Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 654,253 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘1. Ritus pembuka’ Category

doa SAYA MENGAKU dan TUHAN KASIHANILAH apakah salah satunya dapat ditiadakan?

Posted by liturgiekaristi on January 10, 2014


PERTANYAAN UMAT :

Mohon info dari admin yang benarnya bagaimana : doa SAYA MENGAKU dan TUHAN KASIHANILAH apakah salah satunya dapat ditiadakan? Karena ada salah satu Romo yang melakukan begitu baik ekaristi harian maupun ekaristi hari minggu atau hari besar, makasih ya atas infonya.

PENCERAHAN :

Dari PUMR no 52.Pernyataan tobat selalu disambung dengan Tuhan Kasihanilah, kecuali kalau seruan Tuhan Kasihanilah telah tercantum dalam pernyataan tobat. Sifat Tuhan Kasihanilah ialah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan Kasihanilah biasanya dilagukan oleh seluruh umat, artinya : silih- berganti oleh umat dan paduan suara atau solis.

Pada umumnya, masing-masing seruan Tuhan Kasihanilah diulang satu kali. Akan tetapi, berhubung dengan bahasa setempat, dengan lagu ataupun sifat pesta, Tuhan Kasihanilah itu boleh diulang-ulang lebih banyak. Kalau Tuhan Kasihanilah dibawakan sebagai bagian pernyataan tobat, setiap aklamasi didahului ayat yang sesuai.

TPE 2005 menyediakan empat Cara Tobat (1-4).

Bedakan pernyataan/seruan tobat dan Tuhan Kasihanilah kami/kyrie eleison. Pernyataan tobat didahului oleh ajakan imam untuk menyesali dan mengakui dosa; menyusul pengakuan dosa secara umum: biasanya dengan doa “saya mengaku…” atau “Allah yang maharahim….” atau juga dengan cara 2 dalam TPE. Kemudian lagu atau seruan “Kyrie eleison”

Bisa juga penggabungan keduanya : seruan tobat dan kyrie eleison. Itulah cara 3 dalam TPE atau seperti dalam buku misa Hari Minggu dan Hari Raya. Hindari membuatnya secara kreatif dari masing2 tanpa ada persetujuan dari otoritas Gereja (uskup). hal ini untuk menghindari kreasi2 yg tidak perlu bahkan cendrung abuse.

Atau juga dengan cara pemercikan air suci sebagai peringatan pembaptisan. Itulah cara 4 dalam TPE. Namun setelah percikan air suci, boleh menyerukan/menyanyikan “Kyrie eleison” : ini sebagai tanda pujian dan hormat kepada Tuhan, Sang Raja.

Konon di dunia Yunani kuno, dimana ungkapan ‘kyrie eleison’ berasal, seruan yang bukan hanya mohon ampun dan belaskasihan, tetapi juga sebagai ungkapan pujian dan hormat untuk menyambut sang raja atau para pembesar kerajaan, sebagai seruan atau ungkapan penyambutan bagi para pembesar sebagai tanda hormat dan pujian.

Pada Misa khusus utk Perkawinan (Ordo Celebrandi Metrimonium, 1991) Ritus Tobat ini ditiadakan.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

INTENSI MISA, BOLEHKAH DIBACAKAN OLEH AWAM SEBELUM MISA MULAI?

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Pertanyaan umat :

2, apakah intensi yg d brikn umat kpd imam utk d doakn pd saat misa,,blh di doakn oleh seorg ketua dewan dan d bckn d dpn umat sesaat sblm perayaan ekaristi brlgsung?

Daniel Pane

2) Menurut kebiasaan tradisional intensi Misa didoakan dalam hati oleh Imam pada …saat hening antara “marilah berdoa” dan sebelum ia mulai membaca doa pembukaan dari Missale atau didoakan dalam hati pada saat bagian commemoratio pro vivis (vel pro mortis) dalam Doa Syukur Agung I , jika ada keinginan untuk dibacakan secara terbuka siapapun boleh membacakannya sebelum Misa mulai (tentu saja jangan dibacakan di tengah Misa karena akan sangat merusak suasana).

Posted in 1. Ritus pembuka, 2. Bagian Liturgi Sabda | Leave a Comment »

PUMR 51 – KAITANNYA DENGAN PERECIKAN DENGAN AIR SUCI (SEBAGAI PENGGANTI PERNYATAAN TOBAT)

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


‎”Pada hari Minggu, khususnya selama Masa Paskah, Pernyataan Tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan perecikan dengan air suci untuk mengenang pembaptisan.” (PUMR art. 51)

Di luar masa Paskah, perecikan air suci dilakukan sambil menyanyikan Asperges Me, seperti yang diperlihatkan video ini.

PERTANYAAN UMAT :

Dlm perayaan Ekaristi dulu pernah dipakai ritus perecikan air (Asperges me) sbg tanda tobat pd awal perayaan sblm doa pembuka. Skrng ritus ini ditiadakan. Bolehkah kita menjalankan ritus ini lagi dlm liturgi Ekaristi kita?? Lalu apa maksud dan bedanya dng perecikan saat kita… membaharui syahadat iman pd
waktu malam Paskah, misalnya?

PENCERAHAN DARI BP. Agus Syawal Yudhistira:

karena ritus tobat di dalam misa terdiri dari beberapa opsi.
Jika ritus tobat bisa selalu digantikan dengan pemercikan air. Namun biasanya karena merepotkan sering kali imam melakukan ini hanya pada perayaan-perayaan utama.

sementara ritus tobat yang biasa bisa terdiri dari beberapa pilihan.
misalnya, pilihan A, terdiri dari “saya mengaku” diikuti Kyrie Eleison..
Banyak juga yang menggunakan pilihan C, yang berupa Kyrie Eleison yang tiap baitnya didahului sebuah tropar/ayat yang dibacakan imam.

Memang ada baiknya bahwa umat lebih diperkenalkan dengan berbagai opsi yang ada, sehingga mengenal dengan baik perbedaan masing-masing.

Posted in 1. Ritus pembuka, 5. Vigili - HR Paskah, q. Video terpilih | Leave a Comment »

PUMR 47 & 48 – KAITANNYA DENGAN NYANYIAN PEMBUKA

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


PUMR 47 menyebutkan empat tujuan nyanyian pembuka :
1. membuka Misa
2. membina kesatuan umat yang berhimpun
3. mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan
4. mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya.

Keempat tujuan ini harus terpenuhi, maka sejatinya nyanyian pembukaan sesuai dengan tema perayaan dan tidak asal pilih.

“Nyanyian tersebut (nyanyian pembuka) dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup.” (PUMR 48)

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Lengkapnya PUMR 48: 

Nyanyian pembuka dibawakan silih-berganti oleh paduan suara dan umat atau bersama-sama oleh penyanyi dan umat. Dapat juga dilagukan seluruhnya oleh umat atau oleh paduan suara saja. Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup.

Bila tidak ada nyanyian pembuka, maka antifon pembuka yang terdapat dalam Misale dibawakan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh beberapa orang dari mereka, ataupun oleh seorang pembaca. Dapat juga imam sendiri membacakannya sesudah salam; bahkan imam boleh mengubah antifon pembuka menjadi kata pengantar (bdk. no. 31).

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

PUMR 50 – KAITANNYA DENGAN TANDA SALIB DAN SALAM PEMBUKA

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


“Seusai nyanyian pembuka, imam, sambil berdiri di depan tempat duduk, bersama-sama dengan seluruh umat membuat tanda salib. Kemudian imam menyampaikan salam kepada umat untuk menunjukan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Salam tersebut dengan jawaban dari pihak umat memperlihatkan misteri Gereja yang sedang berkumpul.” (PUMR 50)

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

TANDA SALIB 

Tanda Salib adalah tata gerak khas Katolik setiap kali mengawali doa atau ibadat; juga ketika umat Katolik mengawali Perayaan Ekaristi. Tanda Salib merupakan perpaduan antara kata-kata dan perbuatan (tata gerak).

Tata gerak tanda …salib harus khidmat dan cermat, tidak serampangan atau sambil lalu saja. Tanda salib dalam Perayaan Ekaristi bersifat dialogal, pemimpin membuat pernyataan ‘Dalam nama….’ dan umat mengamini dengan aklamasi ‘Amin’. Baik dilagukan atau dilafalkan, jawaban ‘Amin’ ini harus mantap. Dari pihak pemimpin, ia harus mengucapkan ‘Dalam nama…’ itu dengan nada sedemikian rupa sehingga memancing aklamasi ‘Amin’ yang mantap. Pemimpin tidak boleh memborong sampai dengan Amin. Karena dengan demikian, ia menggusur hak umat untuk mengamini, dan dapat ditafsirkan bahwa ia tidak menghendaki peran serta umat.

SALAM

Salam liturgis kita berbunyi “Tuhan sertamu – Dan sertamu juga” atau yang lain. Dengan kata-kata salam ini imam menyatakan bahwa Tuhan sungguh hadir, menyertai jemaat yang siap beribadat. Dengan jawabannya, jemaat menyatakan bahwa Tuhan yang sama sungguh hadir, menyertai imam. Jadi, pada saat melaksanakan dialog salam ini, imam dan umat sedang menyadari bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah kita.

Teks salam dalam perayaan Ekaristi diambil dari Alkitab. Hendaklah jangan diganti dengan ‘salam sekular’ (Selamat pagi, bapak-ibu, anak-anak). Dengan salam seperti ini kita membuyarkan suasana ibadat yang sudah dibangun lewat perarakan, nyanyian pembukaan, dan tanda salib, yang pada tahap ini memuncak pada kesadaran dan pernyataan akan kehadiran Allah.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

PUMR 53 – BERKAITAN DENGAN MADAH KEMULIAAN

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


“Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anakdomba Allah, serta memohon belaskasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh di ganti dengan teks lain.” (PUMR 53)

10,350 Impressions Raw number of times this story has been seen on your Wall and in the News Feed of your Fans ·

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Selengkapnya PUMR 53: 

Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anakdomba Allah, serta memohon belaskasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh di ganti dengan teks lain. Kemuliaan di buka oleh imam atau , lebih cocok, oleh solis atau oleh kor, kemudian dilanjutkan oleh seluruh umat bersama-sama, atau oleh umat dan paduan suara bersahut-sahutan, atau hanya oleh kor. Kalau tidak dilagukan, madah Kemuliaan dilafalkan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh dua kelompok umat secara bersahut-sahutan.

Kemuliaan dilagukan atau diucapkan pada hari-hari raya dan pesta, pada perayaan-perayaan meriah, dan pada hari Minggu di luar Masa Adven dan Prapaskah.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

PUMR 54 : KAITANNYA DENGAN DOA PEMBUKA

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


“Kemudian, imam mengajak umat untuk berdoa. Lalu semua yang hadir bersama dengan imam hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Kemudian, imam membawakan doa pembuka … yang mengungkapkan inti perayaan liturgi hari yang bersangkutan. …. Umat memadukan hati dalam doa pembuka, dan menjadikannya doa mereka sendiri dengan aklamasi: Amin.” (PUMR 54)

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Selengkapnya PUMR 54 : 

Kemudian, imam mengajak umat untuk berdoa. Lalu semua yang hadir bersama dengan imam hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Kemudian, imam membawakan doa pemb…uka yang lazim disebut “collecta”, yang mengungkapkan inti perayaan liturgi hari yang bersangkutan. Selaras dengan tradisi tua Gereja, doa pembuka diarahkan kepada Allah bapa, dengan pengantaraan Putra, dalam Roh Kudus, dan diakhiri dengan penutup trinitaris atau penutup panjang sebagai berikut :

Kalau doa diarahkan kepada Bapa :
Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu,
Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau,
dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Kalau doa diarahkan kepada Bapa, tetapi pada akhir doa disebut juga Putra:
Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami,
yang bersama dengan Dikau,
dalam persatuan Roh Kudus,
hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Kalau doa diarahkan kepada Putra:
Sebab Engkaulah Tuhan, pengantara kami,
Yang bersama dengan Bapa,
Dalam persatuan Roh Kudus,
Hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Umat memadukan hati dalam doa pembuka, dan menjadikannya doa mereka sendiri dengan aklamasi: Amin.

Dalam setiap Misa hanya ada satu doa pembuka.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Doa Pembuka merupakan akhir dan sekaligus puncak ritus pembuka. 

Pelaksanaan: Imam mengajak umat ‘Marilah kita berdoa’. Lalu semua hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan dan mengungkapkan doa/keprihatinan pribadi. Lalu imam mengucapkan inti doa yang menyatakan isi perayaan pada hari yang bersangkutan. Doa pembuka ditujukan kepada Bapa dengan pengantaraan Putra dalam persekutuan Roh Kudus. Akhirnya jemaat menyetujui doa itu dengan aklamasi Amin.

Doa Pembuka adalah doa presidensial, artinya doa pemimpin. Maka, hanya pemimpin seorang diri yang membawakan doa ini atas nama jemaat. Selama imam mengucapkan inti doa, jemaat memadukan hati dalam doa itu, sehingga pada akhir dapat mengamininya dengan mantap. Kebiasaan mengajak umat ikut mengucapkan/membaca doa pembuka tidak selaras dengan hakikat doa pembuka sebagai doa presidensial.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

RITUS TOBAT DALAM MISA VS ABSOLUSI DALAM SAKRAMEN PENGAKUAN DOSA

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


Topik :

Dalam setiap perayaan Ekaristi, selalu ada ritus tobat dan absolusi, lalu
mengapa masih perlu pengakuan dosa pribadi, apakah pengakuan dosa publik dalam Ekaristi itu tidak cukup?”

PENCERAHAN DARI BAPAK Agus Syawal Yudhistira

Dalam perayaan Ekaristi tidak ada absolusi. Ritus tobat dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menyambut komuni dgn menyadari keberdosaan dan memohon pengampunan, tapi secara teologis tidak mengembalikan pesekutuan yang terputus akibat dosa berat (dosa yang menyangkut perkara berat sebagaimana dirangkum dalam 10 perintah, dilakukan dengan bebas dan sadar).

Keterputusan persatuan ini, hanya efektif diperbaiki dalam Sakramen Tobat. Karena itu orang yang menyadari keberadaannya dalam dosa berat, tidak dapat menerima komuni dan tidak seharusnya maju untuk menerima komuni sebelum menerima Sakramen Tobat. Seperti dikatakan Paulus, siapa yang menerima Tubuh dan Darah Tuhan dengan tidak layak, membawa bencana bagi dirinya sendiri.

Apakah cukup kita anggap bahwa dosa adalah perkara hati pribadi dengan Tuhan? Tidak cukup. Dosa selalu memiliki dampak sosial dan gerejani. Dosa berat menghancurkan hubungan dengan Allah, diri sendiri, orang di sekitar kita dan memutus kita dari persatuan dengan Tubuh Kristus (Gereja).

Itu sebabnya ada Sakramen Tobat yang tujuannya membawa pengampunan Allah, dan menerima kembali umat ke dalam persekutuan dengan Gereja.

Dosa selalu memiliki dampak komunal, disadari ataupun tidak. Karena itu DUA hal diperlukan: Sikap tobat pribadi, maupun penyataan tobat komunal dihadapan Gereja.

Posted in 1. Ritus pembuka, h. SAKRAMEN | Leave a Comment »

RITUS PERECIKAN AIR (ASPERGES ME)

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


PERTANYAAN UMAT :

Dlm perayaan Ekaristi dulu pernah dipakai ritus perecikan air (Asperges me) sbg tanda tobat pd awal perayaan sblm doa pembuka. Skrng ritus ini ditiadakan. Bolehkah kita menjalankan ritus ini lagi dlm liturgi Ekaristi kita?? Lalu apa maksud dan bedanya dng perecikan saat kita… membaharui syahadat iman pd
waktu malam Paskah, misalnya?

PENDAPAT Thomas Rudy

tidak ditiadakan kok… coba cek TPE Imam, ada disitu kok…hanya saja jarang dipakai….
kenapa jarang dipakai? walahualam

@Andre: Te Deum itu tdk ada tempat yang resmi dalam misa… bisa dinyayikan sebagai madah syukur sesudah komuni, biasanya Te Deum itu dibaca/dinyanyikan dalam ibadat bacaan (matin) dalam ibadat harian pada hari-hari tertentu

PENCERAHAN DARI BP. Agus Syawal Yudhistira:

karena ritus tobat di dalam misa terdiri dari beberapa opsi.
Jika ritus tobat bisa selalu digantikan dengan pemercikan air. Namun biasanya karena merepotkan sering kali imam melakukan ini hanya pada perayaan-perayaan utama.

sementara ritus tobat yang biasa bisa terdiri dari beberapa pilihan.
misalnya, pilihan A, terdiri dari “saya mengaku” diikuti Kyrie Eleison..
Banyak juga yang menggunakan pilihan C, yang berupa Kyrie Eleison yang tiap baitnya didahului sebuah tropar/ayat yang dibacakan imam.

Memang ada baiknya bahwa umat lebih diperkenalkan dengan berbagai opsi yang ada, sehingga mengenal dengan baik perbedaan masing-masing.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

LAGU PEMBUKAAN DALAM PERAYAAN EKARISTI – PERLUKAH ??

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


Pertanyaan umat :

Ada FRATER dari suatu Ordo mengatakan “sebetulnya MISA KUDUS yang benar itu tidak diawali oleh LAGU PEMBUKAAN. Karena MISA yang benar justru diawali oleh keheningan. Umat diajak untuk hening untuk mempersiapkan hati dan pikiran tertuju pada arti sesungguhnya dari MISA KUDUS.” Benarkah demikian?

PENCERAHAN DARI BP. DANIEL PANE:

Jawabannya “tidak benar” kalau tidak ada lagu pembuka untuk apa ada Introitus dalam Gradual, dan disediakan Antifon Introitus sebagai pengganti Introit jika Misa tidak dinyanyikan.

PENCERAHAN DARI BP. ANDREAS KELIK WINANTA:

Kita umat katolik mengikuti TPE Resmi dari Gereja Katolik Roma. Dalam dalam Ritus Pembuka “saat hening” tidak dimasukkan. Jadi umat boleh-boleh aja memsuki Gereja sebelum misa dengan keheningan, dan itu amat dianjurkan sebelum mengikuti Ekaristi. Baru setelah memasuki Ritus Pembuka kita menyanyikan lagu Pembuka.

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

SALAM “TUHAN SERTAMU”

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


PERTANYAAN :

Sebenarnya TBS (Tuhan Beserta Kita) dalam TPE 2005 sudah tidak ada, diubah menjadi Tuhan bersamamu, namun saya sering kali dalam misa, romonya masih lebih suka memakai (Semoga) Tuhan beserta kita demikian pula aklamasi sesudah Injil: Tanamkanlah sabda-Mu ya Tuhan… bagaimana ya?*bingung*

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR,

Melengkapi comments yg sdh ada di atas…
Sapaan “TUHAN SERTAMU (atau TUHAN BERSAMAMU)” sbg terjemahan resmi dari ‘Dominus Vobiscum’ dikhususkan pemakaiannya hanya oleh klerus/pemimpin tertahbis terhadap umat awam, baik dlm misa maupun ibdh lain di luar misa. Why? Krn ungkapan itu terkait dgn TAHBISAN.

Sedangkan, sapaan “SEMOGA TUHAN BESERTA KITA” dipakai oleh pemimpin awam/ tak tertahbis termasuk oleh prodiakon dlm ibadah2 lain yg bukan misa. (Bdk. Directorium de Celebrationibus Dominicalibus Absente Presbytero, no. 39).

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

SAHUTAN UMAT ATAS SERUAN IMAM “TUHAN SERTAMU”

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


Pertanyaan umat:

TPE 2005 dengan sahutan terhadap seruan imam “Tuhan besertamu”yang dijawab umat dengan “dan beserta rohmu”, rasanya aneh rohnya siapa? Rohnya Tuhan atau roh pastornya??? Rasanya lebih tepat Tuhan besertamu juga, Also with you. Apa secara khusus umat mendoakan agar Tuhan beserta rohnya Sang Imam??? Saya percaya TPE 2005 pasti mendengar saran dari para ahli bahasa juga. Tapi bagi saya pribadi kata-kata “Beserta rohmu rasanya aneh dan khas Indonesia yang DSAnya sampai belasan jumlahnya.

RANGKUMAN PENCERAHAN DARI BP. DANIEL PANE

maksudnya adalah bersama rohmu, mu di sini adalah imam.

Yang lebih tepat memang “dan bersama rohmu” karena teks aslinya adalah “et cum spiritu tuo”. Di Kitab Suci juga selalu disebutnya “semoga damai sejahtera Allah menyertai roh kamu”.

Terjemahan bahasa inggris sebentar lagi juga akan menggunakan “dan with your spirit” (terjemahan TPE baru yang hampir berlaku beberapa bulan lagi) dan “and also with you” akan segera dihapus dari TPE berbahasa Inggris.)
March 14 at 10:27pm

PENCERAHAN DARI BP. VINCENT PAMUNGKAS

“Dan bersama rohmu” itu terjemahan yg tepat dari “Et cum spiritu tuo”, yang merupakan jawaban dari “Dominus vobiscum” sejak gereja purba. Vatikan mengkoreksi beberapa kata penting dalam misa supaya teologinya tidak berbeda dari yang sebenarnya. Konsep bersama roh itu berasal dari Yahudi dan Kristen awal: “Yesus Kristus menyertai rohmu” (2Tim 4:22, … See MoreGal 6:18, Fil 4:23), referensi ini adalah gaya Yahudi untuk menyebut bagian terhormat manusia yaitu rohnya, namun sebenarnya yang dimaksud adalah orang tersebut sepenuhnya, yaitu roh dan fisik. Di dalam misa, kata ini berarti roh pastor yang memimpin misa. Kalau kita menjawab dengan kata ini berarti kita percaya kalau Tuhan ada di dalam pastor tersebut sepenuhnya.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Dan kini TPE berbahasa Inggris (US) pun disesuaikan dengan teks asli itu. Jadi bukan lagi “And also with you”, tetapi “And with your spirit ….”

Demikian juga dialog Prefasi:
+ The Lord be with you
– Ang woth your spirit
+ Lift up your hearts … See More
– We lift them up to the Lord
+ Let us give thanks to the Lord our God.
– It is right and just …

Posted in 1. Ritus pembuka | Leave a Comment »

SIKAP TUBUH UMAT PADA SAAT RITUS PEMBUKA

Posted by liturgiekaristi on March 6, 2011


PERTANYAAN:

1. Kenapa pastor membungkuk pada saat mencium altar? Dan bagaimana sikap tubuh umat pada saat Pastor mencium altar?
2. Juga pada waktu misa sudah selesai, pastor turun dari altar, biasanya pastor, putra altar , lektor, prodiakon semuanya berlutut. Saya melihat banyak juga umat yang ikut membungkukkan badan. 🙂

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ

Romo harus membungkuk ketika mencium altar, karena memang altarnya lebih rendah daripada mukanya, ya otomatis membungkuk, tetapi intensinya adalah mencium altar dan bukan membungkuknya.

Maka di sini umat tidak perlu membungkuk.

Umat hanya ikut membungkuk romo adalah pada saat mengucapkan Credo pada bagian “Ia mengandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria – dan menjadi manusia” (Lihat dalam TPE dicetak ‘miring’ (italic).

a. Pastor mencium altar termasuk ritus, bahwa kita merayakan Ekaristi saat itu bersama dengan “Gereja semesta” dan sepanjang jaman.

b. Tentang umat ikut membungkuk silahkan saja, asal tidak diwajibkan semua ikut membungkuk. Membungkuk, menyembah, adalah ekspresi pribadi dan bukan komunal. Jadi tidak dilarang. Asal diwaspadai bahwa ukuran kesalehan tidak pada hal-hal lahiriah belaka, tetapi keterbukaan dan kekhusyukan, kekhidmatan hati saat ‘menghadap Tuhan’ dan penghayatan dalam keseharian.

c. Berlutut di depan altar dilakukan kalau di altar disimpan Sakramen Mahakudus. Itu berlaku untuk semua umat beriman yang tidak ‘berhalangan’ atau terhambat karena hal praktis, contoh karena harus memegang tongkat atau salib. Atau tidak sedang membawa sakramen mahakudus, misalnya imam, atau pelayan pembantu pembagi komuni saat berangkat atau kembali tidak perlu berlutut di depan altar.

Memang pastor setelah berlutut langsung menuju altar – untuk mencium altar ….. lalu (seharusnya) menuju “sedelia” dan (pada saatnya) membuka perayaan Ekaristi dari sana.

Pertanyaan umat :

kan di tlisan di atas di jelaskan, umat wajib berlutut jika ada hosti di altar..

bukankah jika di suatu gereja ada tabernakelnya, umat jg di wajibkan untuk berlutut?

mohon penjelasannya.

trmaksh rm.

PENCERAHAN DARI PASTOR Yohanes Samiran

Jawaban sudah ada di atas, tinggal baca lagi secara teliti.

NB: Tradisi berlutut adalah tradisi resmi Gereja Katolik.

Saat kita melewati altar atau mengunjungi Gereja atau kapel di mana sakramen mahakudus disimpan (dalam tabernakel) maka kita berlutut.

Saat sakramen Mahakudus ditahtakan pada monstrans, misalnya dalam ibadat adorasi – maka kita berlutut dengan kedua lutut ke lantai.

Posted in 1. Ritus pembuka, f. TATA GERAK LITURGI | Leave a Comment »