Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 606,859 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘5. Petugas lain-lain’ Category

KOSTER

Posted by liturgiekaristi on May 12, 2011


Adalah seorang teman bertanya.. Apakah di setiap gereja harus mempunyai Koster ? apa seeh Koster itu..? Apakah Koster juga termasuk petugas liturgi ?

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Salah satu pelayan yg melaksanakan tugas liturgis adalah Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis, busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa. (PUMR 105)

Dengan mengemban tugas tsb, Koster harus melak…ukan persiapan yg meliputi :
1. Persiapan prasarana atau imaterial, misalnya mempersiapkan situasi menjelang pelaksanaan sekaligus menjaga agar upacara liturgi dpt terlaksana secara baik dan lancar, indah dan benar.

2. Persiapan material, yaitu peralatan liturgi dan benda² suci yang menjadi sarana.
Peralatan tsb meliputi fisik gedung gereja serta sejumlah isi didalamnya,misalnya kursi, alat musik, meja altar, kursi utk petugas liturgi dan meja kredens, tabernakel,dll.
Sedangkan benda² suci meliputi : piala, sibori, ampul, wiruk/pendupaan, monstran, piksis sampai pd pakaian liturgi utk imam, misdinar, prodiakon, lektor, dll.

Koster jg harus peka dan bertanggung jawab penuh thd barang² dimaksud mulai dr menerima, menyimpan, dan merawat sampai mempersiapkan utk keperluan perayaan liturgi atau sarana ibadat.

*Sumber : Majalah Liturgi Vol. 21 Edisi 4 th 2010.

Advertisements

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

AWAM “BUKAN PRODIAKON” BOLEH MEMBERESKAN PIALA BERISI HOSTI ?

Posted by liturgiekaristi on March 21, 2011


 

Pertanyaan umat :

Dlm suatu misa di sebuah stasi,pd saat agnus dei…krn ‘melihat’ romo tidak (belum) mengambil hosti dari tabernakel,,tiba2 seorang pengurus stasi ‘berinisiatif’ mengambil kunci tabernakel,mengambil hosti dan meletakkan nya di altar. Pun demikian setelah komuni,,sang pengurus lah yg ‘membereskan’. Pertanyaan ku,apakah hal ini diperbolehkan?? Atw memang memungkinkan dilakukan oleh seseorg yg bukan ‘petugas khusus’ (pelayan komuni)??

 

PENCERAHAN DARI BP. Daniel Pane

Sebenarnya tidak diperbolehkan. Mengambil Roti dari tabernakel adalah tugas Imam atau Diakon, begitu juga membersihkan bejana-bejana hanya tugas Imam atau Diakon saja.

 

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang PELAYAN-KOMUNI-TAK-LAZIM dalam Perayaan Ekaristi dalam kaitannya dengan TABERNAKEL.
Berdasarkan: Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] dan Redemptionis Sacramentum [RS].

1) Pada dasarnya ‘pelayan yang lazim’ untuk membagikan komuni dalam Perayaan Ekaristi adalah IMAM; dan secara resmi ia dibantu oleh DIAKON. Dalam hal ini, diakon bertugas MEMBANTU imam, dengan kewenangan2 liturgis tertentu. (Lihat PUMR 171.e; RS 154).

2) Bila TIDAK ADA DIAKON, maka AKOLIT-TERLANTIK boleh membantu imam dalam melayani komuni umat. Dalam hal ini, akolit tersebut bertindak sebagai ‘pelayan-komuni-tak-lazim’ (Lihat PUMR 162 dan 191; RS 155).
3) DALAM KEADAAN DARURAT, imam selebran utama dapat menugaskan ANGGOTA JEMAAT YG BUKAN AKOLIT-TERLANTIK, untuk membantu pembagian komuni. Adapun, anggota jemaat itu haruslah dinilai sebagai PANTAS, dan tugas yang diberikan itu bersifat SANGAT KHUSUS/KASUISTIK, artinya hanya untuk kesempatan yg bersangkutan itu saja. (Lihat PUMR 162, RS 155).
4) Penting diperhatikan bahwa:
”….. Mereka selalu MENERIMA DARI TANGAN IMAM BEJANA KUDUS yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman.” (kutipan tsb adalah bagian akhir dari PUMR 162).

5) SESUDAH PELAYANAN KOMUNI, bila ada hosti kudus yang tersisa, maka IMAM-lah yang bertugas MENYANTAP atau MENYIMPANNYA DALAM TABERNAKEL. (Lihat PUMR 163).
6) Dalam hal pembagian komuni DI LUAR Perayaan Ekaristi, pelayan-komuni-tak-lazim dapat menjalankan tugas menerimakan komuni kpd orang sakit BILA PETUGAS TERTAHBIS TIDAK HADIR. Itu berarti, dalam konteks KETIDAKHADIRAN pelayan tertahbis tsb, maka pelayan-komuni-tak-lazim boleh MENGAMBIL SENDIRI KOMUNI DARI TABERNAKEL untuk diterimakan kepada orang sakit. (Bdk. RS 133).

7) Jadi, pada hakikatnya, para pelayan-komuni-tak-lazim ini, dalam hal ini akolit-terlantik atau anggota jemaat lain yang pantas, hanya bertugas MEMBANTU IMAM DALAM HAL MEMBAGIKAN KOMUNI.
8) Maka, seturut ketentuan2 l…iturgis di dalam PUMR dan RS tersebut di atas, pelayan yang seharusnya MENGAMBIL DAN MENGEMBALIKAN bejana2 kudus berisi Tubuh Tuhan dari/ke tabernakel KETIKA PERAYAAN EKARISTI BERLANGSUNG, adalah IMAM.

9) Kalaupun, jumlah bejana kudus (sibori) itu terlalu banyak dan jarak tabernakel dan altar ‘relatif jauh’ maka dalam hal ini SETIAP pelayan-komuni-tak-lazim boleh MEMBANTU imam dengan cara menerima sibori di depan tabernakel LANGSUNG dari tangan imam lalu membawanya ke altar. Demikian juga pengembaliannya. Imam-lah yang memasukkan bejana kudus ke dalam tabernakel, sedangkan para pelayan-komuni-tak-lazim MEMBANTU memberikannya kepada imam di depan tabernakel.

10) Memang, pokok ini bercorak sangat teknis dan di banyak tempat sering ‘didispensasikan’ atas nama peningkatan peran awam dan kebutuhan pastoral-praktis. Namun, jiwa di dalam norma2 liturgis ini adalah AKTUALISASI/EKSPRESI IMAN TENTANG KETERKAITAN ERAT ANTARA SAKRAMEN EKARISTI DAN SAKRAMEN IMAMAT.

Semoga bermanfaat
Salam, ZTT.

Posted in 4. Prodiakon, 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

AWAM WANITA MEMIMPIN PERAYAAN SABDA

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Post 16 Maret 2011

PERTANYAAN UMAT :

Bagaimana jika di Suatu tempat jarang di Kunjungi seorang pemimpin ,katakanlah Pastor. Dan disana Hanya Ada seorang Wanita yang Biasa Memimpin Ibadat Sabda . Yang hanya Tertahbis Lewat ORIENTASI Tenaga Pelayan Liturgi.atas sponsor Departemen Agama.apakah Pelayanan Itu Sah Dan Di akui Seluruh umat Dan Kaum Awam. kemudian Apkah Itu Masih di sebut Kaum Awam Juga Mohon Penjelasan.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang AWAM-WANITA memimpin Perayaan Sabda.
Berdasarkan Pedoman Umum Perayaan Sabda Hari Minggu (Directorium de Celebrationibus Dominicalibus Absente Presbytero [Roma, 1988]), maka: 

…1) bila tak ada imam, hendaknya dipanggil DIAKON (TERTAHBIS) untuk memimpin (Lihat no. 29).

2) bila imam dan diakon juga tidak ada, maka Pastor Paroki menunjuk para AWAM. Dari sekian banyak awam, pada tempat pertama, pastor paroki hendaknya memilih dari antara para AKOLIT dan LEKTOR YANG TERLANTIK RESMI. (Lihat no. 30).

3) bila lektor/akolit terlantik ini juga tidak ada, maka dapat ditunjuk AWAM LAIN, BAIK PRIA MAUPUN WANITA untuk memimpin doa, pelayanan sabda dan pembagian komuni, sejauh dimungkinkan seturut ketentuan hukum (Lihat no. 30 dan KHK Kan 230 §3).

4) bila AWAM PRIA/WANITA yang tak terlantik itu memimpin perayaan sabda hari Minggu tsb, maka DASAR pelaksanaan tugas mereka itu bukan tahbisan, bukan pula pelantikan resmi, tetapi atas dasar sakramen baptis dan krisma yang sudah mereka terima. (Lihat no. 11).

5) syarat: cara hidup awam pria/wab tersebut haruslah selaras dengan Injil, dapat diterima dgn baik oleh jemaat, dikukuhkan dalam perayaan di hadapan jemaat, dan tugas mereka itu berjangka waktu (Lihat no. 30).

Semoga bermanfaat
Salam.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

PUMR 47 : KAITANNYA DENGAN WANITA SEBAGAI PELAYAN ALTAR

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


“Gadis-gadis atau ibu-ibu pun boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diosesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.” (Redemptionis Sacramentum art. 47)

Semoga menjadi jelaslah bahwa perempuan pun boleh melayani altar asal sesuai dengan kebijakan uskup setempat.

PENCERAHAN DARI Agus Syawal Yudhistira

Harus diperhatikan bahwa uskup tidak berkewajiban untuk ini. Jadi selalu diperbolehkan bahwa keuskupan hanya menggunakan tenaga laki-laki sebagai pelayan altar sebagaimana secara normatif dilakukan.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

PHOTOGRAPHER/VIDEOMAN – apa yang harus diperhatikan?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat:

Pada suatu Perayaan Ekaristi pernikahan, sering sekali terjadi, para fotographer/videoman hilir mudik di sekitar Panti Imam, bahkan berdiri cukup lama di atas Panti Imam untuk menshooting situasi dari berbagai
sudut. Bagaimana sebaiknya sikap pastor selebran… yang membawa Ekaristi pada saat itu? ? Menegur atau membiarkan?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ

Tidak semua kamerawan itu katolik, sehingga mereka memang fokus dan setia kepada tugas ‘mengabadikan momentum’ itu saja.
Maka cara yang paling baik dan aman adalah saat persiapan akhir pengantin untuk semacam gladi bersih atau konfirmasi teks, perayaan, dll – pastor harus menyampaikan kepada para calon pengantin tentang hal-hal itu supaya disampaikan kepada para kamerawan itu, tentang apa yang boleh dan tidak, dan tentang menjaga kekhidmatan Ekaristi. Bagaimana pun juga kalau Pemberkatan Perkawinan itu diselenggarakan dalam Ekaristi, maka Ekaristi tidak boleh dikurbankan demi hal-hal praktis seperti itu.
Jadi dokumentasi memang penting, tetapi juga Ekaristi jauh lebih penting atau luhur kedudukannya.
Dan lagi kamerawan adalah ‘tambahan’ demi dokumentasi yang justru harus mengabadikan secara tepat dan agung peristiwa itu agar nantinya saat bernostalgia melihat lagi dokumen itu orang bisa menikmati keagungan itu.
Itu pandangan saya …..

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Yg jelas, peran fotografer bukanlah peran konstitutif dlm misa (nikah). Karena itu tak ada privilese khusus bagi mrk utk mondar-mandir & brjalan2 apalagi di area panti imam seenaknya ketika perayaan liturgis sdg berlangsung.

Mungkin soalnya: fotografer tsb tak paham liturgi, apalagi bisa jadi dia bukan Katolik, tak paham aspek fungsional dan arti2 simbolis tata ruang.
Oleh karena itu, saya sangat setuju pendapat2 sblmnya bhw perlu ada pengaturan PROSEDUR (koordinasi misalnya dgn pastor paroki atau Sie Liturgi paroki atw pihak lain yg berwenang); juga, pendapat yg mengatakan bhw fotografer perlu DIBRIEFING sblm perayaan. Dan, kalau toh ketika perayaan, si fotografer kebablasan maka ‘TEGURAN’ YANG SANTUN perlu dibuat.
Pd tataran pastoral-praktis: pastor paroki mengkondisikan sedemikian rupa agar sehari (atw beberapa hari) sebelum hari-H dibuat gladi dgn melibatkan pihak2 terkait, termasuk fotografer. Dgn demikian, briefing liturgis dpt dilakukan pd kesempatan tsb…
Namun, mengingat bhw dewasa ini dpt dikatakan bhw kamera digital (termasuk HP berkamera) bertebaran di mana2 mk fotografer dadakan pun ada di mana2.

Usul :
1) pd buku panduan misa ditulis juga tatib bg fotografr; atau, setiap kali sblm sebelum misa seremoniarius meningatkan tatib termasuk tatib bg para fotografer.
2) pengaturan yg lebih bertanggung jawab ttg hal ini diformalkan (misalnya berupa pedoman resmi) sehingga menghilangkan kesan bhw pastor paroki buat aturan baru seenaknya.

Mungkin terkesan berlebihan bahkan berbelit, namun inilah bentuk nyata dari penghayatan iman kita; inilah juga perwujudan hormat & cinta kita kpd Allah dan Gereja kudus.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »