Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 579,926 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ))’ Category

Mengapa orang Katolik merayakan Pesta Salib Suci setiap tanggal 14 September?

Posted by liturgiekaristi on September 20, 2014


Bertumbuh dalam Iman:

Mengapa orang Katolik merayakan Pesta Salib Suci setiap tanggal 14 September? Apa perlunya pesta mengenang Salib Suci ini bagi pertumbuhan iman kita?

Tahu kah anda bahwa peristiwa penting yang mendasari Pesta Salib Suci diawali sejak pertama kali ditemukannya Relikwi Palang kayu Salib Suci pada tahun 326?

Berdasarkan data2 historis yang ditulis oleh St. Yohanes Krisostomus; Ratu Helena – Ibu dari kaisar Konstantine yang kelak dikenal sebagai Santa Helena (St. Helen) pada waktu itu mempunyai kerinduan yang sangat besar untuk menemukan dan melihat dari dekat kayu salib yang pernah dipakai untuk menyalibkan Tuhan Yesus.

Terdorong oleh keinginannya yang kuat, Santa Helena pergi berkunjung ke Yerusalem dan mengerahkan sejumlah bawahannya untuk mengadakan penggalian dibukit yang disebut Kalvari.
Para penggali menemukan tiga kerangka kayu salib yang diduga pernah dipakai untuk menyalibkan dua penjahat criminal dan satu orang yang bernama Yesus.

Kesulitan yang mereka alami waktu itu, mereka tidak tahu dari antara ketiganya mana kayu salib yang digunakan untuk menyalibkan Tuhan Yesus. Kebetulan pada waktu itu ada sekelompok pelayat yang mengantar jenasah seorang pria yang hendak dimakamkan dan termasuk seorang wanita yang sakit parah sudah bertahun2.

Mereka berdua dihadirkan di tempat penggalian dan satu persatu ketiga kayu salib disentuhkan ke tubuh mereka. Dua kayu salib yang pertama tidak membawa dampak apa2. Tetapi ketika palang kayu salib yang ketiga disentuhkan ke tubuh mereka; si wanita yang sakit bertahun2 sembuh seketika itu juga, dan jenasah pria yang siap dimakamkan hidup kembali.

Menyaksikan hal itu, Ratu Helena menjadi yakin bahwa itu adalah kayu salib Tuhan Yesus. Berita penemuan bersejarah dan keajaiban kayu salib ini menyebar begitu cepat dan orang2 beriman berdatangan untuk melihat dari dekat kayu salib yang mulia tempat Yesus pernah tergantung dan bersujud menghormati kesucian kayu yang khusus ini.

Seorang Patriakh dan pimpinan agama di Yerusalem yang bernama Makarios menegakkan kayu salib Tuhan Yesus dan meninggikannya supaya orang2 bisa memandang, berlutut menyembah untuk menghormati misteri penebusan Tuhan Yesus yang nyata hadir di dunia, dan menepuk dada seraya berkata “Tuhan, ampuni kami orang berdosa” berkali2.

Ratu Helena, yang kemudian menjadi Santa Helena memerintahkan untuk mendirikan Gereja di tempat ditemukannya Salib Suci. Gereja yang didedikasikan bagi penemuan Salib Suci dan dikuduskan sebagai gereja Makam Suci selesai diresmikan pada tanggal 13 September tahun 335 (dibutuhkan 9 tahun untuk menyelesaikan pembangunan Gereja Makam Kudus sejak ditemukannya salib suci)

Tradisi Iman Katolik kemudian meresmikan Pesta Salib Suci harus dirayakan setiap tahun pada hari berikutnya (tanggal 14 September) untuk mengenangkan dan mensyukuri karya Penebusan Tuhan Yesus dan mengucap syukur atas kayu salib suci nan mulia yang menjadi symbol paling kuat bagi identitas iman Kristiani. Basilika Makam Suci di Yerusalem sampai saat ini dihormati sebagai tempat paling kudus dan suci bagi orang Kristiani dari pelbagai denominasi, tidak hanya bagi orang Katolik.

Jika anda sekarang bangga mengenakan hiasan kalung salib, anting2 dan gelang yang memakai liontin Salib, dsb. Ingatlah darah dan kurban mulia Tuhan Yesus dibalik keindahan dan mahalnya perhiasan salib yang engkau pakai.

Jika engkau dengan bangga menempatkan kayu salib di setiap ruang kamar rumahmu, di sekolah, di rumah sakit; jangan pernah lupa saudara-saudari kita yang hari2 ini tersalibkan dan harus meregang nyawa karena iman mereka demi “Dia yang pernah tergantung di kayu Salib nan mulia” ini.

Dan dalam perayaan Salib Suci ini, ingatlah bahwa engkau dipanggil bukan hanya untuk mengenakan hiasan salib penuh kebanggaan, tapi juga hendaknya hidup kita harus memancarkan kemuliaan dan kesucian seperti Tubuh yang dulu pernah tergantung di kayu salib itu untuk pertama kalinya….

Dan engkau yang pernah/sedang jauh dariNya, pulanglah kembali dan pikullah salibmu bersama Dia yang telah dimuliakan, supaya hidupmu kelak juga ditinggikan bersamaNya.

Salam Hangat pada Pesta Salib Suci untuk mu semua – Kita bangga akan salib Tuhan Yesus yang menjadi jalan keselamatan kita.

Doa dan berkatku (P.Hend. SCJ)

Advertisements

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa ada Trinitas atau Tritunggal Maha Kudus: Bapa Putera dan Roh Kudus (bagian kedua)

Posted by liturgiekaristi on May 1, 2014


BERTUMBUH DALAM IMAN: Bagian KEDUA…..

Orang Katholik punya Tuhan tiga? Mengapa ada Trinitas atau Tritunggal Maha Kudus: Bapa Putera dan Roh Kudus?

Pertama, saya harap kita sungguh yakin bahwa Allah kita adalah Tuhan yang Esa, Satu, dan Tak terbatas hakekatNya. Itu kunci iman kita.
Sekarang bagaimana memahami kehadiran Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus dalam pemahaman iman kita?
Maaf, saya tidak mampu menjelaskannya, tapi saya mungkin bisa ‘membantu’ anda membayangkannya supaya lebih mudah ‘merasakan’ dan “meyakini” ke-Allah-an Allah kita:

Ambillah tiga batang lilin yang cukup besar, biar mudah dipahami secara visual. Nyalakanlah lilin yang pertama. Ketika sudah menyala, bayangkanlah nyala lilin itu sebagai nyala lilin “Allah Bapa” (tentu saja ini jauh dari sepadan dari hakekat Allah yang sesungguhnya, tetapi dalam hal ini tujuannya adalah sebagai alat bantu).

Dalam kasus nyala lilin itu, kita tahu dari mana asalnya, kita yang menyalakannya memakai korek api atau pemantik. Tapi dalam kasus Allah, kita tak bisa menjelaskan dari mana, bagaimana, dan kapan hakekat Allah kita mulai ‘menyala’. Yang kita tahu dan yakini adalah: Allah kita itu tanpa awal dan akhir, Alpha dan Omega, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Amin. Itulah makna dari yang Tak terbatas.

Selanjutnya, nyalakanlah lilin yang kedua dengan menggunakan nyala lilin yang pertama – ingat, jangan menggunakan korek api atau lainnya-harus dari nyala lilin yang pertama. Setelah menyala, bisakah anda menjawab pertanyaan saya: Apakah nyala lilin yang kedua itu sama dengan nyala lilin yang pertama, atau berbeda? Saya harap anda akan kesulitan menjawabnya. Karena jawabannya bisa kedua2nya. Bisa dikatakan nyala lilin yang kedua sama, karena berasal dari nyala api yang sama dari lilin yang pertama; tapi sekaligus juga berbeda, karena nyalanya independen, tidak tergantung pada nyala lilin yang pertama.

bayangkan seperti ini: Karena Allah mengasihi manusia yang serba terbatas dan tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri sejak kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa; maka Allah berkehendak untuk ‘masuk’ dan hadir dalam keterbatasan manusia, supaya bisa dilihat, diraba, dirasa, didengar, dipahami, dan dimengerti oleh keterbatasan manusia. Itulah sebabnya Ia mengutus PuteraNya Yesus Kristus (nyala lilin yang kedua) menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

Berikutnya, nyalakan lagi lilin yang ketiga dari nyala lilin yang pertama. Apakah nyala lilin yang ketiga sama dengan nyala lilin yang pertama dan kedua? Jawabannya tetap bisa sama sekaligus berbeda. Karena berasal dari nyala lilin yang sama, tapi sekaligus independen, berdiri sendiri sendiri.

Gunakan imaginasi anda: Ketika Yesus wafat dan bangkit, Ia kembali kepada Allah (satukan lagi nyala lilin kedua dengan nyala lilin yang pertama). Ketika kedua nyala lilin itu dipersatukan, bisakah anda membedakan mana nyala lilin yang pertama dan mana nyala lilin yang kedua? tentu sulit bukan, karena keduanya menjadi satu kembali.

Begitulah Allah mengutus Roh Kudus seperti yang dijanjikanNya untuk menyertai kita sampai akhir jaman. Anda bisa bermain dengan menyatukan ketiga nyala lilin bersamaan, dan memisahkannya lagi berkali2. Ketika disatukan, ketiganya membentuk satu nyala lilin, ketika dipisahkan ketiganya berdiri sendiri2 sebagai nyala lilin yang sama sekaligus berbeda.

Begitulah, dalam keterbatasan kita memahami yang Tak terbatas, setidaknya kita sedikit terbantu memahami Kehendak Allah yang “tak terpahami” itu dalam bahasa dan pemahaman kita yang serba terbatas. Hanya dengan hati penuh syukur dan hormat, kita memandangi “hakekat” ketiga nyala lilin yang ajaib itu dalam konteks keselamatan kita.

Dalam masa Minggu Suci ini, kita secara khusus merenungkan dan mencoba menghargai kembali hakekat kemanusiaan Yesus yang dikoyak2 oleh dosa kita. Pandangilah nyala lilin yang kedua, dalam rasa syukur juga atas nyala lilin yang pertama; dan mohonlah penyertaan dan perlindungan Tuhan ketika anda memandang cahaya lilin yang ketiga, sebagaimana kita memohon penyertaan Roh Kudus dalam hidup kita.

Hanya dalam tradisi iman Katolik, kita sampai menaruh perhatian sepenuh2nya pada kemanusiaan Yesus, pada peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia untuk keselamatan kita. Semoga kita memasuki masa Pekan Suci dengan penuh iman dan rasa syukur; sambil membaharui lagi janji Baptis kita. Semoga kita semua dibangkitkan pada hari Paskah mulia Tuhan kita.

Salam hangat,
P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Sekedar mengingatkan, dalam perayaan malam Paskah nanti, kita akan menggunakan image yang sama:Cahaya Lilin Paskah. Menurut tradisi yang benar, dalam upacara cahaya, seluruh umat menyalakan lilinnya masing2 dari nyala lilin yang sama dan satu: Lilin Paskah yang dinyalakan terlebih dulu.

Itulah symbol yang paling kuat menampakkan kesatuan iman kita dalam Kristus cahaya dunia. Kita semua ‘mengadopsi’ Roh yang sama, spirit yang sama, nyala lilin yang sama, terang yang sama; supaya kitapun menjadi terang bagi dunia.

Selamat mempersiapkan Pekan Suci dan Paskah Kebangkitan Tuhan.

Salam, P. Hendrik. SCJ

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Bagaimana memahami dan menghayati devosi MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Posted by liturgiekaristi on May 1, 2014


BERTUMBUH DALAM IMAN:

Bagaimana memahami dan menghayati devosi MINGGU KERAHIMAN ILAHI (Divine Mercy Sunday)

Hari Minggu Kedua Paskah, atau yang jatuh persis sesudah Oktaf Paskah, disebut juga sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi(Divine Mercy Sunday) Tahun ini jatuh pada tanggal 27 April 2014, besok minggu ini.

Dari antara sekian banyak bentuk devosi2 yang berkembang dan hidup dalam tradisi Katolik, kiranya Devosi Kerahiman Ilahi (Divine Mercy) menempati kedudukan yang paling utama. Tentu saja ini dikarenakan bentuk devosi ini mengacu langsung pada belaskasih dan kemurahan hati Allah (tidak seperti devosi2 lainnya yang dihidupi lewat perantaraan santo-santa dan/atau Bunda Maria -walaupun dalam prakteknya seringkali devosi terhadap Maria jauh lebih populer).

Paus Francis mengatakan: “Belas kasih merupakan pesan yang paling kuat menunjukkan daya kekuatan Allah dalam hal pengampunan. Bukanlah hal yang mudah untuk percaya secara pribadi akan belas kasih Tuhan, karena Belas kasihNya sangat tak terukur dan tak terjangkau kedalamannya; tapi kita harus berani meyakininya” – karena tanpa keyakinan akan belas kasih Allah hidup kedosaan kita hanyalah kesia2an.

Allah memiliki kemampuan yang tak terbayangkan untuk mengampuni dan melupakan dosa2 kita; itulah sebabnya setiap kali berhadapan dengan pendosa, Yesus selalu merangkul mereka, memeluk dan mencium penuh kasih sambil mengatakan: “Akupun tidak akan menghukummu; pergilah dengan selamat dan jangan berbuat dosa lagi…”

Anugerah terbesar yang boleh kita terima dalam perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ini adalah:
“Orang-orang yang datang untuk pengakuan dosa melalui sakramen tobat dan menerima Komuni Kudus pada hari Minggu Kerahiman Ilahi, akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa2 yang disampaikan dalam sakramen tobat.

Tentu saja, untuk memperoleh anugerah yang sangat mulia ini, kita harus mempersiapkan diri dengan banyak doa dan pertobatan hati yang tulus. Devosi ini bisa dilakukan dengan memulai persiapan beberapa hari sebelumnya; dengan mendoakan Novena Kerahiman Ilahi, bisa ditambah sendiri dengan puasa dan matiraga (jika merasa sangat perlu memohonkan pengampunan atas dosa2 yang sangat berat), dengan menerima sakramen tobat sebelum perayaaan Ekaristi Minggu Kerahiman Ilahi, atau hari2 sebelumnya sepanjang Oktaf Paskah); dan menghadiri perayaan Ekaristi secara khidmat dan kesungguhan hati menyambut komuni pada hari minggu Kerahiman Ilahi.

Selamat menyambut hari Minggu Kerahiman Ilahi, selamat belajar untuk percaya sungguh bahwa Tuhan pasti mengampuni dosa2mu dan melimpahkan berkatNya. Jangan lupa mendoakan sanak keluarga dan orang2 yang engkau kasihi untuk memohonkan juga belaskasihan bagi jiwa2 mereka.
Salam hangat,
P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa ada Trinitas atau Tritunggal Maha Kudus: Bapa Putera dan Roh Kudus

Posted by liturgiekaristi on May 1, 2014


BERTUMBUH DALAM IMAN: Bagian Pertama…..

Orang Katholik punya Tuhan tiga? Mengapa ada Trinitas atau Tritunggal Maha Kudus: Bapa Putera dan Roh Kudus?

(Mohon hati2 dan dipahami perlahan2, saya coba untuk membahasakannya dalam dua tahap):

Pertanyaan ini sudah terlalu banyak dan terlalu sering diajukan, mengapa? Karena persis di bagian inilah umumnya iman orang Katolik sangat lemah dalam memberi penjelasan. Mengapa sulit menjelaskannya? Karena itulah salah satu bukti bahwa Allah kita memang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya, karena Ia memang Maha besar dan Maha tak terbatas. (selain membuktikan juga banyak orang Katolik yang kurang mau belajar sungguh2 mendalami imannya sendiri-maaf)

Bagi saya pribadi, pertanyaan seperti itu sudah salah dan sudah “dimentahkan” dengan sendirinya oleh pertanyaan yang keliru. Bagaimana mungkin? Kita andaikan saja yang bertanya adalah seorang yang beriman pada Tuhan yang Esa, yang Satu dan Tak terbatas (bisa Katolik, bisa juga non-Katolik- karena pemahaman kita akan Tuhan yang Esa sebenarnya sama)

Sekarang, jika kita mengakui Allah itu Maha segalanya, tak terbatas dalam segalanya; lalu bagaimana mungkin yang tak terbatas itu bisa hadir bersama dengan “yang tak terbatas lainnya”, apalagi sampai ada tiga?? Maka, sekali orang berpikir bahwa ada tiga tuhan, seketika itu juga runtuhlah pemahamannya tentang Allah yang tak terbatas.

Itu saja sudah menjawab pertanyaan, bahwa tidak mungkinlah orang Katolik punya tiga tuhan yang sama2 tak terbatas. Sebaliknya, kalau dikatakan bahwa “dua tuhan” yang lainnya sedikit terbatas dibandingkan tuhan yang satunya; itu berarti hakekatnya bukan benar2 Tuhan seperti yang kita yakini; karena Tuhan dalam keyakinan kita adalah Satu, Tunggal, Maha kuasa, dan Maha tak terbatas (Credo: Aku percaya akan SATU Allah, Bapa yang Maha Kuasa…..dst)

Sampai sini, saya harap anda masih bisa mengikuti uraiannya dan memahami inti penjelasan saya….

Lalu…., bagaimana memahami istilah Tritunggal Maha Kudus, Trinitas, atau hakekat Bapa, Putera, dan Roh Kudus?? Kita lanjutkan pada bagian kedua sesudah ini….

Salam hangat,
P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MENGAPA IMAM MENGGUNAKAN KASULA DAN STOLA (VESTMENTS) YANG BERBEDA2 WARNANYA?

Posted by liturgiekaristi on December 18, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

MENGAPA IMAM MENGGUNAKAN KASULA DAN STOLA (VESTMENTS) YANG BERBEDA2 WARNANYA?

Setiap masa tertentu sepanjang tahun liturgi Gereja memiliki warnanya tersendiri sesuai thema iman yang mau diwartakan. Imam menggunakan pakaian misa dengan warna tertentu untuk merefleksikan dan mewartakan pesan iman sesuai dengan masanya.

Untuk masa Advent dan Prapaskah Imam menggunakan Kasula berwarna UNGU untuk menghadirkan pesan pertobatan. Juga biasa dipakai saat kematian/ pemakaman sebagai tanda berkabung.

Pada saat Natal, Paskah, Kamis Putih, beberapa perayaan2 untuk menghormati bunda Maria, dan perayaan2 meriah lainnya (Pemberkatan Gereja, Tahbisan, Perayaan kaul2, dsb) memakai Kasula berwarna PUTIH untuk menghadirkan pesan sukacita dan keagungan karya Allah.

Sepanjang masa biasa, di luar hari2 raya dan peringatan, Imam memakai Kasula warna HIJAU; melambangkan kehidupan dan kesetiaan.

Warna MERAH digunakan pada hari Minggu Palma, Jumat Agung, pesta dan peringatan para martir, dan misa2 yang bertema Roh Kudus/misa Krisma.

Warna BIRU dipakai untuk menghormati Bunda Maria yang terberkati (tetapi sudah jarang dipakai/tidak banyak gereja2 yang memiliki warna biru, dan bisa diganti warna Putih).

Khusus untuk minggu ketiga Advent (Gaudete) dan minggu kelima Prapaskah Kasula Imam bisa menggunakan warna PINK/ROSE untuk Sukacita dan harapan pada masa penantian dan persiapan Natal atau Paskah.

Menarik manakala melihat ada cukup banyak umat yang jeli melihat keindahan dan keagungan pesan warna-warni dalam tradisi Liturgi Gereja ini; dan menyesuaikan pakaian mereka untuk ke gereja selaras dengan warna-warni liturgis pada masanya. Bukan suatu keharusan, tetapi setidaknya jika kita tahu urutan warna-warni Liturgis ini; akan memudahkan kita untuk berbusana yang cukup sesuai – artinya tidak sampai bertentangan: misalnya saat menghadiri upacara kematian malah memakai warna merah. Secara kultural pun nampaknya hal itu terasa agak aneh…

Keindahan warna-warni dalam perayaan iman kita kiranya perlu didukung juga oleh seluruh umat dalam penghayatan yang sesuai, agar kehidupan iman kita semakin dibangun dalam kebersamaan.

Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

KAPAN TAHUN BARU LITURGI GEREJA DIMULAI, DAN MENGAPA ADA TAHUN2 YANG BERBEDA?

Posted by liturgiekaristi on December 17, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

KAPAN TAHUN BARU LITURGI GEREJA DIMULAI, DAN MENGAPA ADA TAHUN2 YANG BERBEDA?

Tak terasa, sudah lima puluh tahun lebih usianya (1963), tepatnya tanggal 4 Desember 2013 yang lalu, sejak Paus Paulus VI mengumumkan dan mengeluarkan secara resmi dokumen “Konstitusi tentang Liturgi Suci” (Sacrosanctum Concilium), yang merupakan rumusan dokumen pertama dalam Konsili Vatikan kedua.

Salah satu hal penting yang dibahas dalam dokumen ini adalah tentang variasi urutan bacaan2 Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi; yang membawa pada perkembangan penggunaan “Putaran tiga tahun” bacaan2 hari minggu dan hari raya. “Putaran bacaan tiga tahunan” ini kita kenal dengan: Kalendar tahun A, B, dan C.

Setiap perayaan Ekaristi hari minggu dan hari raya, Gereja mewartakan tiga bacaan2 Kitab Suci yang umumnya: satu bacaan dari Perjanjian Lama (bacaan Pertama), lalu satu bacaan dari Perjanjian Baru (bacaan kedua), dan satu bacaan Injil (Mat, Mark, Luke, John). Serangkaian mazmur dan antiphon juga ditempatkan sesudah bacaan pertama sebagai tanggapan bacaan.

Dari sinilah kita mengenal bahwa tahun baru Liturgi Gereja dimulai pada saat Advent minggu pertama (yang artinya, tanggal 1 Desember 2013 yang lalu adalah tahun baru dalam penanggalan liturgi kita). Dan bacaan2 Injil untuk kalendar liturgi tahun ini umumnya diambil dari injil Matius, dengan beberapa variasi dari Injil Yohanes di sepanjang tahun, sampai Advent tahun depan.

Tahukah anda, jika kita rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari, atau minimal setiap hari Minggu dan hari Raya; setelah tiga tahun berjalan, kita tanpa sadar sebenarnya sudah membaca/mendengar hampir seluruh isi Kitab Suci kita mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu.

Nah, sudah berapa kali anda sebagai orang Katolik mengalami tiga-tahunan-putaran Kalendar Liturgi? Artinya, sudahkah anda pernah menyelesaikan membaca Kitab Suci dari Kej. sampai Wahyu? Belum terlambat untuk memulai lagi….

Bukan tamat membaca-nya yang penting; tetapi lebih penting lagi untuk rajin membaca KS, agar kita lebih familiar dan akrab dengan kisah2, tokoh2 dan nama2 tempat yang ada di dalam Kitab Suci; sehingga ketika mendengar Sabda Allah dibacakan dalam Perayaan Ekaristi, kita menjadi jauh lebih mudah untuk memahami isinya, terutama ketika Imam menjelaskan maknanya bagi kita…. Selamat menjalani tahun Liturgi yang baru dengan semangat baru…Gaudete.
Salam hangat, P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

SIKAP BATIN SEPERTI APA YANG HARUS SAYA BANGUN SELAMA MASA ADVENT INI, DAN BAGAIMANA MEMAHAMI ADVENT SEBAGAI BAGIAN DARI HIDUP IMAN SAYA?

Posted by liturgiekaristi on December 10, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

SIKAP BATIN SEPERTI APA YANG HARUS SAYA BANGUN SELAMA MASA ADVENT INI, DAN BAGAIMANA MEMAHAMI ADVENT SEBAGAI BAGIAN DARI HIDUP IMAN SAYA?

Adven adalah masa “peringatan” – maksudnya kita diingatkan akan kedatangan ‘sesuatu’ atau “seseorang Pribadi yang khusus” yang kita sebut “Emanuel”, Sabda yang menjadi Manusia. Advent selalu berada di bulan terakhir dalam tahun; jadi merupakan saat yang tepat juga untuk melihat kembali kehidupan iman kita setelah sepanjang tahun: Adakah kemajuan dan perkembangan yang significant atau cukup berarti dalam hidup imanku sepanjang tahun ini? Atau hidup rohaniku sama saja seperti tahun kemarin dan tak ada kemajuan, malah semakin mundur dan jauh dari kehidupan Gereja???

Advent juga berarti masa “persiapan”, dan waktunya sangat mendesak. Inilah saatnya Bunda Gereja kembali bertanya kepada kita setiap pribadi: “apa yang bisa engkau lakukan untuk membuat dirimu siap dan pantas secara rohani, spiritual dan bahkan secara fisik untuk menyambut kedatangan Tuhan?”

Kita tahu dan percaya bahwa Yesus akan datang pada saat akhir zaman dengan segala kemuliaanNya. Tetapi “kedatanganNya” juga bisa terjadi dalam bentuk lebih personal-individual dalam peristiwa yang kita sebut kematian; dan itu berarti bisa kapan saja, bukan? Masa Adven ini juga mendorong kita untuk membuat persiapan yang diperlukan sehingga kita secara pribadi mampu bersukacita, bersyukur, dan dijadikan pantas dan layak untuk menerima segala anugerah rahmat yang datang bersamaan dengan kenangan akan Sabda yang menjadi Manusia.

Perayaan2 Ekaristi yang kita ikuti tiap hari, atau tiap minggu, sampai saat natal selalu menukik pada inti terdalam misteri Penjelmaan Allah yang menjadi manusia untuk keselamatan kita. Jadi itulah focusnya. Seluruh refleksi dan permenungan kita sebaiknya terarah pada thema Inkarnasi tersebut untuk membangun sikap syukur dan terimakasih atas rencana Kasih Allah yang agung dan mulia; dan sedapat mungkin mengupayakan diri kita secara fisik dan rohani terlibat dalam karya keselamatan Tuhan dengan pelbagai cara, misalnya:

– Ambil bagian dalam tugas2 perayaan di gereja. Atau jika sudah biasa terlibat, mengupayakan untuk mempersembahkan pelayanan yang terbaik demi membantu umat menemukan imannya lewat perayaan2 Ekaristi.

– Mendekati, mengajak, mengingatkan, dan menemani saudara-i kita yang lupa akan imannya untuk kembali ke pangkuan gereja. (Banyak anak2 Tuhan yang hilang, yang secara pribadi punya niat ingin kembali ke gereja pada saat natal, tetapi secara pribadi ragu, takut, dan merasa asing karena sendirian dan tidak merasa kenal dengan orang2 di gereja. Mereka butuh teman)

– Mencoba lebih peduli pada orang2 yang membutuhkan di sekitar kita. Mempersiapkan diri (bersama keluarga)selama masa Advent ini, untuk menyisihkan sedikit dari rejeki kita untuk nanti dipersembahkan kepada orang2 yang kekurangan; ini sudah merupakan bentuk konkret kita meniru teladan Dia yang menyisihkan KemuliaanNya dan menjadi manusia lemah.

– Mencoba menunda, mengurangi, atau mengatakan “Tidak” untuk pesta2, perayaan2 yang tidak relevan dan bisa mengaburkan permenungan kita akan karya Agung kasih Allah pada masa natal-setidaknya sampai minggu terakhir Advent. Termasuk di dalamnya upaya untuk mengurangi kecenderungan konsumtif, hura2, dan kecenderungan hanya mau peduli akan diri sendiri.

– Mengupayakan lebih sering menyisihkan waktu untuk doa2 pribadi, dan hening bersama Allah untuk menimba kekuatan rohani.

– Menggunakan masa Advent ini sebagai kesempatan untuk membersihkan diri, memperbaharui diri, juga lewat pengakuan dosa, meminta absolusi dan penintensi yang berguna bagi hidup rohani kita melalui tangan Imam.

– Silahkan membuat rencana dan program2 rohani lainnya yang membangun iman sebagai bentuk persiapan dan keterlibatan kita pada masa natal yang sudah dekat.

Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ, SOuth Dakota-USA

Posted in n. ADVEN - NATAL, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

LANGKAH2 PERMENUNGAN SEPANJANG MASA ADVENT MENGIKUTI KEEMPAT RANGKAIAN LILIN ADVENT

Posted by liturgiekaristi on December 10, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

LANGKAH2 PERMENUNGAN SEPANJANG MASA ADVENT MENGIKUTI KEEMPAT RANGKAIAN LILIN ADVENT

Tanda paling kuat yang menampakkan bahwa saat ini merupakan masa Advent adalah Lingkaran Lilin Advent di gereja2 dengan nuansa warna ungu. (semoga di rumah2 umat beriman juga secara sederhana mengadopsi rangkaian lilin Advent ini sebagai simbol membawa “spirit”-semangat Advent, juga di rumah dan keluarga mereka).

Dalam tradisi Katolik, sudah sejak bertahun2 lamanya berkembang praktek2 populer menghayati suasana Advent dengan renungan2 seputar bacaan Kitab suci masa Advent dan berdoa di sekitar lingkaran lilin Advent. Singkatnya, setiap lilin sebenarnya memiliki “nama2 simbolis” yang menandakan pergerakan hati kita mengikuti minggu demi minggu sampai saat natal.

Lilin pertama yang kita nyalakan minggu lalu disebut “Lilin Nabi” (Prophet’s candle) yang melambangkan HARAPAN. “Nabi” yang dimaksud merujuk pada Nabi Yesaya yang banyak meramalkan tentang kedatangan sang Mesias. Bacaan2 masa ini juga banyak dari kitab Yesaya…

Minggu ini, kita menyalakan lilin kedua, yang disebut “Lilin Betlehem” yang melambangkan IMAN yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan sang Juruselamat. Semoga iman kita yang dingin dan beku dihangatkan kembali dan semakin memantas diri untuk layak menyambut sang Juru selamat.

Minggu depan kita akan menyalakan lilin ketiga: “Lilin Gembala” yang melambangkan SUKACITA yang dikabarkan oleh para malaikat kepada para gembala. Semoga kita mengadopsi semangat rendah hati dan tulus seperti para gembala; setidaknya untuk sejenak menjauhkan diri kita kesibukan, orientasi berbasis ekonomi dan keuntungan, dsb; dan membangun sikap ugahari dan hening seperti para gembala yang hidupnya ‘terpisah’ jauh dari kegaduhan dan gemerlap suasana pasar dan kota, masuk dalam keheningan padang rumput. Membangun semangat sukacita yang tidak berdasar pada uang, materi, dan keuntungan material; cukup sejenak membangun rasa syukur dan sukacita atas hidup apa adanya.

Minggu selanjutnya kita akan menyalakan lilin keempat: “Lilin Malaikat” yang melambangkan DAMAI dan CINTA (yang menjadi alasan utama mengapa Yesus akan datang ke dunia-untuk membawa damai dan cinta kepada manusia). Semoga hati kita terbuka hari2 ini akan kabar sukacita dari para malaikat dan berdoa agar para malaikat di surga juga menyampaikan kabar sukacita bagi kita…. Selamat mengadakan permenungan akan lilin Advent langkah demi langkah, dan semoga kita semua semakin mantab mempersiapkan diri menyongsong Natal- kelahiran sang Juru selamat.

Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in n. ADVEN - NATAL, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

DOA2 PERSIAPAN SEBELUM PERAYAAN EKARISTI (untuk Imam/Pemimpin Ibadat)

Posted by liturgiekaristi on December 10, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

DOA2 PERSIAPAN SEBELUM PERAYAAN EKARISTI (untuk Imam/Pemimpin Ibadat)

Mengikuti tradisi Katolik yang sudah berjalan berabad2 lamanya; sebenarnya ada bentuk doa2 yang biasa dilantunkan Imam/pemimpin ibadat saat mempersiapkan diri di ruang Sakristi. Doa2 ini tidak wajib sifatnya, tapi sebagai salah satu bentuk olah-kesalehan rohani, sangat baik jika digunakan.

Bahkan sejak sebelum Imam/Pemimpin ibadat mengenakan pakaian Misa/Ibadat, sangat baik jika membiasakan diri dengan mengawali mencuci/membasuh tangan. Secara fisik membasuh tangan ini merupakan upaya membersihkan tangan dari kotoran dan kuman2. Jika disertai doa2 yang terarah kepada Allah, tindakan ini menjadi upaya membangun kesadaran untuk “membasuh” batin batin agar bersih dari noda dosa dan kelemahan. Doa2 yang umum dipakai:

1. Sambil membasuh tangan: “Berikanlah kesucian dan keutamaan kepadaku, ya Allah, agar setiap noda dan cela dibersihkan; sehingga aku pantas melayani Engkau dengan hati, pikiran, dan tubuh yang murni”

2. Sambil mengenakan AMIK (Amik = Kain putih persegi empat yang memiliki tali di kedua ujungnya. Gunanya untuk menutupi kerah baju dan bagian leher). Secara simbolis, Amik ini berfungsi sebagai perisai keselamatan dan tanda pertahanan terhadap segala godaan. Imam biasanya mencium Amik sebelum direntangkan di belakang kepala di atas pundaknya dan talinya diikatkan di pinggang):
“Letakkanlah di atas kepalaku, ya Allah, perisai keselamatanMu, agar aku mampu mengatasi segala serangan kuasa jahat”

3. Sambil mengenakan ALBA (Semacam jubah khusus untuk memimpin Ekaristi/Ibadat yang menutupi seluruh tubuh Imam/Pemimpin), melambangkan kejujuran sempurna:
“Sucikanlah aku, ya Allah, dari segala noda dosa, dan murnikanlah hatiku. Agar, dengan dibasuh dalam darah Anak Domba, aku boleh menikmati sukacita abadi”

4. Sambil mengenakan CINCTURE/SINGEL (Tali panjang yang dipilin dan diikatkan di pinggang untuk mengencangkan Alba – jika ukuran Alba sudah pas, kadang tidak diperlukan singel):
“Siapkanlah aku, ya Allah, dengan tali kesucian, dan padamkanlah nyala api nafsu dan segala hasrat yang buruk; agar keutamaan pengendalian nafsu dan kemurnian hati tetap tinggal di dalam diriku.”

5. Sambil mengenakan STOLA (Kain panjang yang mirip selendang dikalungkan dari leher belakang menjuntai di bagian dada – Warna Stola mengikuti warna Liturgi), melambangkan kehidupan kekal dan tanda kewibawaan pelayanan Imamat:
“Pulihkanlah aku, ya Allah, kepada hidup yang kekal, yang telah hilang akibat dosa Adam dan para leluhurku. Semoga, sekalipun aku tak pantas untuk mendekati misteri ke-ilahianMu, Engkau tetap berkenan menganugerahkan sukacita abadi”

6. Sambil mengenakan KASULA (Pakaian paling luar. Kain lebar berbentuk setengah lingkaran dengan lubang di bagian atas-tengahnya untuk dimasukkan melalui kepala sampai ke leher. Warnanya mengikuti warna Stola/warna Liturgy), Lambang keutamaan kasih dan kebajikan yang meringankan beban Kristus di pundak. Bdk Matius 11:29-30:”Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”
“Ya Allah, Engkau yang berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”. Perkenankanlah aku memikulnya agar aku boleh memperoleh rahmatMu”

(Note: Tentang Pakaian dan perlengkapan umum untuk Pelayan Ibadat, Lih. General Instruction of the Roman Missal 298-299, 1975. Sumber Doa2 persiapan: From Handbook of Prayers, Midwest Theological Forum, 1992-2011)

Semoga para Imam semakin tekun memelihara dan mendaraskan doa2 yang indah ini; dan jika mulai melupakannya, semoga diingatkan kembali akan kesucian tugas pelayanannya.

Meskipun aslinya doa2 ini khas bagi para Imam; namun dalam proporsi yang tepat dan sesuai dengan jenis pakaian atau perlengkapan pakaian yang dikenakan pemimpin Ibadat selain Imam, kiranya juga sangat baik jika mereka membiasakan diri menyertakan doa2 tersebut dalam setiap tindakan persiapan mereka di ruang Sakristi (membasuh tangan, mengenakan Alba, Singel, Dalmatik)

Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MENCIPTAKAN KEHENINGAN DI SEKITAR SAKRISTI, TERUTAMA MENJELANG EKARISTI.

Posted by liturgiekaristi on December 10, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

MENCIPTAKAN KEHENINGAN DI SEKITAR SAKRISTI, TERUTAMA MENJELANG EKARISTI.

Ruang sakristi sebenarnya bukan hanya “sebuah ruang kecil” di samping/di dekat panti imam. Fungsinya bukan hanya sekedar ‘gudang’ atau tempat menyimpan segala peralatan dan perlengkapan peribadatan. Justru fungsi guna ruang Sakristi ini sangat vital untuk menunjang lancar, tertib, dan khidmatnya perayaan sakramen2 gereja, terutama Ekaristi. Mengapa?

Karena justru pada saat2 penting, saat2 persiapan puncak, saat2 bersiap untuk tugas melayani altar dan umat Allah; pelayanan mereka dimatangkan dan dikukuhkan (biasanya) di ruang Sakristi ini. Bagi setiap petugas, mulai dari Imam(atau Uskup, kadang2), diakon, prodiakon, pelayan altar, lektor, dan petugas lainnya sejauh perlu, baik kalau sempat “melarikan diri sejenak” dari kebisingan, kegaduhan, kesibukan persiapan, dan berdoa singkat di Sakristi.

Doa pribadi bisa sangat membantu petugas2 – terutama yang masih baru dan belum memiliki “jam terbang” yang tinggi dalam bertugas – masih sering nervous, grogi, gugup. Untuk mengatasi ketegangan dan panik, bisa berdoa dan hening sejenak di Sakristi.

Kehadiran setiap petugas di Sakristi secara psikologis juga membantu menciptakan ketenangan bagi imam/pemimpin, karena yakin semua petugas pendukung sudah hadir dan tidak harus mencari2 saat Ekaristi hampir dimulai. (Note: tetap memperhitungkan kapasitas ruang Sakristi yang umumnya kecil).

Selain memudahkan untuk koordinasi antar para petugas dan pelayan, Sakristi juga merupakan ruangan yang tepat untuk bersama membangun kesiap-sediaan batin dalam melayani Tuhan secara tulus dan siap-sedia. Maka baik untuk para petugas, dan seluruh umat; sangat perlu membangun kesadaran menciptakan keheningan dan membangun sikap doa pada saat berada di sekitar atau di dalam sakristi.

Umumnya Sakristi juga berada sangat dekat dengan Altar dan/atau Tabernakel sebagai tempat yang Maha Kudus. Hal ini wajar untuk mempermudahkan akomodasi dan pergerakan sebagai persiapan dan kontrol fisik. Karena tempatnya yang sangat dekat dengan ruang Kudus/Maha Kudus; maka adalah wajar untuk memperlakukan ruang Sakristi sebagai bagian juga dari ruang yang disucikan dan dikhususkan bagi para petugas2 liturgy (tidak sembarangan orang lalu lalang di dalam sakristi).

Kesucian ruang sakristi (seperti hal-nya juga ruang panti imam dan lainnya di dalam gereja) bukan hanya tercipta karena kemuliaan Allah sendiri hadir di situ; melainkan juga karena kita masing2 sadar untuk menciptakan dan memperlakukan tempat2 tersebut sebagai hal yang suci dan kudus. Bahkan nabi Musa diingatkan Tuhan ketika mendekati semak yang bernyala, untuk melepaskan kasutnya, karena tempat yang didatanginya adalah kudus…(Keluaran)
Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

PERSIAPAN APA YANG DIBUTUHKAN IMAM BEBERAPA SAAT SEBELUM MEMULAI PERAYAAN EKARISTI?

Posted by liturgiekaristi on December 1, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

PERSIAPAN APA YANG DIBUTUHKAN IMAM BEBERAPA SAAT SEBELUM MEMULAI PERAYAAN EKARISTI?

Salah satu dari fans mengeluh kepada saya: “Romo, saya sedih ketika berusaha menyapa dan mengajak ngobrol Rm. Paroki saya menjelang misa, malah saya ditegur, tidak diperbolehkan masuk ke sakristi dan malah disuruh doa di gereja. Mengapa??

Terlepas dari caranya Imam menegur atau mengingatkan, atau memberitahu; kiranya ada hal penting yang perlu kita ketahui dan sadari dalam kasus ini: BERILAH WAKTU PERSIAPAN YANG CUKUP KEPADA IMAMMU UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRINYA MENJADI ALTER KRISTUS DALAM EKARISTI.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa waktu sepuluh menit menjelang misa, seringkali merupakan waktu yang sangat “menentukan” seorang Imam mampu, pantas, dan layak memimpin sebuah Ekaristi dengan baik atau tidak(setidaknya itu pengalaman pribadi saya).

Sebagaimana umat butuh persiapan dan doa pribadi sebelum Ekaristi dimulai untuk menenangkan diri setelah perjalanan dari rumah, untuk melepaskan pikiran2 yang gemuruh dan ramai, serta mulai masuk dalam keheningan doa; demikian terlebih seorang Imam yang akan membawa seluruh intensi doa2 dan kebutuhan spiritual umatnya, MUTLAK membutuhkan keheningan sebelum memulai Ekaristi.

Usahakanlah untuk tidak menyibukkan Imammu saat2 mendekati perayaan Ekaristi. Berilah mereka waktu untuk hening dan berdoa di dalam sakristi baik doa secara pribadi, atau berdoa bersama seluruh petugas mesdinar, petugas lektor, prodiakon, dsb. Kita tidak ingin Ekaristi kita dipimpin oleh seorang Imam yang kacau pikirannya oleh hal2 lain, atau oleh kehadiran seseorang lain dalam pikirannya yang tidak sepantasnya dibawa Imam dalam perayaan Ekaristi, bukan?

Di beberapa tempat, kadang masih memelihara tradisi Pengakuan dosa sebelum misa. Maka, seperti ditempat saya tugas, misalnya; Imam biasanya sudah berada di ruang pengakuan dosa 30 menit sebelum Ekaristi dimulai – ada atau tidak ada yang datang untuk pengakuan dosa tidaklah penting. Namun saat itu sangat membantu banyak bagi Imam untuk hening. Lalu 10 menit menjelang saat Ekaristi, Imam kembali ke sakristi dan mulai persiapan memakai atribut pakaian misa dan berdoa……

Pada bagian berikutnya kita akan pelajari doa2 apa yang perlu didoakan oleh Imam menjelang persiapan Ekaristi dan lihatlah nanti betapa pentingnya keheningan saat2 menjelang Ekaristi bagi setiap Imam. Jadi…., baik para petugas (koor, dirigent, organis, lektor, dsb) hendaknya tidak menyibukkan Imam untuk konsultasi lagu, atau bacaan, atau tata-liturgy dan lain2nya di saat2 akhir menjelang Ekaristi (kecuali niatnya memang untuk ‘menodong’ Imamnya dan tidak memungkinkan membuat perubahan2 yang perlu di saat2 akhir). Hal2 tersebut harusnya sudah selesai jauh sebelum waktunya, supaya tidak terburu2 dan masih ada waktu untuk penyesuaian.

Dan untuk umat, sekali lagi, berilah waktu yang cukup bagi Imammu untuk hening mempersiapkan dirinya. Atau kalau Imamnya yang “ubres” dan masih sibuk ngobrol sampai di menit2 terakhir menjelang Ekaristi….ya jangan ragu, umat juga perlu ‘mengingatkan’ (bahasa lain dari ‘menegur’) Imamnya untuk hening dan mulai berdoa mempersiapkan diri dan batinnya….
Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA.

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MENGAPA KITA MEMBUAT TANDA SALIB KECIL DI DAHI, DI BIBIR, DAN DI DADA SEBELUM MENDENGARKAN SABDA INJIL SUCI?

Posted by liturgiekaristi on November 27, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

MENGAPA KITA MEMBUAT TANDA SALIB KECIL DI DAHI, DI BIBIR, DAN DI DADA SEBELUM MENDENGARKAN SABDA INJIL SUCI?

Gerakan membuat tanda salib ini sangat sederhana, singkat dan seringkali ‘lewat begitu saja’ tanpa disertai dengan kesadaran penghayatan yang mendalam. Padahal maknanya sangat penting untuk membawa hati dan pikiran kita lebih terarah pada Sabda Ilahi yang akan kita dengar.

Sering dalam prakteknya, gerakan ritual membuat tiga tanda salib kecil ini menjadi rancu antara materia/tindakan yang dilakukan, dengan forma/kata2 yang menyertai tindakan dalam sebuah liturgy; karena bersamaan dengan gerakan tersebut biasanya umat melakukan sambil menjawab “Dimuliakanlah Tuhan” sebagai tanggapan atas seruan Imam: “Inilah Injil Yesus Kristus menurut….(Injil Mat./Mark./Luk./Yoh.).

Sebenarnya gerakan ritual membuat tiga tanda salib tidak dimaksudkan sebagai gerakan untuk menyertai seruan “Dimuliakanlah Tuhan”. Jadi sebaiknya kita secara sadar menjawab terlebih dulu seruan Imam yang menyatakan dari Injil mana yang akan dibacakan saat itu. Lalu kita menjawab: “Dimuliakanlah Tuhan” (tanpa melakukan gerakan apa2). Baru kemudian membuat tanda salib di kening, di bibir, dan di dada.

Salah satu alasan utama kita membuat tanda salib di kening, di bibir, dan di dada sebelum bacaan Injil adalah: Untuk memohon agar Allah berkenan membiarkan SabdaNya menguasai pikiran, perkataan, dan seluruh kesadaran batin kita.

Sebagai bentuk penghayatan personal, sebagian orang lebih suka menyertai gerakan membuat tanda salib ini dengan disertai doa singkat di dalam hati, seperti: “Semoga Allah membersihkan dan mensucikan pemahamanku (tanda salib di kening), perkataan mulutku (tanda salib di bibir), dan seluruh hatiku (tanda salib di dada/hati); sehingga aku diperkenankan untuk menerima SabdaNya melalui Injil Suci”

Semoga dengan semakin menyadari makna dan pemahaman gerakan sederhana ini, kita semakin dipersiapkan untuk lebih pantas mendengar, menerima, dan meresapkan Sabda Tuhan, sebagai kekuatan bagi jiwa kita.
Salam hangat,
P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Bagaimana sikap yang sebaiknya untuk menutup/mengakhiri perayaan Ekaristi yang saya ikuti?

Posted by liturgiekaristi on November 14, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

Bagaimana sikap yang sebaiknya untuk menutup/mengakhiri perayaan Ekaristi yang saya ikuti?

1. Jangan tergoda untuk keluar dari gereja dengan terburu2. Anda baru saja mengikuti perayaan iman yang mungkin lebih dari setengah jam, satu jam, atau bahkan lebih. Mengapa harus keluar dengan terburu2 dan kehilangan banyak rahmat Tuhan justru di saat akhir?

Ambillah waktu pribadi beberapa menit setelah lagu penutup selesai. Lengkapilah perayaan Ekaristi anda dengan doa pribadi dengan intensi penuh syukur atas rahmat Tuhan dan mohon penyertaan Tuhan untuk sepanjang hari (jika mengikuti Ekaristi pagi hari) atau sepanjang malam (Ekaristi sore/malam hari).

Doa pribadi singkat di penutup Ekaristi ini merupakan saat yang sangat intens bagi anda untuk memperoleh dampak langsung dari Ekaristi yang menyentuh kehidupan sehari2. Dalam keheningan yang singkat ini, anda bisa membawa berkat Tuhan bagi keluargamu, bagi pekerjaan, bagi setiap urusan dan rencana2, dan kemungkinan harus menghadapi orang2 yang anda temui di sepanjang hari. Singkatnya, dengan mengambil waktu sejenak selepas Ekaristi, anda menjadikan Misa Kudus anda sebagai Ekaristi yang tiada akhir; menjadi inspirasi dan ‘dinamo’ yang menggerakkan seluruh aktivitas anda sepanjang hari dalam berkat Tuhan.

2. Bagi orang Katolik, setiap tindakan-perbuatan yang dilakukan dengan jujur dan tulus dapat dipersembahkan sebagai bentuk doa juga. Maka biarlah rahmat dan kekuatan Ekaristi itu menyertai seluruh aktivitas anda sepanjang hari/malam dengan memetik buah2 permenungan/kekuatan rohani dari Misa Kudus yang anda ikuti dan menjadikan setiap perbuatan anda sebagai berkat bagi sesama… Itulah yang disebut buah2 Ekaristi.

3. Jangan lupa berdoa kepada bunda Maria untuk setiap penyertaannya dan menjadi pendoa kita di hadapan Allah bagi keselamatan, keberhasilan, dan perlindungan sepanjang hari. Doa singkat setelah Ekaristi ini tidak akan lebih dari lima menit; tapi dampaknya akan terasa sangat besar bagi hidup anda.

Biasakanlah untuk keluar dari ruangan gereja dengan tetap menjaga suasana khidmad. Jangan lupa, ketika anda selesai berdoa, masih banyak yang lainnya yang masih berdoa dan butuh keheningan. Jika ingin ngobrol dan menyapa teman, lakukanlah di luar gereja – jangan membikin kegaduhan di dalam gereja walaupun perayaan Ekaristi sudah selesai.

Salam hangat,
P. Christianus Hendrik SCJ – South Dakota, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

PERSIAPAN PERAYAAN EKARISTI III:

Posted by liturgiekaristi on October 14, 2013


Bertumbuh dalam Iman: PERSIAPAN PERAYAAN EKARISTI III:

Setelah kita mengetahui persiapan2 jangka pendek untuk menghadiri perayaan Ekaristi; baik juga kiranya jika kita memahami lebih dalam, mengapa sih saya harus aktif menghadiri Perayaan Ekaristi?? Untuk apa, dan manfaat serta tujuan apa yang sebenarnya bisa saya peroleh dengan mengikuti Perayaan Ekaristi?

Kurban Ekaristi yang kita persembahkan bersama Gereja adalah kurban yang sama yang dipersembahkan Kristus di salib. Setiap kali merayakan Ekaristi, Imam bersama umat menghadirkan kembali kurban Kristus, memperbaharuinya, dan meneguhkan kembali kekuatan Gereja untuk meneruskan pejiarahannya di dunia. Itulah sebabnya Gereja menyatakan bahwa Ekaristi adalah “PUNCAK Hidup Beriman Kristiani” Tujuannya ialah:

01. Sebagai bentuk sembah-bhakti kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus. Kurban salib Kristus adalah yang pertama dan yang utama dari segala kurban persembahan dan pujian lainnya. Jadi meskipun kadang2 perayaan Ekaristi dipersembahkan untuk “menghormati dan mengenangkan hidup Santo-Santa, Orang2 Kudus, para Rasul, Maria, bahkan para Malaikat sekalipun; Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Misa Kudus TIDAK dipersembahkan kepada para Kudus tersebut, melainkan dipersembahkan hanya kepada Allah yang telah memberikan mahkota kemuliaan kepada para Kudus” (bdk. Konsili Trente, sesi 22, Bab 3)

02. Kita merayakan Ekaristi dengan penuh khidmat untuk mengungkapkan rasa terimakasih kita kepada Allah atas segala rahmat kebaikan yang telah kita terima, termasuk hal2 yang tidak kita sadari. Selain itu, Ekaristi juga merupakan ungkapan “Pujian Syukur” kita atas kebaikan Allah yang telah menebus hidup kita (Ekaristi=Puji Syukur). Sebagaimana Kristus pada perjamuan malam terakhir mengucap syukur kepada Bapa atas karya penebusan; kita bersama Imam melanjutkan kembali, mengulangi terus-menerus ungkapan syukur itu dalam sakramen Ekaristi untuk memelihara hidup kita senantiasa dalam keadaan penuh rahmat.

03. Untuk memohon ampun atas dosa2 dan kelemahan kita, bahwa kita sering kurang membalas kasih-kebaikan Allah sebagaimana seharusnya. Kesadaran untuk memohon ampun ini seharusnya juga mengantar kita untuk melakukan tobat dan pengakuan dosa. Kristus yang sama yang telah wafat untuk dosa2 kita dihadirkan kembali dalam Ekaristi “agar setiap dosa dan kelemahan kita mendapat pengampunan”

04. Untuk memohon anugerah2 spiritual dan material yang menjadi kebutuhan hidup kita mengarungi bahtera kehidupan ini. Dalam kurban Ekaristi, Kristus menjadi pengantara kita untuk menyampaikan permohonan2 kepada Bapa di Surga. Anugerah2 spiritual dan material yang dimohonkan ini berdaya guna bagi mereka yang menghadiri perayaan Ekaristi, maupun bagi mereka yang didoakan dalam perayaan Ekaristi.

Jadi tujuan Ekaristi selalu mempunyai dua aspek yang berjalan bersama: Kita tidak hanya memohon dan menerima, selalu meminta dan mendapat; melainkan juga kita membalas, memuji, mensyukuri dan menanggapi kasih Allah. Keduanya perlu dihayati secara seimbang dalam Ekaristi yang kita rayakan. Semoga dengan semakin memahami tujuan2 luhur ini kita semakin tahu cara menghargai setiap Perayaan Ekaristi yang kita ikuti……
Kita lanjutkan dalam pelajaran berikutnya,

Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

PANDUAN UNTUK MENYAMBUT KOMUNI.Bagian I

Posted by liturgiekaristi on October 14, 2013


Bertumbuh Dalam Iman: PANDUAN UNTUK MENYAMBUT KOMUNI. Bagian I:

Banyak umat yang bertanya kepada saya, Siapa saja sih, dan orang2 macam apa yang diperkenankan menyambut Komuni Kudus, dan persiapan macam apa yang dibutuhkan agar kita pantas menyambut komuni??
Setidaknya ada beberapa panduan dasar agar kita tidak salah mengerti tentang makna menyambut komuni saat kita menghadiri Perayaan Ekaristi:

1. Untuk orang Katolik yang sudah menerima Komuni Pertama dan (tentu saja) sudah dibaptis menurut tata cara Katolik:

Bagi orang Katolik, kita berpartisipasi sepenuhnya di dalam perayaan Ekaristi manakala kita menerima Komuni Suci. Sangat dianjurkan kepada setiap orang Katolik dewasa untuk menerima Komuni secara hormat dan secara teratur. Dengan tujuan agar Komuni Kudus yang diterima menghasilkan buah2 rahmat yang melimpah, maka participants (penerima komuni) harus menjaga dirinya agar tidak dalam keadaan dosa berat/dosa yang mematikan; dan setidaknya berpuasa “satu jam” sebelum menyambut Komuni Kudus (jika bisa berpuasa lebih dari satu jam sebagai persiapan, tentu lebih baik lagi). Jadi sangat tidak dianjurkan jika orang selama misa masih sambil makan permen, snacks, atau minum, kecuali untuk alasan kesehatan. Ini soal menjaga kesucian tubuh kita yang akan menjadi “Tahta Kemuliaan Allah”

Seseorang yang secara sadar sedang dalam keadaan dosa berat, tidak dianjurkan untuk menerima Komuni tanpa terlebih dahulu menghadap Imam untuk menerima sakramen Pengakuan dosa. Kecuali untuk dosa2 berat di mana tidak ada kesempatan untuk pengakuan dosa. Dalam kasus ini, seseorang hendaknya membangun kesadaran penuh untuk memenuhi kewajiban melakukan tobat yang mendalam pada awal perayaan Ekaristi, termasuk di dalamnya membangun niat dan janji untuk sesegera mungkin menerima sakramen tobat (Kanon 916). Penerimaan sakramen tobat secara berkala sangat dianjurkan kepada semua orang Katolik sebagai bentuk persiapan menyambut komuni secara pantas.

“Bagaimana jika tidak diketahui/tak ada yang tahu, dan seseorang yang berdosa berat nekad tetap sambut komuni??” Tentu saja bisa terjadi, kita tak ada yang tahu dan seseorang dengan dosa berat bisa saja sambut komuni dengan pergi ke gereja Paroki lain, misalnya. Dalam hal ini Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Komuni Kudus yang disambut dalam keadaan dosa berat tidak akan menghasilkan buah2 rahmat keselamatan.

Pada dasarnya dosa berat/dosa yang mematikan itu sendiri sudah menutup pintu rahmat bagi dirinya. Jadi sekalipun sambut Komuni, Kekudusan Komuni suci tidak rusak karena dosanya, tapi daya kekuatan yang menyelamatkan dari Komuni Kudus itu menjadi mandul dan tidak berbuah aktif karena dosa yang membelenggunya… Maka jika umat tahu bahwa seseorang dalam keadaan dosa berat, sebaiknya secara diam2 mengingatkan dan mencegah secara bijak agar tidak berlanjut……

Kita lanjutkan kali berikutnya……

Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

PANDUAN UNTUK MENYAMBUT KOMUNI. Bagian II:

Posted by liturgiekaristi on October 14, 2013


Bertumbuh Dalam Iman:

PANDUAN UNTUK MENYAMBUT KOMUNI. Bagian II:

Setelah melihat panduan untuk orang Katolik, bagaimana jika kita melihat ada umat lain yang non Katolik juga ingin belajar tahu dan ikut dalam perayaan Ekaristi?? Perayaan Ekaristi bersifat universal, terbuka bagi siapa saja yang berkehendak baik untuk menemukan Tuhan. Meskipun terbuka, tetap kita perlu tahu aturan dan tata cara Katolik dalam cara “menerima tamu”:

2. Untuk umat Kristen lainnya yang bukan Katolik: Gereja Katolik selalu terbuka untuk menerima saudara-i kita yang berasal dari gereja2 Kristen yang bukan Katolik untuk bergabung bersama dalam doa2 dan pujian kepada Allah. Bersama mereka kita berdoa agar melalui baptisan umum yang kita terima, dan berkat karya Roh Kudus melalui perayaan Ekaristi akan menghapus rasa duka kita atas perbedaan2 yang memecah belah dan memisahkan gereja. Bersama dan di dalam Kristus yang sama yang kita sembah, kita berdoa agar “Semuanya menjadi satu…” (Yoh. 17:21).

Karena orang Katolik percaya bahwa perayaan Ekaristi adalah tanda dari realitas kesatuan iman, kesatuan hidup, dan kesatuan dalam doa-sembah-bakti; maka mereka yang berasal dari gereja2 Kristen yang belum sepenuhnya dipersatukan dalam gereja Katolik, secara wajar dianjurkan untuk tidak menerima Komuni. Kekecualian dalam hal ini masih dimungkinkan seturut pertimbangan situasi setempat secara bijak dengan seijin Uskup dan kebijakan hasil Sidang para Uskup sambil tetap memperhatikan Kanon 844.art.3,4. Pada bagian ini hendaknya umat yang mengetahui saudara-inya yang berasal dari gereja2 lain ingin menyambut perlu mengingatkan atau juga memberi tahu kepada Pastor Parokinya supaya bisa dihindari hal2 yang tidak perlu terjadi.

Bagi mereka yang tidak bisa menerima Komuni Kudus karena berbeda iman dan penafsiran terhadap Ekaristi, sangat dianjurkan untuk berdoa dengan tulus di dalam hatinya bagi kesatuan dan persatuan Gereja semesta.

3. Bagi saudara-i kita yang non-Kristiani, yang berkehendak baik untuk ikut bergabung dalam perayaan Ekaristi, kita juga terbuka menerima mereka dengan penuh kasih dan membantu mereka melalui perayaan Ekaristi untuk semakin menemukan imannya. Sadar bahwa kita tidak bisa mengundang mereka untuk ikut menerima komuni; kita bisa menjelaskan kepada mereka bahwa berkat Allah juga bisa diterima oleh mereka yang tulus hati terbuka akan kasih Allah, dengan cara ikut maju dalam prosesi penerimaan komuni dengan tangan menyilang di dada sebagai tanda untuk minta berkat rohani dari Imam. Pasti dengan penuh kasih sang Imam/petugas pembagi komuni akan mendoakan dan memberikan berkat rohani. Cara ini berlaku juga untuk saudara-i kita yang Kristen.

Salam hangat,

P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | 2 Comments »

Mengapa dalam menghadiri dan merayakan Ekaristi, dibutuhkan persiapan dari pihak kita?

Posted by liturgiekaristi on September 16, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN:

Mengapa dalam menghadiri dan merayakan Ekaristi, dibutuhkan persiapan dari pihak kita?

“Bukankah berdoa itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya? Bukankah dalam perayaan ekaristi saya harus berdoa secara pribadi? Jadi mengapa perayaan Ekaristi membutuhkan banyak persiapan???” Begitulah seringkali muncul pertanyaan dari umat tentang persiapan untuk ikut serta dalam perayaan Ekaristi.

Benar bahwa dalam perayaan Ekaristi kita membutuhkan waktu untuk memanjatkan doa2 pribadi kita. Tetapi jangan lupa juga, bahwa EKARISTI(Puji Syukur) adalah PUNCAK hidup beriman Kristiani. Dan berbicara tentang iman, iman kita tidak hanya menyangkut iman personal, tetapi juga iman komunal-Iman Gereja.

–Saya kira ini merupakan salah satu kekhasan dan keunikan iman Katolik. Tidak seperti umumnya agama2 lain yang hanya menekankan keselamatan personal di mana iman pribadi adalah yang utama untuk memperoleh keselamatan; Iman Katolik mengandaikan juga keselamatan komunal – bahwa kita diselamatkan bersama yang lain sebagai anak-anak Allah. Konsekuensinya, kita juga ikut bertanggungjawab menyelamatkan dunia atas nama gereja. Artinya kita ikut serta aktif dalam upaya menyelamatkan dunia. –Pada bagian inilah seringkali gereja menjadi hal yang “ditakuti” dunia, dan banyak yang berusaha ‘menyingkirkan’ gereja dari dunia karena peran keterlibatannya dalam ikut menyelamatkan tata dunia—(intermezo)

Ekaristi sebagai suatu “perayaan” adalah perayaan bersama Gereja, atas nama Gereja, dan di dalam Gereja (dalam kehidupan sehari2, kata “perayaan” selalu menyangkut kebersamaan, tidak pernah sendirian). Demikianlah dalam perayaan Ekaristi, bahkan doa2 pribadi kita harus diikut sertakan, disatukan, dan dipersembahkan untuk, atas nama, dan di dalam nama Gereja kudus.

Oleh karena Ekaristi merupakan perayaan bersama yang lain, menyangkut orang banyak; maka mutlak diperlukan ‘kesepakatan’, kebersamaan dalam ide dan penghayatan, bahkan kebersamaan dalam ritual, tata gerak, bacaan2 Kitab Suci, doa2, dan bahkan lagu2 yang akan dinyanyikan. Itulah sebabnya mengapa untuk menghadiri Ekaristi, dan supaya bisa ikut berpartisipasi penuh di dalamnya; tiap pribadi perlu mempersiapkan diri dan memantaskan diri untuk ikut dalam kebersamaan.

Ada beberapa bentuk persiapan yang penting untuk dilakukan sebelum kita menghadiri sebuah perayaan Ekaristi agar Ekaristi itu sendiri menghasilkan buah2 rahmat yang melimpah bagi hidup kita dan hidup Gereja. Ada persiapan lahiriah dan batiniah, ada persiapan jangka panjang dan jangka pendek agar kita sungguh merasa dieprsatukan dengan yang lain dalam Ekaristi. Kali berikutnya kita akan melihat lebih mendetail bentuk2 persiapan kita.
Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ – South Dakota.

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MENGAPA ORANG KATOLIK MELAKUKAN GERAKAN BERLUTUT DALAM PERAYAAN EKARISTI/DI DALAM GEREJA?

Posted by liturgiekaristi on March 14, 2013


BERTUMBUH DALAM IMAN(sisipan):

MENGAPA ORANG KATOLIK MELAKUKAN GERAKAN BERLUTUT DALAM PERAYAAN EKARISTI/DI DALAM GEREJA?

Kita berlutut karena menyadari kehadiran kita di hadapan Allah yang Maha Tinggi. Gerakan berlutut mempunya arti yang sangat dalam dan penuh keintiman dalam hubungan antara manusia ciptaan dan sang Penciptanya; dan sekaligus mengekspresikan sikap sembah sujud dan rasa hormat kita kepada Tuhan.

Kita hidup di jaman modern, di mana dalam banyak hal kita telah banyak kehilangan sikap dan rasa hormat kepada Sesuatu yang Ilahi, yang Kudus, yang Mulia. Kita semakin cenderung menghadap Tuhan secara biasa2 saja, hampir seakan2 Dia yang Maha Tinggi dianggap sama saja levelnya seperti diri kita manusia. Hilangnya rasa hormat dan mengganggap kehadiran sang Ilahi sebagai hal yang biasa2 saja, dapat diartikan sebagai hilangnya sikap rendah hati di hadapan Allah.

Ketika kita sungguh menyadari makna simbolis dari gerakan berlutut ini, setiap kali kita diingatkan bahwa kita ini bukanlah Tuhan, bukan sang pencipta. Kita hanyalah ciptaan di hadapan Dia sang Maha Pencipta. Berlutut di hadirat Allah yang Maha Tinggi dalam bagian2 yang diusulkan dalam tata liturgi kita, membantu memberi penekanan pada kehadiran Kristus yang sesungguhnya di dalam Ekaristi; dan sekaligus ingin menunjukkan betapa dalam rasa hormat, cinta, dan sembah bakti kita pada Allah yang telah mencintai kita sampai menyerahkan PuteraNya yang tunggal.

Terlebih dalam Tahun Iman ini, dengan membangun rasa hormat sambil berlutut, kita disadarkan kembali akan pengalaman nabi Musa yang ditegur (diingatkan) Yahwe untuk membangun sikap hormat yang mendalam atas setiap kehadiran yang Ilahi di bumi ini: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus..” (Keluaran 3:5). Menanggalkan kasut, seperti halnya sikap berlutut, adalah simbol kerendahan hati, di mana orang tahu menghargai setiap bentuk kehadiran yang Suci di bumi ini, di dalam gerejaNya yang kudus, dan pada setiap kehadiran Kristus dalam kurban Ekaristi.

Juga dalam masa2 mendekati Pekan Suci ini, usahakanlah untuk sungguh menghayati makna gerakan berlutut ini; dalam rangka kita menghargai sepenuh2nya kurban kasih Kristus yang paling dalam-sampai wafat di salib. Selamat mengekspresikan diri dalam membangun sikap hormat yang mendalam dan tahu menghargai setiap bentuk kehadiran yang Ilahi di sekitar kita. “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah….” (Filipi 2:10-11)
(Translated with adaptation, By P. Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA)

Pertanyaan umat:

Radito Thomas A kondisi saya tidak memungkinkan untuk berlutut. Apakah kemudian ketika waktunya umat berlutut sy sebaiknya berdiri atau duduk saja?

PENCERAHAN DARI PASTOR C. HENDRIK

Radito Thomas A: Trims atas pertanyaannya. Memang saya tidak berbicara dari sisi hukum, lebih pada bagaimana menghayati hukum; jadi tidak secara langsung membahas hal2 tentang pengecualian.

Memang dalam Liturgi kita, pada bagian2 tertentu, tetap terbuka kekecualian2 bagi yang sakit, yang sudah lanjut usia, atau yang sedang menggendong anak yang praktis kesulitan untuk berlutut, atau di kapel2 kecil yang tidak tersedia tempat berlutut.

Namun tetap ‘sikap berlutut’ itu kita hayati dalam hati dengan menaruh rasa hormat dan sembah bakti yang mendalam. Sebaiknya selama waktu2 berlutut, bagi yang berhalangan bisa melakukannya dengan duduk saja. Thanks.
P.Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in f. TATA GERAK LITURGI, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MANFAAT DAN BUAH2 ROHANI APA YANG SAYA PEROLEH DARI SAKRAMEN EKARISTI/MISA KUDUS?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2013


Bertumbuh dalam Iman:

MANFAAT DAN BUAH2 ROHANI APA YANG SAYA PEROLEH DARI SAKRAMEN EKARISTI/MISA KUDUS?

Sakramen Ekaristi adalah Sakramen keselamatan melalui mana Yesus menghubungkan Gereja dan seluruh anggotanya dengan kurban keselamatan di salib. Setiap kali kurban Ekaristi dipersembahkan, karya keselamatan Tuhan dihadirkan dan dirayakan kembali serta membuka aliran2 rahmat keselamatan bagi yang berpartisipasi di dalamnya.

Setiap orang yang setia mengikuti perayaan Ekaristi, membangun disposisi batin yang pantas, terlibat aktif dalam perayaan iman ini, pantas untuk memperoleh buah2 rohani secara melimpah, antara lain:
a. Secara rohani dan jasmani semakin dipersatukan dengan Kristus sendiri Sumber keselamatan kita.

b. Mendapat kemurahan dan belaskasihan atas dosa2 yang dapat diampuni.

c. Terpelihara hidupnya dari dosa2 berat yang mematikan.

d. Diteguhkan hidupnya oleh ikatan kasih dan perlindungan dari Allah sendiri melalui PuteraNya.

e. Semakin diteguhkan persatuan hidupnya dalam Gereja sebagai tubuh mistik Kristus.

f. Menjadi sarana untuk mengekspresikan hidup imannya dalam keterlibatan aktif pada pelayanan di sekitar Altar, dan memperdalam penghayatan imannya dalam interaksi dengan sesama umat beriman.

g. Karena di dalam liturgi perayaan Ekaristi kita berdoa bersama seluruh umat beriman, bagi umat beriman, dan atas nama umat beriman; maka setiap participant dalam perayaan kudus ini senantiasa didoakan hidupnya oleh Gereja Kudus. Ingatlah bahwa ‘Gereja’ sebagai “Umat Allah yang Kudus” bukan hanya mereka yang secara jasmani kelihatan hadir di dunia, melainkan juga mereka para kudus, para suci dan himpunan orang2 beriman-termasuk sanak keluarga kita yang telah berpulang yang sudah dipersatukan dalam keabadian, turut mendoakan kita yang hadir.

h. ….dan setiap orang secara pribadi, tentu mengalami sendiri buah2 rahmat keselamatan lainnya yang mengalir secara melimpah dari perayaan iman yang kudus ini.

Tentu saja buah2 keselamatan itu tidak datang secara otomatis setiap kali kita ikut menghadiri perayaan Ekaristi. Dibutuhkan persiapan diri yang pantas dan partisipasi aktif di dalamnya agar buah2 rahmat itu hadir dan bekerja di dalam diri kita. Ibaratnya gereja itu tempat di mana anda bisa mengambil air keselamatan dari keran2 yang tersedia; bagaimana anda bisa membawa air itu pulang jika anda tidak mempersiapkan diri membawa botol atau wadah lainnya untuk menampung air keselamatan itu?

Begitu pentingnya Sakramen Ekaristi ini sebagai puncak hidup iman kita; maka pada saatnya nanti kita akan membahas secara lebih khusus tentang persiapan2jasmani dan rohani, doa2 sebelum misa, pada waktu misa kudus, dan sesudah misa selesai. Setidaknya kita perlu mengetahui hal2 tersebut agar setiap kehadiran kita dalam perayaan Ekaristi/Misa Kudus semakin menghasilkan buah2 keselamatan. Tentunya pembahasan itu akan kita mulai sesudah kita menyelesaikan pendalaman kita tentang ketujuh Sakramen dan buah2nya bagi kehidupan kita.
Salam hangat, P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

Posted in h. SAKRAMEN, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | 2 Comments »

APA MANFAATNYA DARI MENERIMA DAN MENGHIDUPI SAKRAMEN2 GEREJA?

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2013


Bertumbuh dalam Iman:

APA MANFAATNYA DARI MENERIMA DAN MENGHIDUPI SAKRAMEN2 GEREJA?

Secara resmi ada tujuh (7) Sakramen Penting di dalam Gereja: Sakramen Baptis(Baptism), Ekaristi(Holy Eucharist), Penguatan(Confirmation), Perkawinan(Marriage/Matrimony), Tobat (Reconciliation/Penance), Imamat(Holy Orders), Perminyakan orang sakit(Annointing of the sick).

Ketiga sakramen yang pertama (Baptis, Ekaristi, Penguatan) disebut juga sakramen Inisiasi-di mana orang secara resmi diterima secara penuh dalam persekutuan hidup orang beriman, dan dimungkinkan untuk menerima anugerah2 keselamatan lainnya. Sakramen Ekaristi merupakan semacam “bingkai”(frame) yang merangkai sakramen2 lainnya; di mana dalam perayaan Ekaristi dapat dihadirkan keenam Sakramen lainnya. Itulah pula sebabnya Sakramen Ekaristi disebut sebagai Puncak Perayaan Hidup orang beriman (Katolik).

Pada intinya SAKRAMEN dapat dipahami sebagai: “TANDA & SARANA Keselamatan dari Allah yang telah mewahyukan rencana kasih KeselamatanNya bagi manusia dengan mengutus PuteraNya yang tunggal”. Kalau Sakramen dipahami sebagai tanda dan sarana dari Allah yang mewahyukan diriNya; maka manusia, yang menerima perwahyuan Allah, perlu mengganggapinya dengan Iman. Jadi menghayati Sakramen tidak cukup hanya dengan tahu saja (level otak); melainkan perlu ditanggapi dengan Iman (yakin, dan percaya sepenuhnya bahwa melalui tanda2 dan sarana yang menampakkan yang Ilahi/yang tak kelihatan; kita memperoleh sarana untuk mencapai keselamatan kekal.

Sebagai TANDA & SARANA Keselamatan, Allah tidak membutuhkan Sakramen. Kita manusia yang serba terbatas inilah yang membutuhkan Sakramen. Karena dalam keterbatasan kita memahami Allah yang serba tak terbatas, kita senantiasa butuh Tanda & Sarana untuk mengerti maksud dan rencana keselamatan Allah yang begitu agung mulia. Apa manfaatnya Sakramen2 ini bagi keselamatan hidup saya?

Kali berikutnya kita akan melihat satu persatu makna dari tiap Sakramen, keuntungan apa yang sebenarnya saya peroleh dengan menerima Sakramen, dan bagaimana saya harus menghidupi iman saya lewat Tanda dan Sarana keselamatan ini?
Sebagai pemanasan, bolehlah menjawab di kolom comments: 1. Sakramen2 apa saja yang pernah anda terima? 2. Sakramen apa yang harusnya diterima sesering mungkin? Dan 3. Sakramen apa yang hanya bisa diterima sekali seumur hidup? Selamat menjawab, sampai bertemu di pelajaran berikutnya…:)

Salam hangat, P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota, USA

Posted in h. SAKRAMEN, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MANFAAT APA YANG SAYA TERIMA DARI SAKRAMEN BAPTIS?:

Posted by liturgiekaristi on March 8, 2013


Bertumbuh dalam Iman:

MANFAAT APA YANG SAYA TERIMA DARI SAKRAMEN BAPTIS?:

Sakramen Baptis merupakan Pintu Gerbang Keselamatan kita; melalui mana kita memperoleh anugerah kehidupan baru dalam Kristus. Namanya pintu gerbang, kita baru memasuki ‘wilayah keselamatan’ yang dijanjikan Allah; tetapi baru sampai di depan pintu gerbangnya, keselamatan yang sepenuhnya itu sendiri masih jauh, belum sampai masuk di ‘ruang Maha Kudus Allah’, bahkan belum memasuki ‘pelatarannya’.

Sakramen Baptis itu ibarat sabun, meskipun telah ditemukan ribuan tahun yang lalu, tidak berarti semua orang di dunia ini badannya bersih, masih dibutuhkan inisiatif untuk mau mandi dan menggunakan sabun setiap hari agar badan tetap bersih. Demikianlah iman kita yang baru kita terima lewat sakramen Baptis, masih harus diperjuangkan dengan menghidupinya dengan rajin membersihkan diri lewat sakramen tobat, berlaku baik, dan memikul salib setiap hari.

Buah2 yang kita peroleh melalui sakramen Baptis adalah:
a. Kita dibebaskan dari dosa asal yang melekat dalam setiap manusia yang lahir dari keturunan Adam, manusia pertama yang jatuh dalam dosa. Ini seperti halnya kunci gembok yang membelenggu kaki kita. Dengan dibaptis kita dibebaskan dari rantai belenggu dosa asal, untuk mampu melangkah menuju keselamatan yang ditawarkan Allah.

b. Dengan sakramen Baptis kita terlahir baru menjadi anak2 pilihan Allah Bapa, resmi menjadi anggota tubuh Kristus, dan menjadi bait suci bagi kediaman Roh Kudus dalam diri kita.

c. Juga melalui baptisan, kita secara resmi dipersatukan menjadi anggota Gereja Kudus sebagai tubuhNya yang kelihatan di dunia. Dengan demikian kita dimampukan untuk terlibat aktif di dalam imamat Kristus. Jadi ingatlah, dengan menerima Baptisan, setiap orang Katolik menerima rahmat rajawi Kristus sebagai imam (imamat umum), raja(memimpin), guru(mengajar), dan nabi(mewartakan).

d. Sakramen Baptis bersifat sebagai materai dalam jiwa kita, berlaku kekal, dan menjadi tanda rohani yang tak terhapuskan. Menjadi semacam “karakter hidup iman” kita sebagai orang Katolik. Dan karena sifatnya yang tak terhapuskan dan menjadi identitas rohani; maka sakramen Baptis tidak bisa diulang, tidak bisa diterima lebih dari satu kali. Maka juga, sekalipun orang ‘murtad’ dan meninggalkan imannya baik secara formal maupun secara praktis, materai itu tak akanterhapuskan dalam dirinya, hanya menjadi ‘mandul/nonaktif’. Maka hanya perlu diperbaharui jika mereka bertobat dan kembali ke pangkuan Gereja.

e. Sakramen Baptis juga membuat kita menjadi orang Katolik yang mempunyai hak penuh untuk menerima sakramen2 lainnya, dan hak penuh untuk mendapatkan pelayanan rohani baik di waktu hidupnya, maupun sesudah kematiannya (masih terus didoakan oleh para beriman sekalipun sudah meninggal).

Jadi ingatlah, setelah anda dibaptis, manfaatkanlah hak2 penuh anda sebagai anak2 Allah, dan hidupilah sakramen keselamatan ini agar menghasilkan buah2 keselamatan juga bagi keluarga dan orang2 di sekitarmu. Dan jangan lupa bahwa kita semua dipanggil untuk menjalankan tugas2 kita sebagai imam, raja, guru, dan nabi2 cintakasih.
Salam hangat, P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA

NB: Terimakasih untuk teman2 yang sudah menjawab pertanyaan kemarin. Umumnya jawaban yang diberikan sudah benar. Saya bangga memiliki umat yang semakin cerdas dan memahami kekayaan imannya..:).
Jawaban:
1. Sakramen yang pernah anda terima? Anda sendiri yang bisa menjawabnya..:)
2. Sakramen yang harusnya sesering mungkin diterima: Ekaristi & tobat (jadi jangan hanya dua kali setahun NaPas –Natal & Paskah saja ya….:) Bisa mati lemes imannya kalau hanya ‘berNaPas’ dua kali setahun ha ha…
3. Sakramen yang hanya boleh diterima satu kali adalah: Baptis, Krisma, Imamat. Sedangkan sakramen Pengurapan orang sakit dan sakramen Perkawinan tidak termasuk yang hanya boleh diterima satu kali. Alasannya, dalam kasus2 khusus orang masih ada kemungkinan menerima lebih dari satu kali dengan seijin yang berwewenang.
Sampai jumpa dalam “Bertumbuh dalam Iman” topik berikutnya……

Posted in h. SAKRAMEN, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

MENGAPA ORANG KATOLIK PERLU TAAT-SETIA KEPADA PAUS DAN PARA PENGGANTINYA?

Posted by liturgiekaristi on March 3, 2013


Bertumbuh dalam Iman:
MENGAPA ORANG KATOLIK PERLU TAAT-SETIA KEPADA PAUS DAN PARA PENGGANTINYA?

Dalam Matius 16:13-19 Yesus mengganti nama Simon, salah seorang rasulnya, menjadi “Petrus” yang artinya ‘si Batu Karang’ dan menjadikannya ‘Batu Fondasi Dasar’ gerejaNya yang kudus di dunia. Lewat kata2Nya sendiri (Ipsissima Verba),Yesus memberikan ‘kunci kerajaan Surga’ kepada Petrus: “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”(Mat.16:19)

Dalam tradisi kekristenan, sabda yang diucapkan Yesus ini dipahami sebagai kuasa yang diberikan kepada Petrus (dalam otoritas Magisterium=para Bapa pengajar Iman Gereja) untuk menafsirkan Kitab Suci dan memelihara kesatuan umat Allah dalam GerejaNya yang Kudus.

Dalam sejarahnya, Petrus berlayar sampai ke Roma untuk mewartakan Injil dan menjadi Uskup pertama di Roma; dan sebagaimana kita tahu, siapapun Uskup yang memimpin di Roma, sekaligus dia mendapat mandat menjadi Paus yang memimpin Gereja Katolik sedunia dalam kesatuanNya yang utuh. Para Paus2 berikutnya yang menjadi penerus Tahta Apostolik menerima kuasa dan otoritas yang sama seperti Petrus sebagai kepala gereja.

Berbeda dengan banyak gereja2 non Katolik yang masing2 mempunyai ‘otoritas’nya sendiri2 untuk menafsirkan Kitab Suci dan ajaran gerejanya-yang dampaknya sudah terbukti sering terjadi perpecahan dan pertumbuhan gereja2 baru; kita orang Katolik (mulai dari para calon baptis/katekumen, umat beriman, para pelayan gereja, para Imam, Uskup serta jajarannya) meletakkan diri dalam kepercayaan penuh dan kesetiaan tanpa syarat kepada Paus dan para penggantinya sebagai kelanjutan para rasul (succecio Apostolica). Demikianlah kesetiaan iman ini terus menjaga kesatuan kita sebagai Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Seiring dengan keputusan Paus kita Bapa Benedictus XVI untuk mengundurkan diri dari Tahta Apostolic berkaitan dengan kesehatan di usianya yang sudah lanjut; kita semua dipanggil tanpa syarat untuk berdoa bersama Gereja Kudus bagi terpilihnya Paus baru yang akan melanjutkan kepemimpinan para rasul Kudus. Mengingat pentingnya tugas memimpin gereja ini; yang faktanya secara spiritual bukan hanya memimpin gereja, tetapi juga memimpin dunia secara rohani lewat doa2 dan mati raganya (Urbi et Orbi); demikianlah kita perlu mendoakan beliau dan para penggantinya dalam setiap perayaan Ekaristi kita (dalam Doa Syukur Agung) dan doa2 harian kita.

Semoga melalui kesetiaan kita dalam iman yang tanpa syarat, kita senantiasa memelihara kesatuan Gereja Katolik yang Kudus dan bersama2 selalu berdoa bagi gereja dan dunia kita. Salam hangat (P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota-USA)

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Berapa lama dan sampai kapan orang Katolik boleh merayakan Natal?

Posted by liturgiekaristi on December 18, 2012


Dalam tradisi Katolik, Perayaan Natal yang sesungguhnya baru mulai dirayakan secara resmi pada malam natal tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Sebelum waktu itu, kita masuk dalam masa persiapan selama empat pekan dengan menjalani masa Adven.

Berkaitan dengan itu hendaknya kita perlu sadar bahwa ada perbedaan
cara pandang dengan gereja2 non Katolik. Tidak ada hukum yang tegas memang, yang memperbolehkan atau melarang untuk menghadiri perayaan2 natal sebelum tanggal 25 Desember; namun diharapkan umat kristiani sadar supaya perayaan2 tersebut tidak sampai mengganggu konsentrasi kita akan klimaks perayaan agung malam natal yang dipersiapkan dengan susah payah sepanjang masa Adven.

Banyak orang Katolik mengatakan tidak sabar menunggu sampai tanggal 25. Betul, dan justru semangat yang ‘berkobar2’ dan ‘tak sabar menunggu saatnya’ itulah yang justru mau dinampakkan dalam masa Adven. Begitulah pada minggu ketiga Adven kita merayakan minggu Gaudete (=sukacita) dengan warna liturgi pink/merah muda. Artinya hati kita bersukacita dan berkobar2 mengingat saat keselamatan itu sudah dekat, tapi kita masih harus menahan diri sampai hari kedatanganNya!.

Jadi, kita hanya boleh merayakan natal satu hari saja, pada tanggal 25 Desember??! Tentu saja tidak! Sebagaimana halnya Paskah masih dirayakan pada hari2 sesudahnya dengan apa yang disebut Oktaf Paskah sampai Pantekosta; demikian halnya Natal kita rayakan dengan penuh sukacita sepanjang oktaf Natal(1 minggu sejak Natal 25 Des.) – dan masih berlanjut sampai pada hari raya Pembaptisan Tuhan yang jatuh pada tanggal 13 Januari tahun depan (2013).

Di antara hari raya Natal tanggal 25 Desember sampai hari raya Pembaptisan Tuhan, ada beberapa perayaan penting yang merupakan buah2 dari perayaan Kelahiran Tuhan yang perlu kita rayakan dengan sukacita, yaitu: Pesta Keluarga Kudus (Yesus, Maria dan Yoseph) tanggal 30 Desember; hari raya Maria Bunda Tuhan tanggal 1 Januari; Epifani/hari raya Penampakan Tuhan kepada bangsa2 tanggal 6 Januari; dan sebagai penutup masa Natal diakhiri dengan hari raya Pembaptisan Tuhan tanggal 13 Januari. Sesudah perayaan Pambaptisan kita kemudian memasuki masa biasa yang ditandai dengan warna hijau. Cukup panjang perayaan sukacita natal kita, bukan?

Jadi, minggu Adven ketiga-sampai Adven keempat ini adalah minggu untuk ‘melatih’ kesabaran kita; belajar memahami bahwa bahkan Karya Keselamatan Tuhan membutuhkan waktu yang cukup; bukan asal manasuka mengikuti kemauan segelintir orang.

Bukankah normalnya selama menunggu saat2 kelahiran orang tidak bersukacita pesta pora makan minum sementara sang ibu belum melahirkan bayinya?? Itu saat2 yang khusus dengan sedikit cemas tapi penuh harap berdoa bagi keselamatan bayi dan ibunya supaya kelahirannya lancar dan selamat. Baru sesudah kelahiran kita boleh bersukacita sepanjang minggu sampai Pembaptisan Tuhan.
Begitulah sebaiknya jika kita mau mengikuti tradisi Katolik yang benar.

(Salam hangat, P.Christianus Hendrik SCJ-South Dakota, USA)

Posted in n. ADVEN - NATAL, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Tradisi Adven Wreath (Lingkaran Lilin Adven)

Posted by liturgiekaristi on November 30, 2012


Yang dimaksud dengan Adven Wreath atau Lingkaran Adven adalah sebuah lingkaran yang dibuat dari ranting2 kering dililitkan membentuk sebuah roda/lingkaran dan dilengkapi/dihiasi dengan daun2 hijau atau umumnya daun2 evergreen- sejenis pinus yang terus hijau sepanjang tahun. Di setiap sisi lingkaran ranting tersebut, dengan jarak
yang kurang lebih sama, diletakkan empat lilin yang akan dinyalakan setiap hari minggu selama empat minggu masa persiapan menjelang natal.

Tradisi lingkaran Adven itu sendiri tidak secara langsung muncul dari ‘kalangan Gereja’. Lebih umum pada awalnya muncul kebiasaan di rumah2 masyarakat petani (terutama di Jerman, Scandinavia, dan kemudian menyebar ke America dan Eropa yang bermusim dingin), mereka membuat lingkaran lilin ini selama bulan Desember sebagai simbol ‘Penghangat di musim dingin’ dan harapan atas hari baru, musim baru yang lebih hangat.

Kebiasaan menempatkan lingkaran lilin selama masa Adven di dalam Gereja sendiri secara formal baru mulai menjadi biasa sejak tahun 1600-an. Keempat lilin yang dinyalakan secara berurutan bukan hanya melambangkan empat minggu masa persiapan natal; lebih dari itu keempat lilin melambangkan juga masa empat abad penantian bangsa Israel akan seorang Juru selamat, yaitu sejak jaman nabi Mikha hingga kelahiran Kristus. Jadi, dari simbol ‘kehangatan menantikan musim baru’, Gereja mengadopsi tradisi lilin ini menjadi masa penantian akan Kristus Penyelamat dunia. Pusat perhatian pada Kristus, bukan untuk mengenang santo-santa atau yang lainnya.

Aslinya tidak ada kebiasaan yang berkaitan dengan warna lilin ungu (jaman dulu belum bisa membuat lilin berwarna seperti sekarang). Jadi cukup lilin putih biasa (jika sekarang bisa dengan lilin ungu dan pink baik juga), dan sudah mencakup minggu ketiga sebagai minggu Gaudete=sukacita, khusus mengingatkan bahwa masa penantian makin dekat dan dengan sikap hati yang berdebar2 penuh sukacita semakin memantas diri untuk menyambut raja Kristus yang akan lahir ke dunia.

Lingkaran Adven=Melambangkan putaran waktu tanpa awal dan Akhir; simbol kekekalan, keabadian. Kristus adalah Alpha dan Omega, yang ada sejak semua dan tanpa akhir. Semuanya, termasuk hidup kita berasal dari, di dalam, dan akan menuju kepada Dia yang menyelamatkan.

Ranting kering=melambangkan jiwa kita yang kering, musim yang dingin, kebekuan iman, kematian dari dosa, sikap hidup yang statis, mandeg.

Daun2 hijau yang menyembul dari ranting kering=Melambangkan kehidupan baru, harapan baru. Evergreen/daun2 pinus yang hijau sepanjang tahun melambangkan juga kekekalan jiwa kita di dalam Kristus sang Penyelamat.

Lilin yang dinyalakan secara berurutan=Melambangkan gerak progresif, terus maju untuk kehidupan yang senantiasa diperbaharui. Maju mendekati kehadiran Kristus sang Juru selamat dunia.

Nyala lilin=Melambangkan kehangatan, cahaya baru, Terang baru, yakni Kristus sendiri. Semakin mendekati Natal-kelahiran Juru Selamat, semakin jiwa kita dihangatkan dan diterangi supaya sampai di setiap sudut2 yang gelap memperoleh keselamatanNya.

Baik kiranya (tidak harus) jika tradisi memasang lingkaran lilin Adven di rumah2 dihidupkan kembali untuk membawa ‘suasana penantian’ selama masa Adven itu digemakan juga sampai di rumah2 keluarga Kristiani-bukan hanya di Gereja. Bisa menjadi sarana menumbuh-kembangkan iman keluarga dengan membuat lomba merangkai lingkaran Adven, bisa juga keluarga2 membawa lingkaran Advennya ke gereja untuk diberkati sebelum mulai Adven minggu pertama – sekedar usulan.
Selamat mempersiapkan diri memasuki masa Adven.

Salam hangat, P.Christianus Hendrik, South Dakota-USA

Posted in n. ADVEN - NATAL, r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa orang Katholik percaya kepada MALAIKAT???

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


Mengapa orang Katholik percaya kepada MALAIKAT???

Malaikat sering digambarkan secara populer seperti bayi montok dengan sayap2 kecil. Malaikat sebenarnya suatu Kekuatan Ilahi yang dihadirkan sejak penciptaan. Mereka adalah Roh2 yang bertindak sebagai pelayan2 Allah, Pembawa pesan dari Allah kepada manusia dan bertahta bersama Allah di Surga. Dalam hierarki keselamatan, menurut keyakinan iman Katholik posisi mereka lebih tinggi daripada para kudus dan para rasul. Secara tidak langsung tata urutan hierarki itu bisa dilihat misalnya dalam bagaimana Gereja menempatkan mereka dalam urutan Prefasi sebelum Doa Syukur Agung.

Malaikat diciptakan sebagai Roh yang suci dengan kemampuan intelegensi yang tinggi dan berkehendak bebas, bercahaya gemilang dan abadi… Beberapa tugas ke”Malaikat-an” yang sempat terekam dalam Kitab Suci meliputi: Pemberitaan dan pelayanan para Nabi, memimpin umat Allah keluar dari mara bahaya, dan mengabarkan tentang warta Kelahiran Juruselamat (malaikat Gabriel) dan serombongan para malaikat di padang yang yang mewartakan kabar sukacita kepada para gembala. Dalam beberapa peristiwa Malaikat juga membawa kesembuhan seperti dalam kisah Tobit (malaikat Rafael); dan Malaikat Mikhael yang berperang melawan kuasa setan dan kejahatan.

Perhatikanlah nama2 mereka yang berakhiran El yang berarti “dari Allah”-yang datang dari Allah/Utusan Allah”. Bahkan terkadang Malaikat itu juga disebut sebagai Allah sendiri yang hadir secara istimewa dalam rangka penyertaan Ilahi dalam hidup manusia (ingat pergumulan Yakub dengan malaikat dalam PL).

Dalam konteks hidup kristiani, kita memiliki kesempatan untuk memohon bantuan perlindungan para malaikat ini dalam hidup keseharian..Dalam saat sakit mohon pertolongan malaikat Rafael, saat2 di perjalanan atau dalam menghadapi hal2 yang berat dan serius meminta bantuan malaikat Mikhael, dsb. Mereka menghadirkan kuasa Allah baik secara langsung atau tidak langsung; dan mengingatkan kita terus menerus akan tanda2 kehadiran Allah di tengah kita.

Salam hangat,

P.Christianus Hendrik SCJ – South Dakota, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa orang Katolik merayakan “Sabath” pada hari minggu??

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


Mengapa orang Katolik merayakan “Sabath” pada hari minggu??

Pada awalnya orang2 Kristen Perdana adalah orang2 Yahudi yang merayakan tradisi Sabath pada hari jumat malam dan kemudian merayakan “Ekaristi” (dulu masih sangat sederhana-jangan dibayangkan Ekaristi sudah seperti sekarang) untuk menghormati Kebangkitan Yesus Kristus (lih. Kis 20:7). Akhirnya mereka di “ekskomunikasi”(disingkirkan, dibuang, dianggap sesat) dari aliran Yudaisme yang berpegang kuat pada tradisi Yahudi dan diusir dari sinagoga dan tempat berkumpulnya orang2 Yahudi.

Tidak lagi diijinkan menjalankan praktek iman keyahudian mereka, orang2 Yahudi yang mulai percaya penuh kepada Kebangkitan Kristus ini mulai berkumpul sendiri dan memindahkan perayaan “Sabath” mereka pada hari minggu. Demikianlah perlahan2 orang2 Kristen Perdana mengubah tatalaksana Sabath ke dalam Liturgi Ekaristi atau Misa Kudus yang berpusat pada wafat dan kebangkitan Kristus; di mana segala sesuatunya, seluruh tatanan tradisi dan budaya mereka pelan2 mendapat warna lebih Kristiani dalam terang Kristus.

Demikianlah tradisi Ekaristi yang berawal dari perayaan Sabath itu terus berkembang sampai sekarang menjadi Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan pada “Hari Tuhan”(Domingo=minggu).

NB:
Harus hati2 memahami kata “Sabath” di sini supaya tidak dipahami secara keliru bahwa kita tetap merayakan Sabath sampai sekarang. Dalam arti kiasan bolehlah dikatakan kita melanjutkan ‘Sabath baru’ dalam iman akan Yesus Kristus; tapi bukan dalam arti “Sabath” sejauh dipahami dalam Yudaisme yang menitik beratkan pada aturan harus beristirahat untuk menghormati karya Allah dalam penciptaan. Ekaristi yang kita rayakan adalah perayaan “Sabath” baru dalam manusia “Adam yang baru” yakni Yesus Kristus yang telah bangkit dari alam maut dan menjadi Ciptaan baru dalam iman dan cintakasih.
Di sini hanya mau dikatakan bagaimana sejarahnya perayaan liturgi pada hari minggu itu berasal.

Salam hangat,

P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota Mission, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa orang Katolik percaya pada Purgatory (Api Pencucian)???

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


Bertumbuh dalam Iman:
Mengapa orang Katolik percaya pada Purgatory (Api Pencucian)???
(Ulasan ini sekaligus menjawab pertanyaan Sdr. Soni-Joice)

Yesus pernah berkata:” Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni…..Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.(Mat.12:31-32). Juga di dalam Perjanjian Lama pernah dikisahkan tentang tindakan Yudas sesudah selesai peperangan memiliki niat untuk mendoakan para tentara yang gugur mohon penghapusan atas dosa2 mereka:”…..Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya…… Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem …untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati….”(2 Makabe 12:42-44).

Benar bahwa ketika kita meninggal di dalam tangan kasih Tuhan, pada akhirnya kita semua akan masuk Surga; tetapi jika karena dosa tertentu yang cukup berat kita belum mendapatkan pengampunan dosa yang sepantasnya, maka kita harus dibersihkan dulu di Api Pencucian (Purgatory). Dosa2 yang dianggap berat yang disebut sebagai yang menyebabkan kita harus mengalami pembersihan di Api Pencucian misalnya dosa menghojat Roh Kudus, menghinakan nama Tuhan dan menyangkal Hakekat keAllah-an Yesus atau sebaliknya.

Dalam kisah tentang Abraham dan Lazarus (Luk 16:19-31) sangat jelas digambarkan tentang kisah orang yang sudah meninggal dan masih menderita di Api Pencucian. Juga dikisahkan tentang hubungan antara mereka yang sudah meninggal di dunia sana masih berelasi erat dengan kita yang masih tinggal di bumi ini dan akan kebutuhan untuk mendoakan mereka. Lewat perumpamaan ini kita bisa menemukan gambaran lebih terang tentang pemahaman Purgatory atau Api Pencucian dan panggilan sebagai orang beriman untuk terus mendoakan saudara-saudari kita yang masih membutuhkan pengampunan atas dosa2 mereka.

Salam hangat,

P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota Mission, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa orang yang dibaptis membutuhkan Orang tua-wali Baptis/”godparents”?

Posted by liturgiekaristi on July 10, 2012


Mengapa orang yang dibaptis membutuhkan Orang tua-wali Baptis/”godparents”?

Dalam tradisi iman Gereja katolik, peran wali baptis lebih dari sekedar gelar kehormatan. Sementara orangtua yang sesungguhnya memiliki tanggungjawab utama untuk mengajarkan iman dan moral yang baik kepada anak; demikian tugas wali baptis adalah ikut membantu mengajar, memberi contoh dan keteladanan dalam hal iman dan moral hidup yang baik. Bahkan dalam tradisi yang sebenarnya, jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa salah satu atau kedua orangtua, maka tugas orang tua/wali baptis-bersama Gereja-mengambil alih peran orangtua memelihara dan membesarkan mereka terutama secara spiritual. Maka dalam tata hukum gereja, syarat utama untuk menjadi Bapak/Ibu emban baptis/wali baptis/godparents adalah: Harus Katolik, sudah menerima sakramen Ekaristi dan Krisma/penguatan; dan tak kalah pentingnya adalah memiliki kapasitas sebagai “guru dan teladan” hidup kristen yang baik di tengah masyarakat.

Melihat pentingnya peran wali Baptis (God parents) maka sebaiknya merekadipilih tidak ‘asal comot’, yang penting ada. Harusnya mereka pun dipersiapkan dengan baik/minimal ikut terlibat dalam pembekalan calon baptis sendiri agar bersama2 mengalami dinamika kelahiran baru di dalam iman mereka.

Dalam tata liturgi Baptis, kehadiran wali baptis seiringan/selalu berdampingan dengan orang tua di sepanjang liturgi Pembaptisan. Baik juga bahwa misalnya setelah pembaptisan pun, setiap merayakan ekaristi, masih membiasakan diri duduk berdampingan/dekat dengan (keluarga) yang baru menerima baptisan. Mereka ikut andil dalam upacara pembaptisan sebagai saksi iman atas upacara baptisan; juga terlibat secara liturgis misalnya: menyalakan lilin baptis dan menyerahkan kepada orangtua baptisan/baptisan sendiri, membantu meletakkan kain putih di bahu baptisan, menumpangkan tangan di bahu baptisan sebagai penyaksi dan peneguh, membantu menyeka kening setelah pembaptisan, dll. Semua peran2 tersebut sebaiknya dikonfirmasikan dulu dengan Imam dan petugas tata laksana pembaptisan supaya bisa berjalan lancar dan khusyuk.
Dalam tiap kesempatan Ekaristi dan doa2 pribadinya, adalah juga tugas para wali baptis untuk mendoakan anak2 baptis mereka agar senantiasa terpelihara imannya…
Salam hangat,
P.Christianus Hendrik SCJ, South Dakota Mission, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Mengapa orang Katholik mengucapkan “AMIN” pada akhir setiap doa?

Posted by liturgiekaristi on July 9, 2012


Dalam bahasa Ibrani=Semitic, kata “Amen/Amin” memiliki akar yang sama dengan kata “Percaya/Believe”. Akar kata ini juga mengungkapkan hal2 yang dapat dipercayai dan atau yang berkaitan dengan kejujuran atau kesungguhan, keteguhan hati. Yesus sering menggunakan kata “Amin” sampai dua kali dalam satu kesempatan berbicara di hadapan publik untuk menekankan kesungguhan dan ‘keterpercayaan’ dari pengajaran2Nya.
Jadi ketika kita mengatakan “Amin” pada akhir sebuah doa, kita menegaskan dan meneguhkan kembali iman kita dalam apa yang sudah kita katakan/doakan. Dengan mengucapkan kata “Amin” itu kita juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah akan mendengarkan doa2 kita.
-Salam hangat-P.Christianus Hendrik SCJ, SOuth Dakota, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »

Tradisi pengakuan dosa sebelum Misa Kudus.

Posted by liturgiekaristi on July 9, 2012


Tradisi pengakuan dosa sebelum Misa Kudus.

Sejak dulu, dalam tradisi Gereja Katolik ada kesempatan bagi umat beriman untuk mengakui dosa2nya sebelum perayaan Ekaristi. Hal ini dimaksudkan supaya bagi orang2 yang merasa memiliki halangan2 untuk menerima sakramen Ekaristi masih dimungkinkan membereskan dirinya sebelum perayaan Ekaristi dimulai. Maka dulu biasanya Setiap Imam yang akan merayakan Ekaristi, sudah berada di kamar pengakuan satu jam atau minimal setengah jam sebelum mulai perayaan Ekaristi.

Ada beberapa keuntungan dari tradisi yang sekarang mulai langka ini:

1. membantu umat beriman untuk semakin membangun sikap hati yang pantas untuk menerima Sakramen Ilahi. Sekaligus kebiasaan rutin mengaku dosa menjaga dan memelihara hidup rohani mereka untuk semakin peka atas setiap dosa dan kesalahan hidup mereka, dan menjaga diri untuk tetap ‘bersih’ dalam hidup sehari2. Sekaligus kebiasaan itu membantu orang untuk tidak hidup dalam dosa dan kebiasaan salah yang menumpuk.

2. Tradisi memberi waktu untuk pengakuan dosa sebelum misa juga menyempatkan para Imam untuk menjaga suasana hening bagi batinnya. Jangan lupa, setiap Imam harus menghadirkan hidup spiritualnya dan menghadirkan Roh Allah secara khusus dalam perayaan Ekaristi. Jadi jika sampai detik2 terakhir menjelang misa masih sibuk ngobrol dengan umat atau bahkan mengurusi hal2 administratif lainnya yang tidak berkaitan dengan misa…mereka akan kehilangan banyak kekuatan spiritualnya sebagai Pemimpin yang harus menghadirkan Allah dalam Ekaristi. Itulah kiranya salah satu sebab mengapa sering imam dirasakan “kering” kehadirannya. “Kering” dalam khotbah2 dan doa2nya…karena hati dan perhatiannya sibuk dengan banyak hal lainnya.

3. Membantu menciptakan suasana hening dan tobat di sekitar altar. Hal ini amat penting. Biasanya tempat pengakuan dosa berada di sekitar Santuary/panti Imam, atau dekat sakristi. Kebiasaan diadakannya pengakuan dosa menjelang misa, di mana umat beriman lainnya bisa melihat ada saudara/i-nya yang sedang mengaku dosa; bisa lebih menggerakan hati untuk setidaknya juga ikut membangun suasana hening dan tobat menjelang Misa Kudus dan lebih mengarahkan hati kepada kehadiran Allah.

4. Bahkan jika tidak ada yang mengaku dosa; kesempatan untuk hening di ruang pengakuan dosa membantu para Imam untuk lebih mempersiapkan batin dan pikirannya tenang dan mengarah kepada Allah saja. Hal mana akan sangat berpengaruh dalam kepemimpinan spiritualnya dalam mempersembahkan Ekaristi. Bukankah umat akan senang jika Imamnya sungguh khusyuk dan berdoa dengan penuh perhatian bagi umatnya?

Sekedar sharing; saya melayani 6 paroki di Reservations (tempat penampungan orang2 Indian Native American). Tiga paroki untuk orang2 Indian Native American, dan tiga paroki lainnya untuk orang2 Anglo (white people). Sampai sekarang (ada 3 imam yang melayani) kami masih terus menjalankan tradisi pengakuan dosa sebelum misa ini. Maka selalu diusahakan setengah jam sebelum misa, Imam sudah siap dengan alba dan stola di ruang pengakuan. Dalam prakteknya selalu ada satu, dua, atau lebih umat yang mengaku dosa sebelum Misa Kudus. Kemudian 10 menit menjelang misa, Imam menuju Sakristi dan mengenakan pakaian misa lengkap dan berdiri di depan pintu Gereja bersama petugas lainnya menyambut, menyapa, dan menyalami umat yang hadir… Masih cukup waktu untuk menyapa umat, dan hati lebih siap untuk mempersembahkan misa tanpa terburu2…

Saran:
– Berilah waktu yang secukupnya bagi para Imammu sebelum perayaan Ekaristi, supaya ada waktu tenang dan hening bagi mereka mempersiapkan diri secara spiritual. Jangan menyibukkan mereka dengan urusan2 apapun menjelang perayaan Ekaristi.
– Ingatkanlah Imammu jika mereka terlalu sibuk dengan urusan macam2 sebelum perayaan Ekaristi. Jangan takut, ini adalah juga tugas umat untuk mengingatkan Imamnya. Kadang ada Imam yang karena terlalu “sibuk” sampai tidak bisa menolong dirinya sendiri. Tolonglah mereka dengan mengingatkan waktu2 hening menjelang Misa Kudus.
– Bangunlah kebiasaan mengaku dosa sebelum Misa Kudus (dan Imam2mu dengan sendirinya akan terbangun juga kebiasaan yang sama), dan juga membangun suasana hening sebelum perayaan Ekaristi, agar suasana hikmad, khusyuk, hening, tercipta sejak sebelum Ekaristi dan membantu lebih banyak orang untuk dapat berdoa dengan baik.
Salam hangat,
P.Christianus Hendrik, South Dakota Mission, USA

Posted in r. BERTUMBUH DALAM IMAN (BY P. CHRISTIANUS HENDRIK SCJ)) | Leave a Comment »