Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

Seputar Liturgi Ekaristi Gereja Katolik

  • Majalah Liturgi KWI

  • Kalender Liturgi

  • Music Liturgi

  • Visitor

    free counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    Free Hit Counters

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    free statistics

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    hit counters



    widget flash

    widget

    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    widget

    web page counter

  • Subscribe

  • Blog Stats

    • 616,332 hits
  • Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Suci, Alkitab, Pengantar Kitab Suci, Pendalaman Alkitab, Katekismus, Jadwal Misa, Kanon Alkitab, Deuterokanonika, Alkitab Online, Kitab Suci Katolik, Agamakatolik, Gereja Katolik, Ekaristi, Pantang, Puasa, Devosi, Doa, Novena, Tuhan, Roh Kudus, Yesus, Yesus Kristus, Bunda Maria, Paus, Bapa Suci, Vatikan, Katolik, Ibadah, Audio Kitab Suci, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, Tempat Bersejarah, Peta Kitabsuci, Peta Alkitab, Puji, Syukur, Protestan, Dokumen, Omk, Orang Muda Katolik, Mudika, Kki, Iman, Santo, Santa, Santo Dan Santa, Jadwal Misa, Jadwal Misa Regio Sumatera, Jadwal Misa Regio Jawa, Jadwal Misa Regio Ntt, Jadwal Misa Regio Nusa Tenggara Timur, Jadwal Misa Regio Kalimantan, Jadwal Misa Regio Sulawesi, Jadwal Misa Regio Papua, Jadwal Misa Keuskupan, Jadwal Misa Keuskupan Agung, Jadwal Misa Keuskupan Surfagan, Kaj, Kas, Romo, Uskup, Rosario, Pengalaman Iman, Biarawan, Biarawati, Hari, Minggu Palma, Paskah, Adven, Rabu Abu, Pentekosta, Sabtu Suci, Kamis Putih, Kudus, Malaikat, Natal, Mukjizat, Novena, Hati, Kudus, Api Penyucian, Api, Penyucian, Purgatory, Aplogetik, Apologetik Bunda Maria, Aplogetik Kitab Suci, Aplogetik Api Penyucian, Sakramen, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Perminyakan, Sakramen Tobat, Liturgy, Kalender Liturgi, Calendar Liturgi, Tpe 2005, Tpe, Tata Perayaan Ekaristi, Dosa, Dosa Ringan, Dosa Berat, Silsilah Yesus, Pengenalan Akan Allah, Allah Tritunggal, Trinitas, Satu, Kudus, Katolik, Apostolik, Artai Kata Liturgi, Tata Kata Liturgi, Busana Liturgi, Piranti Liturgi, Bunga Liturgi, Kristiani, Katekese, Katekese Umat, Katekese Lingkungan, Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, Kwi, Iman, Pengharapan, Kasih, Musik Liturgi, Doktrin, Dogma, Katholik, Ortodoks, Catholic, Christian, Christ, Jesus, Mary, Church, Eucharist, Evangelisasi, Allah, Bapa, Putra, Roh Kudus, Injil, Surga, Tuhan, Yubileum, Misa, Martir, Agama, Roma, Beata, Beato, Sacrament, Music Liturgy, Liturgy, Apology, Liturgical Calendar, Liturgical, Pope, Hierarki, Dasar Iman Katolik, Credo, Syahadat, Syahadat Para Rasul, Syahadat Nicea Konstantinople, Konsili Vatikan II, Konsili Ekumenis, Ensiklik, Esniklik Pope, Latter Pope, Orangkudus, Sadar Lirutgi

Archive for the ‘g. PARTISIPASI UMAT’ Category

Petunjuk agar berbusana pantas pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi

Posted by liturgiekaristi on August 10, 2012


Pertanyaan dari seorang umat :

Selamat pagi … ketika kita ke gereja untuk merayakan Ekaristi… tentu kita sudah mempersiapkan diri dengan pantas… mohon admin memberikan pencerahan, dengan tidak menyinggung perasaan, bagaimana persiapan kita secara faktual — misalnya dalam berbusana ”pantas” seringkali saya perhatikan di kota ”modern” seperti Jakarta di Gereja Katedral Jakarta…. banyak para ibu, remaja…. mengenakan busana celana pendek….mungkin beberapa umat merasa jengah, risih… merasa kuno berbusana –seperti saya yang usia sudah melebihi setengah abad… Di Gereja St. Petrus, Roma atau mungkin beberapa tempat yang suci —agama lain—di beberapa negara, ada petunjuk agak berbusana pantas yang mengenakan celana pendek diharapkan tidak memasuki tempat…. Berkah Dalem.

Pencerahan :

Noor Noey Indah

Etika berpakaian di dalam Gereja :
1. Atasan model offshoulder biasanya digunakan untuk ke pesta, dan akan kurang sopan apabila dikenakan ke gereja. Apalagi dengan potongan dada yang rendah. Juga tali bra yang seharusnya berfungsi sebagai pakaian dalam, malah ditampilkan di luar. Pundak dan bahu tertutup adalah pakaian yang sopan.
2. Tank top atau blouse U can C, apapun alasan pemakaiannya sangatlah tidak tepat dikenakan ke gereja. Jika tetap akan dikenakan, lebih baik bila dikombinasikan dengan bolero, blazer, cardigan, selendang, atau scarf.
3. Apabila akan menggunakan atasan dengan lubang di punggung dan tanpa lengan, atau baju dengan potongan dada rendah sebaiknya mengenakan scarf. Termasuk di sini pakaian di dalam pesta perkawinan hendaknya dibedakan dengan pakaian mempelai saat pemberkatan pernikahan di gereja. Tentu pakaian mempelai ketika menerimakan sakramen suci juga dipilih yang layak / pantas dengan menghiraukan ketentuan diatas.
4. Celana hipster/jeans dengan atasan yang pendek, sehingga apabila berlutut atau duduk akan tampak bagian yang tidak layak dipertontonkan, tentulah sangat mengganggu orang yang ada di belakangnya.
5. Baju tipis (kain transparan) yang memamerkan bentuk dan warna pakaian dalam, tidak layak untuk dipertontonkan di gereja.
6. Bawahan yang pantas dipakai disarankan di bawah lutut, atau sekurang-kurangnya menyentuh lutut.
7. Celana pendek tidak dikenakan kecuali oleh anak kecil. Namun adalah sangat mulia jikalau sejak kecil anak dilatihkan untuk memakai celana panjang saat pergi menghadap Tuhan di gereja.
8. Sandal japit sudah menjadi pemahaman umum bukanlah alas kaki yang pantas untuk ke gereja.
9. Topi yang tidak dimaksudkan dibuat untuk peribatan hendaknya tidak dipakai di dalam gereja.
10. HP sebaiknya dimatikan saat misa berlangsung. Tidak pada tempatnya menerima telepon, ber-SMS, apalagi bermain games dalam gereja.
11. Tempat untuk bersujud bukan merupakan alas untuk sepatu dan sandal.
Semoga bermanfaat.. 🙂

Iin Soekamto ‎
@Terimakasih bu Noor… saya jadi ingat salah satu Romo KAJ ketika kotbah menyelipkan aturan berbusana di Gereja… dengan tegas dan jenaka memperingatkan dan minta dengan serius, agar para remaja putri maupun ibu2 tidak mengenakan kaus atau blus yang kala mengangkat tangan tampak pusar di depan, lantas tampak sebagian punggung di belakang …. sangat mengganggu pemandangan kata Romo terutama remaja pria dan bapak2….ini Gereja kata Romo lagi persis seperti sebagian bu Noor ungkapkan….dan akibatnya para model busana seperti itu sangat berkurang di gereja Katedral, beberapa waktu kemudian… Tampaknya peran keluarga, para Bapak, para Ibu juga Romo — mohon maaf — sangat diperlukan, agar doa kita tidak terpecahkan khusuk-nya melihat ‘ pemandangan’ seperti itu….BD..
Wednesday at 8:44am · Like

Teresa Subaryani Dhs
Berbusana pantas sebenarnya bukan hanya di dalam gereja, tetapi kemana pun seseorang itu pergi. Kalau ke pasar pakai pakain renang, pasti juga akan dianggap tidak pantas. Mengenakan busana yang pantas adalah wujud menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati Allah.
Kalau yang saya amati di sini (Italia), di pintu masuk gereja, selain ada papan petunjuk yg boleh dikenakan atau tidak, di beberapa tempat (misal di Katedral Firenze dan Katedral Turin) ada petugas yang “menyeleksi” pengunjung yang masuk (bahkan untuk mereka yang sekedar ingin lihat-lihat bangunan gereja). Disediakan juga kain penutup untuk mereka yang tetap ingin masuk ke dalam gereja namun dengan busana yang minim. Mungkin ini bisa juga diterapkan di gereja kita di Indonesia.

Advertisements

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

TPE 2005 – KURANG SOSIALISASI?

Posted by liturgiekaristi on May 4, 2011


Mariana Djayapranata yang terasa masih kurang sosialisasi, krn masih banyak umat yg tdk mengikuti aturan TPE 2005, contohnya saat konsekrasi, waktu Hosti / Piala Anggur diangkat, umat seharusnya memandangNya dan ketika Imam meletakkan Hosti dan berlutut, umat menundukkan kepala dgn hormat dan khidmat….sering kali tidak demikian kenyataannya…

Alex P Murdoko juga tergantung gembalanya di tiap paroki..mau patuh ga..:-) ada TePas ada Kolasi dll, utk para pastor, lebih dari cukup.

Larry Leonardo Pertanyaan untuk awam dan imam juga. Biasanya umat terserah imam, imam juga terserah umat.
Peraturan dijadikan bola pimpong.. Ayo berjuang..!

Bonar Pintor H Siahaan Setuju dgn LARRY. Seringkal4 imam kalau diingatkan keluarlah alasan bhw KITA HIDUP TDK MELULU PERATURAN DAN JG BGMN IMAN UMAT BERKEMBANG DAN HIDUP DLM PESAYAAN. Jd kalau tdk sesuai dgn aturan atau norma ya tdk menjadi dosa. enak kan ….

Mariana Djayapranata yang terasa masih kurang sosialisasi, krn masih banyak umat yg tdk mengikuti aturan TPE 2005, contohnya saat konsekrasi, waktu Hosti / Piala Anggur diangkat, umat seharusnya memandangNya dan ketika Imam meletakkan Hosti dan berlutut, umat menundukkan kepala dgn hormat dan khidmat….sering kali tidak demikian kenyataannya…

Fransiskus Zaverius Sutjiharto

‎@ Pak Mariana Djayapranata: saya sangat setuju – namun umat yang terlanjur “bertradisi” menyembah jadi bertanya : mengapa harus demikian? Jika boleh saya kutibkan dari buku saya : berhala itu bernama Ekaristi? sebagai berikut : Pada saat m…engucapkan kata-kata institusi imam membungkuk sedikit dan mengucapkan kata-kata institusi dengan lantang dan jelas. Setelah mengucapkannya, imam mengangkat hosti agar dilihat umat, lalu meletakkannya ke patena dan berlutut. Demikian juga atas piala. Disini terjadi apa yang disebut dengan elevasi. Istilah elevasi menunjuk pada diangkat / diperlihatkannya hosti / piala kepada umat pada saat sesudah kata-kata institusi diucapkan. Peristiwa ini sangat penting secara spiritual. Kita sebaiknya mengangkat kepala dan mata menatap Yesus yang ditinggikan.
Yesus yang ditinggikan di salib secara tipologi telah dihadirkan dalam bentuk ular tembaga Musa di padang gurun yang mampu menghidupkan mereka yang dipagut ular (akibat dosa = kematian ; ular lambang sumber dosa). Karena “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” ( Yoh 3:14 – bdk Bil 21:9). “Jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”. (Bil 21:9). Yesus yang sama itu sekarang ditinggikan dalam rupa hosti suci.
Tradisi umat di Indonesia adalah menyembah, menundukkan kepala dan mengucapkan kata-kata Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Tindakan menyembah sangat saleh namun sebaiknya kita tetap mengangkat kepala dan memandang dia, agar kita tetap hidup!
Tradisi elevasi hosti suci baru dilakukan abad XIII (elevasi piala baru abad XVI) sebagai devosi terhadap sakramen Mahakudus yang timbul akibat penyangkalan Berengarius akan kehadiran nyata (praesentia realis) Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi. Sejak itu muncul keyakinan bahwa dengan memandang hosti dan piala suci yang dielevasi itu, umat akan memperoleh berkat khusus.

Soetikno Wendie Razif

Banyak frater2 (calon Romo) yang pintar2 dikirim studi lanjut Filsafat/Theologi/Paedagogi … sisanya jadi Romo Paroki, jadi yang belajar liturgi siapa ??? ….Liturgi perlu penguasaan Kitab Suci dan Missiologi …dan jangan lupa Antropolog…i juga …sehingga dapat memahami mana adat istiadat yang dapat diterima dalam Gereja dan mana adat yang tidak boleh masuk dalam liturgi ….Mau bukti, bukan hanya masalah sembah sjud yang beragam, tapi coba lihat yang lebih fundamental : Pertunangan,Malam Midodareni dan Ngruwat … kacau tata caranya ….

Posted in f. TATA GERAK LITURGI, g. PARTISIPASI UMAT, p. Kumpulan sharing | Leave a Comment »

SOPAN KAH DATANG KE MISA PAGI HARIAN MEMAKAI PAKAIAN OLAH RAGA?

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


Pertanyaan umat :

Saya tertarik dengan note “SUARA HATI SEORANG UMAT GEREJA KATOLIK”. Kalau
boleh saya bertanya : Bagamana apabila dalam kasus misa harian terdapat beberapa umat yg biasanya jg memanfaatkan moment menghadap Tuhan setiap pagi utk menjaga kesehatan dgn berjalan kaki ato bersepeda ke gereja. Maka bapak2 atau ibu2 tersebut memakai kaos & baju training. Bukankah
Tuhan memandang hati, bukan penampilan kita? Mohon penjelasannya?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Karena Misa kudus adalah perayaan jemaat, maka sekalipun kita bisa berargumen bahwa Tuhan tidak memandang penampilan lahiriah orang, tetapi melihat hatinya; namun harap disadari bahwa kita juga perlu menjaga kenyamanan dan membantu suasana doa jemaat.

Kalau kehadiran kita dengan pakaian yang tidak lazim itu mengganggu (banyak) umat saya kira kita harus berpikir ulang tentang pakaian dan penampilan kita.
Jadi mengganggu di sini bisa karena pakaian, kebersihan badan, penampilan kita, dlsb.

NB. Hal “sopan” dan tidak dalam soal pakaian memang bisa diperdebatkan, tetapi ada standar sederhana bahwa sesuatu adalah sopan kalau lazim dan pada tempatnya.
Contoh memakai pakaian renang yang cuma 2 potong itu adalah sopan untuk di kolam renang dan pantai, dan malahan tidak sopan orang renang dengan pantalon yang lengkap dengan jas dan dasinya.
Maka setiap pakaian dirancang dan dibuat untuk lingkungan tertentu dan keperluan tertentu.

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

UMAT BLACKBERRY-AN/ SMS-AN/ SELAGI MISA DI GEREJA ???

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


 

SHARING DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ


Teman-teman, saya bagikan sharing menarik seorang milister berkaitan dengan soal HP dan Ekaristi kita di gereja. Smoega bermanfaat dan selamat merenungkan :

HANDPHONE di dalam PENERBANGAN, versus HANDPHONE di dalam GEREJA
http://www.facebook.com/vincentpiano…

Mungkin judul diatas, seperti sebuah pembanding yang Kontras dan Aneh. Tetapi itulah kenyataannya, dan apa yang saya akan share disini bukanlah mau menggurui, dsb.
Saya hanyalah sesorang yang merasa ‘TERTEGUR’ (secara pribadi) dengan apa yang sudah TUHAN ingatkan dalam diri saya.

NAIK PESAWAT?.
Yaa…bagi sebagian dari kita, itu adalah hal yang mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali. Tetapi bagi sebagian dari kita, sudah sering kali naik pesawat, bahkan ‘bekerja’ di pesawat.
Seperti layaknya sebuah prosedur penerbangan, saat kita akan melakukan sebuah penerbangan, semua HANPHONE harus DIMATIKAN atau berada dalam OFLLINE/FLIGHT MODE. Karena dapat menggangu sistim navigasi pesawat.

Hal itu berarti ‘memutuskan’ sementara terhadap semua hubungan dengan sinyal operator handphone kita masing-masing, dan menyalakannya kembali saat pesawat telah mendarat, dan berhenti dengan sempurna di bandara tujuan.
Tentu kita sudah paham akan hal ini, dan mengikuti prosedur ini, karena ingin ‘nyawa’ kita selamat selama penerbangan, dan tidak ingin juga mendapat masalah dengan awak pesawat karena menolak mematikan handphone.

Saya sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Jumat siang, saya merasa TUHAN tegur langsung di dalam sebuah ibadah di salah satu kota saat saya sedang pelayanan disana. Biasanya saya hanya me-nonaktifkan nada dering saja, dan masuk dalam menu Vibrate, dan semua sms, telp masih dapat tetap masuk tanpa ada ringtonenya. Tetapi hari itu, saat ibadah baru dimulai, tiba2 seperti ada ‘sesuatu’ yg berbicara sangat tegas dalam batin saya. Secara umumnya seperti ini…

“Kamu, sangat menjaga dan aware dengan safety di dalam dunia penerbangan, dan mematuhi segala prosedurnya. Kamu sanggup mematikan handphone-mu selama penerbangan berlangsung demi menghormati dan menjaga sebuah prosedur keselamatan, dan menghindari masalah dengan awak pesawat karena menyalakan handphone.
Masa dirimu tidak dapat mematikan handphonemu untuk AKU hanya dua sampai tiga jam saja?. Apakah AKU tidak lebih dari sebuah penerbangan dan awak pesawat sehingga kamu lebih mementingkan mematuhi mereka ketimbang menghormati KU?”.

Saya tidak menunggu lama… saya ambil handphone dari saku celana saya, saya sms calon istri saya, saya kabarin dia, jika saya OFFLINE selama ibadah berlangsung dan akan ONLINE lagi setelah ibadah selesai. Singkat cerita, saya OFFLINE handphone saya ke menu Flight Mode (karena Alkitab saya ada di Handphone). Hari itu saya ibadah dengan air mata yang menggenang di mata saya. Saya minta ampun ke TUHAN, selama ini saya tidak sadar bahwa secara tidak langsung saya ‘merendahkan’ TUHAN lebih rendah dari sebuah penerbangan.

Mari kita jujur saja, jika handphone kita tetap menyala dalam ibadah, meskipun dalam menu Vibrate/getar. Perhatian dan konsentrasi kita terusik dengan adanya SMS yang masuk, atau telepon yang masuk, bahkan saya juga kerap menemui, malah BER-FACEBOOK ria selama firman Tuhan.

Kembali lagi seperti apa yg dikatakan dalam Firman TUHAN, ALLAH kita adalah ALLAH yg cemburu. dalam artian ALLAH kita tidak ingin ada yang ‘menyaingi’ keberadaanya.
Secara logika saja, mungkin anda lebih takut terhadap sanksi yang diberikan oleh manusia (kelihatan), dari pada sanksi dari TUHAN (yang ‘belum’ kelihatan).

Jika kita bertemu dengan Bapak Presiden, mungkin kita akan menghadap dengan kondisi kita yang terbaik. Berpakaian paling rapi, menggunakan parfum yang terbaik, make up atau menyisir rambut kita dengan sangat rapi, dan bertatap muka dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan bapak Presiden. Dan sangatlah tidak mungkin saat kita bertemu Presiden, kita berani angkat telepon atau ber sms ria, apalagi bermain facebook di hadapan beliau, sementara beliau berbicara kepada kita. Betul????
Jika berani pasti anda akan ditendang oleh PASPAMPRES keluar dari Istana Negara dalam waktu singkat.

TUHAN lebih tinggi dari jabatan seorang Presiden. TUHAN adalah Pencipta kita. Sudah selayaknya TUHAN mendapat tempat dan perlakuan tertinggi dalam kehidupan kita.
TUHAN hanya minta matikan handphone sesaat saja dalam ibadah. Hanya untuk berkonsentrasi pada NYA, dan ‘mendengarkan’ apa yang TUHAN inginkan dalam kehidupan kita.

Saya baru tersadar, saat kita beribadah, kita itu sebetulnya melaksanakan ‘TAKE OFF’ untuk menikmati ‘penerbangan’ sesaat bersama TUHAN yang menjadi Pilot (PIC) kita. Dan kita pasti aman bersamaNYA. Kita harus mematikan handphone dan menyelaraskan tubuh, jiwa dan roh kita hanya kepada TUHAN. Ada saatnya ibadah baru berakhir, itulah ‘LANDING’ bersama TUHAN yang manis. Setelah kita menikmati ‘penerbangan’ terbang sesaat meninggalkan dunia sejenak bersama TUHAN, TUHAN memperlengkapi kita dengan Damai sejahtera, kekuatan baru, serta penghiburan dan berkat berkatNYA, untuk kita kembali menjalankan aktivitas kita di dunia ini. Saat ibadah telah selesai itulah, silahkan menyalakan handphone anda kembali. 🙂

Mungkin ada dari kita PRO dan KONTRA terhadap apa yang saya tulis di pagi ini. Hal itu sah-sah saja. Tetapi terlepas dari semuanya itu, saya hanya ingin membagikan tentang apa yang saya dapat beberapa saat lalu.

Mari kita bersama-sama mematikan atau meng-offline kan Handphone, PDA, iPhone, Blackberry kita selama ibadah.

Semoga Tulisan ini dapat menjadi berkat…
GBU

=================

Vincent Herdison
Jakarta, 21 April 2010

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

PARTISIPASI AKTIF UMAT – PADA SAAT HENING

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:

Tentang PARTISIPASI AKTIF DALAM PE dgn fokus pada aktivitas ‘HENING’.

Beberapa input saya.

Pertama. Banyak terjadi SALAH KAPRAH tentang partisipasi aktif (participatio actuosa [PA]) dalam Perayaan Ekaristi (PE).

Byk orang berpendapat bhw orang ber-PA dalam PE bila dia sendiri berdiri, berlutut, ber-aklamasi, bernyanyi, dst, dst.

Sedangkan, aktivitas ‘duduk-mendengarkan’ atau ‘ber-hening’ dianggap sebagai ke-pasif-an, tak buat apa-apa.

Kedua. Dari sekian byk point, hal yg paling sering dipandang sebagai ‘lawan’ PA adalah hening. Orang takut hening, takut mengantuk, merasa diri menjadi ‘penonton drama di panti imam’.

Ketiga. HENING: berdiam secara verbal tetaplah merupakan salah satu tuntutan rubrik PE yg ditujukan baik kepada imam juga kepada umat; tentu pada porsi, kesempatan dan frekwensi yg tidak selalu sama.

Dalam liturgi Gereja, keheningan mrpkn bagian dari PE dgn arti dan maksud yg berbeda2 menurut bagian2 dlm PE (lihat PUMR 45).

Keempat. Tentang ARTI DAN MAKSUD keheningan dlm bbrp bagian liturgi.

* Tobat: brmawas diri, permenungan akan ‘kekecilan’ manusia di hadapan Allah yg ‘mahabesar’.

* Doa2 Presidensial: penyampaian ujud doa pribadi.

* Post-homilia: peresapan Sabda Tuhan.

* Dalam DSA: umat menyatukan hati dlm doa bersama yg diucapkan hanya oleh imam.

* Post-komuni: syukur, pujian, permohonan pribadi.

Kelima, ke-HENING-an dalam PE merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif semua pihak asalkan PEMAKNAAN SEBAGAIMANA DIMAKSUDKAN OLEH LITURGI GEREJA tsb disadari, disetujui dan dihayati.

Terima kasih.

Salam, Zepto-Triffon Polii, Sorong

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

PARTISIPASI AKTIF UMAT DAN PENCERAHANNYA

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


Pak Agus Syawal mengatakan :

“Kalau mau, harus dimulai dengan definisi: “Partisipasi aktif umat itu” seperti apa? Sebagai pengantar saya beri bocoran dulu, bahwa yang dimaksud “partisipasi aktif” oleh Gereja umumnya di lapangan tidak sejalan dengan interpretasi umat atau bahkan hirarki nasional…. ”

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL :

Apa yang terbersit di benak orang banyak ketika mereka diminta untuk berpartisipasi aktif dalam Liturgi?..

Umumnya mungkin orang berpikir bahwa harus memegang jabatan atau melakukan sesuatu. Jadi lektor, komentator, koor, putera altar, pelayan ekaristi tidak lazim, menata bunga, dsb…

Ini baik dan bagus sekali kalau memang banyak umat terpanggil untuk menempati posisi seperti ini.

Tapi bukan ini pertama-tama yang dimaksud ‘aktif’.

Pemikiran umum kedua, umat harus banyak ambil bagian dalam kata-kata. Doa-doa imam jadi didoakan bersama umat (pembukaan, penutup, persembahan, doa damai, dsb dsb dsb), bacaan Kitab Sabda dibaca bergantian.

Pake tarian dan drama kalau perlu.

Diam saja berarti mengurangi partisipasi aktif.

Namun bukan ini juga yang pertama-tama dimaksud partisipasi aktif.

Apakah yang saya tuliskan mencerminkan pemikiran saudara-saudara pembaca wall ini?

Paus Yohanes Paulus II menuliskan apa yang dimaksud dengan partisipasi aktif, teks lengkapnya bisa dibaca di sini:

http://www.adoremus.org/JPIIadlim1198.html

Paparan panjang lebar diberikan oleh Paus Benediktus XVI dalam suratnya Sacramentum Caritatis (utamanya nomor 52-63).

http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/apost_exhortations/documents/hf_ben-xvi_exh_20070222_sacramentum-caritatis_en.html#Actuosa_participatio

Terjemahan bagian yang penting akan saya kerjakan dalam waktu dekat.

Banyak yang bisa direnungkan dan di diskusikan dari apa yang dibawakan oleh Paus Yohanes Paulus II:

“Partisipasi penuh tentu berarti bahwa setiap anggota komunitas memiliki peran untuk dilaksanakan dalam liturgi… Namun partisipasi penuh tidak berarti semua orang melakukan segalanya, karena ini akan menjurus kepada klerifikasi/mengkleruskan umat awam, dan mengawamkan imamat… Liturgi, seperti juga Gereja, dimaksudkan sebagai entitas hirarkis dan polifonis, menghormati berbagai peran berbeda yang dianugerahkan Kristus dan membiarkan berbagai suara yang berbeda menyatu membentuk satu madah pujian agung.

Partisipasi aktif tentu berarti bahwa dalam gerakan, kata-kata, lagu dan ibadah, semua anggota komunitas ambil bagian dalam tindakan menyembah. Tindakan ini bukanlah sebuah tindakan pasif. Namun partisipasi aktif tidak meniadakan keheningan pasif yang aktif, berdiam diri dan mendengarkan. Malahan sebaliknya, partisipasi aktif menuntut hal itu. Mereka yang menyembah tidaklah pasif, sebagai contoh, ketika mendengarkan bacaan atau homili, atau ketika mengikuti doa-doa yang diucapkan selebran, dan pelantunan mazmur dan musik dalam liturgi. Ini adalah pengalaman akan keheningan dan diam, namun dengan cara itu sangatlah aktif.

Partisipasi yang disadari memanggil seluruh komunitas agar secara baik diajar tentang misteri dalam liturgi, alih-alih pengalaman ibadah turun derajat menjadi sebuah bentuk ritualisme. Namun, hal ini tidak berarti mengusahakan secara konstan agar apa yang implisit dalam liturgi menjadi eksplisit, karena ini sering menjurus kepada penumpukan kata-kata dan informalitas yang asing bagi Ritus Romawi dan berakhir dengan trivialisasi (menjadikan biasa, kurang penting) ibadah.

Partisipasi yang disadari juga tidak berarti menekan semua pengalaman bawah sadar, yang sebenarnya sangat vital dalam liturgi yang penuh akan simbol yang berbicara pada alam bawah sadar maupun alam sadar kita.

Penggunaan bahasa setempat tentunya membuka harta liturgi bagi semua yang ambil bagian, namun ini bukan berarti bahasa Latin, terutama nyanyian yang secara jenius amat sesuai dengan Ritus Romawi, harus ditinggalkan sama sekali.

Jika pengalaman bawah sadar ditinggalkan dalam ibadah, kekosongan afeksi dan devosi akan tercipta dan liturgi bisa menjadi tidak hanya terlalu verbal, tapi juga terlalu selebral (hanya diterima otak)…

Ada alasan yang baik dalam sejarah Gereja bahwa semua pembaruan sejati senantiasa dikaitkan dengan membaca ulang tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja. Termasuk pembaruan di bidang liturgi. Para Bapa Gereja adalah gembala dengan semangat yang bernyala-nyala untuk mengabarkan Injil, dan karenanya mereka sangat tertarik akan semua dimensi ibadah, mewariskan bagi kita beberapa teks tradisi Kristen yang sangat penting… Para Bapa Gereja adalah pengkotbah ulung, dan sangat sulit dibayangkan akan terjadinya pembaruan kotbah Katolik yang efektif, tanpa kedekatan yang cukup dengan tradisi Patristik. Konsili mempromosikan kotbah yang seperti para Bapa Gereja, membuka kekayaan Kitab Suci yang tak pernah habis kepada umat beriman… Ini berarti para imam dan diakon harus dilatih untuk menggunakan Kitab Suci secara baik. Namun ini juga melibatkan kedekatan/pengenalan yang baik akan tradisi Bapa Gereja, tradisi teologis dan moral, dan juga mendalami pengetahuan akan komunitas dan masyarakat umum. Jika tidak demikian akan ada impresi bahwa pengajaran yang diberikan tidak berakar dan tanpa aplikasi yang bersumber dari Injil. Sintesa terbaik dari kekayaan doktrinal Gereja yang terkandung dalam Katekismus Gereja Katolik masih harus lebih diusahakan dalam kotbah Katolik.

Adalah esensial untuk senantiasa sadar bahwa liturgi tidak dapat dipisahkan dari misi Gereja untuk menginjili (evangelisasi). Jika keduanya tidak jalan bergandengan, keduanya akan runtuh. Jika perkembangan pembaruan liturgi hanya tampak luar atau tak seimbang, energi kita untuk penginjilan akan melemah. Dan jika kita hanya memperhatikan cara-cara baru penginjilan, pembaruan liturgis kita hanya eksternal dan mungkin melibatkan adaptasi yang tidak benar.”

Terjemahan bagian yang saya rasa penting dari himbauan Paus Yohanes Paulus II sudah di thread sebelumnya, sekarang baiknya saya buat ringkasannya saja.

Masing-masing pokok bisa jadi bahan diskusi sendiri-sendiri yang lebih panjang.

1. Partisipasi penuh, berarti setiap anggota komunitas memiliki peran untuk dilaksanakan dalam perayaan liturgi. Namun ini harus dilakukan sesusai dengan posisi hirarkisnya masing-masing dalam Gereja…. See More

Perlu dihindari bahwa awam mengambil alih tugas imam atau imam diawamkan.

2. Partisipasi aktif, berarti dalam ibadah seluruh umat ambil bagian dalam gerakan, kata-kata, lagu. Namun ini harus dilakukan sesuai bagian masing-masing.

Keheningan, diam mendengarkan dan merenungkan juga merupakan pelaksanaan partisipasi aktif.

3. Partisipasi yang disadari/dimengerti, menuntut seluruh umat belajar, diajar dan memahami dengan benar makna liturgi dan bagian-bagiannya.

Ini tidak berarti setiap bagian harus diimprovisasi atau apa yang implisit dibuat eksplisit selama liturgi berlangsung.

Jika itu dilakukan, liturgi akan menjadi verbal, kesannya informal dan trivial. Ini merusak dan berlawanan dengan Ritus Romawi yang singkat, padat dan formal dan simbolik.

4. Bahasa lokal telah membuka kekayaan liturgi dan membuat liturgi lebih dipahami. Namun ini tidak berarti bahasa Latin, terutama nyanyian, harus ditinggalkan sama sekali (alergi Latin).

5. Pembaruan di bidang kotbah/homili menuntut kedekatan dan pemahaman imam/diakon dengan Kitab Suci. Namun ini harus didukung juga dengan kedekatan terhadap tradisi Patristik (para Bapa Gereja) jika ingin menghasilkan kotbah yang efektif.

6. Liturgi dan evangelisasi (penginjilan) berjalan bergandengan berbarengan. Jika dipisah, keduanya akan jatuh.

Pembaruan liturgis yang superficial, serampangan dan tidak seimbang akan melemahkan kekuatan evangelisasi.

Sebaliknya fokus pada penginjilan jangka pendek akan membuat liturgi berantakan, eksternal dan penuh adaptasi yang tidak benar.

Karena tiap butir ringkasan bisa kita perluas sendiri-sendiri, maka kita beri contoh satu atau dua.

1. Partisipasi penuh. Benar setiap umat diminta untuk berpartisipasi secara penuh dalam Liturgi (Ekaristi utamanya).

Tapi harus memperhatikan hirarkinya masing-masing.

Umat berpartisipasi sebagai umat, melakukan tugas umat…. See More

Imam berpartisipasi sebagai imam, melakukan tugas imam.

Maka hal-hal yang mengaburkan hal-hal di atas perlu dihindari.

Misalnya, penggunaan pro-diakon.

Pro-diakon (umat awam yang diperbantukan membagi komuni dalam keadaan kurangnya klerus), adalah solusi sementara.

Diperlukan jika umat terlalu banyak dan klerus sedikit sehingga logistik pembagian komuni akan terganggu.

Karena itu, jika ada imam yang cukup, dan prodiakon tidak diperlukan/tidak diberi kesempatan bertugas, ini namanya menghormati partisipasi penuh masing-masing. Bukannya Romo kolot menutup pintu partisipasi awam dalam Liturgi.

Juga menyangkut, kapan mereka harus berada di panti imam dan dekat Altar pada momen-momen khusus sehingga tidak tampak mereka seolah imam-awam atau konselebran. Juga postur tubuh, tidak ada pengecualian bahwa karena mereka pro-diakon maka tidak perlu mengambil postur tubuh yang sama dengan umat lain.

Tentu saja ini bukan hanya sekedar pro-diakon, tapi lektor, komentator dan petugas liturgi lainnya juga perlu memperhatikan posisi mereka sebagai awam. Di salah satu paroki, para Lektor/Lektris-nya mengenakan alba (ini tidak masalah), dengan sampiran selendang dari bahu kiri ke pinggang kanan dengan warna liturgis yang sesuai.

Ini contoh pengaburan, karena pengenaan selendang secara demikian sangat mirip dengan pengenaan stola seorang Diakon.

Umat awam yang tidak ambil bagian dalam tugas khusus selama Ekaristi berlangsung pun, bukan seorang penonton.

Mereka bagian penting dari perayaan Ekaristi. Kita bukan sekedar menanti, menonton, menunggu, melihat atau sekedar hadir.

Seorang Awam yang duduk dan ambil bagian dalam perayaan Ekaristi dan Liturgi apapun sedang melaksanakan tugasnya sebagai imam yang dianugerahkan dalam Imamat umum yang diberikan lewat baptisan. Ketika kita hadir dalam Ekaristi, kita turut mempersembahkan Ekaristi bersama Imam, kita seperti para Lewi yang ambil bagian dalam tugas seorang Imam di Bait Suci.

Partisipasi penuh awam dalam hal ini, diwujudkan dalam berbagai dialog, nyanyian, mendengarkan, merenungkan, menjaga keheningan dan bersikap layaknya umat yang mengerti dan memahami kedalaman Ekaristi.

Jika hal ini dimengerti, contoh partisipasi penuh umat awam misalnya:

1. datang sebelum Ekaristi dimulai untuk mempersiapkan diri,

2. menyambut Sakramen Tobat dahlulu sebelum Ekaristi jika disadari ada dosa berat,

3. berpakaian sopan dan layak,

4. tidak tidur pas homili,

5. tidak ngobrol sendiri seolah ikut seminar,

6. tidak pulang sebelum dibubarkan,

7. menyadari kewajiban untuk ambil bagian dalam Misa hari Minggu dan hari Raya wajib,

8. dsb dsb..

Tentunya masih banyak yang bisa disampaikan, seputar topik ini, biarlah diskusi mulai bergulir.

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

LITURGI VS UMAT

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


KASUS DARI SHARING UMAT :

katanya di BELANDA, gereja kosong, isinya cuma orang2 tua, regenerasinya nyaris gak ada.”. ” Penyebab kosongnya gereja di Eropa adlh krn kita terlalu berusaha menyesuaikan Liturgi dng selera dan kebutuhan umat. Yang harusnya dilakukan adlh sebaliknya; menyiapkan (menyesuaikan) umat dng Liturgi bukan kebalikannya.

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

….
Mungkin baik tanya orang Eropa asli, mengapa mereka tidak tertarik ke Gereja dan apa penyebab mundurnya minat ke Gereja. Supaya kita tidak menyimpulkan sendiri dari pikiran kita sendiri saja.

Sejauh saya tahu, saat saya dialog dengan keluarga Eropa (Italia, Belanda) dan beberapa romo Eropa dan Amerika Utara (US dan Canada), penyebab utama turunnya minat thd agama bukan liturgi. Tanda-tanda menurun sudah terbaca sejak tahun 50-an (jadi sebelum KV II). Dan mereka umumnya mengatakan salah satu andil terbesar adalah: revolusi industri; makin banyak dan kuatnya persaingan dan fokus kepada persaingan pasar dan kerja.
Akibatnya pendidikan agama dalam keluarga lemah. Katekese publik juga lemah atau malahan tiada.
Dan tantangan terakhir yang juga signifikan adalah kenyamanan dan kemapanan hidup yang tinggi baik secara material (finansial – ekonomis) mau pun agama, karena merasa mayoritas atau malah total kristiani, maka Gereja “tidur” dan tak tertantang. Tetapi di negara di mana Gereja ditekan, seperti Eropa Timur, katolik tetap kuat dan hidup.

Nah, kalau anak-anak sendiri tidak dididik agama, dan tidak lagi diajak ke gereja dan tidak lagi diperkenalkan dengan adat kekatolikan, maka walau pun KTPnya 100% Katolik, ya anak tidak ada minat dan ikatan batin dengan Gereja.
“Tak kenal maka tak sayang”, “Witing tresna jalaran saka kulina”. Pribahasa tua ini masih tetap efeknya tahan jaman dan terbukti jitu.

Maka mau membunuh Gereja itu gampang:
a. Pisahkan atau jauhkan minat anak kita dari Gereja.
b. Tanamkan rasa tidak menghargai Gereja, entah mulai dari imamnya, liturginya yang gak menariklah …. sampai ke semua pelayanannya …. keluhinnnn terus bahwa tidak mutu. Nanti anak-anak kita kan akan belajar dari kita bahwa Gereja itu bukan sesuatu yang pantas dihargai.
c. Pecah belah kesatuan jemaat dengan misalnya:
– memanjakan imam / hirarkhinya dengan kemewahan duniawi sehingga umat lain merasa tersingkir;
– sebarkan isyu negatif tentang hirarkhi dan pelayanannya.
d. Campur-adukkan tradisi katolik dengan tradisi lain, berdasarkan rasa senang kita. Nanti kan lama-lama bahaya sekularisme akan masuk; sinkretisme akan meresap, dan indifferentisme akan menjamur.

Nah, tinggal tunggu waktu barang 50 sampai 100 tahun, maka sejarah Gereja akan berubah warna dan orientasinya.

Sadarkah teman-teman dengan sikap dan model ungkapan meremehkan hirarkhi, itu artinya kita sedang merongrong, menggembosi, merusak, mengkeroposkan tiang-tiang kehidupan gereja?
Umat atau awam boleh hebat, tetapi tanpa respek dan apresiasi sehat kepada lembaga Gereja sendiri, maka Gereja itu tidak ada. Umat tidak bisa tanpa imam, dan imam juga tidak bisa tanpa umat. Maka kalau sikap yang dibangun adalah sikap saling meremehkan ….. itu artinya rumah tangga kita hanya tinggal menunggu runtuhnya.

April 22

PENCERAHAN DARI PASTOR PHILIPUS SERAN :

Betul bahwa bayak gereja Eropa kosong, tetapi bukan sekarang, sudah sejak revolusi industri dan karena sekularisme… perlu juga kita ketahui bahwa di kota-kota, gerejanya (gedung) menjamur… jaraknya dekat-dekat, boleh dikatakan kurang lebih 100 meter ada gereja, belum lagi kapel-kapel… dan masih ada gereja yang penuh umat…

Sekarang sudah ada kebangkitan kembali iman katolik/kristen. Banyak contoh, tempat2 ziarah penuh dengan para peziarah (bukan turis ya… kalau peziarah dari Indonesia yg dituju hanya ke Lordes, ke Paris dan tempat lain hanya turis… hehehe).
Bisa dilihat juga di Vatikan, bagaimana audensi general Paus bersama para peziarah tiap Rabu di Lapangan St. Petrus atau Berdoa Angelus atau Regina Caeli di tempat kediamannya.
Setiap negara ada canel radio atau TV yang membahas dan menyiarkan hidup keimanan. Di Prancis ada TV pemerintah setiap minggu menyiarkan misa secara langsung dari gereja ke gereja dan dari kota ke kota…

Sangat menarik ketika melihat kunungan Paus ke Malta dan bagaimana kaum mudanya membuat paket acara bertemu Paus. Saya mau membaginya atau tag di bawah ini, bagi yang berminat, tetapi sebelumnya mohon maaf karena penyiarnya berbahasa prancis.

Ada juga banyak paket2 pendampingan kaum remaja tentang iman dan tentang gereja global. Ada acara tahunan bagi para remaja di Paris dan sekitarnya (hampir seribuan, yang terdiri dari beberapa gelombang) berziarah ke Liceaux (tempat ziarah Santa Théresia dari Liceaux)sambil pendalaman iman dan kehidupan gereja.
Pada akhir bulan Mai ini, saya kebagian untuk berbagi cerita tentang Indonesia dan Gereja Indonesia. Ada yang berminat bergabung dan membantu saya?? hehehe…

Paus Benediktus XVI berjumpa dengan kaum muda di Malta :

http://www.ktotv.com/videos-chretiennes/emissions/nouveautes/voyage-du-pape-rencontre-avec-les-jeunes/00049834
April 22

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

PARTISIPASI UMAT DALAM KOMUNITAS BASIS

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


AJAKAN MERENUNG OLEH SEORANG PASTOR DI PAGE LITURGI :

“Segala diskusi di forum ini begitu asyk dan menarik, ide2 yang cemerlang, pendapat2 yang hebat, gagasan2 yang brilyant… yang kalau semuanya ini masing2 kita menuangkannya dalam modul2 pertemuan rutin di komunitas, kring, kelompok atau lingkungan pasti lebih mantap dan tersosialisasikan…..
Komunitas Basis Gerejani yang telah digagas KWI, sebagai cara baru hidup menggereja, (habitus baru) pasti lebih hidup dan lebih mantap.Nah… pesoalannya, apakah kita aktif di kring, kelompok, komunitas, atau lingkungan kita masing-masing????

SHARING UMAT 1 :

“saya juga katolik..tetapi ketika iman saya mulai kendur,..saya tidak begitu saja menyalahkan gereja saya sebagai penyebab iman saya kendur,intropeksilah diri sendiri..mungkin lingkungan anda bisa menjadi penyebabnya…ditempat saya ..selalu ada kumpulan/kring yang tiap bulannya tiap tanggal 7 mengadakan pertemuan rutin warga katolik di padusunan,tiap tanggal 20,kami membuat pendalaman iman katolik…hal ini saya dan istri saya merasakan manfaatnya..disamping bersosialisasi,iman kami pun terus berkembang,tidak layu dan menjadi penyendiri….yang saya rasakan dulu ketika kuliah..hal ini tidak terpenuhi sama sekali,saya tidak aktif di mudika,dan kegiatan gereja lainnya,.saran saya coba anda aktif didalam lingkungan anda.

SHARING UMAT 2 :

Kalau sudah mengalami berpindah2 tempat kerasa banget yang nyaman dan tidak nyaman. Dulu ada ketua lingkungan perempuan rasanya seperti ibu sendiri. Wah saya terima kasih sekali sama ibu tsb, karena sewaktu muda rasanya dirangkul. Salut.

SHARING UMAT 3 :

Dulu aq malas sembayang, ibadah lingkungan, takut klu disuruh pimpin ibadah Rosario, mudika dll & terlebih tdk dengar2an orang tua. Tp kasih Tuhan ternyata selalu menyertai, melindungi & membimbing aq. Tuhan bimbinglah & bentuklah aq seturut rencanaMU. TYM

SHARING UMAT 4 :

Kalau semua umat Katolik bisa mengikuti kegiatan2 komunitas basis(kombas) maka akan sangat besar manfaatnya utk kehidupan pribadi dan bersama/kelompok.
Ttp sering banyak faktor yg dijadikan alasan utk seseorang aktif dlm kegiatan kombas,baik faktor dr diri sendiri maupun dr kombasnya.
Faktor2 tsb antara lain:
– kesadaran pribadi msh kurang
– keterbatasan waktu
– kondisi tubuh (capek,lelah,malas dsb)setelah seharian bekerja
– keterikatan waktu (di kombas waktu ditentukan,sdg kan di fb waktu bebas sesuai sikon)
– kebebasan dan keberanian mengeluarkan pendapat (lbh bebas di fb dibandingkan di kombas)
– banyak kaum muda yg tdk menyukai yg bersifat formal/resmi (di fb dpt menggunakan kata2 yg tdk formal dan tdk hrs bersikap formal)
– kegiatan kombasnya krg disiapkan dg baik shg kdg2 krg menarik
– sikap pengurus2 kombas mungkin krg bisa mengayomi dan menarik umat utk ikut dlm kegiatannya
– dll
Untuk itu mari kita pikirkan bersama, bgm caranya agar umat tertarik utk aktif dlm kegiatan kombas.
Hasil pikiran ini bisa kita sumbangkan ke pastor paroki msg2 demi kepentingan bersama khususnya utk menarik umat utk aktif dlm kegiatan kombas.

SHARING UMAT 5 :

Kegiatan rohani di lingkungan sangat membantu dlm sgala hal. Aku mengalaminya hingga skarang. Yg penting kesadaran dlm pelayanan kasih tanpa embel2 hasilnya luar biasa .baik diri sendiri maupun org lain . Kadang dr luar lingkungan sering minta pendpt ato tukar pikiran apa yg hrs dilakukan / solusi .(sakit, keretakan kel,pendidikan, umat yg msh blajar ,dll)

SHARING DARI SEORANG IMAM , PASTOR LIBERIUS SIHOMBING

Pengalaman berkomuntas basis selalu menjadi kenangan yang memberi kesan bagi saya. Sebagai seorang imam saya sangat senang dgn jenis kegiatan itu, bilamana kita menjalankannya dengan hati, tanpa ada rasa terpaksa. Saya tahu prinsip dari komunitas basis itu bukan terutama menggurui, mengkotbahi, tetapi bersharing pengalaman hidup. Dan saya sangat senang bermalam di stasi-stasi di kampung yang secara sosial tali kekeluargaannya masih kuat. Dengan tinggal dan berbagi cerita dalam komunitas tsb, umat mendapatkan banyak hal, dan mereka pun berani utk bersharing persoalan hidupnya kepada umat lain. Walaupun sy nikmati suasana itu, tetapi tugas lain membuat saya harus meninggalkan tempat tsb dan skarang tak pernah lagi melakukan komunitas basis gerejani.
Prinsip yang penting dlm komunitas basis adalah, jangan ada yg merasa sebagai pemimpin yg mengakibatkan seolah-olah yg lain sebagai anggota yg harus dibimbing. Tetapi baik pastor atau suster yg hadir disana, hurus bertindak sbg anggota jg. Maka dengn itu suasana cair dlm sharing berbagi pengalaman akan lebih baik. Intinya, jenis kegiatan komunitas basis itu tetap aktual dan amat membantu bagi umat. Di sana juga umat bisa mendapat banyk hal menyangkut Gereja. Sy dorong umat utk tetap mengikuti kegiatan itu. Tuhan memberkati. Salam dari Thailand

SHARING UMAT 6 :

Betul, saya setuju, yang pasti dengan membaca sharing ini, saya jadi tambah wawasan, lepas dari tulisan dan comment yang kadang2 bikin jengak, tapi secara keseluruhan bagus dan itu merupakan dinamika umat katolik yang secara bebas juga boleh berkomentar. mbahe dewe, bisa buat bahan mong omong di lingkungan, biar lingkungan bisa lebih hidup.

Komunitas basis merupakan sumber kecil air yang akan kita bagikan kepada teman2 / tetangga kita yang tentunya sebagian lagi kita teguk buat diri kita sendiri.

Posted in g. PARTISIPASI UMAT, p. Kumpulan sharing | Leave a Comment »

MAU IKUT PERAYAAN EKARISTI, TAPI TERLAMBAT DATANG KE GEREJA ?

Posted by liturgiekaristi on March 10, 2011


Topik diskusi:

Sampai pada bagian mana dalam suatu Perayaan Ekaristi, seseorang (umat) masih boleh terlambat datang ke gereja dan kemudian boleh menerima komuni kudus .”

Terkadang seseorang bENAR2 terpaksa terlambat menghadiri Misa Kudus krn berbagai faktor

yg sering di luar kehendaknya atau di luar kemampuannya untuk mengatasinya.

Mis: mau berangkat pergi ke gereja , tiba-tiba ada tamu dari jauh datang, atau tiba-ti…ba ada anggota

keluarga yg sakit perut. Atau lalu lintas macet total .

SEBAGIAN DARI PENDAPAT2 UMAT

Yermin Rianghepat

Lbh bgs klo umat dtg sblm imam msk n plg stlh selesai lagu penutup…GBU

Ms klo mw ketemu pcr tdk pernah telat tp klo mw ketemu Tuhan haruskah kita telat…???

Ryo Mangesa’

Boleh nanya??

Klo telat dtng trus ambil komuni apakah itu dosa atau hanya aturan gereja?

Mila Querra

nah…. apa yg dikatakan Yermin… aq setuju bangeth… knapa seh ke gereja pake acara telat?

kalu nonton koq ga telat?

aq dulu blajar agama maseh sama misionaries bule….

nah itu di kasih tau bener…begitu buat tanda salib… dah menghadirkan Tuhan…..maka tak sopan sekali kalu ke gereja datang telat, udah lewat bacaan.. maseh brani ambil komuni 😦

Fredy Nande

Klo mnurut saya sih..

Trlambatnya jgn lwt dari komuni…

tapi gmn juga ya,,kan bribadah tak trbatas ruang&waktu,,jadi biar orang trsbut tiba digereja pas slesai komuni,kyanya sah” aja sih..slama ktrlambatannya bkn faktor kesengajaan..

slama Qta punya niat bribadah,bkn krn biar masuk surga,,,

Ttapi jadikan setiap ibadah Qta,sbagai slh1 bntuk nyata persembahan Qta kpd ALLAH…thank’s..

JESUS BLESS YOU

Katarina Widyaningrum

Kalo bicara niat. Sy tdk pernah tdk ber niat, tp kan telat jg bukan masalah krn memang sengaja dan tak berniat, tp sering karna situasi. Pa lagi kalo itu misa harian. Niat bgt sampe hrs lari2. Tetep aja telat. Aduh sedihnya kalo telat trus dilarang ikut. Bagi saya asal telatnya gak kebangetan. Dan tetep diri sendiri yg tau kesungguhan hatinya untk ikut misa. Knp tdk.

Lie Pao Ie

Kayanya ga boleh terlambat deh!entar kalo semua umat dtgnya terlambat,terus romo mau doa pembuka ga ada umatnya donk

Iwan Egonius

Menurut pengetahuan kami orang yang layak sambut atau menerima komuni adalah mereka yang mengikuti secara penuh perayaan misa mulai dari pembukaan, Liturgi Sabda,Liturgi Ekaristi dan meninggalkan perayaan bila sudah pengutusan. Ibarat kita menghadiri Pesta malu kalau terlambat toh……..

Irene Kurniawati

alangkah baiknya datang sebelum misa dimulai n pulang setelah doa penutup krn apabila kita terlambat kita tidak mendapatkan berkat,kalaupun terlambat masi diberi toleransi untuk bisa menerima komuni pd saat sebelum konsekrasi tp kita tidak mendapatkan berkat…

Fransiskus Liong

ingat telat makan aja g boleh.

apa lagi telat ke Gereja, misa pulak tuh. Yang kita Makan tuh lebih dari yg sehari2 kita makan. Tubuh dan Darah-Nya sendiri.

Ignatius Yosi

memang kalau menuntut kesadaran masing umat sulit rasanya contohnya dari comment2 di sini aja sudah berbeda-beda hanya beberapa saja yg memiliki kesamaan … saya akan menambahkan yg sama dng alasan logis . menurut saya paling telat adalah pd saat ritus pembuka yaitu sebelum tobat alasannya adalah setiap pribadi yg ingin menyatu dengan Tuhan dalam … See Moresakramen ekaristi haruslah bersih dari dosa2 seperti kata santo paulus kita adalah bejana rohani dan hosti yg adalah kristus itu sendiri akan masuk kedalam bejana rohani kita …bayangkan jika bejana masih dalam keadaan kotor karena dosa2 kita, baik itu dosa kelalaian ataupun karena kesengajaan… maka mari kita bersihkan diri kita dahulu sebelum Dia yang merupakan sumber kesuciaan hadir dalam diri kita saat komuni.

Ye Supriyanto

Aturannya tidak tertulis, cuma “mengganggu umat yg sedang khidmat mengikuti misa itu boleh atau tidak?”, terus, udah terlambat,datang cuma pakai celana pendek dan kaos oblong dan sandal jepit, itu juga tdk dilarang tapi apakah pantas?????apakah tdk mengganggu umat yg lain???

Thomas Rudy

bagi saya pribadi: perayaan ekaristi adalah satu kesatuan dari awal sampe akhir, jadi jika telat berarti sudah men-cederai kesatuan tersebut…

maka lebih baik ngak terima komuni kalau telat, sekalipun sudah datang di ritus tobat…. patokan aku pribadi adalah kalau datang sblm tanda salib ya okelah, tapi klo sudah tanda salib berarti…. sudahlah

PENCERAHAN DARI BAPAK Agus Syawal Yudhistira

Tentu saja soal terlambat harus diperhatikan terlambat sampai sejauh mana. Tapi juga harus diingat, Misa tidak identik dengan menerima komuni.

Komuni hanya boleh disambut jika syarat-syarat yang ditentukan Gereja sudah dipenuhi:

1. Dalam keadaan rahmat. Ini berarti yang bersangkutan sadar akan dosa berat (dosa yang menyangkut perkara berat terangkum dalam 10 perintah Allah dan dilakukan secara bebas dengan kesadaran). Ini diperoleh lewat Sakramen Tobat.

2. Bebas dari sangsi Kanonik. Misalnya tidak dalam ekskomunikasi, atau secara publik dilarang Gereja menerima komuni.

3. Memenuhi kewajiban Puasa 1 jam sebelum menerima komuni kecuali air putih dan obat-obatan.

Semua ini bisa direferensi dari Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik

Dalam hal telat-menelat paling enak jadi Imamnya deh, ga pernah telat, soalnya misa ga bakal mulai kalo Imamnya belum datang wkwkwk…… Tapi bayangkanlah bagaimana rasanya kalau anda berkali2 harus menunggu romonya terlambat tiba di gereja padahal jadwal misa sudah sangat jelas dan tidak pernah diubah….muangkel ya tho??

Ini menyangkut dua hal yang berbeda: Soal Sah nya suatu sakramen yang mau diterima, dan soal Kelayakan menerima sakramen. Dalam kondisi darurat (bahaya kematian, sakit berat) bahkan Imam/pengirim komuni hanya mengajak doa Bapa Kami lalu menerima komuni yang sudah dikonsakrir sebagai viaticum-bekal rohani untuk menguatkan perjalanan jiwa. Apakah anda mau dianggap dalam situasi darurat terus menerus dan datang terlambat langsung terima komuni?? wkwkwk… Kalau kita diberi sehat, selamat, bisa jalan dan datang lebih awal, mengapa harus menunggu sampai “enam orang yang kuat mengusung kita” dalam kotak ke Gereja?? wkwkwk……

Hal berikutnya menyangkut soal disposisi batin-kelayakan dan kesiapan batin menerima sesuatu yang sangat berharga, suci, tubuh dan darah Tuhan sendiri yang mau menyelamatkan. Seperti apapun Sucinya, kalau disposisi batin kita tidak layak, tidak pantas, kemrungsung, tergesa2, tidak focus, tidak mengikuti dengan jelas thema, bahan renungan dan refleksi…dan langsung aja ‘makan’ tanpa kesadaran mengenai apa yang disantap dan untuk apa….Kiranya Sakramen ilahi itu tidak akan menghasilkan buah apa2 bagi yang bersangkutan. Dengan kata lain Sakramen keselamatan itu menjadi “mandul” dalam diri orang tsb.

Kalau bicara soal layak, misalnya anda punya janji bertemu gubernus, bupati, atau Uskup, pastilah anda harus berpikir seratus kali untuk datang terlambat, bukan? Ini yang mau kita hadapi adalah Tuhan sendiri,pada saat Dia paling nyata, paling dekat, paling real hadir bagi kita dalam rupa santapan tubuh dan darahNya, mengapa harus datang terlambat dan bersikap kurang hormat?. Sekali lagi lain soalnya kalau situasi darurat. Dan kita harus jujur mana saat darurat, mana soal kemalasan dan kelalaian. Jadwal misa umumnya tetap dan kita tahu misa tidak akan menunggu. Sebagai mahluk berakal, kita bisa memprediksi berapa lama waktu dibutuhkan untuk sampai lima-sepuluh menit sebelum waktunya. Lebih baik menunggu daripada ditunggu, bukan??

Saya pribadi terganggu kalo ada umat yang datang terlambat, jadi kalo mimpin misa lebih banyak menunduk dan tidak perlu melihat sapa yang terlambat, biar tetap focus dalam doa2 dan persembahan di altar; soal yang terlambat, biarlah berperkara dengan Tuhannya wkwkwk….

Salam hangat, GBU all….

PENCERAHAN Sumber MAJALAH LITURGI VOL 3, 2010

Pada prinsipnya, Perayaan Ekaristi merupakan satu kesatuan perayaan yang utuh dari Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi hingga Ritus Penutup. Hal ini berdasarkan ajaran Konsili Vatikan II sendiri yang menyatakan dalam Sacrosanctum Concilium artikel 56: “Misa Suci dapat dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat. Maka Konsili suci dengan sangat mengajak para gembala jiwa, supaya mereka dalam menyelenggarakan katekese dengan tekun mengajarkan agar umat beriman menghadiri seluruh Misa, terutama pada hari Minggu dan hari raya wajib”.

Ungkapan “satu tindakan ibadat” jelas menunjuk kesatuan utuh seluruh Perayaan Ekaristi kita. Maka apabila pertanyaannya berbunyi: sampai kapan seseorang masih boleh terlambat, jawabannya ya: tidak ada tempat untuk terlambat. Artinya, menilik makna kesatuan utuh perayaan Ekaristi, seseorang jangan terlambat datang dalam Perayaan Ekaristi dan apalagi pulang duluan sebelum perayaan Ekaristi tersebut selesai.

Nah, bagaimana kalau seseorang terlambat karena faktor-faktor seperti ini? Dalam kasus seperti ini, yakni terlambat Misa karena faktor-faktor di luar dirinya, seseorang harus bertanya pada diri sendiri: apakah ia merasa pantas untuk menerima komuni suci!

Apabila perayaan Ekaristi yang dihadirinya ini merupakan satu-satunya Misa Kudus yang ada di parokinya atau Misa yang terakhir dari hari Minggu itu, kiranya dapat dimengerti dan diterima bahwa orang itu tetap menyambut komuni, meskipun terlambat. Akan tetapi apabila orang tersebut lalu sungguh merasa tidak pantas untuk menerima komuni, dan apalagi ada perayaan Ekaristi berikutnya pada hari Minggu tersebut, sangat baik jika orang itu tidak menerima komuni pada perayaan Ekaristi yang ia ikuti secara terlambat itu dan kemudian ikut secara penuh pada perayaan Ekaristi yang berikutnya sejak awal.

Yang sama sekali tidak baik ialah bahwa seseorang memang sengaja untuk datang terlambat, entah karena malas atau karena ogah mendengarkan homili pastor parokinya, tetapi lalu ikut maju menyambut komuni pada saatnya. Orang ini, meski sangat menghormati dan mendambakan komuni, tetap berlaku tidak pantas terhadap perayaan Ekaristi dan terhadap Tuhan yang hadir dalam Ekaristi.

Di sinilah perlunya katekese yang tidak ada habisnya dari para pastor ataupun Komisi Liturgi untuk seluruh umat. Sangat penting ditekankan kepada umat akan kekudusan dan keagungan Misteri Ekaristi yang perlu disambut dan dirayakan secara utuh dengan pantas, khidmat dan penuh iman.

(Sumber MAJALAH LITURGI VOL 3, 2010)

Posted in g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »

LITURGI SABDA DAN PARTISIPASI AKTIF UMAT

Posted by liturgiekaristi on March 7, 2011


Pertanyaan umat :

Menurut TPE baru. Para lektor/lektris tidak perlu membaca JUDUL, maupun BAB serta AYAT dari bacaan yang dibacakan pada Bacaan 1 dan ke 2. Cukup disebutkan BACAAN DARI…..Apakah lektor/lektris di paroki anda sudah menerapkan yang benar sesuai anjuran TPE?

PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ:

Tugas Lektor adalah membacakan firman atau Sabda Allah. Judul adalah tambahan penyunting untuk mempermudah si pembaca agar bisa membawakan sesuai dengan tekanan Bacaan.

Ayat adalah hasil kerja keras St. Heronimus untuk menandai teks KS agar mudah menemukan bersama manakah teks yang dimaksudkan. Maka angka bab dan ayat juga tidak perlu dibacakan.

Alasan ketiga, sebenarnya menurut TPE atau PUMR baru umat kan diharapkan mendengarkan Sabda, maka tidak tahu bab dan ayatnya juga tidak menjadi soal, asal tetap dibacakan ‘nas’ itu diambil dari mana (Kitab, Surat …. dll)

PENCERAHAN DARI PASTOR BERCE RORIMPANDEY PR

Judul, bab dan ayat memang tdk perlu dibaca. Karena bila Alkitab dibacakan dlm grja, Allah sendiri yg bersabda kpd umat-Nya dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira sebab Ia hadir dalam sabda itu.Jdi lektor/lektirs bertindak “seakan-akan” Allah yg pd saat itu sedang bersabda kpd umat. Karena itu lektor/lektris harus sungguh2 mempersiapkan diri dgn baik sebelum membaca. Bahkan, lektor/lektris perlu berdoa (dlm hati) seb. mmbaca KS.

PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Pola pembacaan Firman dalam PE adalah pola Allah BERSABDA, banda Israel MENDENGARKAN.
Maka, kini yang paling penting adalah: ketika Firman di-BACA-kan, umat MENDENGAR-kan, bukan ikut-ikutan membacakannya.
Oleh karena itu, penyebutan bab/ayat menjadi tidak relevan. Yang memang harus disebutkan adalah sumber bacaan diambil dari Kitab/Surat/Injil mana. Itu saja yang perlu disebutkan.
Dalam Buku Bacaan Misa juga pada Buku Misale (Al. Wahyasudibja, Pr., terbitan Kanisius, Yogyakarta) secara sangat tepat menuliskan bab/ayat. Bab/ayat ditulis dengan huruf italic dan masih diberi tanda kurung.
Semoga input ini bermanfaat

Posted in 2. Bagian Liturgi Sabda, g. PARTISIPASI UMAT | Leave a Comment »