Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 616,332 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘c. PETUGAS LITURGI’ Category

NYANYIAN IMAM…APAKAH BOLEH DIIRINGI OLEH ORGANIS ??

Posted by liturgiekaristi on July 17, 2011


Pertanyaan umat :

Selamat pagi, yang ingin kami tanyakan adalah apakah pada saat Imam sedang menyanyikan isi dari prefasi apakah seorang organis dapat mengiringnya ? Mohon pencerahan. Terima kasih

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

sebaiknya semua nyanyian yg sifatnya presidentil (nyanyian imam) tidak diiringi…nyanyian2 presidentil dalam Ekaristi berisi dengan doa dan pesan2…untuk itu sebaiknya dilagukan dgn suara lantang dan jelas…akan ada kemungkinan kata2 dlm  nyanyian dapat tenggelam oleh suara iringan…organis hanya bertugas mengiringi umat saja..satu hal yg perlu kita cermati bahwa imam dalam ekaristi adalah In Persona Christe (Kristus sendiri) untuk itulah sepertinya kurang layak jika diiringi…(JOJBSO)
Advertisements

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

KOOR MENYANYI – UMAT TEPUK TANGAN (sharing umat)

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Yohanis Don Bosko

Tanggapan sy, sy setuju kalau pd saat ekaristi, seluruh perhatian kita diarahkan pd TUHAN kita yg Maha Kudus. Namun,masalah tepuk tangan yg dilarang di dlm.nya, di satu sisi sy setuju, di sisi lain kurang setuju. Begini, andaikan kita bayan…gkan berada dlm.kemuliaan bersama TUHAN, dan sedang menikmati nyanyian para malaikat(baca paduan suara) dan sampai membuat TUHAN dan kita terkagum2, shingga TUHAN pun bertepuk tangan, dan kita pun ikut bertepuk tangan karena mengagumi nyanyian malaekat,apakah ini salah..? Sejauh hati kita tetap terarah pd TUHAN, mungkin tepuk tangan spt ini sah saja,krn sbg manusia kita pun ikut merasakan keindahan itu. Namun kita sbg umat tetap hrs mengikuti aturan grj, krn mungkin saat ini kita blm sampai pd kesadaran bhw sekalipun koornya bagus, kita tdk boleh tepuk tangan. Maaf,kalo pemikiran sy kurang berkenan. Salam,GBU all.

Johanes Ogenk Jbso

saya setuju sekali dg tanggapan Rm Magnis…bertermakasih akan lebih tepat pada akhir misa….ekaristi adalah satu rangkaian upacara yg tidak bisa diputus,,,menyanyikan lagu dgn baik dan bnar dalam Ekarsiti sudah jelas menjadi keharusan bag…i semua klompok koor, terkait dengan Qui bene cantat bis orat, jadi bukan semata berorientasi agar mendapat pujian dan tepuk tangan meriah..di sisi lain,mengacu pada SC art. 112 : “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”…Inilah inti kemeriahan sejati dalam Ekaristi…jadi bukan terletak pada Kehebatan nyanyian…Para imam juga hendaknya memahami posisinya sebagai “In Persone Christi” saat memimpin ekaristi, yg berati Kristus sendiri yg memimpin Ekaristi…

Yesus tidak pernah meminta kita untuk bertepuk tangan kepada Simon dari Kirene atas bantuannya memanggul salib..Yesus juga tidak meminta kita untuk bertepuk tangan kepada Bunda Maria akan kesetiaannya…Yesus juga tidak meminta Bunda Maria, Yohanes dan Maria Magdalena untuk bertepuk tangan bagi Dismas saat di atas salib, karena Yesus masih harus menyelesaikan rangkaian penyelematannya…baru seteleh rangkaian itu selesai Dia akan membawa kita yg setia dan beriman kepadaNya, ikut ke dalam rumah Bapa-Nya

saat imam meminta umat untuk bertepuk tangan kepada koor, berarti (maaf) penghayatan akan “In Persona Christe” sudah lepas begitu saja..secara ekstrim dpt dikatakan konsentrasinya sudah buyar dalam mengemban tugas serta tanggung jawabnya utk menghadirkan Kristus dalam dirinya…lalu akan timbul pertanyaan apakah mungkin dalam wkt yg begitu singkat, bisa kembali menghadirkan sosok Kristus dalam dirinya, mengingat masih ada rangkaian liturgi yg belum selesai…trutama saat berkat pengutusan…

Yudha Adrian

Tindakan keras seperti ini sepertinya layak dipertimbangkan oleh seluruh Pastor. Hanya dengan cara seperti inilah kita dapat menjaga kekudusan misa dan juga sebagai bagian dari pembelajaran terhadap umat yang kurang paham akan kekudusan seb…uah perayaan ekaristi. Misa dimulai dengan tanda salib dan diakhiri dengan tanda salib, yang menandakan bahwa kita terus berdoa dari awal misa sampai dengan akhir misa. Apakah pantas kita bertepuk tangan, terlebih kepada koor pada saat berdoa?
Dalam seminar paham dan trampil berekaristi di paroki St.Yakobus,Romo Martasudjita menghimbau agar tidak bertepuk tangan saat komuni.Setelah romo menutup misa kalau memang mau memberi appresiasi kepada Kor yg bertugas baru diperbolehkan.
Demikian pendapat dari Rm.Marta.

Ongko Hadi Sugianto

Ikut rembug kan…Penghayatan terhadap PERAYAAN EKARISTI itu adalah harga mati dan semua sudah diingatkan kembali oleh Pastor Magnis melalui tulisannya,seorang Pastor sampai menulis di suara pembaca berarti sudah kebangetan…umatnya!.Bentu…k tepuk tangan,ber HP ria,berpacaran,memakai pakaian pantai ,lagu penutup Misa sebagai pengantar umat pulang adalah bentuk-bentuk ketidak mengertian umat terhadap arti Perayaan EKARISTI….kenapa itu bisa terjadi? kelupaan,rutinitas,terbiasa dengan acara -acara yang hanya mengutamakan semangat…..,kurang bisa mengendalikan emosi dll…..jadi alangkah baiknya semuanya yang merasa Umat Katolik ikut bertanggung jawab dan saling mengingatkan melalui forum resmi maupun tidak resmi sehingga Ajaran Gereja Katolik yang benar terus terjaga dengan baik…..

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PRODIAKON – sharing dan pencerahan

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Soetikno Wendie Razif

Paus Benediktus agak ketat dalam soal wewenang “yang tertahbis” dan “yang tidak tertahbis” ….. dan yang penting, harap dimengerti bahwa “pro-diakon” itu tetap umat biasa, jadi harus terus menerus belajar dan membaca berbagai dokumen gereja … search saja di http://www.vatican.va/

 

Djoko Suhono

Itu-lah yg berat umat biasa,yg luar biasa-sementara harus menggantikan tugas2,gembalanya-pada sisi laiin,pikirannya kadang harus berpikir bagaimana menghidupi,anak2 da Istrinya,semoga para Prodiakon senantiasa setia dalam tugas2nya

 

Eddie Gundul

pro diakon or asisten imam dah bs diterima umat, tp hendaknya ada pembenahan disanasini, terutama sikap n tingkah lakunya menjelang, saat n sesudah bertugas.
Akan lbh baik lg klo beliau jg berusaha jd lbh baik lg dlm hidup n kehidupan keseha…riannya.
Bagaimanapun kesediaan n kesanggupan mrk utk menjd lbh baik hendaknya ditumbuhkembangkan setiap saat. Semg para prodiakon n asisten imam berkenan meningkatkan terus kepeduliaannya thd amanat yg diembannya.
BERKAH DALEM

Agus Syawal Yudhistira

Pro-Diakon adalah istilah yang dicetak oleh beberapa keuskupan di Indonesia saja. Istilah universalnya adalah “Pelayan Komuni Tidak Lazim.”

Sebagaimana namanya, tugas utama jabatan ini adalah membantu membagikan komuni ketika jumlah “Pelayan… Komuni yang Lazim” tidak mencukupi atau mengakibatkan kesulitan logistik. Siapakah para pelayan Komuni yang lazim itu: Uskup, Imam, Diakon. Ketiga tingkatan imamat ini adalah mereka yang menerima tahbisan.

Maka sama sekali tidak berat tugasnya. Mereka hanya bertugas jika diminta, dan bahkan paroki atau keuskupan tidak wajib menggunakan pelayanan mereka.

Yang jadi masalah dalam konteks Indonesia, istilah pro-diakon dan tugas pro-diakon ini diciptakan bukan saja untuk membagikan komuni, tetapi juga diperluas mengambil alih tugas-tugas Diakon. Alih-alih menyuburkan panggilan Diakon (para Diakon adalah pria, baik yang sudah menikah ataupun yang selibat, yang menerima tahbisan Imamat sebagai Diakon).

Diakon tidak melulu tingkatan seminari sebelum jadi imam. Para Diakon yang demikian disebut “Diakon transisi.” Tetapi ada orang yang ditahbiskan menjadi Diakon karena panggilan mereka sebagai Diakon. Mereka ini kerap disebut “Diakon tetap” atau “Diakon permanen.”

Dalam konteks Indonesia, “pro-diakon” mengambil alih sebagian tugas-tugas Diakon dan menciptakan sejenis “awam setengah klerus.”

Bagi saya pribadi, praktek pro-diakon adalah suatu usaha pastoral yang kebablasan dan mengeringkan panggilan Diakon dalam Gereja.

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »

KOOR & UMAT MENYANYI TIDAK NYAMBUNG, ORGANIS BINGUNG…??

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


“Bila dalam misa, umat&pastor bernyanyi tdk sesuai dg interprestasi kor(tempo&karakter lagu) apa yg harus dilakukan organis/pengiring lain?”

Rasanya sering terjadi dimana koor bernyanyi cepat sedangkan umat bernyanyi lambat. Kadang ditambah Imam yang bernyanyi di depan mikrofonnya yang justru “mengacaukan” tempo lagu. Bagaimana sebaiknya, khususnya bagi organis?

Johanes Ogenk Jbso

Sebetulnya koor, organis dan petugas musik lainnya dalam ekaristi, bukan memimpin, tapi lebih tepat membimbing umat untuk mencapai suasana sakral agar dapat mengalami dan merasakan ekaristi secara lengkap.

Kjadian spt ini bebrapa kali terjdi… di parokiku, trutama saat plafon di bagian atas sudah lapuk dan kropos, otomatis ini akan sgt mempengaruhi Accoustic dari bangunan tersebut…trutama utk atap2 gereja yg berbntuk kubah, ada delay suara yg ckup tinggi, akibatnya sering skali trjadi balapan tempo…satu2nya jalan adalah dirigen harus cpat tanggap, pertama kali meminta organis untuk menaikkan vol…klo trnyata ini tdk berhasil, brarti dirigen yg harus menyesuaikan tempo dgn umat…dgn dmikian koor da organis akan otomatis mengikuti grakan tangan dirigen

Permasalahannya kadang dirigen merasa komando ada di dia..memang betul idealnya spt ini, tapi perlu kita pertimbangkan (para dirigen) saat bernyanyi bersama umat, apakah semua umat melihat tangan kita..??? bahkan umat kadang tidak melihat ke dirigen sama sekali atau dirigen bahkan tidak terlihat (trutama utk gereja dyg besar)

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

Berapa kali x berapa, misdinar mendupai romo dan umat

Posted by liturgiekaristi on June 22, 2011


Pertanyaan umat :

Mau tanya nih , sebenarnya waktu misdinar ngedupain romo dan umat tuh berapa kali berapa ya ? Terima kasih

Teresa Subaryani Dhs

untuk sakramen mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; bahan persembahan; salib altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat dan juga jenazah, pendupaan dilakukan tiga kali dua ayunan… (tribus ductibus, three double-swings: crik crik, turunkan, crik crik, turunkan dan crik crik, turunkan) lihat PUMR 277 dan CE (ceremoniale episcoporum) 92. Dua kali pendupaan masing-masing dua ayunan (duobus ductibus, two double-swings, crik crik, turunkan, crik crik, turunkan) digunakan untuk relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Yang terakhir adalah serangkaian ayunan tunggal (singulis ictibus, series of single-swings) yang dipakai untuk mendupai altar.

Agus Syawal Yudhistira

Bahasa Latinnya lebih akurat. Pedupaan mengenal 2 jenis mendupai: “ductus simplex” dan “ductus duplex”.
“ductus simplex” dilakukan untuk mendupai Altar, yaitu selagi mengelilingi Altar, pedupaan diayun sekali setiap kali.

“ductus duplex” dilakukan dengan “2 ayunan”
Dilakukan dengan “pedupaan diangkat sampai posisi tinggi yang sesuai, diayun 2x, lalu diturunkan.”

untuk imam, umat, sakramen, dilakukan 3x “ductus duplex.”
untuk gambar-gambar kudus misalnya, 2x “ductus duplex.”
untuk altar dilakukan “ductus simplex” sambil mengelilingi altar.

Istilah teknisnya, ke romo itu “Tribus ductibus”, yang berarti 3 kali “ductus”, masing-masing ductus terdiri dari “2 kali ictus”

Baik imam, maupun umat, PUMR 277 mengatakan didupai dengan “Tribus ductibus.” Jadi tidak dibedakan untuk umat 3 kali “ictus” sementara ke pada imam 3 kali “ductus.”

PUMR 277: “Pedupaan diayunkan tiga kali (tribus ductibus) untuk penghormatan…: (a) Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; (b) bahan persembahan; (c) salib altar, Kitab injil, lilin paskah, imam dan jemaat.”

Agus Syawal Yudhistira

TPE 2005 masih membedakan, silahkan dibaca di PUMR yang menyertai setiap TPE

Yang benar, imam, umat didupai secara sama.

Sekali lagi kembali pada dokumen PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI nomor 277:

“Sesudah mengisi pedupaan, imam memberkatinya dengan membuat tanda salib di atasnya, tanpa mengatakan apa-apa.

Sebelum dan sesudah pendupaan, petugas membungkuk khidmat ke arah orang atau barang yang didupai, kecuali dalam pendupaan altar dan bahan persembahan untuk Ekaristi.
Pendupaan dilaksanakan dengan mengayunkan pedupaan ke depan dan ke belakang..

Pedupaan diayunkan tiga kali (tribus ductibus) untuk penghormatan: (a) Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik; (b) bahan persembahan; (c) salib altar, Kitab injil, lilin paskah, imam dan jemaat.

Pedupaan diayunkan dua kali (duobus ductibus) untuk penghormatan: relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Semua ini didupai hanya pada awal perayaan Ekaristi sesudah pendupaan altar.

Altar didupai dengan serangkaian ayunan tunggal (singulis ictibus) sebagai berikut :
a. Kalau altar berdiri sendiri, imam mendupai altar sambil mengelilinginya.
b. Kalau altar melekat pada dinding, maka imam mendupai sambil berjalan ke sisi kanan lalu ke sisi kirinya.

Kalau ada salib di atas atau di dekat altar, maka salib itu didupai sebelum altar. Atau, imam mendupai salib pada saat ia melintas di depannya.
Sebelum mendupai salib dan altar, imam mendupai bahan persembahan dengan mengayunkan pedupaan tiga kali atau dengan membuat tanda salib dengan pedupaan di atas bahan persembahan.”

Johanes Ogenk Jbso

setuju dgn om @Agus Syawal, pokok acuan ada dlm PUMR…klo melihat PUMR 277, jelas skali pedupaan dilakukan dgn cara tribus ductibus untuk penghormatan:
– Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik;
– Bahan persembahan;
– salib altar, Kitab injil, lilin paskah, imam dan jemaat.”

Posted in 2. Putra Altar | Leave a Comment »

LEKTOR – SHARING MENGENAI SIKAP TUBUH PADA SAAT BERTUGAS

Posted by liturgiekaristi on May 21, 2011


Pertanyaan umat :

Misa di hari minggu yang lalu di paroki saya, ada sebuah kejadian yg membuat saya agak gimanaa gitu.

Minggu yang lalu, di gereja paroki saya, saya sempat melihat Lektor II duduk manis dan sangat santai disebelah misdinar pada saat Lektor I membacakan Bacaan I.Sebenarnya, bagaimana seeh sikap dan bahasa tubuh yg harus diketahui, dimiliki, di kuasai, dan yg kemudian dilaksanakan oleh seorang Lektor yg baik dan benar dlm menjalankan tugasnya sbg petugas pelayan Liturgi itu ?Boleh gak ya pada saat Lektor I sdg membacakan Bacaan, Lektor yg lain yg sdh ada dipanti imam utk menunggu giliran mambacakan Bacaan berikutnya, duduk ? Bagaimana seharusnya ?

PENCERAHAN dari Pastor Hans Wijaya

sikap badan lektor selama mendengarkan pembacaan Sabda Tuhan, sama seperti semua yang hadir: Imam, misdinar dan umat. duduk dan menyimak. orang yang memperhatikan, pasti sikap badannya mendukung dia untuk mendengarkan dengan baik. kita tida…k dapat konsentrasi kalau duduk santai, bersandar setengah berbaring dengan kaki menjulur ke depan; misalnya. jadi masalahnya bukan pada sikap badan lektor II, tapi pada bagaimana Bacaan dibacakan, yang bukan sekedar membaca tapi mewartakan. bagaimana bacaan dipergunakan dalam homili. kalau homili hanya mengupas Injil tanpa menyinggung Bacaan I/II, umat juga tidak terbantu untuk ikut menyimak bacaan-bacaan dari Kitab Suci

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

SHARING  ADMIN : Kalau di paroki saya, lektor duduk di bangku terdepan (bangku umat). Lalu pada waktu Ibadat Sabda, kedua lektor maju ke panti imam dan keduanya berdiri di dekat mimbar sabda. Pada saat keduanya sudah selesai menjalankan tugas, , maka kedua lektor itu bersama-sama kembali lagi ke tempat duduknya semula.

Lucia Christiawati biasanya saat lektor I membacakan lektor II duduk dg sopan bersama prodiakon di t4 yg tlh disediakan.bgitupun sbaliknya.
RoYana ELvina SimaLango Klo di greja saya,
lektor duduk di t4 palng dpn di bangku umat kemudian apabila akan membaca sabda Tuhan Lektor I dan lektor II bergantian naik ke mimbar.
Gabriella Rika Swasti Lah anak kecilpun tahu bgt, lau baru tugas di gereja sikapnya harus sopan ; duduk gak bleh seenakknya, hrs tegak tapi jgn kaku, gak bleh tengok kanan atau kiri bahkan belakang, menyimak yg sedang berlangsung…………. lau seenakknya ganti aja lektornya. Laaaaaaaaah apa sebelum jd lektor gak ada prolog, syarat dan lainnya ?Eiiiit satu lagi, kalau di t4 saya, lektor duduke sederet dengan misdinar………
Robert Darisman Petugas lektor n mazmur seharusnya terlantik. Ini menjamin adanuya pembekalan sebelum menjalankan tugas. Karena kurangnya tenaga pelayan sering main tunjuk saja dan sayangnya tidak menjamin adanya pembekalan. Perlu kita perbaiki bersama.
SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

ikut nimbrung sesama admin….
Tergantung tata ruang gereja dan panti imam. Kalau gerejanya kecil maka lektor tetap di tempatnya dan pas gilirannya baru maju… kalau gereja dan panti imamnya besar dan luas…. sebaiknya semua petugas maju, …baik lektor I, pemazmur dan lektor II. Sementara lektor I bertugas, pemazmur dan lektor II berdiri di belakang lektor I dengan sikap sopan, sampai semua selesai bertugas baru sama² kembali ke tempat duduk; ini kalau tempat duduk lektor di bangku umat. Kalau tempat duduk para petugas di panti imam, diusahak untuk lektor tidak jauh dari mimbar Sabda, sehingga pas giliran baru berdiri melaksanakan tugasnya. (terkadang seringnya hilir mudik para petugas di panti imam mengganggu suasan, apalagi ditambah bunyi langkah sepatu yang … gimana gitu… hehehe). Jadi sekali lagi tergantung tata ruang gerja dan panti imam
Soetikno Wendie Razif

Ada lektor/lektris yang dirangkap oleh pro diakon, saat perarakan masuk ke altar, mereka ikut naik ke altar, lalu tetap nangkring di altar … sampai konsekrasi, mereka tetap berdiri di altar, jadi pas kita menyembah Tubuh dan Darah Kristus…, kita menyembah sang pro diakon juga ….kenapa tidak disosialisasikan bahwa pro diakon tetap umat biasa, bukan tertahbis …altar hanya untuk yang tertahbis … Mau contoh : Datanglah ke Misa di Gereja St.Theresia, Jl. H. Agus Salim, Menteng, Jakarta
Yudha Adrian lektor/lektris II biasanya tetap duduk pada tempat yang disediakan pada saat bacaan 1 dan bergantian dengan lektor/lektris I pada saat mazmur antar bacaan dinyanyikan. Yang berdiri pada saat bacaan I dan II selain lektor yang membacakan adalah pemazmur.

Noor Noey Indah

boleh nambah dikit kan ya…Masih sering dijumpai petugas liturgi bingung dg tugas yg diembannya krn kurang persiapan, kurang pembekalan, bahkan gak ngerti dg apa yg dilakukannya.
Hal ini sangat disayangkan krn bisa menghambat kelancaran dar…i Peryaan Ekaristi yg dirayakan.Petugas Liturgi perlu tau, lebih mengerti dan memahami dg sungguh apa yg menjadi tanggungjawabnya sebagai petugas pelayan liturgi. Hal ini bisa dilakukan dg jalan (salah satunya), gereja membuat wadah utk masing² tugas tsb yg dkoordinir olah seksi liturgi dan didampingi oleh Pastor memberikan pembekalan materi secara berkala dan berkesinambungan, dg maksud supaya masing² petugas benar² memahami setiap tugas yg menjadi tanggungjawabnya.
Sehingga Peryaan Ekaristi dpt berjalan anggun, lancar, hikmad, sakral dan semestinya karena semuanya berjalan benar dan seharusnya.

Didit Irianimasalahnya adalah tidaka ada aturan baku / pedoman yang harus diikuti iapa yang lektor dan petugas lain nya itu sepengetahuan saya mohon bagi yang memiliki mar si kita berbagi

Posted in 1. Lektor, 2. Bagian Liturgi Sabda | Leave a Comment »

KOSTER

Posted by liturgiekaristi on May 12, 2011


Adalah seorang teman bertanya.. Apakah di setiap gereja harus mempunyai Koster ? apa seeh Koster itu..? Apakah Koster juga termasuk petugas liturgi ?

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Salah satu pelayan yg melaksanakan tugas liturgis adalah Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis, busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa. (PUMR 105)

Dengan mengemban tugas tsb, Koster harus melak…ukan persiapan yg meliputi :
1. Persiapan prasarana atau imaterial, misalnya mempersiapkan situasi menjelang pelaksanaan sekaligus menjaga agar upacara liturgi dpt terlaksana secara baik dan lancar, indah dan benar.

2. Persiapan material, yaitu peralatan liturgi dan benda² suci yang menjadi sarana.
Peralatan tsb meliputi fisik gedung gereja serta sejumlah isi didalamnya,misalnya kursi, alat musik, meja altar, kursi utk petugas liturgi dan meja kredens, tabernakel,dll.
Sedangkan benda² suci meliputi : piala, sibori, ampul, wiruk/pendupaan, monstran, piksis sampai pd pakaian liturgi utk imam, misdinar, prodiakon, lektor, dll.

Koster jg harus peka dan bertanggung jawab penuh thd barang² dimaksud mulai dr menerima, menyimpan, dan merawat sampai mempersiapkan utk keperluan perayaan liturgi atau sarana ibadat.

*Sumber : Majalah Liturgi Vol. 21 Edisi 4 th 2010.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

BUKU NYANYIAN LITURGI KENAPA TIDAK SERAGAM?

Posted by liturgiekaristi on May 12, 2011


Pertanyaan umat :

kenapa panduan perayaan ekaresti di gereja khusunya mengenai buku nyanyian seperti Madah Bakti dan Puji Syukur….ini kenapa tdaik dseragamkan?????

Johanes Ogenk Jbso

Bpk Argus, untuk masalah nyanyian/lagu dalam ekaristi, Ada 2 dokumen utama yang dijadikan dasar hukum untuk mengatur masalah musik dalam liturgi :
SC (Sacrosanctum Concilium) disahkan 4 Desember 1963 Paus Paulus VI
MS (Musicam Sacram) disahkan 5 Maret 1967 dalam Kongregasi untuk Ibadat Ilahi

Secara keseluruhan dari ini kedua dokumen tersebut, pada intinya Gereja memberi peluang bagi para seniman untuk mengembangkan keratifitasnya dalam rangka memperkaya khasanah lagu2 dalam perayaan Ekaristi.

Aneka ragam pola musik diperbolehkan dalam liturgi. Untuk itu, insan musik gereja harus menanggapi secara kreatif dan bertanggung jawab untuk mengembangkan musik baru dalam liturgi masa kini tanpa menyimpang dari MS 4 : “Musik liturgi adalah Musik yang digubah untuk perayaan liturgi suci di mana dari segi bentuknya memiliki suatu bobot kudus tertentu seperti contohnya Kategori: Gregorian, polifoni suci, musik liturgi untuk organ/alat musik yang sah, musik liturgi rakyat.”

jadi untuk urusan lagu khusunya, justru gereja mngharapkan penambahan lagu jadi tidak hanya berpatokan pada PS, MB, Buku Biru dll, bahkan khasanah kedaerahanpun dimasukkan dalam lagu2 ekaristi dengan tujuan umat lebih terlibat dan lebih merasakan makna ekaristi.

Masalah MB dgn PS, sebenarnya bukan diganti..tidak ada keharusan untuk menggunakan PS…sejauh ini di daerah jawa tengah dan jogja, MB masih digunakan…PS dikeluarkan sbg penyempurnaan dari MB, dari segi syair (aksentuasi sesuai dgn EYD), Tata suara (sesuai dgn pedoman musik klasik) dll…

menurut pendapat saya salah seandinya kita hanya terpaku pada satu buku nyanyian saja, karena pada akhirnya ekaristi tidak akan berkembang…padahal perlu kita tahu bahwa Kegiatan liturgi sebenarnya bukan cuma menggunakan seni tapi ADALAH suatu seni juga (dialog dengan Allah dalam bentuk simbolik!). Penggunaan seni dalam peribadatan Katolik Romawi mendukung suatu estetika liturgis, di mana hal yang baik (bonum), benar (verum), dan indah (pulchrum) merupakan unsur-unsur esensial yang menjadi kriteria untuk menilai segala sesuatu tentang liturgi.

Link untuk masalah musik dalam liturgi http://belajarliturgi.blogspot.com/2011/03/musik-dalam-liturgi.html (om admin…numpang promo…hehehe)

Posted in 3. Koor dan Organis, e. MUSIK LITURGI | Leave a Comment »

LAGU ANTAR BACAAN MENGGANTIKAN MAZMUR TANGGAPAN?

Posted by liturgiekaristi on May 8, 2011


Pertanyaan umat :

didlm Perayaan Ekaristi  atau ibadat lingk / kring, bolehkan diselipkan lagu antar bacaan stlh petugas membacakan bacaan & sbelum Injil di maklumkan ? Bagaimana sebaiknya ?

Lagu atau nyanyian antar bacaan masih sering dipakai terutama pada saat ibadat atau misa dilingkungan / kring, daripada menggunakan atau menyanyikan Mazmur tanggapan yg sesuai dg bacaan saat itu.

Nah, bagaimana sebaiknya ? dan bagaimanakah c…ara memilih Mazmur Tanggapan utk suatu bacaan ?

kita perlu melihat makna menyanyikan Mazmur yaitu :
Pertama : jawaban atau tanggapan jemaat atas sabda Allah yang telah diwartakan di mana tanggapan tersebut terwakili lewat pengalaman umat Israel yang tercantum dalam kitab Mazmur

Kedua : menjawab dengan pujian atas karya-karya Illahi dari Allah yang terus berlangsung sejak dunia ini diciptakan-Nya hingga sekarang ini

Ketiga : merupakan pewartaan kabar gembira tentang karya keselamatan Allah, di mana karya keselamatan ini memuncak pada diri Yesus Kristus Putra Nya yang tunggal.

ketiga makna tersebut memberi kesimpulan pada kita bahwa teks atau syair yang dinyanyikan atau didaraskan pada Mazmur Tanggapan, bukan bersumber dari SEMBARANG NYAYIAN. Teks atau syair dalam Mazmur Tanggapan harus BIBLIS/ALKITABIAH (bersumber pada Kitab Suci) yang kebanyakan diambil dari Kitab Mazmur, oleh karena itu jangan mudah menggantikan lagu Mazmur Tanggapan dengan lagu lainnya, apalagi lagunya tidak biblis.

Dalam PUMR 61 dikatakan : “Jika sulit untuk dinyanyikan maka Mazmur cukup dibacakan dengan diusahakan refren tetap dinyanyikan. Jika ini masih sulit dilakukan maka Mazmur dan refrennya dapat dibacakan bergantian. Tidak dibenarkan mengganti Mazmur dengan lagu-lagu lain bertema ‘Sabda Allah’.

Nyanyian pengantar injil, Sejak tahun 1970, Bait pengantar Injil mulai diterapkan dalam perayaan ekaristi. Bait Pengantar Injil adalah satu sisipan atau perikop yang berkaitn dengan isi Injil yang dibacakan pada saat itu. Secara Jelas dalam PUMR 62c dikatakan : “bait pengantar injil harus dinyanyikan. Jika tidak mampu menyanyikannya, maka bagian ini sebaiknya tidak didaraskan (dibacakan) dengan kata lain ditiadakan”

kebetulan baru kemarin saya nulis di blog tentang mazmur tanggapan dan Bait Pengantar Injil…lebih rincinya bisa dilihat di http://belajarliturgi.blogspot.com/2011/05/mazmur-tanggapan-bait-pengantar-injil.html

Noor Noey Indah

Dalam rangka pembaruan liturgi, Konsili Vatikan II menaruh perhatian besar thd Kitab Suci yg adlah sabda Tuhan. Dalam setiap kegiatan liturgi, Kitab Suci, termasuk mazmur tanggapan, diberi tempat dan peran yg amat penting, dan keduanya dili…hat sebagai pokok dari Liturgi Sabda.

Tata Bacaan Misa (TBM) menegaskan, “Bacaan-bacaan Kitab Suci tidak boleh diganti dengan bacaan lain; begitu juga mazmur yang diambil dari Kitab Suci. Sebab lewat Sabda Allah yang diwariskan secara tertulis itulah ‘Allah masih terus berbicara kepada umat-Nya’.” (bdk. TBM, 12).

Pencerahan dari SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Sebagaimana dikatakan sdr. Johanes Ogenk Jbso, bahwa Sabda Allah yang telah kita dengarkan, kita menanggapainya dengan bermazmur yang adalah juga Sabda Allah. Artinya Allah menaruh pada mulut (hati) kita SabdaNya, yaitu Mazmur untuk menangg…api SabdaNya. Hal ini merupakan tradisi dalam liturgi Gereja sejak awal, bahkan sejak dari tradisi Yahudi dan berlangsung sepanjang sejarah sampai sekarang.

Maka sebaiknya dalam perayaan Ekaristi di lingkungan/kring atau misa harian digunakan Mazmur Tanggapan, entah dinyanyikan atau didaraskan/dibacakan. Atau refreinnya dinyanyikan, ayat²nya dibacakan.

Lalu bagaimana caranya lagu mazmur yang sesuai dengan Mazmur pada hari yang bersangkutan? atau lagu refrein mazmur sesuai dengan Mazmur pada hari itu? Caranya :

1. Kalau punya buku Mazmur Tanggapan dan Alleluia, di halaman belakang buku itu ada INDEKS ALKITAB yang merujuk halaman buku Mazmur Tanggapan dan Allelui… lalu lihat nomornya yang sesuai dengan nomor lagu dalam buku Puji Syukur.

2. Kalau tidak punya buku Mazmur Tanggapan… untuk mendapatkan lagu refrein Mazmur yang sesuai: lihat di halam belakang buku Puji Sykur di INDEKS ALKITAB, Mazmur apa pada hari bersangkutan… lalu Mazmur tsb atau salah satu ayat yg merupakan refrein dr Mazmur tsb merujuk ke nomor lagu atau refrein mazmur di Puji Syukur.

Contoh, pada hari ini, jumad pekan Paskah II, 6 Mai 2006, Mazmur tanggapan hari ini adalah : Mzr 27: 1,4, 13-14. Untuk mendapatkan lagu refreinnya dalam buku Puji Syukur: di INDEKS ALKITAB menunjukkan bahwa Mazmur 27 ada beberapa pilihan. Saya memilih Mzr 27: 1, yang menunjukkan lagunya di Puji Syukur no. 649 atau refrein lagunya di PS no 847. Saya memilih refrein lagu mazmur PS no 847, sedangkan ayat-ayatnya dibacakan.

3. Cara yang lain, dulu di lembaran kuning buku Puji Syukur pada bagian tentang Tata Perayaan Sabda Hari Minggu, ada dicantumkan nada-nada lagu untuk mendaraskan refrein suatu ayat KS atau Mzr. Atau nada lagu yang menjadi pilihan pada Ibadat Harian. Yang punya PS cetakan lama bisa dilihat di situ atau di Madah Bakti cetakan terbaru.

Mungkin tayangan Kalender Liturgi bisa ditampilkan di page Facebook ini sehingga mudah diakses.

Salam
Philippe

Henricus Haryanto Kenyataan yang ada saat ini : banyak romo yg setuju dan malah ikut menyanyikan lagu antar bacaan(bukan mzmur) sebelum bacaan injil dilakukan. Beberapa romo bahkan membuat pernyataan bahwa bagian dari PE yg tidak boleh diubah2 adalah saat konsekrasi.Bagian lain boleh disesuaikan .

Posted in 2. Bagian Liturgi Sabda, 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

Selama bln Mei dan Oktober apakah kita boleh menyanyikan lagu2 Maria saat komuni ?

Posted by liturgiekaristi on May 5, 2011


Pertanyaan umat :

“Selama bln Mei dan Oktober apakah kita boleh menyanyikan lagu2 Maria saat komuni ?”

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Kembali, persoalannya bukan sekedar boleh atau tidak. Tetapi perlu melihat waktu, tempat dan maksud sebuah nyanyian dibawakan. Ekaristi adalah Puncak dari seluruh Liturgi kita, bahkan dikatakan Ekaristi adalah puncak hidup iman kita; dan di… dalam Ekaristi yang kita rayakan adalah wafat dan kebangkitan Kristus. Tidak ada litugi lain yang lebih tinggi dari perayaan Ekaristi.

Dalam pelaksanaannya, Ekaristi sendiri kan punya thema2 tersendiri, disesuaikan dengan kalender Liturgi, agar seluruh kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus-di mana seluruh rencana keselamatan Tuhan digenapi- dapat sepenuhnya dirayakan. Di sinilah ada bagian2 di mana penghayatan iman terhadap Maria pun mendapat tempatnya, bahkan mendapat bulan2 khusus untuk menghormati Maria sebagai Bunda penyelamat yang istimewa. Ekaristi sendiri kiranya sudah memuat sendiri doa2, prefasi, lagu2 dan sebagainya untuk menghormati Maria.

Jadi sesuaikanlah lagu2 yang dipilih dengan thema perayaan Ekaristi yang benar. Biasanya di luar perayaan2 khusus, penghormatan kepada Maria dilaksanakan pada Ekaristi hari Sabtu. Maka kiranya untuk lagu komuni Selalu harus melihat apa yang mau dirayakan dalam perayaan Ekaristi saat itu. Lagu2 harus disesuaikan dengan bacaan2 Sabda yang dipakai hari itu, bukan berdasarkan mood dan kesukaan seksi liturgi.

Persisnya lagi, lagu komuni lebih berkaitan dan merujuk pada Ekaristi yang secara konkret kita rayakan, kita sambut. Maka focus perhatian umat saat itu lebih pada komuni daripada devosi2 lainnya. Jadi (selain karena secara khusus sedang merayakan keutamaan Maria) sebaiknya lagu2 komuni lebih berthemakan Ekaristi dan kekhusyukan saat menerima Tubuh dan Darah Tuhan, bukan pada yang lainnya. Toh kiranya masih banyak kesempatan2 sejak lagu pembukaan sampai lagu penutup yang bisa dipersembahkan bagi kemuliaan Maria yang kita hormati.

Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ – South Dakota, USASee More

Posted in 3. Koor dan Organis, 5. Bagian Komuni | Leave a Comment »

KOOR YANG DAPAT DIKATAKAN MENDUKUNGAN PERAYAAN EKARISTI YANG BENAR

Posted by liturgiekaristi on May 4, 2011


Topik :

Pernah dengar celetukan umat, “duuh.. koornya kok kacau, fals, amburadul.. jadi gak khusuk neeh berdoanya, terasa mengganggu saja..”.

Pernah gak fans mengalami hal yang sama, lalu.. yang seperti apa seeh Koor yg dpt dikatakan bs mendukung perayaan Ekaristi yg benar itu..?

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Dari beberapa komentar diatas menunjukkan bahwa peranan paduan suara / koor dalam upacara liturgis dirasa penting oleh umat.

Beberapa pedoman praktis yg bisa kita pakai sebagai acuan supaya koor dpt membantu umat mengalami suasana yg menduku…ng dlm berdoa dan perayaan Ekaristi dpt berjalan dg lancar, antara lain ;

1. Memilih nyanyian.

* Hendaknya lagu² yg dipilih adalah lagu² yg yg cukup dikuasai umat.
* Dalam memilih lagu harus diperhatikan juga keselaran tema dan bacaan misa serta masa liturgi.
* Jika ada lagu baru, perlu diperhaikan syairnya, apakah selaras dengan ajaran Katolik (bdk. SC 121).

2. Skala prioritas.

Dalam Musicam Sacram no. 7, memberikan petunjuk lagu² yg harus diprioritaskan, yaitu ;

* Bagian² yang lebih penting, khususnya bagian² yang dinyanyikanoleh Imam atau pembantunya dengan jawaban oleh umat (Ajakan Imam, Aklamasi-aklamasi).
* Bagian² yang harus dinyanyikan oleh Imam dan umat bersama-sama (misalnya pd saat menyanyikan doa Bapa Kami).

☼Sumber dari Majalah Liturgi Vol. 21 edisi 4 th 2010.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

LAGU-LAGU YANG COCOK UNTUK LITURGI

Posted by liturgiekaristi on May 3, 2011


Masih ttg peran Koor dlm Perayaan Ekaristi.
…Biasanya, Koor paling semangat menampilkan lagu² andalannya pd saat Komuni. Bahkan saking bagusnya tak sadar umat memberi tepuk tangan.
menurut fans, sebaiknya lagu² yg seperti apa seeh yg pas utk Komuni ?

PENCERAHAN dariChristianus Hendrik

Dear all,
Pertanyaan mengenai koor ini sedikit banyak sudah pernah dibahas sebelumnya; tetapi tidak ada salahnya sebagai pengingat lagi.
Peranan Koor atau Paduan suara dalam tata perayaan liturgy resmi Gereja Katholik/Perayaan Ekaristi dan ib…adat2 umum lainnya sebenarnya sama, yaitu sebagai pendukung tata liturgy, sebagai petugas yang mendapat kepercayaan istimewa melayani umat Allah dengan cara membantu mereka menciptakan suasana khidmad, khusyuk, dan suci; agar umat sungguh mengalami perjumpaan dengan Tuhan Allahnya yang berinkarnasi dalam diri Putera yang menjadi santapan jiwa dalam rupa Roti dan Anggur.Sebagai pelayan umat, maka peran Paduan suara tidaklah sama dengan “show of performance” yang mengharapkan tepuk tangan dan pujian umat. Tidak ada yang salah kalau itu dilakukan di luar tata liturgi, tapi kalau pada waktu Ekaristi…kiranya perlu dipertimbangkan lagi. Podium atau panggung Koor dalam konteks berliturgi tidaklah sama dengan pertunjukan theatrikal, konser, drama musical atau apapun juga yang sering mendapat applause atau bahkan standing applause setelah pertunjukan. Paduan suara dalam gereja BUKAN PERTUNJUKAN, melainkan PELAYAN umat dalam menjalankan ritual suci.
Ingatlah lagi keledai yang dipakai sebagai tunggangan Yesus di hari Minggu Palma. Hari itu dielu2kan, disorak2 dan dibentangi pakaian di setiap jalan yang dilaluinya. Keesokan harinya si keledai kembali melalui jalan yang sama, dia heran tak ada sorak sorai untuknya; malah ketika dia bertanya2, meringkik2 mencari perhatian supaya mendapat sorak sorai dan tepuk tangan, cuma pukulan dan tendangan diterimanya dari orang2 yang jengkel dan menyuruhnya diam. Sedih, si keledai pulang ke induknya dan bertanya, mengapa orang memperlakukannya demikian? Si induk keledai berkata: “Anakku, kemarin Yesus ada di punggungmu, karena Dia lah orang bersorak2 dan mengelu2kan… Sekarang Dia tergantung di Golgotha, orang tidak melihatmu lagi karena mereka khusyuk memandang Dia yang tersalib. Hanya jika engkau memikul Dia, pujian dan sorak sorai itu pantas bagimu..”
Maaf seribu maaf, saya tidak pernah bermaksud mengatakan bahwa petugas Paduan suara adalah keledai. Tetapi kiranya semangat dan sikap hati yang dikatakan induk keledai itu perlu menjadi teguran dan pengingat bagi para petugas Koor atau Paduan suara di Gereja.- Cantat bis Orat: Bernyanyi (yang baik) adalah dua kali berdoa. Spirit ini harus menjadi alasan bagi para petugas koor untuk sungguh mau mengorbankan waktu dan berdinamika, bersosialisasi bersama yang lain mempersiapkan latihan2 yang continue untuk bisa mempersembahkan paduan suara/koor yang baik pada waktu misa.
-Sebagai Pelayan umat yang membantu mereka menjumpai Tuhannya dalam doa dan pujian. Jadi pusat perhatian umat adalah altar dan segala sesuatu yang dipersembahkan di atasnya, bukan podium koor yang menjadi pusat perhatian. Jangan sampai umat yang dari awal khusyuk memandang ke depan, ke altar dalam doa2 dan pujiannya, tiba2 teralihkan perhatiannya dan menoleh ke koor dengan tepuk tangan meriah. Upah apa lagi yang pantas kita terima dari Allah sebagai petugas koor yang haus dengan pujian dan tepuk tangan??
-Sebagai penggerak umat: Artinya carilah lagu2 yang umum dinyanyikan umat dan ajarilah, pimpinlah umat cara bernyanyi yang baik dan benar. Bukan harus menjadi ‘berbeda’ dengan umat dan bangga menyanyikan lagu2 yang indah tapi asing bagi umat. Kecuali ada ‘misi khusus’ untuk memperkenalkan satu dua lagu baru kepada umat, itu harusnya diberitahukan dan disosialisasikan terlebih dahulu.
-Sebagai lagu komuni: Artinya mengantar orang ke depan altar untuk menyambut Dia yang memberi Tubuh dan Darahnya…Jangan sampai keledai yang menjadi pusat perhatian, tetapi Yesus yang harus disambut. Maka sebaiknya lagu pengiring komuni tidak gegap gempita, populer, meriah, ramai dan bising.. Ada banyak lagu2 yang lembut dan tenang sebagai pengiring; bangunlah suasana tenang dan suci lewat suara2 indahmu.
– Lagu sesudah komuni (kalau masih ada waktu sesudah umat sambut) sesekali bolehlah menyanyikan lagu2 yang khusus supaya menambah khazanah kekayaan nyanyian umat, tapi tetap harus dijaga suasana suci, tenang dan khidmad..

Bedakan antara lagu pengiring komuni (saat umat menerima komuni, koor menyanyikan sesuatu) dan antara lagu syukur sesudah komuni alias madah syukur (umat sudah sambut semua, kemudian mereka duduk…) …………………. Koor bisa menyanyikan lagu komuni tanpa umat ikut menyanyi, tetapi lagu sesudah komuni/madah syukur diminta agar umat ikut serta bernyanyi bersama koor….
lagu pengiring komuni, pastinya mempersiapkan umat menyambut komuni atau menghantar umat dalam menyambutkomunisedangkan lagu sesudah komuni/madah syukur tentunya berisi ungkapan pujian dan syukur karena Tuhan Yesus yg real presensia hadir d…alam diriku… tetapi ini salah satu dari 3 opsi yang diberikan PUMR, bisa juga saat hening (jadi sesudah umat semua sambut komuni, kemudian hening supaya bisa doa dalam hati) atau memanjatkan mazmur kalau lihat TPE kan ada madah syukur mazmur, bisa dipakai itu….

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Bernyanyi dengan baik adalah membawakan nyanyian sedemikian rupa agar sungguh menjadi suatu doa atau minimal mendukung suasana doa.

Instruksi Musik Liturgi memberikan petunjuk : ” Hendaknya dicamkan sungguh-sungguh bahwa kemeriahan sejati su…atu liturgi tidak tergantung pertama-tama pada indahnya nyanyian dan bagusnya upacara, tetapi pada makna dan perayaan ibadah yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis itu sendiri, dan pelaksanaan setiap bagiannya sesuai dengan ciri-ciri khasnya” (MS 11).

Sebaiknya lagu yg dibawakan pada saat komuni adalah lagu yg dpt mendukung umat utk berdoa, karena pada ritus komuni ini merupakan ritus yang tenang dan teduh.

☼Sumber dr Majalah Liturgi Vol 21, Edisi 1 th 2010.

Untuk lebih jelasnya, silahkan klik di link berikut ini :

https://liturgiekaristi.wordpress.com/category/c-petugas-liturgi/3-paduan-suara/

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

SHARING UMAT MENGENAI PADUAN SUARA

Posted by liturgiekaristi on April 5, 2011


Sharing umat:

Minarni Prajogo

Maaf, sy pernah mendengar dr seorang Pastor bahwa stl terima Komuni sebaiknya hening, tidak perlu ada nyanyian lagu krn umat sdg berdoa dan berjumpa scr pribadi dg Yesus. Dan kata-kata beliau ini sangat cocok bagi sy. Berjumpa dg Yesus scr pribadi dlm keheningan. Tapi apa daya selalu ada lagu bahkan umat banyak yg ngobrol pd kesempatan yg sangat kusus ini.

 

Richard K. Utomo

Kalau kita menyadari bahwa Ekaristi adalah perayaan umat (PUMR 19), maka koor/paduan suara bertindak untuk mengajak dan memampukan umat terlibat dalam setiap nyanyian. Dengan demikian umat tidak hanya menjadi pendengar/penonton lalu memberi tepuk tangan. Yang aktual saat ini adalah homili dan komuni adalah saat yang tepat untuk BBM?

Noor Noey Indah

Menyanyi dg baik, belum tentu benar.. tetapi menyanyi dengan benar tentu hasilnya pasti baik.

Paduan Suara atau Koor dalam melayani Misa Kudus, dituntut harus bernyanyi dengan benar, terutama hrs sesuai dg pedoman dan aturan gereja yg sudah …ada, termasuk dlm hal pemilihan lagu, menempatkan sebuah lagu, dan cara membawakan sebuah lagu.

“Untuk menentukan teks-teks mana yang akan dilagukan, hendaknya didahulukan yang lebih penting, yakni : teks-teks yang dilagukan oleh imam atau diakon atau lektor dengan jawaban oleh umat, atau teks yang dilagukan oleh imam dan umat bersama-sama.” (PUMR 40)

Apabila lagu2 sdh disusun, sebaiknya di konsultasikan (termasuk lagu jawaban umat yg akan dipakai dlm Misa) kepada Pastor jauh2 hari sblm tugas, kemudian berlatih dg waktu yg cukup spy lagu dpt dikuasai oleh anggota koor dan dpt dinyanyikan dg baik dan benar.

Tidak harus semua lagu dinyanyikan dengan pecah suara (SATB) bila tidak memungkinkan, cukup dengan satu suara (unisono) tetapi lagu bs dikuasai dan dinyanyikan dg baik dan benar, sehingga dpt membantu Umat utk lebih khusuk berdoa dan Perayaan Ekaristi bisa berjalan dg lancar.

Oh ya, Paduan Suara harus tau lho kapan harus bernyanyi, dan kapan harus berhenti utk saat hening.. 🙂

Johanes Ogenk Jbso

pstinya lbih brntakan misanya klo imam jg ngrangkep jd dirigen, posisinya sebagai IN PERSONA CHRISTI dalam ekaristi sudah dinodai oleh perbuatannya sendiri…sekedar nambahin mudah2an berguna

 

btul memang skrg2 ini bnyk hal mmprihatinkan..pada akhirnya menjadikan EKARISTI sebagai PERTUNJUKAN yg sia-sia..pmbnahan jelas dari kita sendiri (umat) namun para imam juga diminta lebih menghayati dan memahami PUMR krn kadang justru imam yg memncing terjadinya pelanggaran2, atau kadang membiarkan itu terjadi…tapi ya terserah jika memang tujuannya MENJADIKAN EKARISTI SEBAGAI PERTUNJUKAN…klo memang begitu, sy lebih baik tidak jadi orang katolik…

 

 

Posted in 3. Koor dan Organis, p. Kumpulan sharing | Leave a Comment »

PUTRI ALTAR – PUTRI SAKRISTI ??

Posted by liturgiekaristi on March 23, 2011


Pertanyaan umat :

mau tanya, sebenarnya apa sih fungsi dari Putri Sakristi? (bagi yang belum tahu, baru-baru ini, Katedral Jakarta mengadakan pendaftaran untuk calon putri sakristi)

Tanggapan Yuko Pangestu : bagi saya, mau perempuan atau laki-laki sama, kalau ingin mempertahankan tradisi lama, its okay, tapi sesuai perkembangan jaman dimana HAM atas kesamaan gender dijunjung. Yang paling penting adalah kualitas pelayanan individu terhadap Tuhan kita. (misdinar di Paroki pademangan, setahu saya juga memperbolehkan perempuan menjadi misdinar (ini berarti misdinar bukan putra altar saja?))

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Pertanyaan menarik nih… soal gender di dalam gereja…hehehe…. khususnya lagi di seputar altar, alias pelayan altar. 

Saya tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Putri Sakristi. Mungkin diantara para fans yang tahu atau terlibat aktif di …Kataedral Jakarta bisa menjelaskan.

Namun kita saling berinteraksi tantang petugas yang melayani altar, yang kita sebut sebagai MISDINAR atau PUTRA ALTAR. Selama ini umum dikenal bahwa misdinar itu anak-anak laki-laki atau remaja putra. Sedangkan para remaja putri belum umum diterima (kita di Indonesia sudah agak umum diterima …. belum semua loh….) hal ini menjadi perdebatan juga di negara-negara lain…. Bagaimana pendapat Anda?

Dokumen Gereja : Redemptionis Sacramentum (Sakramen Penebusan) no 47 mengatakan demikian :

47. Sangat dianjurkan untuk memperahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak-anak laki-laki atau pemuda-biasanya disebut ajuda atau pelayan Misa, suatu tugas yang dilaksankannya seturut cara para akolit, Hendaknya katekese tentang fungsi mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Perlu diingat berabad-abad lamanya dari amat banyak anak sepereti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis. Hendaknya didirikan atau dipromosikan bagi mereka perkumpulan-perkumpulan, dalamnya keikutsertaan pendampingan oleh orang tua, supaya dengan demikian pula pastoral untuk para pelayan ditingkatkan, Bila perkumpulan-perkumpulan yang demikian bersifat internasional, maka menjadi kompetensi Kongregasi Ibadat dan tata tertib Sakramen untuk mendirikannya atau untuk menyutujui atau merevisikan statusnya. Gadis-gadis atau ibu-ibu pun boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diosesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

Dipersilakan kita saling berdiskusi!

Sebaiknya misdinar hanya laki-laki, tidak harus anak-anak tetapi laki-laki. Jauh lebih baik menggunakan pria dewasa atau lanjut usia daripada menggunakan anak-anak perempuan. Mengapa? Karena tugas misdinar berakaitan dengan tugas yang dulu …diemban para akolit. Lebih jauh lagi misdinar merupakan persemaian yang subur bagi panggilan imamat, karena itu sebaiknya dikhususkan bagi laki-laki. Mengenai puteri sakristi, sebenarnya tugasnya sama dengan tugas koster, mereka membantu koster mempersiapkan perayaan liturgi. Pengadaan puteri sakristi jauh lebih baik daripada membuka pelayanan misdinar bagi anak-anak perempuan. Mengenai soal isu HAM, ini tidak nyambung, melayani Allah bukan hak manusia tetapi anugerah dari Allah, dan Allah memberi kepada siapa Dia berkenan dan melalui tradisi Gereja Allah menunjukkan bahwa sebaiknya pelayan Altar (misdinar) adalah laki-laki. Penggunaan anak-anak perempuan diizinkan, tetapi tidak pernah dianjurkan.

Yuko Pangestu HAM yang saya maksudkan disini tidak berkaitan dengan pelayanan Allah melainkan HAM akan kesamaan gender, saya yakin ini tidak nyambung sama sekali antara pelayanan Allah dengan gender. Terima kasih atas penjelasannya ^_^

Posted in 2. Putra Altar | Leave a Comment »

MC ATAU KOMENTATOR ?

Posted by liturgiekaristi on March 23, 2011


  • Noor Noey Indah

    Selamat pagi Admin dan semua pecinta Page SL tercinta,

    Mau menambahkan sedikit boleh ya…
    Menjadi seorang MC, tepatnya menjadi seorang Pemandu dlm Misa Kudus dituntut utk hrs pintar2 membaca situasi, contohnya, bila di gereja tdk tersedia al…at peraga utk menyampaikan nomor2 lagu yg akan dinyanyikan, atau tersedia tp tiba2 mati lampu shg alat peraga menjadi tdk berfungsi, sebaiknya seorang Pemandu dpt menyebutkan Judul Lagu dengan diikuti Nomor Lagu dr buku atau teks yg dipakai (dari Puji Syukur, Madah Bakti, atau dari teks yg lainnya) dg jelas, spy Umat dpt bernyanyi bersama2 dg tdk pake bingung hrs nyanyi lagu apa.. yg nomor berapa.. atau sebaliknya krn suara Pemandu krg jelas.

    Yang tak kalah pentingnya, pd wkt menyampaikan Nomor Lagu Kudus (Sanctus). Krn tak jarang terjadi, Pemandu mengumumkan Judul dan Nomor Lagu pd saat Lagu Kudus (Sanctus) itu akan dinyanyikan, yaitu pd saat Imam selesai doa / menyanyikan Prefasi.
    Selain mengurangi kekhusukan, pengumuman Judul dan Nomor Lagu ini jg memotong alur doa. Jadi, sebaiknya Judul dan Nomor Lagu Kudus disampaikan pada saat akan mulai DSA, sebelum Dialog Pembuka DSA.

    Demikian, mungkin ada yg mau menambahkan, atau mengoreksi dr tulisan saya diatas.. dipersilahkan… monggo.. 🙂See More

    Yesterday at 9:51am · · 2 people2 people like this.
  • Daniel Pane

    MC dalam liturgi berbeda dengan MC acara biasa, yang dimaksud MC dalam istilah Liturgi adalah orang yang bertugas khusus memandu Imam dalam merayakan Ekaristi (juga menyiapkan pakaian liturgis dll) pendeknya MC adalah penanggung jawab utama… untuk keseluruhan perayaan Liturgi. MC Kepausan saat ini adalah Msgr. Guido Marini, saat Misa berlangsung biasanya dia duduk di sebelah Paus. Biasanya MC hanya digunakan dalam perayaan yang dipimpin oleh Uskup atau Misa Perdana, dan umumnya (tidak selalu) MC adalah Imam. Berikut ini adalah foto Paus bersama MC nya dalam sebuah perayaan Liturgi: http://2.bp.blogspot.com/_N__SuU-FBg4/R06jbrQrDaI/AAAAAAAAAWo/8BUVSLfnjgU/s400/guido+marini+2.jpg dan http://2.bp.blogspot.com/_2tggLZ2rGkg/S0dSmf_jZcI/AAAAAAAAIqE/pVkAD11hG0M/s400/donguido.jpgSee More
    Yesterday at 12:24pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • Noor Noey Indah

    Betul, saya setuju dg Pak Daniel.. kita sering salah kaprah dg arti dr istilah MC dlm liturgi. Jd, istilah yg tepat utk seorang yg membuka Peryaan dg sapaan pembuka kpd Umat sekaligus mengumumkan bhw Misa siap dimulai, memberitahukan lagu2 …yg akan dinyanyikan (bila diperlukan), maupun yg membacakan pengumuman.. istilahnya apa ya..? Komentator ? dia kan tdk memberikan komentar / argumen..

    Mohon pencerahan..See More

    Yesterday at 1:21pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA adakah di tempat anda bacaan Kitab Suci dari lembaran coppy-an teks misa, bukan dari buku Lectionary (buku bacaan)? ada yang mengalami seperti ini, mari kita saling berbagi….

    Yesterday at 3:45pm · · 1 personJoyful Kids likes this.
  • SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

    ‎@Noor Noey Indah : Dalam PUMR no 105 b dan 106, di situ ada istilah komentator, kalau diperlukan, untuk memberi petunjuk singkat kepada umat. dan ada istilah ceremoniarius, di katedral (dan gereja besar) sebagai pemandu perayaan/ibadah.

    105…. Pelayan-pelayan berikut juga melaksanakan tugas liturgis :
    b. Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, ditempat yang kelihatan tetapi tidak di mimbar.

    106. Terutama untuk gereja-gereja katedral atau gereja-gereja yang besar dianjurkan agar ditunjuk seorang pelayan yang mumpuni atau seorang caeremoniarius (pemandu ibadat) untuk mempersiapkan perayaan liturgi dengan baik, membagikan tugas kepada masing-masing pelayan dan mengatur pelaksanaan perayaan, sehingga berlangsung dengan indah,rapih dan khidmat.See More

    15 hours ago · · 1 personLoading…
  • Noor Noey Indah Terimakasih utk pencerahannya, Admin…
    Sekarang gak bingung lagi… 🙂

    13 hours ago ·

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »

AWAM “BUKAN PRODIAKON” BOLEH MEMBERESKAN PIALA BERISI HOSTI ?

Posted by liturgiekaristi on March 21, 2011


 

Pertanyaan umat :

Dlm suatu misa di sebuah stasi,pd saat agnus dei…krn ‘melihat’ romo tidak (belum) mengambil hosti dari tabernakel,,tiba2 seorang pengurus stasi ‘berinisiatif’ mengambil kunci tabernakel,mengambil hosti dan meletakkan nya di altar. Pun demikian setelah komuni,,sang pengurus lah yg ‘membereskan’. Pertanyaan ku,apakah hal ini diperbolehkan?? Atw memang memungkinkan dilakukan oleh seseorg yg bukan ‘petugas khusus’ (pelayan komuni)??

 

PENCERAHAN DARI BP. Daniel Pane

Sebenarnya tidak diperbolehkan. Mengambil Roti dari tabernakel adalah tugas Imam atau Diakon, begitu juga membersihkan bejana-bejana hanya tugas Imam atau Diakon saja.

 

PENCERAHAN DARI SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang PELAYAN-KOMUNI-TAK-LAZIM dalam Perayaan Ekaristi dalam kaitannya dengan TABERNAKEL.
Berdasarkan: Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] dan Redemptionis Sacramentum [RS].

1) Pada dasarnya ‘pelayan yang lazim’ untuk membagikan komuni dalam Perayaan Ekaristi adalah IMAM; dan secara resmi ia dibantu oleh DIAKON. Dalam hal ini, diakon bertugas MEMBANTU imam, dengan kewenangan2 liturgis tertentu. (Lihat PUMR 171.e; RS 154).

2) Bila TIDAK ADA DIAKON, maka AKOLIT-TERLANTIK boleh membantu imam dalam melayani komuni umat. Dalam hal ini, akolit tersebut bertindak sebagai ‘pelayan-komuni-tak-lazim’ (Lihat PUMR 162 dan 191; RS 155).
3) DALAM KEADAAN DARURAT, imam selebran utama dapat menugaskan ANGGOTA JEMAAT YG BUKAN AKOLIT-TERLANTIK, untuk membantu pembagian komuni. Adapun, anggota jemaat itu haruslah dinilai sebagai PANTAS, dan tugas yang diberikan itu bersifat SANGAT KHUSUS/KASUISTIK, artinya hanya untuk kesempatan yg bersangkutan itu saja. (Lihat PUMR 162, RS 155).
4) Penting diperhatikan bahwa:
”….. Mereka selalu MENERIMA DARI TANGAN IMAM BEJANA KUDUS yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman.” (kutipan tsb adalah bagian akhir dari PUMR 162).

5) SESUDAH PELAYANAN KOMUNI, bila ada hosti kudus yang tersisa, maka IMAM-lah yang bertugas MENYANTAP atau MENYIMPANNYA DALAM TABERNAKEL. (Lihat PUMR 163).
6) Dalam hal pembagian komuni DI LUAR Perayaan Ekaristi, pelayan-komuni-tak-lazim dapat menjalankan tugas menerimakan komuni kpd orang sakit BILA PETUGAS TERTAHBIS TIDAK HADIR. Itu berarti, dalam konteks KETIDAKHADIRAN pelayan tertahbis tsb, maka pelayan-komuni-tak-lazim boleh MENGAMBIL SENDIRI KOMUNI DARI TABERNAKEL untuk diterimakan kepada orang sakit. (Bdk. RS 133).

7) Jadi, pada hakikatnya, para pelayan-komuni-tak-lazim ini, dalam hal ini akolit-terlantik atau anggota jemaat lain yang pantas, hanya bertugas MEMBANTU IMAM DALAM HAL MEMBAGIKAN KOMUNI.
8) Maka, seturut ketentuan2 l…iturgis di dalam PUMR dan RS tersebut di atas, pelayan yang seharusnya MENGAMBIL DAN MENGEMBALIKAN bejana2 kudus berisi Tubuh Tuhan dari/ke tabernakel KETIKA PERAYAAN EKARISTI BERLANGSUNG, adalah IMAM.

9) Kalaupun, jumlah bejana kudus (sibori) itu terlalu banyak dan jarak tabernakel dan altar ‘relatif jauh’ maka dalam hal ini SETIAP pelayan-komuni-tak-lazim boleh MEMBANTU imam dengan cara menerima sibori di depan tabernakel LANGSUNG dari tangan imam lalu membawanya ke altar. Demikian juga pengembaliannya. Imam-lah yang memasukkan bejana kudus ke dalam tabernakel, sedangkan para pelayan-komuni-tak-lazim MEMBANTU memberikannya kepada imam di depan tabernakel.

10) Memang, pokok ini bercorak sangat teknis dan di banyak tempat sering ‘didispensasikan’ atas nama peningkatan peran awam dan kebutuhan pastoral-praktis. Namun, jiwa di dalam norma2 liturgis ini adalah AKTUALISASI/EKSPRESI IMAN TENTANG KETERKAITAN ERAT ANTARA SAKRAMEN EKARISTI DAN SAKRAMEN IMAMAT.

Semoga bermanfaat
Salam, ZTT.

Posted in 4. Prodiakon, 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

AWAM WANITA MEMIMPIN PERAYAAN SABDA

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


Post 16 Maret 2011

PERTANYAAN UMAT :

Bagaimana jika di Suatu tempat jarang di Kunjungi seorang pemimpin ,katakanlah Pastor. Dan disana Hanya Ada seorang Wanita yang Biasa Memimpin Ibadat Sabda . Yang hanya Tertahbis Lewat ORIENTASI Tenaga Pelayan Liturgi.atas sponsor Departemen Agama.apakah Pelayanan Itu Sah Dan Di akui Seluruh umat Dan Kaum Awam. kemudian Apkah Itu Masih di sebut Kaum Awam Juga Mohon Penjelasan.

SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

Tentang AWAM-WANITA memimpin Perayaan Sabda.
Berdasarkan Pedoman Umum Perayaan Sabda Hari Minggu (Directorium de Celebrationibus Dominicalibus Absente Presbytero [Roma, 1988]), maka: 

…1) bila tak ada imam, hendaknya dipanggil DIAKON (TERTAHBIS) untuk memimpin (Lihat no. 29).

2) bila imam dan diakon juga tidak ada, maka Pastor Paroki menunjuk para AWAM. Dari sekian banyak awam, pada tempat pertama, pastor paroki hendaknya memilih dari antara para AKOLIT dan LEKTOR YANG TERLANTIK RESMI. (Lihat no. 30).

3) bila lektor/akolit terlantik ini juga tidak ada, maka dapat ditunjuk AWAM LAIN, BAIK PRIA MAUPUN WANITA untuk memimpin doa, pelayanan sabda dan pembagian komuni, sejauh dimungkinkan seturut ketentuan hukum (Lihat no. 30 dan KHK Kan 230 §3).

4) bila AWAM PRIA/WANITA yang tak terlantik itu memimpin perayaan sabda hari Minggu tsb, maka DASAR pelaksanaan tugas mereka itu bukan tahbisan, bukan pula pelantikan resmi, tetapi atas dasar sakramen baptis dan krisma yang sudah mereka terima. (Lihat no. 11).

5) syarat: cara hidup awam pria/wab tersebut haruslah selaras dengan Injil, dapat diterima dgn baik oleh jemaat, dikukuhkan dalam perayaan di hadapan jemaat, dan tugas mereka itu berjangka waktu (Lihat no. 30).

Semoga bermanfaat
Salam.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

PUMR 99 & 101 – KAITANNYA DENGAN LEKTOR

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA

‎”Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan. Dalam perayaan Ekaristi, ia harus menjalankan sendiri tugas khusus itu, biarpun pada saat itu hadir juga pelayan-pelayan tertahbis.” (PUMR 99)

 

Sumbangan beberapa info & klarifikasi istilah: 

1. Menurut pemahaman saya, istilah “Lektor Terlantik” (cfr. instituted lector) dalam PUMR 99 merujuk pada sosok pelayan khusus liturgi seperti yang dimaksud dalam Motu Proprio “Ministeria quaedam” (15 Agt 1972).

http://en.wikipedia.org/wiki/Reader_%28liturgy%29

2. “Lektor Terlantik” seperti disebut PUMR 99 dikukuhkan dalam upacara liturgi yang dipimpin oleh uskup dan dengan format upacara tertentu. Sampai sekarang Vatikan hanya memperkenankan Lektor Terlantik diberikan kepada pria (bdk. Kan 230 §1), meskipun tidak lagi direservasi hanya untuk calon imam. (Dalam sejarah, Lektor Terlantik dulu termasuk salah satu tahbisan minor.)

3. Bagaimana dengan para petugas bacaan liturgi yg di banyak paroki lazim disebut juga sebagai “lektor”? Umumnya mereka ini adalah kaum awam (baik pria maupun wanita) yang telah dipersiapkan secara khusus untuk menjalankan tugas secara teratur di paroki masing2. Tugas & peran yang dijalankan mereka pun praktis sama dengan tugas & peran “Lektor Terlantik”.

Sekalipun mereka telah dipersiapkan dan mungkin juga “dilantik” atau dikukuhkan oleh pastor paroki, dari segi istilah atau sebutan sebenarnya mereka tetap bukanlah sosok “Lektor Terlantik” seperti dimaksud PUMR 99 di atas. Hal ini akan menjadi jelas jika kita bandingkan dengan paparan lanjut PUMR 101.

4. Salut kepada mereka yg dengan aktif ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan sebagai pembaca sabda. Kehadiran mereka sesungguhnya merupakan jawaban konkrit PUMR 101:

“Kalau lektor yang telah dilantik tidak hadir, umat awam lainnya dapat diberi tugas memaklumkan bacaan-bacaan dari Alkitab. Mereka harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat untuk melaksanakan tugas ini, sehingga dengan mendengarkan bacaan-bacaan dari naskah kudus, umat beriman dapat memupuk dalam diri mereka rasa cinta yang hangat terhadap alkitab.”

5. Tanpa mengecilkan partisipasi aktif umat di banyak paroki sebagai pembaca bacaan secara tetap & reguler, apa yg saya tulis di atas hanya bermaksud utk menjernihkan pemakaian istilah “Lektor Terlantik” dalam PUMR 99. Pemakaian & pemahaman istilah secara jernih semoga bisa membantu kita untuk memahami dokumen dan penerapan hal2 yg terkait dengannya secara jernih pula di medan pastoral.

6. Pendek kata, dengan pemahaman istilah di atas, sejauh saya tahu secara formal-yuridis sebenarnya tidak ada banyak “Lektor Terlantik” di paroki2 kita seperti dimaksud PUMR 99. (Dalam situasi & kondisi yg kita punya sampai sekarang, nyatanya sosok ini masih tetap terbatas di kalangan para frater saja sebagai bagian tahapan formasi mereka sebelum tahbisan diakon.)

Sekalipun demikian, secara praktis & aktif tugas dan peran “Lektor Terlantik” ini sudah dijalankan pula oleh banyak umat yg terlibat di paroki masing2 sebagai pembaca sabda.

Semoga berguna.. Peace..

Posted in 1. Lektor | Leave a Comment »

PUMR 47 : KAITANNYA DENGAN WANITA SEBAGAI PELAYAN ALTAR

Posted by liturgiekaristi on March 16, 2011


“Gadis-gadis atau ibu-ibu pun boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diosesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.” (Redemptionis Sacramentum art. 47)

Semoga menjadi jelaslah bahwa perempuan pun boleh melayani altar asal sesuai dengan kebijakan uskup setempat.

PENCERAHAN DARI Agus Syawal Yudhistira

Harus diperhatikan bahwa uskup tidak berkewajiban untuk ini. Jadi selalu diperbolehkan bahwa keuskupan hanya menggunakan tenaga laki-laki sebagai pelayan altar sebagaimana secara normatif dilakukan.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

DIRIGEN KOOR TIDAK ADA – selebran utama pimpin lagu?

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


Pertanyaan umat :

Mau nanya nih Pastor. Apa bisa ya kalo jadi selebran apalagi selebran utam bisa pimpin koor?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Seharusnya imam selebran dan/atau konselebran menjalankan tugas imam yakni memimpin ibadat saat itu.
Sekacau atau sejelek apapun koor saat itu, sebaiknya imam tidak perlu mengambil alih tugas dirigen. Setelah selesai Misa dirigen bisa diajak bicara soal itu demi perbaikan nantinya.

NB.
Saya yakin saat koor tidak ideal menjalankan tugasnya, dirigen pun telah stress batinnya, kalau imam intervensi dan menggeser dia dari tugas itu, maka pasti itu memukul telak perasaan dirigen, down dan groginya tambah parah. …

Sebaiknya kita arif untuk mengoreksi sesuatu, agar kita bisa membantu mereka yang terlibat untuk palayanan sekitar altar terbantu sekaligus “dibesarkan” secara benar.

(Ini pandangan saya, bukan untuk kritik pastor itu …. hehehe)

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Penataan salib di meja pada Misa di rumah umat

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Topik :

Di page ini, ada pertanyaan dari seorang PUTRA ALTAR ” untuk penataan altar…Jika tidak ada salib di altar, misalnya seperti misa di rumah umat, salib kecil yang diletakkan di meja sebaiknya menghadap kemana…?makasiih yaaa untuk jawabannya.. :)gbu.

SEBAGIAN PENDAPAT UMAT :

Gregz Yoy
Seperti yg biasa saya lihat,, salib tersebut menghadap umat…
Tetapi jika pertanyaannya adalah sebaiknya, saya juga tidak tahu…

Misdinar Santa Maria Kartasura
Kalau kami dibiasakan Salib tersebut menghadap ke Imam. Sama seperti Salib yang ada di Piala, Puryficatorium, Patena, dan Juga Pala …. semuanya menghadap ke Imam. Klo kita pas menatanya ya menghadap ke kita eh … kita menghadap ke Salib … apalagi ada Korpus -nya … semoga aja bener deh kebiasaan kami …

Teresa Subaryani Dhs
Bila tidak ada salib yang di dinding, dan hanya ada satu salib. Salib diletakkan dengan corpus menghadap umat. Setau saya, kalau ada salib di dinding pun, harusnya di altar ada salib kecil yang menghadap ke imam. Berhubung tanda salib itu biasanya terukir di altar (di tempat menaruh relikui), maka tidak terlihat.

Hailey Goitom Umino Chikara
sifat tradisionalisme versus sifat liberalisme….huhuhu….nampaknya kedua-dua sifat tersebut saling brlawanan antara satu sama lain dlm diskusi ini…hmm…namun apa2 posisi salib itu xpenting, asalkan realitas sejati, yakni tumpuan umat semasa Misa trtuju kepada kehadiran sejatiNya saat Konsekrasio…moga2 kita semua akan lebih sensitif akan perkara ini…krna sngguh, prkara itu makin hilang dari hati umat dewasa ini…~

Agustinus Dwie Susanto
diparoki kami malah ada 3 salib, 1 didinding menghadap umat, 1 dialtar menghadap imam, 1 dibawa misdinar pas perarakan n ditaruh dekat panti imam, apakah salah atau betul… mhn saran juga

PENCERAHAN2 :

Daniel Pane
Sebaiknya hanya ada satu salib dan salib itu menghadap Imam (jangan menghadap umat). Imam lah yang lebih memerlukan Salib agar ia dapat mengarahkan pikirannya pada Kristus. Sebaiknya tidak ada 2 salib karena mengaburkan fokus dalam Liturgi, dan membuat orientasi jadi tidak jelas (pemaknaannya hanya ada satu Kurban, jadi simbolnya satu saja).
Dulu Salib di buat menghadap umat karena dulu Imam dan umat menghadap ke arah yang sama. Maka, jika Imam dan umat saling berhadapan maka Salibnya harus menghadap Imam.
@Hailey:Penataan posisi Salib itu penting karena akan membantu umat menghayati kehadiran real dalam Ekaristi. Kalau alat bantunya tidak beres susah mengajarnya dan akhirnya makin hilanglah kesadaran itu:D
Praktek yang nyata di Basilika Santo Petrus di Vatikan (juga kalau Misa di Lateran), tidak ada salib besar yang menghadap umat. Di Basilika Salibnya hanya ada satu, yang diletakkan di Altar dan corpus nya menghadap selebran. Jadi maksud Pastor Joseph Ratzinger jelas salib memang sebaiknya hanya satu saja dan menghadap ke arah Imam. Rasanya pendapat… See More ini juga didukung oleh Msgr. Guido Marini (ceremoniarius Liturgi kepausan) dan kalau mau menyebut nama Romo lain, Romo Uwe Lang yang menulis buku “Turning Toward the Lord” bisa dijadikan acuan.

Pastor Yohanes Samiran
Dalam pedoman liturgi rasanya cukup jelas.
a. Salib (meja) altar – corpusnya ke arah imam.
b. Salib pancang sama fungsinya dengan salib dinding altar, tentu menghadap umat.

Posted in 2. Putra Altar, 3. Benda Liturgi lainnya | Leave a Comment »

PUTRA ALTAR – Apakah boleh menambahkan sendiri bubuk wangi2an ke dalam wiruk?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


PERTANYAAN UMAT :

Dalam pemakaian dupa, Imam biasanya mengisi wiruk/pendupaan dengan kemenyan wangi2an lalu memberkatinya sebelum dipakai. Tetapi kadang mesdinar bisa menambahkan sendiri bubuk wangi2an ke dalam wiruk supaya tetap mengepul asapnya. Apakah ini diperbolehkan? Atau harus imam yang melakukannya dengan berkat khusus?”.

PENCERAHAN DARI PASTOR Albertus Widya Rahmadi Putra

Jawaban lengkap atas pertanyaan di atas bisa dibaca di:
http://www.ewtn.com/library/liturgy/zlitur132.htm

PENCERAHAN DARI Teresa Subaryani Dhs:

Dalam misa Agung yang menggunakan dupa. Sebelum memulai perarakan, Imam memasukan biji dupa ke dalam pendupaan dan diberkati, sehingga saat perarakan pendupaan sudah mengepul (keluar asapnya). Kemudian saat sampai di depan altar, Imam memasukan lagi biji dupa ke dalam pendupaan kemudian Imam mendupai Altar. Imam mengisi lagi pendupaan saat Bacaan kedua, untuk kemudian dipakai untuk mendupai Injil. Setelah bacaan Injil, pendupaan dibawa keluar. Dibawa lagi masuk saat perarakan persembahan, Imam memasukan biji dupa lagi, untuk kemudian Imam mendupai bahan persembahan dan setelah itu misdinar mendupai Imam. Setelah itu dipergunakan saat konsekrasi. Perlu diperhatikan apakah akan mengganggu umat bila memasukan biji dupa ketika DSA dimulai, karena pasti menimbulkan suara yang lumayan berisik saat menarik tutup pendupaannya dan juga waktu dari doa epiklesis (awal DSA) sampai konsekrasinya.

Memang benar bahwa misdinar tidak mungkin memberkati dupa (bahkan tidak mungkin memberkati apapun). Pendupaan merupakan bentuk penghormatan dan sebuah doa (CE 84). Tugas misdinar adalah untuk membuat pendupaan ini tetap menyala dalam pengertian tetap mengeluarkan asap. Dalam teorinya, dupa yang ebrsifat aromatis ini mencptakan suasana khusus yang mengantar kita pada yang Ilahi (2Kor 2:14-15), asap yang mengepul ibaratnya doa-doa yang naik menuju Allah (Mzm 140:2, Kis 5:8; 8:3), dupa juga digunakan untuk menunjukkan penghormatan, dan juga sebagai bentuk persembahan serta untuk mengusir roh-roh jahat. Pendupaan saat konsekrasi dalam DSA tidak berfungsi untuk mengkuduskan tetapi untuk menghormati Tubuh dan Darah Kristus ketika diangkat. Jadi saya kira tidak masalah bila misdinar memasukan dupa agar wangi-wangian itu tetap ada saat konsekrasi.

PENCERAHAN DARI PASTOR Martin Nule:

Ini bukan soal rasa atau pikir tetapi sudah harus mengarah kepada “IMAN”. Apa pun yang diberkati oleh Imam/Uskup tapi kalau tidak diimani oleh umat juga tidak manfaatnya untuk umat. Karena itu, segala sesuatu yang dibuat oleh pelayan dalam Liturgi, termasuk juga pendupaan dan diimani sungguh-sungguh oleh umat tidak ada persoalan.

PENCERAHAN DARI BP. Sonny Arends

Biasanya menaburi dupa karena pedupaan hendak digunakan, tidak mungkin Misdinar tanpa sebab tahu2 menaburkan dupa, karena pedupaan itu bukan mainan dan Misa itu bukan waktu untuk bermain. Apabila ada kesempatan dimana misdinar hendak mendupai Romo atau mendupai Umat, maka tentu saja Misdinar itu terkadang harus menambahan Dupa agar Asap Dupa menjadi lebih banyak mengepul.

Pencerahan dari Pastor Christianus Hendrik

Sekedar menegaskan lagi saja apa yang sudah banyak diungkapkan di atas. Intinya memang ini menyangkut tugas mesdinar. Idealnya semakin sedikit gerakan2 yang tidak perlu dilakukan bisa diminimalisir, maka semakin terbuka kemungkinan tata liturgi itu hikmad dan khusuk. Seidealnya juga, bahwa ketika Imam menaburkan wangi2an/incense ke dalam wirug, itu akan cukup sampai saat digunakan lagi untuk pendupaan berikutnya. Jedah waktu biasanya sudah diperhitungkan dalam tata liturgi sehingga pada saatnya lagi Imam akan menambahkan lagi incense seperti saat menjelang bacaan Injil, misalnya, dan saat menjelang Doa syukur agung. Jadi sebenarnya tidak sungguh perlu mesdinar menambahkan sendiri.

Masalahnya tidak segampang itu, kadang Imam sendiri kurang terampil mengatur saat menaburkan dupa dalam wirug. Kadang terlalu banyak bisa mematikan bara, atau terlalu sedikit juga kurang mengepulkan asap. Selain juga kualitas bara berbeda2, kadang terlalu membara sehingga bisa menimbulkan nyala api, bukan asap; atau terlalu kecil baranya sehingga tidak mengepul. Ini tugas koster yang harusnya mengatur dengan baik. Maka melihat situasi, mana yang penting dilakukan oleh mesdinar dan hanya sejauh sangat perlu; sejauh dalam situasi darurat demi menjaga hikmad suasana perayaan.

Hal lain, sekalian mengingatkan, mesdinar tidak perlu terus menerus mengayun2kan wirug saat tidak digunakan/menunggu, seakan2 khawatir nanti mati. Itu hal yang tidak perlu karena pertama hanya akan menambah semakin boros dan terlalu banyak asap saat tidak diperlukan, juga mengganggu konsentrasi umat karena melihat ada yang bergerak terus menerus di sekitar altar. Penting diperhatikan juga agar tidak terlalu dekat dengan pakaian mesdinar supaya tidak membakar. Perlu juga bagi petugas mesdinar untuk melayani Imam dengan menyibakkan kasula saat Imam mendupai apapun di sekitar altar; sejauh tidak ada petugas lain yang lebih tinggi (Imam atau Diakon) yang mengambil alih tugas itu. Thanks

Posted in c. PETUGAS LITURGI | Leave a Comment »

PHOTOGRAPHER/VIDEOMAN – apa yang harus diperhatikan?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat:

Pada suatu Perayaan Ekaristi pernikahan, sering sekali terjadi, para fotographer/videoman hilir mudik di sekitar Panti Imam, bahkan berdiri cukup lama di atas Panti Imam untuk menshooting situasi dari berbagai
sudut. Bagaimana sebaiknya sikap pastor selebran… yang membawa Ekaristi pada saat itu? ? Menegur atau membiarkan?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ

Tidak semua kamerawan itu katolik, sehingga mereka memang fokus dan setia kepada tugas ‘mengabadikan momentum’ itu saja.
Maka cara yang paling baik dan aman adalah saat persiapan akhir pengantin untuk semacam gladi bersih atau konfirmasi teks, perayaan, dll – pastor harus menyampaikan kepada para calon pengantin tentang hal-hal itu supaya disampaikan kepada para kamerawan itu, tentang apa yang boleh dan tidak, dan tentang menjaga kekhidmatan Ekaristi. Bagaimana pun juga kalau Pemberkatan Perkawinan itu diselenggarakan dalam Ekaristi, maka Ekaristi tidak boleh dikurbankan demi hal-hal praktis seperti itu.
Jadi dokumentasi memang penting, tetapi juga Ekaristi jauh lebih penting atau luhur kedudukannya.
Dan lagi kamerawan adalah ‘tambahan’ demi dokumentasi yang justru harus mengabadikan secara tepat dan agung peristiwa itu agar nantinya saat bernostalgia melihat lagi dokumen itu orang bisa menikmati keagungan itu.
Itu pandangan saya …..

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Yg jelas, peran fotografer bukanlah peran konstitutif dlm misa (nikah). Karena itu tak ada privilese khusus bagi mrk utk mondar-mandir & brjalan2 apalagi di area panti imam seenaknya ketika perayaan liturgis sdg berlangsung.

Mungkin soalnya: fotografer tsb tak paham liturgi, apalagi bisa jadi dia bukan Katolik, tak paham aspek fungsional dan arti2 simbolis tata ruang.
Oleh karena itu, saya sangat setuju pendapat2 sblmnya bhw perlu ada pengaturan PROSEDUR (koordinasi misalnya dgn pastor paroki atau Sie Liturgi paroki atw pihak lain yg berwenang); juga, pendapat yg mengatakan bhw fotografer perlu DIBRIEFING sblm perayaan. Dan, kalau toh ketika perayaan, si fotografer kebablasan maka ‘TEGURAN’ YANG SANTUN perlu dibuat.
Pd tataran pastoral-praktis: pastor paroki mengkondisikan sedemikian rupa agar sehari (atw beberapa hari) sebelum hari-H dibuat gladi dgn melibatkan pihak2 terkait, termasuk fotografer. Dgn demikian, briefing liturgis dpt dilakukan pd kesempatan tsb…
Namun, mengingat bhw dewasa ini dpt dikatakan bhw kamera digital (termasuk HP berkamera) bertebaran di mana2 mk fotografer dadakan pun ada di mana2.

Usul :
1) pd buku panduan misa ditulis juga tatib bg fotografr; atau, setiap kali sblm sebelum misa seremoniarius meningatkan tatib termasuk tatib bg para fotografer.
2) pengaturan yg lebih bertanggung jawab ttg hal ini diformalkan (misalnya berupa pedoman resmi) sehingga menghilangkan kesan bhw pastor paroki buat aturan baru seenaknya.

Mungkin terkesan berlebihan bahkan berbelit, namun inilah bentuk nyata dari penghayatan iman kita; inilah juga perwujudan hormat & cinta kita kpd Allah dan Gereja kudus.

Posted in 5. Petugas lain-lain | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – Perannya pada saat upacara perkawinan di gereja

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Dalam perayaan Ekaristi perkawinan, pada saat mempelai datang ke hadapan patung Bunda Maria, biasanya koor mengiringi dengan suara koor atau solis yang jauh lebih keras daripada suara doa sang mempelai. Bagaimanakah seharusnya?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN :

Kebiasaan kurang tepat dalam beberapa peristiwa khusus, berkaitan dengan peranan koor memang perlu ditata ulang.

Koor adalah pendukung liturgi, dan bukan presenter lepas.

Maka sebaiknya bagian utama yang mau disampai dalam kesatuan perayaan diberi perhatian cukup.

Contoh: saat imam mengucapkan forma (rumusan doa dan berkat), penyerahan simbol, dll sebaiknya koor (kalau mau mengiringi) suaranya tidak mengalahkan suara imam atau pelaku perayaan.

Yang sering salah adalah: .

Saat imam memberkati dan menyerahkan cincin, Kitabsci, dan simbol lain Koor telah tampil dengan suara full. Padahal bagian ini ada yang termasuk bagian pokok perayaan perkawinan.

Demikian juga saat pengantin berdoa di depan Bunda Maria, suaranya hilang kalah oleh koor, apalagi suara pengantin perempuan atau pengantin yang malu-malu.

Peristiwa sama beberapa kali saya temukan saat tahbisan imamat …. saat Uskup menyerahkan simbol: pakaian, perlengkapan misa, … atau tahbisan diakon saat penyerahan Kitabsuci … pesan uskup tidak terdengar karena Koor terlalu bersemangat menyanyi dan tanpa mempedulikan bahwa ada “pesan penting” baik bagi si tertahbis, maupun umat.

PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN :

Unsur utama dari bagian penyerahan pengantin kepada Bunda Maria adalah doa pengantin. Kehadiran unsru-unsur ritual lain adalah untuk mendukung unsur utama. Dengan demikian doa pengantin seharusnya dibawakan dengan suara yg secukupnya dan menjadi perhatian dari semua yg beribadat. Di Basilika San Pietro – Vatikan, pernah sy ubah sebuah susunaN liturgi yg disiapkan dari Indonesia dengan orientasi agak mengemukakan pentingnya paduan suara. Dan memang seharusnya begitu. Karena yg jadi pokok dlm perayaan sakramen perkawinan adalah pengantin yg menghadirkan sec. sacramental hubungan Kristus-Gereja.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – penggunaan lagu2 yang tidak terbiasa sangat mengganggu jalannya liturgi ?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Komentar umat :

Setelah mengikuti liturgi Paskah, saatnya berbagi berevaluasi sekitar pelaksanaan liturgi nya …

Seperti di Gereja Kotabaru Yogyakarta, betapa penggunaan lagu2 yang tidak terbiasa sangat mengganggu jalannya liturgi yang akhirnya sangat tidak mendukung kemeriahan/keagungannya. Bahwa selama ini umat terbiasa lagu2 dari MB dan kemudian saat misa Paskah menggunakan lagu2 dari PS sungguh mengacaukan! Alangkah baiknya jika akan diambil kebijakan tsb hendaknya beberapa bulan sebelumnya diintrodusir lagu2 dari PS sehingga telinga umat jadi terbiasa, akhirnya bisa ikut berpartisipasi. Apalagi ditunjang koornya yang kurang siap betapa semakin membuat “runyam”, saat misa Raya nyanyian yg seharusnya menopang kemeriahan/keagungan liturgi menjadi sebaliknya …

PENCERAHAN DARI PASTOR CHRISTIANUS HENDRIK :

hemm…bisa ikut merasakan kegalauan hati bpk Ajie. Memang bisa disayangkan kalau untuk perayaan hari yang sangat agung beberapa hal kurang dipersiapkan dengan baik. Bukan soalnya lagu2 diambil dari mana atau jenis lagu apa. Tetapi umumnya untuk hari2 raya seperti Paskah, atau natal toh sudah ada lagu2 yang “standar” yang sudah akrab di telinga dan hati umat. Rasanya tidaklah membosankan untuk menyanyikannya hanya dalam kesempatan khusus setahun sekali. Lalu kalau ada upaya memperkenalkan lagu2 baru sebaiknya tidak pada hari2 raya atau tidak pada waktu umat belum mengenal sungguh lagu2nya.

Bahwa demi mensosialisasikan lagu2 baru, memang dibutuhkan waktu agar umat menjadi cukup familiar mendengarnya hingga bisa membantu kekhusukan doa. Bagaimanapun, masalah koor ini sering menjadi perdebatan ketika ‘action’ nya dalam perayaan Ekaristi berlebihan. Koor sebaiknya dan sedapat mungkin melibatkan umat, dan tugas koor adalah membantu ‘memimpin’ umat supaya bisa ikut bernyanyi lebih baik. Jadi koor bukan menggantikan peran umat dalam bernyanyi dengan menampilkan lagu2 baru yang (walaupun indah) umat sendiri tidak bisa menyanyikannya…lalu jadi ‘penonton konser’ dalam perayaan Ekaristi. Berkali2 diingatkan agar petugas koor mengkomunikasikan lagu2 yang mau dipakai kepada Imam yang akan memimpin, jauh hari sebelumnya, supaya masih ada kemungkinan pertimbangan dan perubahan sejauh perlu.

Kadang bentuk sosialisasi lagu2 baru ini bisa diambil kesempatan pada waktu menjelang misa, di mana koor sudah menyanyikan lagu2 baru untuk diperkenalkan ke telinga umat yang datang sebelum misa, sebelum nantinya pada waktu Misa lagu itu dinyanyikan bersama. Tentu tetap memperhatikan suasana hening dan hikmad sebelum Misa kudus supaya umat tetap ada kesempatan untuk hening…. See More

Entah menggunakan MB atau PS, keduanya adalah buku umat dan tidak ada yang salah mengenai itu. Hanya selalu perlu persiapan dan sosialisasi yang baik sebelum digunakan, apalagi untuk hari2 khusus seperti hari raya Paskah dsb.

Semoga liturgi itu semakin indah ketika kita juga selalu mempersiapkan hati untuk merayakannya bersama seluruh umat; semoga semakin banyak orang memperoleh kesempatan menimba kekuatan rohani dari liturgi yang dipersiapkan dengan baik dan yang sesuai dengan situasi umat setempat. Selamat Paskah, selamat membaharui hidup dalam kekuatan kebangkitanNya.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – Pencerahan masih mengenai soal tepuk tangan

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


KOMENTAR/TANGGAPAN PASTOR ALO LAMERE MSC (DIKUTIP VIA SEBUAH MILIS):

Investasi rasa besalah atau guilty feeling selalu dibuat oleh Gereja sepanjang zaman. Dalam kasus tepuk tanganpun saya merasa Gereja turut menginvestasi rasa bersalah itu. Saya sependapat dgn von Magnis tentang perlunya rasa hormat terhadap Tuhan yang hadir dalam ekaristi. Namun apakah orang atau umat berniat untuk menghina Tuhan dgn tepuk tangan? Mereka pasti tdk bermaksud demikian. Dengan mengatakan bahwa tepuk tangan pada saat org selesai menyanyikan lagu tertentu sbg penghinaan maka sekarang org mulai merasa bersalah. Tanpa sadar von Magnis mengivestasi rasa bersalah dalam diri umat yang tadinya tidak bermaksud menghina Tuhan. Sekarang kalau org mau tepuk tangan lalu pikiranya ke “penghinaan pd Tuhan”, sebuah pikiran yang tak pernah terlintas dalam benaknya sebelum membaca komentar von Magnis. Sekali lagi melalui para pelayannya Gereja menginvestasi rasa bersalah dalam diri umat. Salam, alo lamere msc

PENJELASAN DARI ROMO MAGNIZ SUSENO SJ, ATAS TANGGAPAN PASTOR ALO LAMERE

—– Original Message —–

From: F. Magnis-Suseno, SJ

Sent: Monday, March 15, 2010 10:29 PM

Subject: Re: Tepuk tangan waktu komuni

Salam,

Pertama, saya minta maaf, baru sekarang sempat menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan surat pembaca saya di Hidup. Tetapi saya terlalu penuh dengan pekerjaan yang tidak dapat saya kesampingkan. Sekarang pun saya hanya dapat menjawab dengan singkat.

1. Jang saya sesalkan hanyalah tepuk tangan sebagai applaus di tengah misa, apalagi di saat komuni dibagi. Tidak ada alasan untuk keberatan dengan tepuk tangan yang mau memuji Tuhan, seperti lazim di kalangan karismatik. Seperti ada tarian liturgis, begitu bisa saja umat memuji Tuhan dengan bertepuk tangan.

2. Yang saya sesalkan adalah aplaus bagi koor (tentu juga: bagi khotbah imam, bagi tarian persembahan dll.) di tengah misa. Misa adalah peristiwa paling suci dan paling inti dalam Gereja, ekspresi iman paling dalam. Dalam misa Allah yang Mahasuci hadir. Seluruh ritus misa diarahkan untuk memuji Allah dan dalam pujian bersama umat dipersatukan. Semua nyanyian umat dan kor dan segala keindahan adalah untuk memuji Tuhan dan membuka hati kita, umat. Dan bukan untuk memamerkan diri. Maka aplaus dalam misa sangat tidak tepat.

3. Itu khusus berlaku di saat menerima komuni. Tak ada saat lebih sakral dalam iman kita dan barangkali di dunia. Tuhan Yesus Putera Allah sendiri datang kepada kita masing-masing, seluruh perhatian harus diarahkan kepadaNya. Ini saat paling khusuk bagi umat, ia dipersatukan dengan kurban Yesus di salib dan dengan kebangkitanNya. Maka dalam tradisi Gereja komuni selalu dirayakan dengan khusuk, dalam bentuk yang memperlihatkan hormat yang kita tunjukkan kepada Tuhan kita, dengan sikap konsentrasi pada Tuhan (dulu orang, sesudah menerima komuni, menutup muka waktu berdoa). Maka saya – saya, bukan uskup – andaikata ada applaus, akan menghentikan kelanjutan komuni karena saya menganggap aplaus itu sebagai desakralisasi. Tentu maksud umat tidak sebagai itu, tetapi, dengan pinjam dari Paulus, kalau kita tidak bisa membedakan makanan itu dari makanan biasa, ya kita berhenti saja. Saya juga akan melakukannya untuk menshok umat. Misa bukan konser.

4. Tetapi berterimakasih pada akhir misa adalah sangat tepat, juga tergantung kekhususan pelayanan masing-masing pihak (misalnya di masa Natal dan Paskahan). Di situ koor pantasan diterimakasihi dan tentu juga boleh, dan sebaiknya, ditepuki tangan. Kemampuan untuk berterimakasih adalah tanda keluhuran jiwa dan kita boleh berterimakasih untuk apa saja. Kalau pun koor dan imam melakukan pelayanan mereka murni bagi Tuhan, kita tetap boleh menyatakan terimakasih. Akhir misa adalah saat yang tepat.

5. Suatu catatan tambahan: Barangkali kita perlu belajar lagi bahwa Allah, ya Allah Bapak kita, perlu selalu kita dekati dengan sikap hormat setinggi-tingginya. Barangkali kita terlalu enak bicara tentang dan dengan Allah Bapak. Dalam Perjanjian Lama, tetapi juga Perjanjian Baru (“mereka ketakutan” di gunung Tabor) theophania , penampakan diri Allah, selalu amat mengejutkan dan orang merasa akan mati. Syukur, Yesus mengajar kita bahwa Allah itu Bapak kita dan kita tidak perlu takut. Tetapi dalam doaNya, doa pertama adalah “dikuduskanlah namaMu” (sebenarnya bukan: “dimuliakanlah”; teks Yunani, baik pada Mattheus maupun Lukas adalah ” hagiasteto to onoma sou” , hagios adalah kudus dalam arti kesucian mulak murni Allah yang tidak ada kekotoran sedikit pun; “dimuliakannya termasuk dalam “dikuduskanlah”, tetapi kurang lengkap, karena tidak mengungkapkan bahwa permohonan pertama ini membawa implikasi bahwa kita harus juga kudus (tentu tak tercapai), “sempurna seperti BapakMu di surga sempurna”). Lelucon tentang Allah: boleh saja, tetapi dalam lelucon yang menyangkut Allah kita sebenarnya selalu tertawa tentang manusia yang berhadapan dengan Allah, bukan tentang Allah (biasanya isi lelucon baik tentang Allah – Gus Dur tahu banyak – kalau dilihat persis, yang ditegaskan adalah kebesaran hati Allah dan kepicikan manusia). Karena itu dalam Gereja yang ada sakramennya kita tidak akan omong seenaknya, melainkan kalau perlu omong, dengan suara kecil dan hormat, juga kalau kita membawa tamu bukan Katolik yang tidak tahu siapa yang ada di tabernakel.

6. Ada tanggapan seorang Romo bahwa Gereja suka menyebabkan umat guilt feeling (merasa bersalah) dan jangan sampai “larangan” tepuk tangan juga menambah guilt feeling yang tak perlu. Tentu jawaban saya yang pertama adalah bahwa kalau kita berbuat salah, kita seharusnya merasa bersalah, dan kalau kita tidak merasa bersalah, kita memang bersalah. Menurut saya, kalau kita berlaku seakan-akan tidak tahu apa yang terjadi pada saat kita komuni, kita seharusnya merasa bersalah. Paulus pun mempersalahkan umat di Korintus. Tetapi Romo tentu juga benar. Khususnya tidak perlu selalu takut dalam hal ritus, atau kalau misalnya karena lupa kita di hari Jumat di masa puasa tidak pantang, tak perlu merasa salah berlebihan. Kita hendaknya merasa bersalah kalau membuat orang sakit hati, kalau kita keras hati, kalau kita menipu orang, kalau kita mencuri “domba milik orang kecil” (Daud), dlsb. Hal bagaimana membawa diri di gereja, dan waktu misa, lebih menyangkut semacam sopan-santun keKatolikan yang seharusnya sudah berdarah daging di hati kita, di mana, kalau kita tidak membawa diri dengan hormat, kita tidak perlu merasa bersalah berat (Tuhan tidak picik), tetapi merasa malu terhadap Tuhan, itu boleh saja.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – Pencerahan dan Saran

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Setuju 100% dg Romo Franz MS.

Di samping itu penghinaan sakramen, melengkapi tulisan saya dan beberapa teman, soal penyanyi dan suara indah saat Misa ….. perlu dan pas tidak ditepuki, kalau mengacu “Nyanyian sebagai pujian” (bdk Qui bene cantat bis orat), maka nyanyian di situ termasuk kategori “pujian atau doa”. Maka adalah tidak pas juga kalau… ada orang yang berdoa dan doanya bagus sekali rumusan maupun cara membawakan amat pas sehingga umat hanyaut dalam doa itu …. lalu setelah selesai doa, umat bertepuk tangan atas doa itu.

Dalam cara pandang ini pasti mudah sekali melihat ketidak-pasan tepuk tangan dalam kasus Nyanyian (= pujian) saat Misa. Dan dalam pola pandang ini rasanya tidak akan ada lagi pro kontra tentang boleh atau tidaknya, perlu atau tidaknya, pas atau tidaknya memberikan tepuk tangan kepada singer(s) saat Misa kudus, terutama saat komuni.

Tepuk tangan saat Perayaan Ekaristi sedang berlangsung, terutama saat komuni masih berlangsung adalah kurang tepat tempat dan waktunya; karena saat komuni adalah saat di mana orang menikmati perjumpaannya (persatuannya) dengan Yesus Tuhan. Maka hadirnya orang atau penampilan orang atau koor yang yang mengalihkan atau merampas perhatian akan “saat perjumpaan” pada dasarnya tidaklah tepat momentum/timingnya.

Bandingkan kita menantikan Paus atau presiden, dan saat beliau datang ada orang yang tampil ke panggung dan mengundang tepuk tangan kita. Tentu saja tindakan itu atau kebiasaan itu kurang pas.

Lagu-lagu saat komuni seharusnya membantu jemaat untuk menghayati persatuaanya dengan Tuhan dan membangun suasana supaya orang bisa membangun kebersamaan yang efektif denganNya. Maka saat semacam itu yang amat dianjurkan adalah “HENING” agar orang bisa berkomunikasi dan menyambut Tuhan dalam doa. Oleh karena itu kalau pun ada lagu, sebaiknya doa yang agung dan membantu suasana khidmat itu. Lagu yang paling bagus adalah seperti misalnya: Ekaristi Sakramen Mahakudus, Panis Angelicus, dan sejenisnya.

Pada dasarnya boleh dan bisa dimaklumi kalau harus ada tepuk tangan, maka tepuk tangan diberikan pada bagian penutup. Misalnya pastor saat mengucapkan terimakasih atas koor yang apik, atau kalau orang ingin mengharapkan apresiasi umat dengan tepuk tangan, bisa membawakan lagu andalan itu bukan saat komuni tetapi saat Penutup.

NB. Tradisi tidak baik dengan kebiasaan tepuk tangan spontan atas Koor atau nyanyian seseorang, adalah membangun kebiasaan salah yakni memperlakukan atau menganggap gereja seperti “pentas atau panggung” untuk ekspresi atau unjuk kebolehan. Akibatnya orang akan merasa kecewa kalau tidak ditepuki dan tepuk tangan seolah menjadi pertanda sukses atau tidaknya mereka menjalankan tugas paduan suara tersebut.

Padahal tugas Koor adalah untuk membantu atau mendukung agar perayaan Ekaristi lebih mudah dan khusuk dihayati oleh umat yang hadir.

TANGGAPAN SUSULAN PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Tepuk tangan saat Perayaan Ekaristi sedang berlangsung, terutama saat komuni masih berlangsung adalah kurang tepat tempat dan waktunya; karena saat komuni adalah saat di mana orang menikmati perjumpaannya (persatuannya) dengan Yesus Tuhan. Maka hadirnya orang atau penampilan orang atau koor yang yang mengalihkan atau merampas perhatian akan “saat perjumpaan” pada dasarnya tidaklah tepat momentum/timingnya.

Bandingkan kita menantikan Paus atau presiden, dan saat beliau datang ada orang yang tampil ke panggung dan mengundang tepuk tangan kita. Tentu saja tindakan itu atau kebiasaan itu kurang pas.

Lagu-lagu saat komuni seharusnya membantu jemaat untuk menghayati persatuaanya dengan Tuhan dan membangun suasana supaya orang bisa membangun kebersamaan yang efektif denganNya. Maka saat semacam itu yang amat dianjurkan adalah “HENING” agar orang bisa berkomunikasi dan menyambut Tuhan dalam doa. Oleh karena itu kalau pun ada lagu, sebaiknya doa yang agung dan membantu suasana khidmat itu. Lagu yang paling bagus adalah seperti misalnya: Ekaristi Sakramen Mahakudus, Panis Angelicus, dan sejenisnya.

Pada dasarnya boleh dan bisa dimaklumi kalau harus ada tepuk tangan, maka tepuk tangan diberikan pada bagian penutup. Misalnya pastor saat mengucapkan terimakasih atas koor yang apik, atau kalau orang ingin mengharapkan apresiasi umat dengan tepuk tangan, bisa membawakan lagu andalan itu bukan saat komuni tetapi saat Penutup.

NB. Tradisi tidak baik dengan kebiasaan tepuk tangan spontan atas Koor atau nyanyian seseorang, adalah membangun kebiasaan salah yakni memperlakukan atau menganggap gereja seperti “pentas atau panggung” untuk ekspresi atau unjuk kebolehan. Akibatnya orang akan merasa kecewa kalau tidak ditepuki dan tepuk tangan seolah menjadi pertanda sukses atau tidaknya mereka menjalankan tugas paduan suara tersebut.

Padahal tugas Koor adalah untuk membantu atau mendukung agar perayaan Ekaristi lebih mudah dan khusuk dihayati oleh umat yang hadir.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – Tepuk tangan pada saat Komuni

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


SURAT 2 DARI PASTOR FRANS MAGNIZ SUSESO SJ MENANGGAPI BANYAKNYA KOMENTAR UMAT TERHADAP SURAT 1.

Surat saya tentu pendapat pribadi. Sejauh saya tahu, tahu ada aturan Gereja Katolik Indonesia, dan apakah ada aturan dari Vatikan, saya kurang ahli (dan saya lupa apakah dalam Surat k/l 8 tahun lalu tentang liturgi dari Roma yang sangat tegas, hal tepuk tangan disebut; yang mestinya tahu Rm. Dr. Martosujito Pr, dosen di FTW, Fakultas Teologi U. Sanata Dharma di Yogya).

Khususnya yang menyangkut bahwa saya akan langsung menghentikan pembagian komuni (jadi dalam misa itu tidak akan ada pembagian komuni kecuali yang sudah menerimanya) adalah sikap saya pribadi. Tidak harus orang bertindak sekeras itu.

Akan tetapi jelas juga bahwa yang saya tulis tentang sakralitas saat komuni adalah 100% ajaran dan keyakinan Gereja Katolik. Begitu pula bahwa kadang-kadang diizinkan tepuk tangan di tengah misa, apalagi waktu komuni, jelas secara objektif sebuah penghinaan sakramen – “objektif”: umat tidak sadar dan karena itu memang tidak sadar bahwa ia menghina dan karena itu juga bukan dosa yang harus diakukan. Karena itulah saya akan menghentikan komuni. Supaya umat menjadi sadar. Saya tahu kebetulan bahwa Paus kita secara serius mempertimbangkan memindahkan “salam damai” ke akhir misa karena merasa bahwa keributan itu – orang tidak hanya berjabat tangan, melainkan jalan-jalan – mengganggu konsentrasi pada komuni di mana kita umat seharusnya berada dalam keadaan doa batin siap-siap menyambut Tuhan Yesus.

Jadi meskipun dari uskup setempat (Rm. Kardinal) tidak ada instruksi, saya anggap yang saya tulis sesuai dengan semangat Gereja. Tepuk tangan di tengah misa, apalagi waktu komuni (atau waktu doa syukur agung), amat sangat tidak tepat, dan sebetulnya memberi kesaksian negatif, kesaksian bahwa umat sebenarnya tidak percaya/sadar bahwa Tuhan ada di antara mereka. Bahkan khotbah yang sangat bagus pun tidak disambut dengan tepuk tangan (meskipun dalam keadaan sangat khusus boleh ada kekecualian). Saya – dan juga Paus – sangat khawatir kalau misa merosot menjadi semacam “mari kita asyik bertemu”. Misa itu rahasia di mana kita ditarik ke dalam keilahian Tuhan Yesus, dan itu memang mempersatukan kita: satu roti satu Kristus satu umat, sehingga segi keumatan memang penting juga dan hakiki, tetapi tidak dengan menyingkirkan hal luar biasa – adakah agama lain yang punya itu – bahwa Tuhan kita datang harafiah kepada kita.

Barangkali masalahnya hanya bahwa kita sepertinya tak pernah bisa serius, selalu bersemangat “biar merasa enak saja”.

Semoga tulisan ini membantu.

Salam

Franz Magnis-Suseno SJ

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PADUAN SUARA – Tepuk tangan pada saat komuni

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Tepuk Tangan Saat Komuni

SURAT 1 DARI PASTOR FRANS MAGNIZ SUSENO SJ

PERKENANKAN SAYA berbagi grundelan dengan para pembaca terhormat. Malam Natal saya konselebrasi dalam misa di salah satu gereja paroki. Perhiasannya bagus, liturgi pantas, khotbah menyentuh, koor menyanyi indah, umat bersemangat.

Hanya ini: waktu komuni suci dibagikan, seorang bapak dari koor, dengan suara penyanyi professional, menyanyi solo, sangat ekspresif. Sesudah selesai, umat penuh semangat bertepuk tangan. Pada saat komuni dibagi!…

Saya amat terkejut. Kok bisa! Komuni adalah peristiwa paling sakral bagi umat katolik, bahkah ritus paling sakral dari semua agama. Pada saat itu, seluruh perhatian umat seharusnya seratus persen terpusat hanya pada satu ini: Yesus, Allah-beserta- kita yang sedang datang. Masak pada saat suci itu umat membawa diri bak penonton sinetron! (Pastor paroki kemudian menceritakan bahwa ia sudah memperingatkan umat tetapi tanpa hasil, dan bahwa pernah waktu itu mau memberikan hosti suci kepada seorang umat, dia itu bertepuk tangan dulu).

Apa umat belum pernah membaca I Korintus 11:29? Terus terang, andaikata saya yang memimpin upacara, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian komuni dan mengajak umat berdoa doa tobat.

Saya mengalami tepuk tangan seperti itu juga pada perayaan ekaristi lain. Suatu kesesatan penghayatan yang memalukan apabila orang tidak lagi bisa membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan! Apakah dilupakan bahwa hormat semua pemeran dalam Ekaristi –pastor, pengkhotbah, koor, umat, dll terletak dalam pelayanan tanpa pamrih, demi kemuliaan Tuhan, yang mereka berikan? Apakah koor-koor kita lupa bahwa tugas satu-satunya mereka adalah membuka hati umat bagi Tuhan dengan keindahan lagu-lagu mereka. Tentu tepuk tangan pada akhir Misa, pada saat pastor menyatakan terima kasih adalah tepat dan sesuai.

Sebagai catatan: Lagu solo sebaiknya hanya diadakan pada akhir ibadat. Hal itu sepenuhnya juga berlaku bagi Ekaristi perkawinan. Kalau perkawinan ditempatkan dalam Ekaristi, seluruh perayaan harus berupa pujaan terhadap Allah dan bukan pemanis para mempelai. Kalau iman kita pada Ekaristi mau credible, kita harus belajar kembali menunjukkan sikap hormat terhadap Allah yang hadir.

Franz Magniz-Suseno SJ

Johar Baru, Jakarta Pusat.

Posted in 3. Koor dan Organis | Leave a Comment »

PRODIAKON – Adakah ijin menerimakan Sakramen Orang Sakit?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011


Pertanyaan umat :

Adakah kemungkinan atau barangkali saat ini sudah pernah ada, bahwa Diakon Awam atau ProDiakon mendapatkan ijin menerimakan Sakramen Minyak Suci/Sakramen Orang Sakit? Merujuk dasar hukum yang mana? Trima kasih.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Semoga beberapa input berikut bermanfaat bg kita semua :

Pertama, tentang NAMA. Nama resmi dari sakramen ini adalah “Sakramen Pengurapan Orang Sakit” (Sacramentum Unctionis Infirmorum) atau sering disingkat Sakramen POS. Dulu disebut ‘Sakramen Perminyakan Terakhir’ karena diberikan hanya kepada org yg ada dlm sakrat maut (lih. KGK 1512).

Kedua, tentang ORANG SAKIT. Yg dimasukkan dlm kategori org sakit adalah kaum beriman yg mengalami sakit berbahaya atau keadaan kesehatannya sgt terancam (bdk. KHK Kan 998, KGK 1513). Hakikat dari Sakramen ini adlh menabahkan hati penderita dgn penghiburan iman dan doa bersama (Pedoman Pastoral Liturgi Org Sakit, no. 6). Karena itu, org yg sakit tua pun dan mrk yg mengalami kecelakaan dan mrk yg kritis dan di ambang maut pantas didampingi dgn Sakr POS.

Ketiga, ttg PELAYAN SAKRAMEN. Seiring dgn terbitnya tata perayaan Sakramen POS (Ordo Unctionis Infirmorum Eorumque Pastoralis Curae, Roma 1972), para uskup Indonesia dalam MAWI [KWI] mengajukan usulan kpd Konggregasi Sakramen dan Ibadat agar Sakramen POS boleh diterimakan oleh pelayan umat yg adalah pemuka awam. Jawaban Roma: negatif. Maka sbg jalan tengah atas dasar kebutuhan dan situasi khas Gereja Indonesia, sejak 1976 disusunlah upacara khusus [‘Upacara Pemberkatan Khusus Orang Sakit Keras/Tua’] yg dipimpin oleh awam bila Sakramen POS tak memungkinkan.

Keempat, “Meski ketika hidup saya diperlakukan seperti hewan dan sampah, tetapi ijinkan saya memasuki kematian sebagai malaekat: Mulia, mulia dan bermartabat.”

PENCERAHAN DARI BAPAK AGUS SYAWAL YUDHISTIRA :

Prodiakon BUKAN Diakon Awam.. istilah Diakon mengasumsikan penerimaan Sakramen Imamat. Karena itu setiap Diakon adalah Klerus, bukan awam.

Yang disebut dengan Pro-Diakon (istilah yang sering kali menyesatkan umat), bahasa tepatnya adalah Pelayan Komuni Luar Biasa atau Pelayan Komuni Tidak Lazim.
Disebut demikian karena pelayan Komuni adalah tugas Klerus (Uskup, Imam, Diakon).
Setelah Klerus, yang bisa diserahterimakan menerimakan Komuni adalah Akolit tetap (menerima pelantikan berupa tahbisan-minor)..

Dalam keadaan dimana Klerus tidak berimbang dengan jumlah umat, umat awam yang diberi delegasi dan dipersiapkan khusus bisa membantu imam membagi Komuni. Inilah yang disebut di Indonesia dengan istilah Prodiakon.

Sakramen Perminyakan hanya dapat diterimakan Imam dan Uskup. Bahkan seorang Diakon juga tidak memiliki kuasa menerimakannya.
Selain Kitab Hukum Kanonik diatas, lihat juga Katekismus Gereja Katolik artikel 1516.

Posted in 4. Prodiakon | Leave a Comment »