleh umatketika dia membacakan, oleh karena sebagai lektor/lektris sebelum dia membaca, dia sebaiknya mengerti lebih dulu isi dari apa yang akan dia bacakan. Ini dapat dilatih dengan membiasakan diri membaca kitab suci setiap hari.(lektor.lektri malas baca kitab suci?…apa kata dunia(gereja) yach?

Sonny Arends

…… Bila di belakang altar ada tabernakel, lektor berlutut sambil menundukkan badan …… Ini yang sering diabaikan.

Frans Lesmana

Setiap gereja pasti punya tabernakel, jika tabernakel ada sakramen ditandai dgn lampu Allah yg menyala. Kalau tabernakel tdk ada sakramen lektor tdk perlu berlutut cukup tundukkan kepala.

Bapaknya Joaquin Siahaan

masalahnya, ditembok sudah ada bacaan yang dipancarkan dari infokus.. jadinya umat ya liat tembok, bukan liat pembacanya.. hehehe

Peter Suriadi

Gimana mau melihat lektor, wong terhalang infocus. Belum lagi silaunya infocus lebih eye cathcing dibandingkan lektor dan panti imam. He he he.

Resubun Benedict Sabubun

memang penampilan tdk penting tp penampilan akan mempengaruhi konsentrasi umat. intinya adalah semua yang dilakukan harus membantu umat dalam mengarahkan jiwa, hati dan pikiran kepada Tuhan.

Josef Harwanto

Kalau boleh saya simpulkan : penampilan lektor/lektris penting, intonasi baacaan sangat penting dan umat mendengarkan Sabda Allah, tdak terfokus dengan infocus yang notabene seperti nonton film didalam Gereja. Saya sangat tidak setuju kalau umat terfokus untuk membaca Sabda Allah melalui infocus, sehingga konsentrasi umat terbelah.

Francoise Vonnee

kalau nggak disebutin bab en ayatnya, kasian dong umat yg udah bawa kitab suci (tapi banyak jg disediain di gereja). walaupun bisa tau lewat media lain utk. bac. I ,II, & Injil, bukannya lebih baik kalo dibacain. Dan tolong kasih tau knp nggak harus dibacain ? thanks.

Sonny Arends

@Francoise …. yang saya dapat yaitu dalam GK apabila dalam pembacaan Kitab Suci, maka persepsinya adalah Bapa yang sedang berbicara dengan kita, sehingga pada saat Orang Tua berbicara maka selayaknya “anak2” menyimak baik2, bukannya sibuk membulak balik alkitab …. jadi ada perbedaan dengan “Gereja” seberang dimana pembacaan alkitab layaknya orang belajar / menghapal.

Onggo Lukito

PUMR 274: Kalau di panti imam ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut.

====================================

kalimat terakhir : “Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut.”

mohon pencerahan sehubungan poin nomer 4 di atas.

Daniel Pane

Sehubungan poin no4, jelas bahwa berlutut hanya perlu di lakukan di awal dan akhir Misa, pada saat penghormatan bersama oleh seluruh pelayan.

Jika di tengah-tengah Misa para pelayan harus melintasi tabernakel mereka tidak perlu berlutut lagi.

Onggo Lukito

Maaf Admin OOT sedikit, di buku TPE Umat halaman 12 bagian Perarakan Masuk tertulis :

“Setibanya Imam dan para pelayan di ruang altar, mereka dan seluruh Umat MENYATAKAN PENGHORMATAN kepada Allah yang hadir di tengah mereka dengan membungkuk khidmat”

==================================

TPE mengatakan membungkuk khidmat, PUMR mengatakan berlutut. mana yang sebaiknya diikuti? karena saya melihat ada paroki yang berlutut, ada juga yg membungkuk.

Rafiti Andara

Minggu lalu lektor di paroki saya membaca sambil menyilangkan kakinya dan badannya bertumpu pada ke dua lengannya di mimbar. Keliatannya itu kali pertama ia ‘tampil’, dia terlihat sangat grogi dan berusaha santai dengan gaya silang kakinya…… Saya kasian sama dia, tapi juga ‘salut’ dia punya keberanian.

Harusnya lektor diberikan pedoman sikap membaca yang benar…. Bagi pemula memang banyak sekali yang tidak mengerti.

Oya, infocus sungguh mengganggu

Mateus Puspawiyadi

Suatu hari minggu yang bertugas liturgi adalah anak sekolah (baca : SD) dan lector/lectrisnya juga anak SD yang mungkin juga tidak mengerti apa yang dibacakannya (hanya disuruh guru untuk membacanya) apalagi menghayati bacaan tersebut. Pertanyaannya adalah : apakah pantas dan boleh dalam misa mingguan lectornya seorang anak kecil, padahal dia … See Moremembawakan firman Tuhan yang didengarkan oleh para orang dewasa yang menghadiri misa mingguan tersebut ? (Kalau tidak pantas dan tidak boleh, mestinya pastor/imam memberikan pengarahan kepada mereka, sehingga yang bertugas membawakan firman Tuhan adalah seorang yang telah dewasa mis. gurunya — setuju ?)

Richardus Widisarjoko

Ada bagusnya dibuatkan buku tata cara para petugas, misalnya lektor dll secara detail, sebab susah juga ya kalau setiap saat harus mengubah tata cara petugas tanpa pedoman yang jelas, hari ini begini besok begitu, lain kali begana, petugasnya kan gantian, mereka jadi bingung yang bener yang mana, misalnya lektor memberi hormat pada imam,dikesempatan lain saya pernah ada imam yang mengharuskan sebab selain sebagai pemimpin ibadat, imam adalah pesonam cristi gerere (salah gak tulisnya), di uraian admin kok lain lagi. !@#@$%#%^&????

PENCERAHAN DARI PASTOR Liberius Sihombing

Sebagai bahan perbandingan, beda lubuk beda ikannya, beda keuskupan beda kebiasaannya wlwpun kita Universal. Tentulah kita mengharapkan keseragaman utk semua tata liturgi bahkan hal2 yg sangat mendetail sekali. Padahal setiap keuskupan sbgai gereja partikular punya kebijakan yg khas utk daerahnya juga. Di Thailand, saya lihat bahwa lektor, selain … See Moremembaca Bacaan juga bertugas membaca doa umat. Sementara pengumuman disampaikan oleh Pastor Paroki. Di Keuskupan Agung Medan lain lagi, umat amat dilibatkan cukup banyak, pokoknya jangan ada yg merangkap tugas dlm liturgi. Bahkan utk doa umat (doa universalium) sering dibawakan oleh 4-5 orang sesuai dengan jumlah wujud doa umat tsb. Ini semua mau mengatakan apa? Gereja mau mengatakan bahwa semua kita ikut berpartisipasi menyemarakkan ibadat syukur itu, lewat tugas2 yg bisa kita emban. Maka setiap kali didiskusikan tentang penyeragaman, pasti terbentur dengan kebiasaan dan kebijakan uskup setempat. Saya yakin secara umum tata liturgi kita sdh seragam, hanya saja hal2 kecil sprti tadi (siapa pembaca bacaan dan doa umat dll?) yg kerap menjadi tergantung pada situasi Gereja Lokal. Trims n salam dlm Kristus

Memang di Gereja Katolik tdk begitu ‘dibiasakan’ umat bawa alkitab pada perayaan misa, kecuali buku nyanyian mungkin. Tetapi kita bukan anti Kitab Suci. Dan di bnyak gereja katolik jg tdak tersedia stensilan yg berisi tata acara liturgi termasuk isi ketiga bacaan hari itu. Dalam kasus sprti itu, perayaan misa tanpa ada umat memegang teks, kepekaan telinga utk mendengar menjadi unsur yg sangat vital. Sering menjadi masalah adalah dalam situasi umat tanpa ‘teks ada di tangan’ mereka harus mendegar bacaan yg dibacakan lektor atau imam dengan cara membaca mereka yg tidak baik (entah suara tidak jelas lantang, terlalu cepat, atau mic tdk bagus dll).

Dalm situasi tsb Lektor sebagai ‘mulut’ Allah mesti berperan sebagai pewarta. Seharusnya Lektor itu bukan hanya ‘membaca’ tetapi ‘membacakan’ untuk orang lain. Stiap kali kita (Lektor) membacakan Sabda Tuhan itu, kita (Lektor) harus menyadari bhwa umat kita tidak punya teks di tangan yang bisa mereka baca. Banyak kata penting dan baru dari kitab suci yang masuk ke telinga mereka. Maka utk itu Lektor harus mengucapkannya secara jelas dan benar, juga dengan lebih tenang (lebih lambat). Jika Lektor membacakan Teks itu dgn baik maka umat akan sangat terbantu memahami Sabda Allah. Trims. Tuhan memberkati kita

PENCERAHAN DARI PASTOR Yohanes Samiran

Sering kali kita temui lektor yang sungguh tidak siap atau “meremehkan” (jawa: nggampangake) tugas ini. Padahal saat tampil membaca banyak yang salah, baik pemenggalan, intonasi, tanda baca, dll. Tidak jarang terjadi akibatnya isi warta menjadi lain.

Lihat contoh tulisan umum ini kita penggal (jeda baca) secara berbeda2, maka isi beritanya akan jauh beda:

“Kucing makan tikus mati”

🙂

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

hemm..menurut hemat saya kiranya agak berlebihan kalo untuk misa mingguan di Gereja harus pake infocus (kecuali misa2 khusus untuk kelompok dan kebutuhan pelayanan kategorial). Namanya infocus untuk memberi focus pada apa yang ditampilkan, sedangkan dalam Ekaristi focus kita tetap pada Altar dan panti Imam, tidak diganggu dengan tampilan layar lain… See More di sekitarnya. Ini lain dengan misa akbar yang butuh monitor tambahan untuk umat di luar gereja yang tidak bisa menyaksikan aktivitas di sekitar altar.

Kiranya tetap perlu memupuk kesadaran umat untuk membawa buku2 nyanyian atau Kitab suci, atau lainnya. Bukan dengan makin dimanjakan dengan ketersediaan teks2 lewat infocus. Ritus ‘mendengarkan sabda’ kurang pas kalau digantikan dengan ritual membaca Kitab Suci sementara lektor membacakan Sabda Allah…Kalo mau membaca KS ya di rumah sebelumnya sudah dipersiapkan, tapi di Gereja kita ‘mendengarkan sabda’…

Alat2 modern kadang malah kurang membangun suasana sakral kecuali demi alasan praktis, terkesan ramai dan ‘glamour’ yang ditampilkan (selain juga pemborosan tentunya he he..)

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »